Menjauhkan Diri dari Kemurkaan Allah, Melalui Tazkiyah Nafs serta Penguatan Akidah dan Ibadah

 

Oleh : Buya H. Masoed Abidin

 

Generasi anak bangsa ini mesti menjauhkan diri dari perilaku yang dimarahi Allah. Berperangai bebas tanpa arah akan mengundang musibah dalam kehidupan. Mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang dilarang berarti berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Mengatasi problematika sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ; a). Melakukan tazkiyah nafs  dengan teratur dalam manhaj suffiyah, b). Memantapkan iman, tauhid uluhiyah, c). Melaksanakan Ibadah yang teratur, sebagai perwujudan tauhid rububiyah, d). Melakukan Wirid yang berkesinambungan, e). Shalat berjamaah, dan ibadah sunat yang teratur, seperti qiyamullail, shaum, dan lainnya, f). Melakukan interaksi intensif (silaturahim yang terjaga) ditengah masyarakat. Semua pengupayaan ini akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi berkembangnya maksiat.

Masalah besar hari ini adalah gaya hidup tersebut mengarah kepada ; a. Budaya pengagungan materi  (materialistik),  b. Menghindari supremasi agama (sekularistik), c. Mengejar kesenangan indera, ittiba’ hawahu,  kenikmatan badani (hedonistik),  d. Penyimpangan dari budaya luhur (ABS-SBK), e. Interaksi kebudayaan melalui media informasi yang vulgar, f. Meluasnya Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral.

Dunia pendidikan kita juga digoncangkan oleh fenomena vandalistik marak terjadi ; a. Tawuran  pelajar, b. Kebiasaan a-susila dikalangan remaja, c. Kecabulan, pornografi, pornoaksi meluas. d. Minat yang menguat ke kehidupan non-science, Asyik mencari kekuatan gaib, Belajar sihir, paranormal, kekuatan jin,  Bertapa ketempat angker, Menyelami black-magic, percaya mistik, hipnotisme  dan sebagainya.

Mengatasi semuanya dengan mengambil Keutamaan Ajaran Agama Islam  membangun masyarakat kuat saling bekerjasama, mempunyai sikap kasih mengasihi dengan a. ukhuwwah, yakni kesaudaraan, b. mahabbah, yakni kasih sayang sesama makhluk karena mencintai Allah Maha Kuasa. c. ta’awun, yakni saling bantu membantu dalam kebaikan dan kemashlahatan ummah.

Pelecehan Nilai nilai luhur kehidupan selalu terjadi, ketika agama kurang di amalkan sehingga kekuatan ummat menjadi lemah.  Peran dan eksistensi manusia diciptakan adalah untuk mengabdi dengan berbuat kebajikan kebajikan. Keberadaan manusia di permukaan bumi adalah untuk mengabdi kepada keutamaan perintah Allah saja.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأنْسَ إِلآ لِيَعْبُدُون

Ibadah adalah mematuhi Allah dengan cara ; a. tazkiyah nafs ; ilmu dan zikrullah, b. tazkiyah maliyah ; shadaqah, infaq dan zakat , c. tazkiyah amaliah ; niyat lillahi ta’ala. Menyiasati meruyaknya kemaksiatan yang akan merusak anak generasi dan kampung halaman, hanyalah dengan meningkatkan kepedulian sesama, sesuai ajaran agama Islam.

الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، مَنِ اكْتَسَبَ ِفيْهَا مَالاً مِنْ حِلِّه و أَنْفَقَهُ فِى حَقِّهِ أَثَابَهُ اللهُ عَلَيْهِ و أَوْرَدَهُ جَنَّتَهُ وَ مَنْ اكْتَسَبَ فِيْهَا مَالاً مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ وَ أَنْفَقَهُ فِى غَيْرِ حَقِّهِ أَحَلَّهُ اللهُ دَارَ الهَوَانِ وَ رُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِى مَالِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ لَهُ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ.

“Dunia itu manis dan hijau. Siapa yang berusaha memperoleh harta di dunia di jalan yang halal dan membelanjakannya menurut patutnya, niscaya orang itu diberi pahala oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Siapa yang mengusahakan harta di dunia tidak di jalan yang halal dan dinafkahkannya tiada menurut patutnya, niscaya Allah akan menempatkan orang itu di kampung kehinaan. Tidak sedikit orang yang menyelewengkan harta Allah dan Rasul-Nya memperoleh neraka di hari kiamat.”  (HR. Baihaqy dari Ibn Umar).

Memahami dan membangun kehidupan dunia yang penuh arti mesti dilakukan dengan kesadaran tinggi, secara perorangan, lembaga masyarakat serta badan pemerintahan, dalam upaya mengendalikan dorongan nafsul lawwamah yang tidak baik.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“ Dan aku tidaklah akan mampu membersihkan diriku dari kesalahan  – selama memperturutkan hawa nafsu –, karena sesungguhnya nafsu sangat menyuruh kepada kejahatan.”   Menjadi budak nafsu sama dengan menjadi musyrik.

Tidak dapat dimungkiri, bahwa menjadi kewajiban semua pihak membentuk Generasi berbudi  luhur – akhlakul karimah — dalam berperilaku. Memiliki Iman taqwa kepada Allah. Menjaga silaturahim (interaksi) dalam tatanan masyarakat yang madani (mudun = maju serta beradab). Tugas utama adalah mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak, melaksanakan adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, yakni generasi yang memiliki keperibadian ; Salimul Aqidah (Aqidahnya bersih), Shahihul Ibadah (Ibadahnya benar), Matinul Khuluq (akhlaqnya kokoh), Qowiyyul Jismi (fisiknya kuat), Mutsaqqoful Fikri (intelektual dalam berfikir), Mujahadatul Linafsihi (punya semangat juang dalam melawan hawa nafsu). Untuk meraih itu semua maka pembentukan akhlak umat tak boleh diabaikan.

  مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبَ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ    

“ sesuatu perkara yang menyebabkan sesuatu kewajiban tidak akan dapat disempurnakan kecuali dengannya maka perkara tersebut adalah wajib juga hukumnya.” 

Rintangan sangat berat, menjelang kiamat akan terjadi berbagai peristiwa sangat gawat, dan bencana yang besar. Pada saat-saat kritis, kelompok zhalim akan  berkuasa, dan orang fasik memegang posisi penting. Penyeru kebaikan akan ditindas, dan pencegah kemungkaran mendapat tekanan. Bekali diri dengan iman yang cukup. Perbanyak amal shaleh. Paksa diri mentaati Allah. Sabarlah menghadapi kesulitan. Niscaya akan mendapatkan sorga abadi.

Pencemaran jiwa ( النَّفْسُ الحَيَوَانِيَّةُ ) terjadi disebabkan oleh dorongan keinginan memenuhi kehendak nafsu semata. Menjaga kesuburan Nafs  dengan  a. Ibadah shalat teratur, b. Amalan baik sepanjang masa, c. Zikrullah setiap waktu,  d. Membaca al-Qur’an, shalatul-lail, e. Senang berpuasa sunat.  Sabda Rasulullah ;

إِنَّ فِى الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدِ كُلُّهُ  وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدِ كُلُّهُ, أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ —   

“ Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati .. “ 

Kalbu atau hati = القَلْبُ  — adalah Jiwa yang memerintah manusia yang disebut الرُّوْحُ الاَمْرِي . Firman Allah mengingatkan peran kalbu itu amat berpengaruh.

فَإِنَّهَا لآ تَعْمَى الآَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang  buta itu, adalah  hati yang  ada di dalam dada. (Al-Hajj:22:46). 

Beberapa upaya antara lain ; a). Menyucikan jiwa dengan zikrullah, b). Melaksanakan Wirid yang tertib (وَارِدُ الاِ نْتِبَاهِ ) hapus ghaflah, c). Menjaga Hati senantiasa bersih (yaqazah) menjauhi maksiat, d). Selalu bertaubat menghapus kesalahan dari perilaku maksiat, e). Memelihara kethaatan membentuk jiwa jauhari (النفس الجَوْهَرِي), bijak berhikmah, sadar berkesaudaraan.

Kehidupan di Dunia sebagai tempat beramal mesti diisi dengan kebaikan kebaikan mengerjakan yang diperintahkan, serta menghindari apapun yang dilarang. Kekayaan sesungguhnya ada pada kepatuhan.

أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَعْبَدِ النَّاسِ وَ اجْتَنِبِ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ أَوْرَعَ النَّاسِ وَ ارْضَ ِبمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ مِنْ أَغْنَى النَّاس  )    رواه ابن عدى عن ابن مسعود(

“ Tunaikanlah apa yang diwajibkan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling banyak ibadat. Jauhilah apa yang dilarang Allah kepada kamu mengerjakannya, niscaya kamu menjadi orang yang paling cermat. Relalah menerima apa yang dibagikan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya.” (HR.Ibnu ‘Adi dari Ibnu Mas’ud).

Peringatan Nabi menganjurkan untuk selalu Ikhlas dan setia dalam pembimbingan zikrullah.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ)

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hamba-Ku, selama dia menyebut (mengingat) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut nama-Ku.  (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s