Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

 
Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

 

Sikap skeptis dan dingin

Tatkala orang orang partai dan masyarakat sibuk berpolitik, berorganisasi, dan berlambang maka kalimat ajakan “Makmurkan Masjid kembali, Tegakkan Jamaah dari sana”, sering disambut dengan sikap skeptis dan dingin.  Sipongang seruan itu kurang menarik. Masalahnya dirasakan kurang aktuil. Program ini dianggap tidak vital bila di banding dengan nafas “demam perjuangan politik” atau “spirit reformasi”. Sikap ini sebenarnya lahir karena sudah lama terkurung tanpa sadar dalam kerangka cara berpikir konvensional dan statis.

Dalam era perubahan di sepanjang kurun ini dengan tetap memelihara nafas pembaruan (ishlah) warga kampus mestinya selalu siap menjadi generasi pelopor yang selalu merujuk kepada Misi Rasulullah SAW, dengan memantapkan perannya sebagai generasi Rabbani.

Generasi Penyumbang

Masa depan sangat di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Pembentukan generasi penyumbang pemikiran (aqliyah), ataupun penyumbang pembaharuan (inovator), tidak boleh di abaikan. Generasi inovator sangat di perlukan pada era reformasi  supaya tidak terlahir generasi pengguna (konsumptif) yang akan merupakan benalu bagi bangsa dan negara. Lihat QS.28:83. Generasi mendatang mesti siap memerankan pemeliharaan destiny sendiri, menanamkan kebebasan terarah dengan tanggung jawab bersama, meningkatkan daya saing, bersikap produktif, agar membuahkan kreativitas beragam yang dinikmati bersama.

Satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap harmonis dengan menghindari tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting. Research dan pengembangan serta kualita diri generasi akan membentuk kondisi.

Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya). Disini kita dapat merasakan spirit reformasi. Kelemahan mendasar ditemui pada melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri dan  kurangnya penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya), lemahnya minat menuntut ilmu, akhirnya menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.[1]

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya didalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi, dengan menanamkan kearifan dan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Konsekwensinya, generasi kini memikul beban berkewajiban memelihara dan menjaga untuk di wariskan kepada gereasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna.

Generasi yang lahir dari satu rumpun bangsa mestilah tumbuh menjadi kekuatan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa dengan tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan. Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.

X Generation.

Kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) ditengah berkembangnya iptek. Generasi yang tercerabut dari akar budayanya (X Generation). Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.

Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya menghambat kesiapan menatap masa depan. Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional  dan non-science.

Problematika ini hanya akan teratasi dengan memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan agama yang campur aduk, agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis. Upaya intensif ini berkemampuan untuk menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya. Tugas ini perlu di emban secara terpadu.

Tantangan Millenium baru Kearifan Menangkap Perubahan Zaman

Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh satu, kenya­taannya terjadilonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.[2] Di era globalisasi terjadi perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.[3]

          Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.[4] Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. Globalisasi juga menjanjikan harapan‑harapan dan kemajuan. Setiap Muslim mesti ‘arif dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini.

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[5] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, adalah titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim. Aqidah dengan keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing oleh kebimbangan, membentuk manusia berwatak patuh dengan ketaatan, sebagai bukti penyerahan total kepada Allah. Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[6]

          Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah (Yang Maha Menjadikan), dan tidak pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen, serta berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kedzaliman (syirik).[7] Konsistensi ke-istiqamah-an tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan, membentuk manusia ‘abid dengan kepatuhan dan ketaatan total kepada dengan mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[8]

          Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki iman (aqidah) secara benar. Hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim.   Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).        

Melalui paradigma tauhid mudah memposisikan ibadah dengan spirit penghambaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan kekinian (duniawi) dan kehidupan ukhrawi, tidak semata pengertian sempit sebatas ibadah salat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksana- kan perintah-perintah Allah tanpa reserve. 

Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, biarpun melawan kesenangan selera nafsu permisif. Penegakan konsistensi terhadap suruhan dan larangan terwujud dengan sikap ketaatan penuh dengan disiplin diri (istiqamah) karena dorongan mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid. Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring. Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Secara aktual paradigma Laa ilaah illa Allah menetapkan manusia pada hakikat sebagai pejuang pelaksana menjadi penggerak gagasan dalam kehidupan yang tidak pernah berjalan sendiri. Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Dipastikan hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis yang menyerahkan diri kepada nasib, atau bersikap apatis dan pesimis. Keyakinan tauhid hakikinya berkekuatan besar berupa energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.

   

Pusat pembinaan umat

“Masjid sebagai pusat pembinaan potensi umat” adalah warisan tak ternilai yang diterima umat Islam dari Rasulullah SAW. [9] Masjid bukan semata-mata tempat shalat.[10] Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah.

Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu “mu’amalah dengan Khaliq (hablum min Allah)”, yang lainnya “mu’amalah dengan makhluk (hablum min an-naas)”. Ini kaji, yang sudah terang perintah wajibnya. Masyarakat Islam memikul kewajiban membina masyarakat (jamaah) karena beban langsung dari agamanya.    

Masjid warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat tempat membina jamaah, menambah pengertian dan wawasan, mempertinggi kecerdasan, menanamkan akhlaq, memelihara budi pekerti, mendinamika jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota masyarakat (jamaahnya), guna menghadapi masalah pokok dalam persoalan hidup.

          Masjid dan Langgar (surau) yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat (mendinamisirnya) untuk mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik.[11] Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan umat, akan meng- hidupkan jiwa jamaahnya supaya terpelihara “Izzah”, kepribadian umat yang sedang berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai corak,, ibarat ikan ditengah air laut yang hidup, tetap dapat memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin.

Jamaah umat Islam dapat saling berlomba dengan masyarakat lainnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan secara bersama-sama guna menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah fungsi Masjid secara hakiki.

Kewajiban Umat “Membina Jamaah melalui Masjid” ini tidak boleh dilalaikan (di kucawaikan) dalam keadaan bagaimanapun. Hidupkan Masjid kembali. Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang memancarkan cahaya hidup kepada umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi.

Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan.[12] Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal kekayaan tak ternilai jumlahnya yang dapat dijadikan sumber kekuatannya ini.

Kepada Umat Muhammad SAW, di amanatkan, Masjid yang hidup berfungsi untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain hanya kepada Allah.. Apakah kita sudah lupa bahwa, hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah :

“ orang-orang yang beriman kepada Allah,

“ dan kepada hari kemudian,

“ serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat,

“ dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah,

          “ maka mudah-mudahan, mereka termasuk orang yang terpimpin” (QS..9,at-Taubah:18).

          Ini tuntutan yang mesti di terima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak dapat disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini. Kembali ke Masjid.

Padang, Maret 2012.


[1]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif).

[2]   Ditandai dengan lajunya teknologi komuni­kasi dan informasi (information technology). Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus globalisasi, dan “perdagangan bebas, yang memacu dunia ini dalam satu arena per­saingan yang tinggi dan tajam

[3]  Dari kehidupan sosial berasaskan kebersa­maan, kepada masyarakat yang individualis, dari lamban kepada serba cepat. Asas‑asas nilai sosial menjadi konsumeris materi­alis. Dari tata kehidupan yang tergantung dari alam kepada kehi­dupan menguasai alam. Dari kepemimpinan yang formal kepada kepe­mimpinan yang mengandalkan kecakapan (profesional). Aspek paling mendasar dari globalisasi menyangkut secara langsung kepentingan sosial masing‑masing negara. Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali “Social Darwinism”, dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).     Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke‑7, yang nota bene berada di alaf pertama: “Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha’ifun minna,”  artinya: “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.”      Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari’at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Wel­tanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past) Allah berfirman: “Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.” (Q.S. 2: 141)

[4]  The act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.

[5]    Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[6]   Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[7]   Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[8]   Lihat QS.14:24-25.

[9]  Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusunan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh cobaan dan derita.

[10] Kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Ju’ilat liiyal ardhi kulluhu masjidan” (al Hadist).

[11] Para ahli (expert) yang mencintai umat, dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan masalah penghidupan masyarakat dan pelatihan-pelatihan. Persoalan penghidupan masyarakat kebanyakan, sebenarnya masalah sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman, pupuk, mempertinggi hasil bumi, tambak dan tebat ikan, kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan belum berganti, masalah sapi yang belum berobat, atap tiris yang belum disisip, anak yang belum sekolah. Hal yang elementer yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan teori ekonomi yang hebat-hebat menurut sistim cyberspace, sistem hightec, sistem jet yang naik turun tanpa landasan.

[12] “Coba hitung beberapa puluh ribu jumlah gedung-gedung,(kebudayaan, markas-markas organisasi, stadion-stadion dengan lapangannya), dinegeri ini. Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertebar-tabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marmer berukir-ukir, didalamnya hanya tersimpan mayat tak bernyawa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s