BERDEMOKRASI DENGAN AKHLAK MULIA

Berdemokrasi dengan akhlak mulia

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

Pejuang-pejuang demokrasi yang beriman memahami betul bahwa demokrasi di negeri ini tidak akan pernah ujud bila tidak disertai dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama, dan atau menghargai ajaran Agama yang berarti melahirkan rasa tanggung jawab dengan berakhlaq mulia. Apabila akhlaq agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik. Demokrasi tanpa akhlaq memberi kesempatan terbukanya pintu anarkis dan pemaksaan kehendak, dan ujung-ujungnya melahirkan tindakan-tindakan anarkis, dan bencana akan dituai sesudahnya. Idaman masyarakat banyak untuk merasakan ketenteraman dan kesejahteraan hanyalah menjadi mimpi belaka. Ketika umat terbangun dari lelapnya, yang tersua hanyalah derita dan nestapa, karena dua kelompok pengayom yang menduduki posisi penguasa dan pengusaha berubah menjadi penindas dan penghisap, dan para cerdik cendekia yang alim telah menjadi penghasut.

 

Dalam satu sabda Rasulullah SAW ditemui sebuah peringatan antara lain : “Ada dua kelompok dari umat-ku, kalau keduanya baik Umat seluruhnya menjadi baik, dan kalau ke duanya jahat  umat seluruhnya jadi binasa. Mereka ialah Ulama dan ‘Umara”. Dari hadist lain Rasulullah bersabda pula “Apabila Umara dan penguasa-penguasa kamu terdiri dari orang-orang baik, dan hartawan (ekonom-ekonom) kamu terdiri dari orang-orang pemurah, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu pecahkan secara musyawarah atau demokratis, maka hidup di muka bumi tanah airmu sungguh indah dari pada mati berkalang tanah”.

 

Ketika substansi musyawarah telah hilang, maka rakyat jelata akan terpaksa memikul beban berat di pundaknya, dan rakyat kecil di bawah akan dijadikan tunggangan untuk meraih kedudukan semata. Kondisi buruk ini akan dialami dalam dasawarsa panjang, di bawah pengekangan-pengekangan dan kepentingan-kepentingan. Maka ujungnya keluhan akan banyak. Lebih berbahaya kalau semua sudah diam dan berpangku tangan dan partisipasi sebagai modal kebersamaan lenyap. Berbahaya.

 

Konsep demokrasi sebenarnya adalah musyawarah menetapkan satu pilihan, demi kemashlahatan umat banyak, dan terciptanya kesejahteraan orang banyak. Perjuangan demokrasi yang adil bertujuan agar kemiskinan tidak lagi menjadi pakaian banyak orang, karena senyatanya masyarakat yang larat melarat akan sangat mudah untuk di tunggangi. Maka, amatlah ditekankan, terutama oleh Sunnah Rasulullah dan ajaran agama, agar selalu berhati-hati dan mawas diri, agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Umat Islam diingatkan misi penampilannya di tengah pergaulan hidup Internasional, bahwa  “Tuhan telah menampilkan umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia sesame manusia kepada menyembah Allah semata, dan mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia jahilinyah kepada keluasaan ilmu pengetahuan, dan berpindah dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam”. Untuk itu, upaya mengujudkannya dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlaq agama, dan memelihara keteguhan dalam kehidupan beradat yang luhur.

 

Kehati-hatian dalam memilih pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik, karena,“… apabila Umara’ kamu terambil dari mereka yang jahat, hartawan kamu menjadi manusia bakhil penyembah harta, dan segala persoalan kemasyarakatan tidak lagi dimusyawarahkan, dan kehidupan terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Begitulah Sabda Rasulullah SAW mengingatkan umat semua, agar selalu menjaga musyawarah dan menghindari perebutan karena hawa nafsu.

 

Padang, Maret 2012

Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

Peran dan Pengaruh Aktivitas Masjid Kampus terhadap Gerakan Dakwah Islam

 
Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

 

Sikap skeptis dan dingin

Tatkala orang orang partai dan masyarakat sibuk berpolitik, berorganisasi, dan berlambang maka kalimat ajakan “Makmurkan Masjid kembali, Tegakkan Jamaah dari sana”, sering disambut dengan sikap skeptis dan dingin.  Sipongang seruan itu kurang menarik. Masalahnya dirasakan kurang aktuil. Program ini dianggap tidak vital bila di banding dengan nafas “demam perjuangan politik” atau “spirit reformasi”. Sikap ini sebenarnya lahir karena sudah lama terkurung tanpa sadar dalam kerangka cara berpikir konvensional dan statis.

Dalam era perubahan di sepanjang kurun ini dengan tetap memelihara nafas pembaruan (ishlah) warga kampus mestinya selalu siap menjadi generasi pelopor yang selalu merujuk kepada Misi Rasulullah SAW, dengan memantapkan perannya sebagai generasi Rabbani.

Generasi Penyumbang

Masa depan sangat di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Pembentukan generasi penyumbang pemikiran (aqliyah), ataupun penyumbang pembaharuan (inovator), tidak boleh di abaikan. Generasi inovator sangat di perlukan pada era reformasi  supaya tidak terlahir generasi pengguna (konsumptif) yang akan merupakan benalu bagi bangsa dan negara. Lihat QS.28:83. Generasi mendatang mesti siap memerankan pemeliharaan destiny sendiri, menanamkan kebebasan terarah dengan tanggung jawab bersama, meningkatkan daya saing, bersikap produktif, agar membuahkan kreativitas beragam yang dinikmati bersama.

Satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap harmonis dengan menghindari tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting. Research dan pengembangan serta kualita diri generasi akan membentuk kondisi.

Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya). Disini kita dapat merasakan spirit reformasi. Kelemahan mendasar ditemui pada melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri dan  kurangnya penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya), lemahnya minat menuntut ilmu, akhirnya menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.[1]

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya didalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi, dengan menanamkan kearifan dan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Konsekwensinya, generasi kini memikul beban berkewajiban memelihara dan menjaga untuk di wariskan kepada gereasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna.

Generasi yang lahir dari satu rumpun bangsa mestilah tumbuh menjadi kekuatan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa dengan tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan. Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.

X Generation.

Kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) ditengah berkembangnya iptek. Generasi yang tercerabut dari akar budayanya (X Generation). Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.

Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya menghambat kesiapan menatap masa depan. Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional  dan non-science.

Problematika ini hanya akan teratasi dengan memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan agama yang campur aduk, agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis. Upaya intensif ini berkemampuan untuk menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya. Tugas ini perlu di emban secara terpadu.

Tantangan Millenium baru Kearifan Menangkap Perubahan Zaman

Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh satu, kenya­taannya terjadilonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.[2] Di era globalisasi terjadi perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.[3]

          Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.[4] Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. Globalisasi juga menjanjikan harapan‑harapan dan kemajuan. Setiap Muslim mesti ‘arif dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini.

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[5] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, adalah titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim. Aqidah dengan keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing oleh kebimbangan, membentuk manusia berwatak patuh dengan ketaatan, sebagai bukti penyerahan total kepada Allah. Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[6]

          Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah (Yang Maha Menjadikan), dan tidak pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen, serta berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kedzaliman (syirik).[7] Konsistensi ke-istiqamah-an tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan, membentuk manusia ‘abid dengan kepatuhan dan ketaatan total kepada dengan mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[8]

          Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki iman (aqidah) secara benar. Hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim.   Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).        

Melalui paradigma tauhid mudah memposisikan ibadah dengan spirit penghambaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan kekinian (duniawi) dan kehidupan ukhrawi, tidak semata pengertian sempit sebatas ibadah salat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksana- kan perintah-perintah Allah tanpa reserve. 

Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, biarpun melawan kesenangan selera nafsu permisif. Penegakan konsistensi terhadap suruhan dan larangan terwujud dengan sikap ketaatan penuh dengan disiplin diri (istiqamah) karena dorongan mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid. Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring. Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Secara aktual paradigma Laa ilaah illa Allah menetapkan manusia pada hakikat sebagai pejuang pelaksana menjadi penggerak gagasan dalam kehidupan yang tidak pernah berjalan sendiri. Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Dipastikan hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis yang menyerahkan diri kepada nasib, atau bersikap apatis dan pesimis. Keyakinan tauhid hakikinya berkekuatan besar berupa energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.

   

Pusat pembinaan umat

“Masjid sebagai pusat pembinaan potensi umat” adalah warisan tak ternilai yang diterima umat Islam dari Rasulullah SAW. [9] Masjid bukan semata-mata tempat shalat.[10] Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah.

Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu “mu’amalah dengan Khaliq (hablum min Allah)”, yang lainnya “mu’amalah dengan makhluk (hablum min an-naas)”. Ini kaji, yang sudah terang perintah wajibnya. Masyarakat Islam memikul kewajiban membina masyarakat (jamaah) karena beban langsung dari agamanya.    

Masjid warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat tempat membina jamaah, menambah pengertian dan wawasan, mempertinggi kecerdasan, menanamkan akhlaq, memelihara budi pekerti, mendinamika jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota masyarakat (jamaahnya), guna menghadapi masalah pokok dalam persoalan hidup.

          Masjid dan Langgar (surau) yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat (mendinamisirnya) untuk mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik.[11] Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan umat, akan meng- hidupkan jiwa jamaahnya supaya terpelihara “Izzah”, kepribadian umat yang sedang berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai corak,, ibarat ikan ditengah air laut yang hidup, tetap dapat memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin.

Jamaah umat Islam dapat saling berlomba dengan masyarakat lainnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan secara bersama-sama guna menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah fungsi Masjid secara hakiki.

Kewajiban Umat “Membina Jamaah melalui Masjid” ini tidak boleh dilalaikan (di kucawaikan) dalam keadaan bagaimanapun. Hidupkan Masjid kembali. Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang memancarkan cahaya hidup kepada umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi.

Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan.[12] Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal kekayaan tak ternilai jumlahnya yang dapat dijadikan sumber kekuatannya ini.

Kepada Umat Muhammad SAW, di amanatkan, Masjid yang hidup berfungsi untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain hanya kepada Allah.. Apakah kita sudah lupa bahwa, hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah :

“ orang-orang yang beriman kepada Allah,

“ dan kepada hari kemudian,

“ serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat,

“ dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah,

          “ maka mudah-mudahan, mereka termasuk orang yang terpimpin” (QS..9,at-Taubah:18).

          Ini tuntutan yang mesti di terima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak dapat disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini. Kembali ke Masjid.

Padang, Maret 2012.


[1]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif).

[2]   Ditandai dengan lajunya teknologi komuni­kasi dan informasi (information technology). Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus globalisasi, dan “perdagangan bebas, yang memacu dunia ini dalam satu arena per­saingan yang tinggi dan tajam

[3]  Dari kehidupan sosial berasaskan kebersa­maan, kepada masyarakat yang individualis, dari lamban kepada serba cepat. Asas‑asas nilai sosial menjadi konsumeris materi­alis. Dari tata kehidupan yang tergantung dari alam kepada kehi­dupan menguasai alam. Dari kepemimpinan yang formal kepada kepe­mimpinan yang mengandalkan kecakapan (profesional). Aspek paling mendasar dari globalisasi menyangkut secara langsung kepentingan sosial masing‑masing negara. Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali “Social Darwinism”, dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).     Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke‑7, yang nota bene berada di alaf pertama: “Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha’ifun minna,”  artinya: “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.”      Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari’at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Wel­tanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past) Allah berfirman: “Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.” (Q.S. 2: 141)

[4]  The act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.

[5]    Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[6]   Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[7]   Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[8]   Lihat QS.14:24-25.

[9]  Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusunan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh cobaan dan derita.

[10] Kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Ju’ilat liiyal ardhi kulluhu masjidan” (al Hadist).

[11] Para ahli (expert) yang mencintai umat, dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan masalah penghidupan masyarakat dan pelatihan-pelatihan. Persoalan penghidupan masyarakat kebanyakan, sebenarnya masalah sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman, pupuk, mempertinggi hasil bumi, tambak dan tebat ikan, kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan belum berganti, masalah sapi yang belum berobat, atap tiris yang belum disisip, anak yang belum sekolah. Hal yang elementer yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan teori ekonomi yang hebat-hebat menurut sistim cyberspace, sistem hightec, sistem jet yang naik turun tanpa landasan.

[12] “Coba hitung beberapa puluh ribu jumlah gedung-gedung,(kebudayaan, markas-markas organisasi, stadion-stadion dengan lapangannya), dinegeri ini. Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertebar-tabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marmer berukir-ukir, didalamnya hanya tersimpan mayat tak bernyawa.

Bimbingan Rasulullah untuk kehidupan

BIMBINGAN ALLAH DAN NASEHAT RASULULLAH UNTUK KEHIDUPAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

“ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya ember akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”. (QS. An-Nahl (16) : 30)

“ …. (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa “. (QS. An-Nahl (16) : 31)

Orang yang bertaqwa adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Menjalankan perintah Allah seperti kewajiban Sholat dan lainnya.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

 “Janganlah kamu menjadi orang plinplan, bila manusia baik, maka kamu ikut baik, dan bila mereka berbuat buruk, kamu pun ikut berbuat buruk. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti perbuatan kejahatan mereka.’’

(HR at-Turmudzi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah sekali-kali berduaan dengan wanita yang tidak disertai mahram, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaithan”. (HR. Ahmad)

 

Allah berfirman ;

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ [17]: 32)

 

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda ;

“Hendaklah kamu berkata jujur, karena sifat jujur akan membawa kepada kebaikan, sesungguhnya kebaikan itu akan membimbing masuk surga, seseorang yang selalu berkata benar, dan bersungguh-sungguh untuk selalu benar, sampai ia dituliskan di sisi Allah sebagai shiddiq (hamba yang sangat benar).” (HR. Muslim).

“Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya (yaitu cari perhatian agar terkenal atau agar dikenal), maka Allah akan memasukkannya ke dalam jahannam.”
(HR. Ibnu majah : 256)

اَللَّهُمَّ لأَمَتِكَ الصَّالِحَةِ السَّيِّدَةِ رَحْمَةٍ وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِنْ رِياَضِ الْجَنَّةِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيرَانِ، وَاجْمَعْنَا وَإِيَّاهَا وَالْمُسْلِمِينَ تَحْتَ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّكَ، وَأَدْخِلْنَا الْجَّنَّةَ مَعَ الأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُاغْفِرْ

 Ya Allah, ampuni dosa Ibu Rahmah, berilah beliau curahan ramat-Mu, berilah keafiatan dan kemaafan. Muliakan tempatnya, luaskan jalannya, jadikan kuburnya satu taman syurga. Jangan jadikan kuburnya jurang neraka. Himpunkan kami kelak bersama beliau dan bersama kaum Muslimin di bawah naungan-Mu, pada hari tiada tempat berteduh selain hanya naungan-Mu. Masukkan kami semua ke dalam syurga-Mu bersama golongan solihin, wahai Tuhan Maha Gagah lagi Maha Pengampun.

Cinta yang agung

Allah Azza wa Jalla berfirman ;
“ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”. (QS. al-Hujurat (49) : 13)

Imam Hasan Basri berkata:

مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ أَحَبَّهُ، وَمَنْ أَحَبَّ غَيْرَ اللهِ تَعَالَى، لاَ مِنْ حَيْثُ نِسْبَتُهُ إِلَى اللهِ ، فَذَلِكَ لِجَهْلِهِ وَقُصُورِهِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ

‘Sesiapa mengenal Allah ia akan mencintai-Nya. Sesiapa yang mencintai selain Allah, bukan karena ada hubungkaitnya dengan cinta Ilahi hal ini adalah karena kejahilan dan kedangkalan makrifahnya terhadap Allah’. (Mukhtasar Minhajul Qasidin, ms 322). Orang Melayu mengatakan ‘Tak kenal maka tak sayang’.

Firman Allah SWT,

‘Hanya yang akan meimarahkan masjid-masjid (rumah Allah) adalah orang yang beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, mereka menegakkan solat, menunaikan zakat, dan mereka hanya takut kepada Allah sahaja.’

Dengan kata lain, bahwa yang rajin dan tekun mendatangi rumah-rumah Allah bagi tujuan solat berjamaah, majlis ilmu, tilawah Quran, dan seumpanya adalah individu muslim yang beriman kepada Allah, kepada hari pembalasan dan seterusnya, si mukmin tidak akan merasakan keselesaan jika kehidupannya renggang dari rumah Allah. Inilah kurnia, hidayah, dan penghargaan yang mahal tersemat dalam hati si mukmin yang telah dinikmati oleh pencinta rumah Allah, mukmin dan mukminah.

Sabda Rasulullah SAW,

لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ     

)رواه الشيخان(

Ertinya ; ‘Kamu jangan melarang wanita mukminah pergi ke masjid-masjid (rumah Allah).

Berikut ini bahagian Hadis berkenaan, yang terdiri dari dialog antara Allah yang pernah menanya Rasul-Nya:

يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ الأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: فِي الدَّرَجَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ، أَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ وَنَقْلُ الأَقْدَامِ إِلَى الْجماعَاتِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلاَمِ، وَالصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ، وَكَانَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّه

‘Wahai Muhammad, tahukah kamu perkara yang menggemparkan para malaikat di langit? Jawab Rasulullah, ‘Ya, mengenai kaffarat (beberapa amalan yang menghapuskan dosa dengan canggih dan effektif); dan darrojat (berapa amalan yang mengangkatkan darjat hamba mukmin). ‘Kaffarat’ ialah duduk (iktikaf) di masjid setelah solat (menunggu solat berikutnya), pergi (berjalan) menunaikan solat berjamaah, berwuduk dengan sempurna di saat terasa agak malas berwuduk’. Allah berfirman ‘Betul jawabanmu wahai Muhammad’. ‘Sesiapa melakukan perkara tersebut, ia hidup dalam kebaikan dan mati dalam kebaikan, dan ia bersih dari dosanya seperti ia baru dilahirkan ibunya.’ (HR Tizmizi).

Oleh yang demikian dalam lanjutan Hadis riwayat Imam Tirmizi di atas, baginda Rasulullah SAW mengajar umat berdoa dengan doa cinta,

أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ       وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّك

Aku memohon kepada-Mu agar daku mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal ibadat dan perbuatan yang menghampirkanku kepada kecintaan terhadap-Mu”.(HR Imam Tirmizi).

وَالْمَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

)رواه مسلم والأئمة(

Artinya ; ‘Para malaikat mendoakan seseorang di kalangan kamu selagi ia masih berada di tempat solatnya (di masjid), mereka mendoakan ‘Ya Allah, ampunilah ia, berilah ia curahan rahmat, dan terimalah taubatnya. Yakni selagi ia tidak menyakiti seseorang, dan wuduknya belum batal’ (HR Muslim, dll).

 

 

 

Nasehat Rasulullah untuk kehidupan

BIMBINGAN ALLAH DAN NASEHAT RASULULLAH UNTUK KEHIDUPAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

“ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya ember akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”. (QS. An-Nahl (16) : 30)

“ …. (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa “. (QS. An-Nahl (16) : 31)

Orang yang bertaqwa adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Menjalankan perintah Allah seperti kewajiban Sholat dan lainnya.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

 “Janganlah kamu menjadi orang plinplan, bila manusia baik, maka kamu ikut baik, dan bila mereka berbuat buruk, kamu pun ikut berbuat buruk. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti perbuatan kejahatan mereka.’’

(HR at-Turmudzi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah sekali-kali berduaan dengan wanita yang tidak disertai mahram, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaithan”. (HR. Ahmad)

Allah berfirman ;

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ [17]: 32)

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda ;

“Hendaklah kamu berkata jujur, karena sifat jujur akan membawa kepada kebaikan, sesungguhnya kebaikan itu akan membimbing masuk surga, seseorang yang selalu berkata benar, dan bersungguh-sungguh untuk selalu benar, sampai ia dituliskan di sisi Allah sebagai shiddiq (hamba yang sangat benar).” (HR. Muslim).

“Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya (yaitu cari perhatian agar terkenal atau agar dikenal), maka Allah akan memasukkannya ke dalam jahannam.”
(HR. Ibnu majah : 256)

اَللَّهُمَّ لأَمَتِكَ الصَّالِحَةِ السَّيِّدَةِ رَحْمَةٍ وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَاجْعَلْ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِنْ رِياَضِ الْجَنَّةِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيرَانِ، وَاجْمَعْنَا وَإِيَّاهَا وَالْمُسْلِمِينَ تَحْتَ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّكَ، وَأَدْخِلْنَا الْجَّنَّةَ مَعَ الأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُاغْفِرْ

 Ya Allah, ampuni dosa Ibu Rahmah, berilah beliau curahan ramat-Mu, berilah keafiatan dan kemaafan. Muliakan tempatnya, luaskan jalannya, jadikan kuburnya satu taman syurga. Jangan jadikan kuburnya jurang neraka. Himpunkan kami kelak bersama beliau dan bersama kaum Muslimin di bawah naungan-Mu, pada hari tiada tempat berteduh selain hanya naungan-Mu. Masukkan kami semua ke dalam syurga-Mu bersama golongan solihin, wahai Tuhan Maha Gagah lagi Maha Pengampun.

Cinta yang agung

Allah Azza wa Jalla berfirman ;
“ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”. (QS. al-Hujurat (49) : 13)

Imam Hasan Basri berkata:

مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ أَحَبَّهُ، وَمَنْ أَحَبَّ غَيْرَ اللهِ تَعَالَى، لاَ مِنْ حَيْثُ نِسْبَتُهُ إِلَى اللهِ ، فَذَلِكَ لِجَهْلِهِ وَقُصُورِهِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ

‘Sesiapa mengenal Allah ia akan mencintai-Nya. Sesiapa yang mencintai selain Allah, bukan karena ada hubungkaitnya dengan cinta Ilahi hal ini adalah karena kejahilan dan kedangkalan makrifahnya terhadap Allah’. (Mukhtasar Minhajul Qasidin, ms 322). Orang Melayu mengatakan ‘Tak kenal maka tak sayang’.

Firman Allah SWT,

‘Hanya yang akan meimarahkan masjid-masjid (rumah Allah) adalah orang yang beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, mereka menegakkan solat, menunaikan zakat, dan mereka hanya takut kepada Allah sahaja.’

Dengan kata lain, bahwa yang rajin dan tekun mendatangi rumah-rumah Allah bagi tujuan solat berjamaah, majlis ilmu, tilawah Quran, dan seumpanya adalah individu muslim yang beriman kepada Allah, kepada hari pembalasan dan seterusnya, si mukmin tidak akan merasakan keselesaan jika kehidupannya renggang dari rumah Allah. Inilah kurnia, hidayah, dan penghargaan yang mahal tersemat dalam hati si mukmin yang telah dinikmati oleh pencinta rumah Allah, mukmin dan mukminah.

Sabda Rasulullah SAW,

لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ                    رواه الشيخان

Ertinya ; ‘Kamu jangan melarang wanita mukminah pergi ke masjid-masjid (rumah Allah).

Berikut ini bahagian Hadis berkenaan, yang terdiri dari dialog antara Allah yang pernah menanya Rasul-Nya:

يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ الأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: فِي الدَّرَجَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ، أَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ وَنَقْلُ الأَقْدَامِ إِلَى الْجماعَاتِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلاَمِ، وَالصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ، وَكَانَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّه

‘Wahai Muhammad, tahukah kamu perkara yang menggemparkan para malaikat di langit? Jawab Rasulullah, ‘Ya, mengenai kaffarat (beberapa amalan yang menghapuskan dosa dengan canggih dan effektif); dan darrojat (berapa amalan yang mengangkatkan darjat hamba mukmin). ‘Kaffarat’ ialah duduk (iktikaf) di masjid setelah solat (menunggu solat berikutnya), pergi (berjalan) menunaikan solat berjamaah, berwuduk dengan sempurna di saat terasa agak malas berwuduk’. Allah berfirman ‘Betul jawabanmu wahai Muhammad’. ‘Sesiapa melakukan perkara tersebut, ia hidup dalam kebaikan dan mati dalam kebaikan, dan ia bersih dari dosanya seperti ia baru dilahirkan ibunya.’ (HR Tizmizi).

Oleh yang demikian dalam lanjutan Hadis riwayat Imam Tirmizi di atas, baginda Rasulullah SAW mengajar umat berdoa dengan doa cinta,

أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ       وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّك

Aku memohon kepada-Mu agar daku mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal ibadat dan perbuatan yang menghampirkanku kepada kecintaan terhadap-Mu”.(HR Imam Tirmizi).

وَالْمَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

(رواه مسلم والأئمة)

Artinya ; ‘Para malaikat mendoakan seseorang di kalangan kamu selagi ia masih berada di tempat solatnya (di masjid), mereka mendoakan ‘Ya Allah, ampunilah ia, berilah ia curahan rahmat, dan terimalah taubatnya. Yakni selagi ia tidak menyakiti seseorang, dan wuduknya belum batal’ (HR Muslim, dll).