Muraqabah, Muhasabah dan Muaqabah

 

Muraqabah (merasa selalu diawasi Allah),
Muhasabah (melakukan introspeksi),
dan Muaqabah (bertaubat, memperbaiki kesalahan)
Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,

sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,
sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
seperti Wa Al Lail (demi malam),
Wa An Nahr (demi siang),
dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia.
Apabila tidak dipergunakan dengan baik,
waktu akan terus berlalu.

Banyak sekali hadits Nabi SAW
yang memperingatkan manusia
agar mempergunakan waktu
dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang:
Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).”
(H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri.
Apabila melakukan kesalahan
atau sesuatu yang bersifat dosa
maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama
meskipun terasa berat,
seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,
sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
seperti Wa Al Lail (demi malam),
Wa An Nahr (demi siang),
dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia.
Apabila tidak dipergunakan dengan baik,
waktu akan terus berlalu.

Banyak sekali hadits Nabi SAW
yang memperingatkan manusia
agar mempergunakan waktu
dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang:
Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).”
(H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

5. Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri.
Apabila melakukan kesalahan
atau sesuatu yang bersifat dosa
maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama
meskipun terasa berat,
seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

Oleh karena itu agar manusia tidak tersesat
hendaklah manusia bertaubat kepada Allah,
mengerjakan kebajikan sesuai dengan norma yang ditentukan
untuk menuju ridha dan ampunan Allah.

Berkubang dan hanyut dalam kesalahan
adalah perbuatan yang melampaui batas
dan wajib ditinggalkan.

Di dalam ajaran Islam,
orang baik adalah orang yang manakala berbuat salah,
bersegera mengakui dirinya salah,
kemudian bertaubat,
dalam arti kembali ke jalan Allah
dan berniat dan berupaya kuat
untuk tidak akan pernah mengulanginya untuk kedua kalinya.

Shadaqallahul’azhim. Allahu A’lamu Bissawab.

Wassaalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Mas’oed Abidin

Catatan kaki ;

[1] Syeikh Abdul Kadir Jailany memberikan nasehat kepada kita sebagaimana

yang terdapat dalam kitabnya Al Fathu Arrabbaani wa Al Faidh Ar Rahmaani.

[2] Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s