Menjauhkan Diri dari Kemurkaan Allah, Melalui Tazkiyah Nafs serta Penguatan Akidah dan Ibadah

 

Oleh : Buya H. Masoed Abidin

 

Generasi anak bangsa ini mesti menjauhkan diri dari perilaku yang dimarahi Allah. Berperangai bebas tanpa arah akan mengundang musibah dalam kehidupan. Mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang dilarang berarti berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Mengatasi problematika sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ; a). Melakukan tazkiyah nafs  dengan teratur dalam manhaj suffiyah, b). Memantapkan iman, tauhid uluhiyah, c). Melaksanakan Ibadah yang teratur, sebagai perwujudan tauhid rububiyah, d). Melakukan Wirid yang berkesinambungan, e). Shalat berjamaah, dan ibadah sunat yang teratur, seperti qiyamullail, shaum, dan lainnya, f). Melakukan interaksi intensif (silaturahim yang terjaga) ditengah masyarakat. Semua pengupayaan ini akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi berkembangnya maksiat.

Masalah besar hari ini adalah gaya hidup tersebut mengarah kepada ; a. Budaya pengagungan materi  (materialistik),  b. Menghindari supremasi agama (sekularistik), c. Mengejar kesenangan indera, ittiba’ hawahu,  kenikmatan badani (hedonistik),  d. Penyimpangan dari budaya luhur (ABS-SBK), e. Interaksi kebudayaan melalui media informasi yang vulgar, f. Meluasnya Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral.

Dunia pendidikan kita juga digoncangkan oleh fenomena vandalistik marak terjadi ; a. Tawuran  pelajar, b. Kebiasaan a-susila dikalangan remaja, c. Kecabulan, pornografi, pornoaksi meluas. d. Minat yang menguat ke kehidupan non-science, Asyik mencari kekuatan gaib, Belajar sihir, paranormal, kekuatan jin,  Bertapa ketempat angker, Menyelami black-magic, percaya mistik, hipnotisme  dan sebagainya.

Mengatasi semuanya dengan mengambil Keutamaan Ajaran Agama Islam  membangun masyarakat kuat saling bekerjasama, mempunyai sikap kasih mengasihi dengan a. ukhuwwah, yakni kesaudaraan, b. mahabbah, yakni kasih sayang sesama makhluk karena mencintai Allah Maha Kuasa. c. ta’awun, yakni saling bantu membantu dalam kebaikan dan kemashlahatan ummah.

Pelecehan Nilai nilai luhur kehidupan selalu terjadi, ketika agama kurang di amalkan sehingga kekuatan ummat menjadi lemah.  Peran dan eksistensi manusia diciptakan adalah untuk mengabdi dengan berbuat kebajikan kebajikan. Keberadaan manusia di permukaan bumi adalah untuk mengabdi kepada keutamaan perintah Allah saja.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأنْسَ إِلآ لِيَعْبُدُون

Ibadah adalah mematuhi Allah dengan cara ; a. tazkiyah nafs ; ilmu dan zikrullah, b. tazkiyah maliyah ; shadaqah, infaq dan zakat , c. tazkiyah amaliah ; niyat lillahi ta’ala. Menyiasati meruyaknya kemaksiatan yang akan merusak anak generasi dan kampung halaman, hanyalah dengan meningkatkan kepedulian sesama, sesuai ajaran agama Islam.

الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، مَنِ اكْتَسَبَ ِفيْهَا مَالاً مِنْ حِلِّه و أَنْفَقَهُ فِى حَقِّهِ أَثَابَهُ اللهُ عَلَيْهِ و أَوْرَدَهُ جَنَّتَهُ وَ مَنْ اكْتَسَبَ فِيْهَا مَالاً مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ وَ أَنْفَقَهُ فِى غَيْرِ حَقِّهِ أَحَلَّهُ اللهُ دَارَ الهَوَانِ وَ رُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِى مَالِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ لَهُ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ.

“Dunia itu manis dan hijau. Siapa yang berusaha memperoleh harta di dunia di jalan yang halal dan membelanjakannya menurut patutnya, niscaya orang itu diberi pahala oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Siapa yang mengusahakan harta di dunia tidak di jalan yang halal dan dinafkahkannya tiada menurut patutnya, niscaya Allah akan menempatkan orang itu di kampung kehinaan. Tidak sedikit orang yang menyelewengkan harta Allah dan Rasul-Nya memperoleh neraka di hari kiamat.”  (HR. Baihaqy dari Ibn Umar).

Memahami dan membangun kehidupan dunia yang penuh arti mesti dilakukan dengan kesadaran tinggi, secara perorangan, lembaga masyarakat serta badan pemerintahan, dalam upaya mengendalikan dorongan nafsul lawwamah yang tidak baik.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“ Dan aku tidaklah akan mampu membersihkan diriku dari kesalahan  – selama memperturutkan hawa nafsu –, karena sesungguhnya nafsu sangat menyuruh kepada kejahatan.”   Menjadi budak nafsu sama dengan menjadi musyrik.

Tidak dapat dimungkiri, bahwa menjadi kewajiban semua pihak membentuk Generasi berbudi  luhur – akhlakul karimah — dalam berperilaku. Memiliki Iman taqwa kepada Allah. Menjaga silaturahim (interaksi) dalam tatanan masyarakat yang madani (mudun = maju serta beradab). Tugas utama adalah mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak, melaksanakan adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, yakni generasi yang memiliki keperibadian ; Salimul Aqidah (Aqidahnya bersih), Shahihul Ibadah (Ibadahnya benar), Matinul Khuluq (akhlaqnya kokoh), Qowiyyul Jismi (fisiknya kuat), Mutsaqqoful Fikri (intelektual dalam berfikir), Mujahadatul Linafsihi (punya semangat juang dalam melawan hawa nafsu). Untuk meraih itu semua maka pembentukan akhlak umat tak boleh diabaikan.

  مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبَ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ    

“ sesuatu perkara yang menyebabkan sesuatu kewajiban tidak akan dapat disempurnakan kecuali dengannya maka perkara tersebut adalah wajib juga hukumnya.” 

Rintangan sangat berat, menjelang kiamat akan terjadi berbagai peristiwa sangat gawat, dan bencana yang besar. Pada saat-saat kritis, kelompok zhalim akan  berkuasa, dan orang fasik memegang posisi penting. Penyeru kebaikan akan ditindas, dan pencegah kemungkaran mendapat tekanan. Bekali diri dengan iman yang cukup. Perbanyak amal shaleh. Paksa diri mentaati Allah. Sabarlah menghadapi kesulitan. Niscaya akan mendapatkan sorga abadi.

Pencemaran jiwa ( النَّفْسُ الحَيَوَانِيَّةُ ) terjadi disebabkan oleh dorongan keinginan memenuhi kehendak nafsu semata. Menjaga kesuburan Nafs  dengan  a. Ibadah shalat teratur, b. Amalan baik sepanjang masa, c. Zikrullah setiap waktu,  d. Membaca al-Qur’an, shalatul-lail, e. Senang berpuasa sunat.  Sabda Rasulullah ;

إِنَّ فِى الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدِ كُلُّهُ  وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدِ كُلُّهُ, أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ —   

“ Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati .. “ 

Kalbu atau hati = القَلْبُ  — adalah Jiwa yang memerintah manusia yang disebut الرُّوْحُ الاَمْرِي . Firman Allah mengingatkan peran kalbu itu amat berpengaruh.

فَإِنَّهَا لآ تَعْمَى الآَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang  buta itu, adalah  hati yang  ada di dalam dada. (Al-Hajj:22:46). 

Beberapa upaya antara lain ; a). Menyucikan jiwa dengan zikrullah, b). Melaksanakan Wirid yang tertib (وَارِدُ الاِ نْتِبَاهِ ) hapus ghaflah, c). Menjaga Hati senantiasa bersih (yaqazah) menjauhi maksiat, d). Selalu bertaubat menghapus kesalahan dari perilaku maksiat, e). Memelihara kethaatan membentuk jiwa jauhari (النفس الجَوْهَرِي), bijak berhikmah, sadar berkesaudaraan.

Kehidupan di Dunia sebagai tempat beramal mesti diisi dengan kebaikan kebaikan mengerjakan yang diperintahkan, serta menghindari apapun yang dilarang. Kekayaan sesungguhnya ada pada kepatuhan.

أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَعْبَدِ النَّاسِ وَ اجْتَنِبِ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ أَوْرَعَ النَّاسِ وَ ارْضَ ِبمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ مِنْ أَغْنَى النَّاس  )    رواه ابن عدى عن ابن مسعود(

“ Tunaikanlah apa yang diwajibkan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling banyak ibadat. Jauhilah apa yang dilarang Allah kepada kamu mengerjakannya, niscaya kamu menjadi orang yang paling cermat. Relalah menerima apa yang dibagikan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya.” (HR.Ibnu ‘Adi dari Ibnu Mas’ud).

Peringatan Nabi menganjurkan untuk selalu Ikhlas dan setia dalam pembimbingan zikrullah.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ)

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hamba-Ku, selama dia menyebut (mengingat) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut nama-Ku.  (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

 

Iklan

Menanamkan Nilai Nilai Asmaul Husna dalam Kehidupan Remaja Sekolah sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan berkarakter di Kota Padang.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

      I.  Membangun Karakter Generasi Unggul dengan Akhlak Mulia.

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) , adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama  (“humanly devised constraints on actions; rules of the game.”). Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani untuk Kota Padang, semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

 

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  (cognitive component) yang  tumbuh dengan kecerdasan budaya memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan ASMAUL HUSNA akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, mengimarahkan masjid/mushalla dengan shalat berjamaah serta menghidupkan majelis ta’lim .  Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah menulis : “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.”  Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah SWT berkali-kali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu seperti  Wa Al Lail (demi malam), Wa An Nahr (demi siang), dan lain-lain. 

Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan yang akan diperoleh, modalpun hilang.  Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.

 نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. bukhari melalui Ibnu Abbas r.a)

    II. « Besar Perut, Banyak Tidur, Malas dan Lemah Keyakinan », Bahaya menimpa Ummat.

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Dan jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu, hidupnya tidak nyaman dan mereka tidak merasakan ketenangan karena ulahnya, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.

Insan yang baik tidak boleh lalai dalam hidupnya, tidak boleh bermalas-malasan, tidak boleh hanya hidup sekedar mengenyangkan perut, suka tidur dan lemah keyakinan. Apabila sikap itu yang tumbuh, maka bencana akan menimpa.

 

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau ,

….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim)

Ada sebuah prinsip yang baik untuk dipegang: “Jika ada tetangga yang mencela-ku, aku tidak akan membalas untuk mencelanya. Jika ada tetangga yang menyakiti hatiku. Aku tidak akan membalas untuk menyakitinya. Segala urusan dan segala sesuatunya akan kukembalikan kepada Allah SWT sebagai penjaga dan pemelihara diri, jiwa dan kehormatanku”. 

Prinsip dasar perilaku ini lahir karena berbuah nyata dari pengenalan dan pengamalan terhadap Asmaul Husna.  Apabila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terealisir (terwujud) dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas manusia atau masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang satu, yang selalu komitmen dalam memegang dan melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang senantiasa saling tolong-menolong, bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa dan tidak tolong menolong dalam kejahatan dan dosa serta permusuhan. Dengan demikian amar ma’ruf dan nahi munkar akan terwujud, sehingga terciptalah sebuah masyarakat yang rukun, damai, aman, dan sentosa lagi penuh dengan keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Inilah yang akan membri kontribusi penguatan keyakinan di dalam menata kehidupan masyarakat yang yang dicita-citakan, “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad dari Sayyidah Aisyah r.a, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ الخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجَوارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يُزِدْنَ فِى الأَعْمَارِ

“Silaturrahmi, berakhlak mulia serta bertetangga dengan baik akan membangun dunia dan memperpanjang usia”.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

Ajakan dakwah Islamiyah, tidak lain adalah seruan kepada Islam, yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul. Penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah. Di masa kini perlu digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  diantaranya dengan pengenalan Asmaul Husna, yang tujuannya untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur ……Upaya menyiapkan Masyarakat berprestasi, melalui pendidikan berkarakter, (1). Membudayakan Wahyu Al Quran, (2). Memakaikan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.  Di akhir zaman, manusia akan berjuang untuk menghalalkan Zina sebagaimana telah diprediksi oleh Rasul Allâh SAW berikut,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).

  III.  Membangun Qalbin Salim.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak. yaitu; “Bacalah yang tertulis (Qauliyah), sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam (Kauniyah) yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.” Membaca adalah proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di zaman modern dan era globalisasi, kondisi masyarakat pun mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

 

PENDIDIKAN dan BELAJAR yang dapat mengantarkan manusia pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK itu, menjadi rencana pengembangan SDM Berkualitas di masa mendatang tidak dapat dielakkan.

Kecanggihan Budaya ada dalam Pendidikan Anak Dini Usia (PADU). Tugas utama kini, mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak,  adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh. Di sini peran krusial dari pembelajaran aqidah tauhid, ibadah dan pengenalan Asmaul Husna.

Ajaran syarak (Islam) mendorong sikap untuk maju.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Tatanan yang baik dapat saja berubah karena pengaruh zaman, dan karena longgar menjaga tata adat istiadat. Rapuhnya akhlak anak  generasi, merusak bangunan  kehidupan.  Pembinaan akhlak generasi sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah, diantaranya  dapat dilakukan dengan  intensif melalui pengenalan dan pembelajaran Asmaul Husna.

Kalau kita bertanya, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Maka salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia telah berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.”

 IV.  Hidup Sarat Tantangan

Tantangan Pendidikan Generasi Muda di Kota Padang, ke depan sangat berat, sementara uluran tangan yang di dapat hanya sedikit. Hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat dijadikan  modal utama, mengawal pendidikan berkarakter di Kota Padang. Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaum/kelompoknya. Selalu terjaganya kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

Nilai-nilai ideal kehidupan itu terlihat pada,

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

Ada kiat untuk meraih keberhasilan ; Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, dek padi  mangko jadi. 

Artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”Amat diharapkan Dewan Pendidikan dapat berkembang menjadi pengawal pusat kebudayaan dengan karakter (marwah) yang bagaimanapun kelak dapat menjadi center of excelences (pusat musyawarah).

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak. Disini pentingnya pengenalan Asmaul Husna.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis. Reungkanlah petuah ini:

لا تسب إبليس فى العلانية و أنت صد يقه السر

Jangan sampai engkau mencaci maki Iblis terang-terangan tapi engkau menjadi temannya di kesunyian !. Berteman dengan iblis akan melahirkan kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak-anak sejak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, mengenali asmaul husna dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

   V.              Karakteristik Masyarakat Beradat dan Beragama di Kota Padang

Masyarakat  Padang ( dan umumnya Sumatera Barat dengan ciri khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK) adalah Masyarakat Beradat Dan Beradab. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”).

 

Yang paling mendasar dari tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya  akan membentuk  Pandangan  Hidup dan Panduan  Dunia – PDPH – (perspektif), yang akan

  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat kota Padang  berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. akan menjadi pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama.
  4. d.      memberikan ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi pelajar (remaja) Kota Padang  dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekonomi, serta karya-karya pemikiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan kota Padang Kota Tercinta di segala bidang.

Kekuatan Agama Islam  yang diyakini warga kota Padang sebenarnya dapat menjadi penggerak pembangunan.  Namun ada fenomena menyedihkan, diantaranya,

ü  minat penduduk kepada pengamalan agama Islam di kampung-kampung mulai melemah,

  • dayatarik dakwah agama mulai kurang,
  • banyak bangunan agama yang kurang terawat,
  • guru-guru agama yang ada banyak tidak diminati (karena kurang konsisten, ekonomi, pengetahuan, penguasaan teknologi, interaksi) masyarakat lingkungan.

ü  banyak kalangan (pemuda, penganggur) tak mengindahkan pesan-pesan agama (indikasinya  domino di lapau, acara TV di rumah lebih digandrungi dari pada pesan-pesan agama di surau).

Fenomena negatif ini berakibat langsung kepada angka kemiskinan makin meningkat (karena kemalasan, hilangnya motivasi, hapusnya kejujuran, musibah sosial mulai mengancam).

Pergeseran budaya yang terjadi adalah ketika mengabaikan nilai-nilai agamaPengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti menjauh dari aqidah tauhid , perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, suka melalaikan ibadah.

Pendidikan yang diawali dengan pengenalan Asmaul Husna akan membawa anak didik meyakini kekuasaan Allah Azza Wajalla, serta mampu mengamalkan dalam akhlak mulia.

Cobalah dipikirkan bagaimana pesan Rasulullah SAW yang mengajak untuk, “takhallaquu bi akhlaqil-Llah .. Berperangailah anda dengan meniru sifat (akhlaq) Allah”.  Seiring dengan itu ada perintah Allah, agar kita semua  “ahsin kama ahsanal-Llahu ilaika “ .. artinya, berbuat ihsan (kebaikan) kamu sebagaimana Allah telah ihsan kepadamu (lihat QS. Qashash ayat 77). Di sini kita melihat prinsip pembelajaran melalui pengenalan Asmaul Husna itu.

 VI.  Empat Membawa Celaka, « Beku Mata, Kasat Hati, Loba dan Panjang Angan-angan »

Agama Islam membuka pintu kerja bagi setiap diri agar ia dapat memilih amal atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan pilihannya. Islam tidak akan menutup peluang kerja seseorang kecuali jika pekerjaan itu akan merusak fisik ataupun mental. Setiap pekerjaan yang merusak diharamkan oleh Islam.

Mencari nafkah dengan bekerja secara halal adalah suatu kewajiban setiap muslim. Beberapa faktor yang menjadi seseorang berhasil dan memperoleh keberkahan di dalam usaha atau kerjanya.  Selain faktor fisik material, serta modal atau kapital dan alat-alat pendukungnya, maka faktor mental spritual amat menentukan.  Kecerdasan mental spiritual ini akan dikuat kokohkan oleh pengenalan dan pengamalan Asmaul Husna, sejak usia dini di bangku pelajaran di sekolah-sekolah.

 

Untuk menghindari agar ke empat pokok celaka ini tidak menimpa, maka perlu dimiliki ;

  • Skill, keahlian, kepandaian dan keterampilan adalah faktor yang cukup menentukan keberhasilan seseorang dalam segala bidang usaha dan pekerjaan. Dalam usaha dagang misalnya, diperlukan pengetahuan khusus seperti ekonomi umum, marketing, management, accounting (pembukuan), ditunjang oleh ketekukan..
  • Iman dan Taqwa,  – menjadi jaminan keberhasilan dan keberkahan setiap usaha dan pekerjaan.
  • Kejujuran, adalah modal setiap orang dalam bekerja yang terkadang terlupakan. Karena kejujuran seseorang dipercaya oleh orang lain. Jika seseorang menelantarkan kejujuran dengan berlaku khianat, curang atau culas, maka punahlah kepercayaan, sehingga sempitlah ruang geraknya dan sempit pula peluang rezekinya. Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang jujur lagi dipercaya, adalah bersama para Nabi, Shadiqin dan para Syuhada (orang-orang yang mati syahid)”. (H.R. Tirmidzi dan Hakim).
  • Azam yakni kemauan keras  dan Istiqamah (tekun, fokus dan konsisten). Kemauan keras untuk terus maju (azam), tekun (istiqamah) dan sabar memegang peranan penting dalam dunia usaha. Pekerja yang berhasil adalah mereka yang tidak pernah lesu, loyo, apalagi putus asa. Mereka selalu memiliki azam dan istiqamah dalam bekerja dan membina usaha, dengan melahirkan inisiatif, daya cipta, gagasan dan kreasi-kreasi baru dalam rangka meningkatkan karya dan pengembangan usahanya. Sikap mental (qalbu) berupa azam dan istiqamah perlu diterapkan oleh para pelaku usaha, setiap pekerja, pemimpin dan bawahan di semua profesi yang ia tekuni.

Khulasahnya,            

Pendidikan berkarakter di Kota Padang dapat dilakukan dengan ;

  1. Mendidik masyarakat formal (sekolah, ruang  ruang pendidikan) ataupun informal (pengajian, majlis ta’lim),  dengan memulai menanamkan akhlaqul karima (akhlak mulia), mengenalkan asmaul husna, mengimarahkan masjid-masjid, menguatkan pengendalian adat istiadat anak nagari dengan mengimplementasikan ABSSBK secara bersungguh-sungguh. 
  2. Menghidupkan dakwah membangun negeri.


Membangun Generasi Unggul

A.    Membangun Generasi Unggul

Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya dibentuk menjadi Generasi Unggul (khaira Ummah) yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar.

“  kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok :

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi). Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkem,ampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini  antara lain infiltrasi dan penetrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia, seperti the globalization life style serta suburnya budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat, semestinya berpedoman kepada bimbingan wahyu Allah (Alquran) dalam menata adat perilaku bermasyarakatnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Peran amar ma’ruf nahi munkar menjadi wujud penciptaan tatanan masyarakat yang rukun, damai, aman sentosa penuh keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Tidak dapat diabaikan dan mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  dengan tujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

  1. B.    Upaya Membangun Generasi Unggul Berprestasi.

Dapat dilakukan melalui pendidikan berkarakter, (1). Membudayakan Wahyu Al Quran, (2). Memakaikan adat  budaya luhur yang berpedoman kepada syari’at Islam  dengan akhlaq  Qurani, sebagai aplikasi dari ABSSBK itu.  Ada kiat untuk meraih keberhasilan, “Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”Amat diharapkan berkembangnya pendidikan menjadi pengawal pusat kebudayaan berkarakter (memiliki marwah).  Perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Generasi Unggul  wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur . Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah, sehingga rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

  1.  Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah sikap munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. (Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5).
  2. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid. Allah adalah al Ma’bud  artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah dan kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  (lihat QS.1:5). Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.
  3. Konsepsi Tauhid Uluhiyah adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan.  Tanpa konsistensi (istiqamah) secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  musyrik (Lihat QS.6:106, 41:6,7).
  4. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Apabila syari’at telah menetapkan (syarak mengata),  mestinya adat memakai. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.
  5. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.” 

 

C.     Generasi Unggul adalah Generasi Dinamik

Generasi yang dinamik tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”  Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Apabila generasi kini dibiarkan terlena dan lupa membenah diri dengan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi Unggul wajib meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran bagi generasi yang terdidik dengan paksi Islam, mampu menilai teknologi informasi, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menyelesai konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base). Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi unggul di Sumatera Barat dalam mendidik dan melatih kader pimpinan. Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan. Generasi Muda berprestasi terlihat pada iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik. Mengamalkan budaya amal  jama’i  yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

D.    Gerakan Masyarakat Bersama

Pendekatan social movement menangani isu perubahan global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.  Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan berbagai gerakan dakwah mencakupi pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaualan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Sumatera Barat yang hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu, sebagai fatwa adat menyebutkan, Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

E.     Pembangunan Karakter Khayra Ummah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur  yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  menjadikan cerdas budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  dengan dipertajam oleh kemampuan periksa  (evaluasi positif  dan negatif)  atau kecerdasan rasional intelektual  serta dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni bagi kebanyakan masyarakat Sumatera Barat atau Indonesia adalah hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) akan melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan kewajiban mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian serta membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan akidah Islam (tauhidiyah) di iringi oleh pengamalan ibadah (syari’at) akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan al-qalb al-salim yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati, titik tolak kehidupan dalam  Islam. Bersih hati adalah pintu menerima perintah Allah dengan sempurna. Generasi Unggul selalu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik. Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik), sehingga hati tetap bersih.

Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi. Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس  ialah  nafsu jauhari النفس الجوهري   yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi. Allah berfirman : وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  Dan demi jiwa serta penyempurna-an ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan).

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams, 7-10).

F.     Menanam Akhlaq melalui Pendidikan

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu dan tidak nyaman, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.  Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau, ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim). Bila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang selalu komit dalam melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang saling tolong-menolong bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak  dengan sadar memahami informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman selalu mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

PENDIDIKAN dan BELAJAR dapat mengantarkan manusia pada kemajuan berkualitas dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Rapuhnya akhlak generasi akan merusak bangunan  kehidupan.

Sebuah pertanyaan, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.” Tantangan Pendidikan Generasi ke depan sangat berat. Hanya dapat diringankan dengan hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat menjadi modal utama mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat.

Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Selalu terjaga kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”. Dengan demikian nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada, (1). adanya rasa memiliki bersama, (2). kesadaran terhadap hak milik, (3). kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, (4). kesediaan untuk pengabdian, (3). terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

G.    Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah.

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah. Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu disadari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.  Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri. Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul. (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ;  a. Tanggungjawab Kepada Allah. b. Tanggungjawab Kepada Diri, c. Tanggungjawab Kepada Ilmu, d. Tanggungjawab Kepada Profesi, e. Tanggungjawab Kepada Masyarakat, f. Tanggungjawab Kepada Sejawat, g. Tanggungjawab Kepada Keluarga.  

Disebabkan hal sedemikian, maka menumbuhkan mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) dengan berpedoman kepada sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار.

 Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam  neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.  Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah. Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.  Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah karena meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengawasinya. Tauhid itu melahirkan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.

Wassalam.

 

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan agama Islam, menuju pemerintahan yang amanah

 

Oleh :

H. Mas’oed Abidin

 

Menyikapi Perubahan Zaman

PEMBINA PERILAKU berakhlak menjadi kerja utama sepanjang masa. Sejak dulu, bangsa ini  sudah memiliki tata laku masyarakat sopan dan santun. Memiliki akhlak yang terpuji. Hidup beradat dalam tatanan yang shahih. Mengelola gerak kehidupan dengan pemahaman dan pengamalan nilai nilai haya’ (malu) dengan benar. Dalam kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat disebutkan Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,  Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari lingkungan (rumah tangga dan wilayah) dengan menata kehidupan berbudi. Memacu gerak mencerdaskan umat. Mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, mengamalkan Firman Allah.[1]

Kini kita sedang menghadapi satu perubahan zaman. Perubahan adalah satu keniscayaan belaka, bahwa zaman senantiasa berubah dan musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan di era global. Seringkali membawa infiltrasi kebudayaan luar. Ketika pengamalan pelaksanaan adat istiadat masyarakat dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh pada puncak budaya ABSSBK maka mulai jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh materialistic telah mengabaikan kaidah nilai-nilai tatalaku masyarakat beradat dan beragama. Penetrasi kebudayaan global telah menyuburkan kehidupan individualistic yang kental. Mengalahkan kepentingan masyarakat bersama. Idealisme kebudayaan mulai menjadi sasaran cercaan. Budaya jujur dianggap kolot. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Amanah menjadi rapuh. Kejujuran tidak bermakna lagi. Kerajinan dan kesetiaan diukur dengan jumlah pendapatan yang didapat. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat. Kehidupan tanpa kawalan aturan jelas, pasti berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan juga. Selain pula berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset.

Pergeseran nilai ini juga bersintuhan langsung dengan pemeliharaan budaya bangsa dan budaya negara. Budaya negara kita Indonesia adalah UUD45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Sedangkan budaya bangsa Indonesia adalah puncak puncak budaya daerah. Ketika kedua budaya itu melemah, perilaku yang mengedepan adalah perebutan prestise berbungkus materi. Menghadirkan prestasi yang memberi manfaat kepada rakyat banyak kurang diminati. Padahal masyarakat madani (civil society) dengan panduan nilai nilai reliji menyajikan motivasi hidup. Mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) dalam gerakan amal. Menumbuhkan jiwa inovatif yang sarat dinamika dan kreativitas. Bersikap ikhlas dan tawakkal. Semestinya dari sisi ini reformasi watak di mulai untuk mendudukkan reformasi birokrasi. Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan budaya. Menjaga martabat bangsa dan negara. Sasarannya menuju madaniyah (modern, maju, beradab). Menanamkan etika reliji dengan akhlak mulia adalah modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus, pastilah bangsa ini akan ditingali oleh manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok ke dalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kehidupan akan bertukar dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis di tengah kebangsaan Indonesia yang dikenal dan disebut muslim pula.

Konsep Masyarakat Madani

MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata  m u d u n   arti sederhananya  m a j u  atau dipakai juga dengan kata  m o d e r n. Tetapi figurlijknya madani mengandung kata maddana al-madaina (مَدَّنَ المَدَاِئنَ) artinya, banaa-ha ( بَنَاهَا ) yakni membangun atau hadhdhara (حَضَّرَ ) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( تَمَدَّنَ ) maknanya menjadi beradab — yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa, rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan diterima untuk kemashalahatan bersama. Karena itu orang Jepang dalam cara menyeberangnya saja sudah dapat disebut menjadi ciri madani itu.

Masyarakat  madani ( الحَضْرِيُّ = al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Nilai nilai kebaikan akan selalu memenjarakan manusia. Karenanya nilai nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata.

Pengamalan nilai nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil. Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika reliji mewujudkan  masyarakat yang hidup senang dan makmur (تَنَعَّمَ = tana’ama) dengan aturan  (قَانُوْنٌ مَدَنِيٌّ = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy, perdata, ulayat dan hak-hak sipil masyarakat. Dapat diraih melalui pendidikan.

Masyarakat tamaddun (berbudaya) adalah masyarakat integratif secara sosial politik maupun ekonomi dengan asas watak masyarakat intinya adalah ketaatan. Kepatuhan dan keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau domein ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tau’iyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting, yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.

Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran, nasihat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran azam, 4. kejujuran al-wafa’ (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan), 5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).

Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman (tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.

Moralitas Masyarakat Madani

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. Memupuk sikap taawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.

Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat persaingan akan mampu dimenangkan “kepercayaan” — trust.  Pengikat spiritnya adalah sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.

Peran serta masyarakat digerakkan melalui  musyawarah dan mufakat. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak dan ibadah. Akhlak mlingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan. Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.[2]

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan mesti diawasi agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik) antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.  Masyarakat Madani yang dituntut oleh “syari’at” Islam menjadi satu aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat Madani mesti mampu menangkap tanda‑tanda zaman — perubahan sosial, politik dan ekonomi — pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help).

Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak  utama didalam pembentukan watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH, Menampilkan Program Umatisasi

PENERAPAN RUHUL MADANIYAH atau jiwa kemajuan berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Setiap unsur berkewajiban melaksanakan tugas tabligh atau dialogis kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan berperaturan (bertatakrama) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Melibatkan semua elemen untuk menghidupkan kesadaran dana kepatuhan hukum menjadi tugas bersama. Menurut nilai-nilai Al-Qur’an disebut ummat da’wah. [3]

Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.

Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. Mengoreksi masihkah prinsip‑prinsip utama budaya bangsa dan budaya negara masih dipertahankan.

Kedua. Masing‑masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali kesatuan dan persatuan bangsa dengan ikatan birokrasi tanpa gembar‑gembor, namun secara jujur dalam mengatasi semua persoalan di tengah rakyat yang kita pandu.

Ketiga, Memelihara kesempatan‑kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan (system) dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah keumatan, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

Keempat, Berusaha mencari titik‑titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara sesama kalangan dan peribadi‑peribadi para intelektual (zu’ama), para pemegang kendali sistim (‘umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan yang tidak tegang dan kaku. Kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.

Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama’ (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari’ah.

Keenam,  Memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama. Menetapkan mu’amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melalui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). Mengawalnya mulai dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah).

Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat kini khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja,

  1. Mengokohkan pegangan dengan keyakinan dasar agama sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan  akal.
  2. Memperluas penyampaian fiqh sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. Menguatkan peran perempuan (bundo kandung, muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang masa silam sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan ditengah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
  3. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak adat budaya bangsa dan negara — terutama di Sumatera Barat yang memiliki puncak filosofi ABSSBK –. Diantaranya, memberi bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai, membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah mendukung satu usaha terpadu kearah pendidikan watak umat dan meningkatkan keselarasan, kesatuan dan keupayaan mendalami budaya dan haraki Islami.
  4. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK sebagai ciri khas Masyarakat Madani di Sumatera Barat.v

 

 

 

Catatan Kaki


[1]    Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[2]    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

 

[3]    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

 

Kitab Kesimpulan Adat Minangkabau

Kitab Kesimpulan Adat

Di dalam luhak nan tigo lareh nan duo (luhak yang tiga adalah Agam, Tanah Datar dan Limapuluh Koto dan lareh yang dua atau dua kelarasan itu ialah Kelarasan  Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago).

Adapun adat yang terpakai oleh orang tua-tua turun temurun di dalam luhak nan tigo lareh nan duo itu, adalah empat perkara:

  1. Adat yang sebenar adat
  2. Adat yang diadatkan
  3. Adat yang teradat
  4. Adat istiadat
  1. Adat yang sebenar adat

Adapun yang dikatakan adat yang sebenar adat ialah : yang diterima dari nabi Muhammad SAW.

Yakni sepanjang yang tersebut di dalam kitab Allah (Al-Qur’an), atau dalam  arti lebih mendalam adalah  yang sepanjang ada tuntunannya di dalam Syara’, atau “syarak mangato (menetapkan) dan adai memakaikan”.

Di situlah diambil Sah dan Batal,   Halal dan Haram,   Sunat dan Fardhu,   Dakwa dan Jawab,   Saksi dan Bainah, dan dari situ pula diambil Fiil (perbuatan)  bunuh yang tiga:

1        ‘Amal (disangajo = disengaja melakukannya)

2        Serupo disengajo = sama seperti disengaja juga.

3        Khathak (tersalah) lepas dari hukum

Penisbatan bunuh itu ialah:

1)      Ikrar

2)      Saksi

3)      Harus

Dan disini pulalah di ambil hukum yang empat

1)      Hukum Ilmu

2)      Hukum Bainah

3)      Hukum Kurenah

4)      Hukum Ijitihad

  1. Adat yang diadatkan

Yang Diadatkan ialah yang diterima dari Datuk Ketumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Dari sini diterima ;

1. Cupak Nan Duo;

2. Kato nan ampek;

3. Undang-undang Nan Ampek;

4. Nagari nan Ampek

Cupak Nan Duo

Adapun yang disebut dengan Cupak Nan Duo:

  1. Cupak Nan Usali (asli)
  2. Cupak Buatan.
  1. 1. Adapun yang disebut dengan Cupak Nan Usali (Asli) ialah gantang (takaran ukuran-ukuran 2/3 liter) 

Nan Papek (yang pepat, tepat ukurannya),

Bungka Nan Piawai (ukuran, bungkal anak timbangan yang benar).

Taraju Nan Batuai (teraju yang lurus dan seimbang),

nan Batiru Batuladan (yang ditiru di teladani).

Bajanjang Naiak  Batanggo Turun (Berjenjang baik, bertangga turun, sesuai aturan),

Balukis Balimbago (berlukis berlembaga, jelas peruntukannya),

Nan Batakuak Nan Batabang (tentang tanda dilakukan, telah terpiluih dan teruji),

Nan Basuriah Nan Bapahek (yang digaris makan pahat),

Alah Surinyo nan dahulu (sudah jadi ketetapan sejak dahulu, ada yurisprudensinya).

Jauah Buliah ditunjuakkan  hampiah buliah dikakokkan (jauh boleh ditunjuk letaknya dan alamatnya, dekat dapat dipegang dan dilihat di rasakan).


 

  1. Adapun nan dikato cupak buatan, ialah Pancarian Sagalo Penghulu Nan Ahli akal dalam Nagari (hasil keputusan dan kesepakatan segala penghulu dan para ahli ilmuan di dalam negeri) atau pancarian Tiok-tiok luhak (ketetapan pada setiap luhak yang lain padang lain pula belalangnya dan lain lubuk lain pula ikannya, sesuai kaedah yang berlaku di setiap negeri sesuai kearifan lokal yang telah berlaku dan disepakati) atau Pancarian Tiok-tiok Lareh (yakni ketetapan setiap kelarasan yang dua dari Koto Piliang dan Bodi Caniago) ataupun Pancarian (ketetapan dan kesepakatan yang telah diterima berlaku demi kemaslahatan umat banyak) itu.

Mupakaiak Syarak (sesuai dengan ketetapan syariat Islam) atau manyalahi syarak (tidak sesuai dengan syariat agama Islam).

Penggunaan kata syarak di Minangkabau hanya kepada agama islam, tidak ada agama lain dalam adat Minangkabau selain agama islam.

Sarato disudahi oleh tiok-tiok urang dengan memotong kerbau. Kesepakatan itu diumumkan kepada orang banyak dengan memotong kerbau. Artinya di undangkan bersama, sehingga disepakati untuk dijalankan bersama serta dipatuhi bersama pula.

Kacau darahnyo. Ditanam tanduaknya, dimakan dagiangnyo. Sebuah perlambangan bahwa kesepakatan itu diterima dengan perasaan gembira, bukan paksaan seperti sebuah kenduri atau perhelatan, setelah penyembelihan kerbau, darahnya di kacau merata, tanduknya di tanamkan agar tidak melukai siapapun (adat tanduk adalah tajam), atau sebagai perlambangan bahwa kesepakatan itu menjadi kawi serta kemudia daging kerbau dimasak dan dimakan bersma. Artinya adalah sebuah undang dan ketetapan telah diundangkan, dan rakyat menerima dengan sepenuh hati, menghilangkan sengketa di dalam negeri.

Dilacak pinang ditapung Batu. Dibelah pinang, ditepung dengan lesung batu, pertanda bahwa kesepakatan telah diterima dengan senang hati.

Di ikek dengan Patiah (al- fatihah). Akhirnya, diikat dengan membacakan Al Fatihah, artinya dari unkapan ini luas sekali, bila di awal penetapan hukum di dalam adat Minangkabau adalah melihat dahulu Mupakat  Syarak (sesuai dengan ketetapan syariat Islam) atau menimbang apakah keputusan yang akan diambil itu  manyalahi syarak (tidak sesuai dengan ketetapan syariat Islam), dan setelah dapat kata putus atau kata sepakat maka dipateri dengan Al Fatihah. Disini hakekat penetapan adat itu di Minangkabau.

Kato Nan Ampek

Adapun nan dikatokan Kato Nan Ampek:

  1. Kato Pusako
  2. Kato Mupakaik
  3. Kato Dahulu Batapati
  4. Kato Kemudian Kato Bacari
  1. Adapun yang dimaksud dengan Kato Pusako ialah:

Meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Misalnya rumah nan Basandi batu. Adat basandi alua.

Itulah Nan Banamo Kato Pusako,

2.      Adapun yang dimaskud dengan Kato Mupakaik ialah:

Kato nan Bacari Sekarang, ataupun hasil pencarian orang yang ahli akal dalam majelis  medan bicara,  maka dizahirkan (dinyatakan) kepada orang banyak saat itu, dan disimpulkan pada ketika itu juga menjadi keputusan.

3.      Adapun yang dimaksud dengan Kato Dahulu Kato Ditapati ialah:  yang sudah ditetapkan oleh dan/atau dalam Syarak yang maha mulia atau pancarian dalam adat yang piawai tetapi mungkin belum sempuran diterapkan atau dipakaikan di waktu itu juga. Adapun untuk menyempurnakan pelaksanaannya maka diperbuat janji, sampai janji itu ditepati, sampai dimana pun janji itu mesti ditepati.

  1. Adapun yang dimaksud dengan Kato Kemudian Kato Bacari ialah: Kato hampir-hampir sudah dapat disepakati, tetapi datang pula sesuatu hajat yang menyebabkan di diperbuatkan pula janji.  Sampai janji itu diperbuat, dan janji itu pula yang akan ditepati  (artinya ada revisi dari perkataan atau keputusan semula, dan tidak berlawanan dengan syariat agama). Karena itu di dalam “kato” adat, ada janji yang dapat diungkai atau dibatalkan dengan mufakat pula.



Undang-undang Nan Empat

Adapun Undang-undang Nan Empat:

  1. Undang-undang Luhak
  2. Undang-undang Nagari
  3. Undang-undang Urang Dalam Nagari
  4. Undang-undang Urang Dalam (Undang-undang 20)
  1. Adapun yang dikatokan dengan Undang-undang Luhak, ialah:

a. Luhak nagari Nan Bapanghulu,

b. Kampuang nan Batuo,

c. Tagak Nan Tak Tasunduak,

d. Malenggang Nan Indak Tapampeh ialah dua perkara:

1).  Maso Nagari Badamai

2).    Maso Nagari Baparang

Adapun Maso Nagari Badamai ialah :

1) Ilmu,

2) Suluah Bendang di Nagari,

3) Rajo,

4) Penghulu,

5) Kamanakan,

6) Anaknyo,

7) Perempuan urang,

8) Imam Khatib,

9) Jamu Bajapuik,

10) Cerdik pandai alim cendekia,

11) Juaro Bajapuik,

12) Pasumando,

13 Jawi-Kabau,

14) Anak Pado Suatu Nagari,

15) Si Bapak,

16) Si Mandeh,

17) Orang dipanggil,

18) Pandai Obat,

19) Tukang Gandang,

20) Guru dan Murid

Adapun pado Nagari Baparang, ialah sapuluh perkara:

1) Ilmu,

2) Barani,

3) Rajo,

4) Penghulu,

5) Imam nagari,

6) Urang dipanggia,

7) Anak dengan Bapak,

8) Guru dengan Murid,

9) Pandai Ubek,

10) Dubalang,

  1. Adapun Nan Kaduo ialah Undang-Undang Nagari Nan Dikato Undang-undang Rumah Tanggo:

1). Balai,

2). Musajik,

3). Korong Kampuang,

4). Labuah,

5). Tapian,

6). Parik Rantang Nandi Bakal

  1. Adapun Nan Dikato Undang-undang dalam Nagari:

1) Salah Cancang mambari bangun,

2) Salah Bunuh mambari pampeh,

3) Salah Ambiak Mengembalikan,

4) Salah Makan Mamuntahkan,

5) Utang Babaia,

6) Piutang Batarimo

7) Ciwarang Baragiah,

8) Barabuak bakatangahkan,

9) Basalahan bapatuik,

10) Gaib bakalamullah Jail Bamindahkan,

11) Salah bakaadaan, Takuruang mati,

12) Tatando bayang-bayangan kalamullah.

Undang-undang Nan Salapan

Undang-undang Nan Salapan itu adalah:

  1. Dago Dadi
  2. Sumbang Salah
  3. Samun Saka
  4. Maliang Curi
  5. Tikam Bunuah
  6. Tipu Tepok
  7. Upeh Racun
  8. Sia Baka

1. a.  Adapun yang dikatokan dago ialah:

Melawan pada barang yang tidak patut dilawan.

b. Adapun yang dimaksud dengan dagi ialah:

Orang yang telah melakukan perlawanan kepado yang tidak patut dilawan.

Jadi Dago-dagi ialah orang yang sudah melanggar dua kesalahan yaitu perlawanan kepada yang tiada patut dilawan.

2.      Adapun yang dimaksud dengan kato sumbang, ialah ;

barang sesuatu pekerjaan yang tiada patut dilakukan, atau dikerjakan dan yang dimaksud dengan pekerjaan salah yaitu orang yang melampaui larangan.

Jadi sumbang salah ialah orang yang telah melakukan dua kesalahan. Satu dia telah mengerjakan yang tidak berpatutan, dam kedua dia telah melampaui larangan.


Sumbang yang Boleh Dihukum:

Yaitu menyalahi akan segala laku perangai dan piil  (perbuatan) yang menyakiti hati orang lain, yakni perbuatan yang memberi malu orang.


Adapun sumbang yang tidak dihukum:

Yaitu segala sumbang yang tidak merusak atau merugikan orang lain. Yang dapat kita lakukan hanya sesat surut;  berobah dibaiki.

Misalnya salah meletakkan kancing baju; yang besar dipasangkan ke yang kecil atau yang diatas terpasang di bawah dsb.

3.      Adapun yang dimaksud dengan  samun, yaitu orang yang sengaja menghambat orang lain pada suatu tempat dengan menggagahi orang itu dengan sebab yang tidak patut, mungkin hanya untuk memperlihatkan gagahnya saja atau beraninya saja.

Yang dimaksud dengan Saka, ialah orang yang menghambat orang disuatu tempat serta menganiayanya yang hujudnya, mengambil kekayaannya.

Rebut rampas; hela hunjam masuk juga kepada bilangan samun saka.

4.      Adapun yang dimaksud dengan kato maliang; ialah orang yang mengambil harta benda orang lain yang terletak dalam tempat simpanan atau di lingkungan kediaman orang itu, diambilnya barang itu dengan sembunyi, diluar sepengetahuan orang yang punya, siang atau malam hari.


Curi: ialah orang yang mengambil harta benda orang lain dengan sembunyi, di luar sepengetahuan yang empunyanya. Yang mana barang itu terletak di luar tempat simpanan yang empunyanya dan maling itu, tiadalah takluk kepada orang lain yang memaling barang-barang  atau harta benda orang saja.

5.      Adapun yang dimaksud dengan Tikam: yaitu orang yang mengamukkan senjata kepada orang lain atau binatang yang masih hidup sampai luka denga tikaman itu ataupun tidak .

Adapun yang dimaksud dengan kata bunuh: ialah membikin orang mati atau mematikan orang ataupun binatang yang bernyawa dengan sengaja meskipun dengan apa jua pun dilakukannya.

Mematikan orang atau binatang itu: dengan senjata tajam atau tidak dengan barang yang keras atau pun dengan kaki tangan, dengan tali, air, api atau yang lainnya yang menyebabkan orang mati (binatang mati).

6.      Adapun yang dimaksudkan dengan perkataan kicuh: ialah orang yang melakukan akal jahat dengan jalan mengumbuk mengumbai, menipu, menepok orang supaya mendapat suatu barang, kepunyaan orang itu, baik pun pekerjaan itu dilakukannya untuk orang lain yang dimaksudkannya, maka itu masuk kepada bilangan kicuh atau mendusta. Demikian juga orang yang hendak berlepas diri dengan akal jahat dal suatu hal.

Adapun yang dimaksud dengan perkataan Kincang: ialah orang yang melakukan akal jahat dengan tipu daya muslihat yang tiada baik yaitu dengan akal jahat yang dimaksudnya hendak menganiaya orang yang dikincang itu atau barang orang itu sama ada barang yang diperkincang hanya itu, untuknya atau untuk orang lain, yaitu dengan jalan memperbelok-belokkan, melindung-lindungkan barang orang itu, supaya barang itu hilang atau jauh dari yang empunya atau tersembunyi yang dimaksudnya barang orang itu jatuh kepadanya atau kepada orang lain yang dimaksudknya, maka dalam hal kincang kicuah ini adalah perbuatan kesalahan yang sanat besar.

7.      Adapun yang dimaksud dengan perkataan upeh: ialah suatu barang yang berbisa, yang menyakitkan orang lain (orang yang memakannya) yang sakitnya berlama-lama.

Adapun yang dimaksud dengan perkataan racun: ialah suatu makanan yang berbisa, kalau ter makan. Siapapun dapat memberikan sakit dengan seketika yang memakan itu dan boleh mematikan orang yang termakan racun itu dengan selekas-lekasnya.

Jadi upeh racun: ialah dua macam makanan yang berbisa yang kalau termakan boleh membunuh dengan seketika pada orang yang memakannya.

8.      Adapun yang dimaksud dengan kata sia (siar): ialah menyamu dengan api yang sedang menyala, disamukan pada barang (benda yang disia itu). Dan bakar: ialah menyamu atau memanggang suatu barang sampai hangus, sama ada dilakukan pembakaran itu dengan api yang sedang menyala ataupun belum menyala yang timbul menyala itu kemudian pada barang yang dibakarnya itu. Meskipun tidak bernyala, tetapi sudah jadi.



Undang-undang Dua Puluh

Adapun yang ka empat adalah undang-undang dua puluh.

Undang-undang yang dua puluh itu dikeluarkan delapan (terdiri dari 12 dan 8)

Yang delapan (8) menentukan nama kejahatan.

Yang dua belas (12)  menentukan yang punya fiil memperbuat kejahatan.

Yang dua belas (12) itu terbagi pula dua ;

Yaitu enam (6) disebut undang yang dahulu ialah pencari jalan induk.

Enam (6) berikutnya bernama undang kemudian ialah pancari jalan cemo

 


Undang-undang Nan Salapan

1.      Tikam bunuh

  1. Samun saka
  2. Upeh racun
  3. Sumbang salah
  4. Lincang kicuah
  5. Maling curi
  6. Rebut rampas
  7. Dago-dagi
  1. Adapun yang dikatakan tikam, ialah: Piil yang menyakiti, dan yang dikato bunuh ialah piil yang menghilangkan nyao

2.      Adapun yang dikatakan samun, ialah: Piil yang menyakiti hendak mengambil barang orang (harta yang dikato saka ialah: Piil yang menghilangkan nyao untuk mengambil harta orang.

3.      Adapun yang dikatakan upeh, ialah: Memberi makanan yang menyakiti badan yang dikato racun ialah: Memberi makanan yang menghilangkan nyao orang.

4.      Adapun yang dikatakan Sumbang, ialah: Piil atau kelakukan yang tidak senonok (seumpamanya). Adapun yang dikato salah, ialah: laki-laki menyeratai perempuan orang lain yang bukan istrinya.

5.      Adapun yang dikatakan lancang, ialah: Memuliakan barang yang hino. Adapun yang dikatakan kicuah, ialah: Mengubahi dari nan sabanyo.

6.      Adapun yang dikatakan maling, ialah: Mengambil harato orang  orang di dalam simpanannya, tidak diketahui orang yang punya. Adapun yang dikatakan curi, ialah: mengambil harta orang lain di luar simpanannya dengan tidak setahu yang punyanya.

7.      Adapun yang dikatakan rabuik, ialah: Mengambil harato orang dengan kekerasan. Adapun yang dikatakan rampeh, ialah: Mengambil harato orang beserta melarikan.

8.      Adapun yang dikatakan dago, ialah: Membantahi adat nan biaso dan yang dikatakan dagi, ialah: mambuek hiru biru dalam nagari (membakar, menyerang, menyuhung paramajo).

Dan yang dikatakan sumbang, ialah: menyarato istri orang lain: cabur-cabir, mahuk-mahang, mahung-marempeh, marampok karumah tangga urang. Segala piil itu ialah kelakukan yang tidak saumpamonyo yang tidak balaku dengan adat atau barang sabagainyo yang menjadi larangan dalam nagari.



Undang-undang Nan Enam (6) nan Dahulu

Undang-undang nan enam (6) yang dahulu ialah yang menunjukkan jalan, terbaiti dan tertuduh.

  1. Talalah takaja
  2. Tatando tabaiti
  3. Tacancang tarageh
  4. Taikek takungkuang
  5. Tatambang ciak
  6. Tatangkok dengan salahnya

Waktu dianya melakukan kejahatan itu tertangkap dirinya beserta barang yang dicurinya itulah yang dikato:


Ayam putiah tabang siang

Tidak buliah batidak lai

Apabila undang nan salapan itu tersangkut oleh undang-undang nan enam dahulu.

Dakwanya tuduh: hukumnya jatuh kepada izab (iqab, hukuman badan).


Undang-undang nan enam (6) yang Kemudian

1.      Basuriah-suriah bak sipasin

  1. Bajajak bak bakiak
  2. Tabayang tatabua
  3. Bajajak barunuik
  4. Kocondongan mato rang banyak
  5. Katiko anggang inggok atal (aka) jatuah.

1.      Adapun yang dikato: Basuriah bak sipasin.

Bertemu seorang oleh orang lain nan bak raso ado seorang menyandang (mengepit, menjinjing, malam atau siang waktu orang kemalingan.

2.      Adapun yang dikato: Bajajak bak bakiak

Bertemu urang lain pada tampaik larinyo sipencuri itu.

3.      Adapun yang dikato: Tabayang tatabua

Tarang kaba (jelas kabar) itu tandonyo.

4.      Adapun yang dikato: Bajajak Barumuik

Hilang jajak putuih rumuik pada suatu rumah atau suatu kampung/tempat.

5.      Adapun yang dikato: Kacondongan Mato rang Banyak

Berlain rupa dan ronanya dari pada yang lain dan dari pada yang biasanya.

Umpamanyo: sebelum urang kemalingan dianya hidup miskin. Tahu-tahu diketahui oleh masyarakat banyak, dia mendadak kaya.

6.      Adapun yang dikato: Katiko anggang hinggok atal (aka) jatuah

Yaitu saat-saat dia berada di tempat itu orang kehilangan atau saat-saat dia berada di situ orang kebakaran, dll

Apabila undang-undang nan salapan itu tasangkuik oleh undang-undang nan anam kemudian. Jadilah dakwanyo cemo (lebih ringan dari pada tuduhan). Hukumnya jatuh kapado basumpah. Adapun undang-undang nan duo baleh itu.

Kemudian dijalankan kenyataan dari padanya nan teraniayo yaitu: kenyataan tatikam bunuh.

Badarah taserak bangkai, tajelo samun saka, padang badarah, upeh racun, sia baka, sumbang salah dalam ( berdarah terserak, bangkai terlihat, terjela samun saka, padang berdarah, upeh dan racun ditemukan, sia bakar telah terjadi, sumbang salah kelihatan nyata)… maka lancung kicuah (mengubah dari yang semulanya), rabuik rampeh, lapia tapakiak, maliang curi jikalau mengatakan kamalingan, dinding tidak umpang-umpang, tidak takanak, lantai tidak baliang, sugi tidak tatagak dengan mangatokan kahilangan mata terbayarlah orang itu dalam rumah nan seperahu.

Artinya tidak boleh menuduh tanpa bukti yang jelas, ini sesuai dengan syariat Islam.

Nan satungkuih bao nasi jikalau ada urang kalua dengan tersembunyi atau lari harus  atau sepantasnya tuduh kapado urang itu.

Maka ditanyokan pulo nagari nan ampek:


Nagari Nan Ampek / Koto Nan Ampek


A. Pertama          :

Koto (tempat yang mula-mula dihuni atau ditunggui)


B. Kaduo :

Taratak (sudah dibuat parit atau batas)


C. Katigo :

Dusun (sudah ada dubalang dan mesjid)


D. Kaampek       :

Nagari (sudah ada mesjid dan balai adat)

  1. Adat yang teradat

Yang dikatakan  adat Ter Adat ialah yang terpakai dai dalam dan Seluak ataupun di dalam Salareh atau di dalam nan Sanagari ialah yang dinamakan.

Cupak nan Sapanjang Batuang.

Di situlah terpakai Pepatah orang tuo-tuo.

Dimana batang Taguliang di situlah Langik dijunjuang.

Dimano Nagari di Tunggui Disitulah Adat dipakai.

  1. Adat istiadat

Yang dikatakan Istiadat ialah adat jahiliah yang terlarang di dalam nan sabana adat, seperti : manyabuang, berjudi, Badaua dan Bagalanggang. Basorak-sorak. Basorai-sorai, Basaluang dan Barabab dan lain-lainnya.

Pesan Terakhir Rasulullah SAW

Wasiat Rasulullah SAW

Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda:
“Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya.

Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.”

“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya.

Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri.
Jika kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih.
Jika engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini.
Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”

“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT,  kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail  dan yang terakhir malaikat Izrail beserta dengan semua para pembantunya.

Setelah itu, barulah kalian masuk semua mensalatiku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata :

“Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami.
Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul?.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
“Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat.
Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja.
Yang pandai bicara itu adalah Alquran,  dan yang diam itu ialah maut.
Apabila ada persoalan yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian,  Beliau kemudian mulai merasakan sakit.

Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari  dan sering diziarahi para sahabat.
Saat Saat Terakhir Sakitnya Rasulullah SAW

Dalam sebuah kitab diterangkan,  bahwa Rasulullah diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin.

Pada Hari Senin penyakit Beliau bertambah berat.
Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW.  Sampai di sana, Bilal memberi salam :
“Assalamu’alaika ya Rasulullah.”

Lalu dijawab Fatimah :
“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”

Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah,
Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu.

Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW
dan memberi salam seperti tadi.  Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW.

Baginda berkata :
“Masuklah wahai Bilal,  sesungguhnya penyakitku ini semakin berat,
oleh karena itu,  kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.”

Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :
“Aduh musibah.”

Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya.

Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong.
Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan.
Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?”

Fatimah pun berkata :
“Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas,  lalu beliau bersandar pada kedua bahu mereka  dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid,  Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah.

Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :
“Wahai kaum muslimin,
kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah.
Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT  dan mengerjakan segala perintah-Nya.
Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kalian.
Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.”

Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.

— di Masjid Al Nabawi, Madinah Haram.

Izrail Menjemput Rasulullah

Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail :

“Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah,  dan jika engkau hendak mencabut rohnya,  hendaklah engkau melakukan  dengan cara yang paling lembut sekali.
Jika engkau pergi ke rumahnya,  minta izinlah terlebih dahulu.
Kalau ia izinkan engkau masuk,  maka masuklah engkau ke rumahnya
dan kalau ia tidak izinkan engkau masuk,  hendaklah engkau kembali padaku.”

Setelah Malaikat Izrail mendapat perintah dari Allah SWT,
Malaikat Izrail pun turun menyerupai orang Arab Baduwi.

Setelah Malaikat Izrail sampai di hadapan rumah Rasulullah,
ia pun memberi salam :
“Assalamu’alaikum yaa ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?”
(mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber risalah,  bolehkah saya masuk?)

Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata :
“Wahai hamba Allah,  Rasulullah SAW sedang sibuk,
sebab sakitnya yang semakin berat.”

Kemudian Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula,  dan kali ini seruan malaikat itu  telah didengar oleh Rasulullah SAW,  lantas beliau bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.”

Fatimah menjawab :
“Ya Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu,  aku telah katakan padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit,  sebaliknya dia memandang saya dengan tajam  sehingga badan saya terasa menggigil.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?”

Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”

Rasulullah menjawab ;
“Dia adalah Malaikat Izrail,  malaikat yang akan memutuskan  segala macam nafsu syahwat  yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan
dan  yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”

Fatimah tidak dapat menahan air matanya lagi  setelah mengetahui,
bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya  semakin dekat,  ia pun menangis sejadi-jadinya.

Ketika Rasulullah mendengar tangisan Fatimah,  Beliau pun berkata :
“Janganlah engkau menangis wahai Fatimah,  engkaulah orang pertama dalam keluargaku  yang akan bertemu denganku.”

Rasulullah SAW mempersilahkan Malaikat Izrail masuk.

Kemudian Rasulullah SAW pun menjemput (mengundang dan memperslahkan)  Malaikat Izrail masuk.  Malaikat Izrail pun masuk dengan mengucap :
“Assalamu’alaikum ya Rasulullah.”

Lalu Rasulullah SAW menjawab :
“Waalaikassaalam, wahai Izrail,  engkau datang menziarahi aku
atau untuk mencabut rohku?”

Berkata malaikat Izrail :
“Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu,  itupun kalau engkau izinkan.
Kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.”

Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?”

Berkata Izrail :
“Saya tinggalkan Jibril di langit dunia,  semua para malaikat sedang memuliakan dia.”

Tidak berapa lama,
Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping) kepala Rasulullah SAW.

JIBRIL MENDAMPINGI RASULULLAH
DALAM MENEMPUH SAKARATUL MAUT

Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril,
Beliau pun berkata :
“Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.”

Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”

Rasulullah bertanya lagi :
“Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.”

Berkata Jibril :
“Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti rohmu di langit.
Semua pintu surga telah dibuka,  dan semua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”

Berkata Rasulullah SAW :
“Alhamdulillah.
Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.”

Berkata Jibril :
” Allah SWT telah berfirman :  “Sesungguhnya aku telah melarang
semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu,  dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum
umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Berkata Rasulullah SAW:
“Sekarang aku telah lega  dan telah hilang rasa susahku.
Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.”

Setelah itu Malaikat Izrail pun mengawali tugasnya.

Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat),
Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.”

Jibril nampak mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika mendengar kata-kata Beliau.
Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?”

Jibril berkata :
“Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu
di kala engkau dalam sakaratul maut ?”

ALLAHUAKBAR

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun …

PESAN DIAKHIR HAYAT RASULULLAH SAW

Anas bin Malik RA bercerita,  ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada,
Beliau bersabda :
“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”

Ali bin Abi Thalib berkata :
“Sesungguhnya Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali,  dan saya meletakkan telinga saya dekat dengan Rasulullah,  seraya Beliau berkata :
“Umatku, umatku.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;
” Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,
kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi  lagi kokoh.
Dan jika mereka memperoleh kebaikan [Kemenangan dalam peperangan atau rezki],  mereka mengatakan : “Ini adalah dari sisi Allah”.
Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana  mereka mengatakan:
“Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”.

Katakanlah:  “Semuanya (datang) dari sisi Allah”.
Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik)  hampir-hampir tidak memahami pembicaraan  [Pelajaran dan nasehat-nasehat yang diberikan] sedikitpun ??”  (Q.S An-Nisa’:78) …

Dalam sepotong hadist Rasulullah SAW mengingatkan kita ;
” Memadailah bagi kalian,  kematian itu menjadi pelajaran ..”
(kafa bil mauti mau’idzah …!!!) …

Wallahu a’lamu bis-shawaab …

 إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبـِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ.

Wassalam

Pesan Nabi Muhammad SAW sebelum Meninggal


Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau (Muhammad SAW) masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Merinding kita mengikuti firman Allah di atas. Sekaligus bersyukur dan bangga telah menjadi pengikut Nabi Muhammad. Betapa mulianya seorang Nabi yang selama ini kita selalu mengagungkan Beliau, Rasulullah SAW.

Betapa mulianya akhlak Kekasih Allah itu, Muhammad Rasulullah SAW. Betapa “luar biasanya” Nabi Muhammad SAW di kalangan malaikat, sahabat bahkan semua makhluk ciptaan Allah SAW. Terutama saat beliau akan meninggal.

Kisah Tangisan Abu Bakar dan Hari Wafatnya Rasulullah. Betapa mulia dan agungnya Beliau. Bahkan malaikat Izrail pun mesti bertanya dulu, apakah ia boleh masuk rumah Rasul, tatkala Izrail diperintahkan Allah mencabut nyawa Rasulullah.
Kita beruntung dan bersyukur tiada tara (sambil berlinang air mata) menjadi salah satu pengikut Rasulullah. Moga makin bertambah cinta kita pada Rasulullah tiada putus-putusnya, hingga akhir hayat kita.
Allah SWT berfirman :
“…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk engkau agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah 5:3)

Diriwayatkan bahwa surat Al-Maidah ayat 3 di atas, turun setelah waktu Ashar berselang, tepatnya pada hari Jumat di Padang Arafah saat musim haji penghabisan (haji wada).

Ketika itu Rasulullah SAW sedang berada di atas onta Padang Arafah. Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah kurang begitu mengerti apa isyarat yang berhubungan dengan turunnya ayat tersebut. Lalu, Beliau bersandar pada ontanya, kemudian onta Beliau pun duduk secara perlahan-lahan.

Setelah itu turunlah Malaikat Jibril dan berkata :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga larangan-larangan-Nya.
Oleh karena itu, kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahu mereka, hari ini adalah terakhir aku bertemu denganmu.”

Kemudian Malaikat Jibril pergi, Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus melanjutkan perjalanan ke Madinah. Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan menceritakan apa yang telah dikabarkan Malaikat Jibril kepada dirinya.

Mendengar hal ini, para sahabat pun gembira sambil berkata :
“Agama kita telah sempurna . Agama kita telah sempurna.”

Tetapi berbeda dengan Abu Bakar Ash-Shidiq, mendengar keterangan Rasulullah itu, ia tidak kuasa menahan kesedihannya dan langsung pulang ke rumah. Lalu mengunci pintu rapat-rapat dan menangis sekuat-kuatnya.

Abu Bakar menangis dari pagi hingga malam.
Alam Semesta Ikut Menangis

Kisah tentang Abu Bakar menangis itu kemudian sampai kepada para sahabat yang lain. Lalu berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar, dan mereka berkata:
“Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat engkau menangis seperti ini? Bukankah, seharusnya engkau gembira sebab agama kita telah sempurna.”

Mendengar pertanyaan dari para sahabat tersebut, Abu Bakar pun berkata :
“Wahai para sahabatku, kalian tidak tahu tentang musibah yang akan menimpa kita. Tidakkah engkau tahu, saat suatu perkara itu sempurna, akan terlihat kekurangannya. Karena itu dengan turunnya ayat tersebut suatu pertanda telah datang waktu yang sangat menyedihkan, yaitu sebentar lagi kita akan berpisah dengan Rasulullah SAW. Fatimah menjadi yatim dan para isteri Nabi menjadi janda.”

Setelah mereka mendengar penjelasan Abu Bakar, sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar. Mereka pun menangis dengan sekencang-kencangnya. Tangisan mereka itu kemudian didengar oleh sahabat-sahabat lainnya, lantas mereka pun memberitahu Rasullah tentang apa yang terjadi.

Berkatalah salah seorang dari sahabat :
“Ya, Rasulullah, kami baru pulang dari rumah Abu Bakar dan kami melihat banyak orang sedang menangis dengan suara kuat di rumah beliau.”

Ketika Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat itu, berubahlah air muka Beliau dan bergegas menuju ke rumah Abu Bakar.

Setelah sampai di rumah Abu Bakar, Beliau melihat semua menangis dan Beliau pun bertanya :
“Wahai para sahabatku, kenapa kalian menangis?”

Ali bin Abi Thalib berkata :
“Ya, Rasulullah, Abu Bakar mengatakan bahwa dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?”

Lalu Rasulullah berkata :
“Semua yang dikatakan Abu Bakar adalah benar dan sesungguhnya waktuku untuk meninggalkan kalian semua sudah dekat.”

Setelah Abu Bakar mendengar pengakuan Rasulullah SAW, ia justru menangis sekuat tenaga, sampai ia jatuh pingsan. Sementara Ali bergetar kemudian terkapar tubuhnya. Para sahabat lain pun menangis dengan sekuat-kuat yang mereka mampu.

Sehingga gunung-gunung, batu-batu, semua malaikat yang di langit, cacing-cacing yang menggeliat di bumi dan semua binatang, baik yang di darat maupun di laut turut menangis.

Kemudian Rasulullah bersalaman dengan para sahabat satu persatu dan berwasiat kepada mereka.
Rasulullah di Qishash


Jangka waktu Rasulullah SAW hidup setelah turunnya ayat (QS.5 Al Maidah ayat : 3) tersebut, ada yang mengatakan 81 hari, ada yang mengatakan Beliau hidup 50 hari, ada yang mengatakan hidup selama 35 hari dan ada pula yang mengatakan bahwa beliau hidup 21 hari.

Pada saat ajal Rasulullah SAW sudah dekat,
Beliau menyuruh Bilal adzan untuk mengerjakan salat.
Lalu berkumpullah para Muhajirin dan Anshar di Masjid Rasulullah.
Kemudian Beliau menunaikan salat dua rakaat bersama semua yang hadir.

Setelah selesai salat, Beliau bangkit lalu naik ke atas mimbar, seraya berkata :
“Alhamdulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang nabi yang diutus dan mengajak manusia kepada jalan Allah dengan izin-Nya.
Saya ini adalah saudara kandung kalian, kasih sayangku pada kalian seperti seorang ayah pada anaknya.
Oleh karena itu kalau ada siapapun di antara kalian yang mempunyai hak untuk menuntut,
maka hendaklah ia berdiri dan membalasku,
sebelum saya dituntut di hari kiamat.”

Rasulullah berkata demikian sebanyak 3 kali,
kemudian bangkitlah seorang lelaki bernama ‘Ukasyah bin Muhshan dan berkata :
“Demi ayahku dan ibuku ya, Rasulullah SAW, kalau anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali soal ini, sudah tentu saya tidak mau mengemukakan hal ini.”

Lalu ‘Ukasyah berkata lagi :
“Sesungguhnya dalam Perang Badar saya turut bersamamu ya Rasulullah, pada saat itu saya mengikuti onta Anda dari belakang. Setelah dekat, saya pun turun menghampiri Anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium paha Anda.
Tetapi Anda telah mengambil tongkat dan memukul onta Anda untuk berjalan cepat.
Pada saat itu saya pun Anda pukul dan pukulan itu mengenai tulang rusuk saya.
Oleh karena itu saya ingin tahu, apakah Anda sengaja memukul saya atau hendak memukul onta tersebut.”

Rasulullah berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, saya sengaja memukul engkau.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal:
“Wahai Bilal, pergilah engkau ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku.”

Saat keluar dari masjid menuju rumah Fatimah, ia meletakkan tangannya di atas kepala seraya berkata :
“Rasulullah SAW telah mempersiapkan dirinya untuk dibalas (di qishash).”

Ketika Bilal sampai di rumah Fatimah, Bilal memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah menyahut dengan berkata :
“Siapakah yang ada di pintu?”

Bilal menjawab :
“Saya Bilal, saya telah diperintah Rasulullah untuk mengambil tongkat Beliau.”

Kemudian Fatimah berkata :
“Wahai Bilal untuk apa ayahku minta tongkatnya.”

Berkata Bilal :
“Wahai Fatimah Rasulullah telah menyiapkan dirinya untuk di qishash.”

Fatimah berkata lagi :
“Wahai Bilal siapakah manusia yang sampai hati mengqishash Rasulullah SAW?”

Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah.
Setelah Fatimah memberikan tongkat tersebut,
Bilal pun membawa tongkat itu ke hadapan Rasulullah SAW.

— di Masjid Al Nabawi, Madinah Haram.

 

Pembelaan Para Sahabat

Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal, beliau pun menyerahkan pada ‘Ukasyah.

Melihat kejadian mengharukan ini, Abu Bakar dan Umar bin Khattab tampil ke hadapan sambil berkata :
“ ‘Ukasyah janganlah engkau qishash Baginda Nabi, tetapi engkau qishashlah kami berdua.”

Ketika Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar dan Umar, dengan segera Beliau berkata :
“Wahai Abu Bakar, Umar, duduklah engkau berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk engkau berdua.”

Kemudian Ali berdiri, lalu berkata :
“Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah SAW, oleh karena itu, engkau pukullah aku dan janganlah engkau mengqishash Rasulullah.”

Lalu Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Ali, duduklah engkau, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”

Setelah itu Hasan dan Husein berdiri dan berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, bukankah engkau tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah, kalau engkau mengqishash kami sama dengan engkau mengqishash Rasulullah SAW.”

Mendengar kata-kata dari cucunya, Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai buah hatiku, duduklah engkau berdua.”

Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau engkau hendak memukul.”

Kemudian ‘Ukasyah berkata :
“Ya, Rasulullah SAW, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.”

Lantas, Rasulullah pun membuka baju.
Setelah Beliau membuka baju, menangislah semua yang hadir.
Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW, ia pun mencium Beliau dan berkata :
“Saya tebus Anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah SAW. Siapakah yang sanggup memukul Anda? Saya melakukan ini karena saya ingin menyentuh (memeluk) tubuh Anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan semoga Allah SWT menjaga saya dari neraka atas kehormatanmu.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Dengarlah engkau sekalian, sekiranya engkau hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.”

Kemudian semua para sahabat bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu.

Setelah itu para sahabat pun berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW dalam surga.”