“TANGGUNG JAWAB DAKWAH SETIAP MUSLIM” …

 Tafakkur menjelang Qiyamul-lail ….

 وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al HaramSiapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Fushshilat:33)

Ridwan Abdullah Wu, adalah seorang muslim Cina dari Singapura, beliau adalah Direktur World Assembly of Moslem Youth (WAMY) dan juga ketua The Muslim Converts Association of Singapore. Beliau pernah mengatakan bahwa dakwah adalah “mengemukakan kepercayaan dan ajaran Islam kepada semua orang, apakah kaum muslim atau non muslim. Kepada non muslim itu pada dasarnya adalah memperkenalkan bahwa ada satu Pencipta, bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara dan bahwa manusia akan menghadap Tuhan di akhirat, kelak nan pasti…”.

Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz mengatakan bahwa dakwah merupakan keperluan masyarakat terkhusus bagi masyarakat muslim. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain ;

1. Manusia memerlukan orang yang bisa menjelaskan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menegakkan hujjah atas mereka. Allah SWT berfirman: “ Wahai Nabi …, sesungguhnya Kami mengutusmu .. untuk jadi saksi dan pembawa khabar gembira .. dan pemberi peringatan …. dan untuk menjadi penyeru …. kepada agama Allah dengan izin-Nya… dan jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S. Al-Ahzab: 45-46)

2. Kondisi kehidupan yang diwarnai oleh kerusakan, ketamakan, dan hawa nafsu, sementara para pelakunya tetap menginginkan tersebarnya kerusakan tersebut di masyarakat.

3. Takut terhadap laknat Allah yang akan ditimpakan atas masyarakat yang tidak melakdanakan amar ma’ruf – nahi munkar. Sebagaimana yang telah menimpa bani Israil, pada masa dahulu … dan dapat dijadikan ‘ibrah masa kini …. Allah SWT berfirman: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu … disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas …. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Q.S. Al-Maaidah: 78-79)

Adapun tujuan dan aktifitas dakwah Islamiyah antara lain dapat disimpulkan sebagai berikut ;

1. Mengembalikan fitrah yang ada pada diri manusia.

2. Mengubah pengertian kepada pola pikir (fikrah)

3. Mengubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah)

4. Mengubah aktivitas menjadi keberhasilan (natijah)

5. Mengubah keberhasilan menjadi tujuan (ghayah)

6. Mengubah tujuan menjadi mardhatillah.

 

Tersebarnya Islam di muka bumi ini dan akhirnya sampai kepada kita sehingga kita menjadi seorang muslim merupakan bukti dari dilaksanakannya dakwah Islamiyah dengan baik.

Sebagai bagian dari tanda dan rasa syukur kita, maka tugas tanggung jawab dakwah juga harus kita emban bersama-sama. Karena dakwah secara hukum menjadi tanggung jawab dan kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim, bukan hanya kewajiban dari orang-orang yang selama ini kita sebut ustadz, kiyai, ulama, atau mubaligh semata….

Karenanya dakwah tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk ceramah, khutbah dan pengajian-pengajian, tapi apapun yang dilakukan dalam rangka memberi tahu dan mengajak orang lain ke arah hidup yang Islami merupakan pelaksanaan dari tugas dakwah.

Dijadikannya dakwah sebagai kewajiban atas setiap individu muslim dikarenakan dakwah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat muslim tentunya …. Melalui dakwah dapat disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu, mana yang haq dan mana yang bathil.

Bahkan… dakwah tidak hanya membuat masyarakat memahami mana yang haq dan mana yang bathil, malahan juga memiliki keberpihakan kepada segala bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang bathil sehingga mennjadikan umat … agar selalu berusaha menhindari yang bathil itu.

Banyak dalil yang dapat kita jadikan sebagai rujukan untuk mendukung pernyataan wajibnya melaksanakan tugas dakwah. Firman Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (Q.S. Ali Imran: 110)

Dapat disimpulkan, Dakwah merupakan upaya merekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur kejahiliyahan menjadi masyarakat yang Islami. Ini berarti bahwa dakwah merupakan upaya melakukan penyebaran dan pengamalan akidah dan akhlak Islami dalam seluruh sektor kehidupan manusia. Untuk itu keterlibatan setiap muslim di dalam dakwah menjadi suatu keharusan, sesuai dengan potensi yang dimiliki individu masing-masing. Terbentuknya pribadi yang Islami, keluarga yang Islami dan masyarakat yang Islami merupakan target yang ingin dicapai dalam dakwah. Target ini memerlukan dukungan setiap muslim, apalagi dakwah itu bukanlah hanya berbentuk ceramah dan khutbah.

Tegasnya, apapun potentsi dan kemampuan yang dimiliki, semua itu dapat digunakan untuk kepentingan dakwah, termasuk informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) ….

Tujuannya tidak lain adalah, dakwah ilaa Allah … yakni mengajak kembali .. atau dekat dengan Allah … Dengan demikian menjadi jelaslah, bahwa dakwah merupakan kewajiban yang harus diemban oleh setiap kita, yang mengaku muslim agar terwujud kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, baik yang terkait dengan masalah kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa.

 Semoga dengan melaksanakan dakwah, terciptalah masyarakat yang memiliki ciri-ciri :

1. Masyarakat yang berakidah Islamiyyah: Laa Ilaha Illallah – Muhammad Rasulullah…

2. Masyarakat yang senantiasa melaksanakan segala kewajiban dengan mengacu kepada tuntutan dan keridhaan Ilahi.

3. Masyarakat yang memiliki persepsi dan pola pikir yang Islami, sehingga mampu menyelamatkan diri, keluarga serta orang lain di sekitarnya.

4. Masyarakat yang memiliki loyalitas terhadap Islam.

5. Masyarakat yang memiliki akhlakul karimah.

6. Masyarakat yang menjunjung tinggimartabat manusia … dan menghargai hak-hak asasi manusia serta memiliki solidaritas dan kepedulian sosial.

7. Masyarakat yang senantiasa menegakkan kebenaran dan hiduk makmur berkeadilan, dengan mengamalkan “Al-Amru bil ma’ruf wa nahyu ‘anil munkar” Allah Azza Wa Jalla membimbing kita semua di dalam melaksanakan tugas mulia ini, dengan firman NYA ; ” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba terjadilah orang yang di antara engkau dengan dia itu tadinya ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia … (QS.41, Fush-shilat : 34)

Mungkin dia datang dengan rasa benci, engkau sambutlah dia dengan bersahabat, dia menyerang dengan marah dan maki-maki, menampakkan bahwa pikirannya dangkal, tangkislah dengan tenang dan senyum simpul, Dia datang dengan membawa makian, kamu menyambut dengan menghormati, Dia datang mengajak berkelahi, kamu menanti dengan bersahabat, Seakan dia menunjukkan kedangkalan fikiran, engkau menampakkan kedalaman perasaan … Apakah hasil yang akan dipetik, tiada lain adalah, kemenangan budi yang gilang gemilang, mengubah musuh menjadi kawan … akan tetapi usaha ini amatlah berat .. berat sekali sunguhpun benar … kecuali bagi orang yang sabar .. dan yang berjiwa besar….

Berkacalah kepada sejarah, ketika Rasulullah dengan 12.000 pasukan lengkap… memasuki Makkah dalam peristiwa “Futuh Makkah” … yang menjadikan orang Quraisy berdebar pengap .. dan Abu Sofyan menggigil ketakutan, dalam pikiran mereka kini saatnya telah datang besok pagi akan tiba hari pembantaian… Namun apa yang terjadi …???

Sejarah telah mencatatkan bukti tentang kebenaran nyata ayat ini … Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berucap, mengutus pamannya Abbas bin Abdul Muthalib, masuk sendiri ke Makkah, dan mengumumkan ke khalayak ramai penduduk Makkah yang akan di taklukkan, Pesan Rasulullah yang berisi hikmah…; “Kita akan memasuki kota Makkah, Kita harap jangan ada orang yang melawan di kota Makkah, Barang siapa yang ingin keamanan, hendaklah lakukan perintahku ini dengan iman …. Barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, amanlah dia … Barangsiapa yang masuk ke dalam ruimah Abu Sufyan, amanlah dia … Barangsiapa yang tingal di dalam rumahnya sendiri, amanlah dia … ”

Masih segar dalam ingatan …, bahwa Abu Sufyan sebelumnya adalah musuh bebuyutan, dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang sengaja ikut dalam pasukan, yang ingin membalas dendam, “membunuh Abu Sufyan” .. Malahan… Rasulullah saat itu menempatkan, rumah Abu Sufyan sebagai “rumah keamanan” … Makkah di masuki dengan aman, tidak setetespun darah ditumpahkan, tidak sebuah nyawapun terbang melayang, tidak ada tangis kepiluan, tidak ada orang yang dihinakan … tidak ada orang yang menjadi lawan … yang ada hanya rasa kegembiraan rasa yang lahir dari sanubari yang dalam, yang tampak pada wajah “senyuman” … hakikat besar dari satu kemenangan …. “Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali oleh orang yang shabar…. Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali orang-orang yang berjiwa besar”… (QS.41, Fusshilat, ayat 35).

Moga bangsa kita selalu menjadi bangsa yang besar, aman dan damai di bawah naungan ridha Allah …

Wallahu a’lamu bis-shawaab …

Billahit taufiq wal hidayah,

Wassalamu ‘alaikum,

Buya H. Mas’oed Abidin

Masjid Nurul Iman Kotogadang dalam pembangunan kembali

Masoed Abidin Za Jabbar at 20:11 on 30 May
Ananda….
dalam masa menuntut ilmu …
shalat malam itu ibarat elexir …
memberi kekuatan kepada bathin …
perlu di laksanakan lillahi ta’ala …Read more
Salam maaf untuk semua…
wassalam
Andri Azis 

Andri Azis at 20:20 on 30 May

insya Allah akn selalu ananda jaga buya.:)..mohon doa selalu…
Adek Putra 

Adek Putra at 21:21 on 30 May

BUYA, KATANYA UMAR BIN KHATAB BIASANYA SOLAT MALAM SETELAH BANGUN MALAM, SEDANGKAN ABU BAKAR SISDIK SOLAT MALAM SEBELUM TIDUR, JADI KITA BOLEH SOLAT TAHAJUT SEBELUM TIDUR DAN ATAU SETELAH BANGUN. BETULKAH HAL TERSEBUT BUYA? ITU KATA TEMAN SAYA DI PONPES AL FATAH DI MADIUN. BAGAIMANA DENGAN NABI MUHAMMAD BUYA?
Adek, Ketika kedua shahabat itu ditanya Rasulullah SAW
tentang kapan witir mereka ..
(witir adalah shalat penutup malam)..
dan penutup malam artinya tahajjud …
memang jawaban Abu Bakar “sebelum tidur” ..’Read more
dan jawaban Umar bin Khattab “sesudah tidur”…
Rasul SAW mempertegas bahwa
Abu Bakar sangat berhati-hati,
maka dia lakukan shalatnya sebelum tidur…
Dan Umar sangat teguh ,
dan dia lakukan sesudah tidur …
Kedua perbuatan shahabat ini
menjadi ibrah (teladan) kepada kita bahwa,
shalat malam jarang sekali yang tidak dilakukan
oleh Rasulullah dan para sahabatnya,
baik itu sebelum tidur atau sesudah tidur,
(secara kondisional dibolehkan keduanya) ..
walaupun Rasulullah SAW
selalu lakukan pada penghujung malam,
atau sepertiga malam terakhir …
(dan ini yang terbaik) sesuai sunnah Nabi …
sementara kita umatnya…
berselisih tentang sebelum atau sesudah tidur,
dan seringkali meninggalkannya…
hanya sekedar membahas,
maka lakukanlah di mana bisa ..

Adek Putra 

Adek Putra at 21:43 on 30 May

INSYA ALLAH BUYA.
Adek Putra 

Adek Putra at 21:47 on 30 May

YANG MENJADI PERMASALHANAN YANG BERAT BAGI SAYA BIASANYA BERATNYA BANGUN DI TENGAH TIDUR BUYA, WALAUPUN TERBANGUN, MASIH MALAS DENGAN BANGKIT DARI TEMPAT TIDUR BUYA, KALAU MEMANG BOLEH MUNGKIN INSYAALLLAH SAYA MEMULAINYA DENGAN QIYAMUL LAIL SEBELUM TIDUR. TERIMA KASIH BUYA ATAS PENJELASA BUYA.
Ya mulai dengan apa yang ada
dan di mana kita bisa …
jangan hanya mulai dari mempertengkarkan …
nanti lupa mengerjakannya …
Semua kita punya kendala…Read more
selain malas, waktu, dan kondisi fisik lainnya,
maka “lupa” kadangkala juga menjadi hambatan …
jangan kalah karena hambatan …
tapi kalahkanlah lebih dahulu segala penghambat itu …
Insyaallah akan berhasil ..
Wassalam
BuyaHMA
Andri Azis 

Andri Azis at 22:09 on 30 May

hehehe…kalau boleh saran. ibadah apapun memang harus dipaksa dahulu baru nanti bisa dan terbiasa..tapi Allah juga tidak melarang kita untuk berehat..istilahnya allah tidak pernah memberatkan hambaNya dengan semua syarriatNya…
nah..poinnya sebetulnya ada di kita saja, ya kalau kita bisa melakukan maka akan dibalas dengan baik, tapi jika tidak (dalam ibadah sunnah) berarti kita tidak dapat apa-apa…:)
Muchlis Hamid 

Muchlis Hamid at 07:03 on 31 May

Terima kasih Buya. “Sabar dan berjiwa besar” merupakan tauladan dari Nabi. Wassalam.
Nurlaila Zai 

Nurlaila Zai at 17:14 on 31 May

Terima kasih buya.. pada awalnya memang sangat berat untuk melaksanakan semua yang buya katakan, tetapi dengan niat dan kemauan yang sangat keras insya Allah kita mampu melakukannya, amiinn…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s