Copy of DSC_0140

Husnuz-dzan Di Jalan Allah Khuthbah Idul Fitri 1435 H

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

 

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada  tuhan selain Allah yang Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Allah Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji bagi-Nya  sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah dari pagi hingga petang. 

Tiada  tuhan  selain Allah, sendiri. Yang benar janji-Nya, yang memberi  kemenangan kepada  hamba-Nya,  yang memuliakan prajurit-Nya sendirian.  

Tiada tuhan selain Allah, dan kita tidak beribadah kecuali hanya  kepada  Allah,  mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci.  

Tiada  tuhan  selain  Allah. Allah Maha Besar, bagi Allah-lah segala puji.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Bulan UJIAN DAN Kemenangan

Pagi  ini ratusan juta umat manusia bertakbir, tahlil, tasbih, tahmid, berzikir, mensyukuri nikmat Allah Azza wa Jalla ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah, zikir dengan sebanyak-banyakya.” (Q.S. Al Ahzab: 41)

Di seluruh dunia, dan dikeliling Ka’batullah semua lidah menggumamkan kebesaran Allah Maha Agung. Memuji kesucian Allah. Berjuta pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran Allah.

Hati diharu-biru kecamuk rasa bangga dan syahdu, merayakan  kemenangan besar mengalahkan nafsu dan keinginan syaithaniyah. Berganti dengan kesyukuran yang tiada hingga, karena telah ridha melaksanakan perintah Allah, menyahuti seruan Allah untuk rela berqurban, tanda mendekatkan diri kepada Azza wajalla. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Berzikir, adalah satu wasilah (cara) berkomunikasi dengan Allah. Terutama di hari kemenangan dari satu perjuangan berat yang melelahkan. Melawan musuh yang ada di dalam diri sendiri. Musuh Kata Ibnu Sirin,  “Aku tidak  pernah punya urusan yang lebih pelik ketimbang urusan  jiwa ini.” Satu peperangan amat rumit. Sebuah pertempuran melawan musuh. Bernama nafsu syahwat dan syetan, yang selalu menjerumuskan manusia ke lembah nista.

Kemenangan  melawan  hawa  nafsu adalah puncak kemenangan terbesar. Hasan Bashari menyebutkan, “Binatang  binal tidak lebih memerlukan tali kekang ketimbang jiwa dan nafsu ini.”. Kemenangan utama ini akan melahirkan kemenangan lain dalam kancah kehidupan dunia.“Berapa banyak  terjadi  golongan yang kecil (sedikit)  dapat mengalahkan golongan besar (banyak) dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (memiliki ketangguhan).” (Al-Baqarah: 249). Kemenangan yang lahir dari ketangguhan jiwa dan kekuatan iman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahi l-hamdu.

Berlatih Menggunakan Waktu

Sebulan lamanya kita berada di bulan suci penuh keberkahan. Sarat dengan nilai iman takwa. Mengantarkan kita kepada suasana batin amat indah. Padat nilai-nilai pendidikan bagi kaum Muslimin.

Bulan Ramadhan melatih kita memberi perhatian kepada waktu. Sungguh banyak manusia yang tidak bisa menghargai  dan  memanfaatkan waktunya. Ramadhan  melatih kita selalu  rindu  kepada waktu shalat. Barangkali  diluar Ramadhan  sering waktu-waktu shalat itu terabaikan. Ketika adzan terdengar berkumandang di kanan kiri telinga. Namun kita masih terpaku dengan segala  kesibukan. Tidak tergerak bibir menjawab. Apa lagi memenuhi panggilannya. Kita biarkan suara Muadzin memantul di tembok rumah dan kantor. Kemudian berlalu pergi. Seakan angin lalu tanpa kesan.

Akan tetapi, selama bulan Ramadhan, kita selalu menunggu suara adzan. Rindu dengan adzan Maghrib dan Shubuh. Kita  tempelkan Jadwal Imsakiyyah. Bahkan, dan kita hafal menit dan detiknya.

Mudah-mudahan  selepas Ramadhan ini, rasa  rindu kepada waktu shalat selalu terpelihara pada diri kita.

Waktu adalah kehidupan. Siapa saja yang menyia-nyiakan waktu berarti ia menyiakan-nyiakan hidupnya. Ada  survei  ditahun 1980 bahwa Jepang adalah negara pertama paling produktif  dan  efektif dalam menggunakan waktu. Disusul Amerika dan Israel. Subhanallah, ternyata negara-negara itu kini menguasai dunia. Padahal semsetinya, seorang muslim, wajib menjadi yang paling disiplin dengan waktu. Alquran mengisyaratkan  pentingnya waktu  bagi kehidupan. Allah bersumpah dengan waktu.

Maka, jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di antara manusia dan bermartabat  di sisi Allah, hendaklah waktu diisi hal yang produktif, untuk kepentingan dunia atau akhirat. Waktu adalah ibarat mata pedang. Manakala kita tidak memanfaatkan dengan baik, maka waktu itu pula yang akan meretas kehidupan kita. Na’udzubillah.

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu.

Tumbuhkan Ketaatan Ramaikan Rumah Ibadah

Ramadhan  melatih  kita memakmurkan tempat-tempat ibadah; masjid, mushalla, dan surau. Gempita kita mendatangi rumah-rumah Allah di bulan ini. Kita kerahkan anak istri meramaikan tempat ibadah ini.

Kita ramaikan dengan berbagai kegiatan. Majelis ta’lim, pesantren dan safari Ramadhan. Menembus hingga pelosok dusun terjauh. Ketika menyaksikan suasana indah ini. Mungkin saja, seseorang dari kita sempat berkhayal, “Andai Ramadhan datang 12 kali setahun.” Begitu indah  pemandangan  ini.

Suara pujian dan doa sahut bersahut dari pengeras suara di antara masjid kemasjid. Alam  serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar. Di bawah naungan Asma’ al Husna. Suasana  ini  perlu  dipertahankan selepas Ramadhan. Selalu mengajak keluarga memakmurkan masjid. Sehingga kita layak mendapatkan janji Allah, “Ada  tujuh  golongan manusia yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya di hari di mana tidak ada naungan selian naungan Allah .dan (salah satu daripadanya adalah) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.

Ramadhan melatih lebih mementingkan ketaatan kepada Allah. Di saat saat kita masih lelah bekerja sepanjang siang. Bertahan dengan rasa lapar dan dahaga. Ketika mestinya beristirahat dari kepenatan. Di kala itu pula, kita rukuk dan sujud di dalam shalat tarawih atau qiyamu l-Lail Ramadhan. Hanya satu harapan kita. Mendapatkan ridha Allah. Satu-satunya yang paling berharga dalam hidup Muslim.

Semangat  ini  mesti dipelihara tetap ada. Walau Ramadhan pergi meninggalkan kita. Ada kewajiban mempersembahkan apa yang kita miliki untuk meraih keridhaan Allah. Kita mesti selalu ingat kepada Nya. Berzikir adalah perintah Allah. Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berzikir. Kurang iman, kurang zikir. Tidak beriman tidak akan berzikir. Berzikir berarti taat kepada perintah Allah.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring …” (Q.S. An Nisa’ : 103)

Semestinya keridhaan  Allah menjadi tujuan kita. Tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan berayun,  kaki  melangkah, kecuali serasi dengan ikrar, ” Sesungguhnya  shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Ramadhan  melatih  kita  untuk mempunyai rasa solidaritas sesama. Dengan  rasa  lapar  dan dahaga kita  di ingatkan kepada nasib sebagian  dari saudara-saudara yang  kurang beruntung di dalam hidup  ini. Mereka  setiap harinya selalu dirongrong rasa lapar dan dahaga.

Rasa  kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini. Saat budaya hedonisme mulai mencabik peradaban. Di saat mana manusia modern, seringkali hanya disibukkan oleh urusan peribadi. Nafsi-nafsi. Akibat dari orientasi hidup yang hanya memandang materi sebagai satu-satunya tujuan. Tidak jarang, untuk memenuhi  ambisi kebendaan, seseorang rela menghalalkan segala cara.

Allahu Akbar wa lillahi l-hamd

Menanamkan Bahagia dalam Memberi

Bagaimana mungkin, kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat pada hari ini. Bila di samping kita ada orang menangis tersedu merasakan kehampaan hidup. Karena tidak punya. Kecuali hanya nyawa berbungkus kulit. Akan sirna semua kebahagiaan berhari raya. Jika di keliling kita berserak orang yang masih menengadahkan tangan. Mengharap sesuap nasi.

Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran ini. Di pagi hari ketika Rasulullah SAW masih hidup. Beliau keluar menuju tempat shalat ‘Idul Fithri. Beliau melihat, ada seorang bocah termenung menyendiri. Tatapan pandangnya menerawang. Di tengah banyak teman sebaya bergembira ria. Berpakaian baru pembelian ayah. Di tangan mereka ada penganan enak. Buatan ibu. Dari kejauhan si bocah hanya bisa melihat. Menikmati hari raya sambil bermenung.

Di dalam hati terasakan. Alangkah gembira teman sebaya. Gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri. Jauh berbeda. Terasa nian badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta. Kemana ibu tempat mengadu.

Rasulullah SAW lewat menghampiri. Meletakkan telapak tangan Beliau di kepala si bocah. Sambil bertanya, “Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa. Dikau merana sedih menangis. Gerangan apakah yang menyulitkan ? Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan. Si bocah lugu menjawab, “Wahai Rasul, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria. Pulang ke rumah ada sanak saudara. Lelah bermain ada ibu menghibur. Duka di hati ada ayah yang menyahuti.

Diriku wahai Nabi. Tiada ibu tempat mengadu. Ayahpun sudah tiada. Badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini. Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih. Mengharap belas kasih dengan tulus. Seketika, Rasulullah SAW berkata, “…maukah engkau wahai anak …, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu …, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.

Jawaban spontan ini membuat wajah si bocah berseri. Walau terdengar baru ajakan. Harapan hidup sudah terbuka. Diri tidak sendiri lagi. Sirnalah air mata yang terurai karena sedih dan hampa. Berganti air mata gembira, lantaran bahagia.

Satu bukti substansil dari sabda Nabi SAW. Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)” (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).

Andaikan ada di masa kini, pintu rumah terbuka bagi si lemah. Lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak. Tentulah merata bahagia, di tengah bangsa ini.

Allahu Akbar Wa Lillahi l-Hamd.

Menyuburkan Kepedulian dan Kepekaan Sosial.

Solidaritas semacam ini perlu dipelihara dan aplikasikan. Dalam hubungan  dengan sesama manusia. Melakukan shiyam sunnah, menjadi perlu, dimana Islam telah mensyariatkan. Manusia maju (modern) perlu melakukan puasa. Guna  melatih kepekaan social nya. Para pejabat perlu melakukan puasa sunnah, untuk merasakan derita sebagian besar bangsa ini.

Sehingga, muncul kebijakan berpihak kepada rakyat miskin. Minimal  dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi, di tengah bangsa yang sedang menangis ini. Andaikan ada pemimpin di zaman kini, yang menolehkan pandang kepada si lemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini.

Di sinilah letak kemuliaan dan tanggung jawab umarak. Melindungi orang lemah. Memperbaiki silaturahim. Menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati.

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ. }رواه ابن النجار عن أبي هريرة{

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Kita  menyambut itikad  baik  dari pemimpin negeri membudayakan hidup sederhana. Alangkah  indah  ajakan hidup sederhana diterapkan oleh  semua pihak.

Bangsa ini masih terpuruk. Rakyat kita masih menderita. Kemiskinan menjadi pemandangan utama. Di setiap sudut kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan  kemewahan  di hadapan rakyat melarat. Apalagi dengan menggunakan fasilitas negara.

Kita dianjurkan untuk hidup dalam keadaan zuhud. Zuhud adalah sikap yang diajarkan Islam dalam hidup.

Az-Zuhri berkata, “Zuhud bukanlah berpakaian yang kumal dan badan yang dekil. Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat  dunia.” Orang mukmin boleh kaya dan berjaya,namun yang ada di hatinya hanyalah Allah semata. Letakkan harta di tanganmu dan jangan letakkan di hatimu.” Demikian nasihat ulama.

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu

Ketakwaan Bekal Hidup

Amat banyak  pelatihan dalam Diklat Ramadhan. Besar hikmah disyariatkan shiyam sebulan penuh. Agar  sebelas  bulan dalam setahun, kita lalui dengan menerapkan nilai-nilai shaum Ramadhan itu.

Suasana  spiritual  yang  dilatih selama sebulan Ramadhan ini menjadi energi bagi kita mengarungi sebelas bulan berikutnya. Agar predikat takwa benar benar terjaga dalam diri.

Ketakwaan adalah bekal hidup. Modal menghadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla. “Sungguh sebaik-baik kalian  di  sisi  Allah adalah yang paling bertakwa, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS,49, Al Hujurat : 13)

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu

Mengubah Diri ke arah Lebih Baik

Ramadhan  telah  memberikan  banyak  perubahan dalam diri kita.  Mulai dari sikap, perilaku, dan paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan. Mestinya  ini  semua menjadi bekal  untuk melakukan perubahan di masa  depan. Mampu mengantarkan  hidup kita  ke  arah  yang  lebih baik.

Kehidupan yang kita lalui kini masih sulit. Beban yang kita pikul semakin berat. Sebagai bangsa, belum juga bisa keluar dari krisis multi dimensi. Cukup pelik. Pekerjaan  kian sulit dicari. Harga membumbung naik. Angka pengangguran masih tinggi. Bencana alam silih berganti. Kejahatan masih merajalela. Nilai-nilai luhur yang mestinya dijunjung tinggi, tidak  diindahkan lagi. Nyawa yang begitu mahal dan berharga, oleh semua agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat murah sekali.

Dari  layar  TV dan media kita saksikan peristiwa pembunuhan. Menjadikan bulu kuduk berdiri. Anak membantai ayah bundanya. Suami mencincang istri. Tetangga membunuh tetangga. Saudara menggorok leher saudaranya. Motifnya lemah aqidah dan ekonomi. Kita semua mesti bangkit untuk mengatasi semua kesulitan yang melanda bangsa ini.

Tidak akan pernah ada  bekal  terbaik  untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan semata. Di dalam lubuk hati umat Islam mesti berkumandang pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ ) رواه الحكم (

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam. Kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaan yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di hari fitri. Di tengah merayakan kemenangan besar. Selesai melakukan  pelatihan sebulan penuh. Dalam nuansa kesucian masih terasa. Di saat pikiran dan hati telah mengalami pencerahan oleh nilai-nilai ketakwaan. Marilah  kita menatap hari esok yang lebih baik. Penuh  optimisme.

Seorang Mukmin Muttaqin berpantang kehilangan asa. Optimisme adalah harga mati. Manakala kita ingin bangkit mengatasi berbagai kesulitan ini.

Allahu Akbar, walillahi l-hamdu.

Membangun Optimisme dalam gerak Kehidupan

Beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita.

Pertama, Husnudzan kepada Allah.

Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah harus kita kokohkan dalam diri. Kita  sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa terjadi selain hanya dengan izin dan kehendak Allah semata. Termasuk ujian dan kesulitan yang dihadapi sebagai bangsa atau Negara.

Seorang Mukmin selalu menerima semua ketentuan Allah dengan prasangka  baik. Mukmin menatap ujian dengan senyum. Mereka yakin  akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu. Pertama, diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya. Kedua, di tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ : عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ) سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء (4011)

Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Sesungguhnya Allah, jika menyintai suatu kaum, maka IA timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang gundah gulana, akan tersiksa karena kegundahannya (baginya kemurkaan Allah).(HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021] dari Anas bin Malik R.’Anhu)

Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita. Jangan  sampai  kita celaka  di dunia dan teraniaya di akhirat akibat prasangka buruk kepada Allah. Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

Allahu Akbar Walillahi l-hamd

Kedua, Tidak putus dari berdoa.

Doa dan zikrullah adalah pangkal ketentraman. Mencapai kedamaian dan ketenangan dengan jalan taqarrub kepada Allah. Zikir adalah ma’rifatullah. Meninggalkan zikrullah berarti membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya.

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.” (Q.S. Mujadilah: 19)

Sebagai  bangsa yang  bernama Indonesia ini sedang digilas bermacam kemelut. Krisis ekonami berkepanjangan telah menggiling bangsa ini. Krisis kepercayaan. Rusak moral. Bom meledak di mana-mana. Pemerintahan yang lemah. Berbagai tekanan konspirasi untuk menghancurkan bangsa kita begitu kuat dilakukan orang. Permusuhan antar suku, etnis. Pertikaian antar agama menjadi-jadi. Pertumbuhan ekonomi ikut memburuk. Hutang negara membumbung tinggi. Semuanya itu, mestinya sudah cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar.

Tetapi, kenyataannya tidak. Kita masih hidup sebagai bangsa yang kuat. Apapun keadaannya, kita sebagai bangsa masih berdiri tegak. Mengapa hingga saat ini kita masih bisa bertahan ?. Kita yakin seyakin-yakinnya. Semua itu telah terjadi berkat  doa yang  dipanjatkan  setiap muslim di negeri ini. Berkat ratusan juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit. Berdoa agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran. Doa adalah senjata  orang  beriman.

Doa adalah ibadah. Enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah SWT.

Ketiga, meneladani para nabi dan rasul. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Sungguhpun demikian, cobaan selalu Allah timpakan kepada mereka. Amat dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka mendapat gelar Ulil Azmi. Berhasil mengahadapi ujian berat. Perpaduan hati dan kecintaan menjadi awal dari persatuan. Akhlak mulia dan sifat malu akan menjadikan dunia bersih tak bernoda.

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ. }رواه الديلمى عن عمر{

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak (pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan. Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan jernih dan saling menyayangi dalam tatanan berbangsa.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ. }رواه مسلم عن ابن مالك{

Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Allahu Akbar, walillah l-hamdu

Keempat, beramal dan bertawakkal. Gunakan seluruh potensi yang Allah telah karuniakan pada kita. Rahasianya adalah tidak pernah berputus asa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan amalan karya kita di dunia ini dalam menciptakan kebahagiaan bersama-sama.

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ. }رواه الترمذي{

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertakwa kepada Allah, selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak. Tanah air paling strategis. Terletak di perlintasan dunia. Seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”. Negeri ini mesti kita bangun untuk umat masa depan. Di awali memperbaiki silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ. ) رواه أحمد(

“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Tidak ada yang mengubah diri kita selain kita. Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus ikhlas. Sebagai bagian dari mensyukuri nikmat Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Akhirnya,  dengan  jiwa  yang  suci  bersih, marilah kita tundukkan hati  kita  kepada  kebesaran Allah. Menengadah mengharap karunia dan rahmat-Nya, untuk keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

 Pekanbaru, 1 Syawal 1435 H / 28 Juli  2014 M.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s