Paham Mohamad Natsir tentang ‘ideologi negara’… dari khazanah pemikiran Mohamad Natsir … manuscript tulisan Buya Masoed Abidin

PAHAM  MOHAMMAD NATSIR.

TENTANG IDEOLOGI NEGARA

 

 

Mohammad Natsir menjelaskan pemahamannya tentang kaedah agama Islam, dalam hubungannya dengan fatsoen politik dan pemerintahan di Indonesia, antara lain bahwa ;

“ISLAM bukan semata-mata religi, yaitu agama dalam pengertian rohani saja. Islam mengatur hubungan antar manusia dan Allah, dan antara sesama manusia.

Islam merupakan pedoman dan filsafat hidup yang tidak mengenal pemisahan agama dan politik.

Menegakkan Islam tidak dapat  dengan membiarkan pembinaan masyarakat dan negara dengan paham yang lain.

Oleh sebab itu, dalam masa revolusi umat Islam di Indonesia bukan saja dijiwai oleh aspirasi nasional melainkan juga dengan aspirasi Islam”.

 

Berdasarkan pemahaman ayat Qu’ran, yang merupakan keharusan bagi setiap Muslim untuk mengamalkannya, maka Mohammad Natsir berkesimpulan; Seorang muslim menjadi hamba Allah yang harus mengejar kebahagiaan di dunia dan kebahagian di ahkirat.

 

Karenanya, ada perintah Allah yang harus di laksanakan tanpa ragu.

 

Dalam hubungan ibadah dan dien,” Segala sesuatu yang tidak di perintahkan tidak boleh di lakukan”.

 

Jenis perintah yang lain,  yang muamalah sifatnya, pada umum nya menyangkut hubungan antara sesama manusia , atau umumnya soal-soal dunia, disimpulkan mencakup dua segi :

 

1. Berhubungan dengan perintah Allah yang Ma’qul ( dapat  dipahami ), tapi didalam penerapan pelaksanaannya amat bergantung pada perkembangan pemikiran dan penilaian manusia.

2. Tidak secara jelas ada ketentuanya dari Allah, yang dalam hal ini segala yang di izinkan kecuali yang di larang. Dalam hubungan ini si muslim hanya perlu memperhatikan batas-batas atau Hudud yang ditetapkan oleh Allah SWT.

 

Mengenai negara, Mohammad Natsir menjelaskan, diantaranya,   “ Ia mengakui bahwa nabi tidak memerintahkan membuat negara. Dan, memang katanya, “Nabi sudah mengajarkan pedoman tertentu untuk menjalankan pemerintahan agar negara menjadi kuat, sejahtera, sehingga rakyatnya mudah memperoleh tujuan hidupnya”.

 

Sehubungan dengan ini, Mohammad Natsir mengemungkakan juga referensinya tentang kepala negara. Ia katakan bahwa, “Kawan mu hanya Allah dan Rasulnya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, membayar zakat dan sujud”.

 

Mengenai pemberinamaan dan gelar kepala negara tidak jadi  soal utama, yang penting sifat dan perbuatannya, hak serta kewajibannya.

Maka kepala negara harus bermusyawarah dengan rakyat tentang hal-hal mengenai masalah bersama.

Cara musyawarah bergantung pula pada rakyat bersangkutan, apakah menurut cara yang dilakukan masa  Abu Bakar Kahlifah petama, atau masa kini dalam bentuk parlementer.

 

”YANG DITUJU OLEH ISLAM IALAH AGAR AGAMA HIDUP DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SERTA DI NYATAKAN DALAM KETATANEGARAAN, PEMERINTAHAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN”.

 

Rujukan ini sesuai dengan Firman Allah SWT, : DAN HENDAKLAH URUSAN MEREKA  DENGAN MUSYAWARAH.

 

Selanjutnya, baik disimak jalan pikiran Mohammad Natsir tentang hal-hal yang perlu di musyawaratkan dan tidak, terutama dalam penentuan kebijakan hukum yang menyangkut kepentingan orang banyak atau bertalian dengan kemashalahatan kehidupan orang yang bermasyarakat itu.

Kata beliau, “Dalam perlemen suatu negara Islam yang merdeka tidaklah perlu di permusyawaratkan terlebih dahulu, apakah yang harus menjadi dasar pemerintahan, dan tidaklah mestinya ditunggu keridhoan parlemen terlebih dahulu, apakah perlu ditunggu pembasmian arak atau tidak, apakah perlu diadakan pemberantasan khurafat dan kemusyrikan atau tidak”.

 

Maka dalam hubungan ini, terlihat terang kerangka pikiran Mohammad Natsir, yaitu kembali kepada persoalan hudud.

 

 

Islam mempunyai ketentuan-ketentuan yang tetap, umpamanya tentang pemberantasan kemiskinan, tentang nikah dan faraid (pembahagian harta warisan). Ketentuan-ketentuan ini tidak boleh berubah, karena persoalan manusia dalam hubungan ini terus berkelanjutan.

Seorang muslim juga tidak dilarang mengunakan sistim yang dipergunakan oleh bukan muslim (barat ? pen.), selama sistim itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Suatu sistim yang baik bukan monopoli suatu bangsa atau negara.

 

Mohammad Natsir menekankan sekali perlunya ijtihad ini serta kebebasan dalam bermusyawarah :

Agama baru mencampuri soal-soal bila permusyawaratan menjurus kepada moral keadilan dan kemanusiaan.

 

Pada hakikatnya, tidaklah ada suatupun dalam ajaran agama (samawy) dan Agama Islam yang menentang hukum susila dan ini merupakan inti dari suatu ajaran agama manapun.

Menurut sejarah agama Islam, selalu penganut agama minoritas mendapat perlakuan yang memuaskan dalam negara-negara ber pemerintahan Islam.

 

Sungguhpun dalam tatanan masyarakat negara-negara di dunia, “kemerdekaan beragama“ itu masih bersifat relatif, terutama di dalam tatanan kehidupan dunia barat.

 

Padahal kemerdekaan beragama sudah ada di negara-negara berpemerintahan Islam atau mengamalkan secara konsekwen ajaran Islam, sejak masa Muhammad Saw

 

Negara itu sendiri bukan tujuan melainkan sebagai alat. Oleh sebab itu perjuangan tidak berhenti dengan terciptanya suatu negara, walaupun sudah mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

 

Yang teramat penting isinya ; yaitu kemakmuran dan keadilan bagi rakyat.

Dan kalaupun itu sudah tercapai, masih terus ada kewajiban untuk memeliharanya berupa terujudnya ” baldatun thayyibatun warabbun ghafur”, yakni negara yang aman, sejahtera, bersih dari setiap perlakuan yang tidak beradab, dan mendapatkan keampunan atau keredhaan Allah SWT.

 

 

 

Natsir dan Pancasila

 

 

Menurut Mohammad Natsir, “Pancasila di anut sebagai dasar rohani, akhlak, dan susila oleh bangsa Indonesia”.

 

Masalah pokok adalah masalah tafsiran tentang Pancasila.

Tidak seorang pun, termasuk perumus Pancasila sendiri, yang berhak memonopoli tentang tafsirannya.

 

Oleh sebab itu, Mohammad Natsir berhak memberikan tafsiran nya pula.

 

Mohammad Natsir yakin tidak suatu perumus pun yang akan setuju dengan suatu perumusan tentang Pancasila yang berlawanan dengan ajaran agama Islam.

 

Menguraikan masalah ini lebih lanjut Mohammad Natsir mengatakan ;

 

Pancasila adalah peryataan dari niat dan cita-cita kebajikan yang harus kita laksanakan, terlaksananya di dalam negara dan bangsa kita.

Maka, apabila di tinjau dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu, adalah menegaskan kepada segala warga negara dan penduduk negara, dan dunia luar, bahwa sesunguhnya seorang manusia tidak akan dapat memulai kehidupannya menuju kebajikan dan keutamaan, kalau ia belum dapat meyadarkan dan mempersembahkan dirinya kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka, bagaimana AL QUR’AN akan bertentangan dengan sila pertama itu, Dalam pengakuan AL QUR’AN, Pancasila itu akan hidup subur.

Satu dengan yang lain tidak apriori bertentangan tapi tidak pula indentik (sama).

 

 

Berlainan soalnya, apabila sila itu hanya sebagai buah bibir, bagi orang-orang yang jiwanya skeptis dan penuh ironi terhadap agama.

Bagi orang ini dalam ayunan langkahnya yang pertama ini saja sudah lumpuh ….yang tinggal adalah kerangka Pancasila…..

 

Dan, ia (Mohammad Natsir) pun menyerukan kepada umat agar tidak mempertentangkan Pancasila dengan Islam.

 

Mohammad Natsir berkata ;

“di mata seorang muslim, perumusan Pancasila bukan kelihatan suatu barang asing yang berlawanan dengan ajaran Qur’an, dan ia (Mohammad Natsir) melihat dalamnya satu pencerminan dari sebagian yang ada pada sisinya. tapi ini tidak berarti bahwa Pancasila itu sudah identik atau meliputi semua ajaran Islam.

Selanjutnya Mohammad Natsir mengingatkan bahaya sekularisma seperti tercermin juga pada Marxisma.

 

Faham sekularisma tidak sejalan dengan pikiran bangsa kita yang beragama.

 

Mohammad Natsir juga tidak setuju dengan pendapat Soekarno yang menyatakan bahwa Pancasila adalah merupakan pemersatu bangsa, padahal kaum komunis tidak akan bisa menyetujui sila Ketuhanan Yang Maha Esa sunguhpun mereka meyokong Pancasila dalam konstituante.

Pancasila itu sendiri hanya akan berarti bila di kaitkan dengan isi suatu ideologi.

Tetapi karena Soekarno menempatkan Pancasila itu sendiri pada kedudukan netral terhadap semua ideologi, maka Pancasila itu kosong dari isi.

 

 

Pandangan kedua dari Mohammad Natsir, adalah pandangannya terhadap forum konstituante.

 

Mohammad Natsir mengatakan bahwa konstituante merupakan tempat mengeluarkan pendapat dan pikiran anggota secara lurus dan jujur, cerminan pemikiran yang hidup dalam masyarakat.

 

Mohammad Natsir berkata,

Kita mengarapkan agar gedung konstituante (sekarang adalah gedung DPR/MPR) ini dapatlah hendaknya merupakan satu “Sanctuary” yakni tempat aman dimana dapat di adakan konfrontasi antara ide dan ide, pendirian dan pendirian, yang walaupun berlaku secara tajam dan bebas sebagai pembawa tugas kita itu, tetapi tetap didalam suasana ibarat sebuah pulau yang aman tentram di tengah-tengah gelombang.

………hanya selama dalam ruangan konstituante (DPR/MPR) ini tetap hidup dan terjamin rasa bebas mengeluarkan pendapat, tanpa tekan-tekanan dalam bentuk apapun……selama itulah baiknya konstituante (DPR/MPR) ini ada bagi negara dan bangsa (Indonesia, pen)”.

Tentang konstituante (DPR/MPR), Mohammad Natsir berpendapat bahwa lembaga ini hendaknya dapat “menciptakan suatu UUD yang akan tahan uji oleh generasi anak cucu mendatang”.

 

Dalam hal ini Mohammad Natsir tampaknya terdorong oleh tanggung jawabnya pada generasi berikut serta keyakinannya pada Islam.

 

Mohammad Natsir berkata;

”…….Agama Islam yang juga mengatur mengenai ketatanegaraan dan masyarakat hidup ini…….. mempunyai sifat-sifat yang sempurna bagi kehidupan negara dan masyarakat dan dapat menjamin hidup keaneka ragaman atas saling menghargai antara pelbagai golongan dalam negara.”

 

Mohammad Natsir juga memperkuat pendapat Sjafrudin Prawiranegara dengan menunjuk pada sifat negatif dari komunisme dan kapitalisme, katanya :

“Komunisme dalam mencapai kemakmuran , menekan dan mem- perkosa tabiat hak-hak asasi manusia.

Sedangkan kapitalisme, dalam memberikan kebebasan tiap-tiap orang, tidak mengindahkan peri kemanusiaan dan hidup dari pemerasan keringat orang lain dan membukakan jalan untuk kehancuran kekayaan alam”

Dan bagaimana dengan Ajaran Islam ?

 

Mohammad Natsir menjelaskan :

“ Islam mengakui hak dan kepribadian , memberikan kebebasan, bahkan mewajibkan kepada tiap-tiap orang supaya mencari rezeki sekuat tenaga, dan, — berlainan pula dengan kapitalisme, dimana ajaran Islam menekankan bahwa —  kekayaan yang di- dapat itu tidaklah boleh digunakan untuk kepentingan diri sendiri saja, tetapi harus juga di keluarkan untuk menolong sesama manusia, guna menciptakan kemakmuran bersama.

 

 

Catatan ;

Dalam hubungan dengan komunisme memang majelis Syuro Masjumi mengutuk komunisme itu sebagai kufur dan mereka yang secara sadar dengan yakin menyokong ideologi ini sebagai kafir. Pendapat ini merupakan salah satu keputusan Musyawarah (Kongres) Ulama Islam di Palembang 1955.***

 

 

 

 

 

Demokrasi Terpimpin,

Pandangan Natsir Tentang Demokrasi

Dan Pengalaman Masyumi.

 

Masa tahun 1957-1965, demokrasi Indonesia hampir saja berganti menjadi diktator. Masa ini mencatat bangkit dan berkembangnya suatu pemerintahan otokratis yang menumpas tanpa segan tiap oposisi atau pandangan yang tidak menyetujuinya. Demokrasi Terpimpin, nama yang diberikan Presiden Soekarno sendiri. PKI juga berhasil dalam meningkatkan peranannya dalam pemerintahan dan masyarakat.[1]

 

Setelah sistim ini tegak secara penuh, dan Soekarno menjadi Presiden eksekutif mulai tahun 1962 ia menjadi Presiden Seumur Hidup. Ia disebut “Pemimpin Besar Revolusi”.  Ketidak setujuan atau perbedaan dengan pemerintah ketika itu disebut “kontra-revolusioner”. Masyumi telah dilarangnya sejak tahun 1960.[2]

 

Menaggapi penguburan partai yang sebelumnya telah disarankan Soekarno, yaitu bulan Oktober 1956, Mohammad Natsir berkata bahwa selama demokrasi masih ada, selama itu pula partai-partai terus ada. Sealama masih ada kebebasan partai, selama itu demokrasi ditegakkan. Kalau partai-partai dikubur, demokrasipun otomatis akan terkubur, dan diatas kuburan ini hanya diktatur yang akan memerintah.(lihat Abadi, 30 Oktober 1956, Merdeka, 31 Oktober 1956) [3]

 

 

Menurut Pak Natsir (yang waktu itu Ketua Umum Masyumi), “demokrasi bukan semata-mata cara yang dapat diubah setiap waktu menurut keadaan”. Pak Natsir melihat, demokrasi sebagai way of life, jalan atau pandangan hidup. Ia mengakui bahwa, “implementasi demokrasi sebagai suatu sistim memang sukar, oleh sebab itu menurut pengalaman  dan harus pula melalui berbagai cobaan yang kadang-kadang pahit”. Pak Natsir pun mengatakan bahwa, “demokrasi tidak dapat terhidang di atas talam emas, sebaliknya, seringkali meminta korban. Karena itu, salah satu syarat demokrasi ialah bahwa pendukungnya harus memakai partai sebagai alat menurut peraturan yang wajar dan bahwa para pendukung demokrasi ini harus dengan jujur menegakkan nilai-nuilai yang berharga dalam hidup. Jangan alat itu (yakni partai-partai) yang di jadikan tujuan dengan menginjak nilai-nilai hidup”. Karena itu, Pak Natsir menghimbau semua pihak, termasuk politisi dan tentara, untuk menghindarkan diri dari tindakan yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi.[4]

 

 

Demokrasi merupakan satu-satunya sistim yang mungkin menyelamatkan Republik Indonesia, dan diktatur bukan merupakan alternatif. Pak Natsir bertanya, apakah para penegak demokrasi akan dapat mengembalikan kepercayaan yang ketika itu (masa demokrasi terpimpin) sedang guncang.

Pak Syafruddin Prawiranewgara berkata; “inilah bahaya yang sebesar-besarnya yang mengancam negara kita; yakni bahwa demokrasi tenggelam dalam koalisi, dan koalisi kemudia dimakan oleh anarki, dan anarki diatasi oleh golongan-golongan yang bersenjata atau golongan yang menguasai golongan-golongan yang bersenjata itu” (Syafruddin Prawira negara, Indonesia Di persimpangan Jalan, Jakarta/Bandung, Al Ma’arif,1951, hal.9).[5]

 

Menurut Pak Natsir, “demokrasi yang harus ditegakkan ialah yang tidak mengambang, yang tidak menghasilkan kekacauan dan anarki, tetapi yang yang terpimpin damn terbimgbing oleh nilai-nilai moral dan nilai-nilai hidup yang tinggi” ( Abadi 9 dan 10 Nopember 1956).[6]

 

Selama masa demokrasi terpimpin, terlihat dua gejala, “rejimentasi” dan “indoktrinasi”. Kebebasan berpendapat, tertulis dan lisan, kebebasan berapat dan berkumpul di kurangi, dan penjagaan terhadap ini di ketatkan. Kebebasan akademis dianggap Barat, liberal, yang tidak sesuai dengan pribadi Indonesia. Beberapa harian dan majalah, yang dianggap sepaham dengan Masyumi dan PSI (waktu itu) ataupun yang ingin bebas, dilarang terbit. Beberapa orang dosen di Jawa dan Sumatera dilarang mengajar. (Mereka yang terkena larangan mengajar ialah Dr.Bagowi di Yogyakarta, Dr.Mochtar Kusumaatmaja di Bandung, Dr.Deliar Noer di Medan).[7]

 

Selama masa demokrasi terpimpin, masaalah apakah Muhammadiyah akan mengubah statusnya masih terus kedengaran, teruitama setelah Masyumi bubar tahun 1960. Muhammadiyah akan merubah status menjadi partai politik bisa dilihat sebagai perkembangan yang wajar saja. Melalui berbagai kongres organisasi ini tetap mempertegas kedudukannya sebagai organisasi sosial (Antara lain keputusan Kongres Muhammadiyah di Palembang tahun 1956 (Duta Masyarakat 1 Agustus 1956). September 1958, Majlis Tanwir Muhammadiyah berpegang terus kepada keputusan Kongres Palembang, bahkan Hamka yang duduk dalam pimpinan pusat Muhammadiyah merupakan pendudkung fanatik Masyumi, dan bahkan memperlihatkan simpatinya terhadap perjuangan PRRI (Duta Masyarakat 19 September 1959).[8]

 

Pak Natsir serta rekan-rekan (partai Masyumi) yang ikut dengan PRRI tidak setuju dengan saran untuk melepaskan diri dari bagian lain Indonesia. Mereka menganjurkan agar tetap berjuang dalam keutuhan Republik Indonesia (George Mc.T.Kahin, “Mohammad Natsir” dalam Yusuf Abdullah Puar, Muhammad Natsir 70 tahun, Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan (Jakarta, Pustaka Antara, 1978, hal.322-329).[9]

 

Pada pukul 5.20 pagi tanggal 17 Agustus 1960 pimpinan pusat Masyumi menerima surat dari Direktur Kabinet Presiden yang mengemukakan bahwa Masyumi harus di bubarkan. Dalam waktu 30 hari sesudah tanggal keputusan ini, yaitu 17 Agustus 1960, pimpinan partai Masyumi harus menyatakan partainya bubar. Pembubaran ini harus diberitahukan kepada Presiden secepatnya. Kalau tidak partai Masyumi akan di umumkan sebagai ” partai telarang”. (Surat direktur kabinet Presiden, M,Tamzil, bertanggal 17 Agustus 1960 no: 2730/TU/60. Keputusan Presiden juga bertanggal 17 Agustus 1960 no: 200/60. Lihat juga duta masyarakat 19 Agustus 1960;

Bajasut, Alam fikiran hlm.159-160)[10]

Kurang dari sebulan kemudian, yaitu tanggal 13 September 1960, pimpinan pusat Masyumi menyatakan partainya bubar. Ini tidak berarti bahwa Masyumi menyetujui instruksi Presiden, pada tanggal 9 September ketua umum Masyumi, Prawoto Mangkusasmito, meminta kepada rekannya Mohammad Roem sebagai pengacara mewakili partai dalam pengadilan, mengadukan Presiden kerena telah melangar UUD 1945, dan oleh karenaituPenpres tidak sah; tiap tindakan pemerintah yangdidasarkan atas Penpres merupakan suatu tindakan melanggar hukum yangjuga bisa di golongkan sebagai penyalahgunaan kekuasaan.(Abadi 10 Septembar 1960. Ini kedua kali sesudah presiden Soekarno diadukan kepengadilan. Pengaduan pertama pada tahun 1960 juga ketika Sutomo, bekas mentri dan ketua PRI, mengadu ke Mahkamah Agung karena Presiden membubarkan parlemen. Pengaduan ini tidak pernah diproses dengan semistinya. Lihat cat. 45).

 

Tetepi pengadilan khusus Jakarta, tanggal 11 Oktober bahwa ia tidak berwenang mendengar pengaduan kerena bersangkutan dengan kebijaksanaan politik pemerintah dalam soal konstitusi. (Keputusan pengadilan itu berdasar Staatsblad 1347-23 dan staatsblad 184-57, keduanya dari zaman kolonial. Lihat bajasut, Alam Fikiran, hlm. 164-177).[11]

 

Mengenai Masyumi, Hatta mencelahnya lebih lagi karena bunuh diri dilarang dalam agama. (Juga surat Hatta kepada penulis tanggal 16 Oktober 1975).

Mereka ahkirnya mengambil keputusan bahwa partai yang dilarang akan lebih banyak kesulitan dan bahaya bagi angota-angotanya dibanding dinyatakan bubar oleh pimpinanya.[12]

 

Prawoto Mangkusasmito dan Mohammad Roem melanjutkan peranya sebagai pimpinan politik informal bagi para simpatisan Masyumi, termasuk bekas anggota istimewa. Sekurang-kurangnya mereka sebagai tempat tempuan bila diperlukan apalagi pada saat-saat orang kebingungan melihat perkembangan keadaan; sekurang-kurangnya sebagai tempat melepas perasaan yang sesak tertekan, dan kalau bisa tempat meminta nasehat dan saran. Setelah mereka ditahan mulai Januari 1962, tempat tumpuan itu berpindah kepada Fakih Usman sampai para pemimpin lain bebas tahun 1967. (Setelah Mohammad Natsir dibebaskan dari

tahanan tahun 1967 ia kembali menjadi tumpuan bagi para pengikut Masyumi).[13]

 

Hal yang sangat memberi pengaruh bagi

perkembangan dan peranan kalangan Islam dalam politik selama priode Demokrasi Terpimpin adalah bnyaknya di antara pimpinan mereka yang titahan atau di penjarakan.

Mohammad Natsir,Syafruddin PrawiranegaraBoerhanoedin Harahap, berada dalam tahanan dari tahun 1961 hinga 1967.

Pada tahun 1962 Mangkususanto, Mohammad Roem, M. Yunan Nasution, E.Z. Mutaqien, dan K.H.M. Isa Anshary

(di Madiun); ada yang sendiri-sendiri, seperti Hamka

(di Sukabumi), Ghazali Sjahlan, Jusuf Wibisono dan Kasman Singodirmedjo, Kiai A. Mukti serta S. Soemarsono juga Djanamar Adjam(pegawai tinggi Deplu), dan H.M. Sjaaf

(ek pimpinan redaksi Abadi),ditahanan  meliter.

Dalam kalangan NU, Imron Rosjadi ditahan bersama-sama dengan Prawoto, Roem, Yunan, Muttaqien dan Isa Anshary di Madiun. Mentri Sutan Sjahril, Anak Agung Gede Agung dan Sultan Hamid, pemenjaraan atau penahanan seperti ini memberi dampak yang positif dan negatif. Di satu pihak penahanan itu mennumbuhkan banyak kesadaran pada kalangan masyarakat bahwa pemerintah Soekarno dalam zaman Demokkrasi Terpimpin merupakan pemerintah yang zalim, dan oleh sebab itu perlu di tumbuhkan yang pertama dapat menghimpunkan mereka yang sepaham yang mendambakan kehidupan yang bebas, dan oleh sebabitu mempersiapkan diri untuk masa berikutnya yang pasti akan tiba.

Para anggota Masyumi mencaba menjaga diri mereka itu dengan mengadakan saling hubungan sesamanya yang berpusat di Jakarta pada diri K.H. Fakih Usman.[14]

 

Pengalaman Hamka, Ghazali, Sjahlan, Jusuf Wibisono,

Kasman Singodimejo, Yunan Nasution, serta Soemarsono akan menambah pembendaharaan kita tentang masa Demokrasi Terpimpin itu.

Hamka ditangkap oleh alat-alat negara di rimahnya di Jakarta tanggal 24 Januari 1964. Letnan Kolonel Nasuhi

yang juga ditahan di sekolah kepolisian lebih menyedihkan lagi adalah pengalaman Ghazali Sjahlan. Kasman Singodimedjo karena ia turut membela kawan-kawannya tang ikut bergabung dalam PRRI tahun 1958, Tanggal 9 November Kasman ditahan lagi.

Jusuf Wibisono juga dituduh turut serta dalam rapat gelap di Tangerang. Ia diambil di rumahnya di Pengangsaan Timur, Jakarta, 26 Desember 1963 dan langsung ditahan di kantor kepolisian.

M. Yunan Nasution Sekretaris umum Masyumi ditahan mulai tanggal 16 Januari 1962 dan dibebaskan tanggal

17 Mai 1966.

Soemarso Soemarsono, bekas tokoh GPII pada tahun 1963 ia ditahan dipenjara Kalisosok, Surabaya.

Malah Mohammd Natsir, bekas pedana mentri dan telah mendapat amnesti sehubungannya keterlibatanya dalam PRRI, ketika ditahan di RTM Jakarta pernah ditempatkan di bagian kriminal.(ibid hal 118-121). Pak Natsir memmang tidak sebebas yang disangka ketika ia turun dari perdalaman Sumadtra memenuhi pangilan pemerintah; malah anaknya yang sulung dinikahkannya di penjara, kerena ia tidak dibolehkan menghadiri perkawinan anaknya dirumah. Ia di bebaskan tanggal 14 Juli1966.

Cerita-cerita tantang penjara di masa Demokrasi Terpimpin berakibat positif dan negatif. Ia menakutkan sebagian masyarakat, tetapi ia juga menguatkan hati sebagian lain.

Yang akhir ini melihat masa yang dihadapi sebagian lanjutan pengorbanan dan perjuangan yang lama dan yang akan diteruskan lama pula pada masa berikutnya. Sebab, hidup memmang perjuangan.[15]

Bagi partai Masyumi yang bubar pada tahun 1960, kaderisasi yang lemah sebelumnya diperlemah dengan pembaharuan partai ini. Praktis tidak dapat dipupuk kemampuan kalangan mudanya secara sengaja; mekanisme untuk itu pun tidak terwujud.

Angkatan muda Islam yang lain, yang bekumterikat pada salah satu partai pada tahun 1950-an sampai tahun 1965, umumnya tidak memperoleh kesempatan tampil. Partai yang ada, apalagi setelah masa Demokrasi Terpimpin tegak, tidak menimbulkan kegairahan untuk bergabung dengannya

Oleh sebab itu, mereka pada umumnya menanti, kalau-kalau perubahan itu tiba— yang memmang diperkirakan pasti tiba.[16]

Perkembangan keadaan memang turut juga mengikat solidaritas sesama mereka walau tidak secara lahir.

Suasana Demokrasi Terpimpin memang tidak mendorong konsolidasi, melainkan menuntut usaha untuk bertahan hidup atau saling menghancurkan. Tetapi umat Islam pada akhir masa yang kita bicarakan ini masih kuat. Tercermin dalam usaha-usaha penumpasan Gestapu/PKI selama akhir tahun965,tahun 1966, pemikiran-pemikiran banyak dilontarkan yang sejalan dengan tuntutan keadaan, tokoh-tokoh Masyumi Kegairahan menghadapi masa berikutnya juga meningkat, rasa optimisme muncul kembali.

Orang bagai merasa bahwa pengorbanan sebelumnya tidak percuma diberikan.[17]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROSES KRISTALISASI

ISLAM DAN POLITIK

 

Gagasan Soekarno dalam bentik Demokrasi Terpimpin. Demokrasi gaya baru ini telah membawa Soekarno kepuncak kekuasaan yang memmang sedah lama ia dambakan, karena fondasi tidak kokoh,sistim itupulalah yang akhirnya membawanya ke jurang kehancuran politik untuk selamanya, dia terkubur bersama sistim yang diciptakanya.

Sekitar enam setengah bulan sistim ini beroperasi dalam sejarah kontemporer Indonesia, Secara politik umat Islam tidak saja berbeda pandangan, bahkan berpecah-belah berhadapan sistem yang diciptakan Soekarno.Budaya politik Indonesia yang sedang dikembangkan pada waktu itu adalah budaya politik otoriter dengan Soekarno, PKI, dan pimpinan tertiggi angkatan darat sebagai pemain utamanya.[18]

 

Demokrasi Terpimpin dalam prakteknya adalah sistem politik dengan baju Demokrasi tapi minus demokrasi.[19]

 

Pembentukan Dewan Nasional yang dapat ditafsirkan orang sebagai kekuatan Ekstraparlemen, Soekarno hendak merubah sistem ketatanegaraan Indonesia sampai kedasarnya. Cara-cara berfikir dan bertindak yang tidak Konstitusional ini seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Presiden yang telah disumpah secara konstitusional.

Pembentukan Dewan Nasional memang tidak jelas dasar hukumnya. Oleh sebab itu, negarawan-negarawan seperti,Hatta, Pak Natsir dan Syahrir telah mengecam pembentukan Dewan yang tidak punya dasar konstitusi ini.[20]

 

Roeslan Abdoelgani mengusulkan agar pidato kenegaraan Presiden 17 Agustus 1959 dijadikan Monifento politik (Manipol) yang kemudian berkembang menjadi Manipol-USDEK (UUD1945,sosialisme Indonesia, Demokrasi ala Indonesia, Ekonomi Terpimpin dan Keadilan Sosial) yang kesemuanya menjadi landasan dasar bagi pelaksanaan Demokrasi Terpimpin.(ibid hlm. 454)

Kemudian dijadikan mata kuliah wajib di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Pada bulan-bulan pertama perlaksanaan Demokrasi Terpimpin terlihat proses kristalisasi yang cepat antara pendukung dan penentang terhadap demokrasi gaya baru ini. Siapa yang mendukung  dibiarkan hidup, sedangkan yang menentang harus disingkirkan.[21]

 

Masyumi memilih jalan martir ketimbang menyerah, sekalipun jalan ini ternyata di kemudian hari mempunyai akibat-akibat yang jauh bagi pembangunan demokrasi politik di Indonesia. Sekiranya Masyumi dapat lebih sabar dan tidak “Tenggelam”dalam arus idealisme martir, barang kali sistem demokrasi tidak akan tersingkir begini parah dalam sejarah modren Indonesia.[22]

 

Secara garis besar,ada dua kelompok partai Islam pada masa itu. Kelompok pertama, Masyumi yang memandang keikutsertaan dalam sistem politik otoriter sebagai penyimpangan dari ajaran Islam.Kelompok kedua, Liga Muslim (NU,PSII dan Perti), berpandangan bahwa turut serta dalam sistem Demokrasi Terpimpin adalah sikap realistis dan pragmatis.[23]

 

Di mata Masyumi sistem Demokrasi Terpimpin akan membawa bencana bagi bangsa dan negara. Karena itu move

Soekarno harus dilawan, apapun akibatnya.

Semangat inilah yang saya istilahkan sebagai “Idealisme Martir” Masyumi yang mempunyai resiko politik yang sangat besar bagi golongan modernis muslim Indonesia.

Masyumi sebagai cagar Demokrasi tampaknya tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi Soekarno dan sistemnya, sekalipun denga sisa-sisa tenaga yang tak seimbang.

Harapan Masyumi bahwa rakyat akan berpihak kepada Demokrasi, tidak kepada sistem otoriter, ternyata sia-sia.

Sementara itu, PKI yang sangat lihai dalam manipulasi politik, berpihak sepenuhnya pada sistem Soekarno. Semua orang pun tahu salah satu tujuan tahtik PKI itu adalah untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya, dan yang terbesar adalah Masyumi. (Untuk mengikuti pandangan politik PKI terhadap Revolusi Indonesia, baca apendiks III. Di situjelas sekali bahwa tujuan PKI berkoloborasi dengan Soekarno antara lain untuk melumpuhkan kekuatan”kepala batu”. Masyumi di mata PKI merupakan salah satu yang dimaksud).[24]

 

Golongan modernis, khususnya Masyumi, tidak patut lagi hidup pada Era Demokrasi Terpimpin. Masyumi harus dikorbankan “demi Revolusi”. Sikap penguasa seperti inilah yang sudah lama di rindukan PKI. Sebagai kekuatan politik yang terlatih, PKI tentu berucap: “Mengapa kesempatan emas ini tidak dimanfaatkan?” Adapun Liga Muslimin di mata PKI, sekalipun juga musuh, tidak sesukar menghadapi kekuatan “kepala Batu”.[25]

 

Memang, bila di lihat dari sudut paham keagamaan di Indonesia, PSII termasuk kelompok modernis. Tapi dalam kenyataan, tdak ada jaminan bahwa sesama penganut modernisme Islam akan sesalu bersatu dalam satu perahu dalam berpolitik. Apakah fenomena ini adalah bayangan ketidak dewasaan umat Islam dalam berpolitik.[26]

 

Saya menelusuri kembali logika Revolisi Soekarno dalam kaitanya dengan pertai-partai Islam. Menurud Mohammad Roem, Logika Revolusi” ialah….. harus ditarik garis yang tegas antara sahabat dan musuh Revolusi.” Masyumi dan pimpinan-pimpinannya dimasukan dalam katagori musuh Revolusi dan kare itulah harus di singkirkan. (Mohammad Roem, pelajaran dari sejarah, Surabaya: Documenta, 1970, hlm. 9.)

Dengan gaya santai dan lucu, Roem menulis:

Sebelum kami dibawa ke Madiun selam dua bulan St.Syahrir

Prawoto, dan saya ditahan di sebuah rumah di Kemayoran Baru. Di situ “logika Revolusi” menganggu pikiran kami masing-masing.Tidak bagi kami sendiri dan keluarga kami umumnya. Bagi kami sendiri Lgika Revolusi sama dengan “sewenang-wenang”, dari yang “berkuasa”: yang meskipun tidak disangka-sangka, tidak jarang terjadi diriwayat manusia.

Tapi ada salah seorang dari keluarga St. Syahrir yang belumdapat mendudukan Logika Revolusi itu yaitu Buyung, anaknya yang paling muda berumur 5 tahun. Untuk Prawoto

anaknya yang paling muda berumur 7 tahun. Bagi saya sendiri, Bu Karto, ibu mertua, umur 79 tahun. Begitulah dalam dua bulan pertama itu, Kami ber tiga menderita bingung memikirkan seorang keluarga Buyung, Bas dan Ibu Karto, yang kalau mencari Logika Revolusi tidak akan mampu menemukan jawabannya.(bid. Ejaan disesuaikan dengan EYD).

 

Tidaklah sewenang-wenang penguasa terhadap

lawan-lawan politik, menurut Roem, adalah bagian yang menyatu dengan logika Revolusi Soekarno. “Soekarno tidak orisinil”, tulis Roem seterusnya.[27]

 

Tidak mampu menarik pelajaran dari sejarah merupakan sisi lemah dari kesadaran moral manusia, tidak terkecuali—bahkan mungkin terutama—penguasa yang haus kekuasaan. Kekuasaan tampa wawasan moral yang tajam akan bermuara pada kesewenang-wenangan. Tindakan sewenang- wenang itulah yang diderita sebagaian besar lawan politik Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin.[28]

 

Bukankah Pak Natsir sebagai perdana mentri juga restu Soekarno, John Coast, warga Inggris seorang yang bemoral tinggi. (John Coast, “Ada saat genting dan saat piknik di zaman Revolusi”, Tempo,no. 45, th. XVII (9 Januari 1988), hlm. 107, berdasarkan tuturan A. Dahanan dan Mohammad Cholid).[29]

 

Setelah Pak Natsir mengantikan Soekitman sebagai Ketua umum Masyumi pada tahun 1949, Pengaruhnya dalam partai memang terasa sangat besar. Hal ini tidak meherankan karena ia berkulifikasi sebagai intelektual dan kia sekaligus.

Bahwa Pak Natsir adalah seorang tokoh modernis yang tidak selalu dapat diterima budaya pesantren tradisional, juga merupakan fenomena lain yang harus di pertimbangkan bila orang berbicara tentang pemisahan NU dari Masyumi pada tahun 1952. Setelah pucuk pimpinan Masyumi tergengam di tangan Pak Natsir dan kelompoknya, tampaknya di mata Soekarno rumusanya menjadi: Natsir = Masyumi dan Masyumi = Pak Natsir.

Maka bila Pak Natsir turut dalam pemberontakan daerah, berarti Masyumi terlibat pula. Suatu rumusan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dari sudut pandangan yuridis frmal, tapi itulah yang menjadi kenyataan sejarah. Dan terhadap kenyataan ini. Seorang sejarawan tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengakuinya sebagai suatu kenyataan.

Masyumi di mata Soekarno adalah rival politik yang sangat menggangu. Sampai akhir 1950-an, Pak Natsir tetap tak terkalahkan oleh kelompok Soekiman untuk menduduki jabatan ketua umum partai itu. Pak Natsir dan kelompoknya memang sangat kritis terhadap move-move politik Soekarno sebelum dan selama priode Demokrasi Terpimpin.[30]

 

Pak Natsir pernah menilai sistem itu dengan mengatakan:

….bahwa segala-galanya akan ada didalam Demokrasi Terpimpin itu kecuali Demokrasi. Segala-galanya mungkin ada, kecuali kebebasan jiwa. Segala-galanya mungkin ada kecuali kehormatan dan martabat pribadi manusia. Dalam istilah biasa semacam itu kita namakan satu diktatur swenang-wenang. (Dikutip dari Yusuf Abdullah Puar,”Trias Politika RI Sering digugat”, Panji Masyarakat, no.250, th. XX

(juli 1978), hlm. 23. Garis miring dengan aslinya).

 

Sebagai orang yang merasakan benar betapa “panasnya” sistem Demokrasi Terpimpin, Pak Natsir tentu mempunyai hak sepenuhnya untuk menilai sistem itu. Apabila sejak peristiwa

“patah arang” antara Soekarno dan Pak Natsir pada awal tahun 1951, lontaran kritik semacam itu adalah wajar belaka, sekalipun berakibat buruk bagi Masyumi.

Keputusan Presiden No. 200/1960 yang diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1960, maka pada tanggal 13 September 1960, Pimpinan partai Masyumi menyatakan partainya bubar untuk memenuhi ketentuan-ketentuan dalam keputusan Presiden. Hilangnya Masyumi dan PSI dari pelataran sejarah modren Indonesia, dapat diartikan sebagai robohnya pilar-pilar demokrasi dan merapuhnya Indonesia sebagai negara hukum yang dengan gigih di perjuangkan.[31]

 

Oleh mendiang kedua partai tersebut. Mehilangnya Masyumi dari peredaran sejarah, bagi umat berarti sempurnanya proses kritastalisasi di kalangan partai-partai Islam dalam menghadapi dominasi politik Soekarno. Sampai berakhirnya sistem Demokrasi Terpimpin pada tahun1965, sebagai umat di bawah pengaruh yang sangat kuat dari sayap pesantren telah menjalankan politik akomodasi dengan sistem yang baru itu, yang juga di dasarkan atas justifikasi-justifikasi agama.

Sebagaimana yang tidak jarang terjadi sepanjang sejarah Islam di permungkaan bumi. Karena manusia mudah sekali melupakan masa lampau, maka fenomena serupa tidak tertutup kemungkinan akan terulang kembali. Mungkin karena bercermin pada kenyataan ini, orang sering mengatakan bahwa sejarah itu berulang,sekalipun tidak ada corak yang benar-benar sama.

Sikap Masyumi melawan Soekarno dapat ditafsirkan seperti seorang yang membunturkan kepalanya ke tembok tebal. Tapi, itulah yang dipilihnya demi Demokrasi dan negara hukum.[32]

 

 

 

 

Kepada Fi‑atin Qalilatin

Cukup Allah Tempat Berlindung

 

Telah bertingkah guruh dan petir

Seakan kilat akan menyambarmu

Telah menghitam awan di hulu

Seakan gelamat hendak melandamu

 

Telah berdendang lagu dan siul

Seakan rayuan membawamu hanyut

Tegakkan kepalamu dini hari…!

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar waLillahil hamd

Hanya Allah Yang Maha Besar

Kepada‑Nya pulang puji dan syukur

Kembalilah kamu ke dalam hidayat dan taufiq‑Nya

 

Pancangkan Petunjuk Ilahi dalam kalbumu

 

Cukuplan Allah bagimu tempat berlindung

Dialah yang akan menegakkan pendirianmu

dengan perolongan langsung daripada‑Nya

dan kekuatan Mukminin sama seiman

 

Innahu la yakhliful mie’aad

 

Mohammad Natsir, 30 Maret 1961

(Judul asli: Minal Aidin wal Faizien)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAI’ATUL QURBA[33]

 

Bai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan terus berkelanjutan sebagai pesan dari “pemimpin”,

 

1). Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”[34]

2). Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru, tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru-tiru. Tetapi memang kepandaian-kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.

Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, apalah artinya kepadaian-kepandaian seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar dan yang semacam itu.

Dalam pada itu, secepat-cepat terbangnya pesawat jet dia tidakkan bisa, tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali.

Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyai undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani.

Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.

 

3). Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Tetapi kecenderungan penduduknya, di bidang ekonomi ialah kepada mencahari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian  mereka. Padahal sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang.

Ini seringkali “dilupakan” pula.

 

Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, (amaliyah) sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan  pribadi mereka sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang.

Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform”.

Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu, tetapi memang begitulah hakekatnya.

 

4). Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Baru saja Irian Barat menjadi Wilayah R.I. belum apa-apa di Kotabaru sudah ada “Restoran Padang”.

Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar.

Kita bicara saja dengan beberapa orang yang mempunyai modal, kita terangkan saja umpamanya bahwa pertanian dan peternakan yang menghasilkan barang-barang untuk keperluan sandang dan pangan adalah mempunyai harapan baik bila benar-benar dijadikan obyek usaha. Apalagi bila diiringi dengan penyempurnaan cara pengolahannya.

Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yag terus berkembang dan penghematan devisa. Mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah  secara besar-besaran, memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain.

Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini.

Nanti orang kampung  sekitarnya bisa pula menerima upah dalam perusahaan secara besar-besaran itu.

Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat.

“Penasehat” dengan honorarium yang lumayan. Tak usah turut bekeja payah-payah. Nama awak saja yang dimasukkan dalam formasi management. Dengan itu dapatlah pula dikurangi anslah pajak C.V ataupun perseroan. Upayanya begitu, ini kalau ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata-mata.

5). Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik.

Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa ini dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus”.    Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

a.  hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;

b. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);

c.  keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;

d.  ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;

e.  keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a;

Ini wijhah yang hendak di tuju.

Ini shibgah yang hendak di pancangkan ;

Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.

 

6). Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.

Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing.

Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu.

Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak..

Semoga di jauhkan Allah jualah kita semua dan keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan, Amin !

Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan pada angka (4) tadi itu, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali, agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata, dengan mempergunakan jalan-jalan yang kita rintiskan ini. Asal hal-hal yang semacam itu lekas-lekas dapat dipintasi, Insya Allah mereka akan masuk shaf kembali ;

“kok io kito ka-badun sanak juo ……….!”

 

7). Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap. Akan tetapi rasa bahagian kia yang tertinggi, ialah apabila kita dapat melihat bahwa itu hanyalah salah satu dari  ribuan dapur yang berasap karenanya.

Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah.

Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar. Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini.

 

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing, senantiasa akan membimbing kita dalam  menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Nya jua, Amin!. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.

B i s m i l l a h !

Dari sini kita mulai !

Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi, semakin terasa kesulitan yang harus dilalui.

Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ;

“rasa  berpantang putus asa,

bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati,

dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai,

yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

 

 

 

 

 

 

 

 

TAFSIR AT-TAUSHIATUL KHAMSAH

 

Kalau kita memperhatikan risalah “At Taushiatul Khamsah”, oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah :

 

Konservasi – yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang ada

Maksud konservasi itu untuk membukakan jalan bagi re-integrasi yakni “menghimpun yang tadinya berserakan”.

Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun.

Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan.

Begitu intisari dari “At Taushiatul Khamsah”, ….

 

1). Konservasi

Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balans

Alhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan.

Terutama ialah berkat adanya “anti toxine” lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh.

Bisa timbul pertanyaan ;

“apakah “utuh” itu ?

 

Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain?

Jika pada umumnya demikian, ini barulah “taraf minimal” sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu.

Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi.

Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa di kalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejala-gejala “ranun” itu.

Ada yang “uzlah”pasif

Ada yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus makshiyat 100%.

Ada yang hanya mengeluh;

Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini.

Lalu menunggu perkembangan keadaan. Kalau-kalau keadaan akan berubah.

Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan “keadaan sudah berubah”.

Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut.

Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita.

Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita.

Ini tentulah akan bergantung kepada :

– apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak.

Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif.

Re-integrasi dalam tiga bidang :

(1) bidang umat,

(2) bidang pemimpin,

(3) bidang kader.

 

2). Bidang Umat

A. Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi umat yang dipancarkan dari “lembaga risalah” warisan Rasul.

Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka  pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluran-saluran lain.

Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu.

Jangan kita lupakan bahwa yang paling  menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani.

Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu.

Untuk merawat luka “kehidupan rohani” itu,  kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada “lembaga risalah” yang hidup dan dapat memancarkan ….?

 

B. Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal.

Yang diperlukan bagi mereka ialah ;

(1).  perhatian dari pada kepala keluarga (jamaah), dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.

(2).  hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa “hubungan moril”.

(3).    menduduk-kan “nawaitu”nya,

Yang tersebut belakangan ini, “menduduk-kan nawaitu-nya” penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi.

Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas,   dengan seseorang yang  melaksanakan kegiatannya, walaupun  sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya.

Yang pertama merasa,  dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko.

Yang kedua merasa, masih merasa  dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu.

Pada umumnya, mendudukkan niat, memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan  idea di bidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada  keimanan.

Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik.

Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar  dalam kalbu masing-masing anggota  keluarganya.

Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup  suburkan rasa dan  kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga.

 

C. Sesungguhnya kita masih banyak  mempunyai saluran tenaga.

Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru…

Dan bisa pula ditambah dengan yang paling baru lagi.

Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain. Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh.

Di samping itu dimana  pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya.

 

 

 

3). Re-integrasi keluarga

Untuk itu re-integrasi di kalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak.

Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak kukunya yang sebenarnya.

Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan “tanda kutip”, dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentang, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi.[35]

Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha re-integrasi di bidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa.

Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsur-angsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu.

Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali.

Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita  paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun  kesal.

Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan “tanda kutip” itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, sebagaimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya.

Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ;

 

“ Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali” …..,

Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 – 99 ….., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia.

Silahkan ulangi mentelaahnya,

kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya ….,

 

Re-integrasi pada niveau (lingkungan/tingkatan) kepala keluarga adalah integrasi selektif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi.

Bukan untuk satu neveau golongan saja,               bukanla keseluruhannya bisa diganti dengan umat yang lebih baik,

Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu.

Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjadi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktor-faktor subjektif.

Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui.

Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu  daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang.

 

Satu dan lainnya dengan semboyan dan tekad;

“yang sulit kita kerjakan sekarang,

“yang tak mungkin, kita kerjakan beresok .….    Insya Allah,

“yang mudah sudah banyak orang lain menger jakannya

Jangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan.

Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan.

Dan di coba lagi maju selangkah,

dan begitu seterusnya ……

Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami.

Tak  perlulah disini “orang tua diajar pula memakan bubur lagi”.

Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif.

Re-integrasi aktif menghendaki aktifitas.

Aktifitas menghendaki bimbingan.

Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat.

Bimbingan harus berdasarkan rencana,

Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data  yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi  lokal,

interlokal (dan sentral dimana bisa) …..

 

 

4). Kader

Zaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya.

Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu.

Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan umat yang akan  lebih panjang  umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu.

Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan sebagai suatu “conditio sine quanon”, ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan.

Satu-satunya jalan itu, ialah ;

Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah.

Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan “zelf – disiplin” mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa.

Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisi-pengisi waktu yang kebetulan berlebih.

Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang “masuk agenda”, yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis.

Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan;

 

(A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh limaan) dulu, syukur.

Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter sebagai bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas – yang akan mereka jalankan itu.

Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h  dalam arti yang luas.

 

Apa yang kita lihat dan rasakn dalam “keadaan” sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan “dasar jiwa” bagi para calon pemimpin umat.

Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji “kalimat ilahi”, akan tetapi lantaran  dasar yang tidak kuat ditengah perjalanan, tertempuh jalan yang disebut “tujuan menghalalkan semua cara”.

Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.

 

(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi “sarjana”.

Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif.

Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan umat ialah “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah umat.

Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang “melek buku” tetapi “buta masyarakat”.

Sedangakn kemahiran membaca “kitag masyarakt” itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata-mata.

Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah umat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat dipelbagai bidang.

Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung umat, dan lambat laun berurat pada hati umat itu.

Makin pagi makin baik ……,

 

Maka ditengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses “timbang terima” secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti.

Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan “api” ialah batu api juga.

 

5). Konsolidasi & Polarisasi

Tenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang telah digiatkan lagi, kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu, hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama.

Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi “mangsa” atau terdesak dalam kompetisi antara bermacam-macam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah  sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh.

Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis.

Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga.

Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh.

Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain.

Kalau  belum bisa dalam bentuk  organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktu-waktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah  serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi “accu”  umat.

Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita.

Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu  disesuaikan dengan tujuan untuk  membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar BA, Drs dan sebagainya.

Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut.

Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman.

Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang efektif, agar jangan asal ramai  orang bershalat jamaah  saja.

Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya.

Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis  ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal.

Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu.

Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ;

Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, dan pembagian tugas menurut bidang masing-masing.

Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara.

Akhirul kalam

Sekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, sebagai landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah.

Adapun tafsri dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya.

Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya.

Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugas-tugas, pelaksanaan, balans, program lagi ….., dan begitu seterusnya.

Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu).

Ini sudah menjasdi sunnatullah,

laa tabdila likhalqillah …..,

Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ;

“  kejayaan jua yang kau  idamkan,

jalan mencapainya kau tempuh tidak,

Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering.

Bismillah …..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekelumit perjalanan

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

 

MERASAKAN LEZAT

HUBUNGAN ROHANI

Hubungan jiwa antara pemimpin dan yang dipimpin tidak dijalin dengan suatu pidato jawaban yang panjang‑panjang, supaya sesuai gayung dengan sambut, seperti yang sering di dengar dalam acara‑acara resepsi. Akan tetapi melalui satu perhubungan rohani yang teguh dan ikhlas, yang terbit dari cita‑cita hendak bersama‑sama dalam kegembiraan dan kedukaan, hendak sesakit dan sesenang, hendak sehidup dan semati.

Berbahagialah seorang pemimpin yang mempunyai hubungan bathin seperti itu, dengan ummat yang dicintainya dan mencintainya. Beruntunglah pula satu umaat yang ditengah‑tengahnya ada pemimpin tempat mengarahkan perasaan suka di waktu senang, menunjukkan perasaan duka di zaman susah. Alangkah  lezatnya hubungan rohani semacam itu, hubungan rohani yang terbit dari se‑cita‑cita dan se‑aqidah.

Hubungan rohani yang seperti itu bertambah  dalam artinya dan tidak kurang kekuatannya bila datang marabahaya yang menimpa satu ummat. Sebab dalam  kenang‑kenangan ummat itu kesusahan yang sama diderita lebih dalam bekasnya daripada kesenangan yang sama‑sama dirasai.

Pertalian rohani yang seperti itu terbit dari satu hubungan yang rapat berdasar kepada sama harga menghargai. Timbul dari nasib yang satu, dari kebudayaan yang satu,  yang telah terjalin dan berlapis dalam sejarah ummat sampai menjadi satu pusaka lama harta bersama, aqidah yang sama  ‑  sama hendak diperlindungi dan dipertahankan.

Apabila cita‑cita dan pertalian rohani itu sudah menjadi ikatan yang dipertalikan oleh perjalanan  sejarah, maka waktu malapetaka datang menimpa tidak ada beban berat yang tak mungkin terpikul, tak ada korban besar yang tak mungkin direlakan oleh semua yang ada dalam ikatan, untuk memelihara keselamatan bersama untuk mencapai kejayaan bersama. Sungguh lezat  hubungan rohani yang seperti itu.

 

Luruskan Niat

Akan tetapi kelezatannya tidak mungkin dikecap selama belum lengkap syarat dan rukunnya, yaitu aqidah dan ukhuwwah. Suatu bentuk dan susunan hidup  berjamaah yang diredhai Allah yang dituntut oleh syari’at Islam, mengikuti jejak Risalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan tuntutan Kitabullah.

Kita sekarang merintis merambah jalan guna menjelmakan hidup berjamaah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khutbah alim ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia. Kita rintiskan dengan cara dan alat‑alat sederhana tetapi dengan api cita‑cita  yang berkobar‑kobar dalam dada kita masing‑masing.

Ini nawaitu kita dari  semula. Ia murah, tapi tak dapat dibeli. Ia dekat, tapi tak mungkin dicapai, sebelum terpenuhi bahan dan ramuannya. Tak mempan disorongkan dengan perintah halus atau yang semacamnya itu. Kita jagalah agar api nawaitu itu jangan padam atau berobah di tengah jalan. Kita ikatkan ukhuwwah yang ikhlas bersendikan Iman dan Taqwa. Maka, tidak seorang pun yang berpikirkan sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap  penjelmaan masyarakat yang semacam itu.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah dan kita kerjakan tetapi tujuan nawaitu nya kita anjak. Semoga dijauhkan Allah jualah kita semua dan  keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan. Amin.

 

Bulatkan Persaudaraan

Telah beberapa masa zaman berganti. Empat dasawarsa telah ditempuh. Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh pengalaman‑pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian tumbuhlah semangat dalam hati;

“rasa berpantang putus asa, bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati, dengan tekad tidak berhenti sebelum sampai, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

Dalam perjalanan di “rimbo masang”, sesudah semua orang turun meninggalkan tempat ijok, dalam keadaan sulit dan jumlah jamaah kecil hanya tujuh orang dalam perjalanan perjuangan menentang resiko untuk menghidupkan perjuangan, kebulatan tekad itu tumbuh dengan hasil musyawarah juga. Hanya dengan memelihara bulat persaudaraan dalam ikatan jamaah, baik sebagai perseorangan maupun untuk kesejahteraan masyarakat kita bersama seluruhnya.

Tidak aa tempat dalam hidup jamaah itu ber‑belakang‑belakangan, hidup dengan tidak indah meng‑indahkan antara satu dengan yang lain, apalagi hidup bertentangan, hidup berebutan, yang seorang mengharapkan untung atau merasa bangga atas kerugian orang yang lain. Tolong menolong adalah adat dunia yang hendak selamat! Bukan perebutan hidup yang harus menjadi pokok pangkal dari pada hidup berjamaah itu, melainkan berlomba‑lomba berbuat baik, membanyakkan manfaat bagi sesama manusia seperti tersebut dalam Hadist;

Sebaik‑baik manusia ialah orang yang paling banyak bermanfaat bagi sesama manusia“.

Adalah satu rahasia yang akan menyampaikan manusia kepada suatu kemenangan. Kemenangan itu adalah kelanjutan dan buah dari pada jihad, seperti beras menjadi buahnya batang padi. Mustahillah orang tiada menanam padi akan menemukan beras. Maka demikian pulalah mustahillah manusia yang tiada berjijad akan mendapatkan kemenangan.

Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan sebenar‑benarnya jihad! Dia telah memilih kamu. Tuhan tiada menjadikan sesuatu kesukaran dan kesempitan dalam agama! Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim. Allah telah menamai kamu sekalian orang‑orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al‑Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu. Dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (bahwa kamu adalah Muslim). Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. DIA adalah pelindungmu! Maka DIA lah sebaik‑baik Pelindung dan sebaik‑baik Penolong“. (QS. Al Hajj:78).

Kini telah datang waktunya bagi ummat menyingsingkan lengan bajunya bekerja sungguh‑sungguh, merampungkan  sekian banyak bengkalai yang belum jadi. Permulaan jadi adalah meninggalkan enggan dan nilai, menyalakan giat dan shabar memikul tugas kewajiban.

Maka ada baiknya bila seorang mengambil pelajaran dari kesulitan‑kesulitan dan kepayahan  yng telah diderita oleh kaum‑kaum yang telah lalu itu, dan memperhatikan bagaimanakah ikhtiar mereka menyelesaikan tiap‑tiap kesulitan itu, baik berhasil atau tidak. Dengan demikian kita akan lebih tenang berhadapan dengan bermacam‑macam arus dikeliling kita. Dan akan lebih teguh pendirian kita, bilamana pada satu masa berjumpa dengan gelombang yang mungkin datang menjelma pula pada tiap‑tiap zaman yang mendapat giliran dari Ilahi.

 

MULAI  DARI APA YANG BISA

Tokoh‑tokoh masyumi sudah dibebaskan dari penjara, tetapi tetap diawasi ketat. Media massa diminta supaya tidak menyiarkan pendapat tokoh‑tokoh Masyumi. Bagaimana menerobos blokade ini. Memanfaatkan forum‑forum khutbah, kuliah subuh, ceramah umumm, mengantisipasi perkembangan‑perkembangan aktual di dalam maupun di luar negeri.  Disiarkan melalui Brosur Da’wah yang diterbitkan oleh Sekretariat Dewan Dakwah.[36]

Dengan cara kerja seperti itu, tidak mengherankan kalau kadang‑kadang informasi Dewan Dakwah ke daerah,  lebih cepat ketimbang informasi pemerintah pusat. Orang banyak bertanya‑tanya, dari mana Dewan Dakwah punya dana. Kalau boleh terus  terang, kita tidak punya dana. Tetapi, itulah. Kalau kita mulai kita mulai mengerjakan sesuatu, ada saja orang yang membantu. Untuk memutar stensil kita numpang. Kemudian Persatuan Dagang Tanah Abang (Perpeta) menyumbang sebuah mesin stensil, Syamsuddin seorang dermawan mewakafkan sebuah mesin tik dan tape recorder, ada yang menyumbang kertas, menyumbang stensil, menyumbang tinta untuk mengoreksi, dan lain‑lain. Banyak modal terkumpul, semuanya betul‑betul dari ummat. Bapak Natsir selalu mengatakan, “Tiap‑tiap kita adalah dai pengemban tugas dakwah. Tukang becak yang muslim, mempunyai tugas dakwah. Ialah menjemput dan mengantar pulang ustadz dalam suatu pelaksanaan dakwah. Saudara merbot masjid mungkin buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi, tugas membersihkan masjid, mengurus air masjid, menjaga keamanan sandal, adalah termasuk pelaksanaan dakwah. Merbotlah yang mengurus semua itu. Dengan tugas itu, merbot menjadi dai. Yang jadi pejabat atau pegawai, dia adalah dai. Karena dengan kedudukannya, pelaksanaan  dakwa dapat berjalan lancar. Yang kaya, yang mendapat kekayaan dari Allah swt, mungkin tidak bisa naik mimbar, tetapi dengan infaknya dia menjadi dai”. MPRS akan bersidang. Kepada para anggota MPRS itu hendak disampaikan pengertian bahwa demokrasi itu hanya bisa hidup kalau dijalankan di bawah hukum. Pak Natsir berpidato tentang “Demokrasi di Bawah Hukum”. Naskah pidato tersebut kepada para anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Semesta (MPRS). Bagaimana cara membagikannya? Anak‑anak Pelajar Islam Indonesia  (PII). Biar kami yang mengantarkan ke penginapan para anggota MPRS.[37] antara lain dengan mobil salah seorang Wakil Ketua MPRS, Subchan Z.E.

Pidato Pak Natsir tersebut perlu rasanya disampaikan sebagai sumbangan pikiran dari Dewan Dakwah. Kepada seorang pengusaha ditawarkan. “Tolonglah Saudara menjadi dai. Dai untuk masalah politik yang tinggi”.

“Tolonglah cetak ini, 2000 eksemplar. Kepada para anggota MPRS. “Kalau begitu, saya biayai, selesai dicetak, berdatanglah para pemuda siap mengantarkan ke alamat‑alamat di tempat mereka menginap. Maka sampailah brosur kita ke tangan para anggota MPRS. Si kaya telah memberikan uangnya. Si pemuda pelajar memberi tenaganya.

 

Diwaktu itu, orang masih takut terlibat politik. Dewan Dakwah memperingatkan, terutama kepada para dai, “Kalau memang Saudara‑saudara merasa tidak perlu ikut berpolitik, biar tidak usah berpolitik. Tetapi saudara‑saudara jangan buta politik. Kalau Saudara‑saudara buta politik, Saudara‑saudara akan dimakan oleh politik. “Inilah juga di antara yang disampaikan oleh Dewan Dakwah. Dewan Dakwah selalu ikut memberikan sumbangan pemikiran. Rancangan Undang‑undang (RUU) Perkawinan, Pendidikan Moral  Pancasila (PMP), RUU Sistem Pendidikan Nasional, RUU Peradilan Agama. Dengan cara 24 jam, kita mengembangkan Dewan Dakwah. Otak Dewan Dakwah ini Pak Natsir, Buchari Tamam kepala dapurnya dan para pemuda sebaga tenaga lapangan. Dewan Dakwah juga melakukan pengaderan. Pembinaannya diserahkan kepada Ikatan Masjid Indonesia (IKMI). Kita sangat terkesan cara kerja Pak Natsir. “Yang mudah kita kerjakan sekarang. Yang sulit kita kerjakan besok. Yang mustahil kita kerjakan kemudian. “Jadi, Pak Natsir tidak pernah mengenal putus asa dalam me‑laksanakan program. Pak Natsir tak pernah memulainya degan berpikir tentang dana. Dia memulainya dengan membuat rencana. Mulai dulu, dari yang kecil. Kalau sudah dimulai, nanti akan bertemua dengan berbagai masalah.

Yang mula‑mula dikerjakan Dewan Dakwah hanyalah memperbanyak khutbah. Dengan itu Pak Natsir memulai kontak dengan teman‑teman di segala penjuru. Dana kegiatan ada dikantong pendukung, mereka akan ikhlas mengeluarkan kebulatan tekad untuk melaksanakan rencana. Faidzaa ‘azamta fatwakhal ‘ala Allah. Masalah‑masalah nasional yang semula kurang mendapat perhatian kita  angkat ke permukaan dengan cara positif. Dewan Dakwah datang dengan model alternatif seragam yang Islami.[38] Dewan Dakwah bukan organisasi politik, tetapi dari segi dakwah kita tidak dapat berpangku tangan. Selepas dari tahanan rezim Orde Lama, Pak Natsir mengunjungi berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dan sambutan yang diterima Pak Natsir, selalu meriah. Kenyataan‑kenyataan tersebut segera saja melenyapkan isu bahwa Pak Natsir telah kehilangan tempat di hati umat akibat peristiwa PRRI. Yang terjadi justru kebalikannya. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sampai sekarang dan insya Allah sampai kapanpun, tetap membangun umat, sesuai kemampuan maksimal yang kita miliki.

 

Beberapa Kegiatan

Usaha‑usaha yang telah digarap. Yang Pertama, mem‑perluas pengertian dakwah bahwa dakwah luas artinya. Mencakup selurus aspek kehidupan Q.S Al‑Anfal ayat 24.

Bapak Natsir sebagai ketua Dewan Dakwah mengungkapkan sejarah, bahwa dakwah pada hakikatnya ialah kelanjutan dari risalah Nabi Besar Muhammad SAW. Rasulullah diutus oleh Allah SWT kepada masyarakat manusia di dunia, tujuannya ialah untuk menggarap selurus aspek kehidupan. Yang kedua, mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan masyarakat. Dewan Dakwah datang mengingatkan kembali, masjid merupakan pusat pembinaan umat, sesuai fungsi masjid yang diteladankan oleh Rasulullah SAW. Dewan Dakwah memberi contoh dengan berkantor di masjid Al‑Munawarah. Dari sudut kecil itulah digarap semua kegiatan Dewan Dakwah.

Yang Ketiga, Dewan Dakwah memberi pengertian kepada jamaah bahwa tugas dakwah adalah fardhu ain bagi setiap muslim. Yang keempat, menggiatkan dan meningkatkan mutu dakwah. Dewan Dakwah berusaha meningkatkan mutu dan kegiatan dakwah. Ulama‑ulama dan dai dari daerah‑daerah diadakan diskusi untuk memperluas pengertian mereka tentang dakwah. Untuk membuka cakrawala pemikiran yang selama ini terbelenggu oleh ketakutan, tekanan komunis dan Orde Lama yang diktator. Untuk menggarap dakwah di daerah‑daerah rawan, seperti daerah transmigrasi dan daerah‑daerah ter‑belakang, disedikan para dai yang dilatih khusus antara sebulan sampai dua bulan di Pesantren Pertanian “Daarul Fallah”, Ciampea, Bogor, untuk meningkatkan pelajaran dan pendidikan agama bagi mahasiswa di perguruan‑perguruan tinggi, Dewan Dakwah menatar dosen‑dosen mata kuliah umum dengan maka kuliah agama Islam. Kita juga mencari kontak ke luar negeri untuk mendapatkan buku‑buku standar di bidang agama. Sesungguhnya upaya pengadaan perpustakaan Islam telah dirintis oleh Dewan Dakwah sejak 24 tahun yang lalu. Dewan Dakwah juga berpikir untuk menggerakkan dakwah bil hal. Dengan cara membangun masjid‑masjid sebagai markas perjuangan umat. Membangun madrasah‑madrasah, membangun rumah sakit di Sumatera Barat, di Jawa Tengah, di Riau, di Lampung. Lembaga‑lembaa pendidikan keterampilan Pesantren Pertanian “Darul Fallah” di Bogor. Lembaga Keterampilan di Batu Marta Sumatera Selatan. Yang kelima, meningkatkan usaha pembentengan/pembelaan akidah umat. Berkeliaran hama‑hama yang akan merusak dan mencuri tanaman kita. Hama yang kita maksud ialah berupa para penyebar agama selain Islam. Sekularisme, orientalisme, komunisme, marksisme, serta pemikiran‑pemikiran yang menyempal yang pada Islam Jamaah, Inkarussunah, Isa Bugis, Syi’ah, dan lain‑lain. Masalah al ghazwul fikr (perang pemikiran). Dewan Dakwah mengambil peranan khusus. Dijawab oleh Pak Rasjidi dengan tulisan, tampil pula Pak Natsir, Pak Zainal Abidin Ahmad, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Pak Bahder Djohan, Pak Deliar Noer dan Pak Daud Ali. Dilanjutkan lagi oleh generasi yang lebih muda para alumni Timur Tengah. Buah tangan mereka yang memperkaya khazanah perpustakaan Islam, melalui Dewan Dakwah. Walau secara berkecil‑kecil di markas Dewan Dakwah Pusat sudah ada beberapa penerbitan yaitu Media Dakwah, Suara Masjid, Sahabat, Bulletin Dakwah, Serial Khutbah Jum’at, lengkap dengan toko bukunya. Menghadapi perang pemikiran, Dewan Dakwah bahkan telah membentuk tim “Ghazwul Fikri”. Dalam soal difa’ (pembelaan) ini diawal Dewan  Dakwah mencanangkan jihad difa’, malah banyak yang menantang. Pada akhirnya banyak juga yang terbuka hatinya, dan mendukung apa yang dicanangkan Dewan Dakwah. Walaupun telah banyak korban jatuh, tetapi kesadaran tidak pernah terlambat, asal mau memburu ketinggalan.

Yang keenam, membangkitkan ukhuwah Islamiyah al’Alamiyah. Membangkitkan ukhuwah Islamiyah internasional. Di seluruh dunia ada umat Islam. Di lima benua ini ada umat Islam. Jumlahnya hampir seperempat penduduk bumi. Lebih kurang satu milyar. Membangkitkan kesadaran inipun dilakukan oleh Dewan  Dakwah dengan mengadakan perjalanan muhibbah ke negara‑negara Islam di seluruh dunia. Terutama ke Timur Tengah, ke Saudi Arabia, ke Kuwait, ke Libya, ke Irak, ke Palestina melihat langsung keadaan umat Islam di sana. Dewan Dakwah menggerakkan umat Islam Indonesia, mengumpulkan bantuan apa saja. Tumbuhlah rasa ukhuwah Islamiyah internasional, bagaimana nasib umat Islam di Indonesia?

Dewan Dakwah mengungkapkan kepada saudara‑saudara kita di belahan dunia lain, bagaimana ghazwul fikr yang tengah melanda umat Islam di Indonesia dewasa ini. Umat Islam yang masih terikat kebodohan. Disamping miskin sarana‑sarana dakwah, langkanya dai yang terampil, rumah sakit tempat penampungan pasien yang lemah yang sering jadi sasaran empuh missi dan zending. Dakwah paling sedikit telah mengirim 500 pelajar ke berbagai negeri di Timur Tengah. Beberapa ratusan masjid yang dibangun oleh Dewan Dakwah dengan bantuan saudara‑saudara kita di Timur Tengah, terutama dari Kuwait, dan Saudi Arabia. Inilah hasil ukhuwah Islamiyah internasional.

Waktu Kotobato, kota universitas Islam di Filipina Selatan dibakar habis oleh pasukan Presiden Ferdinan Marcos yang Katolik, kita kirimkan Qur’an itu untuk mengganti Qur’an yang terbakar di universitas Islam Filipina Selatan. Tumbuhlah lagi ukhuwah Islamiyah dengan tetangga kita di utara itu kita lakukan dalam membina ukhuwah Islamiyah internasional.

 

Menuju Ummat Teladan

Dewan Dakwah tidak hanya membangun hal‑hal yang kongkrit. Dewan Dakwah juga menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Dakwah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti rumuah sakit, pesantren, kebun‑kebun pecontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, kampus pendidikan, penerbitan, dan lain‑lain. Semuanya itu mempunyai jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan.

Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Dakwah. Padahal lembaga‑lembaga itu dibangun oleh Dewan Dakwah. Kalau kerja sama telah dapat kita wujudkan, keadaan  akan lebih menguntungkan. Yang telah memberi buah begitu besar kepada kaderisasi dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah kita mewujudkan kekeluargaan Dewan Dakwah dengan mengikat amal‑amal nyata yang telah sama‑sama kita bangun. Apa yang telah kita kerjakan bisa berkembang dengan sebaik‑baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Dakwah yang berupa ummat tauladan di Indonesia di  masa datang.

 

 

 

 

Tidak Hanya Timur Tengah

Waktu Kotobato, kota universitas Islam di Filipina Selatan dibakar habis oleh pasukan Presiden Ferdinan Marcos yang Katolik, kita kirimkan Qur’an itu untuk mengganti Qur’an yang terbakar di universitas Islam Filipina Selatan. Tumbuhlah lagi ukhuwah Islamiyah dengan tetangga kita di utara itu kita lakukan dalam membina ukhuwah Islamiyah internasional.

 

Menuju Ummat Teladan

Dewan Dakwah tidak hanya membangun hal‑hal yang kongkrit. Dewan Dakwah juga menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Dakwah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti rumuah sakit, pesantren, kebun‑kebun pecontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, kampus pendidikan, penerbitan, dan lain‑lain. Semuanya itu mempunyai jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan.

Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Dakwah. Padahal lembaga‑lembaga itu dibangun oleh Dewan Dakwah.

Kalau kerja sama telah dapat kita wujudkan, keadaan  akan lebih menguntungkan. Yang telah memberi buah begitu besar kepada kaderisasi dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah kita mewujudkan kekeluargaan Dewan Dakwah dengan mengikat amal‑amal nyata yang telah sama‑sama kita bangun. Apa yang telah kita kerjakan bisa berkembang dengan sebaik‑baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Dakwah yang berupa ummat tauladan di Indonesia di  masa datang.

 

 

 

 

 

 

Pemimpin Pulang

 

Bapak DR.Mohammad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”, pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Wakil Presiden  Muktamar Alam Islami,  Ketua Umum Partai Masyumi yang dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960, selalu memesankan setiap pribadi pemimpin selalu teguh (istiqamah) dalam pendirian.

Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya menghidupkan jiwa umat, agar selalu terjaga ruhnya tetap hidup, Bapak Mohammad Natsir, mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis tentang kriteria pemimpin yang pulang itu. “Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan. Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.” Maka dia harus bersyukur kepada Allah, dengan selalu menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya. Dia tidak boleh berhenti.

Ada pula yang, “Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran), atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya”. Seorang pemimpin penjuang, semestinya memiliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya. Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.

Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin, terpaksa harus menyerahkan jasadnya. Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya. Karena itu, ada pemimpin,  “Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”. Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah. Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, berlindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.

Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati. Pemimpin yang sedemikian, kata Pak Natsir , serupa dengan ”Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul. Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur. Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang. Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti. Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”

Namun, ada pemimpin pejuang yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya. Mereka itu “Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang.” Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus. Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat depan, tetapi menyerong.  Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar. Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya, walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang.. Pesan ini disampaikan beliau dalam satu ungkapan indah di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid    1381. Setahun setelah Masyumi membubarkan diri. Demikianlah suatu sunnatuillah di bebankan kepundak pejuang untuk selalu di ingat oleh  pemimpin pejuang.

Padang, Juni 1999.

 

 

 

 

DALAM PELAYARAN YANG PANJANG,

ADAKALANYA,

NAHKODA HARUS BERPIRAU[39]

 

Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus.

Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat pampan  (depan), tetapi menyerong.

Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar.

 

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang sedang berpirau :

(1). Angin dan gulungan ombak tidak di songsong tepat terpampan. Akan tetapi arah perahu sekali-kali tidak boleh demikian rupa sehingga mudah terbelok melintang sejajar dengan gulungan ombak. Satu kali letak perahu begitu, dia akan terbalik digulung gelombang.

Kalau ada satu ketika gelombang terlampau besar, arus terlampau deras, angin badai berputar-putar, lebih baik sauh dibongkar, layar diturunkan berhenti ditempat sebentar, menunggu badai reda. Tidak ada badai yang tak pernah reda. Lebih banyaklah sementara itu taqqarub kepada Ilahi Rabbi, kepada Khaliq yang menjadikan segala sesuatu yang termasuk angin dan arus itu.

Bagi seorang Muslim ikhtiar dan do’a memang selalu sejalan berjalin, tidak boleh dipisahkan. Ini lebih baik dari pada melepaskan kendali dari tangan, dibiarkan perahu terombang ambing, menurutkan kemana angin dan arus menderas.

 

(2). Kemudi tidak boleh lepas dari tangan. Mata juru mudi dan nahkoda tidak boleh lepas dari mengawasi pedoman untuk menentukan arah, mengaasi kemana-kemana jurusan angin dan arus, mengawasi bintang yang jauh dilangit, untuk menentukan tempat agar jangan keliru memegang kemudi. Disangka awak masih berpirau, kiranya haluan terlongsong berkisar sulit pula membetulkannya kembali.

Awak perahu tidak boleh berhenti mendayug. Berhenti mendayung, sauh tidak boleh dipasanng berarti hanyut. Sebab angin dan arus tidak timbul suasana lesu, dan suasana masa bodoh, atau paniek, akan sukar pula membangkitkan mereka mendayung kembali. Mereka selalu asyik dan diasyikkan.

Jika dayung besar, sesuatu waktu dirasakan terlampau berat tukar dengan dayung yang lebih ringan yang sesuai dengan tangga mereka waktu itu. Namun berdayung terus berdayung. Agar jiwa mereka tetap besar harapan mereka tidak patah. Hati mereka harus terus dirawat.

Seorang nahkoda, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa berlayar sendiri. Kekuatannya terletak pada tenaga anak perahu. Diwaktu badai tidak bolehlah dia mendandani dirinya sendiri. Bila perlu dia juga harus bersedia dan bisa mennjadi juru bantu, turut  mendayung, menimba air, memanjat tiang memasang layar.

Nahkoda tidak boleh terlepas dari mata anak perahu. Mereka ini tidak boleh mendapat atau mendapat kesan, bahwa tempat kemudi kosong, tidak ada yang menunggui. Ini bisa menimbulkan putus harapan dan suasana paniek. Dalam keadaan seperti itu mudah sekali anak perahu yang sedang kehausan lantaran tidak sabar atau lantaran kejahilan mengorek dinding perahu supaya lekas-lekas mendapat air. Padahal airnya air bergaram, tidak dapat diminum melepaskan haus; sedangkan perahu bisa tenggelam lantaran berlobang dan membawa tenggelam semua penghuni perahu bersama-sama; bukan karena arus dan badai, tetapi karena nahkoda yang lalai.

 

(3). Tenaga berpirau yang pokok ialah tenaga dayung. Nakhoda yang mahir, di samping itu dapat mempergunakan angin yang datang menyerang dari samping, penambah tenaga dayung; kemahirannya terletak dalam memasang layar, dalam menentukan, mana layar yang harus dipasang mana yang harus diturunkan; kemana kemudi harus ditekankan, agar tenaga angin seperti itu dapat diambil manfaatnya, dengan tidak dikuatiri akan membelokkan arah.

 

(4). Berlayar bukan asal sekedar berlayar. Harus tentu-tentu tempat yang dituju. Harus tentu sifat muatan yang dibawa. Adapun bendera dan panji-panji, besar pula manfaatnya sebagai lambang dari tujuan yang hendak dicapai dan dari isi muatannya dibawa. Tak layak lagi bahwa simbolik mengandung kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam pada itu, kadang-kadang dimusim darurat, mengibarkan bendera lambang itu menimbulkan kesulitan. Dalam keadan yang semacam itu ijtihad Nakhodalah yang menentukan, disuatu keadaan, manfaat dan mudharatnya mengibarkan lambang ditiang tinggi itu.

Yang perlu dijaga ialah : (a). Jangan lakukan “tasyabbuh”. Tasyabbuh yang barangkali tadinya dimaksudkan untuk menyamar, akan tetapi kesudahannya mem bingungkan anak  perahu sendiri, dan menghancurkan kepribadian mereka. (b). Jangan ada “talbisul haq bil bathil” mencampur adukkan muatan yang baik  dengan yang buruk, nanti seluruh muatan jadi rusak.

(c}. Anak perahu dan para penumpang semuanya harus dilatih dan para Nakhoda melatih diri, sehingga mereka bisa bergerak ibarat ikan berenang dilaut, terus menerus dikelilingi air asin, tetapi dagingnya tetap tawar dan segar.

 

(5). Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk mencapai sesuatu tujuan yang bernilai tinggi. Tidak ada pelayaran tanpa resiko. Soalnya bukanlah ada resiko. Soalnya ialah mengambil resiko yang dapat dipertanggung jawabkan, setelah dibandingkan dengan tenaga yang ada, dan denga nilai yang hendak dicapai.

Bagaimana orang  bermain di pantai kalau ikut kepercikan air. Nakhoda selalu perlu ber-ijtihad, perlu mempergunakan daya ciptanya teman seperahu, untuk menghadapi keadaan sekelilingnya sewaktu-waktu.

Nakhoda harus menyadari harinya tidak berhenti. Harinya terus menuju ke “laruik sanjo”. Di samping itu, siapa yang tadinya “Rijalul ghad” (pemimpim masa lalu) sedangkan berkembang menjadi “rijalul yaum” (pemimpin masa kini). Hutang nakhoda ialah membimbing mereka itu, melapangkan jalan bagi mereka, melatih mereka sanggup bertanggung jawab dan pengalaman pahit.

 

(6). Beberapa rangkuman ayat dan hadist, yang dikemukakan dibawah ini, semoga dapat menjadi pegangan, dalam meeruskan “pelayaran” dan “berpirau” bila dipahamkan dan diambilkan api yang terkandung di dalamnya. “Beramallah kamu pada tempat kamu masing-masing. Akupun  adalah orang-orang yang juga beramal” Dengan ini sebagai landasan berpikir, silahkan ;  Jangan gugup,  Bismillah :  Layarkanlah terus perahu ini.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.

 

Medan Jihad, Agustus 1961

 

 

 

MEMBANGUNKAN

POTENSI UMAT

 

Masjid Almunawarah Kampung Bali I No.56 Tanah Abang  Jakarta, adalah tempat pertemuaan anatara umat dan pemimpinnya. Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Pebruari 1967, telah berdiri  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).  Lembaga ini didirikan oleh para ulama dan tokoh-tokoh Islam  dalam bentuk Yayasan dan Mohammad Natsir dipercayakan sebagai Ketua Umum.

 

DDII didirikan dengan semangat jihad dalam bentuk moderat (bapirau), selepas kebangkrutan politik Nasakom  orde lama.. DDII diharaapkan sebagai penampung aspirasi keluarga besar Bulan Bintang,  sesuai dengan  apa ayang pernah diucapakan  oleh  Ketua Umumnya : Dahulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui dakwah.  Bubarnya partai Masyumi  adalah salah satu korban politik orde lama, karena menurut Persahi waktu itu secara yuridis formil dan yuridis materil ,Masyumi tidak beralasan untuk dibubarkan. Dalam rangka menumbuhkan kembali potensi umat yang sudah terkoyak-koyak pada masa peralihan dari orde baru ke orde lama, barisan harus dirapatkan kembali sesuai dengan Firman Allah SWT : “ Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan Nya dalam barisan yang teratur, seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

 

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa berjuang di jalan Allah itu harus bersatu dalam organisasi yang kokoh kuat, sehingga tumbuhlah potensi umat yang kuat pula.. Maka untuk menhimpun kembali potensi keluarga besar yang sudah bercerai berai itu,  haruslah dengan kerja keras melalui tahap-tahap kegiatan  sebagai berikut :

 

 

 

 

TASYAKUR NIKMAT [40]

 

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat. Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini, apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

 

Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu:

 

Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri, yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah dari luka-luka terkoyaknya perang saudara semasa rezim Soekarno, selam 31/2 tahun lamanya, banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak keruntuhan yang harus dibangun.

Langkah-langkah yang digariskan itu, adalah tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

* penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

* perumahan rakyat yang hangus terbakar

* sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

* luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

* kehancuran pendidikan agama.

Nopember 1961, terjadi lagi satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak Mohammad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor; dan dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan dan sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan, kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.

Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba yang sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat dengan segala akibat yang harus dilalui, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.

Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang, bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat, terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak Mohammad Natsir.

Dengan pedoman yang telah digariskan secara terperinci oleh Bapak Mohammad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan, maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut, menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.

Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan, karena psikologis masih diliputi oleh rasa takut dan alasan untuk menjaga keamanan yang bersangkutan. Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil. Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung).

Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakkan, PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halamannya (negerinya) itu.

Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat, menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan. Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Pak Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).

Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohammad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk yang digoreskan walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”, bersama pemimpin-pemimpin lainnya seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Duski Samad, dan lain-lainnya.

Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak Mohammad Natsir disambut baik, tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”, memulai dengan program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan, waktu itu tahun 1962.

Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing, dengan dibekali amanat supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat kala itu Bapak Mohammad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid dan membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni sutera alam dan tikar mendong harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat melalui kursus dan latihan. Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI telah merayap dari sudut ke sudut hati setiap peserta, walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

Semboyan kita ialah :

* Yang  m u d a h  sudah dikerjakan orang

* Yang     s u k a r   kita kerjakan sekarang

* Yang   tak mungkin      kita kerjakan besok

* Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

 

“Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat” !

 

Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak Mohammad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.

Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria, akan tetapi merasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanita-wanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura, dan juga pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang, umpamanya pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor terutama dikalangan “bundo kandung” kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis.

Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak Mohammad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta, disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga.

Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar disertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang”, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima, sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu. Dan seorang, keluarga Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru mengungkapkan dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..”, merupakan buhul yang kian sarat makin erat untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEDOMAN PEMULIHAN

TENAGA TERPELANTING [41]

 

Ada ratusan ribu, kalau tidak milyunan, tenaga-tenaga yang terpelanting sekarang ini. Ada puluhan ribu yang sudah gugur. Banyak tenaga-tenaga yang invalid. Ada pula yang masih dalam tahanan. Puluhan ribu rumah yang terbakar hangus.

Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang sedang direncanakan oleh “yang berwajib” untuk menyalurkan  tenaga-tenaga yang terpelanting itu, dan lain-lainnya, timbul pertanyaan, apakah kita boleh pasif saja sambil menunggu-nunggu apa yang akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” ?

Jawabnya ; tidak !

Tidak boleh kita pasif. Pertanggung jawab moral kita tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, baik dibidang sipil atau dibidang militer tadinya.

Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani  kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedang teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.

Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat kita lakukan dibidang ini? Sedangkan kita tidak mempunyai apa-apa. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa.

Memang.  Tetapi ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpim dari orang ‘awam.

Makanya kita dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal. Kita memiliki dan seharusnya memiliki;

a. Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

b. Daya-pikir dan daya-cipta

c. Cara hidup yang bersih

d. Akhlak dan budi pekerti yang baik.

e. Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa umumnya

f. Ras setia kawan yang telah pernah  terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup, khususnya.

Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uap atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri mereka yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi mereka selama ini.

Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya.  Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.

Kalau ini sudah kita sadari, maka kita dapat membagi-bagi tenaga-tenaga masyarakat yang sedang terpelanting menderita itu dalam berbagai golongan yang kita harus dengan berbagai cara pula.

Apa macam golongan itu ? Ada ;

A. Pelajar dan Mahasiswa

B. Bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil dan Militer.

C. Bekas pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah).

D. Tani, pedagang kecil dan buruh kecil

E. Mereka yang invalid

F. Keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang gugur.

G. Mereka yang masih dalam tahanan

H. Mereka yang kehilangan rumah

Bagaimana menghadapi masing-masing golongan tersebut ?

 

 

 

 

Tata – cara ;

Penyelenggaraan usaha-usaha tersebut diatas memerlukan beberpa hal, baik yang bersifat psychologis  ataupun technis;

1. Buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” kita bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan ini. Tunjukkan minat kepada keadaan mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Andaikata pun kita belum dapat memberikan bantuan kepada mereka sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril kita harus berikan.

Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri agar kita ketika itu, dengan hati yang lebih lega.

Hati yang lebih lega dan kembali berisi harapan niscaya akan menambah himmah mereka untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan mereka dan menghindarkan diri mereka pada perbuatan-perbuatan yang menyalahi hukum Syar’iy atau duniawi. Sekali-kali jangan mereka meninggalkan kita dengan bermacam-macam perasaan, yang mematahkan hati mereka untuk menjumpai kita kembali.

2. Untuk kelancaran usaha pemulihan, diperlukan cara pencatatan yang sederhana dari mereka yang bertebaran itu, mengenai namany, alamatnya, kecakapannya dan lain-lainnya. Catatan-catatan semacam itu diperlukan untuk memudahkan hubungan menghubungkan mereka dengan bermacam-macam bidang pekerjaan, sewaktu-waktu kita mengetahui terbukanya sesuatu kesempatan bekerja atau sumber pencaharian, yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka.

3. Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan informasi dengan mempertajam mata dan telinga dengan hubungan korespondensi untuk mengetahui dimana  ada, atau akan ada kesempatan penyaluran tenaga-tenaga tersebut baik dalam ataupun di luar daerah.

4. Ada seseorang telah terbuka kesempatan penyalurannya dalam suatu bidang pekerjaannya, janga lupa ;

a. meamanatkan kepadanya, supaya dia benar-benar membuktikan kesungguhannya dan senantiasa mempertinggi mutu pekerrjaannya dibidang yang akan ditempuhnya itu.  Dia harus membuktikan bahwa dia adalah salah seorang dari golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hidup, seperti kejujuran dan budi akhlak-akhlak pekerti yang baik.

b. Memesankan kepadanya, supaya bila apabila dia sudah mendapat sumber pencahariannya, jangan dia sendiri tenggelam di dalamnya. Akan tetapi di samping pekerjaannya, hendaklah dia berusaha sedapat mungkin, merintiska jalan bagi teman-teman yang masih bertebaran.

5. Tunjukkan minat kepada usaha-usaha yang telah atau sedang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok berupa perusahaan sendiri, umpamanya dibidang pertanian, peternakan atau perusahaan kecil dan sebagainya. Mereka ini termasuk golongan yang berani merintis dan mempunyai inisiatif.

Gembirakan semangat bekerja mereka dan berilah  dorongan kepada perusahaan kecil yang diselenggarakan dengan tenaga sendiri atau bersama itu. Kumpulkan bahan-bahan mengenai tata kerja dan pengalaman mereka masing-masing yang dapat pula dipergunakan sebagai pedoman bagi teman-teman mereka yang ingin menempuh bidan itu pula.

6. Di dalam beberapa hal, dalam pekerjaan semacam ini mungkin diperlukan menghubungi instansi-instansi resmi. Tidak usah ragu-ragu atau khawatir bila untuk ini diperlukan menghubungi instansi-insntansi itu. Hubungi mereka secara sopan, zakelijk dan correct, dengan tidak menggadaikan martabat pribadi.

Ada dua cara yang dimanapun juga tidak akan mendapatkan penghargaan, yakni ; cara sembrono yang tak tahu aturan, dan cara pengemis yang mintak-mintak dikasihani.

 

Penutup,

1. Barangkali timbul pertanyaan; Kalau begitu macamnya usaha-usaha yang harus diselenggarakan mengingat teman-teman yang banyak itu, lalu bagaimana kita sendiri ?

Jawabnya; Sudah tentu masing-masing kita perlu mengusahakan  agar dapur tetap berasap. Ini kewajiban kita sebagai kepala keluarga. Tetapi dalam pada itu, sudah menjadi pembawaan bagi seorang pemimpin bila ia hendak dianggap sebagai pemimpin bahwa dia terus memikirkan dan mengikhtiarkan kesejahteraan bagi umat yang dipimpinnya, di samping itu berusaha memenuhi kewajiban terhadap diri dan rumah tanggannya sendiri dengan sesatpun tidak memutuskan harapan atau ma’unah dan kerahiman Ilahi dalam keadaan bagaimanapun.

Amal dan ikhtiar kita dalam dua bidang kewajiban ini senantiasa  sejalan dan berjalin. Terkadang-kadang titik berat itu mungkin berkisar-kisar di antara dua bidang itu, menurut tuntutan keadaan disesuatu waktu. Tetapi kedua-duanya tetap terjalin, dalam bagaimanapun juga.

Malah justeru di sa’at serba sulit itulah Umat menghajatkan benar bahwa para pemimpin mereka  dapat dirasakan berada ditengah-tengah mereka dalam suka dan duka, dalam arti; tetap bersama-sama menghadapi persoalan mereka walaupun mereka tahu bahwa para pemimpin mereka itu tidak bisa, dengan serta merta, mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami.

“KAMU HANYA AKAN DAPAT PERTOLONGAN (DARI ILAHI) DENGAN, (MENOLONG KAUM YANG LEMAH DI ANTARA KAMU”[42],

Ini adalah Sunnatullah.

 

“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANG GUNGAN JAWAB ATAS PIMPINANNYA”[43].

Bukanlah begitu peringatan Rasul ?

 

2. Pemikiran-pemikiran (idea) yang tersebut pada pasal-pasal diatas itu belumlah komplet dan limitatif, yakni

tidaklah terbatas hingga itu saja. Satu dan lainnya dikemukakan sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Kita percaya kepada pengalaman-pengalaman daya pikir daya cipta masing-masing kita yang sama-sama menghadapi kesempurnaan lagi dalam praktiknya, sambil berjalan.

Mungkin pula dari apa yang tersebut diatas timbul pendapat seolah-olah apa yang dikemukakan itu adalah barang lama, tidak ada yang baru.

Syukurlah kalau ternyata itu semua adalah hal-hal yang sudah lama dikerjakan orang, dan lantaran itu tentu, kitapun dapat mengerjakannya, asal mau.

Yang sudah terang ialah, bahwa barang yang lama itu tetap bagi kita akan baru, selama kita tidak atau belum kerjakan.

Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan kita ialah ;

– Yang mudah  sudah dikerjakan orang

– Yang sukar kita kerjakan sekarang

– Yang “tak mungkin” kita kerjakan besok

– Dengan mengharapkan hidayat Ilahi.

 

“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

 

 

TANYA DAN DO’A[44]

 

Tentang hidup di desa ini

Dari dahulu sampai kini

Banyak, cerita ku dengar

Dan pengalaman dan penderitaan dirasa

Hidup dilingkungan bahan bertimbun

Terlena dibuai nyanyian alam

Alpa menggali aneka guna

Meranalah hidup hampir tak punya,

 

 

Dini hari …………….

Dalam upacara ini …………

Berdegup jantungku merangkum tanya

Munajat jiwaku memohon do’a.

Adakah ini mula masanya

— Desauan air sungai ngalau dicelah celah batu ini

Bertukar derum mesin diruang pabrik

— Lambaian bambu mendaduhkan daun-daun ini

Berganti cerobong tinggi mengepulkan asap,

— Gerobak bemo, pedati kayu, ditarik insan mandi keringat

Bertukar rupa truk, dan gerbong menyilang siur,

— Punggung membungkuk meranting tulang mendukung derita

Menjelma manusia manusia baru

Makmur bahagia …….

 

 

 

MEMBINA UMMAT DARI BAWAH

JANGAN BERHENTI TANGAN MENDAYUNG …,[45]

 

Sudah sama-sama kita sadari, bahwa YAYASAN KESEJAHTERAAN telah memilih bidang “pembinaan” sebagai lapangan usaha. Yakni pembinaan umat masyarakat desa, baik lahir ataupun batin. Perumusan ini amat sederhana kedengarannya tetapi pada hakekatnya, tidaklah begitu sederhana. Sebab ini berarti bahwa kita berusaha memanggil dan membawa serta masyarakat desa itu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Semua itu dalam rangka “pembinaan negara” dalam arti yang luas. Kalau kita sudah menyadari benar-benar hakekat tugas kita itu, maka titik tolak dan cara-cara usaha kita mempunyai suatu corak yang khas.

 

1. Satu dalil dalam ilmu ekonomi, mengatakan bahwa manusia sebagai manusia ekonomis (homo-economicus) umum melakukan kegiatan-kegiatan ekonomis dengan tujuan mencapai sebanyak-banyak hasil, guna memenuhi keperluan-keperluannya dengan “korban” yang sekecil mungkin. Begitu bunyi satu dalil atau stelling ekonomi yang terkenal.

Akan tetapi manusia bukan semata-mata homo economicus saja. Tetapi ia juga seorang homo methaphisicus atau homo religiousus. Ia mempunyai bermacam kepercayaan menganut bermacam nilai hidup yang seringkali dipandangnya lebih penting daripada memenuhi keperluan hidup materialnya semata-mata.

Manusia juga adalah makhluk ijtimaa’ie social being yang tak dapat tidak, hidup dalam suatu “rangka kemasyarakatan” social order, di mana dia terikat oleh ikatan-ikatan kulturil, sosial politik, adat-lembaga, atau cita-cita sosial yang tertentu.

Salah seorang Sarjana Ekonomi dalam satu ulasannya mengatakan antara lain[46]; “… perkembangan ekonomi itu bukanlah suatu proses yang semata-mata mekanis sifatnya. Tidaklah semata-mata sekedar usaha menghimpunkan beberapa unsur-unsur yang tertentu. Pada akhirnya suatu perkembangan ekonomi itu, adalah merupakan satu usaha manusia. Dan sebagaimana juga halnya dengan lain-lain usaha manusia, hasilnya, pada akhirnya, tergantung kepada kecakapan, mutu (kualitas) dan sikap jiwa dari manusia yang menyelenggarakan usaha itu sendiri”.

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat yang hendak kita panggil dan bawa serta untuk berusaha meningkatkan kesejahteraannya lahir dan batin itu, adalah masyarakat-agraris, masyarakat pertanian dengan segala sifat dan pembawaannya sebagai “masyarakat tani”.

Taraf hidup dalam sebagian terbesar dari desa-desa kita, lebih-lebih sebelum “pemulihan kemerdekaan” masih dekat sekali kepada gambaran masyarakat desa seperti yang dilukiskan oleh DR. MOHAMMAD HATTA dalam bukunya “Beberapa Fasal Ekonomi”, antara lain sebagai berikut ;

“ ….. Tanah adalah pokok penghasilan yang terutama. Pada tanah bergantung nasib manusia. Betul tak ada penghasilan yang jadi, kalau tidak dengan usaha manusia, tetapi pekerjaan manusia cuma sedikit bagiannya. Kerja manusia hanya mencangkul sedikit, menanam bibit dan mengatur banyak air yang perlu bagi tanamannya. Selanjutnya diserahkan kepada alam untuk membesarkanya bibit itu sampai menjadi buah.

Kalau bibit sudah ditanam, orang dapat mengetahui, apabila waktu menuai, apabila buah dapat dimakan. Itu diketahui berkat pengalaman. Kebiasaan menunggu berbulan-bulan akan hasil usaha bertanam dan kepastian bahwa saban tahun orang dapat mengharapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyebarkan hati dan menetapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyabarkan hati dan menetapkan perasaan. Oleh karena itu persekutuan dusun tenang rupanya, bersifat menanti. Semuanya, langkah dan waktu ditetapkan oleh alam. tidak ada pekerjaan yang harus dan diburukan.

Penghidupan beredar menurut irama yang sudah tentu. Dan tahun ketahun edaran ekonomi tetap, tidak berubah-ubah.

Memang ada yang mengganggu ketetapan itu. Misalnya musim kemarau, musim penyakit dan bahaya perang, yang memusnahkan beberapa jiwa. Tetapi selainnya menunggu, segala marabahaya itu menetapkan kembali keadaan yang lama. Jiwa yang bertambah dari tahun ke tahun disapunya kembali. Oleh karena itu neraca penghidupan masyarakat serupa lagi dengan keadaan semula sebelum bertambah umatnya.

Sebab itu pula segala marabahaya itu dirasai orang sebagai satu fatum, “takdir” yang tak dapat dihindarkan.

Kepercayaan akan takdir seperti itu memperkuat perasaan menyerahkan nasib yang sudah tertentu, menimbulkan keyakinan bahwa yang ada itu, tidak dapat diubah-ubah. Demikianlah keadaannya penghidupan jiwa di dusun. Alam dan tempat, menjadi alat pengasuh perasaan kuno, perasaan menyerah dan perasaan sabar.”

Demikian DR. MOHAMMAD HATTA. Beliau memaparkan ini beberapa belas tahun yang lalu.

Tetapi pada umumnya apa yang digambarkan oleh Bung Hatta itu masih merupakan satu gambaran yang karakteristik atau ciri umum dari masyarakat pedesaan kita, boleh dikatakan di seluruh tanah air.

Maka apabila sekarang kita hendak membangun perikehidupan masyarakat desa kita yang demikian, tidaklah dapat kita menutup mata dari keadaan yang nyata itu.

Agar atas pengetahuan kita tentang “kekayaan alam” yang ada, pengetahuan kita tentang “tingkat kecerdasan” umat, tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam unsur “non-ekonomis” itu, dapatlah kita menggariskan rencana usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan “approach”nya kata orang sekarang.

Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada umumnya berada dalam alam “statis-tradisionil” itu dengan bermacam-macam cara. Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi yakni dengan pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC. Ada yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit. Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern.

Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”.

Caranya; “ modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”.

Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :

(Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh

(Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat desa terlibat hutang yang tak terbayar.

(Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi “besi tua”.

Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur manusianya.

Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.

Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka akan bingung dan patah semangat.

Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik.

Membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan dan dinamikanya. Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seimbang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’a nya.

Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia” inilah jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah dibidang apapun.

 

“Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri”.

Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya.

 

2. Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam persoalan yang harus diatasi.

Antara lain ;

Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya entah di bidang sandang ataupun pangan.

Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.

Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced means of production), misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang yang semuanya diperlukan untuk proses produksi.

Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar, pembeli alat-alat penghasil itu.

Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan tetapi disimpan, lalu digunakan untuk produksi selanjutnya.

 

Dengan lain perkataan; apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang”, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada masa yang akan datang. Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar pula.

Bagaimana pentingnya penumpukkan modal bagi suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya, dapat kita rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya. Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan. Ini mengakibatkan kita sedikit, atau tidak sama sekali dapat memupuk modal ini, juga mengakibatkan hasil produksi kecil tak mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup merosot, dan ekonominya tak mungkin berkembang. Jadi ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari taraf yang rendah, ialah :

a.  memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.

b. menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

Sering persoalan yang tumbuh ialah, bagaimana kita membawa umat dan masyarakat desa itu kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”, dan bagaimana supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (waste).

 

Alhamdulillah dalam masyarakat kita tidaklah ada unsur-unsur non ekonomis yang mengakibatkan pemborosan secara besar-besaran.

Tidak ada umpamanya masalah sacred cow dan sacred monkey seperti di India umpamanya, di mana rakyat Hindu yang merupakan mayoritas mempunyai kepercayaan yang mendalam bahwa sapi adalah hewan yang suci tak boleh disembelih. Kira-kira 80 juta ekor sapi, atau kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah sapi di India itu, yang kekuatannya tidak dimanfaatkan lagi dalam proses produksi seperti membajak, penghela pedati, atau sapi perahan tidak boleh disembelih tetapi harus dipelihara dan diberi makan selama hidupnya.

Demikian pula ada kepercayaan mayoritas rakyat India bahwa “monyet” atau “kera” pun adalah binatang yang suci. Dibeberapa daerah monyet demikian berkembang biaknya sehingga menjadi gangguan besar bagi tanam-tanaman dan menimbulkan kerugian-kerugian yang tak kecil, bagi perkebunan-perkebunan. Sungguhpun demkian  monyet tersebut tidak boleh dibunuh.

Para sarjana Ekonomi India dan pemimpinnya sudah menyadari betapa besarnya “economic waster” yang ditimbulkan oleh itu semua. Akan tetapi mereka sampai sekarang tidak atau belum mengatasinya. Dan Nehru semasa hidupnya pernah menghadapi protes-protes yang pedas dari rakyat India, ketika ia mengupas persoalan sacred monkey” itu secara rasionil, dan mengemukakan idea untuk mengekspor monyet-monyet itu hidup-hidup ke luar negeri, di mana monyet-monyet itu dapat dimanfaatkan kulitnya sedangkan India mendapat devisa yang diperlukan untuk pembentukan modal. Mengenai masalah sacred cow, Nehru ataupun para pemimpin politik dan ekonomi India lainnya, tidak pernah berani menyinggungnya. Malah memberi perlindungan atas sacred cow ditempatkan dalam Undang-undang Dasar Negara India sendiri.

Jelaslah sudah, bahwa kepercayaan yang hidup dalam masyarakat seperti ini merugikan Gross National Produkct (GNP) India, dan merintangi pemupukan modal. Akan tetapi dalam hal ini pemimpin India yang bertanggung jawab berhadapan dengan suatu kepercayaan agama yang sudah berurat berakar pada masyarakat India, mengelakkan konfrontasi dengan mereka, berdasarkan pertimbangan bahwa suatu percobaan untuk memberantasnya secara radikal, niscaya akan berakibat negatif yang akan mencetuskan kekacauan dan kerusakan-kerusakan terus menerus, dan akan mengakibatkan macetnya pembangunan ekonomi.

Di Indonesia kita tidak menjumpai masalah-masalah seperti tersebut di atas. Di Pulau Bali, di mana mayoritas rakyatnya beragama Hindu-Bali, tidak ada masalah sacred cow ataupun sacred monkey. Malah sapi Bali terkenal sebagai sapi sembelihan, dan di Bali sendiri ada Canning Industry, yang menghasilkan Corned Beef.

Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan (waste) besar-besaran boleh dikatakan tidak ada.

Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besar-besaran yang terjadi bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang kesekian, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.

Namun masih ada kemungkinan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau perjudian massal dalam bermacam-macam bentuknya, seperti hwa-hwe dan lain-lainnya, yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya.

Inilah yang sangat perlu diawasi.

Selain dari pada itu, sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita di sini pada umumnya masih tetap tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

Kedua-duanya memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif, mengandung pendorong dan perangsang, force of motivation, tenaga penggerak untuk mendinamisser satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”. Menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan, dan yang semacam itu merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

 

GALI DARI AJARAN ISLA M

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju, antara lain:

 

1. Keseimbangan

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ;

a) “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

b) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”.  (Hadist).

 

2. Self help

Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”,  dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain :

c) “Kamu ambil seutas tali, dan  dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”.  (Hadist).

Diperingatkan bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah :

d). “Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran (keengkaran)”  (Hadist).

3.       Tawakkal

Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa;

e) Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.

f) “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. (Atsar dari Shahabat).

Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang, tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.

4.       Kekayaan Alam

g) “Di arahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.[47]

Kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna [48]

menghasilkan buah bermacam rasa.[49]

Kepada alam hewan dan ternak serba guna dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.[50]

Kepada perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.[51]

Kepada lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah), dan supaya kamu pandai bersyukur”.[52]

Kepada bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.[53]

 

5.       Time – Space – Consciousness

h.  “Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingan nya waktu yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.[54]

i.  “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. [55]

j.  “Dibandingkan kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah ini” dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit”[56] dan Dia lah yang menjadikan bumi mudah untuk kamu gunakan.

Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.[57]

Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. [58]

 

6.       Jangan Boros [59]

k.  “Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri,agar jangan melewati batas, dan berlebihan ;[60]

“Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.[61]

 

Kalau disimpulkan ;

Alam ditengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia, dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan oleh manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada ilahi, serta menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Dan ini semua adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.

Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, tak dapat tidak merupakan sumber dorongan bagi kegiatan penganutnya, juga di bidang ekonomi, yang bertujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).

“Hasil yang nyata” dari dorongan-dorongan tersebut tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa penganutnya itu sendiri, kepada tingkat kecerdasan yang mereka capai dan kepada keadaan umum di mana mereka berada.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:

 

1).     Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh

Ka karang rancam ma-aruih

Ka pantai ombak mamacah

Jiko mangauik kameh-kameh

Jiko mencancang, putuih – putuih

Lah salasai mangko-nyo sudah

 

2).     Caranya:

Senteng ba-bilai,

Singkek ba-uleh

 

Ba-tuka ba-anjak

Barubah ba-sapo

 

Anggang jo kekek cari makan,

Tabang ka pantai kaduo nyo,

Panjang jo singkek pa uleh kan,

mako nyo sampai nan di cito,

 

Adat hiduik tolong manolong,

Adat mati janguak man janguak,

Adat isi bari mam-bari,

Adat tidak salang ma-nyalang,

(basalang tenggang.)

 

Karajo baiak ba-imbau-an,

Karajo buruak bahambau-an,

Panggiriak pisau sirauik,

Patungkek batang lintabuang,

Satitiak jadikan lauik,

Sakapa jadikan gunuang,

Alam takambang jadikan guru.

 

Jiko mangaji dari alif,

Jiko babilang dari aso,

Jiko naiak dari janjang,

Jiko turun dari tanggo.

 

Pawang biduak nan rang Tiku,

Tandai mandayuang manalungkuik,

Basilang kayu dalam tungku,

Disinan api mangko hiduik.

Handak kayo badikik-dikik,

Handak tuah batabua urai,

Handak mulia tapek-i janji,

Handak luruih rantangkan tali,

Handak buliah kuat mancari,

Handak namo tinggakan jaso,

Handak pandai rajin balaja.

Dek sakato mangkonyo ado,

Dek sakutu mangkonyo maju,

Dek ameh mangkonyo kameh,

Dek padi mangkonyo manjadi.

Nan lorong tanami tabu,

Nan tunggang tanami bambu,

Nan gurun buek kaparak

Nan bancah jadikan sawah,

Nan munggu pandan pakuburan,

Nan gauang katabek ikan,

Nan padang kubangan kabau,

Nan rawang ranangan itiak.

Alah bakarih samporono,

Bingkisan rajo Majopahik,

Tuah basabab bakarano,

Pandai batenggang di nan rumik.

 

 

Latiak-latiak tabang ka Pinang

Hinggok di Pinang duo-duo,

Satitiak aie dalam piriang,

Sinan bamain ikan rayo.

 

 

3).     Kemakmuran :

 

Rumah gadang gajah maharam,

Lumbuang baririk di halaman,

Rangkiang tujuah sajaja,

Sabuah si bayau-bayau,

Panenggang anak dagang lalu,

Sabuah si Tinjau lauik,

Birawati lumbuang nan banyak,

Makanan anak kamanakan.

Manjilih ditapi aie,

Mardeso di paruik kanyang.

 

4).     Perhatian :

Ingek sabalun kanai,

Kulimek balun abih,

Ingek-ingek nan ka-pai

Agak-agak nan ka-tingga

 

 

Teranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha pembangunan itu.

 

N U C L E A R :

 

Lah masak padi ‘rang singkarak,

masaknyo batangkai-tangkai,

satangkai jarang nan mudo,

 

Kabek sabalik buhus sontak,

Jaranglah urang nan ma-ungkai,

Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.

Melupakan atau mengabaikan ini, mungkin lantaran menganggapnya sebagai barang kuno yang harus dimasukkan kedalam museum saja, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Membangun kesejahteraan dengan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusia nya, sehingga menjadi homo ekonomikus, sebagaimana yang kita lihat sekarang sedang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan dapat dimulai setiap waktu. Tidak menunggu sampai datangnya kredit luar negeri, atau kapital asing yang akan mendirikan pabrik-pabrik modern di negeri kita lebih dulu. Tidak.

Sebab dia dimulai dengan apa yang ada.

Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.

Ibarat orang mengaji dia memulai dari alif. Sesudah itu baa, kemudian taa, dan seterusnya. Selangkah demi selangkah – step by step – thabaqan ‘an thabag.

Dia mulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat pedesaan itu. Kepada kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam dirinya masing-masing.

 

Yakni :daya observasinya yang bisa dipertajam

daya pikirnya yang bisa ditingkatkan

daya gerak nya yang bisa didinamiskan,

daya ciptanya yang bisa diperhalus,

daya kemauannya yang bisa dibangkitkan.

 

Dia mulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help kata orang sekarang  sesuai dengan peringatan Ilahi.

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….”

Cukupkan dari yang ada …

Telapak tangan….

Di sini kita melihat peranan hakiki dari Sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani.

Dalam hubungan peringatan ulang tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang, Pak Natsir mengatakan:

 

“Tadi pagi, kita sudah melihat Pameran Yayasan Kesejahteraan dari hasil usaha masyarakat pedesaan. Amat sederhana. Tidak dapat dibandingkan dengan Pameran Jakarta Fair yang sekarang juga di Jakarta itu. Bila kita melihat barang-barang yang sederhana itu, marilah kita coba melihat dibelakang barang-barang itu, pula perkembangan potensi pribadi, dari manusia-manusia yang telah melalui process, harap cemas kegagalan, dinamika-dinamika daya cipta yang berkembang penuh dengan, suka-duka, dengan cucuran keringat, seringkali tetesan air mata, dalam menghadapi kesulitan yang serasa tak dapat diatasi, menghadapi kegagalan-kegagalan yang hampir membawa hanyut kedalam putus asa silih berganti dengan gertaman gigi, didorong oleh cita-cita dan kemauan untuk berjalan terus sampai berhasil…

“Jangan berhenti tangan mendayung,

nanti arus membawa hanyut” …..

Begitu bunyi suara hati mereka. Itu yang ada dibelakang hasil lahiriyah yang dipameran itu. Mereka masih mengaji alif-baa-taa. Kemauan mereka akan melanjutkan kaji khatam

 

Memang pada permulaan, terasa lambat kaji beralih, dari reka kereka berangsur-angsur. Disatu saat kaji self help (menolong diri sendiri) beralih kepada kaji mutual help, tolong-menolong, bantu-membantu, dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun kata ahli agama. Sesuai dengan anjuran Ilahi :

“Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan.

Dari taraf ini berangsur-angsur kepada take-off kata orang sekarang. Dimana ibarat mesin sudah hidup, baling-baling sudah berputar pesawatnya mulai bergerak, meluncur di atas landasan, naik berangsur-angsur semakin lama semakin tinggi.

Kalau sudah demikian maka akan sampailah ke taraf ketiga, yaitu taraf yang biasa kita namakan selfless help yaitu dimana kita sudah dapat memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan apa-apa.

Itulah taraf ihsan yang hendak kita capai sesuai dengan maqam yang tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup duniawi ini oleh seorang Muslim dan masyarakat Muslimah.

Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi;

“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan).

 

Satu kemajuan Insya Allah akan terwujud dengan semboyan:

“Mulai dengan melatih diri sendiri, mulai dengan alat yang ada, mencukupkan dengan apa yang ada. Yang ada itu adalah cukup untuk memulai.

Kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau infaq fii sabilillah dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa.

“Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. [62]

Itu tujuan yang hendak kita capai

Begitu khittah yang hendak kita tempuh.

Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil.

Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”. Dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya.

 

Pak Natsir memperingatkan pula tentang kekuatan moral yang dimiliki.

Saudara telah menanamkan “nawaitu” dalam diri Saudara masing-masing untuk membina umat dalam masyarakat desa yang sudah Saudara-Saudara ketahui kekuatan, baik kekuatan ataupun kelemahan di dalamnya.

Saudarapun telah bersama-sama dengan mereka mengalami suka dan duka, manis dan pahitnya.”

Pernah ditahun 1946, setahun sesudah proklamasi, rombongan kami (kata Pak Natsir), disambut di Bukittinggi dengan pantun :

“Mandaki ka gunung Marapi,

Manurun ka Tabek  Patah,

Nampak nan dari Koto Tuo,

Lah barapo kali musim baganti,

Lah urang awak bana nan mamarintah,

Nasib kami baitu juo”. [63]

Maka jawablah pantun itu dengan “amal”, dengan Syi’ir posisie kucuran keringat dan perasan otak. Kalau kadang-kadang hendak berpantun juga, pelepaskan lelah, jawabkan saja ;

Ba-ririk bendi di Indarung

Mandaki taruih ke Tinjau Lauik

Jan baranti tangan mandayuang,

Nanti aruih mambao hanyuik”.[64]4)

Bismillah …..

Kembangkan layar bahtera kecil saudara-saudara menuju pulau harapan. Kami do’akan bersama-sama ;

 

Tukang nan tidak mambuang kayu,

Nan bungkuak kasingka bajak,

Nan luruih katangkai sapu,

Satangkok kapapan tuai,

Nan ketek pa pasak suntiang [65]

 

Anak urang Padang Mangateh,

Nak lalu ka Payokumbuah,

Namun nan singgah iko ka ateh,

Bijo barandang nan ka tumbuah. [66]

Mamutiah cando riak danau,

Tampak nan dari muko-muko,

Batahun-tahun dalam lunau,

Namun nan intan bakilek juo.[67]

 

Bekerjalah ….. ,

Bismillah …… –

 

 

 

TIDAK BOLEH KITA PASIF [68]

 

Pertanggungan jawab moral kita, tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin. Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedangkan teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.

Memang …..,

“Ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpin dari orang awam.”

Makanya kita yang dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal.

Kita memiliki dan seharusnya memiliki ;

(      Ke-Iman-an kepada Tuhan Yang Maha Esa,

(      Daya pikir dan daya cipta

(      Cara hidup yang bersih

(      Akhlaq dan budi pekerti yang baik,

(      Rasa cinta kepada Agama, nusa dan bangsa umumnya,

(      Rasa setia kawan dan rasa tanggung jawab moril terhadap saudara mereka itu, yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejaran dan persamaan pandangan hidup, khususnya.

Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uang atau kekuatan lahir.

Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong…..

 

 

 

“HIDUPKAN KEMBALI

UKHUWWAH ISLAMIYAH” [69]

 

Sudah mulai agak janggal pula kedengarannya bila menyebut kaji ini. Kaji yang sudah begitu lama kita kunyah. Tetapi, yang masih sedikit sekali berjumpa pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan modern dengan alat-alat penghubungnya yang serba lengkap, automobil, kereta api, kapal terbang, tilpon, pers, radio, televisi, semua itu ternyata gagal dalam menghubungkan jiwa dan jiwa, dalam ikatan persaudaraan yang ikhlas dan hakiki.

Rupanya soalnya bukan soal alat. Soalnya terletak pada jiwa yang akan mempergunakan alat penghubung itu sendiri. Sebaik-baik alat pemotret tidak bisa memprodusir gambar seseorang yang tidak ada. Alat-alat komunikasi yang ultra modern yang dapat menyampaikan pesan kepada satu satelit di luar bumi dengan tekanan suatu knop saja, alat-alat semacam itu tidak mampu menghubungkan rasa muhibbah itu sendiri yang tidak ada.

Alat-alat komunikasi sebagai hasil dari teknik modern ini telah dapat memperpendek jarak sampai sependek-pendeknya. Akan tetapi jarak jiwa dan rasa manusia tidak bertambah pendek lantarannya. Malah sebaliknya yang seringkali kita jumpai. Hidup bernafsi-nafsi, siapa lu siapa gua, semakin merajalela.

Inilah problematik dunia umumnya sekarang ini, ditengah-tengah kemajuan material dan teknik yang sudah dapat dicapai manusia diabad XX ini.

Ini juga problematik yang dihadapi manusia Umat Islam khususnya.

 

Persoalan uchuwwah Islamiyah ini wajib kita memecahkannya dengan sungguh-sungguh, kalau benar-benar kita hendak menegakkan Islam dengan segala kejumbangannya kembali dinegara ini.

 

Bagi Umat Islam soal ini hanya dapat dipecahkan oleh Umat Islam sendiri, tidak boleh oran lain.

Dan jika tidak dipecahkan, maka yang salah ialah Umat Islam sendiri, terutama para pemimpinnya, bukan orang lain.

 

Menegakkan dan menyuburkan Ukhuwwah Islamiyagh tidaklah sangat bergantung kepada alat-alat modern, tidak pula kepada harta bertimbun-timbun.

Malah dikalangan kaum yang hidup sederhana itulah kita banyak berjumpa “suasana ukhuwwah” lebih dari kalangan yang serba cukup dan mewah.

Dan ….,

Sekiranya ukhuwwah itu dapat ditumbuhkan hanya dengan mendirikan bermacam-macam organisasi, dengan anggaran dasar dan kartu anggotanya, dengan semboyan-semboyan dan poster-posternya, semestinya ukhuwwah sudah lama tegak merata diseluruh negeri ini.

 

Sekiranya ukhuwwah Islamiyah dapat diciptakan dengan sekedar anjuran-anjuran lisan dan tulisan, semestinya sudah lama ukhuwwah Islamiyah itu hidup subur dikalangan Umat Islam, dan umat itu sudah lama kuat dan tegak.

Sebab sudah cukup banyak anjuran lisan dan tulisan yang dituangkan kepada masyarakat selama ini.

Ayat dan hadist mengenai ukhuwwah, sudah berkodi-kodi kertas, dilemparkan kedalam masyarakat dengan majalah-majalah, buku-buku dan surat-surat kabar, sudah hafal, dikunyah-kunyah dan dimamah orang banyak.

 

Kalau ukhuwwah Islamiyah belum kunjung tercipta juga, itu tandanya pekerjaan kita belum selesai.

Dan kalau usaha-usaha selama ini belum berhasil dengan memuaskan, itu tandanya masih ada yang ketinggalan, belum dikerjakan.

 

Rupanya soal ukhuwwah ini soal hati yang hanya dapat dipanggil dengan hati pula.

Sedangkan yang sudah terpanggil sampai saat sekarang  barulah telinga dan dengan kata. Oleh karena pihak pemanggil yang bisa berbicara barulah lidah dan pena-nya belum hati dan jiwanya.

 

Rupanya dan memang terbukti rahasianya menegakkan ukhuwwah Islamiyag terletak dalam sikap langkah dan perbuatan yang kecil-kecil dalam pergaulan sehari-hari, seperti yang ditekankan benar oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam dalam membina jamaah dan umat Islam yang pertama-tama, tegur sapa, memberi salam, dan menjawab salam, mengunjungi orang sakit yang sedang menderita, mengantarkan jenazah ke kubur, memperhatikan kehidupan sejawat, membujuk hati yang masygul, membukakan pintu rezeki bagi mereka yang terpelanting, membukakan pintu rumah dan pintu hati kepada para dhu’afa, dan amal-amal kecil yang semacam itu, kecil-kecil tapi keluar dari hati yang ikhlas dan penuh rasa persaudaraan.

Sedangkan kita selama ini lebih tertarik oleh cara-cara borongan, demonstratif, dengan berteras keluar, asal kelihatan oleh orang banyak.

 

Wal hasil, membangun kembali ukhuwwah Islamiyah memerlukan peninjauan dan penilaian kembali akan cara-cara yang sudah ditempuh sekarang.

  • dia memerlukan daya cipta dari pada pemimpin yang dapat berijtihad,
  • dan memerlukan para pekerja lapangan tanpa nama, tanpa mau dikenal khalayak ramai,
  • bersedia meniadakan diri.

 

Memakmurkan masjid kembali, menyusun jamaah, melalui itu, menegakkan ukhuwwah Islamiyah adalah kaji alf-baa-taa.

Bukan barang baru lagi ahli qiraat, tapi mungkin sekali kelalaian kita ini adalah lantaran berlaku seperti ahli qiraat yang asyik dengan nada dan irama suara, tapi lupa akan pokok-pokokonya “tajwid alif-baa-taa”.

Waktu belum kasip, asal mulai dari sekarang.

 

Sekarang ;

Jangan habis masa dengan mengunyah dan memamah apa-apa yang diperbuat dan tidak diperbuat orang lain.

Tak usah kita terombang-ambing, oleh pertanyaan-pertanyaan seperti : “Bila nanti orang membuka pasar, apakah kita akan turut berjual beli …?

Pertanyaan semacam ini baru pantas dipikirkan jawabnya oleh orang yang sudah memiliki modal atau barang yang akan diperdagangkan.

Adapun orang yang kantongya kosong, barang-barang pun tak punya, apakah yag akan diperjual-belikannya nanti biar pun orang membuka pasar …., Jangan-jangan dia seperti yang akan jadi barang dagangan orang lain ………,     Semogalah tidak akan berlaku sebagai yang dikeluhkan sya’ir ;

 

“ Maka berserulah situkang seru ;

“ Wahai manakah dia yang menyahuti seruan ini,

“ Yang diseru,

“ tak kunjung menyahut juga …..”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MASJID – JAMAAH – UKHUWWAH

 

Makmurkan Masjid kembali,

Tegakkan Jamaah dari sana ![70]

 

Seringkali bila kita berkata kepada orang yang sudah biasa apa yang disebut berpolitik, berorganisasi dan berlambang “Memakmurkan Masjid”, mereka sambut denga sikap skeptis dan dingin, sebab bunyinya kurang menarik, persoalannya tidak diraskan aktuil, tidak vital bila dihubungkan denga apa yang mereka namakan “perjuangan”.

Sebenarnya maka mereka ini bersikap begitu oleh karena sudah lama terkurung dengan tidak sadar barangkali dalam cara berpikir yang konvensional dan statis.

Pada hal, sesungguhnya kepada Umat Islam, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewariskan justeru Masjid itu sebagai lambang pembina potensi umatnya.

Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusuhan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh derita.

Masjid bukanlah semata-mata tempat shalat, kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat.

 

Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun jamaah.

Islam tidak  dapat tegak tanpa jamaah.

Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah.

Yang satu “muamalah maal khalqi”.

 

Ini kaji “ alif – baa – taa”.

Yang sudah terang perintah.

Bahwa perintah :

 

 

Adalah perintah wajib

 

Masyarakat Islam memikul jamaah yang dikenakan langsung oleh jamaahnya/agamanya.

Maka Masjid adalah warisan Rasul, sebagai penangkalan bagi Umat Islam untuk membina jamaahnya. Menambah pngertian, mempertinggi kecerdasan, dan akhlaq budi pekerti, mendinamikan jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota jamaahnya, dalam menghadapi pokok-pokok persoalan hidup.

Malah dari Masjid dan Langgar yang berjiwa hidup dan dinamis sebagai pusat, dapat diberikan bimbingan yang menaikkan taraf kemakmuran hidup oleh para ahli yang mencintai umat.

Soalnya penghidupan mereka, kebanyakannya, soal yang sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman dan pupuk, soal mempertinggi hasil bumi, soal tambak, tebat ikan, dan kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan yang belum berganti, soal sapi yang belum berobat, soal atap tiris yang belum disisip, soal anak yang belum sekolah …, Soal-soal yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan sistem ekonomi yang hebat-hebat, sistem pesawat udara jet-jet tanpa landasan tempat naik dan turunnya.

 

Dengan masjid yang berjiwa hidup sebagai pusat pembinaan umat, pusat  pembinaan jamaah, akan dapatlah Umat Islam memelihara “Izzah” kepribadian umat dalam berkecimpung dalam masyarakat ramai yang berbagai corak, ibarat ikan dilaut memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin; dapat pula jamaah Islam itu berlomba-lomba dengan jamaah lainnya menegakkan kebenaran dan keadilan dan menyumbangkan kebajikan bagi masyarakat umum.

 

Itu fungsi Masjid,

Itu kewajiban Umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan macam manapun.

Bina Jamaah melalui Masjid …..,

Hidupkan Masjid kembali, nanti, masjid akan memancarkan hidup kepada umat.

Akan beberapa puluh ribu benar jumlah gedung-gedung kebudayaan, markas-markas organisasi dengan mulanya, stadion-stadion dengan lapangannya, dinegeri ini.

Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertabur-tabur dinegeri ini.

Tinggal; mengisi dan menghidupkannya.

Bukan sekedar memperindahnya untuk diperagakan dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marme berukir-ukir, menyimpan mayat tak bernyawa di dalamnya.

Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal dan kekayaannya yang menjadi sumber kekuatannya.

Bukankah masjid yang hidup itu, kepada Umat Muhammad di amanatkan untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain dari kepada Allah.[71]

 

Sudah lupakah kita bahwa ;

“ Hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah,

“ orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari

“ kemudian, serta menegakkan shalat dan mengeluarkan

“ zakat, dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah;

“maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang terpimpin”,[72]

Ini tuntutan yang diterima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini.

 

 

 

 

KABINET SEMENJAK PROKLAMASI

SAMPAI SEKARANG

 

  1. 1. PRESIDENTEEL KABINET                      (Kab. RI Ke-1) 2 Sep 1945 – 14 Nov 1945
  2. 2. KABINET SYAHRIR Ke-I                         (Kab. RI Ke-2) 4 Nov 1945 – 12 Mar 1946
  3. 3. KABINET SYAHRIR Ke-II                        (Kab. RI Ke-3 12 Mar 1946 – 2 Okt 1946
  4. 4. KABINET SYAHRIR Ke-III                      (Kab. RI Ke-4) 2 Okt 1945 – 3 Juli 1946
  5. 5. KABINET AMIR SJARIFUDDIN Ke-I (Kab. RI Ke-5)  3 Juli 1946 – 11 Nov 1947
  6. 6. KABINET AMIR SJARIFUDDIN Ke-II      (Kab. RI Ke-6) 11 Nov 1947 – 29 Jan 1948
  7. 7. PRESIDENTEEL KABINET HATTA I (Kab. RI  Ke-7) 29 Jan 1948 – 4 Agust 1949
  8. 8. KABINET DARURAT SJARIFUDDIN (Kab. RI Ke-7a) 19  Des 1948 – 13 Juli 1949
  9. 9. PRESIDENTEEL KABINET HATTA II      (Kab. RI Ke-8)  4 Agust 1949 – 4 Agust 1949
  10. 10. KABINET SUSANTO                                 (Kab. Peralihan RI Ke-9) 21Des 1949 – 21 Jan 1950
  11. 11. KABINET HALIM                                        (Kab. RI Yogyakarta – Kab. RI Ke-10a) 21Jan 1950 – 6 Sep 1950
  12. 12. KABINET HATTA     (Kab. RIS pertama / terakhir, merupakan kab. RI ke-10a) 20 Des 49 – 6 Sep 50
  13. 13. KABINET NATSIR          (Kabinet NKRI 1 dan kab. RI Ke-11) 6 Sep 1950 – 27 Aprl 1951
  14. 14. KABINET SUKIMAN     (Kab.RI Ke-12)  27 Aprl 1952 – 3 Aprl 1953
  15. 15. KABINET WILOPO        (Kab. RI Ke-13) 3 Aprl 1952 – 1 Agust 1953
  16. 16. KABINET ALISASTROAMIDJOJO Ke-I         (Kab. RI Ke-14)       1Agust 1953 – 12 Agust 1955
  17. 17. KABINET BURHANUDDIN HARAHAP        (Kab. RI Ke-15)       12 Agust 1955 – 24 Aprl 1956
  18. 18. KABINET ALISASTROAMIDJOJO Ke-II       (Kab. RI Ke-16)       24Aprl 1956 – 9 Aprl 1957
  19. 19. KABINET JUANDA atau KABINET KARYA       (Kab. RI Ke-17)    9Aprl 1957 – 22 Juli 1959
  20. 20. KABINET KERJA I                    (Kab. RI Ke-18)           10 Juni 1959 – 18 Febr 1960
  21. 21. KABINET KERJA II                  (Kab. RI Ke-19)           18 Febr 1960 – 6 Mar 1962
  22. 22. KABINET KERJA III                (Kab. RI Ke-20)           6 Mar 1962 – 13 Nov 1963
  23. 23. KABINET KERJA IV                (Kab. RI Ke-21)           13 Nov 1963 – 27 Agust 1964
  24. 24. KABINET DWIKORA I           (Kab. RI Ke-22)           27 Agust 1964 – 22 Febr 1966
  25. 25. KABINET DWIKORA yang disempurnakan (Kab. RI Ke-23)  24 Febr 1966 – 28 Mar 1966
  26. 26. KABINET DWIKORA yang disempurnakan lagi (Kab. RI Ke-24) 28 Mar 1966 – 25 Juli 1966
  27. 27. KABINET AMPERA (Kab. RI Ke-25) 25 Juli 1966 – 17 Okt 1967
  28. 28. KABINET AMPERA yang disempurnakan (Kab. RI Ke-26) 17 Okt 1967 – 6 Juni 1968
  29. 29. KABINET PEMBANGUNAN I      (Kab. RI Ke-27) 6 Juni 1968 – 28 Mar 1973
  30. 30. KABINET PEMBANGUNAN II    (Kab. RI Ke-28) 29 Mar 1973 – 29 Mar 1978
  31. 31. KABINET PEMBANGUNAN III (Kab. RI Ke-29) 29 Mar 1978 – 19 Mar 1983
  32. 32. KABINET PEMBANGUNAN IV (Kab. RI Ke-30) 29 Mar 1983 – 19 Mar 1988
  33. 33. KABINET PEMBANGUNAN V    (Kab. RI Ke-31) 23 Mar 1988 – 19 Mar 1993
  34. 34. KABINET PEMBANGUNAN VI (Kab. RI Ke-32)  19 Mar 1993 – 14 Mar 1998
  35. 35. KABINET PEMBANGUNAN VII (Kab. RI Ke-33) 14 Mar 1998 – 23 Mei 1998
  36. 36. KABINET REFORMASI PEMBANGUNAN (Kab. RI Ke-34) 23 Mei 1998 – Sekarang

 

 

 

 

 

Risalah Memulai,

Dakwah Melanjutkan

 

 

Dakwah adalah satu kata yang hanya bertemu dalam Al‑Quran, artin­ya mengajak. Ajakan dakwah adalah kepada Allah melalui ajaranb Islam.

Al‑Quran menjelaskan secara tuntas kata‑kata dakwah ini sebagai suatu  ahsan qaulan yang bermakna ucapan yang baik (ihsan). Bila lebih jauh kita mengartikan, ihsan itu adalah bahwa: “Kamu men­yembah Allah seakan kamu lihat Allah di depanmu. Tetapi, kamu tidak akan mungkin bisa melihat Allah itu di depanmu, namun kamu harus yakin bahwa Allah senantiasa melihatmu.”  Begitulah rumusan ihsan menurut Rasulullah.

Seorang anak gembala berdialog dengan Umar ibn Khattab ra, di tengah‑tengah kambing gembalaannya yang diajuk khalifah untuk menjual atau memberikan sekor saja dari ribuan gembalaannya, dengan imbalan yang sangat memadai. Si anak gembala menampik ajakan khalifah ini dengan alasan sederhana, bahwa tugasnya hanya menggembala yang tidak punya wewenang sebagai pemilik.

Umar mendesak, karena pemiliknya jauh dan tak terlihat, rasa tidaklah salah kalau dia mengambil manfaat dari kesempatan yang tengah terbuka itu.

Anak gembala itu menjawab tangkas, “Benar pemiliknya tak berada di sini. Pemiliknya juga tak mungkin menghitung berapa jumlah gembalaan yang ada. Pemiliknya bisa saja aku tipu. Tetapi fa aina Allah? (bagaimana dengan Allah?). Apakah Dia juga tidak melihat?”

Anak gembala ini terlepas dari sikap korupsi dan kolusi, hanya dengan sifat ihsan (lihat Athar Shahabi).

Seorang dai, dalam setiap qaulan‑nya ataupun fi’lan‑nya, yakni perkataan dan perbuatannya, senantiasa akan berbekas, manakala diwarnai oleh sifat‑sifat ihsan tersebut.

Inilah kiat dakwah Rasulullah saw.

Dakwah kepada Islam bermakna dakwah kepada mengamalkan syariat Islam. Setiap umat Islam tidak dapat tidak mempunyai kewajiban asasi, yakni melaksanakan syariat Islam sebagai tuntutan Allah dan tuntunan dienul Islam.

Al‑Quran menegaskan, hendaklah kamu menjadi satu umat yang ber­dakwah, mengajak kepada Islam (al‑khairi) serta menyuruh dengan yang ma’ruf (yakni yang haq dari Allah), kemudian tegas melarang dari yang mungkar (yang jelas diharamkan oleh syariat).

Dakwah bukanlah kepandaian semata, dengan ukuran intelektualita ataupun kepintaran retorika (berpidato). Dakwah adalah contoh, perbuatan nyata yang diikut oleh umat dakwah dalam membentuk suatu tatanan yang disebut khaira ummah, yakni ummat yang berkua­litas sepanjang zaman.

Itulah umat pilihan, yang menjadi beban dan tugas dai membentukn­ya bila belum terbentuk, dan tugas dai pula membinanya dan meme­liharanya, bila umat itu sudah terbentuk.

Tiada pilihan lain, kuncinya terletak kepada kesadarn dan kere­laan setiap dai mengikut uswah yang telah ditinggalkan Rasulullah saw. Inilah maknanya Risalah memulai, risalah memulai, dakwah melanjutkan.

Semoga Allah senantiasa meredhai kita.

 

 

 

MEMBANGUNKAN POTENSI UMAT

 

 

 

Masjid Almunawarah Kampung Bali I No.56 Tanah Abang  Jakarta, adalah tempat pertemuaan anatara umat dan pemimpinnya. Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Pebruari 1967, telah berdiri  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).  Lembaga ini didirikan oleh para ulama dan tokoh-tokoh Islam  dalam bentuk Yayasan dan Mohammad Natsir dipercayakan sebagai Ketua Umum.

 

DDII didirikan dengan semangat jihad dalam bentuk moderat (bapirau), selepas kebangkrutan politik Nasakom  orde lama.. DDII diharaapkan sebagai penampung aspirasi keluarga besar Bulan Bintang,  sesuai dengan  apa ayang pernah diucapakan  oleh  Ketua Umumnya : Dahulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui dakwah.  Bubarnya partai Masyumi  adalah salah satu korban politik orde lama, karena menurut Persahi waktu itu secara yuridis formil dan yuridis materil ,Masyumi tidak beralasan untuk dibubarkan. Dalam rangka menumbuhkan kembali potensi umat yang sudah terkoyak-koyak pada masa peralihan dari orde baru ke orde lama, barisan harus dirapatkan kembali sesuai dengan Firman Allah SWT : “ Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan Nya dalam barisan yang teratur, seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

 

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa berjuang di jalan Allah itu harus bersatu dalam organisasi yang kokoh kuat, sehingga tumbuhlah potensi umat yang kuat pula.. Maka untuk menhimpun kembali potensi keluarga besar yang sudah bercerai berai itu,  haruslah dengan kerja keras melalui tahap-tahap kegiatan  sebagai berikut :

 

I. KEGIATAN KONSERVASI

 

Mencari dan mengajak kembali semua tokokh-tokoh dan           pemimpin umat (stok lama) dserta keluarga besar dari seluruh tingkat. Usaha konversi  tidak boleh terhenti  sampai selesai, agar tidak terjadi proses “pembusukan”. Proses ini terlihat menggejala pada sebahagian anggota keluarga yang sempat uzlah atau hanyut bersama arus zaman.

 

 

II. KEGIATAN RE-INTEGRASI

 

Dari kegiatan konservasi yang pasif, supaya segera dilanjutkan  dengan usaha  re-integrasi  yang aktif., yaitu kegiatan menghimpun kembali  anggota keluarga yang sudah berserakan. Pada preode ini akan ada yang mengeluh : Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Sepertinya mereka sedang menunggu gong perobahan yang belum tentu kapan akan berbunyi, dan siapa yang akan memukul gong tersebut.  Usaha re-integrasi meliputi tiga bidang :

 

1.   Bidang re-integrasi umat ;

2.   Bidang re-integrasi pemimpin ;

3.   Bidang re-integrasi kader.

 

A. Re-integrasi umat :

 

Akibat korban politik orde lama, yang paling dirasakan oleh umat adalah penderitaan kehidupan rohani, disamping penderitaan kehidupan materi. Walaupun pada hari ini penderitaan kehidupan  materi sudah mulai agak sembuh, namun penderitaan kehidupan rohani terasa semakin parah, sehingga usaha untuk membangunkan potensi umat semakin berat. Kemana obatnya mau dicari?  Tidak usah

dicari kemana-mana,  karena salah satu obat penderitaan rohani  adalah dengan meluruskan niat. Namun perlu diingat bahwa nawaitu orang yang berpindah perahu dengan anggapan bahwa perahu yanag dahulu sudah kandas, berbeda dengan nawaitu orang yang berpindah perahu, akan tetapi masih  mau memikirkan nasib umat. Biarlah bertukar lambangnya asal tidak bertukar jiwanya., insya Allah ia tidak akan bernafas keluar badan (tidak bergayut).

 

B. Re-integrasi pemimpin :

 

Pemimpin umat masih banyak, tapi yang langka itu adalah pemimpin panutan. Ulama tidak langka, yang langka adalah ulama kharismatik. Kharisma seorang ulama atau pemimpin antara lain ditentukan oleh : Satu kata dengan perbuatan, punya prinsip/pendirian hidup, selalu berorientasi kepada kebenaran, dan selalu memikirkan nasib umat. Pemimpin  yang dibutuhkan di zaman ini ialah yang mampu melakukan re-integrasi umat dan berkemampuan tampil  sebagai : Konseptor, Organisator, Administrator, Penyandang/Pengumpul dana. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah pimpinan kolektif, bukan pimpinan yang terletak pada satu tangan.

 

C. Re-integrasi kader :

 

Pada setiap zaman ada rijalnya. Bagaikan pertunjukan seni pentas, babak demi babak akan beralih, pemain bisa berganti, bahan cerita selalu bertukar,  namun khittah tidak boleh berobah. Mempersiapkan kader sebagai pemain di pentas sejarah, antara lain perlu dilakukan :

 

1. Mempersiapkan jiwa kader (sejak dini) ;

2. Melengkapkan pengalaman mereka ;

3. Mencetuskan cita-cita

4. Menggerakkan dinamika ;

5. Menghidupkan self disiplin berlandaskan iman dan taqwa.

 

Menggarap lima poin tersebut bukanlah pekerjaan sambilan, akan tetapi dihadapi secara serius dengan meneyediakan waktu yang cukup memadai.. Untuk mengujudkannya perelu diperhatikan dua hal :

 

1.  Perlu diakui bahwa para kader sekarang sudah mengecap berbagai lapangan ilmu   pengetahuan  dengan berbagai disiplin ilmu. Namun sekali-kali tidak  boleh ditolerir setiap sikap yang melecehkan iman dan taqwa. Jangan menghalalkan segala cara. Serahkan kepada mereka penji-panji perjuangan, akan tetapi jangan sampai panji-panji itu terinjak oleh kaki orang yang membawanya.

 

2. Para kader sudah mampu mengurai berbagai teori sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka kuasai. Kita butuh kepada teori namun yang lebih dibutuhkan lagi adalah kemampuan berkecimpung ditengah-tengah umat, sehingga umat mengaggap bahwa yang berkecimpung itu adalah anak kandungnya. Memang para sarjana itu melek buku, akan tetapi sebahagian mereka buta kepada buku masyarakat. Membaca kitab masyarakat tidak dijumpai di bangku kuliah. Mereka harus memahami denyut jantung masyarakat yang pada gilirannya, mereka akan berurat di hati masyarakat itu. Jangan salah memilih kader, karena yang akan dapat mencetuskan api adalah batu api, bukan batu apung. Maka ditengah-tengah dinamika masyarakat tersebut lakukanlah serah terima antara generasi yang akan pergi dengan generasi pelanjut. Patah tumbuh hilang barganti.

 

III. KEGIATAN KONSOLIDASI DAN POLARISASI

 

Terhadap kepada kelompok-kelompok masyarakat (umat, pemimpin dan kader) yang sudah terintegrasi tersebut  segera di lanjutkan dengan usaha konsolidasi (menyatukan yang sudah terkumpul). Selanjutnya ditingkatkan dengan usaha polarisasi (saling mengkutub bagaikan magnet). Terakhir lakukanlah usaha koordinasi bagi kegiatan yang sejenis. Satukan pahan dan langkah,  diatur pembagian pekerjaan, dengan wajah, khitthah dan strategi yang satu, sehingga accu umat tidak pernah kosong. Selama accu umat selalu terisi, itulah yang dinamakan umat yang berpotensi.

 

Dalam menggarap semua kegiatan tersebut diatas jangan lupa bahwa :

 

1.   Re-integrasi merupakan aktivitas awal yang harus dipersiapkan secara matang.

2.   Setiap aktivitas perlu bimbingan.

3.   Bimbingan selalu berpedoman kepada rencana yang sudah dipersiapkan.

4.   Rencana atau program mengandung fakta dan data yang akurat.

 

Setiap akan memulai suatu pekerjaan apalagi kerja besar, Bapak Mohammad Natsir pernah berpesan :

 

– Yang sulit kerjakan sekarang;

– Yang tidak mungkin kerjakan besok, Insya Allah;

– Yang mudah serahkan kepada orang lain.

 

Kejayaan juga yang kau idamkan,

Jalan mencapai kau tempuh tidak,

Betapakah kapal akan berlayar di tanah kering.

 

 


[1]Deliar Noer, “Partai Islam di Pentas Nasional, 1945-1965”, Penerbit PT.Pustaka Utama Grafitti, Jakarta Cetakan Pertama, 1987, hal.349.

[2] ibid.hal.350.

[3] ibid.hal.354.

[4] ibid.hal.354.

[5] ibid.hal.355.

[6] ibid. hal. 356.

[7] Ibid. hal.368.

[8] ibid. hal 372.

[9] Ibid. hal. 375.

[10] Ibid. hal 386

[11] ibid hal 387

[12] ibid hal 388

[13] ibid hal 411

[14] ibid hal 414-416

[15] ibid hal 417-424

[16] ibid hal 455

[17] ibid hal 457

[18] ibid hal 45-46

[19] ibid hal 47

[20] ibid hal  49

[21] ibid hal 50

[22] ibid hal 51

[23] ibid hal 52

[24] ibid hal 54

[25] ibid hal 54-55

[26] ibid hal 55

[27] ibid hal 56

[28] ibid hal 57

[29] ibid hal 72

[30] ibid hal 73

[31] ibid hal 75

[32] ibid hal 76-77

[33] Pesan Pak Natsir dari Batu Malang, 1963.

[34] QS. Al-Ankabut, ayat 69.

[35] (Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai  “salon politik” yang menjadikan pemimpin amateur).

[36]. Juru bicara kita waktu itu, selain Pak Natsir sendiri, ialah Pak H.M. Rasjidi, Pak Abdullah Salim, Pak Muchtar Lintang, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Buya Malik Ahmad, Kiai Taufiq, dan lain‑lain

 

[37].  M.Natsir, Demokrasi di Bawah Hukum, Media Da’wah, Jakarta, Cetakan Pertama, 1407/1987, 29 halaman.

[38]. Uraian Mohammad Natsir tentang Q.S. Al‑Ankabut: 69, lihat antara lain Serial Media Dakwah No. 190 Ramadhan 1410/April 1990, halaman 36‑37.

[39] Pesan Bapak Mohammad Natsir  1961, Padang Sidempuan.

[40] Mengingat langkah yang di lalui, untuk keluarga pejuang.

[41] Pesan Pak Natsir, kepada pemimpin di tengah umat, setelah keluar dari masa sulit, ditulis di Padang Sidempuan pada Pertengahan November 1961,

[42]Innama tunsharuuna wa turzaquuna bi dhu’afaaikum” (Al Hadist).

[43] Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar.

[44] Ditulis oleh Ridha, nama samaran Buchari Tamam, di Balingka.

[45] Disampaikan dalam pidato Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang 15 Juni 1968, Gedung Bagindo Aziz Chan Padang

[46] Richard T. Gill, “Economic Development, Past and Present”…. the point of that economic development is not a mechanical process; its not simple adding up of assorted factors. Ultimately it is a human enterprises. And, like all human enterprises is out-come will depend finally on the skill, quality and attitudes of the men who undertake it”.

[62] (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

[63]Ada keluhan sebahagian masyarakat yang putus asa, melihat kondisi yang kurang enak, dilihat dari sudah sering kalinya pergantian zaman (penjajahan) bahkan sudah bangsa kita sendiri yang memegang pemerintahan, akan ttapi perubahan yang dinanti belum juga terlihat. Pesimismee keadaaan ini tidaklah sejalan dengan tuntutan aqidah agama (tauhid) dan kaedah-kaedah adat.

[64] Jawaban yang tepat adalah “jangan berhenti tangan mendayung agar arus tidak membawa hanyut”.

[65] Artinya, tukang yang ahli tidak pernah membuang-buang kayu, kalau bertemu yang bengkok bisa dimanfaatkan untuk bajak peluku tanah, kalau ada yang lurus tapi kecil dimanfaatkan untuk tangkai sapu, lebih kecil lagi bisa untuk alat penuai padi atau anai-anai, yang lebih kecil lagi bisa untuk pasak sunting yang bermanfaat sekali dikala perhelatan “anak daro”. Jadi, seorang yang arif lebih menitik beratkan kepada manfaat sesuai dengan kondisi yang ada.

[66] Artinya, masa depan itu akan ada perubahan yang cepat, begitu cepat sehingga kadang-kadang yang terjadi di luar dugaan sama sekali, sehingga tidak mustahil terjadi apa yang musykil terlihat hari ini. Antara lain sebagai diungkapkan dalam kemajuan teknologi “tampang” yang sudah direndang itulah yang akan tumbuh”. Dalam bentuk negatif saja bisa bertemu yang selama ini ditolak karena sudah menjadi kebiasaan orang banyak maka yang salah sudah dianggap betul.

[67] Artinya, dalam situasi sedemikian perlu adanya benteng-benteng jiwa berbentuk sikap istiqamah sebagai suatu ciri-ciri khusus (mumay yizaat) dari orang-orang yang beriman, yakni Akhlaqul kharimah sebagai buah dari keyakinan agama yang hak. Dimana, betapun yang bernuansa intan walau tersimpan di dalam lumpur, cahayanya tetap cahaya intan juga.

[68] Kunjungan Bapak M.Natsir ke Balai Kesehatan A’isyyiyah Padang tanggal 15/6/1968 hanya 10 menit dan dari peringatan itu dikutip Taushiyah.

[69] Kuliah Umum, dihadapan Mahasiswa IKIP Padang, 15 Juni 1968.

[70] Kayutaman di Padang Panjang tanggal 18/6/1968

[71] (Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid sebagai lembaga risalah yang hidup dan dinamis sebagai pusat pembinaan umat dan pembentukan kader).

[72] QS. At- Taubah, ayat 18.

2 pemikiran pada “Paham Mohamad Natsir tentang ‘ideologi negara’… dari khazanah pemikiran Mohamad Natsir … manuscript tulisan Buya Masoed Abidin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s