KHAUF … atau rasa takut kepada Allah … Modal Utama seorang memimpin dirinya dan bangsanya ….

(JPEG Image, 315×445 pixels)Buya KhutbahOLEH : H. MAS’OED ABIDIN
 
Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya.
Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga.
Menanamkan perangai yang jujur.

Membentuk perangai umat harus dimulai dengan
menanam sahsiah pada keluarga.
Pembinaan rohani anggota keluarga
dilaksanakan dengan agama.

Dimulai dengan menanamkan rasa ”Khauf”

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,
sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka
dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap,
dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki
yang Kami berikan kepada mereka”
(Q.S. As Sajadah: 16)

Kata khauf yang berarti takut,
telah disinggung di dalam Al Qur’an sebanyak 134 kali,
dan sinonimnya yaitu kata “Khasy-syah” ….
yang juga berarti takut terdapat sebanyak 84 kali.

Allah SWT menjadikan kehidupan di dunia ini ibarat ruang ujian,
yang harus ditempuh manusia.
Firman Allah tentang hal tersebut:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Dialah Allah — Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya,
dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al Mulk: 2)

Rasa takut (Khauf) merupakan sifat kejiwaan
dan kecenderungan alami
yang bersemayan di dalam hati manusia,
dan memiliki peran penting
dalam kehidupan kejiwaan manusia.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
“MAN KHAAFA AAMANA”,
barangsiapa yang takut, aman!”

Kalau kita tidak takut hujan,
kita tidak akan sedia payung,
bila kita tidak takut sakit
kita tidak berupaya meningkatkan kesehatan kita.
Bila kita tidak takut negara rusak,
maka kita tidak perlu memilih pemimpin yang baik …

Islam tidak memandang rasa takut
yang ada dalam diri manusia
sebagai aib yang harus dihilangkan.

Namun demikian,
rasa takut akan menjadi sesuatu yang buruk
apabila seseorang tidak mampu mengatur
dan menyalurkan rasa takutnya,
apalagi bila rasa takut itu jadi perintang kemajuan,
penghambat kebebasan mengamalkan sunnah,
dan terbiarkan kehormatan dirinya rusak.

Ali bin Abi Thalib AS, menasehati kita:
“Kalau anda bertekad melakukan sesuatu,
maka arungilah ……
Karena bayangan bencana ….
terlihat lebih besar dari yang sebenarnya.

” Jadi sesungguhnya menunggu datangnya sesuatu,
tanpa bertsiap dan berbuat
sebenarnya lebih buruk dari sesuatu yang ditunggu itu sendiri.

Karena itu lebih baik kita melakukan persiapan
dan menyusun kekuatan bathin
menghadapi sesuatu yang akan datang.

Al Qur’an telah menggambarkan rasa takut
yang timbul pada jiwa para rasul
dan juga pada diri hamba-hamba Allah yang shaleh,
meskipun mereka adalah manusia pilihan
yang terkenal suci dan bersih.

Allah SWT berfirman,
menceritakan peristiwa keluarga Musa Alaihis-salam,
ketika menghadapi kekejaman Fir’aun,
yang membunuhi setia[ anak-anak lelaki yang lahir,
karena takut ….
jika generasi yang lahir itu,
akan mengubah kekuasaan
yang selama turun temurun,
telah berada di tangan titisan Fir’aun itu …

Maka ketika Musa lahir,
yang memang dipersiapkan Allah
untuk menggantikan kekuasaan Fir’aun …,
kepada ibu Musa di ilhamkan oleh Allah Ta’ala…
sebagai berikut :

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَ تَخَافِي وَلاَ تَحْزَنِي
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa:
“Susukanlah dia,
dan apabila kamu takut (khawatir) ….
maka hanyutkanlah ia ke dalam sungat (Nil).
Dan janganlah kamu takut dan (jangan pula) bersedih hati.
Karena sesungguhnya …
Kami akan mengembalikannya kepadamu,
dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”
(Q.S. Al Qashash : 7)

Takut (al khauf) adalah masalah yang berkaitan
dengan kejadian yang akan datang.

Seseorang hanya merasa takut
jika yang dibenci tiba …
dan yang dicinta sirna.

Khauf merupakan salah satu syarat iman
dan kerelaan melaksanakan hukum-hukumnya.

Takut kepada Allah adalah rasa takut
yang semestinya dimiliki setiap hamba.

Karena rasa takut itu
mendorong untuk meningkatkan amal kebaikan
dan bersegera dalam meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Rasa takut kepada Yang Maha Kuasa
adalah salah satu pilar penyangga keimanan kepada-Nya.
Dengan adanya rasa takut,
timbul rasa harap (rajaa’) akan maghfirah (ampunan),
lahir harapan tentang ‘inayah (pertolongan),
serta rahmat Allah dan ridha-Nya.

Sehingga hakikat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”
benar-benar terpatri dalam qalbu seorang hamba.

Di saat manusia merasakan getaran rasa takutnya kepada Allah,
maka saat itu berarti mereka memiliki rasa takut pula
akan ancaman azab yang Allah sediakan
bagi orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

Ma’rifah (pengetahuan) akan sifat Allah
akan mengantarkan ke dalam pengetahuan tentang azab-Nya.

Seorang hamba yang shaleh,
berma’rifatullah,
dan merealisasikan hakikat kehambaannya
dengan senantiasa mengamalkan perintah-Nya
dan mengamalkan pula semua ajaran rasul-Nya,
pasti akan memilki rasa takut yang mendalam
terhadap azab yang mengancamnya.

Sikap ini akan melahirkan selalu waspada,
sehingga tidak ada amal atau prilaku
yang mengarah kepada hal-hal …
yang menjadikan Allah murka
dan menjadikan dirinya durhaka kepada Allah.

Allah SWT berfirman :

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut
akan siksaan hari yang besar
jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
(Q.S. Az Zumar: 13)

Sesungguhnya rasa takut kepada Allah itu
merupakan salah satu perangai
yang diciptakan dalam diri manusia
untuk memotivasi mereka
dalam menyebarluaskan …
dan menjaga nilai-nilai Ilahy.

Orang yang benar dalam memposisikan rasa takutnya
akan merasakan rahmat Allah,
baik dalam kehidupan duniawi
maupun ukhrawi.

Kita tutup dengan doa ;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْم

 Wassalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh …

Yulfi Indra Yulfi Indra pada 06 Juni 19:01 … “terimakasih update nyo buya.
mudah-mudahan bisa melekat di hati untuk selalu takut kepada Allah dan mempersiapkan diri didalam kehidupan yang hanya sebentar ini.

Abdurahman Salman  Assalamualaikum,  Alhamdulillah senang dan mudah-mudah jadi pegangan. terima kasih buya. wassalam …..  Abdurahman Salman pada 06 Juni 19:49
 
Eko Kritz Suharto  itulah masalahnya Buya….kalau semua pemimpin punya rasa takut kepada Allah …kan KPK nggak perlu diadain Buya ? hm ….  Eko Kritz Suharto pada 06 Juni 20:00
 
Abdurahman Alkatiri  syukron,. ….  Abdurahman Alkatiri pada 06 Juni 20:57
 
Bodhi Dharma  alhamdulillah buya, setelah baca ini kok rasa takut bertambah pada Allah SWT….  Bodhi Dharma pada 06 Juni 21:32
 
Susianti Annisa H  Assalamu’alaikum Buya!!!  Gmn kbr buya???  Mg Buya dalam keadaan shat wal’afiat…  Susi t’msuk salah sorang yang mengagumi sosok Buya….  Susianti Annisa H pada 06 Juni 21:36
 
Fatma Sj moga2 kt semua memp. rs takut yg dpt menambah imtaq kt spt rasul2 utusan Allah SWT.. Amin..!!   Fatma Sj pada 06 Juni 22:46

Copy of Picture 103

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s