“TANGGUNG JAWAB DAKWAH SETIAP MUSLIM” …

 Tafakkur menjelang Qiyamul-lail ….

 وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al HaramSiapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Fushshilat:33)

Ridwan Abdullah Wu, adalah seorang muslim Cina dari Singapura, beliau adalah Direktur World Assembly of Moslem Youth (WAMY) dan juga ketua The Muslim Converts Association of Singapore. Beliau pernah mengatakan bahwa dakwah adalah “mengemukakan kepercayaan dan ajaran Islam kepada semua orang, apakah kaum muslim atau non muslim. Kepada non muslim itu pada dasarnya adalah memperkenalkan bahwa ada satu Pencipta, bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara dan bahwa manusia akan menghadap Tuhan di akhirat, kelak nan pasti…”.

Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz mengatakan bahwa dakwah merupakan keperluan masyarakat terkhusus bagi masyarakat muslim. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain ;

1. Manusia memerlukan orang yang bisa menjelaskan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menegakkan hujjah atas mereka. Allah SWT berfirman: “ Wahai Nabi …, sesungguhnya Kami mengutusmu .. untuk jadi saksi dan pembawa khabar gembira .. dan pemberi peringatan …. dan untuk menjadi penyeru …. kepada agama Allah dengan izin-Nya… dan jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S. Al-Ahzab: 45-46)

2. Kondisi kehidupan yang diwarnai oleh kerusakan, ketamakan, dan hawa nafsu, sementara para pelakunya tetap menginginkan tersebarnya kerusakan tersebut di masyarakat.

3. Takut terhadap laknat Allah yang akan ditimpakan atas masyarakat yang tidak melakdanakan amar ma’ruf – nahi munkar. Sebagaimana yang telah menimpa bani Israil, pada masa dahulu … dan dapat dijadikan ‘ibrah masa kini …. Allah SWT berfirman: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu … disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas …. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Q.S. Al-Maaidah: 78-79)

Adapun tujuan dan aktifitas dakwah Islamiyah antara lain dapat disimpulkan sebagai berikut ;

1. Mengembalikan fitrah yang ada pada diri manusia.

2. Mengubah pengertian kepada pola pikir (fikrah)

3. Mengubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah)

4. Mengubah aktivitas menjadi keberhasilan (natijah)

5. Mengubah keberhasilan menjadi tujuan (ghayah)

6. Mengubah tujuan menjadi mardhatillah.

 

Tersebarnya Islam di muka bumi ini dan akhirnya sampai kepada kita sehingga kita menjadi seorang muslim merupakan bukti dari dilaksanakannya dakwah Islamiyah dengan baik.

Sebagai bagian dari tanda dan rasa syukur kita, maka tugas tanggung jawab dakwah juga harus kita emban bersama-sama. Karena dakwah secara hukum menjadi tanggung jawab dan kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim, bukan hanya kewajiban dari orang-orang yang selama ini kita sebut ustadz, kiyai, ulama, atau mubaligh semata….

Karenanya dakwah tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk ceramah, khutbah dan pengajian-pengajian, tapi apapun yang dilakukan dalam rangka memberi tahu dan mengajak orang lain ke arah hidup yang Islami merupakan pelaksanaan dari tugas dakwah.

Dijadikannya dakwah sebagai kewajiban atas setiap individu muslim dikarenakan dakwah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat muslim tentunya …. Melalui dakwah dapat disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu, mana yang haq dan mana yang bathil.

Bahkan… dakwah tidak hanya membuat masyarakat memahami mana yang haq dan mana yang bathil, malahan juga memiliki keberpihakan kepada segala bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang bathil sehingga mennjadikan umat … agar selalu berusaha menhindari yang bathil itu.

Banyak dalil yang dapat kita jadikan sebagai rujukan untuk mendukung pernyataan wajibnya melaksanakan tugas dakwah. Firman Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (Q.S. Ali Imran: 110)

Dapat disimpulkan, Dakwah merupakan upaya merekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur kejahiliyahan menjadi masyarakat yang Islami. Ini berarti bahwa dakwah merupakan upaya melakukan penyebaran dan pengamalan akidah dan akhlak Islami dalam seluruh sektor kehidupan manusia. Untuk itu keterlibatan setiap muslim di dalam dakwah menjadi suatu keharusan, sesuai dengan potensi yang dimiliki individu masing-masing. Terbentuknya pribadi yang Islami, keluarga yang Islami dan masyarakat yang Islami merupakan target yang ingin dicapai dalam dakwah. Target ini memerlukan dukungan setiap muslim, apalagi dakwah itu bukanlah hanya berbentuk ceramah dan khutbah.

Tegasnya, apapun potentsi dan kemampuan yang dimiliki, semua itu dapat digunakan untuk kepentingan dakwah, termasuk informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) ….

Tujuannya tidak lain adalah, dakwah ilaa Allah … yakni mengajak kembali .. atau dekat dengan Allah … Dengan demikian menjadi jelaslah, bahwa dakwah merupakan kewajiban yang harus diemban oleh setiap kita, yang mengaku muslim agar terwujud kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, baik yang terkait dengan masalah kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa.

 Semoga dengan melaksanakan dakwah, terciptalah masyarakat yang memiliki ciri-ciri :

1. Masyarakat yang berakidah Islamiyyah: Laa Ilaha Illallah – Muhammad Rasulullah…

2. Masyarakat yang senantiasa melaksanakan segala kewajiban dengan mengacu kepada tuntutan dan keridhaan Ilahi.

3. Masyarakat yang memiliki persepsi dan pola pikir yang Islami, sehingga mampu menyelamatkan diri, keluarga serta orang lain di sekitarnya.

4. Masyarakat yang memiliki loyalitas terhadap Islam.

5. Masyarakat yang memiliki akhlakul karimah.

6. Masyarakat yang menjunjung tinggimartabat manusia … dan menghargai hak-hak asasi manusia serta memiliki solidaritas dan kepedulian sosial.

7. Masyarakat yang senantiasa menegakkan kebenaran dan hiduk makmur berkeadilan, dengan mengamalkan “Al-Amru bil ma’ruf wa nahyu ‘anil munkar” Allah Azza Wa Jalla membimbing kita semua di dalam melaksanakan tugas mulia ini, dengan firman NYA ; ” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba terjadilah orang yang di antara engkau dengan dia itu tadinya ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia … (QS.41, Fush-shilat : 34)

Mungkin dia datang dengan rasa benci, engkau sambutlah dia dengan bersahabat, dia menyerang dengan marah dan maki-maki, menampakkan bahwa pikirannya dangkal, tangkislah dengan tenang dan senyum simpul, Dia datang dengan membawa makian, kamu menyambut dengan menghormati, Dia datang mengajak berkelahi, kamu menanti dengan bersahabat, Seakan dia menunjukkan kedangkalan fikiran, engkau menampakkan kedalaman perasaan … Apakah hasil yang akan dipetik, tiada lain adalah, kemenangan budi yang gilang gemilang, mengubah musuh menjadi kawan … akan tetapi usaha ini amatlah berat .. berat sekali sunguhpun benar … kecuali bagi orang yang sabar .. dan yang berjiwa besar….

Berkacalah kepada sejarah, ketika Rasulullah dengan 12.000 pasukan lengkap… memasuki Makkah dalam peristiwa “Futuh Makkah” … yang menjadikan orang Quraisy berdebar pengap .. dan Abu Sofyan menggigil ketakutan, dalam pikiran mereka kini saatnya telah datang besok pagi akan tiba hari pembantaian… Namun apa yang terjadi …???

Sejarah telah mencatatkan bukti tentang kebenaran nyata ayat ini … Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berucap, mengutus pamannya Abbas bin Abdul Muthalib, masuk sendiri ke Makkah, dan mengumumkan ke khalayak ramai penduduk Makkah yang akan di taklukkan, Pesan Rasulullah yang berisi hikmah…; “Kita akan memasuki kota Makkah, Kita harap jangan ada orang yang melawan di kota Makkah, Barang siapa yang ingin keamanan, hendaklah lakukan perintahku ini dengan iman …. Barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, amanlah dia … Barangsiapa yang masuk ke dalam ruimah Abu Sufyan, amanlah dia … Barangsiapa yang tingal di dalam rumahnya sendiri, amanlah dia … ”

Masih segar dalam ingatan …, bahwa Abu Sufyan sebelumnya adalah musuh bebuyutan, dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang sengaja ikut dalam pasukan, yang ingin membalas dendam, “membunuh Abu Sufyan” .. Malahan… Rasulullah saat itu menempatkan, rumah Abu Sufyan sebagai “rumah keamanan” … Makkah di masuki dengan aman, tidak setetespun darah ditumpahkan, tidak sebuah nyawapun terbang melayang, tidak ada tangis kepiluan, tidak ada orang yang dihinakan … tidak ada orang yang menjadi lawan … yang ada hanya rasa kegembiraan rasa yang lahir dari sanubari yang dalam, yang tampak pada wajah “senyuman” … hakikat besar dari satu kemenangan …. “Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali oleh orang yang shabar…. Dan tidaklah akan ditemukan dengan dia, kecuali orang-orang yang berjiwa besar”… (QS.41, Fusshilat, ayat 35).

Moga bangsa kita selalu menjadi bangsa yang besar, aman dan damai di bawah naungan ridha Allah …

Wallahu a’lamu bis-shawaab …

Billahit taufiq wal hidayah,

Wassalamu ‘alaikum,

Buya H. Mas’oed Abidin

Masjid Nurul Iman Kotogadang dalam pembangunan kembali

Masoed Abidin Za Jabbar at 20:11 on 30 May
Ananda….
dalam masa menuntut ilmu …
shalat malam itu ibarat elexir …
memberi kekuatan kepada bathin …
perlu di laksanakan lillahi ta’ala …Read more
Salam maaf untuk semua…
wassalam
Andri Azis 

Andri Azis at 20:20 on 30 May

insya Allah akn selalu ananda jaga buya.:)..mohon doa selalu…
Adek Putra 

Adek Putra at 21:21 on 30 May

BUYA, KATANYA UMAR BIN KHATAB BIASANYA SOLAT MALAM SETELAH BANGUN MALAM, SEDANGKAN ABU BAKAR SISDIK SOLAT MALAM SEBELUM TIDUR, JADI KITA BOLEH SOLAT TAHAJUT SEBELUM TIDUR DAN ATAU SETELAH BANGUN. BETULKAH HAL TERSEBUT BUYA? ITU KATA TEMAN SAYA DI PONPES AL FATAH DI MADIUN. BAGAIMANA DENGAN NABI MUHAMMAD BUYA?
Adek, Ketika kedua shahabat itu ditanya Rasulullah SAW
tentang kapan witir mereka ..
(witir adalah shalat penutup malam)..
dan penutup malam artinya tahajjud …
memang jawaban Abu Bakar “sebelum tidur” ..’Read more
dan jawaban Umar bin Khattab “sesudah tidur”…
Rasul SAW mempertegas bahwa
Abu Bakar sangat berhati-hati,
maka dia lakukan shalatnya sebelum tidur…
Dan Umar sangat teguh ,
dan dia lakukan sesudah tidur …
Kedua perbuatan shahabat ini
menjadi ibrah (teladan) kepada kita bahwa,
shalat malam jarang sekali yang tidak dilakukan
oleh Rasulullah dan para sahabatnya,
baik itu sebelum tidur atau sesudah tidur,
(secara kondisional dibolehkan keduanya) ..
walaupun Rasulullah SAW
selalu lakukan pada penghujung malam,
atau sepertiga malam terakhir …
(dan ini yang terbaik) sesuai sunnah Nabi …
sementara kita umatnya…
berselisih tentang sebelum atau sesudah tidur,
dan seringkali meninggalkannya…
hanya sekedar membahas,
maka lakukanlah di mana bisa ..

Adek Putra 

Adek Putra at 21:43 on 30 May

INSYA ALLAH BUYA.
Adek Putra 

Adek Putra at 21:47 on 30 May

YANG MENJADI PERMASALHANAN YANG BERAT BAGI SAYA BIASANYA BERATNYA BANGUN DI TENGAH TIDUR BUYA, WALAUPUN TERBANGUN, MASIH MALAS DENGAN BANGKIT DARI TEMPAT TIDUR BUYA, KALAU MEMANG BOLEH MUNGKIN INSYAALLLAH SAYA MEMULAINYA DENGAN QIYAMUL LAIL SEBELUM TIDUR. TERIMA KASIH BUYA ATAS PENJELASA BUYA.
Ya mulai dengan apa yang ada
dan di mana kita bisa …
jangan hanya mulai dari mempertengkarkan …
nanti lupa mengerjakannya …
Semua kita punya kendala…Read more
selain malas, waktu, dan kondisi fisik lainnya,
maka “lupa” kadangkala juga menjadi hambatan …
jangan kalah karena hambatan …
tapi kalahkanlah lebih dahulu segala penghambat itu …
Insyaallah akan berhasil ..
Wassalam
BuyaHMA
Andri Azis 

Andri Azis at 22:09 on 30 May

hehehe…kalau boleh saran. ibadah apapun memang harus dipaksa dahulu baru nanti bisa dan terbiasa..tapi Allah juga tidak melarang kita untuk berehat..istilahnya allah tidak pernah memberatkan hambaNya dengan semua syarriatNya…
nah..poinnya sebetulnya ada di kita saja, ya kalau kita bisa melakukan maka akan dibalas dengan baik, tapi jika tidak (dalam ibadah sunnah) berarti kita tidak dapat apa-apa…:)
Muchlis Hamid 

Muchlis Hamid at 07:03 on 31 May

Terima kasih Buya. “Sabar dan berjiwa besar” merupakan tauladan dari Nabi. Wassalam.
Nurlaila Zai 

Nurlaila Zai at 17:14 on 31 May

Terima kasih buya.. pada awalnya memang sangat berat untuk melaksanakan semua yang buya katakan, tetapi dengan niat dan kemauan yang sangat keras insya Allah kita mampu melakukannya, amiinn…

Muraqabah, Muhasabah dan Muaqabah

 

Muraqabah (merasa selalu diawasi Allah),
Muhasabah (melakukan introspeksi),
dan Muaqabah (bertaubat, memperbaiki kesalahan)
Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,

sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,
sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
seperti Wa Al Lail (demi malam),
Wa An Nahr (demi siang),
dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia.
Apabila tidak dipergunakan dengan baik,
waktu akan terus berlalu.

Banyak sekali hadits Nabi SAW
yang memperingatkan manusia
agar mempergunakan waktu
dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang:
Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).”
(H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri.
Apabila melakukan kesalahan
atau sesuatu yang bersifat dosa
maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama
meskipun terasa berat,
seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT
sehingga dengan kesadaran ini
mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan
dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran.
Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba
jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan,
« “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.
Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.
Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan,
« “Abu Hafs mengatakan kepadaku,
‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak
jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri
dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu,
sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu,
sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian
yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri.

Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban
yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan,
dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang
sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun
dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu.
Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin,
karena malaikat senantiasa mengontrolmu.
Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan
dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan,
jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq.
Tindakan itu adalah batil.
Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta…. ???,
padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan.
Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan,
semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya
dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub)
dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya
dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [1]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,
dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna,
dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
dan bahwasanya DIA yang mematikan
dan yang menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 39-44)

4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri,
menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri,
dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak
yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah,
seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya
dengan sebaik-baiknya,
dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah
maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT memerintahkan hamba untuk
selalu mengintrospeksi dirinya
dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
melaksanakan shalat shubuh.
Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati.
Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari,
dan berkata ;

« “Demi Allah,
aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW.
Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu
yang menyerupai mereka sama sekali.
Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi,
mereka melewatkan malam hari
dengan sujud dan berdiri karena Allah,
mereka membaca kitab Allah dengan bergantian
(mengganti-ganti tempat) pijakan kaki
dan jidat mereka apabila menyebut Allah,
mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin,
mata mereka mengucurkan air mata
membasahi pakaian mereka
dan orang-orang sekarang
seakan-akan lalai
(bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah
serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama
Malik bin Nabi berkata ;
« “Tidak terbit fajar suatu hari,
kecuali ia berseru,
“Wahai anak cucu Adam,
aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu.
Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi
sampai hari kiamat.” » [2]

Waktu terus berlalu,
ia diam seribu bahasa,
sampai-sampai manusia sering tidak menyadari
kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata
yang menunjuk pada waktu
seperti Wa Al Lail (demi malam),
Wa An Nahr (demi siang),
dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia.
Apabila tidak dipergunakan dengan baik,
waktu akan terus berlalu.

Banyak sekali hadits Nabi SAW
yang memperingatkan manusia
agar mempergunakan waktu
dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang:
Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).”
(H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

5. Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri.
Apabila melakukan kesalahan
atau sesuatu yang bersifat dosa
maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama
meskipun terasa berat,
seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

Oleh karena itu agar manusia tidak tersesat
hendaklah manusia bertaubat kepada Allah,
mengerjakan kebajikan sesuai dengan norma yang ditentukan
untuk menuju ridha dan ampunan Allah.

Berkubang dan hanyut dalam kesalahan
adalah perbuatan yang melampaui batas
dan wajib ditinggalkan.

Di dalam ajaran Islam,
orang baik adalah orang yang manakala berbuat salah,
bersegera mengakui dirinya salah,
kemudian bertaubat,
dalam arti kembali ke jalan Allah
dan berniat dan berupaya kuat
untuk tidak akan pernah mengulanginya untuk kedua kalinya.

Shadaqallahul’azhim. Allahu A’lamu Bissawab.

Wassaalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Mas’oed Abidin

Catatan kaki ;

[1] Syeikh Abdul Kadir Jailany memberikan nasehat kepada kita sebagaimana

yang terdapat dalam kitabnya Al Fathu Arrabbaani wa Al Faidh Ar Rahmaani.

[2] Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah

“PENDIDIKAN dan KEJUJURAN”

Hikmah Jum’at ;
PENDIDIKAN DAN KEJUJURAN

 

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ
وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ
أَمَّا بَعْدُ

Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya.
Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga.
Menanamkan perangai yang jujur.

Membentuk perangai umat harus dimulai dengan menanam sahsiah pada keluarga.
Pembinaan rohani anggota keluarga dilaksanakan dengan agama.

Syahshiah (شخصية) bermakna pribadi, sifat individu, gaya hidup, kepercayaan,
harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,
budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.

Watak kepribadian semestinya dilatih sedari kecil.
Peribadi yang baik dan penampilan menarik,
mesti dipertahankan oleh seorang sejak masa kanak-kanak.
Sifat-sifat baik akan memberikan hasil dan kesan mendalam di tengah kehidupan.
Kejujuran adalah akhlak utama para Nabi dan Rasul.

Rasulullah SAW mengajarkan
untuk mendidik diri dengan menanamkan sifat jujur dengan dasar Iman.

(رواه مسلم و أحمد)

“ Iman itu adalah,
engkau beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan qadar “.
(HR.Muslim dan Ahmad).

Agama Islam memperhatikan serius moral terpuji, benar, damai, jujur dan adil.

« Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri,
atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.
jika ia — orang yang tergugat atau yang terdakwa — kaya ataupun miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi,
Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. »
(Q.S.An Nisaa’: 135)

Kejujuran menghidangkan pesona kehidupan dan ketenangan bagi pelakunya.
Kebohongan membuat jiwa bimbang dan goncang.

Hidup tidak berarti jika tidak dihiasi kejujuran.
Limpahan harta yang banyak akan menjadi siksa, bila tidak ada kejujuran.
Kejujuran adalah pondasi utama membangun bangsa.
Betapapun besarnya sebuah bangsa,
ketika kejujuran telah sirna, maka hancurlah bangsa itu.

Agama Islam memerintahkan agar menjauhi dusta dan ketidakjujuran.
Bohong menjadikan hukum rusak.
Bohong menjadikan kehormatan terinjak-injak dan berbagai kejahatan merajalela.
Bohong menjadikan putus hubungan persaudaraan dan timbul konflik hubungan manusia.

SIKAP LALAI AKAN MENGHAPUS KEJUJURAN

Penyakit hati yang berbahaya ialah futuur atau lalai,
yang melahirkan malas dan lamban berkarya dan beramal.

Allah SWT membagi waktu dengan teratur,
« dan Kami jadikan malam sebagai pakaian
— Malam itu disebut sebagai pakaian karena malam itu gelap
menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia. –,
dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, »
(QS.78,An-Naba’ :10-11).

Rasul SAW pesankan berbuat tanpa kebosanan.

“Lakukanlah amal itu sebatas kesanggupanmu.
Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan,
dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah
amal yang di kerjakan terus menerus sekalipun sedikit.”
(HR.Muttafaqun ‘Alaih)

FAKTOR PENYEBAB HILANG KEJUJURAN ;

1. MELAMPAUI BATAS (ekstrim, ghuluw),
berlebihan dan melampaui batas dalam aturan agama.
Sabda Rasul SAW :
“Jauhilah sikap ghuluw (belebih-lebihan) dalam beragama,
karena sesungguhnya orang sebelum kamu
telah binasa akibat sikap itu.”
(HR. Ahmad).

2. MENGANGGAP ENTENG YANG MUBAH (boleh),
seperti makan minum,
“Barangsiapa yang (terlalu) kenyang,
maka ia akan mudah ditimpa enam penyakit, yakni :
(1). hilangnya rasa nikmat,
(2). tidak mampu memetik hikmah,
(3). lenyap rasa kasih sayang,
(4). kikir, – karena mengira bahwa semua makhluk kenyang seperti dirinya,
(5). malas dalam beribadah, dan
(6). menguat dorongan nafsu syahwat.”
(lihat Ihyaa’ ‘Ulumuddin Abu Sulaiman).

3. SUKA MELAKUKAN YANG HARAM DAN SYUBHAT.
Sabda Rasulullah :
“ Tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram,
maka ia lebih banyak tempatnya di neraka. ”
(H.R At Tirmidzi).

4. TIDAK INGAT KEMATIAN DAN KEHIDUPAN AKHIRAT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur,
namun sekarang berziarahlah,
karena hal itu akan menjadikan sikap zuhud di dunia
dan akan mengingatkan pada akhirat. ”
(H.R. Ahmad).

5. SUKA BERMAKSIAT DAN REMEHKAN DOSA KECIL.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seorang mukmin melakukan dosa,
berarti ia telah memberi setitik noda hitam pada hatinya.
Jika ia bertaubat, tidak meneruskan dosanya,
dan memohon ampunan, maka hatinya kembali berkilau.
Akan tetapi jika ia berulang-ulang melakukan hal itu,
maka akan bertambah pula noda hitam yang menutupi hatinya,
dan itulah ‘Ar Raan’ sebagaimana yang difirmankan ‘Azza wa Jalla,
‘Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutupi hati mereka.”
(H.R. Ahmad dan Ashhaabus Sunan)

6. MEMISAHKAN DIRI DARI JAMAAH DAN ’UZLAH
« dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai,
dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
Maka Allah mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;… »
(QS.3,Ali Imran : 103)

Rasulullah SAW bersabda:
“Berjamaah (bersama-samalah) kalian,
karena sesungguhnya syetan menyertai orang yang sendiri,
dan dia akan menjauhi orang yang berdua.
Barangsiapa yang ingin masuk ke taman surga,
hendaklah ia komitmen dengan jamaah.”
(H.R. Tirmidzi).

MENGATASI PENYAKIT HATI ;
a). Jauhi berbuat dosa dan maksiat kecil dan besar.
b). Teguh (istiqamah) lakukan ‘amal-yaumiyah (harian), perbanyak zikir, dirikan shalat nawafil, dan membaca Al Qur’an.
c). Menghadiri majelis ilmu, pengajian.
d). Suka bergaul dengan orang-orang shaleh, ahli ibadah.
e). Pelajari sejarah (sirah nabawi) dan para shahabat atau orang-orang shaleh lainnya.
f). Ingati kematian, kejar surga dan menghindar dari azab neraka.
g). Jalankan ajaran agama dengan ketaatan sepenuh hati.
« dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. » (QS.8, Al Anfal : 46)
h). Koreksi diri dan hitung betapa amal dilakukan.
i). Atur waktu dengan cermat.
j). Hindarkan diri dari sikap berlebihan.
k). Jauhi perbuatan bid’ah
l). Terapkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan.

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad,
wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ اْلمُنْكَرِ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ عَلَيْكُمْ بمَِا تَطِيْقُوْنَ فَوَاللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حتىَّ تَمَلُّوا وَ كَانَ أَحَبُ الدِّينَ مَا دَامَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ الإِيْــماَنُ أَنْ تُؤمِنَ بِاللهِ و مَلاَئِكَتِهِ و كُتُبِهِ و رُسُلِهِ و بِالْيَوْمِ الآخِر و الْقَدرِ .

Masjid Kotogadang yang sed(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haramang dibangun kembali, setelah runtuh disebabkan gempa tahun 2007. Sekarang dalam penyelesaiannya…
Zulfendra Tasar
dulu ktika mhs swaktu tinggal di YAS sering dengar ceramah2 buya…
terkenang kembali kepada buya…
Masoed Abidin ZAbidin Jabbar
Alhamdulillah,
Moga ananda sehat selalu dalam lindungan inayah dan redha Allah SWT.
Amin.
Salam buat semua.
Wassalam BuyaHMA
Irmayani Suherman
Betul buya…
tetapi mengapa kalau saya perhatikan semakin orang dewasa
maka semakin senang untuk berlaku, berbicara tidak jujur?
Masoed Abidin ZAbidin Jabbar
Iblis Syaithan telah bersumpah di hadapan Allah SWT,
ketika dia diusir Allah lantaran tidak mau mematuhi perintah Allah
“usjuduu li Adama”..
“menghormat ke Adam” ..
di mana semua malaikat bersujud kecuali Iblis laknatullah …

Ketika itu mereka bersumpah akan mengganggu anak cucu Adam ini dengan mencampakkan kejujuran di hati manusia

Sebab itulah,
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa
“bohong atau dusta” adalah induk dari dosa,
karena sesuadah bohong atau ketidak jkujuran hilang,
maka kemudian akan di ikuti oleh dosa-dosa yang lainnya berturut-turut,

hingga manusia terperangkap dalam gelimangan dosa,
hingga mereka bertaubat kembali …

Moga kita semua terhindar dari punca segala dosa ini
yakni hilangnya jujur dan berubah menjadi bohong…
Wassalam
BuyaHMA

 

Dewi Mutiara
Dewi Mutiara
Jangan engkau jauhkan kami darimu ya ALLAH ,
Semoga ALLAH selalu mau mengampuni umatnya,Amin.
terima kasih Buya utk selalu mengingatkan kami,
kepada hal2 yg benar.
Irmayani Suherman
Irmayani Suherman
Amin, semoga kita semua dirahmati dan selalu diingatkan oleh Allah. Buya, bagaimana caranya saya ingin mengingatkan lingkungan teman2 yang ingin menjaga silaturahmi dengan pura2, dusta dan munafik ? Padahal yang didustai terkadang tahu mereka didustai..tapi bagi mereka itu lebih baik daripada diberitahu tentang yg benar?
Masoed Abidin Za Jabbar
Masoed Abidin Za Jabbar
Rangkayo Irmayani Suherman …
Pesan Islam di dalam wahyu Allah
(QS.Fush-shilat ayat 30 dan seterusnya),
ada kiat yang diajarkan Allah SWT,
yaitu “IDFA’ BILLATIY HIYA AHSAN …” dst-nya …
Baca Selengkapnya
artinya,
“TOLAKLAH DENGAN CARA BAIK ….”
Moga kita sabar untuk itu…

@ Rangkayo Dewi,
Amin ya Allah,
kita berharap semoga Allah
selalu membimbing kita dengan hidayah NYA
Wassalam
Buya HMA

 

Irmayani Suherman
Irmayani Suherman
Amin, terimakasih banyak Buya..semoga kita semua selalu berada di jalanMu ya Allah!!
Masoed Abidin Za Jabbar
Masoed Abidin Za Jabbar
Dewi,
Jujur itu nilai martabat kemanusiaan paling tinggi,
memeliharanya tentu saja dengan kenal kepada Allah,
atau Iman dan taqwa,
ibadah adalah salah satu implementasi iman itu,
Baca Selengkapnya
namun iman yang benar sesungguhnya
tampak dalam perilaku yang benar,
selamat dan sukses selalu Dewi,
Salam buat semua,
Wassalam,
BuyaHMA
Dewi Mutiara
Dewi Mutiara
Alhamdulillah, benar sekali Buya,
semoga nilai2 kejujuran ini dpt terus saya terapkan kepada anak2 saya
dan tentunya terhadap diri saya sendiri .
Amin
Wassalam

Agama di sisi Allah adalah Islam

Al-Islam Dienul Haq = Pedoman yang Benar

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلاَمِ

Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah Hanyalah Islam”

(Q.S. Ali Imran: 19)

Manusia sangat memerlukan kepada bimbingan dan petunjuk yang benar. Yang mempunyai nilai mutlak untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di alam sesudah mati (akhirat).buya-menjawab-tanya

Sesuatu yang mutlak sudah barang tentu harus berasal dari pada yang mutlak pula. Maka, sumber kemuthlakan itu tiada lain, hanyalah  Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Menjadikan, dan seru sekalian alam. Allah Azza wa Jalla yang bersifat Pengasih dan Penyayang, telah memberikan suatu anugerah yang sangat mulia untuk manusia bernama DIEN = Agama.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu , maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al-Baqarah: 132)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imran: 85)

Dalam agama Islam inilah dibentang konsep yang tegas, tentang apa sesungguhnya hidup dan kehidupan itu, kemana arah tujuannya, siapa sebenarnya makhluk yang bernama manusia itu. Islam telah membimbing manusia dalam tata kehidupannya, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan-nya, maupun yang menyangkut hubungan manusia dengan sesama manusia, dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Di dalam agama ini, ada tiga pilar yang tidak dapat dipisah satu dengan yang lainnya.

Ketiga pilar tersebut adalah Islam, Iman dan Ihsan. Atau dikenal dengan istilah Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq.

Sahabat Umar bin Khaththab r.a menceritakan suatu peristiwa tentang sabda Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama, dengan berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian putih bersih dan rambut hitam pekat, tidak tampak dalam dirinya tanda-tanda sehabis perjalanan dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Maka duduklah orang itu disisi Rasulullah, lalu ia sandarkan lututnya kepada lutut beliau dan meletakkan tangannya di atas paha beliau, kemudian berkata: Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”

Rasulullah SAW menjawab, Islam itu adalah, hendaknya engkau bersyahadat, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; hendaklah engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika engkau mampu.”

Orang itu berkata, “Engkau benar!” kami heran, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya. Orang itu berkata, Terangkan kepadaku tentang iman!”

Rasulullah SAW menjawab, Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari akhirat serta hendaklah engkau beriman pada takdir yang baik atau buruk!” Orang itu berkata, “Engkau benar!” seraya berkata, “Terangkan kepadaku tentang ihsan!”

Rasulullah SAW bersabda, “(Ihsan adalah) hendaklah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.” Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.”

Selanjutnya ia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah SAW menjawab, “(Tanda-tandanya di antaranya adalah), jika seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, jika engkau melihat orang miskin dan papa, berpakaian compang camping dan bergembala kambing, namun berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.”

Kemudian, orang yang bertanya itu berlalu. Aku terdiam sejenak, kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”.

Rasulullah bersabda, “orang itu adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R. Muslim)

Hadits shahih dari Rasulullah ini adalah hadits komprehensif yang memuat seluruh bab tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Jibril telah datang kepada Rasulullah SAW untuk mengajarkan permasalahan agama kepada mereka yang sedang duduk-duduk saat itu dan kepada umat Muhammad yang datang setelahnya.

Islam di mulai dengan ikrar Syahadatain. Maksudnya adalah – sebagaimana yang dikomentari oleh seorang ulama dan mujahidah Muslimah berkebangsaan Mesir yang bernama Zainab al-Ghazali – mengingatkan sebagai berikut ;

« Hendaklah anda melakukan pencerahan total dengan segenap jiwa, akal, perasaan dan keinginan kuat (aziimah), semuanya untuk Allah semata. Sehingga jadilah Allah sebagai Dzat yang mengurus anda dengan segenap titah dan perkara-Nya. Titah dan perkara yang bisa anda kenali dari Kitab Allah dan Kalam-kalam Rasul-Nya SAW.

Dengan Islam hendaknya dapat meyakini keesaan Allah (wahdaniyatullah). Karena Islamlah yang mengatur strategi perjalanan hidup, agar menjadi manusia sempurna di tengah-tengah kehidupan manusia.

Islamlah yang menentukan titian asas yang seharusnya dilalui, yakni syahadat, “bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya”. »

Syahadat ini hendaknya dijadikan hakim, pengendali dan tolok ukur dalam kehidupan. Syahadat ini akan menjadi undang-undang dalam kehidupan. Undang-undang dalam perkara halal dan haram. Undang-undang dalam hal, “lakukan, atau, jangan lakukan!”.

Undang-undang dalam hal interaksi sosial (mu’amalat) antara kaum muslimin dengan non muslimin, antara seorang dengan sahabatnya, seseorang dengan tetangganya.

Karena itu tidak satupun selain Allah yang mengatur dan menetapkan hukum dalam perjalanan hidup kita.

Semua bimbingan kehidupan ada di dalam Al-Qur’an, kitab suci sebagai Kalam Ilahi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Al Qur’an adalah Wahyu Ilahi, sumber hidayah, pedoman dan pelajaran bagi yang meyakini, dan mengamalkannya. Al-Qur’an adalah ruh kehidupan hakiki dan syifa’ = obat penawar segala macam penyakit rohani manusia. Al-Qur’an adalah Nuur = memberi cahaya di tengah kegelapan kehidupan, dan Al-Huda = petunjuk jalan menuju Hidayah Allah, dan Ma’rifah jalan yang lurus menuju hakekat Uluhiyah dan Rububiyah. Al-Qur’an adalah rahmat bagi hamba-hamba Allah dalam mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya telah Kami turunkan sebuah kitab (Al-Qur’an) kepadamu, yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu, apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. Al-Anbiya: 10)

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا القُرْآنِ أِقْوَامًاوَ يَضَعُ آخَرِيْنَ

“Allah akan mengangkat (kedudukan) beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini, dan Allah akan meletakkan (merendahkan) kedudukan sebagian yang lain. (H.R. Muslim)

Shadaqallahu al’adhim, Allah A’lam As-Shawwab.