Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

ADAT BASANDI SYARAK (ABS), SYARAK BASANDI KITABULLAH (SBK)

 Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Untuk Membangun Manusia dan Masyarakat Minangkabau

Yang Unggul Dan Tercerahkan

 

 Puncak gonjong Rumah Gadang

 

ABS SBK Merupakan Batu Pojok Bangunan Masyarakat Minangkabau Yang (Dulu  Pernah) Unggul Dan Tercerahkan

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan   (Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam di awal abad ke 19) dari  dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik bersenjata yang melelahkan.

Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa (JPEG Image, 227×269 pixels) Buyaangkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik) yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. 

Mereka merupakan ujung tombak kebangkitan budaya dan politik bangsa Indonesia pada awal abad ke 20, serta dalam upaya memerdekakan bangsa ini di pertengahan abad 20.

Sebagai kelompok etnis kecil yang hanya kurang dari 3%  dari jumlah bangsa ini, peran kunci yang dilakukan oleh sejumlah tokoh besar dan elit pemimpin berbudaya asal Minangkabau telah membuat ”Urang Awak” terwakili-lebih (”over-represented”) di dalam kancah perjuangan dan  kemerdekaan bangsa Indonesia ini.

Rumah gadang Minang

Alhamdulillah, Minangkabau sebagai  kelompok etnis kecil pernah berada di puncak piramida bangsa ini (”the pinnacle of the country’s culture, politics and economics”). Putera-puteri terbaik berasal dari budaya Minangkabau pernah menjadi pembawa obor peradaban (”suluah bendang”) bangsa Indonesia ini.

 Group Ulama & National Businees-2

ABS-SBK merupakan landasan yang memberikan lingkungan sosial budaya yang melahirkan kelompok signifikan  manusia unggul dan tercerahkan. ABS-SBK dapat diibaratkan ”Surau Kito” tempat pembinaan ”anak nagari” yang ditumbuh-kembangkan menjadi ”nan mambangkik batang tarandam, nan pandai manapiak mato padang, nan  bagak manantang mato ari, jo nan abeh malawan dunia urang, dan di akhiraik beko masuak Sarugo  ”.

Masjid Gantiang Padang

Namun, ”kutiko jalan lah di alieh urang lalu” dan ”alah lupo kacang di kuliknyo”, maka robohlah ”Surau Kito”. Dan beginilah sekarang nasib atau bagian peran yang berada di tangan etnis Minangkabau yaitu hanyalah sekadar ”nan sayuik-sayuik sampai” atau nyaris tak terdengar. Para penghulu ninik mamak, para ulama suluh bendang, dan para cerdik cendekia, menjadi sasaran keluhan dan pertanyaan umat banyak.  

 Kota Tua di Muara Padang

Kota Tua di Sehiliran Batang Harau, Muara Padang – setua itu pula adat – yang bersiap akan dimasukkan  ke dalam  Museum, bila adat budaya yang luhur dengan nilai nilai syarak itu tidak  dipakai lagi oleh etnis Minangkabau…. atau adat dan syarak itu akan menjadi seakan ngarai yang runtuh ……,

Lambah di Ngarai Sianok

yang hanya akan dapat dinikmati dalam pandangan tapi tak akan mampu dimasuki karena generasi dari Masyarakat Adat Minangkabau itu sendiri sudah menjauh dari nilai-nilai adat istiadat leluhur mereka.

Panorama Ngarai Bukittinggi

 

 

 

Masyarakat Madani Minangkabau adalah Masyarakat Yang Beradat Dan Beradab

DSC05895 

Kegiatan hidup masyarakat dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”). Yang paling mendasar adalah ”meta-environmental system” yaitu tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).

Sawah selesai disabik

PDPH ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan  masyarakat.  PDPH ini merupakan landasan pembentukan pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal.

Rumah Adat Bukittinggi

Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”) adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.  (“humanly devised constraints on actions; rules of the game.”). 

Silek Kesenian anak Nagari Minangkabau

PDPH merupakan pedoman serta petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri  maupun bersama-sama. PDPH memberikan ruang (dan sekaligus batasan-batasan) yang merupakan ladang bagi pengembangan kreatif potensi manusiawi dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan ekonomi serta karya-karya pemikiran intelektual yang merupakan mesin perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di segala bidang kehidupan.

Sirieh di Carano, mananti tamu tibo 

PDPH masyarakat Minangkabau yang dahulu itu (1800-1950) melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas” adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).  ABS-SBK adalah PDPH yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau  dalam arti kata dan kenyataan yang sesungguhnya.

Meta-environment yang dibentuk ABS-SBK sebagai PDPH membentuk lembaga pemerintahan ”tigo tungku sajarangan” yang menata kebijakan “macro-level” (dalam hal ini “adat nan sabana adat, adat istiadat, dan adat nan taradat)  bagi pengaturan kegiatan kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “anak nagari” Minangkabau.

Dengan demikian setiap dan masing-masing anggota pelaku kegiatan  sosial, budaya dan ekonomi  pada tingkat sektoral (meso-level) maupun tingkat perorangan (micro-level) dapat mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.  Maka dapat dinyatakan bahwa Masyarakat Minangkabau (dahulu itu, 1800-1950)  merupakan salah contoh dari Masyarakat Madani Yang Beradat dan Beradab.

 Prosesi Minangkabau 023

 

 

Masyarakat Ber-Adat Yang Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” menunjukkan bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

Danau Diateh dari Danau Dibawah

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui keberadaan dan memahami Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”, artinya kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.

DSC03901

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas” yang  dikonstruksikan secara kebahasaan (”linguistic construction of realities”)  yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai Kato Pusako. Lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat  se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” adalah Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.

 Gunung Merapi berselimut awan di sore hari

Sangat sedikit catatan sejarah dengan bukti asli/otentik tentang bagaimana sesungguhnya bentuk dan keberhasilan masyarakat Minangkabau di dalam menjalankan Adat yang bersendikan Nan Bana itu.  Sejarah yang dekat (dua tiga abad yang silam) menunjukkan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Minangkabau banyak ditemukan praktek-praktek yang kontra produktif bagi perkembangan masyarakat seperti judi, sabung ayam dan tuak dan lain-lain. Sejarah sebelum ABS-SBK juga belum mencatatkan peran signifikan tokoh-tokoh berasal budaya Minangkabau yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.

 MesjidKuno_2

Sebaliknya, sesudah ABS-SBK, terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau, dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kawasan ini. Bagaimana gejala itu bisa diterangkan?.

 CapRaja

Masyarakat Minangkabau pra-ABS-SBK adalah Masyarakat Ber-Adat yang bersendikan Nan Bana,  Nan Badiri Sandirinyo. Sebagai buah hasil dari konstruksi realitas lewat jalur kebahasaan, hasil penerapannya di dalam kehidupan masyarakat se-hari-hari tergantung kepada sejauh mana ”peta realitas” itu memiliki ”hubungan  satu-satu” (”one-to-one relationship”) atau sama sebangun dengan Realitas yang sebenarnya (Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu). Terterapkannya berbagai perilaku kontra-produktip oleh beberapa bagian masyarakat menunjukkan bahwa ada kekurangan serta kelemahan dari Adat Minangkakau Sebagai Peta Realitas serta Petunjuk  Jalan Kehidupan Bermasyarakat itu. Kekurangan utama yang menjadi akar dari segenap kelemahan yang terperagakan itu adalah ada bagian dari Peta Realitas itu yang ternyata tidak sama sebangun dengan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu.

 Tuanku Imam Bonjol

Kekurangan utama (Peta yang tidak sama sebangun dengan Realitas) itu melahirkan beberapa kekurangan. Kekurangan turunan pertama adalah Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas tidak dilengkapi dengan Pedoman dan Petunjuk yang memadai tentang bagaimana ia seharusnya digunakan. Peta yang tidak dilengkapi dengan bagaimana menggunakannya secara memadai adalah tidak bermanfaat, malah dapat menyesatkan. Kekurangan selanjutnya, tidak dilengkapinya Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas itu dengan  Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  yang memadai. Peta tanpa petunjuk jalan yang memadai tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kekurangan selanjutnya, Adat yang menjadi Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  itu  tidak dilengkapi dengan pedoman teknis perekayasaan perilaku (”social and behavioral engineering techniques”) yang memadai sehingga rumus-rumus dan resep-resep pembentukan masyarakat sejahtera berkeadilan berdasar Adat Minangkabau tidak dapat diterapkan.

Pacu Jawi bukan Karapan Sapi

 Akar segala kekurangan serta sebab-musabab segala kelemahan berupa ketidak-lengkapan serta kurang-kememadai-an itu adalah  ketiadaan “hubungan satu-satu”  antara Peta Realitas dengan Realitas itu sendiri atau Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu.

 Ummat

Peristiwa sejarah yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo”.  Dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK). 

Ketika Adat hanya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo,   ada yang kurang dan hilang dalam tali hubungan keduanya, yaitu antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  dengan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo itu yang kita urai-jelaskan tadi.

H. Agus SalimDengan diproklamasikannya Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan kembali dengan Nan Bana, Nan Sabana-bana Nan  Bana, Nan Sabana-bana Badiri Sandirinyo.

 

Kitabullah adalah Al-Quran.

Al Qur’an mengurai-jelaskan segala sesuatu  “tafshiila li kulli sya’iin” (Surat 12, Yusuf, ayat 111), atau dengan perkataan lain “Peta Realitas Lewat Kebahasaan” yang pasti memiliki hubungan satu-satu atau sama sebangun dengan Realitas itu (“al-haqqu min amri Rabbika”, Al Qur’an Surat al Baqarah. ). 

Al Quran Masjid Nabawi 1

Al Quran adalah juga  Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram. (“hudal linnaasi wa bayyinatin minal huda wal furqaan” Q.S 2, Al-Baqarah Ayat 184).

 

Penerapan Al-Qur’an yang merupakan Ajaran Allah menurut Teladan Nabi Muhammad  s.a.w. (atau Sunnah Rasulullah) telah mentransformasikan masyarakat Jahiliyah empat belas abad yang lalu menjadi Pembawa Obor Peradaban. Selama tidak kurang tujuh dari abad, kebudayaan dan peradaban yang ditegakkan atas Ajaran Al Quran telah mendominasi Dunia Beradab. Kekalahan dan keterpinggiran yang terjadi sampai hari disebabkan berbagai faktor yang utamanya karena meninggalkan ke dua panduan hidup itu Al Quran dan Sunnah Rasulullah. (Taraktu fi kuum amraiin, Al Quran wa sunnaturarasuul,……. al hadith, riwayat …………………….).

DSC06120 

Itu pulalah yang tampaknya terjadi dengan Masyarakat Minangkabau ketika menerapkan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. Walau berada dalam lingkungan nasional dan internasional yang sulit  penuh tantangan, yaitu zaman kolonialisme  dan perjuangan melawan penjajahan, budaya Minangkabau yang berazaskan ABS-SBK telah terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini. Rentang sejarah itu membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.

 DSC06134

 

 

Krisis Budaya Minangkabau Merupakan Miniatur Dari Krisis Peradaban Manusia Abad  Mutakkhir

 Ruah Adat Minangkabau

Budaya Minangkabau memang mengalami krisis, karena lebih dari setengah abad terakhir ini tidak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam berbagai segi kehidupan di tataran nasional apatah lagi di tataran kawasan dan tataran global. Budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan

 

Dalam satu sudut pandang, krisis budaya Minangkabau  menggambarkan krisis  yang dihadapi Ummat Manusia pada Alaf  atau Millennium ke Tiga ini. Salah satu isu yang menjadi kehebohan Dunia akhir-akhir ini adalah isu Perubahan Iklim (“Climate Change”). Perubahan Iklim telah dirasakan sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan/keberlanjutan keberadaan Umat Manusia di bumi yang hanya satu ini. Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia yang memengaruhi lingkungan sedemikian rupa sehingga mengurangi daya-dukungya sebagai tempat hidup dan sumber kehidupan manusia.

Inyiek Canduang Kemajuan ilmu yang dapat dianggap sebagai “Peta Alam Terkembang” telah menambah pemahaman manusia akan bagaimana bekerjanya alam semesta ini, sehingga “manusia mampu menguasai alam”. Penerapan ilmu dalam berbagai teknologi  telah meningkatkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan alam sesuai berbagai keinginan manusia. Terjadinya Perubahan Iklim menunjukkan bahwa “penguasaan manusia terhadap alam lingkungan” telah menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (“irreversible”) terhadap alam itu sendiri.  Dan ternyata, Perubahan Iklim sangat mungkin mengancam keberadaan manusia di muka bumi ini.

 

Buya Hamka dalam Dokumentasi Ed. ZulverdiDari sisi kemanusiaan, ada beberapa kemungkinan penyebab. Kemungkinan pertama,   mungkin Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang tidak mampu memperkirakan terlebih dahulu apa yang sekarang telah menjadi Perubahan Iklim yang tidak dapat balik itu. Dengan perkataan lain Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang  ternyata tidak sama dengan Realitas Di Alam Nyata. (Artinya ada “batas Ilmu”, yaitu wilayah dimana “ignora mus et ignozabi mus”, kita manusia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu atau memiliki ilmu tentang itu.

 

Mohd. HattaKemungkinan kedua, para ilmuwan telah “lebih dahulu  memahami apa yang bakal terjadi”, namun tidak memiliki ilmu yang dapat diterapkan untuk merubah perilaku manusia dan masyarakat.  Jadi, Peta Ilmuwan tentang Manusia dan Masyarakat tidak sama dengan Realitas Di Dalam Diri Manusia Dan Masyarakat. Singkat kata, apa yang ada dalam benak manusia moderen (baik ilmu maupun isme-isme) yang menjadi kesadaran kolektif yang secara keseluruhan membentuk Pandangan Dunia dan Pandang Hidup (PDPH)  mereka ternyata tidak sama sebangun dengan Realitas. Dengan begitu, ketika PDHP itu menjadi acuan perilaku serta kegiatan perorangan dan bersama-sama, tentu saja dan pasti telah membawa kepada bencana, antara lain, berupa Perubahan Iklim yang kemungkinan besar tidak dapat balik itu.

 

M. NatsirManusia moderen sangat berbangga dengan berbagai ismeisme yang dikembangkannya serta meyakini kebenarannya di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia. Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Millennium atau Alaf Ketiga ini. 

 

Jika kita merujuk kepada Kitabullah, yaitu Al-Qur’an, kita akan menemukan gejala dan sebab-sebab dari Perubahan Iklim yang mendera Umat Manusia. Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan ;

DSC03900 

“…..Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia” (Al Qur’an Surat… Ayat…….).  Perilaku manusia-lah penyebab semua kerusakan itu

 

Dan penyebab perilaku merusak manusia ialah penyembahan berhala, berupa ilmu ataupun isme-isme yang ternyata tidak memiliki hubungan satu-satu dengan kenyataan di alam semesta termasuk di dalam diri manusia dan masyarakat.  Salah satu ayat dalam Al-Qur’an Surat 12, Yusuf , Ayat 40, sebagai berikut

 “Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS 12, Yusuf : 40).

 

Ibrahim Tan MalakaKeyakinan, yang tidak berdasar, akan kebenaran isme-isme itulah yang dapat digolongkan sebagai pemujaan manusia moderen. Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan Ilmu hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan khayalan manusia saja. Dan, disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya”.

 “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “ (QS.45, Al Jatsiah : 23).

 

 “ Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, (QS25, al Furqan : 43)

 

 “ …. dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ” (QS.28 : 50)

Rumah Adat e. Datuak Batuah di Kamang 

Dengan keterbatasan itu bagaimana manusia mungkin meneruka jalan keselamatan di alam semesta, paling tidak dalam  menjalani kehidupan di Dunia ini.  Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia tidak ditinggalkan di dalam kebingungan.

 

(Rujukan Al Qur’an…………………. Surat………………).

Diturunkanlah para Rasul dengan membawa Kitab Suci, yang paling terakhir Al Qur’an sebagai  Peta Realitas serta Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram dalam menjalani hidup di bumi yang fana ini.

 

Simpulannya, krisis global yang dihadapi manusia moderen disebabkan karena kebanyakan mereka mempercayai apa yang tidak layak diyakini berupa isme-isme karena mereka telah menuhankan diri dan nafsu mereka sendiri.  Kebanyakan manusia moderen telah menjauh dari agama langit, bahkan dari agama itu sendiri, dalam pikiran apalagi dalam perbuatan dan kegiatan mereka.

 

Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang cukup jauh antara ABS-SBK sebagai konsep PDPH (Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup) dengan  kenyataan kehidupan sehari-hari. Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan

 

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan Mampu Mencetak  SDM Unggul Yang Tercerahkan Yaitu  Para Ulul Albaab.

 

Siapakah manusia unggul yang tercerahkan itu. Barangkali konsep yang menyamai serta t digali dari Al-Qur’an  adalah para “Ulul Albaab”. Dalam Surat Ali Imran, Surat ke 3, Ayat 190 s/d 194 , disebutkan sebagai berikut

 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(3:190).(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(3:191).Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.(3:192).Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.(3:193)Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”(3:194)

 

Dahlan DjambekBagi para “uluul albaab” seluruh gejala di alam semesta ini merupakan tanda-tanda.  Tanda-tanda merupakan sesuatu yang merujuk kepada yang lain di luar dirinya. Menjadikan gejala sebagai tanda berarti membuat makna yang berada disebalik tanda itu. Proses menjawab pertanyaan itu disebut berpikir yang terarah.  Hasil berpikir adalah pikiran tentang sebagian dari kenyataan. Dengan perkataan berpikir akan menghasilkan semacam “peta bagian kenyataan” yang dipikirkan.

 

Hikmah yang dikandung Al-Qur’an hanya dipahami oleh “ulul albaab” yaitu  mereka yang mau berpikir dan merenungkan secara meluas, mendalam tentang apa yang perlu dan patut dipahami dengan maksud agar  mengerucut kepada beberapa simpulan kunci.

Batagak Pangulu di Kotogadang

Para “ulul albaab” adalah mereka yang unggul dan tercerahkan, yang di dalam dirinya zikir dan fikir menyatu.  Zikir disini bukan sekadar mengingat Allah s.w.t dengan segala Asmaul-Husna-Nya, tapi harus dipahami lebih luas sebagai hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah s.w.t dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya. Fikir berarti membuat Peta Kenyataan sesuai dengan Petunjuk dan Ajaran Allah s.w.t. sebagaimana diurai-jelaskan oleh Al-Qur’an serta ditafsirkan dan diterapkan oleh Rasullullah lewat Sunnahnya sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah).

 

Simpulannya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. 

Rumah gadang di Bukittinggi

Hanya dengan demikianlah, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan mampu menghasilkan manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan yang berintikan para “ulul albaab” sebagai tokoh dan pimpinan masyarakat. Manusia seperti itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Kato Pusako “Nan Pandai Manapiak Mato Padang, Nan Indak Takuik Manantang Matoari, Nan Dapek Malawan Dunia Urang, Sarato Di  Akhiraik Beko Masuak Sarugo“. 

 

 

 

GAMBARAN BUDAYA  MINANGKABAU

SEBELUM DAN SESUDAH ABS-SBK

 

Usulan bagi Satu Pendekatan

 

 

 

Sebelum peristiwa Piagam Sumpah SatieBukik Marapalam, budaya Minangkabau dapat digambarkan lewat diagram di bawah ini.

 

 

 

Filsul dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo. Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo  termasuk Alam Terkembang yang menjadi Guru.  Dari pemahaman bagaimana Alam Terkembang bekerja, termasuk di dalam diri manusia dan masyarakatnya, direndalah Adat Minangkabau. Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat)  kemudian menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.  Di samping itu, pengaruh kepercayaan lama serta Hindu dan Budha telah mewarnai tata-cara dan praktek penyembahan yang kita belum memiliki catatan yang lengkap tentang itu.

 DSC05847

Konsep dasar PDPH (Adat Nan Sabana Adat) itu diungkapkan lewat Bahasa, terutama Bahasa Lisan (Sesungguhnya Minangkabau pernah memiliki tulisan berupa adaptasi dari Huruf Pallawa dari India  (pengaruh  agama Hindu/Budha). Keseluruhan pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang berisikan gagasan-gagasan bijak itu dikenal sebagai Kato Pusako. Kato Pusako itu yang kemudian dilestarikan secara formal lewat pidato-pidato Adat dalam berbagai upacara Adat. Sastera Lisan juga merekam Kato Pusako dala kemasan cerita-cerita rakyat, seperti Cindua Mato, dll.

 

PDPH Masyarakat Minangkabau juga diungkapkan seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan galombang). Benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong) serta artefak lain-lain mengungkapkan wakil fisik dari konsep PDPH Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna.

ARAKAN

Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaurhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat.

 

 DSC05879

 

 

 

 

 

Peristiwa yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam telah merubah konstruksi gagasan dasar dan penerapannya dalam Adat Minangkabau.  Tampaknya dahulu itu tekah terjadi asimilasi (atau pemesraan) yang cukup padu antara Islam dengan Kitabullah serta Adat Nan Sabana Adat (Konsep Dasar Adat sebagai PDPH) yang selanjutnya memengaruhi Adat Nan Taradat dan Adat Istiadat.

Manatiang sirih jo carano 

ABS-SBK sekarang menjadi  konsep dasar Adat (Adat Nan Sabana Adat) diungkapkan, antara lain lewat Bahasa, yang direkam sebagai Kato Pusako.  ABS SBK memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. 

 

Barangkali langkah  yang perlu kita lalui adalah:

1)     Kompilasi

2)     Kategorisasi

3)     Kajian:

  1. Tema
  2. Aspek kehidupan perorangan
  3. Aspek-aspek kehidupan masyarakat
  4. Simpulan: Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup Dasar Masyarakat

(Bagaimana Adat Minangkabau menyatu-padukan aplikasinya dengan Kitabullah atau bagaimana Islam diamalkan dalam konteks budaya Minangkabau)

H Mas’oed Abidin, Jalan Pesisir Selatan V/496, Padang , Sumbar – Indonesia

Iklan

KHAUF … atau rasa takut kepada Allah … Modal Utama seorang memimpin dirinya dan bangsanya ….

(JPEG Image, 315×445 pixels)Buya KhutbahOLEH : H. MAS’OED ABIDIN
 
Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya.
Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga.
Menanamkan perangai yang jujur.

Membentuk perangai umat harus dimulai dengan
menanam sahsiah pada keluarga.
Pembinaan rohani anggota keluarga
dilaksanakan dengan agama.

Dimulai dengan menanamkan rasa ”Khauf”

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,
sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka
dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap,
dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki
yang Kami berikan kepada mereka”
(Q.S. As Sajadah: 16)

Kata khauf yang berarti takut,
telah disinggung di dalam Al Qur’an sebanyak 134 kali,
dan sinonimnya yaitu kata “Khasy-syah” ….
yang juga berarti takut terdapat sebanyak 84 kali.

Allah SWT menjadikan kehidupan di dunia ini ibarat ruang ujian,
yang harus ditempuh manusia.
Firman Allah tentang hal tersebut:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Dialah Allah — Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya,
dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al Mulk: 2)

Rasa takut (Khauf) merupakan sifat kejiwaan
dan kecenderungan alami
yang bersemayan di dalam hati manusia,
dan memiliki peran penting
dalam kehidupan kejiwaan manusia.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
“MAN KHAAFA AAMANA”,
barangsiapa yang takut, aman!”

Kalau kita tidak takut hujan,
kita tidak akan sedia payung,
bila kita tidak takut sakit
kita tidak berupaya meningkatkan kesehatan kita.
Bila kita tidak takut negara rusak,
maka kita tidak perlu memilih pemimpin yang baik …

Islam tidak memandang rasa takut
yang ada dalam diri manusia
sebagai aib yang harus dihilangkan.

Namun demikian,
rasa takut akan menjadi sesuatu yang buruk
apabila seseorang tidak mampu mengatur
dan menyalurkan rasa takutnya,
apalagi bila rasa takut itu jadi perintang kemajuan,
penghambat kebebasan mengamalkan sunnah,
dan terbiarkan kehormatan dirinya rusak.

Ali bin Abi Thalib AS, menasehati kita:
“Kalau anda bertekad melakukan sesuatu,
maka arungilah ……
Karena bayangan bencana ….
terlihat lebih besar dari yang sebenarnya.

” Jadi sesungguhnya menunggu datangnya sesuatu,
tanpa bertsiap dan berbuat
sebenarnya lebih buruk dari sesuatu yang ditunggu itu sendiri.

Karena itu lebih baik kita melakukan persiapan
dan menyusun kekuatan bathin
menghadapi sesuatu yang akan datang.

Al Qur’an telah menggambarkan rasa takut
yang timbul pada jiwa para rasul
dan juga pada diri hamba-hamba Allah yang shaleh,
meskipun mereka adalah manusia pilihan
yang terkenal suci dan bersih.

Allah SWT berfirman,
menceritakan peristiwa keluarga Musa Alaihis-salam,
ketika menghadapi kekejaman Fir’aun,
yang membunuhi setia[ anak-anak lelaki yang lahir,
karena takut ….
jika generasi yang lahir itu,
akan mengubah kekuasaan
yang selama turun temurun,
telah berada di tangan titisan Fir’aun itu …

Maka ketika Musa lahir,
yang memang dipersiapkan Allah
untuk menggantikan kekuasaan Fir’aun …,
kepada ibu Musa di ilhamkan oleh Allah Ta’ala…
sebagai berikut :

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَ تَخَافِي وَلاَ تَحْزَنِي
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa:
“Susukanlah dia,
dan apabila kamu takut (khawatir) ….
maka hanyutkanlah ia ke dalam sungat (Nil).
Dan janganlah kamu takut dan (jangan pula) bersedih hati.
Karena sesungguhnya …
Kami akan mengembalikannya kepadamu,
dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”
(Q.S. Al Qashash : 7)

Takut (al khauf) adalah masalah yang berkaitan
dengan kejadian yang akan datang.

Seseorang hanya merasa takut
jika yang dibenci tiba …
dan yang dicinta sirna.

Khauf merupakan salah satu syarat iman
dan kerelaan melaksanakan hukum-hukumnya.

Takut kepada Allah adalah rasa takut
yang semestinya dimiliki setiap hamba.

Karena rasa takut itu
mendorong untuk meningkatkan amal kebaikan
dan bersegera dalam meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Rasa takut kepada Yang Maha Kuasa
adalah salah satu pilar penyangga keimanan kepada-Nya.
Dengan adanya rasa takut,
timbul rasa harap (rajaa’) akan maghfirah (ampunan),
lahir harapan tentang ‘inayah (pertolongan),
serta rahmat Allah dan ridha-Nya.

Sehingga hakikat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”
benar-benar terpatri dalam qalbu seorang hamba.

Di saat manusia merasakan getaran rasa takutnya kepada Allah,
maka saat itu berarti mereka memiliki rasa takut pula
akan ancaman azab yang Allah sediakan
bagi orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

Ma’rifah (pengetahuan) akan sifat Allah
akan mengantarkan ke dalam pengetahuan tentang azab-Nya.

Seorang hamba yang shaleh,
berma’rifatullah,
dan merealisasikan hakikat kehambaannya
dengan senantiasa mengamalkan perintah-Nya
dan mengamalkan pula semua ajaran rasul-Nya,
pasti akan memilki rasa takut yang mendalam
terhadap azab yang mengancamnya.

Sikap ini akan melahirkan selalu waspada,
sehingga tidak ada amal atau prilaku
yang mengarah kepada hal-hal …
yang menjadikan Allah murka
dan menjadikan dirinya durhaka kepada Allah.

Allah SWT berfirman :

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut
akan siksaan hari yang besar
jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
(Q.S. Az Zumar: 13)

Sesungguhnya rasa takut kepada Allah itu
merupakan salah satu perangai
yang diciptakan dalam diri manusia
untuk memotivasi mereka
dalam menyebarluaskan …
dan menjaga nilai-nilai Ilahy.

Orang yang benar dalam memposisikan rasa takutnya
akan merasakan rahmat Allah,
baik dalam kehidupan duniawi
maupun ukhrawi.

Kita tutup dengan doa ;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْم

 Wassalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh …

Yulfi Indra Yulfi Indra pada 06 Juni 19:01 … “terimakasih update nyo buya.
mudah-mudahan bisa melekat di hati untuk selalu takut kepada Allah dan mempersiapkan diri didalam kehidupan yang hanya sebentar ini.

Abdurahman Salman  Assalamualaikum,  Alhamdulillah senang dan mudah-mudah jadi pegangan. terima kasih buya. wassalam …..  Abdurahman Salman pada 06 Juni 19:49
 
Eko Kritz Suharto  itulah masalahnya Buya….kalau semua pemimpin punya rasa takut kepada Allah …kan KPK nggak perlu diadain Buya ? hm ….  Eko Kritz Suharto pada 06 Juni 20:00
 
Abdurahman Alkatiri  syukron,. ….  Abdurahman Alkatiri pada 06 Juni 20:57
 
Bodhi Dharma  alhamdulillah buya, setelah baca ini kok rasa takut bertambah pada Allah SWT….  Bodhi Dharma pada 06 Juni 21:32
 
Susianti Annisa H  Assalamu’alaikum Buya!!!  Gmn kbr buya???  Mg Buya dalam keadaan shat wal’afiat…  Susi t’msuk salah sorang yang mengagumi sosok Buya….  Susianti Annisa H pada 06 Juni 21:36
 
Fatma Sj moga2 kt semua memp. rs takut yg dpt menambah imtaq kt spt rasul2 utusan Allah SWT.. Amin..!!   Fatma Sj pada 06 Juni 22:46

Copy of Picture 103

INGIN TAUBAT JANGAN DITUNDA-TUNDA … SEGERAKAN BERSIH DIRI LAHIR BATHIN .. !!!

Renungan “Menjelang Dhuha” ……

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ
نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“ Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,
mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian,
dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi
dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,
sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ”
(Q.S. At Thahrim :

Setiap orang mukmin sangat memerlukan dua perkara,
yaitu pengampunan dosa
dan penghapusan kesalahan.
Kenyataannya,
tidak seorangpun yang terlepas dari dosa dan kesalahan.

Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW
yang bersumber dari Anas bin Malik r.a:

“Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan,
dan sebaik-baik orang
yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.”
(HR. Ahmad)

Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia
akan mengotori hatinya,
bagaikan noda hitam di atas kain putih,
tiada yang dapat membersihkannya
kecuali taubat.

Rasulullah SAW menyebut di dalam haditsnya
yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang meminta ampun dari dosa
seperti orang yang tidak berdosa”.
(HR. Bukhari)

Dan Allah berfirman;
“Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat
dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri.”
(Q.S. Al Baqarah: 222)

Arnussa 1427 004

Sebenarnya syetan telah menipu
dan menjebak kita
dan memenuhi kehidupan kita,
dengan berbuat maksiat,
sehingga menyesatkan kita dari jalan Allah,
menjauhkan kita dari jalan keselamatan
semua perdayaan syaitah itu,
membukakan bagi kita pintu-pintu jahannam
dan syaithan melakukan semua itu bujuk rayunya
sehingga manusia terjerumus
ke dalam jurang kemaksiatan
hingga penuh berlumur dosa.  Seyogyanyalah kita untuk segera mengetuk pintu taubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak ada kata putus asa
tidak ada istilah terlambat ..
dalam bertaubat
untuk menuju kepada Allah
meski dosa-dosa telah memenuhi kolong langit.

Allah adalah tuhan seluruh makhluk
yang menciptakan semuanya…
selalu menguji dan menyileksi amal
dan perbuatan hamba-hamba Nya….

Barangsiapa yang banyak dosanya
dan ia ingin bertaubat
maka pintu taubat selalu terbuka ….

Namun …
ambil mengertilah dengan syarat taubat itu …

1. harus menghentikan maksiat …
dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dilakukan.

2. harus berniat sungguh-sungguh…
untuk tidak mengulanginya lagi.
Dan, manakala dosa yang pernah ia lakukan itu
adalah berhubungan dengan hak manusia …
maka taubatnya ditambah dengan syarat yang ketiga ini …

3. harus menyelesaikannya dengan orang yang berhak
dengan meminta maaf kepadanya,
atau meminta kehalalan atau ridha…
atau mengembalikan apa yang harus ia kembalikan.

Di antara keutamaan yang didapat
oleh orang-orang yang bertaubat ialah …
Allah menyibukkan para malaikat-Nya
agar memintakan ampunan bagi mereka
yang bertaubat itu …
dan malaikat berdoa kepada Allah
mengharapkan Allah melindungi mereka
dari siksaan neraka jahannam,
lalu memasukkan mereka yang bertaubat itu ..
ke surga yang penuh dengan kenikmatan,
dan mendinding mereka yang telah bertaubat itu
dari kejahatan dan kesalahan.

Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit
juga sibuk memintakan ampunan
bagi orang-orang yang bertaubat ….

Allah berfirman:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy
dan malaikat yang berada di sekelilingnya
bertasbih memuji Rabbnya …
dan mereka beriman kepada-Nya
serta memintakan ampun
bagi orang-orang yang beriman
(seraya mengucapkan),
Ya Rabb kami …,
Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,
maka berilah ampunan ….
kepada orang-orang yang bertaubat
dan orang yang mengikuti jalan Engkau
dan peliharalah mereka …
dari siksaan neraka yang menyala-nyala.
Ya Rabb kami …,
dan masukkanlah mereka …
ke dalam sorga ‘And
yang telah Engkau janjikan kepada mereka
dan telah Engkau janjikan pula
untuk orang-orang yang shaleh
di antara bapak-bapak mereka,
dan istri-istri mereka,
dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah …
yang Maha Perkasa
lagi Maha bijaksana,
dan peliharalah mereka
dari (balasan) kejahatan …
Dan….,
menjadi orang-orang yang Engkau pelihara
dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu,
maka sesungguhnya
telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar. ”
(Q.S. Al Mukmin: 7-9)

Cukup banyak ayat-ayat di dalam Kitab Allah
yang mengabarkan diterimanya taubat
orang-orang yang bertaubat,
kalau memang taubat mereka itu tulus dan benar,
yang tentunya dengan cara-cara tertentu
yang telah diberikan tuntunan
oleh Allah dan Rasulullah jua…

Penerimaan taubat ini dilandaskan kepada karunia,
ampunan dan rahmat Allah,
yang tidak akan menyempit
karena keberadaan seseorang yang durhaka,
seperti apapun kedurhakaannya itu.

Terlebih lagi ….
orang yang bertaubat
dan juga memperbaiki diri …
serta beramal shaleh.

Tidak kurang dari sebelas tempat
di dalam Al Qur’an,
Allah mensifati diri-Nya
dengan sebutan at Tawwab
(Maha Menerima Taubat).

Kita akhiri pembahasan ini
di pagi ini menjelang dhuha ..
dengan firman Allah :
“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah
hanyalah taubat bagi orang-orang
yang melakukan kejahatan
lantaran kejahilan,
yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera …..
Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah
dari orang-orang yang melakukan kejahatan
yang hingga apabila telah datang ajal kepada seseorang,
barulah ia mengatakan,
“ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”.
Dan tidak pula diterima taubat
orang-orang yang mati
sedang mereka dalam kekafiran.
Bagi orang-orang itu
telah Kami sediakan siksa yang pedih. ”
(Q.S. An Nisaa’: 17-18)

Karena itu janganlah ada
di antara kita yang menunda taubat
hingga hari esok.
Karena maut itu
datang secara tiba-tiba.
Bersegeralah untuk mensucikan jiwa
di mana dan bila saja,
waktunya ada…

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Al Fawaid mengatakan :
“Bila kau berpulang ke alam baqa,
tidak membawa bekal taqwa,
kau lihat orang-orang yang membawanya
pada hari perhimpunan.
Kau akan menyesal,
karena kau tidak seperti mereka.
Mereka mempunyai persiapan
sedangkan kau tidak memilikinya.”

Allahu A’lam Bishshawab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin

Danau Cimpago Padang
Semoga apa yg kita kerjakan, hendaknya diridhai oleh Allah Swt. Semoga buya sehat selalu dan bisa terus menyampaikan dakwahnya di fb ini… . FB tidak bersalah, tapi oknum2 yg berbuat tak senonoh yg merusak fb.. sehingga muncul fatwa haram. Lanjutkan terus buya…Edi Erwin pada 31 Mei 9:30
Alhamdulillah, terima kasih Buya… Hendy Damanik pada 31 Mei 9:41
ASSALAMUALIKM BUYA…. SALM KENAL….Lisna Ova pada 31 Mei 14:03
Terimakasih tausiahnya Buya, semoga Buya senantiasa sehat walafiat dan kami bisa terus mendapatkan tausiah dari Buya… Anita Kencanawati pada 31 Mei 14:15
Terima kasih buya atas pencerahannya.. mudaha-mudahan kita termasuk kedalam kelompok ummat yang selalu bertaubat, amiinn.. Nurlaila Zai pada 31 Mei 17:05
Terima kasih tausiahnya buya, semoga kita tetap menjadi umatNya yang senantiasa bertaubat memohon magfirahNya. Amiiiin. Subardini Adek pada 31 Mei 19:47
Terima kasih Buya atas dakwahnya. Manfaatkan terus Buya fasilas FB ini untuk berdakwah, sarana yang baik sekali tersedia untuk mengingatkan ummat yang selalu lupa bertobat, apalagi saat globalisasi sekarang, banyak orang melakukan hal yang tidak benar karena terdesak keadaan. Tanpa disadari sudah banyak berbuat kesalahan yang perlu diingatkan terus menerus. Semoga dakwah Buya ini dapat menyadarkan ummat yang sudah banyak melenceng. Amiiiin. Razali Nazir pada 31 Mei 21:34
Terimakasih Buya, notesnya telah memberikan pencerahan kepada kalbu saya. Semoga kami2 semua menjadi insan yang selalu berusaha untuk membersihkan hati dan diri dan tidak lupa selalu bertobat…amin.
Buya teruslah berdakwah melalui Fb ini seperti ajakan teman2, karena dalam kehidupan kami kadang kami lupa …terimaksih Buya, semoga Allah selalu mengaruniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan untuk Buya dan keluarga. amiiin ya Gusti…wassalam. Intan Munajat pada 31 Mei 21:58
potonya indah sekali, dimana itu Buya? terimakasih.Intan Munajat pada 31 Mei 21:58
Terimakasih buya… Dyan sangat butuh penyejuk rohani seperti yang buya Tag kan ini…
semoga Allah selalu membuka kan pintu maaf dan Ampunannya untuk umat yang lalai seperti ananda buya ini. Jazzakillah Khair buya. Dyan Eka Putri pada 31 Mei 22:30