MAKNA TERSIRAT DALAM MAULIDUR RASUL

Gambar

OLeh: H.Mas’oed Abidin

 

       Memperingati “mauLidur-rasuL” sering di bicarakan banyak orang saat ini. BacaLah Wahyu ALLah tentang kerasuLan Muhammad SAW sebagaimana  disebutkan daLam AL QuranuL Karim ;

$tBur JptèC žwÎ) ×Aqߙu‘ ô‰s% ôMn=yz `ÏB Ï&Î#ö7s% ã@ߙ”9$# 4 û’ïÎ*sùr& |N$¨B ÷rr& Ÿ@ÏFè% ÷Läêö6n=s)R$# #’n?tã öNä3Î6»s)ôãr& 4 `tBur ó=Î=s)Ztƒ 4’n?tã Ïmø‹t6É)tã `n=sù §ŽÛØtƒ ©!$# $\«ø‹x© 3 “Ì“ôfu‹y™ur ª!$# tûï̍Å6»¤±9$#  

“ Muhammad itu tidak Lain hanyaLah seorang rasuL, sungguh teLah berLaLu sebeLumnya beberapa orang rasuL. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbaLik ke beLakang (murtad)? Barangsiapa yang berbaLik ke beLakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada ALLah sedikitpun, dan ALLah akan memberi BaLasan kepada orang-orang yang bersyukur.”  (QS.3 aLi Imran :144). 

Maknanya adaLah bahwa  Nabi Muhammad s.a.w. iaLah seorang manusia yang diangkat ALLah menjadi rasuL. RasuL-rasuL sebeLumnya teLah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada puLa yang karena sakit biasa. Maka Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti haLnya RasuL-rasuL yang terdahuLu itu.

Semasa berkecamuknya perang Uhud tersiarLah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. berita ini mengacaukan kaum musLimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perLindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kaLau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentuLah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka ALLah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum musLimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad).

Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di kala terjadi puLa kegeLisahan di kaLangan Para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar IbnuL Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

“ Muhammad itu sekaLi-kaLi bukanLah bapak dari seorang Laki-Laki di antara kamu, tetapi Dia adaLah RasuLuLLah dan penutup nabi-nabi. dan adaLah ALLah Maha mengetahui segaLa sesuatu.” (QS.AL-Ahzab 33:40).

Ayat ini menerangkan bahwa  Nabi Muhammad s.a.w. bukanLah ayah dari saLah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oLeh RasuLuLLah s.a.w.

š“ dan orang-orang mukmin dan beramaL soLeh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan ItuLah yang haq dari Tuhan mereka, ALLah menghapuskan kesaLahan-kesaLahan mereka dan memperbaiki Keadaan mereka.” ( QS.47, Muhammad :2)

 

“ Muhammad itu adaLah utusan ALLah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adaLah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia ALLah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. DemikianLah sifat-sifat mereka daLam Taurat dan sifat-sifat mereka daLam InjiL, Yaitu seperti tanaman yang mengeLuarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat LaLu menjadi besarLah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena ALLah hendak menjengkeLkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). ALLah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amaL yang saLeh di antara mereka ampunan dan pahaLa yang besar.“ (QS.48, Muhammad :29).

Maknanya adaLah bahwa pengikut Muhammad yang menjaga iman dan ibadahnya  pada air muka mereka keLihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

       Muhammad diutus menjadi Rahmat bagi seLuruh aLam.

 “ dan TiadaLah Kami mengutus kamu, meLainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta aLam.” (QS.21,AL-Anbiya’,ayat 107),

yang menjadi uswah hasanah yakni suri ketauLadanan yang teramat sempurna.

“ Sesungguhnya teLah ada pada (diri) RasuLuLLah itu suri teLadan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut ALLah.” (QS.33, AL-ahzab:21),

Muhammad di utus sebagai nabi yang terakhir untuk meLakukan perubahan menyeLuruh bagi kehidupan manusia yang waktu itu tengah berada daLam kondisi dhuLumat (kegeLapan) kepada kehidupan berperadaban (civiLisasi) secara transparan (an-nur, cahaya terang) dengan akhLaquL katimah menurut bimbingan Kitab AL Quran.

 

“ dengan kitab wahyu AL-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ituLah ALLah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jaLan keseLamatan, dan (dengan kitab itu puLa) ALLah mengeLuarkan orang-orang itu dari geLap guLita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jaLan yang Lurus.” (QS. aL-Maidah (5):16).

 

“ DiaLah ALLah yang memberi rahmat kepadamu dan maLaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeLuarkan kamu dari kegeLapan kepada cahaya (yang terang), dan adaLah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. aL-Ahzab (33):43),

        Allah ceritakan dalam ALQuran tentang isteri Firaun  memohonkan kepada Allah terhindar dari kedzaliman Firaun itu untuk dapat memasuki sorga Jannah dan keselamatan.

 

“ dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu – maknanya, sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah — dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. at-ThaLaq (65):11).

       Perubahan yang dibawa oLeh RasuLuLLah SAW, semata dengan bimbingan Wahyu ALLah SWT. Tidak menurut kinginannya semata, sebagai mana perubahan yang  diLakukan reformer meLaLui pemaksaan kehendak yang seringkaLi bergerak menjadi suatu tindakan anarkis dan menyisakan pertentangan daLam kehidupan manusia.

Perubahan berdasar Sunnah RasuLuLLah SAW, bermuara kepada diterapkannya syari’at IsLam dan berintikan proses  perubahan yang mengarah kepada perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian)[1], IshLah (penyempurnaan)[2] dan taghyir (perubahan sikap)[3].

Perubahan itu menciptakan suatu perbaikan tanpa merusak. Ajaran IsLam yang dibawa RasuLuLLah SAW, seLaLu mengingatkan umatnya untuk tidak merusak (fasad=anarkis) baik daLam bentuk tatanan atau pemaksaan-pemaksaan kehendak.

Agama IsLam menghormati prinsip tidak ada paksaan daLam agama,

“ tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (IsLam); Sesungguhnya teLah jeLas jaLan yang benar daripada jaLan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada ALLah, Maka Sesungguhnya ia teLah berpegang kepada buhuL taLi yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan ALLah Maha mendengar Lagi Maha mengetahui.” (QS.2:256).

Thaghut iaLah syaitan dan apa saja yang disembah seLain dari ALLah s.w.t.

Disamping itu adanya kewajiban meLembagakan musyawarah daLam setiap urusan dengan cara baik dan kasih sayang.

“ Maka disebabkan rahmat dari ALLah-Lah kamu berLaku Lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras Lagi berhati kasar, tentuLah mereka menjauhkan diri dari sekeLiLingmu. karena itu ma’afkanLah mereka, mohonkanLah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratLah dengan mereka daLam urusan itu – yakni urusan peperangan dan haL-haL duniawiyah Lainnya, seperti urusan poLitik, ekonomi, kemasyarakatan dan Lain-Lainnya.– kemudian apabiLa kamu teLah membuLatkan tekad, maka bertawakkaLLah kepada ALLah. Sesungguhnya ALLah menyukai orang-orang yang bertawakkaL kepada-Nya.” (QS.3, aLi Imran :159.,

Umat Muhammad mesti punya identitas (shibghah) daLam wujud amar ma’ruf (proaktif) dan nahi munkar (re-aktif). Maka gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan meLawan segaLa corak kemaksiyatan baik yang menyangkut tatanan hubungan pribadi, keLuarga, masyarakat, Lingkungan, bangsa dan negara.

Tujuannya semata menciptakan umat berkuaLitas  khaira ummah atas dasar iman kepada ALLah.

 “ kamu adaLah umat yang terbaik yang diLahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada ALLah. Sekiranya ahLi kitab beriman, tentuLah itu Lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adaLah orang-orang yang fasik.” (QS.3, Ali Imran :110).

Secara intensif puLa menggairahkan perLombaan berniLai kebaikan fastabiquL-khairat.

“ dan bagi tiap-tiap umat ada kibLatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berLomba-LombaLah (daLam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti ALLah akan mengumpuLkan kamu sekaLian (pada hari kiamat). Sesungguhnya ALLah Maha Kuasa atas segaLa sesuatu.” (QS aL-Baqarah (2):148)

 

“ dan Kami teLah turunkan kepadamu AL Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebeLumnya — yaitu Kitab-Kitab yang diturunkan sebeLumnya — dan batu ujian – maknanya adaLah bahwa AL Quran adaLah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan daLam Kitab-Kitab sebeLumnya.– terhadap Kitab-Kitab yang Lain itu. Maka putuskanLah perkara mereka menurut apa yang ALLah turunkan dan janganLah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggaLkan kebenaran yang teLah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu – yakni umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebeLumnya. — Kami berikan aturan dan jaLan yang terang. Sekiranya ALLah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi ALLah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berLomba-LombaLah berbuat kebajikan. hanya kepada ALLah-Lah kembaLi kamu semuanya, LaLu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang teLah kamu perseLisihkan itu,” (aL-Maidah (5):48).

Ajaran IsLam seperti ini teLah terbukti daLam sejarah peradaban manusia sepanjang masa yang diLaLuinya berhasiL menciptakan suatu komunitas umat pengikut yang kian hari kian bertambah, Insya ALLah sampai akhir zaman[4].

       CupLikan perjaLanan RisaLah RasuLuLLah SAW, mencatat betapa kegeLapan yang menyungkup periLaku kehidupan jahiLiyah masa LaLu, seperti kesaksian Shahabat Dja’far bin Abi ThaLib (RA) dihadapan Maharaja Habsyi, antara Lain mengatakan; “Kami adaLah orang jahiLiyah, dengan sikap perangai menyembah berhaLa (kepatuhan kepada seLain ALLah dengan pemberhaLaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), memakan bangkai (tidak mengenaL haLaL-haram), memutus siLaturrahim (dengan penidasan dan tindakan intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan mengerjakan perbuatan keji (judi, rampok, korupsi, zina), sehingga yang kuat meneLan yang Lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan goLongan dan keLompok). Sampai ALLah mengutus kepada kami seorang RasuL dari kaLangan kami sendiri (yakni Muhammad SAW) yang sangat kami kenaL nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risaLahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).[5]  

Muhammad RasuLuLLah saw. diLahirkan di tengah-tengah keLuarga Bani Hasyim di Makkah eL Mukarramah di buLan Rabi’uL AwwaL (musim bunga), pada hari Senin, tanggaL 12 Rabi’uL AwwaL permuLaan tahun daLam peristiwa gajah (aL fiiL); bertepatan dengan tanggaL 20 atau 22 ApriL tahun 571 M, dibidani dan dirawat oLeh Siti Syifa’, ibu dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf R.Anhu. BeLiau Lahir nama beLiau Muhammad (yang terpuji), ayahnya AbduLLah (hamba ALLah), ibunya Aminah (perempuan yang memberi rasa aman), kakeknya dipanggiL AbduL MuthaLLib yang namanya adaLah Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya meLahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adaLah HaLimah As-Sa’diyah (yang Lapang dada dan mujur).

Semua nama-nama itu teLah dipiLihkan oLeh ALLah Azza wa JaLLa yang memberikan peLajaran besar betapa eratnya dengan keperibadian Nabi Muhammad SAW. KeLuarga Muhammad Lazim disebut Bani Hasyim, yang dinisbatkan kepada Hasyim bin Abdi Manaf.. Nasabnya amat jeLas. Muhammad bin AbduLLah bin AbduL MuthaLib (Syaibah) bin Hasyim (aL Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin KiLab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin GhaLib bin Fihr (yang berLaqab Quraisy) bin MaLik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mu’id bin Adnan.[6] Dari Adnan dicatatkan tarikh sampai Iram bin Qidar bin Isma’iL bin Ibrahim AS.[7]

Hadist ini sebenarnya berisikan; Pertama, RisaLah RasuLuLLah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad AL-Amin). Kedua, keutamaan Wahyu ALLah (yang mampu merombak tata priLaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeLuruh). Ketiga, keteguhan para pengikut (umat) dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi daLam kerangka jihad fii sabiLiLLah. Keempat, teguhnya keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata kehidupan duniawi (materiL fisik). KeLima, adanya kecerdasan umat meLihat secara gambLang bahwa  agama IsLam adaLah anutan yang Lebih baik dari ajaran manapun. Ini yang menjadi pembangkit utama harakah IsLam sebagai kekuatan aLternatif masa datang.

¨

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi ALLah hanyaLah IsLam. tiada berseLisih orang-orang yang teLah diberi AL Kitab – yakni Kitab Kitab yang diturunkan sebeLum AL Quran —  kecuaLi sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat ALLah Maka Sesungguhnya ALLah sangat cepat hisab-Nya.” (QS.3,ALi-’Imran:19).

 

“ Barangsiapa mencari agama seLain agama IsLam, Maka sekaLi-kaLi tidakLah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.3,ALi Imran : 85).

Maka, umat IsLam hari ini mesti berperan aktif, menjadi pengisi  konseptuaL dan penggerak kontekstuaL di tengah kehidupan duniawi.

Agama IsLam tidak hanya ibadah daLam arti sempit (puasa,shaLat,zikir dan do’a), tetapi menata usaha amaLan nyata yang shaLih daLam membentuk kuaLitas hidup “hasanah” dunia dan akhirat. Umat mesti sadar bahwa Dakwah ILaa ALLah seLaLu berhadapan dengan kekuatan Yahudi dan SaLibi (QS.2,AL Baqarah :120), yang menghadang dengan konsep fikrah (ghazwuL fikriy), penguasaan ekonomi, sistimatisasi pemeLaratan daLam menciptakan umat yang kaya dengan kemiskinan atau miskin dengan kekayaan, dalam percaturan poLitik demokratisasi dan humanisasi, yang pada dasarnya adaLah kemasan apik dari phobia terhadap IsLam dan intimidasi terhadap umatnya. DaLam rangka ini kita peringati MauLid Nabi.

 

 

Padang, Maulid, 12 RabiulAwal 1435H/14 Januari 2014 M


[1] “Jaddiduu imanakum” (Al Hadist), yang mengarahkan setiap mukmin kepada pemurnian sikap, tindakan, kedisiplinan, atas dasar “iman” kepada Allah, dengan “Laa ilaaha illa Allah”.

[2] QS.7,Al-A’raf,ayat 55-56.

[3] QS.13,Ar-Ra’d, ayat 11.

[4] (umat Islam berjumlah 1,5 milyar ditengah 6 milyar penduduk dunia), dan perkembangan di Eropah ataupun di Amerika hari ini tidak dapat dibantah bahwa pertumbahan umat itu sangat mencengangkan.

[5] Dialog Dja’far bin Abi Thalib dengan King Negus (Raja Najasyi), pada permulaan Risalah semasa hijrah spontan keum Mukminin ke Habsyi atas izin Rasulullah,  tersebab tekanan yang sangat  berlebihan dari Musyrikin Quraisy berupa intimidasi, fitnah, penculikan, pengkucilan, embargo ekonomi,  pembunuhan,  lihat Kitab Al Islam Ruhul Madaniyah tulisan Syeikh Mustafa Al Ghulayain, Beirut

[6]    Ibnu Hisyam, I :1,2Talqihu Fuhami Ahlil Atsar, 5 dan 6 : Rahmatan lil ‘Alamien, II, 11,13,14,52.

[7]    Al ‘Allamah Muhammad Sulaiman al Manshurfury, di dalam Rahmatan lil ‘Alamien, II, 14 – 17.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s