Bahasa Rahmat

Bahasa Rahmat
Oleh ; H. Mas’oed Abidin

Di tengah perjalanan sejarah kemanusiaan, ternyata jumlah manusia selalu bertambah. Ilmu pengetahuan, seperti Ilmu kedokteran berkembang pesat. Melalui program peningkatan pemeliharaan kesehatan, ikut berupaya memperpanjang usia manusia. Menjadi salah satu ukuran kesejahteraan hidup manusia.

Penduduk bumi, semakin padat. Jumlah penduduk dunia setiap tahun tendensinya meningkat. Setiap detik, jumlahnya bertambah. Salah satu problematika dunia.

Bila kita sadar mengambil garis balik pendu¬duk dunia, ternyata semakin jauh kita mundur, semakin sedikit jumlah yang kita hitung. Akhirnya, kita sampai kepada hitungan awal, hanya dua orang saja (Adam dan Hawa), sebagai cikal bakalnya. Pertambahan penduduk, merupakan sesuatu yang sangat alami, sesuai dengan hukum alam. Namun berkembang dari jenis manusia pertama itu, yang kemudian bertambah banyak dan seterusnya. (QS.4 An nisa’ ayat 1).

Manusia ditetapkan menjadi penduduk bumi. Dia ditugaskan untuk membina segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Menunjang suatu peradaban sesuai dengan harkat kemanusiaan.
Manusia memerlukan alat untuk menyampaikan maksudnya.
Harus ada alat untuk saling berhubungan, satu sama lain.
Tanpa adanya hubungan pembinaan peradaban kemanusiaan, tidak akan pernah terjadi. Jika hubungan (komunikasi) tidak ada, barangkali hakekat manusia dalam hidupnya, akan sangat lain bentuk dan perwujudannya dari sekarang.

Bahasa merupakan alat penghubung paling pokok. Bahasa adalah alat untuk menyampaikan perasaan dan pengertian, juga anjuran.
Para ilmuwan menyebutkan, bahwasanya bahasa adalah “anak kisah”.
Mana ibu kandung bahasa itu? Ibu kandung bahasa adalah percakapan. Kata yang diucapkan.

Alam menceritakan suatu kisah tentang anak yang dilahirkan “tuli”. Karena tidak mendengar induk bahasa sejak mulai lahir. Maka dia akan bisu. Dia tidak akan mampu menggunakan bahasa ucapan. Lebih banyak, hanya bahasa isyarat. Tidak mampu mengutarakan maksud dan keinginan dengan ucapan kata kata.

Bahasa pembicaraan tidak ada kaitannya dengan persoalan darah, keturunan, daerah asal, bahkan juga tidak oleh ras maupun bangsa. Dengan demikian, tidak ada gunanya memakai bahasa yang tinggi-tinggi, kepada orang yang belum pernah mendengar bahasa itu.
Kandungan makna yang tinggi itupun, tidak akan bisa bisa diresapinya.

Bahasa Al Qur’an diturunkan sesuai dengan bahasa Rasul-Nya. Nabi Muhammad diutus membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Ajarannya melingkupi seluruh sudut bumi, universal.

Oleh karena itu, mustahillah jika ada tuntutan Al Qur’an diturunkan hendaknya berbahasa Yunani kepada seorang utusan bernama Muhammad SAW, yang nyatanya berbahasa dengan bahasa Arab. Inilah satu ke’arifan Allah. Diajarkan sesuai dengan harkat kemanusiaan.

Lebih jauh, mustahil bila Al Qur’an disampaikan dalam bahasa Malaikat, yang manusia tidak tahu. Manusia tidak mengerti, bagaimana bentuk kaedah kaedah induk bahasa Malaikat itu. Bagaimana pula jadinya ?

Renungkanlah, betapa Rahman dan Rahimnya Allah, yang telah menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, supaya manusia mau memikirkannya. Semoga.

Dimuat di Harian Mimbar Minang, di Padang, pada Oktober 1999.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s