Selalulah Hemat dan Hatihati

Surau Singgalang

Masoed Abidin

 

Jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah. Mubazir itu perbuatan syaithan.

Perilaku mubazir  akan mengurangkan amalan sedekah. Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh pintu kebaikan dan rezeki.

Jangan berlebih-lebihan dalam hal menyediakan berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur). Hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk, lantas mereka akan kehilangan peluang di siang (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran.

Kurangilah kegiatan mendatangi pusat-pusat perniagaan pada malam-malam bulan Ramadhan, terutama sekali di akhir Ramadhan, agar masa keemasan tersebut tidak hilang lenyap tanpa bekas dalam jiwa.

Berupayalah menjadi hamba Allah yang pemurah dan hemat belanja. Amalkanlah tuntunan Allah dalam Al Quranulkarim, Surat al Furqan ayat 67, dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”.

Jadikanlah Ramadhan bulan menahan diri dari semua keinginan yang tidak perlu. Berbuatlah untuk selalu mawas diri dan berhati hati dalam bertindak laku.

Gambar

Bergiatlah memperdalam ilmu dalam bidang tafsir Al-Quran, Hadis Rasulullah SAW, sejarah Islam, dan ilmu-ilmu agama, karena menuntut ilmu adalah ibadat. Rebutlah peluang beriktikaf walaupun hanya sebentar.  Sebaik baiknya manfaatkan 10 malam Ramadhan terakhir, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah.

Bergiatlah melakukan Qiyamullail di sepuluh malam terakhir Ramadhan karena di dalamnya terdapat malam utama, yakni Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Bercita citalah dengan teguh hati untuk melanjutkan kebiasaan baik yang dapat dibuat di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.

Berharaplah  akan meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan berangkat meninggalkan kita kelak. Rebutlah peluang dan kesempatan untuk melakukan puasa-puasa sunat, dan jangan hanya merasa cukup karena telah berpuasa dengan puasa Ramadhan ini saja.

Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan. Allah SWT memang membolehkan hambaNya melakukan sesuatu yang akan menghibur diri. Menghabiskan masa untuk semata mata berhibur santai, niscaya akan melenyapkan peluang buat merebut kebajikan. Ingatlah, apabila anda melakukan maksiat lalu Allah menutupi kasus anda, maka sadarilah bahwa yang demikian itu adalah satu peringatan buat anda, agar anda segera bertaubat. Bersegeralah bertaubat.

Simpulannya, lakukanlah muhasabah terhadap segala hal dan urusan. Pelihara  solat berjamaah. Tunaikan zakat. Hubungkan silatur rahim. Berbakti kepada kedua ibu-bapa. Beri perhatian terhadap jiran tetangga. Maafkan orang-orang yang ada perselisihan dengan kita. Hindarkan diri dari perbuatan mubadzir. Didik orang yang di bawah tanggungan jawab kita. Ambil perhatian yang sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim. Jangan diselewengkan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri. Tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat ke arah kebaikan. Jauhi sifat ria. Cintai saudara atau teman sejawat seperti mana sikap mencintai terhadap diri  sendiri. Selalu berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menajauhi ghibah (gunjing). Perbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah. La’allakum Tattaquun. La’allakum tasykuruun. Insyaallah akan dapat meraih puasa yang “ihtisab”, sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”  yakni akan diampuni dari dosa dosanya terdahulu. 

Semoga kita mampu mengingati dan mengamalkannya. 

Wassalam ***

 

Iklan

Memanfaatkan Ramadhan Dengan Optimal

Surau Singgalang

 

Alhamdulillah, dalam upaya mendorong umat Islam untuk meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW  yang bermaksud ;  “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”  

Ada beberapa kaedah yang dapat memandu kita ke arah pencapaian derajat Muttaqin dengan kehatihatian menjaga ibadah puasa Ramadhan ini. Hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak ini dapat memberi peluang emas dalam melakukan muhasabah  atau penilaian terhadap nilai amalan  ibadat selama ini.

Melalui ibadah (ta’mir) Ramadhan dapat menyimak dan meluruskan perjalanan kehidupan kita semua. Hendaklah mengambil iktibar (pelajaran) bahwa peredaran waktu dan perputaran jarum jam mengingatkan kita bahwa usia ini semakin berkurang. Dalam hitungan umur bertambah, tetapi kenyataannya jatah hidup di dunia ini makin pendek.

Manfaatkan masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini. Selain dari pada itu, hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan sholat fardhu dan sholat Tarawih dengan berjamaah, meramaikan masjid dimanapun kita berada. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa ..Sesiapa saja  sholat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadat satu malam”.

Biasakanlah lidah untuk berzikir terus menerus, dan jangan tergolong ke dalam kategori orang-orang yang hanya berdzikir sedikit saja. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat dan beramal, bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan. 

Semasa kita merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, ingatlah selalu bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya.

Bergiatlah agar tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa, keuntungannya amat besar di sisi Allah Azza wa Jalla.

Bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur. Janganlah sekali-kali berbuka di siang hari tanpa uzur syar’i.

Barang siapa berbuka pada suatu hari di siang hari di bulan mulia ini, ia tidak akan dapat mengganti (mengqadha)nya dengan puasa walau satu tahun.

Rebutlah peluang pada bulan Ramadhan ini untuk menjauhi buat selama-lamanya segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Jauhilah segala yang dapat mendatangkan mudharat.   

Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan Mubarak ini adalah tetamu yang hanya datang sekejap saja. Maka layanilah ia dengan baik. Ingatlah bahwa sebentar lagi Ramadhan ini akan segera pergi bila Syawal telah menjelang. Akan susah mendatanginya lagi jika dia telah menghilang.

Gambar

Manfaatkan waktu Ramadhan semasa masih bersama kita. Ketahuilah bahwa amal ibadat itu adalah satu amanah. Hisab dan koreksilah diri, apakah sudah melakukan amal ibadah seperti yang dituntut atau dikehendaki oleh Allah dan Rasul Nya. Ketahuilah bahwa Allah SWT bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang.  Allah menerima taubat daripada orang-orang yang bertaubat. Dan Allah juga bersifat Maha  dahsyat siksaanNya.

Ketahuilah pula bahwa Allah adakalanya menangguhkan siksaanNya, tapi ketahuilah bahwa Allah itu samasekali tidak pernah lengah dan lalai. Besegeralah memohon kemaafan dari pihak yang pernah terzalimi sebelum ia sempat merebut dan merampas pahala amal soleh yang kita lakukan. Tanamkanlah azam (keteguhan hati) untuk tidak kembali malakukan maksiat. Hindarilah bergaul dengan teman-teman jahat. Giatlah bergaul dengan golongan solihin dan orang-orang yang baik. ****

REBUT PELUANG AMAL DALAM RAMADHAN

Surau Singgalang

Masoed Abidin

 

Adalah hal paling disenangi jika kita berkenan menyediakan makan-minum untuk orang yang berbuka puasa dalam Ramadhan ini. Pahalanya sebesar pahala puasa orang yang diberi perbukaan itu. Selain itu sukalah iktikaf di rumah Allah atau masjid sebanyak mungkin dengan melakukan shalat, tilawah al Quran, menghadiri majlis ilmu, dan basahi lidah untuk banyak zikir, tasbih, tilawah, istighfar, dan melakukan ibadat ‘mubah’ (adat) dengan niat ‘ibadat’ dengan niat mencari redha Allah semata.

Lakukanlah muhasabah terhadap segala urusan, seperti : memelihara solat berjamaah, membayar zakat, hubungan silaturrahim, berbakti kepada kedua ibu-bapa, memberi perhatian terhadap jiran tetangga, memaafkan orang yang ada perselisihan dengan kita,  menghindarkan diri dari perbuatan mubadzir,  mendidik orang yang berada di bawah tanggungan jawab kita, mengambil perhatian sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim, tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri, tumbuhkan kerinduan terhadap nasihat dan tunjuk ajar ke arah kebaikan, menjauhi sifat ria, mencintai saudara atau teman sejawat sepertimana sikap mencintai terhadap diri sendiri, menjauhi ghibah (gunjing), memperbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah.

Jangan lupa lengkapi puasa dengan berdoa disaat berbuka puasa setiap harinya sesuai yang diajarkan Rasulullah SAW dengan membaca doa “Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah = ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 dan Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.

Dalam Ramadhan yang berkah ini, kita perlu mengajak umat berdoa dalam qunut-qunut witir untuk saudara-saudara kita di berbagai Negara yg sedang dizhalimi. Namun, tidak mungkin mengajak berdoa dan qunut kalau umat belum tahu kenapa qunut itu. Mestinya ada upaya mencerdaskan umat dengan kondisi umat Islam di Palestina, Suriah, dan juga Mesir. 

 

Ramadhan itu bulan ibadah dan amal shaleh. Bukan amal shaleh yg terpaku dgn amaliah fardiyah belaka. Bukan sekedar fiqh shiyam, shadaqah, qiyamullail, dan sejenisnya.

Hindari terlalu banyak berbicara melainkan jika memang perlu dan yakin bahwa berbicara tersebut akan menaikkan martabat dan manfaat kepada orang lain serta berupaya menjauhi semua yang menghalangi hati dekat dengan Allah swt. Ingatlah akan sabda Rasul SAW bahwa ucapan bohong menghapuskan pahala puasa sebagaimana disebutkan dalam hadits, Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkannya, serta mengganggu orang lain (jahil), maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057).

Gambar

Cobalah semai kebaikan pada bulan mulia ini dengan menyebarkan pandangan yang bernas. Marilah kita saling mendoakan. Sesungguhnya ‘kejayaan’ dan ‘keberhasilan’ dalam hidup kita berada di tangan kita sendiri.

Moga kita dapati kasih sayang Allah dengan mengoptimalkan ibadah shaum Ramadhan dan banyak bergaul dengan golongan yang mencintai Allah agar kita mendapatkan pula kecintaan dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana disabdakan Sabda Rasulullah SAW, “Apabila Allah mencintai si hamba, Allah berfirman menyeru Jibril, ‘Wahai Jibril Aku telah mencintai si polan, maka kamu hendaklah mencintainya’. Lantas Jibril berseru di langit ‘Sesungguhnya Allah mencintai si polan, oleh itu kamu hendaklah mencintainya.’ Jika si hamba telah dicintai penghuni langit, penduduk bumi pun akan turut mencintainya.” (HR Imam Ahmad).

Wassalamu’alaiykum.

DALAM SAHUR ADA BAROKAH

Surau Singgalang

oleh: H. Mas’oed Abidin

           

Sabda Rasulullah SAW “Bersahurlah kamu, karena dalm sahur itu ada keberkatan” (Al Hadist riwayat enam perawi hadist kecuali Abu Daud).

Sahur adalah pertanda awal pelaksanaan ibadah puasa di setiap hari. Bersahur adalah  suatu suruhan (sunnah) Rasulullah SAW, yang juga merupakan rahmat dari Allah.  Sahur memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Sahur hendaklah pelaksanaannya di tak-khir kan atau dilambatkan waktu nya menjelang mendekati  waktu subuh. Maksudnya supaya dapat dipersiapakan kekuatan jasmani di siang hari di kala menahan (imsak), juga supaya shalat shubuh sebagai salah satu sendi asas Agama Islam itu tidak tercecerkan.  Sahur merupakan pembeda antara puasa umat Islam dengan kalangan non Islam (Yahudi, Nasrani) dan sebagainya.

       

Bagi masyarakat muslim di Minangkabau makan sahur disebut makan parak siang atau makan sebelum fajar pertanda siang akan datang. Selanjutnya bimbingan Allah dalam firmanNya menyebutkan bahwa pada malam hari bulan Ramadhan itu seseorang Muslim dapat melakukan hubungan dengan keluarganya, dapat juga makan dan minum hingga terbitnya fajar, sebagaimana isi Wahyu Al Quran artinya makanlah dan minumlah hingga kamu dapat membedakan antara benang putih dan hitam di waktu fajar, dan kemudian sempurnakan puasamu hingga datang malam (QS.2:187).

Agama Islam tidak membenarkan seseorang untuk berpuasa sepanjang hari dan malam, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah mengubah hukum-hukum Allah. Bagi setiap muslim berpuasa diawali dengan sahur dan diakhiri dengan ifthar(berbuka) setiap harinya. Demikianlah hudud (ketentuan hukum) dari Allah. Pelaksanaan sahur sebelum imsak atau fajar datang ini menjadi kesiapan diri melaksanakan hukum-hukum Allah secara benar tanpa reserve.

Lebih jauh mengajarkan seseorang Muslim untuk teguh dalam menjaga dan melaksanakan hukum-hukum yang ditetapkan sepanjang hidupnya. Sesungguhnya seseorang Muslim dengan ibadah yang dikerjakan dididik teguh mengamalkan hukum untuk kemashlahatan bersama.  Dia akan berani mengatakan yang hak itu benar dan yang bathil itu adalah salah. Hukum adalah kebenaran dari Allah, bukan kekuasaan karena mengikut hawa nafsu belaka.

Ibadah puasa (shaum) akan melahirkan sifat sabar (tabah dengan kejujuran) dan istiqamah (konsisten, teguh berpendirian) serta qanaah (sikap merasa cukup sesuai dengan hak yang dimiliki). Ketiga sifat utama ini dilatih dengan intensif pada setiap rukun puasa dengan penuh kedisiplinan diri. Disiplin yang tidak dipaksakan dari luar tapi disiplin yang ditumbuhkan dari dalam mengakar pada sikap dan berbuah dalam tindakan. Sungguh benar Rasulullah SAW dengan tugasnya sebagai “rahmatan lil-alamin”.

Didalam melaksanakan Ibadah shaum yang optimal meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW, “Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760).

Pesan Rasulullah SAW ini menjadi dalil bahwa di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah dan ke ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka.

Gambar

Cobalah semai kebaikan pada bulan mulia ini dengan menyebarkan amal khairat dan pandangan bernas. Marilah kita saling mendoakan. Sesungguhnya ‘kejayaan’ dan ‘keberhasilan’ dalam hidup kita berada di tangan kita sendiri.

Moga kita dapati kasih sayang Allah dengan mengoptimalkan ibadah shaum Ramadhan dan banyak bergaul dengan golongan yang mencintai Allah agar kita mendapatkan pula kecintaan dari Allah Azza wa Jalla

Padang, Ramadhan 1434 H/Juli 2013 M

TIGA PILAR DIEN al HAQ

Surau Singgalang

Oleh Masoed Abidin

 

« Sesungguhnya agama disisi Allah Hanyalah Islam » (Q.S. Ali Imran: 19). Inilah sebuah pernyataan dari Allah Azza wa Jalla tentang agama yang amat diperlukan oleh manusia dalam kehidupan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu , maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al-Baqarah: 132).

Didalam ayat lainnya disebutkan, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imran: 85).

Dengan agama Islam dibentang konsep tentang kehidupan dan kemana arah tujuannya serta bimbingan tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sekitarnya melalui tiga pilar saling berkaitan yakni Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq.

Umar bin Khaththab r.a berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW. Tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki berpakaian putih bersih dan rambut hitam pekat. Tidak tampak dalam dirinya tanda-tanda sehabis perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Maka duduklah orang itu disisi Rasulullah. Lalu ia sandarkan lututnya kepada lutut beliau. Meletakkan tangannya di atas paha beliau, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!” Rasulullah SAW menjawab, “Islam itu adalah, hendaknya engkau bersyahadat, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; hendaklah engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika engkau mampu.” Orang itu berkata, “Engkau benar!”. Kami heran, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya.

 Orang itu berkata, “Terangkan kepadaku tentang iman!”. Rasulullah SAW menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari akhirat serta hendaklah engkau beriman pada takdir yang baik atau buruk!” Orang itu berkata, “Engkau benar!” seraya berkata, “Terangkan kepadaku tentang ihsan!”. Rasulullah SAW bersabda, “hendaklah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.” Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” Selanjutnya ia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “jika seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, jika engkau melihat orang miskin dan papa, berpakaian compang camping dan bergembala kambing, namun berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” Kemudian, orang yang bertanya itu berlalu. Aku terdiam. Kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda, “orang itu adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R. Muslim).

Hadits shahih Rasulullah ini memuat seluruh bab tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Islam dimulai dengan ikrar Syahadatain yakni penyerahan total jiwa, akal, perasaan dan keinginan atau aziimah dengan meyakini “bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya”.

Gambar

Syahadat ini menjadi pengendali kehidupan dalam perkara halal haram dan berinteraksi sosial antara muslimin dengan non muslimin, antara seorang dengan sahabat dan tetangganya. Sesungguhnya tidak satupun selain Allah yang mengatur perjalanan hidup kita.

Allah A’lam As-Shawwab.***

HAKIKAT MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

Surau Singgalang

Oleh Masoed Abidin

 

Firman Allah menyebutkan. “ Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ; Barangsiapa yang tiada bersyukur (kufur) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji . ” (Q.S. Luqman: 12).

Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan nikmat yang tiada terhitung dalam penciptaan manusia dan semua keperluan hidup. Diawali dengan rasa kasih sayang dalam hati kedua orang tua. Melengkapi manusia dengan panca indra, pikiran yang membedakan manusia dari makhluk lain. Dicukupkan nikmat itu dengan petunjuk ke arah kebenaran dengan agama yang benar.

Nikmat berlimpah yang tidak terhitung walaupun seluruh pohon yang ada dibumi dijadikan pena dan air laut dijadikan tinta tidak akan mampu mencatatnya. Namun manusia masih kurang mensyukuri bahkan mengingkari penciptanya tersebab kecongkakan semata. Gambar

Sesungguhnya nikmat dan karunia Allah SWT tidak akan terasa berlimpah ruah kecuali adanya rasa syukur.

Mensyukuri nikmat akan menambah nikmat yang lebih banyak dengan memelihara nikmat yang telah ada. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7).

Kemampuan mensyukuri nikmat Allah terlihat nyata didalam amal ibadah, amal sosial dan budi pekerti. Peribadi yang mampu berlaku sabar dan tabah disaat krisis mestinya diiringi dengan mensyukuri nikmat pada saat menemui kebahagiaan. Allah SWT telah melebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain dengan rahasia dan nikmat tersembunyi, yang tidak mungkin diketahui seseorangpun sebelumnya kecuali hanya Dzat-Nya semata.

Amat banyak manfaat dan maslahat bagi hamba-hamba itu yang tidak disingkapkan rahasianya kepada mereka. Semestinya setiap hamba bersikap ridha terhadap ketentuan Allah SWT atasnya dengan qana’ah dan selalu mensyukuri segala nikmat karunia kepadanya.

Diantara tanda syukur adalah memandang besar sesuatu nikmat serta memandang agung Allah SWT yang memberi nikmat yang tak terhitung banyaknya. Setiap hamba tidak akan mampu menghitung nikmat yang telah diterimanya setiap hari. Syukur adalah mensucikan Allah SWT. Meng-Esa-kan-Nya dalam beribadah dan memujinya. Allah SWT mengaitkan antara syukur dengan zikir sesuai firman-Nya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al Baqarah: 152).

Mensyukuri nikmat Allah SWT dilakukan dengan hati menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT yang wujud melalui ibadah kepada-Nya serta mengimani sifat-sifat kesempurnaan Allah SWT. Bersyukur dengan ucapan lisan dengan memuji keagungan-Nya. Bebicara yang baik serta mencegah ucapan tidak bermanfaat. Bersyukur dengan anggota badan adalah menggunakan anggota badan untuk melakukan perbuatan baik sesuai perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.

Walaupun manusia mengingkari nikmat Allah SWT niscaya tidak akan mengurangi kemahakayaan kemahamuliaan Allah Azza Wa Jalla. Selanjutnya manakala manusia mau bersyukur dan beribadah dengan keikhlasan kepada Allah SWT maka keuntungan akan dirasakan oleh manusia itu sendiri. Bila manusia menolak atau kufur kepada Allah maka peruatan itu akan kembali kepada diri manusia itu sendiri.

Pesan Rasulullah SAW, “Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: Pergunakan sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu. Pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Pergunakanlah masa kayamu sebelum datang masa faqirmu. Pergunakanlah kesempatan masa hidupmu sebelum datang saat kematiamu.” (HR. Baihaqi). ***

Santuni Anak Yatim

Surau Singgalang

Oleh : H. Masoed Abidin

 

Firman Allah, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah Mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau  Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al Baqarah : 220).

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya dan ia belum mencapai umur baligh.

Dalam Islam, anak yatim mempunyai kedudukan tersendiri dibanding anak-anak lainnya. Mereka mendapatkan perhatian khusus agar tidak terlantar dan tidak berada di bawah asuhan yang tidak bertanggung jawab. Maka orang-orang yang menyantuni anak yatim serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa yang tak terampuni, Insya Allah ia akan terhindar dari azab Allah SWT.

Rasulullah bersabda, “Demi Yang Mengutus aku dengan haq, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, yang berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya..” (HR. Ath Thabrani).

Dalam hadist lainnya disebutkan, “Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh)dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk”. (HR. Ibnu Maajah).

Seorang wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya, dan mewariskan anak-anak yang masih kecil (belum baligh), kemudian wanita itu sabar dalam membesarkankan anaknya dengan penuh ketabahan, mendidiknya dengan ajaran agama, maka ia kelak akan duduk bersanding disisi Rasulullah saw seperti bersandingnya jari telunjuk dengan jari tengah. Rasulullah bersabda, “Aku dan seorang wanita yang pipinya kempot dan wajahnya pucat bersama-sama pada hari kiamat seperti ini (Rasulullah menunjuk jari telunjuk dan jari tengah). Wanita itu ditinggal wafat suaminya dan tidak mau kawin lagi. (Padahal) dia seorang yang berkedudukan terhormat dan cantik, namun mengonsentrasikan diri mengasuh anaknya yang yatim hingga mereka dewasa atau mereka wafat.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Para pengasuh anak-anak yatim bolehlah menggunakan sebagian harta anak yatim tersebut secara ma’ruf. Allah SWT berfirman, “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (diantara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). Dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut (bil ma’ruf). Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).” (Q.S. An Nisa’ : 6).

Pandangan Al Qur’an menyerukan agar berbuat baik kepada anak yatim sebagai bukti iman yang benar. Menyantuni anak yatim adalah kewajiban sosial setiap orang Islam. Problem sosial akan timbul karena tidak memuliakan anak yatim, tidak memberi memberi makan orang miskin, merampas kekayaan alam dengan rakus, dan menyintai harta benda secara berlebihan.

Rasulullah saw bersabda,  “Apakah engkau senang bila hatimu menjadi lunak dan hajatmu terpenuhi? Santunilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu lunak dan engkau pun dapat memenuhi hajatmu” (HR. Thabrani melalui Abu Darda).

Wallahua’lamu bis-shawaab.