Menumbuhkan Ketauladanan Pemuda dalam Nagari

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. وأزكى صلوات الله وتسليماته على سيدنا وإمامنا، وأسوتنا وحبيبنا محمد صلى الله عليه وسلم واله ورضي الله عن أصحابه،  ومن سار على ربهم إلى يوم الدين.  أما بعد.

Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.

Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW. Kepada beliau telah diberikan wahyu,  yang  mengajar berbagai program ilmu, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam aspek-aspek tertentu mengenai Islam dan kehidupan.

Mukaddimah

Para pemuda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa. Maka sepatutnya diberi amanah berbagai peran pelopor perubahan (agent of changes), dengan bekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Mereka harus tumbuh  menjadi kelompok :

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi)

Pemuda-pemudi yang ingin menjernihkan akal budi dari tantangan kontemporer, mesti dibekali jati diri sesuai fitrah anugerah Allah.

Tantangan kontemporer antara lain penetrasi budaya dan sekularisme yang menjajah mentalitas manusia utamanya generasi muda bangsa di abad ini.

Di samping itu the globalization life style didominasi sikap yahudis serta suburnya budaya lucah (sensate culture) yang memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat (ditonton), didengar, dirasa, disentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani).dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba.

Gaya hidup globalisasi

Masalah besar hari ini, terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media informasi dan makin berkembang budaya pengagungan materi berlebihan (materialistik), dengan memisah dunia dari supremasi agama (sekularistik). Memuja kesenangan indera, mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Satu gejala penyimpangan budaya luhur turun temurun, yang serta merta memunculkan Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.

Dunia pendidikan digoncangkan fenomena vandalistik, tampak pada tawuran pelajar, kebiasaan a-susila dikalangan remaja dengan kecabulan pornografis yang sulit dibendung. Sebagian cendekiawan pula mulai meminati kehidupan non-science, asyik maksyuk mencari kekuatan gaib, dan tidak jarang terjadi, belajar sihir, mencari paranormal,kekuatan jin, bertapa ketempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik. Ilmuan pun mulai rajin menguasai magic.


Tidak hanya itu, limbah budaya kebarat-baratan ikut membalut  remaja dengan sensate-culture.[1] Pola hidup hedonistic atau premanisme dengan hiburan selera rendah berorientasi 3-S (sun-sea-sex) dan gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, bebas sex, ittiba’ syahawat (menurutkan hobi dan syahawat), sikap individualistik berkembang karena terlepas dari kawalan agama dan adat luhur. Maka, tampillah gaya permissiveness dan anarkis yaitu berbudaya nan lamak di salero (sensete culture).

Orientasi budaya seringkali tampak hanya terfokus kepada hiburan melulu, akibatnya grand norms dan grand ideas di tengah masyarakat mulai terlepas. Kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, mulai tercerabut dari nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s.[2] Ukurannya sensual, erotik, horor, ganas, lahir di klub-klub siang malam atau night club, kasino dan panti pijat.

Di antara Bentuk  Ghazwul Fikry adalah Sekularisasi dan gerakan yahudi

Faham sekularisme telah menanamkan rasa benci kepada Islam (Islamophobia) yang disebut Takhawwuf La Mubarrira-lahu tijaha al-Islam, yakni rasa takut yang tidak beralasan terhadap segala yang bersifat Islam. Rasa takut ini adalah perangai golongan yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.

Anehnya, di zaman ini ketakutan terhadap Islam itu, kadang-kadang tumbuh pula didalam hati muslim yang tidak senang melihat nama dan simbol Islam diperjuangkan dalam konteks politik atau budaya, karena beranggapan bahwa perjuangan berasas Islam adalah suatu kesesatan.

Pemahaman ini menunjukkan adanga perubahan dalam misdaqiah iman orang Islam yang dapat disebut golongan keliru atau ragu, bahkan tidak percaya kepada kemampuan Islam untuk menyumbangkan kebaikan kepada rakyat dan negara. Mereka  adalah kalangan yang putus asa terhadap Allah.

قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

…. mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS.al-Mumtahanah:13)

Semestinya mukmin yang menerima ajaran Islam  wajib menaruh penghormatan kepada keutamaan Islam dan peka terhadap ajaran Islam. Disamping itu, umat Islam mesti menguasai ilmu yang membawa kepada penghargaan agama.

Masyarakat Minangkabau wajib mengikuti ajakan Allah sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah agar umat selamat.

Dalam Fatwa adat disebut tanggung jawab masyarakat adat menjaga keteraturan hukum dan undang sebagai satu ciri-ciri utama bermasyarakat itu.

“Nan babarih babalabeh, nan baukua nan ba jangko, mamahek manuju barih, tantang bana lubang katabuak. Manabang manuju pangka, Malantiang manuju tangkai, Tantang bana buah karareh. Kok manggayuang iyo bana putuih, Kok maumbak iyo bana rareh.”

Artinya, setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan dan tidak boleh ada bengkalai. Ada aturan sesuai garis sunnatullah, agar terlaksana dengan baik.

Mendalami ilmu, melahirkan rasa khasyyah (takut) dan takwatakabbur, kufur dan bangga diri dengan merendahkan orang lain. Ilmu seperti itu tidak menampilkan keberkahan, kasih-sayang dan rahmat Allah, sebaliknya akan mengundang kebencian makhluk dan Khaliq. kepada Allah. Karena itu, generasi muda berilmu wajib menjauhi rasa


Epistemologi yang menolak tuhan dan relevansi agama (Islam) dalam kehidupan adalah epistemologi sekular yang cinta kejahatan dan kebatilan, membenci kebenaran dan kebaikan.

Ilmu pengetahuan perlu diganding dengan keimanan sejak dini.

JAUHI SIFAT-SIFAT YAHUDI

Umat Islam terutama generasi muda Minangkabau yang Islami, mesti menjauhkan diri dari sifat  Yahudi yang akan mengundang bala musibah ditengahb kehidupan masyarakat, di antaranya,

  1. Menyimpang dari Kebenaran Agama setelah   tahu

وَءَامِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Alquran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (QS.al-Baqarah : 41)

Allah menegaskan sikap penolakan yahudi terhadap kebenaran agama Allah.

فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به فلعنة الله على الكافرين

Dan setelah datang kepada mereka Alquran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. al-Baqarah : 89)

Penolakan hudud Allah dengan enggan melaksanakan sunnah Rasulullah.

Menghalalkan arak, judi. Menghalangi pendakwah ajaran Allah. Menolak pemakaian simbol Islam dalam perjuangan sosial politik. Telah mengaburkan jatidiri dan pemikiran  Islam. Satu bentuk penafian keimanan (akidah Islam).

  1. Menghalangi  Mengikuti ajaran Agama

Golongan yahudi merancang agar generasi Islam tidak menjadi pejuang Islam yang baik.

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Kebanyakan pengikut kitab (samawi) terdahulu suka memalingkan kamu menjadi kafir kembali setelah beriman karena sifat hasad dengki dan sifat kufur dalam hati mereka,  pada hal telah jelas kepada mereka hakikat kebenaran (agama Allah). (QS. al-Baqarah : 109)

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Maksudnya: Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mu’min) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” (QS.al Baqarah, 76).


  • Menolak Konsep Tauhid

Tidak memahami agama  secara benar.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. (QS. al-Baqarah  : 79)

Mereka mencoba menafsirkan agama jauh dari tuntutan disiplin yang sangat diharamkan oleh Islam.

فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ


Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.


Mereka menuduh agamawan Islam membujuk orang dengan sorga.

Padahal, yahudi menolak hari berbangkit, karena tidak masuk akal mereka.

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ


Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS.al Baqarah : 80).


  • Tidak Sopan Terhadap Allah  dan RasulNya.

Sifat yahudi tidak beradab kepada Allah dan Rasul.

Mudah mempermainkan tuhan, agama dan Rasulullah.


  • Kufur Terhadap Nikmat Allah.

Tidak menghargai nikmat Allah.

Pongah menagih terima kasih manusia.

Kufur dengan nikmat.

Firman Allah,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?

Allah berfirman lagi,

اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ

Pergilah kalian ke Mesir. Di sana kalian akan menemui apa yang kalian inginkan.   (QS. al-Baqarah ayat : 61)

  • Memungkiri Janji Setia Dengan  Allah.

Sifat Yahudi yang suka mungkir janji,

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Tiap kali mereka bersumpah setia ada saja segolongan mereka merobeknya. Bahkan kebanyakan mereka tidak beriman. ( QS. Al-Baqarah 100)

Sikap yahudi mudah menjanjikan dan mudah pula mungkir. Apa yang dikatakannya berlawanan dengan yang dilakukan.


  • Suka Berpolemik, Emosional dan Tidak Objektif.

Suka menegakkan benang basah,  emosional, seringkali tidak objektif, memutar balik agama untuk muslihat politik, keras kepala, tidak tunduk kepada kebenaran, mencari-cari alasan tidak melaksanakan perintah Allah, seperti diceritakan dalam peristiwa sapi betina,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينْ

Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih  seekor sapi betina”. Mereka berkata, “Apakah kamu, wahai Musa, akan menjadikan kami, orang-orang pintar dan intelek ini, hendak menjadi buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang yang jahil (bodoh)”. (QS. Al Baqarah : 67).

Dan Jika mereka disuruh berjuang mereka berkata,

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

Pergilah  anda (Nabi Musa) dan Tuhanmu saja yang pergi berjuang. Kami biarlah tetap menunggu saja di sini (sambil menunggu kemenangan engkau berjuang bersama-sama tuhanmu). (QS.al Maidah : 24).

  • Suka Menyembunyikan Kebenaran.

Naifnya sifat yahudi sekuler, mau mengambil cikarau dengan tangan tidak berluluk (berlumpur), mau senang dan tidak yakin adanya hari akhirat, takut dengan suara kebenaran dengan menyembunyikan hakikat kebenaran agama.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan dan hidayah Kami setelah Kami menyatakannya dalam al-Kitab itulah golongan yang dikutuk Allah dan para pengutuk yang lain. (QS.al Baqarah : 159).


Kemudian, Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Orang  yang suka menyembunyikan ayat-ayat yang Allah turunkan dalam al-Kitab (Alquran)  karena hendak menukarnya dengan kepingan ringgit yang sedikit  sebenarnya mereka menelan dalam perut mereka api neraka. Allah tidak akan bercakap dengan mereka pada hari kiamat, Allah tidak akan membersihkan mereka. Untuk mereka disiapkan siksa yang amat pedih. (QS.al Baqarah : 174).

  • Anggap Diri Paling Betul, Paling Baik dan Lurus.

Meskipun kejahatan telah menusuk mata orang ramai, namun tidak pernah merasa bersalah.

Kesesatan yang bercelaru (tindih bertindih).

Tetapi, tetap menganggap orang lain yang sesat.

  • Cinta Dunia dan Serakah

Yahudi bersifat tamak, cinta dunia (hubbud dunya) dan serakah kepada harta yang fana,  menindas dhu’afak tanpa belas kasihan.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Engkau akan dapati mereka – wahai Muhammad – sebagai orang yang paling tamak untuk hidup, demikian juga halnya dengan orang yang musyrikin. Ada di antara mereka yang mengharapkan – kalau boleh – untuk hidup seribu tahun, namun kalaupun ia hidup seribu tahun ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari siksa Allah. Allah maha melihat apa yang mereka lakukan. (QS.al Baqarah : 96).

Maka, setiap Muslim mesti menjauhkan diri dari sifat mazmumah Yahudi ini. Umat Islam mesti menguasai ilmu-ilmu yang tidak diserapi oleh faham  sekularisme ini.

BERUPAYA MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER

Umat Islam khususnya kalangan el-fataa (remaja dan pemuda terdidik) wajib mengukuhkan ukhuwwah dan semangat persaudaraan (ruh al ukhuwwah) yang terjalin baik untuk menjadi senjata ampuh menghadapi  tantangan  kontemporer.

Persaudaraan tidak dapat diraih dengan kekejaman dan penafian hak-hak individu orang banyak.[3]

Tamak dan loba dalam tatanan ekonomi mempertajam permusuhan antara dhu’afak dengan kapitalis konglomerasi. Loba dan bakhil dapat meruntuhkan perasaan persaudaraan dan perpaduan umat.

Setiap Muslim wajib menghargai dan mengagungkan Allah yang menjadi sumber rezeki, sumber kekuatan, sumber kedamaian dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. [4]

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah, hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, sensual, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), yang disebut dalam Alquran menjadi bukti mendarah dagingnya Islam  didalam diri.

Muslim merasakan nilai-nilai aqidah dan penghayatan di dalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.

Al-Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah, seperti sabda Nabi SAW:

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.[5]

TANAMKAN MAHABBAH

Sesuai sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان

من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما

ومن احب عبدا لا يحبه الا الله

ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار

Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam neraka.[6]

TEGUHKAN TEKAD BERJALAN MENUJU REDHA ALLAH

Berjalan menuju Allah artinya berpindah dari jiwa yang tidak bersih (kotor) kepada jiwa yang bersih.

Berjalan menuju Allah adalah berpindah dari akal yang tidak mengikut syarak (tidak syar’i) kepada akal yang tunduk kepada syarak.

Berpindah dari hati yang kafir, munafiq, fasiq, sakit atau keras kepada hati yang tenang lagi selamat.

Berjalan  menuju Allah adalah berpindah dari ruh  yang menyimpang dari pintu Allah dan tidak mengingat tugas pengabdian kepada ruh  yang mengenal Allah.

Perjalanan kepada Allah dengan melaksanakan segala kewajiban peribadatan kepadaNya. Berjalan dari jasad yang tidak terkendali  syara’ kepada jasad yang terkendali syari’at Allah ‘Azza Wa Jalla.

Berjalan menuju Allah adalah berpindah dari zat yang kurang sempurna kepada zat yang lebih sempurna. Dari kelengahan kepada kesalihan mengikut Rasulullah SAW, dalam ucapan, perbuatan atau  amalannya. [7]

Berjalan menuju Allah dengan ilmu dan zikir.

Dengan keduanya menyampaikan kepada tujuan (wusul).

Dimaksud dengan ilmu ialah Alquran dan As-Sunnah yang diperlukan menuju Allah.

Dzikir ialah yang diwariskan dan  dianjurkan dalam perintah Allah dan Rasulullah SAW.

Jalan paling tepat adalah memperbanyak zikir, dengan kemestian  disertai ilmu.

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan ”al-qalb al-salim” yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

KEBAIKAN HATI MENJADI TITIK TOLAK KEHIDUPAN ISLAMI.

Bersih hati, peluang besar menerima perintah Allah dengan sempurna.

Pemuda pelopor Tarbiyah Islamiyah, perlu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik.

Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik).

Sehingga hati tetap bersih.

Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi.

– Allah berfirman :

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan). [8]

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [9]

Jiwa atau النفس inilah yang perlu dijaga pertumbuhannya agar manusia beroleh kebahagian sesungguhnya di dunia maupun di akhirat nanti.

Seseorang yang di dalam hati dan jiwanya telah bertakhta keimanan kepada Allah (tauhid) mesti menjauhi sikap menjadi pengikut buta tuli.

Menjauhi menjadi tukang angguk tanpa menggunakan akal waras.

Karena, dapat menghapus martabat kemanusiaan dan menggugat kejernihan akal-budi.

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.

Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah.

Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.

Nafs al-Natiqah atau ruh  manusia dalam jasad mudah dikotori oleh berbagai kotoran.

Yang paling besar bahayanya ialah syirik atau menyekutukan Allah. Karena itu orang musyrikin itu dikatakan ruhaninya najis.

Allah berfirman,    إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ   Bahwasanya orang-orang musyrikin itu najis. [10]

Selain daripada syirik, maksiat dan dosa, jiwa dirusak oleh ghaflah dan lalai.

Langkah pertama menghidupkan jiwa (hati) yang mati itu dengan tazkiyah nafs dengan zikrullah,  muraqabah dan tafakkur.

Nabi SAW bersabda :

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت 

Umpama orang yang mengingati Tuhannya dan orang yang tidak ingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati. [11]

MURAQABAH

Muraqabah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan tauhid rububiyah, melalui ibadah, melatih nafs an-natiqah = النفس الناطقة  menjadi jiwa yang jinak nafs al muthmainnah = النفس المطمئنة     yang bersih dan terkendali, atau

تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ 

Gementar karenanya (karena mendengar bacaan ayat al-Qur’an) kulit (anggota) orang yang takutkan (kebesaran) Tuhannya, Allah; kemudian menjadi tenang kulit (anggota) dan hati mereka ketika mereka mengingati (kesempurnaan) Allah.” [12]

Bila sesorang mendapat kurnia Allah, maka dia akan memiliki kearifan atau dhawq dan kesempurnaan sifat-sifat anugerah Allah.

Insya Allah dia akan tumbuh menjadi insan yang memiliki visi duniawi dan ukhrawi serta memiliki kearifan alun bakilek alah bakalam, di dalam istilah Minangkabau.

Benarlah kata setengah ulama tasawwuf siapa dapat al-warid maka ia dapat dhawq.

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

(Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya).

Hikmah ini mesti di pelihara dengan ilmu dan zikrullah untuk merintis jalan menuju Allah (rihlah dakwah ilaa Allah).

Perjalanan menuju Allah mustahil tanpa ilmu dan zikir.

Tidak ada perjalanan  menuju Allah tanpa ilmu.

Tidak ada perjalanan menuju Allah tanpa zikir.

Ilmu adalah yang menerangi jalan.

Zikir adalah bekal perjalanan dan sarana pendakian.

Rasulullah SAW bersabda:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أو عا لما ومتعلما

(رواه ابن ماجه وهو صحيح)

“ Dunia dilaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang menyertainya, – Artinya orang yang senantiasa ingat dan mengerti bahwa semua yang ada ini adalah ciptaan Allah SWT yang mesti tunduk dan patuh kepada kehendak Allah itu saja, dengan satu gerakan ubudiyah pengabdian —,  atau orang yang berilmu dan yang menpelajari ilmu”  (Hadith sahih, riwayat Ibnu Majah). [13]

Maka inti perjalanan menuju Allah adalah perjalanan dengan hati menuju kebaikan.

Diperkuat oleh upaya selalu mempertahankan kebaikan tersebut terus menerus, dengan  melaksanakan  kewajiban ibadat yang ikhlas kepada Allah sampai kematian datang menjelang.[14]

PERTARUNGAN HATI NURANI

Pergulatan  antara hati atau ruh  atau النفس الناطقة   = an nafs an-Natiqah dan   النفس الحيوانية = an nafs al hayawaniyah atau nafsu syahwat itu terus berlaku. Ada kalanya hati menang melawan kehendak nafsu.

Ada kalanya hati kalah dan nafsu menjadi pemenang.

Celaka orang yang hatinya dikalahkan oleh nafsunya.

Berbahagia orang yang nafsunya dikawal oleh hati yang bertauhid.

Senjata yang dipakai oleh hati melawan godaan nafsu syaithaniyah adalah nur hidayah Allah.

Nafsu yang ditunggangi syaithaniyah bersenjatakan syahwati dalam kegelapan = ظلمات   dosa maksiat.

Pengaruh berbagai kehendak syahwat  hanya dapat dikalahkan apabila hati benar-benar telah dikurniakan oleh Allah warid iqbal = وارد الا قبا ل  yang akan mendorong hilangnya keinginan-keinginan kepada apa saja selain yang diredhai Allah.

Maka, jadilah ia hamba Allah yang bertauhid dan bertakwa.

Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah dan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.


TAUHID ULUHIYAH DASAR DARI SYARAK MENGATA (MENGHUKUMKAN) DAN ADAT MEMAKAIKAN (MELAKSANAKAN)

Menurut asal usul kata Allah secara harfiyah berasal dari Ilah – yakni Al Ma’bud, sesuatu yang dianggap berkuasa dan besar, mempunyai nilai yang pantas disembah dan ditaati sepenuh hati. Kata al Ma’bud, sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah seorang hamba minta pertolongan.[15]

1.      Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”.

Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah suatu sikap yang munafik dan syirik (musyrik). Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja, tidak pada yang lain.[16]

2.      Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid.

Maka, “paradigma tauhid” – Laa ilaaha illa Allah – sebagai satu misi risalah.[17].

Konsepsi Tauhid adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan.[18]

Karenanya apabila syarak telah mengata, maka adat memakai.       

Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban. [19]

3.      Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

4.      Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid tersebut.

Dalam tatanan masyarakat Minangkabau dirakitkan dalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

5.      Konsepsi Tauhid Uluhiyah harus istiqamah terhadap hukum wahyu dalam gagasan keyakinan dan gerak pelaksanaan.

Tanpa konsistensi keyakinan ini secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  syirik (musyrik).[20]

6.      Realisasi tauhid uluhiyah adalah pengabdian (ibadah) hanya kepada Allah, semata-mata dapat terwujud kepada di akuinya lembaga kedaulatan Allah di bumi (Mulkiyah Allah)[21].

Kesediaan membuat sesuatu yang lebih baik di masa mendatang, baik itu madiyah (material) maupun ruhaniyah (spiritual) diringi dengan keteguhan pendirian menjauhi segala bentuk kemungkaran dan berharap supaya dihindarkan dari azab neraka, akan berperan didalam hidup berakhlak karimah, dengan mengutamakan kesopanan pergaulan dan memakaikan rasa malu.


Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek [22]

Apabila malu sudah hilang, tidak ada lagi yang mengikat seseorang untuk berbuat seenak hatinya. 


Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso. [23]

Maka orang‑orang yang akan memperoleh tempat kembali yang baik disisi Allah harus memiliki sifat dan sikap jiwa yang konsisten (istiqomah), yakni sabar (tabah, tahan uji, intens), benar (jujur, amanah, shiddiq), patuh kepada Allah, menafkahkan hartanya dijalan kebaikan (Al Munfiqiina), dan selalu memohon ampun kepada Allah (selalu melakukan koreksi di akhir malam pada setiap tahapan pekerjaan hariannya). [24]

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِيْنَ اِتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارِ خَالِدِيْنَ  فِيْهَا وَ أَزْوَاجٌ  مَطَهَّرَةٌ  وَ رِضْوَانٌ مِنَ اللهِ.  وَ اللهُ بَصِيْرٌ بِالْعِبَادِ.

Artinya, Kakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.


الَّذِيْنَ  يَقُوْلُوْنَ   رَبَّنَا إ ِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ قَيْنَا عَذََابَ النَّارِ.  الصَّابِرِيْنَ  وَ الصَّادِقِيْنَ  وَ الْقَانِتِيْنَ وَ الْمُنَافَقِيْنَ وَالْمُسِتَغْفِرِيْنَ  بَالأَسْحَارِ.

(Yaitu) orang-orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

Kita memerlukan zikir, supaya Allah selalu bersama kita dalam perjalanan menuju kepada redhaNya.

Keseimbangan antara ilmu dan zikir muthlak ada dalam perjalan hidup manusia, karena hakikatnya tidak akan ada perjalanan melainkan dengan keduanya.

Zikrullah dilakukan dengan peningkatan amalan untuk membersihkan jiwa dan hati dari berbagai maksiat dengan berbagai amalan, antara lain :

  • Bertaubat terus-menerus.
  • Sembahyang fardhu berjemaah

Ø  Selalu memelihara wuduk

Ø  Makan minum yang halal..

Ø  Dikurangkan tidur

Ø  Jangan berkata percuma,  kecuali diperlukan.

Ø  Selalu muraqabah kepada Allah

Ø  Selalu menjaga niat untuk menghampirkan diri kepada Allah dan mendapatkan redha-Nya.

Ø  Membanyakkan bersedekah agar tidak mementingkan diri sendiri.

Ø  Melakukan muhasabah diri,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari akhirat.[25]

Ø  Bertaqwa kepada Allah  dengan melaksanakan suruhan dan menjauhi laranganNya.

Ø  Merenungkan amalan yang telah dilakukan agar jiwa menjadi insaf.

Ø  Memikirkan kewajiban yang dilaksanakan atau yang sudah dilalaikan.

Ø  Mujahadah al-nafs terutama melakukan berbagai adab yang mesti dipatuhi dengan kesabaran dan keikhlasan.

Mujahadah al-Nafs bermaksud menghalang al-nafs dari yang bukan haknya dan memberikan hak orang lain.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرً

Dan mereka (orang abrar) memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. [26]

Ø  Membersihkan diri dari berbagai amalan dan aqidah yang salah atau yang berlawanan dengan kebersihan tauhid.

Merawat hati di dalam rangka tazkiyah nafs dilakukan dengan membersihkan niat, akidah dan ibadah.

PERAN GENERASI MUDA MENGHADASI ARUS KESEJAGATAN

Remaja masa depan di era globalisasi, wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik.

Fatwa adat di Minangkabau menyebutkan,

Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, indak nan indah pado budi, indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”

Artinya generasi Minangkabau memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur .

Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan payung wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah. Dengan demikian rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis muda Islam di nagari-nagari akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak menyatakan visi dan misi di dalam menegakkan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau.

Generasi Minangkabau sewajarnya menjadi generasi dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”

Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan budi akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur.

Umat Islam di Minangkabau yang ingin bersanding di tengah perubahan wajib peka, mempunyai sense of belonging terhadap harakah Islamiya di nagari-nagari.

Penguatan masyarakat mandiri yang madani di Ranah Bundo dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh dilalaikan.

Apabila anak nagari  di biarkan terlena dengan apa yang dibuat orang lain, dan lupa membenah diri dan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah umat Islam ini akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur para leluhur (cultural base).

Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base).

Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base).

Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi Minangkabau,

Basilek di ujuang muluik, Malangkah di pangka karih, Bamain di ujuang padang. Tahan di keih kato putuih, Tahu di kilek dengan bayang, Tahu di gelek kato habih. Tahu di rantiang kamalantiang, Tahu di dahan nan ka mahimpok.”

Artinya, mendidik dan melatih kader pimpinan.

Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan.

Para pejuang muda Islam, terutama generasi muda perlu iltizam harakahsaciok bak ayam sa danciang bak basi. atau gerakan

Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik.

Mengamalkan budaya amal  jama’i yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

Zaman menjadi lone ranger dan one man show tidak lagi masanya sekarang, dan sewajarnya sudah berakhir.

Pendekatan haraki (social movement) menangani isu perubahan global, sakali aie gadang, sakali tapian barubah, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab nan elok dipakai, nan buruak dibuang.

Kepimpinan bukan ghanimah mengaut keuntungan diri sendiri.

Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab di dalam adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah adalah,

“Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.

Sesungguhnya adalah satu gerakan masyarakat bersama atau harakah Islamiyah mengangkat umat di nagari mencapai kejayaan hidup sesuai syarak (Islam).

Kreativiti dan inovasi sebagaimana dimaklumi bersama berkait rapat dengan berbagai bidang dakwah. Antaranya pengurusan sumber manusia, komunikasi, percetakan elektronik, e-book, e-newspaper, video conferencing, virtual school, universiti maya dan sebagainya.[27]

Para ilmuan muda, cendikiawan atau suluah bendang di nagari perlu meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah.

Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing.

Memelihara kesinambungan proses  mengajar dan belajar di tengah anak nagari. Generasi muda yang terdidik dengan paksi Islam – Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah –, mampu menilai teknologi maklumat, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah. Generasi muda masa kini mesti memiliki utilitarian ilmu.  berasaskan epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan,

Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view).

Kalau tak tasuo di jalannyo, namuah ba pua-pua dagiang, namuah bakacau-kacau darah, tando sabana laki-laki.”

Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi Minangkabau selalu awas dan berhati-hati,

Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi tantangan kontemporer, perubahan tata pergaualan dunia, generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti bertumpu kepada istiqamah (konsistensi).

Fatwa adat menyebutkan,

“Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.


Khulasah

Harus Segera Menampilkan Program Keumatan

Menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat khusus  di Minangkabau (Sumatra Barat), dapat dilakukan dengan berapa agenda kerja, seperti ;

1.  Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

2. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan  akal.

  • Memperbanyak program meningkatkan hubungan umat dengan Alquran.
  • Melipatgandakan pengaruh sunnah Rasulullah  dalam masyarakat.
  • Meningkatkan pengetahuan umat mengenai sirah Rasulullah SAW.
  • Menyuburkan amalan ruhaniah yang positif dan proaktif membangun masyarakat dengan  bekalan tauhid ibadah.

3.  Memperluas penyampaian fiqh Islam dalam aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain.

4. Menghidupkan semangat jihad di jalan Allah.

  • Menggali sejarah kejayaan masa silam.
  • Menanam semangat kepahlawanan menghadapi musuh-musuh Islam.
  • Menyebarluaskan agenda musuh yang  melemahkan umat Islam di seluruh dunia.
  • Menyebarluaskan bahaya sekularis, materialisme, kapitalisme dan westernisasi.
  • Mengkritik rasialis dan assabiah jahiliyyah  dengan hujjah Islam yang benar.
  • Menentang aliran pemurtadan terhadap intelektual, pakar budaya, sasterawan dan wartawan yang merugikan Islam.

5. Meningkatkan program menguatkan peran muslimat dalam membentuk sejarah gemilang di zaman silam.

6. Menampilkan sistem pendidikan Islam melawan aliran pendidikan  sekular.

  • Memperbanyakkan program mengasuh dan mendidik generasi baru dan remaja Islam agar tidak dapat dimusnahkan oleh sekularisme dan budaya porno kebaratan.
  • Menggandakan usaha melahirkan wartawan dan penulis Islam dalam berbagai lapangan media.
  • Menggandakan bilangan ulama suluah bendang di nagari.
  • Melahirkan pendakwah Rabbani melalui pembinaan pusat-pusat pengajian tinggi (ma’hadul ‘aliy) dan institut perkaderan Imamah dan Ulama suluah bendang di nagari.
  • Penting sekali dilakukan usaha pembentukan da’iya, imam khatib, para mu’allim dan tuangku di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.
  • Memberikan bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.
  • Membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah menjadi sangat penting di dalam mendukung satu usaha yang wajib.
  • Meningkatkan keselarasan, kesatuan, kematangan dan keupayaan haraki Islami.

7. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan-gerakan yang  merusak Islam.

  • Mengukuhkan pergerakan umat dalam memerangi semangat anti agama, anti keadilan, dan demokrasi.
  • Meningkatkan budaya syura dalam masyarakat, untuk mengelak dari cara-cara imperialisme masuk kedalam masyarakat di era kebebasan.
  • Meningkatkan kesadaran dan keinsafan tentang hak asasi manusia, hak-hak sipil (madani) dan politik untuk seluruh rakyat.
  • Meningkatkan keinsafan mempunyai undang-undang yang adil sesuai syarak.
  • Memastikan kehadiran media massa yang bebas, sadar, amanah, beretika dan profesional agar umat tidak mudah dimangsa oleh penjajah baru, baik  dari kalangan bangsa sendiri atau orang luar.
  • Memastikan pemimpin umat dan negara terdiri dari kalangan orang yang bertaqwa, berakhlak dan bersih dari penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga  dan kelompoknya.

8.   Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat tentang perlunya penghakiman yang adil. Kehakiman yang adil adalah tuntutan Islam.

9.   Meningkatkan program untuk melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

Generasi muda Islam, mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

H. Mas’oed Abidin

bin H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo


[1] Sorokin, Pitirim, “The Basic Trends of Our Time”, New Haven, College & University Press, 1964, hal.17-18.

[2] Budaya sensate ini dipertajam oleh kehidupan remaja kota dengan  budaya populer (urban popular culture) dan hedonistik (mulai berkembang 1960). …. Sensate culture menurut Pitirim, “…based upon the ultimate principle that true reality and value are sensory and that the beyond the reality and values wich we can see, hear, smell, touch and taste there is no other reality and no real values……….Despite its lipservice to the values of the Kingdom of God, it cares mainly about sensory values of wealth, health, bodily confort, sensual pleasures and last for power and fame. It’s dominant ethic is invariably utilitarian and hedonistic….. Its politics and economics are also decisively utilitarian and hedonistic……..” The globalization of lifestyle atau gaya hidup global, world wide sing sejak 1990 di awal globalisasi, banyak melahirkan split personalities, pribadi yang terbelah dengan  “too much science too little faith”, lebih banyak ilmu dan tipisnya keyakinan agama, tumbuhnya paham nihilisme budaya senang lelang (culture contenment).

[3] Pepatah Arab menyebutkan, اخاك اخاك ان من لا اخا له-  كساع الى الهيجا بغير سلاح

[4] Al-Baqarah, 257

[5] Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.

[6] Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan nasa^i.

[7] Sa’id Hawa, di dalam Tarbiyatuna Al-Ruhiyah,

ومن جسد غير منضبط بضوابط الشرع الى جسم منضبط انضباطا كاملا بشريعة الله عزوجل, وبالجملة من ذات أقل كمالا الى ذات أكثر كمالا فى صلاحها وفى اقتدائها برسول الله صلى الله عليه وسلم قولا وفعلا وحالا.

[8] As-Syams, 7-8

[9] Ibid, 9-10, Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس ialah nafsu jauhari النفس الجوهري  yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi.

[10] Al-Tawbah, 28

[11] Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Da’awat

[12] Al-Zumar, 23

[13] Disebutkan di dalam bimbingan tasawuf sebagai berikut :

فلا سير الى الله بدون علم ولا سير الى الله بدون ذكر , فالعلم هو الذى يوضح الطريق والذكر هوزاد الطريق وأداة الترقى. قال عليه الصلاة والسلم:   “الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أو عا لما ومتعلما”    (رواه ابن ماجه وهو صحيح).

[14] Said Hawwa, Tarbiyatuna al-Ruhiyah, hal. 64-72.

[15] Lihat QS.1:5

[16] Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5.

[17] Lihat QS.7:59, 7:72, 16:36.

[18] The Highest conception of Godhead.

[19] Pariangan menjadi tampuk tangkai. Pagaruyung pusat Tanah Datar. Tigo Luhak orang menyebutkan. Adat dan Syarak jika bercerai. Tempat bergantung yang telah putus (serkah). Tempat berpijak yang telah runtuh (terban). Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang anak nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Karena itu, kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.

[20] Lihat QS.6:106, 41:6,7

[21] Lihat QS.4:64, 4:80, 9:71, 120, 47:2,19, 47:33.

[22] Rarak (berjatuhan) kalikih (buah pepaya) karena mindalu (parasit). Tumbuh serumpun dengan sikasek. Kalau hilang rasa dan malu. Bagaikan kayu longgar pengikat. (Artinya, seperti seikat kayu  berserakan kesana kemari).

[23] Anak orang Koto Hilalang, Hendak lalu ke Pekan Baso. Malu dan kesopanan kalau sudah hilang. Habislah rasa dan periksa. Artinya seorang yang tidak bermalu akan berbuat sekehendaknya, tanpa memikirkan akibat perbuatannya itu.

[24] QS. Ali Imran, 3 : 15‑17,

[25] Al-Hasyr, 18

[26] Al-Insan, 8

[27] Para aktivis Islam perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan maklumat alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

Hijrah Meninggalkan Jahiliyyah


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”. (Q.S. An Nahl: 41)

Peringatan Tahun Baru Hijriyyah selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah.

Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam.

Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya .

Menurut Ibnu Qayyim al Janziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.

Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.

Kedua, hijrah hati nurani.

Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati.

Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy.

Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita butuhkan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari.

Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT.

Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT.

Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.

Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:

Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)

Kedua,   bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)

Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk­-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)

Keempat, perzinahan yang terlokalisir(Prostitusi) Allah SWT berftrman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)

Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecan-tikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)

Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)

Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.

Allahu A’lam bi as-Shawwab.

Sifat Ibadu r-Rahman Kesebelas “ Bertafakkur dan Berzikir “

Sifat Ibadu r-Rahman Kesebelas

“ Bertafakkur dan Berzikir “

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاَيَاتٍ لِأُولِي

اْلأَلْبَاب  ِ(190)  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمــَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عـَذَابَ النَّار  ِ(191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (berzikir) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (brtafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau , maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran: 190-191)

Sifat Ibadurrahman yang kesebelas : Menyelami ayat-ayat Allah (Bertafakkur dan Berzikir)

Ibadurrahman adalah sosok hamba Allah yang tiada henti bertafakkur dan berzikir, membaca dan sekaligus menghayati dan menyelami ayat-ayat Allah SWT yang kemudian menghasilkan kemantapan iman dan kematangan aqidah kepada Allah. Setiap apa yang mereka tangkap dari ayat-ayat Allah, mereka sikapi dengan menunjukkan ketaatan kepada-Nya, karena itu mereka tiada pernah lalai akan printah Allah SWT. Mereka disifati Allah dalam Al Qur’an:

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tiadalah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”(Q.S. Al Furqan: 73)

Menurut pada ulama, ayat-ayat Allah ada dua macam: Pertama disebut ayat-ayat Takwiniyah dan yang kedua disebut ayat-ayat Tanziliyah.

Pertama: ayat-ayat Takwiniyah. Artinya tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat dan dapat kita saksikan di alam ini, yang dihamparkan di setiap tempat guna menuntun manusia menuju kepada Khaliqnya serta memberikan petunjuk kepada mereka tentang keberadaan-Nya. Dan ayat Takwiniyah yang terdekat adalah apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri.

Barangsiapa yang memandang ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata buta, hati yang tertutup dan telinga yang tuli, maka ia tidak akan mengambil manfaat sedikitpun darinya. Sebab hati, telinga, dan mata mereka tertutup, sehingga mereka bisu dan tuli tidak dapat mentadabburinya.

Kedua: Ayat-ayat Tanziliyah. Artinya, ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasul-Nya, berupa ayat-ayat wahyu, yang disudahi Allah dengan menurunkan Al Qur’anul Karim kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Al Qur’an merupakan ayat-ayat Allah, dan manusia tidak akan mungkin mampu membuat yang serupa dengannya.

Al Qur’an merupakan mu’jizat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang abadi, ayat-ayat yang abadi, yang dapat menyusup ke dalam hati dan pikiran tanpa meminta izin terlebih dahulu.

“Abdullah bin Urwah bin Az Zubair bertanya kepada neneknya Asma’ binti Abu Bakar, ”Wahai nenek, apa yang dilakukan para sahabat jika mereka mendengarkan al Qur’an atau mendengarkannya?” Asma’ menjawab, “Wahai cucuku, mereka seperti yang digambarkan Allah, mata mereka meneteskan air mata, kulit mereka gemetar dan hati mereka tertunduk.”

Bahkan para jin yang mendengat bacaan Al Qur’an pun terpengaruh. Allah SWT berfirman :

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkat, ‘Diamlah kalian (untuk mendengarkannya). ‘Ketika bacaan itu telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnyalagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Al Ahqaf: 29-30)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, diantara orang-orang salaf ada yang berkata, “Tadinya aku tidak pernah merasakan kelezatan di dalam Al Qur’an hingga Allah memberi anugerah kepadaku, sehingga aku membacanya seakan-akan aku mendengarkannya langsung dari Rasulullah SAW yang sedang membacakannya di hadapan para sahabat. Maka ketika aku membacanya, seakan-akan mendengarkan langsung dari Jibril yang disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian aku naik setingkat lebih tinggi lagi, sehingga seakan-akan mendengarnya langsung dari Allah.”

Ibadurrahman apabila mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an maka iman mereka semakin bertambah. Karena Al Qur’an adalah penawar hati mereka. Sementara orang-orang yang tiada iman dalam hatinya, justru membuatnya gelisah, dan mereka enggan mendengarkannya, karena telinga mereka telah tersumbat. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلاَ فُصِّلَتْ ءَايَاتُهُ ءَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

“Katakanlah, ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu seperti orang-orang yang dipangil dari tempat yang jauh.” (Q.S. Fusshilat : 44)

Allahu A’lam bi as Shawab

Sifat Ibadu r-Rahman Ketujuh, « Menjauhi Pembunuhan.. »

Sifat Ibadu r-Rahman Ketujuh,

«  Menjauhi Pembunuhan.. »

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu; Janganlah kamu mempersukutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”

(Q.S. Al An’am: 151)

Sifat Ibadurrahman yang ketujuh: Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan

Syari’at Islam tidak diturunkan hanya untuk menjaga agama dan aqidah semata, tetapi juga untuk menjaga darah dan jiwa, menjaga kehormatan dan kesucian, menjaga akal, keturunan dan harta benda. Karena itu Ibadurrahman sangat menjauhi tindak kekerasan apalagi yang mengarah  kepada pembunuhan, dan mereka sangat menghormati kehidupan, menaburkan kasih sayang di tengah-tengah manusia dan membenci kejahatan, terlebih lagi yang namanya pembunuhan.

Al-Qur’an menyertai tindak pembunuhan dengan syirik, karena buruknya kejahatan ini. Syirik merupakan pelanggaran terhadap agama, sedangkan pembunuhan merupakan pelanggaran terhadap kehidupan. Islam datang untuk mengharamkan penumpahan darah dan melarang seseorang melanggar jiwa orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.

Semenjak dahulu kala manusia selalu dikuasai oleh nafs Ammarah, jiwa yang menyuruh kepada kejahatan, sehingga sebagian membunuh sebagian yang lain, hanya karena memperebutkan keduniawian yang tidak seberapa nilainya, atau karena amarah yang meluap-luap, atau karena kedengkian, kebencian dan perselisihan, atau karena kompetisi dan persaingan dalam kehidupan ini, atau sebab-sebab yang lain. Pada masa awal kehidupan manusia, pembunuhan telah terjadi. Dimana salah seorang putra Adam a.s yang bernama Qabil membunuh saudaranya sendiri Habil. Dan ini merupakan tidakan pembunuhan yang pertama kali di muka bumi. Saat itu seseorang belum tahu bagaiman memperlakukan jasad orang lain, maka Allah mengutus seekor burung gagak yang menggali dipermukaan tanah, untuk mengajarkan kepada manusia bagaimana memperlakukan jasad saudaranya yang sudah mati.

Rasulullah SAW telah memperingatkan ummatnya agar tidak kembali ke era jahiliyah, yang memiliki tradisi saling bermusuhan, dan saling membunuh tanpa ada alasan yang benar. Maka ketika haji Wada’ beliau bersabda di hadapan ribuan orang-orang muslim“Janganlah kalian kembali menjadi kafir sesudahku, sehingga diantara kalian memenggal leher sebagian yang lain (saling membunuh)”.

Jika sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling membunuh, maka beliau menganggap hal itu sebagai keadaan orang-orang kafir. Karena prilaku keji tersebut (membunuh dan saling bunuh)  bukan keadaan atau sifat orang-orang muslim. Allah menegaskan dalam Al Qur’an:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, mengutuknya dan menyediakan azab yang besar baginya.”

(Q.S. An Nisaa’: 93)

Marilah kita renungkan sabda-sabda Rasulullah SAW berikut ini:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمْ

“Kebinasaan dunia ini lebih remeh bagi Allah daripada Pembunuhan terhadap seorang muslim.” (H.R. At Tirmidzi dan An Nasa’i)

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ القِيَامَةِ فِى الدِّمَاءِ

“Pengadilan yang pertama kali di antara manusia pada hari kiamat adalah mengenai darah (pembunuhan).” (H.R Bukhari dan Muslim)

Bahkan membantu orang lain untuk membunuh orang mukmin, entah dengan cara apapun dan sekecil apapun, juga mendapatkan balasannya, sebagaimana  sabda Rasulullah SAW.“Barangsiapa yang membantu untuk membunuh seorang mukmin  dengan sepenggal kata, maka dia akan bertemu Allah dan diantara matanya tertulis ‘Terputus dari rahmat Allah.”(H.R. Ibnu Majah)

Sufyan bin Uyainah mengatakan. “Yang dimaksud sepotong atau sepenggal kata-kata disini ialah seperti mengucapkan ,’B….’, tidak melengkapinya dengan kata ‘Bunuh’, kepada orang yang hendak membunuh. Lantas bagaimana dengan orang yang membunuh itu sendiri?”

Setiap jiwa mempunyai kehormatan dan hak hidup, maka setiap manusia harus menghormatinya, bahkan  jiwa seekor kucingpun mempunyai hak, sehingga seorang wanita dimasukkan ke adalam neraka karena mengurungnya hingga mati tanpa memberinya makan atau tidak melepaskannya agar si kucing dapat mencari sendiri makanannya. Karena itulah Ibadurrahman sangat menjauhi penumpahan darah, mereka menghormati kehidupan.

Allahu A’lam bi as Shawab

« Memiliki Keyakinan Tauhid .. »

Sifat Ibadu r-Rahman Keenam

« Memiliki Keyakinan Tauhid .. »

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إلاَّ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga mengatakan yang demikian itu). Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesunggunya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Q.S. Ali Imran: 18-19)

Sifat Ibadurrahman yang keenam: Tauhid

Allah SWT menyatakan sifat Ibadurrahman yang keenam ini dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan lain beserta Allah.” (Q.S. Al Furqan: 68)

Artinya Ibadurrahman mempunyai suatu keyakinan yang menancap dalam qalbu mereka bahwa tidak ada yang patut dan berhaq untuk disembah melainkan Allah SWT. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menulis dalam bukunya Syarhu Tsalatsati Al Ushul ketika memberikan keterangan dan penjelasan (Syarah) tentang kandungan makna firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Ali Imran Ayat 18.

Kemudian beliau menegaskan bahwa Ibadurrahman yang memiliki kematangan Tauhid meyakini bahwa meskipun ada sesembahan selain Allah, namun itu semua adalah batil, dan tidak berhak disembah, oleh karena tidak memiliki sifat Uluhiyah sama sekali.

Marilah kita simak apa komentar Imam Fakhruddin Muhammad bin Umar bin Husen  Ar Raazi (Penulis Kitab  Tafsir Mafaatihil Ghaib/Tafsir Al Kabir tentang ayat di atas yang terdapat dalam bukunya ‘Ajaibul Qur’an, “Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa sebenarnya Allah Ta’ala mendahulukan perintah-Nya untuk berma’rifatut tauhid  (pengenalan terhadap tauhidullah) dari pada perintah memohon ampun kepada-Nya. Sebabnya ialah karena ma’rifatut tauhid menunjuk kepada ilmu ushul (pokok dan prinsip), sedangkan kegiatan memohon ampunan-Nya menunjukkan kepada ilmu yang bersifat furu’ (cabang). Oleh sebab itu jelaslah, ilmu ushul harus didahulukan . Jika kita tidak mengetahui eksistensi Sang Pencipta maka hal itu akan menghalangi tegaknya ketaatan dan penghambaan kita kepada-Nya.”

Prof. DR. Mahmud Saltut mengatakan bahwa Islam menetapkan Wahdaniyah Rububiyah. Artinya, tidak ada Tuhan yang menciptakan, mengatur  dan melaksanakan segala sesuatu, melainkan Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian menetapkan Wahdaniyatul Uluhiyah, artinya tidak ada zat yang berhak disembah, dihadapkan kepadanya segala permohonan dan dimohonkan pertolongannya, selain Allah SWT. Syaikh Yusuf Al Qardhawy menambahkan bahwa tauhid ada dua macam: Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Yang disebut Tauhid Rububiyah ialah engkau meyakini bahwa tidak ada Rabb selain Allah, tidak ada Khaliq, tidak ada pemberi rezki melainkan Allah semata, Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya serta menguasainya.

Adapun Tauhid Uluhiyah ialah jika engkau tidak menyembah, tidak memohon pertolongan, todak berdoa, tidak takut, dan tidak berharap kecuali kepada Allah semata. Karena tauhid inilah Allah menurunkan kitab-kitab-Nya, mengutus rasul-rasul-Nya, agar para rasul itu mengajak kaumnya kepada tauhid ini. Karena itu seruan yang pertama dalam setiap risalah para rasul adlah kalimat tauhid.

Rasulullah SAW pernah mengirim surat kepada beberapa raja yang berkuasa pada saat itu. Kepada Kaisar Rumawi, kepada Muqaqis, kepada Najasyi dan kepada para ahli Kitab dengan menyebutkan ayat yang mulia berikut ini:

“Katakanlah: “Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan diantara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 64)

Para ahli tafsir telah sepakat bahwa ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5.

Pada wahyu pertama ini Allah SWT telah mengenalkan beberapa Nama dan Sifat-Nya diantara Asmaul Husna, yaitu,  Ar Rabb (Maha Pemelihara), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Akram (Maha Pemurah, Maha Mulia) dan Al Alim (Maha Mengetahui). Bersamaan dengan itu, manusia dikenalkan dengan eksistensi (wujud) dirinya sebagai seorang hamba, makhluk yang diciptakan, dari sesuatu yang hina (segumpal darah) dan bodoh (tidak tahu). Manusia yang menyadari keberadaan Ar Rabb Yang Maha Pemelihara, sementara dirinya adalah hamba yang dipelihara akan melahirkan sikap Uluhiyah Ta’abbud (menghamba dan menyembah Allah SWT). Secara Verbal sikap ini terangkum dalam kalimat ‘Laa ma’buuda bi haqqin illallaah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin” (Q.S. Al Fatihah: 5-6).

Di antara keistimewaan Ibadurrahman adalah kematangan tauhidullah ini. Karena itulah Allah SWT memilih mereka sebagai hamba-hamba pilihan yang dinisbatkan langsung dengan-Nya …;

Merekalah Ibadurrahman.

Allahu A’lam bi as Shawab

« Sederhana Dalam Membelanjakan Harta »

Sifat Ibadu r-Rahman Kelima,

« Sederhana Dalam Membelanjakan Harta »

وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkan karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Q.S. Al Israa’: 29)

Sifat Ibadurrahman yang Kelima: Sederhana dalam membelanjakan harta.

Islam mengajarkan sikap pertengahan (sederhana) dalam segala perkara, termasuk dalam hal membelanjakan harta yang dimiliki. Yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir.

Tidak ada salahnya Ibadurrahman memiliki harta. Toh harta dalam pandangan Islam merupakan karunia Ilahi yang diusahakan manusia dan nikmat yang harus disyukuri dan juga merupakan amanat yang harus dipelihara. Bagi  Ibadurrahman, harta adalah karunia Allah yang diserahkan dan dipercayakan kepada manusia untuk mengurus dan mengembangkannya.

Allah SWT telah memberikan petunjuk dalam hal yang berhubungan dengan harta. Yang berkaitan dengan cara mendapatkannya (yaitu harus dengan cara yang halal sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan), cara mengembangkan nya, cara membelanjakannya, dan cara menyalurkannya. Boleh jadi manusia berusaha mengumpulkan harta dari cara-cara yang halal. Tapi setelah itu dia menjadi kikir untuk memenuhi haknya, bakhil membelanjakannya untuk hal-hal yang disukai dan diridhai Allah atau sebaliknya, dia menghambur-hamburkannya kesana kemari tanpa ada manfaat apapun.

Jika seseorang hidup sederhana, tidak bakhil dan  tidak kikir, tidak boros dan berlebih-lebihan, maka itu merupakan dalil (pertanda) kedalaman pengetahuan dan cahaya ilmunya. Dia berjalan di tengah, dan sebaik-baik urusan adalah pertengahannya. Islam menuntut ummatnya untuk menafkahkan sebagian dari harta mereka, dan tidak menuntut mereka menafkahkan semua harta yang di miliki. Ketika Allah mewajibkan manusia untuk mengeluarkan zakat, maka zakat yang dikeluarkan itu hanya beberapa persen dari harta yang dimiliki, dan tidak membebankan mereka dengan jumlah yang terlalu banyak.

Ibadurrahman sangat jauh dari sifat kikir dan bakhil, mereka adalah hamba-hamba Allah yang dermawan, namun tidak boros dalam membelanjakan hartanya. Orang kikir yang begitu erat menggenggam hartanya, bak kata pepatah, “Laksana air dalam genggaman, tak setetespun yang mengalir.” Adalah orang-orang yang sangat dimurkai Allah. Ia meyakini harta yang ada padanya mutlak miliknya karena diperoleh dari usahanya sendiri, sehingga ia lupa kewajiban yang telah diperintahkan Allah kepadanya dengan hartanya itu. Ia enggan membelanjakan sebagian hartanya fisabilillah dengan berinfaq, bersedekah, bahkan mereka enggan mengeluarkan zakat. Allah SWT mengancam mereka yang bakhil dan kikir dengan azab api neraka yang dahsyat. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 34-35:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)

“…. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (fi sabilillah), maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam beraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung merela (lalu dikatakan) kepada mereka; “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu dimpan itu.”

Rasullah SAW juga memperingatkan ummatnya agar menjauhi sifat kikir karen sifat kikir mengakibatkan manusia saling benci, putus hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, timbul kesenjangan, jurang pemisah antara si miskin dan si kaya, bahkan bisa terjadi saling menumpahkan darah.

Allah SWT telah menggambarkan kepada kita tentang suatu masyarakat yang  kehidupannya penuh dengan persaudaraan dan kasih sayang di antara mereka. Solidaritas mereka begitu tinggi, yang kaya memperhatikan  yang miskin, dan yang mampu dan kuat membantu yang lemah. Itulah masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan begitulah gambaran ikatan persaudaraan antara kaun Anshar dan Muhajirin. Mereka adalah orang-orang yang jauh dari sifat kikir dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan dari Allah SWT.

Disamping tidak kikir, Ibadurrahman sangat dermawan, katakanlah bahwa mereka sangat “hobby” dalam berinfaq di jalan Allah, dan mereka tidak berlebih-lebihan  dalam menafkahkan hartanya kepada orang lain, meskipun sebenarnya tidak ada istilah berlebih-lebihan dalam kebaikan. Artinya mereka tiada membelanjakannya dalam kedurhakaan kepada Allah. Ibadurrahman sangat yakin bahwa setiap harta yang ia nafkahkan di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dan yang lebih banyak, tidak ia rasakan di dunia, namun balasannya pasti ia nikmati di akhirat kelak.

Sebagai penutup, marilah kita hayati dan renungkan firman Allah dalam hadits Qudsi berikut ini yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang bersumber dari Abu Hurairah r.a:

“Wahai anak Adam! Jika engkau mendermakan kelebihan hartamu, maka kebaikanlah bagimu. Tetapi sekiranya engkau menggenggamkan tanganmu  (karena kikir), maka keburukanlah bagimu. Engkau tidak akan dicela  (oleh Allah) atas kehidupan yang pas-pasan (tidak berkelebihan tapi qana’ah – selalu puas dengan apa yang ada), dan mulailah (menafkahkan harta) dengan orang yang engkau tanggung (dengan memberikan nafkah belanja seadanya). Dan tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan di bawah (meminta).”

Allahu A’lam bi as Shawab