MEMILAH DAN MEMILIH Sumber REZEKI

Surau Singgalang

Oleh Masoed Abidin

 

“Apabila telah selesai shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah, sebutlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian memperoleh keberuntungan.” (Q.S. Al Jumu’ah: 10).

Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memacu diri meraih karunia Allah melalui mencari rezki di muka bumi ini dengan cara bekerja dan berusaha. Bekerja adalah sebuah keniscayaan. Tidak mungkin menjalani hidup tanpa berusaha. Namun, bekerja dan berusaha haruslah dilakukan dengan cara yang benar, agar hasil yang diperoleh mendapat berkah dan diridhai Allah SWT.

Al Qur’an menetapkan konsep dasar halal dan haram berhubungan dengan akuisisi (perolehan), disposisi (penempatan) menyangkut dengan harta benda yang dihukumi dengan dua kriteria,  halal dan haram. Allah SWT memerintahkan agar manusia mencari rezki dengan cara yang dihalalkan oleh Allah. Memerintahkan agar tidak memakan sesuatu kecuali yang dihalalkan oleh-Nya. Menetapkan sumbernya dari sesuatu yang halal pula. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bgimu, dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Q.S. Al Maidah: 87-88).

Apabila Islam telah mengharamkan sesuatu, maka wasilah dan cara yang dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram sesuai kaidah fiqh menyatakan, “Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram.”.

Dosa perbuatan haram tidak terbatas pada peribadi pelakunya sendiri. Juga menyebar kedaerah yang sangat luas. Termasuk semua orang yang bersekutu dengannya. Baik melalui harta maupun sikap. Masing-masing mendapat dosa sesuai keterlibatannya. Misalnya tentang arak (minuman kerasyang memabukkan). Rasulullah SAW melaknat sepuluh orang yang terlibat dalam hal pengadaan dan peredaran arak itu.

Hadits Rasulullah menyebutkan, “Rasulullah SAW melaknat tentang arak sepuluh golongan: (1) Yang memerasnya, (2) Yang minta diperaskan, (3) Yang meminumnya, (4) Yang membawanya, (5) Yang meminta dihantarkan, (6) Yang menuangkannya, (7) Yang menjualnya, (8) Yang memakan hasil penjualannya, (9) Yang membelinya, (10) Yang minta dibelikan.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dalam dunia kerja dan usaha, Islam tidak melarang apapun pekerjaan atau usaha, kecuali ada unsur-unsur kezhaliman, penipuan, penindasan yang mengarah kepada sesuatu yang dilarang oleh Islam. Misalnya Allah SWT telah mengharamkan perjudian dan meramal atau mengundi nasib. Firman Allah SWT menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatn syethan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al Maidah: 90).

Bahaya akibat perjudian dapat menimbulkan permusuhan dan pertengkaran. Menghalangi dari zikir dan shalat. Merusak masyarakat dengan munculnya tindak kriminal akibat judi. Hilangnya semangat bekerja (pemalas). Meningkat jumlah pengangguran. Meruntuhkan rumah tangga. Menghabiskan harta dengan cara sia-sia. Menimbulkan beban hutang. Melakukan pencurian dengan sembunyi atau terangterangan seperti korupsi dan sebagainya.

Dalam bekerja dan berusaha, niat pertama mestinya menggapai ridha Allah. Perilaku yang diridhai Allah akan selalu mendapatkan berkah-Nya. Perilakua dan usaha yang tidak diberkahi akan menuai malapetaka. Ingatlah pesan Rasulullah saw, “Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram tidak akan bertambah kecuali neraka yang pantas baginya.”. (HR. Tirmidzi). Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari pekerjaan dan memakan apa yang telah diharamkan Allah SWT. Amin.

Wassalamu’alaikum.

Iklan

Membuhul Masyarakat Saiyo Sakato

Surau Singgalang

Oleh :  Mas’oed Abidin

 

Kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat direkat oleh hubungan kebersamaan. Didalam ajaran agama kebersamaan disebut ta’awun. Nilainya mengarah kepada kebaikan. Berta’awun atas kebaikan – al birra – dan takwa. Tidak boleh bekerja sama dalam keburukan. Dalam tataran budaya di Sumatera Barat disebut gotong royong. Ada ungkapan bijak, berat sepikul ringan sejinjing sebagai wujud nyata dari nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Wujudnya pada sikap seiya dan sekata.

Tataran budaya ini, dalam jangka waktu tertentu, telah terbukti mampu memberikan dorongan atau motivasi penggerak pembangunan. Perubahan yang dilahirkan berupa reformasi social dari generasi ke generasi berikutnya. Kemajuan Ranah Bundo – di Sumatera Barat ini – menjadikan sikap ta’awun atau gotong royong seia dan sekata modal besar meraih keberhasilan berbagai bidang di nagari, dusun taratak. Nilai budaya Minangkabau sejak lama telah memberi sumbangan besar mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Kehidupan masyarakat Sumatera Barat di era-globalisasi mesti berlomba menanam kebaikan. Keunggulan ada pada kemampuan menegak yang makruf yakni nilai yang baik menurut keyakinan agama Islam yang dianut masyarakat Sumatera Barat. Keyakinan itu menumbuhkan harga diri dengan giat bekerja (enterprising) terjaga buhul (sinerjitas) bermasyarakat tidak berpecah belah, “Dan berpegang kamu semua kepada tali Allah, dan jangan kamu bercerai-berai, dan ingat akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-­musuhan, maka Allah menjinakkan diantara hatimu lalu menjadi kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamat kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.(Q.S. Ali Imran: 103).

Sumatera Barat sedang menuju satu bentuk masyarakat baru. Mestinya berdaya mereposisi kondisi masyarakat mengatasi kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang politik, pendidikan, ekonomi serta hak asasinya sebagai masyarakat adat yang beragama Islam. Masyarakat semestinya memperoleh hak asasi setara dengan kewajiban yang telah ditunaikan. Bimbingan akidah Islam bersendikan Kitabullah menetapkan tidak pantas bagi satu masyarakat selalu hanya menuntut hak tanpa keharusan menunaikan kewajiban. Martabat akan hilang bila hanya memiliki kewajiban semata tetapi tidak mempunyai haknya sama sekali. Hak asasi manusia tidak akan pernah dapat ujud tanpa lebih dahulu terlaksana kewajiban asasi sesama manusia sekelilingnya. Mengedepankan kewajiban asasi sangat penting dikembalikan dalam upaya mambangkik batang tarandam.

Kandungan Kitabullah mewajibkan memelihara hubungan akrab dengan karib-baid (qarib ba’id) dan daerah tetangga, sebagai kewajiban taqwa kepada Allah Yang Maha Esa, sesuai Firman-Nya, “ Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).

Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib di berbagai bidang akan wujud melalui ikhtiar yang terus menerus, serta akhlak sabar tanpa keangkuhan, dan mampu melawan sikap malas, tidak mudah menyerah, dan tidak mudah berputus asa, dalam membangun Sumatera Barat di abad ini. ***

Marhaban Ramadhan Mubarak

Surau Singgalang

Oleh Mas’oed Abidin

 

Dari menyimak nas mengenai Ramadhan dan ulasan para ulama ternyata ‘Bulan Ramadhan Mubarak’ memiliki nama dan julukan agar ‘manusia mukmin’ dapat meningkatkan kualiti iman dan kecintaannya kepada Allah swt. Diantara julukan itu adalah sebagai Madrasah atau tempat membaharui iman. Tempat mengisi kekuatan jiwa, roh dan akhlak. Bulan pembersih dari dosa dan noda. Bulan tempat berlomba mengerjakan kebajikan. Pemberi syafaat. Tempat melatih muraqabatullah mendekat kepada Allah. Tempat melatih dan mendidik nafsu. Menanam sifat kasih sayang kepada fakir miskin. Tempat melatih akal dan jiwa. Madrasah mendidik akhlak. Bulan merdeka dan bebas dari kekuasaan nafsu dan syaitan. Bulan Al-Quran. Memelihara kesehatan jasmani. Pahala dilipat gandakan. Rezeki mukmin ditambah. Pintu syurga dibuka, pintu neraka ditutup, syaitan dibelenggu. Bulan mengenali jiwa yang celaka dan bahagia. Serta pembebas dari azab neraka.

Masukilah Ramadhan dengan doa memotivasi diri. “Ya Allah kami telah di naungi bulan Ramadhan, bulan Ramadhan telahpun tiba. Maka serahkanlah ia bagi kami, dan serahkanlah kami baginya. Dan kurniakanlah kami dalam bulan ini kesungguhan, kerajinan dan motivasi yang tinggi. Lindungilah kami dalam bulan ini daripada berbagai cabaran dan fitnah.”

Jadikanlah Ramadhan menjadi bulan mendidik diri menyintai Allah.

 

Ingatlah ada 10 FAKTOR PENYEBAB HAMBA DICINTAI ALLAH, yakni 1. Tilawah al-Quran dengan merenung dan memahami maksud tujuannya.  2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadat sunat setelah menunaikan ibadah fardhu. 3. Zikrullah setiap ketika, dengan lidah, dengan hati, dengan amalan dan sifat perilaku. 4. Mengutamakan perkara yang dicintai Allah di saat pengaruh nafsu semakin kuat. 5. Hati atau qalbu mengamati (mushahadah) asma-asma Allah dan memahami asma tersebut dengan kebaikan, ihsan, serta pelbagai nikmat-nikmat Allah yang zahir dan yang batin. 6. Kecintaan dan takutnya hati secara menyeluruh dihadapan Allah swt. 7. Mengasingkan diri (berkhalwat) bersama Allah di waktu sahur, dengan maksud munajat, tilawah Kalamullah, wukuf dengan hati nurani, beradab sopan dengan adab-adab ‘ubudiah di hadapan Allah kemudian mengakhiri dengan istighfar dan taubat. 8. Memperbanyak bergaul dengan golongan yang menyintai Allah serta memetik kata-kata hikmah mereka sepertimana kita memetik buah-buahan yang lezat. 9. Membatasi diri dari banyak berbicara sehingga yakin bahwa berbicara itu akan menaikkan martabat dan mendatangkan kemanfaatan kepada orang lain. 10. Menjauhi semua penyebab yang menghalangi hati anda dengan Allah swt.

Ingatlah Sabda Rasulullah SAW, “Apabila Allah menyintai si hamba, Allah berfirman menyeru Jibril, ‘Wahai Jibril Aku telah menyintai si polan, maka kamu hendaklah menyintainya’. Lantas Jibril berseru di langit ‘Sesungguhnya Allah menyintai si polan, maka hendaklah kamu menyintainya.’ Jika si hamba telah dicintai penghuni langit, penduduk bumi pun akan turut menyintainya.” (HR Imam Ahmad).

Mesti pula dingat 10 FAKTOR PEMISAH ANTARA SI HAMBA DENGAN ALLAH SWT. 1. Akidah kepercayaan yang rusak. 2 Syirik terhadap Allah. 3 Tutur kata yang bid’ah atau mengada ada. 4 Amalan perbuatan yang bid’ah. 5 Dosa-dosa besar yang tersembunyi. 6 Dosa-dosa besar yang terang dan nyata. 7 Melakukan dosa kecil secara berketerusan. 8 Berlebih-lebihan dalam perkara mubah (harus). 9 Merasa angkuh atau sombong dengan keilmuannya. 10 Lengah dan lalai serta ‘panjang angan-angan’.

Moga Ramadhan yang telah kita masuki ini menambah bekal iman. Marhaban bil-muthahhir. Selamat Datang Ramadhan Pembersih. ***

Nasehat Rasulullah tentang Akhlaqul Karimah

  1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Jika seorang pemuda beribadah maka Iblis berkata, ‘lihatlah darimana sumber makanannya, kalau ternyata sumber makanannya adalah dari yang haram maka biarkan saja dia beribadah dan tidak usah repot-repot menggodanya karena dia sudah memperingan tugas kalian (teman-teman iblis/syetan).” (HR.Imam Al Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab Al Iman).

 

Gambar
Iblis tahu bahwa makanan haram akan membuat ibadah seseorang tertolak, jadi mereka tidak perlu lagi bersusah susah menggodanya. Maka carilah makanan dari yang sumber halal, jangan dari hasil sogok, riba, korupsi, mencuri, menipu, dan lain semacamnya.

 

2.   Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ; “ Jika seseorang masuk kedalam rumahnya lalu ia menyebut asma Allah Ta’ala (bismillah) saat ia masuk dan saat ia makan, maka setan berkata kepada teman-temannya, “ tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.” Dan jika ia masuk, tanpa menyebut asma Allah Ta’ala saat hendak masuk rumahnya berkatalah syaithan: “ kalian mendapatkan tempat bermalam, dan apa bila dia tidak menyebut nama Allah ketika hendak makan, maka setan berkata : “ kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (HR.Bukhari).
 
3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari)

4. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,  “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad)

5. Dan ingatlah bahwa keampunan Allah diberikan kepada mereka yang  beriman, beramal sholeh dan akhirnya mendapatkan petunjuk. Allah menyebutkan mengenai orang musyrik, seorang pembunuh dan pezina dalam firman-Nya,

إِلا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan” (QS. Al Furqon: 70).
 
Dalam ayat ini disebutkan kecuali bertaubat dan beramal sholeh, maknanya adalah  mukmin yang benar bertaubat itu adalah mukmin yang haqqan yang sebenar dalam imannya istiqomah dalam melakukan amalan sholeh. Mukmin yang jujur punya semangat untuk terus bertaubat dan bersungguh-sungguh dalam memperbanyak shalat dan sedekah, memperbanyak dzikir, tasbih, tahlil dan berbagai macam kebaikan. Mereka benar-benar sungguh-sungguh dalam melakukan amalan kebajikan tersebut. Dengan demikian, semoga Allah menghapuskan kesalahan mereka dan semoga Allah menerima amalan baik mereka. Allah Ta’ala berfirman
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar” (QS. Thaha: 82).

6. Allah Ta’ala berfirman ; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 21).

Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Ta’ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Ta’ala. (Lihat keterangan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, hal. 481)
 
7. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
 “Orang-orang penyayang akan disayang oleh Allah. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi oleh Allah” (HR Ahmad)
 
8. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
 
Allah Ta’ala berfirman ;
 “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf (kebaikan). (QS al-A’raf: 199)
 
9. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berbuat baiklah pada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian. Dan jagalah kehormatan kalian niscaya isteri kalian menjaga kehormatannya.”  (HR. Ath-Thabrani).

10.  Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

Siapa menyayangi akan disayangi. (HR.Bukhari).
 
11.   Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
 “Amalan yang paling dicintai Allah setelah yang fardu adalah memasukkan kegembiraan di hati Muslim.” (HR at-Thabrani dari Ibnu Abbas).
Buatlah saudara kita yang lain mertasa gembira, jangan membuat mereka sedih atau sakit hati, karena membuat mereka gembira dengan cara yang baik, maka itu adalah satu amal yang sangat di cintai Allah.
 
12.   Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Bergaul dengan orang yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang Buruk.”(HR. Al-Hakim).
 
Termasuk juga berbicara buruk adalah membicarakan keburukan orang lain, dan termasuk juga bicara buruk ADALAH MEMBICARAKAN KEBURUKAN ORANG LAIN  seperti orang yg memakan bangkai saudara sendiri.
 
13.  Allah Ta’ala berfirman ;
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalam (surga) dengan sejahtera lagi aman.” (QS.Al-Hijr : 45-46).
Orang-orang bertaqwa adalah orang yg menjalankan perintah Allah seperti sholat dan kewajiban lainnya serta sunnah-sunnah Rasul-Nya. Jadi tidak dikatakan bertaqwa orang yang meninggalkan sholat.
 
14.   Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,  “Barangsiapa yang bangun di pagi hari & hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak-hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit:
1. kebingungan yang tiada putus-putusnya,
2. kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya,
3. kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi,
4. khayalan yang tidak berujung.”

(HR. Imam Thabrani)

15.   Allah Ta’ala berfirman ;

“ Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat (menjaga sholatnya), menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Attaubah 9 :18).
 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Barang siapa yang mengeluarkan (atau membersihkan) kotoran dari masjid maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga,” (HR Ibnu Majah).
 
Gambar
Jaga kebersihan masjid, dan jangan pernah malu mengepel dan membersihkan masjid meski itu sudah ada petugasnya, jangan sungkan untuk membantu. Semoga Allah ridhoi.
 
16.  Allah Ta’ala berfirman ;
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al -‘Ankabuut: 1-3).
 
17.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”(HR.Muslim:4689).
 
18.  Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, 
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing dari keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu (masalah), janganlah mengatakan ‘Seandainya aku dulu melakukan begini dan begini’, namun katakanlah ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa pun yang Allah kehendaki pasti Allah lakukan’ karena ucapan ‘seandainya’ itu membuka jalan untuk setan menggoda manusia.” (HR. Muslim no. 2664)
 
19.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:
Wahai Abdullah bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan kepada salah-satu kekayaan surga yang tersimpan? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu ucapan: ‘laa haula wa laa quwata illa billah’ (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali berkat bantuan Allah). (Shahih Muslim No.4873).
 
20.  Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya.
Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina.
Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.

(Nasehat dari sahabat Umar bin Khattab r.a).

21.  Cara sunnah memakai sandal/sepatu, ikuti sunnah maka insyaAllah pakai sandal juga akan dapat pahala. dan jangan lupa awali dengan bismillah. Dari Abu Hurairah r.a,Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Jika kamu memakai sandal (kasut), pakailah yang kanan terlebih dahulu. Tetapi jika membukanya, yang kiri dahulu dibuka. Maka yang kanan adalah yang mula-mula dipakai dan yang terakhir dibuka”.(Riwayat al-Bukhari).

 

22.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda: “Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 5/135, 158, 177, At-Tirmidzi no. 1987).

Gambar
Akhlak baik terhadap manusia yang pertama Memaafkan keburukan mereka dan gangguan mereka terhadapmu, kemudian engkau bermuamalah dengan mereka dengan muamalah yang baik dalam ucapan maupun perbuatan. Termasuk akhlak baik yang paling khusus adalah sabar menghadapi mereka, tidak jenuh dengan mereka, berwajah cerah, berkata lembut, berucap indah yang menyenangkan teman duduk, memberikan kegembiraan pada teman, menghilangkan rasa tidak enak di hati mereka, dan hal baik lainnya.
 
23.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;   “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS al-A’raf: 199). 
 
Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan kepada umat Muslim bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di atas muka bumi ini.
Tiga konsep yang Allah berikan kepada kita.
  1. Pertama, jadilah pemaaf. Ketika proses saling maaf dan memaafkan sudah menjadi habit (kebiasaan) dalam masyarakat, sungguh masyarakat tersebut akan menjadi suatu masyarakat yang harmonis, mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) menaungi mereka.
  2. Kedua, mengimbau kepada kebenaran. Di kala rasa cinta dan kasih menaungi kehidupan mereka, di sana akan terjalin suatu interaksi yang harmonis dan mereka akan mengoreksi sahabatnya yang berbuat kesalahan.
  3. Ketiga, berpaling dari orang-orang bodoh. Ketika suatu masyarakat sudah menjadi masyarakat harmonis dan religius, sungguh mereka akan berpaling dari perilaku orang-orang yang bodoh, perilaku yang kering akan hal-hal yang bermanfaat. Dan, seperti inilah seorang Muslim, “meninggalkan suatu hal yang tak berguna adalah kebaikan bagi seorang Muslim.”

 

24. Diamlah Ketika Marah.  Dari Ibnu Abas r.a, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda : .., “Jika engkau marah, maka diamlah.” Beliau mengucapkannya dua kali. (Hadits shahih Riwayat Imam Ahmad: 1/283)

Atau Mengubah Posisi Tubuh Saat Marah. Dari Abu Dzar r.a ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami: “Jika salah seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika rasa marahnya hilang (maka itu yg dikehendaki), jika tidak (hilang marahnya) hendaklah ia berbaring.”

Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah dari Khalid dari Dawud dari Bakr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abu Dzar dengan membawa pesan hadits ini.” Abu Dawud berkata, “Hadits ini adalah yg paling shahih di antara dua hadits yg ada.” (HR. Abu Dawud: 4783).

25.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:  “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian & cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya & barangsiapa murka maka baginya murka Allah”. (HR. Tirmidzi)

Gambar

26.  Jaga wudhu sebelum tidur.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:  “Barangsiapa Tidur Di Malam Hari Dalam Keadaan Suci ( Berwudhu ) Maka Malaikat Akan Tetap Mengikuti, Lalu Ketika Ia Bangun, Niscaya Malaikat Akan Berdoa: “Ya Allah, Ampunilah Hamba-Mu Si Fulan, Karena Ia Tidur Di Malam Hari Dalam Keadaan Selalu Suci.”( HR. Ibnu Hibban dari Ibnu Umar )

 

27.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;   “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya (kepada Allah seperti menjaga sholat dan amalan lainnya), laki-laki dan perempuan yang benar (menjauhi maksiat/dosa-dosa), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab:35).