Nilai-nilai Agama Islam dalam mengatasi dan menghadapi “Kesehatan Mental-Spiritual” Pasca Bencana Alam,

Menerapkan Hasil-hasil Iptek,

Bertawakkal kepada Allah.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pengantar

Sesungguhnya umat manusia, dengan kekayaan ilmu –- dapat melaksanakan amar ma’ruf, yakni saling membawa kepada yang makruf (baik dan terpuji), dan melakukan nahyun ‘anil munkar, yaitu mencegah dari yang munkar atau tidak baik. Keduanya dengan mudah dilakukan, manakala memiliki ilmu pengetahuan –. Di samping itu, kekayaan iman – yakni kepercayaan atau keyakinan sepenuhnya, bahwa alam serta semua isinya adalah milik Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Esa, maka umat manusia akan menjadi umat yang paling beruntung (khaira ummah), karena tidak mempunyai kecemasan berlebihan dalam hidupnya, sesuai QS.3,Ali Imran:110.[1]

Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan atau khaira ummah. Kesediaan menerima ajaran agama (dinul Islam), yang telah diwahyukan kepada Rasul SAW akan memberi banyak petunjuk bagi manusia, dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Ketika manusia mejpeg-image-315c397445-pixelsbuya-khutbahnjadi kufur (menolak), atau sengaja berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), seketika itu pula manusia jatuh menjadi tidak berilmu dan kehilangan pegangan hidup. Khaira ummah menjadi identitas umat. Di antara watak (perilaku) umat pilihan itu adalah selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten), mempunyai perangai mulia (akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah), dan selalu berdakwah (menyeru, mengajak umat kepada yang baik, dan amar makruf), serta teguh melarang dari yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.

Ilham dan ilmu belum berakhir. Wahyu Allah memberi dorongan kepada manusia untuk memperdalam pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

Manfaatkan Ilmu Pengetahuan

Keistimewaan ilmu, dapat mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sebelumnya hanya menjadi pengetahuan Allah SWT. Melalui penelitian dan penganalisaan, seorang ilmuan akan dapat mendalami satu fenomena ke fenomena berikutnya dari alam. Makin dalam penguasaan ilmu, seseorang akan dengan mudah mengakui bahwa alam semesta yang luas ini, milik Allah, dan akan selalu berdoa mohon ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati. [2]

Di atas orang berilmu, masih ada Yang Maha Tahu, maka orang berilmu selalu menyandarkan pengetahuannya kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Allah SWT mengangkat derajat mereka yang berilmu.[3] Para ilmuan dengan ilmu yang dimiliki, akan menjadi rujukan bagi orang banyak. Para ilmuan, menjadi tempat bertanya bagi masyarakat awam. [4]

Ajaran agama melarang untuk mengikuti issue atau dugaan-dugaan, tanpa dasar ilmu yang kuat. [5] Setiap orang, memohon kepada Allah agar ilmu bertambah (QS.20:114), memahami bahwa orang-orang berilmu bisa mengerti (QS.29:43), dan orang berilmu punya rasa takut kepada Allah (QS.35:28). Karena itu pula, Allah SWT akan meninggikan posisi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).

Padukan antara Iptek dengan Iman dan Taqwa

Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin, digital dan wireless itu. Teknologi tidak akan berarti apabila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati.

Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir pengendali teknologi itu, dengan cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social. Kecerdasan akan membawa manusia mudah menggunakan perangkat teknologi, dan manusia beroleh manfaat besar di dalam kehidupannya.

Teknologi tanpa dhamir manusia yang cerdas, akan merusak martabat kehidupan manusia itu.

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut. Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam.

Iptek akan menjadi musuh, bila hasilnya menghancurkan derajat manusia. Pemanfaatan iptek berperan meningkatkan harkat kemanusiaan, yang senyatanya hidup multi komplek, memiliki keyakinan (iman), punya penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT,Yang Maha Menjadikan.

Saringan penggunaan iptek adalah agama, akal budi. Di Minangkabau,adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Manusia Tidak Tahu Apa yang akan Terjadi

Allah SWT tidak memberi tahu tentang bila kiamat tiba, kapan tetes pertama hujan turun, tentang kandungan ibu dan kelahiran, tentang yang akan terjadi sebentar lagi, tidak juga di mana tempatnya seorang akan mati.[6] Tidak juga tentang rahasia roh, yang disandang manusia dalam hidupnya.[7] Hanya tanda-tanda yang dapat dipahami, dan dibaca oleh orang berilmu. Ayat ini bermakna, bahwa manusia tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dialami besok, atau apa-apa yang akan diperolehnya sebentar lagi.

Ketidak tahuan manusia ini, menjadikan manusia aktif dan selalu berupaya untuk melindungi diri, sebagai satu kewajiban hakiki, yakni berusaha dan berharap. Tidaklah seorang manusia mengetahui kapan kematiannya datang menjelang.[8] Konsekwensi dari ketidak tahuan ini, manusia diperintah untuk bersiap diri setiap waktu. Kehidupan dunia seakan sebuah pentas permainan, jika sudah selesai, panggungnya akan bubar dan ditinggalkan.

Selalu Bermohon kepada Allah

Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas (ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan (informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq.

Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh memiliki dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya.

Musibah selalu disebabkan kesalahan sendiri.[9] Kekalahan dapat datang karena lupa kepada Allah dan kelalaian juga yang mengundang musibah datang menimpa.

Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata (QS.2,Al Baqarah:155). Cobaan datang dari Allah.[10] Keyakinan mendasar ini, adalah konsekwensi logis dari iman kepada kekuasaan Allah semata.

Cobaan selalu itu, mengingatkan manusia, bahwa alam ini adalah milik-Nya.

Manusia mesti hidup dengan berbekal sabar dan tawakkal, hasil dari kecerdasan intelektual yang melahirkan kecerdasan emosional dengan dasar kecerdasan spiritual, dan kemudian melahirkan kepedulian buah kecerdasan social, dengan saling membantu, solidaritas sesama, dan tidak mau mencelakan di dalam tata kehidupannya.

Menghadapi musibah dengan sikap sabar.

Ada pengakuan bahwa kita akan kembali kepada-Nya jua (QS.Al Baqarah : 156).[11] Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya. Walau ada sebagian manusia, yang memungkiri akan kekuasaan Allah[12], tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.

Jangan Sombong dan Jauhi perbuatan Maksiyat

Umat manusia diberi kemuliaan oleh Allah SWT untuk menjaga, mengolah bumi, ini berarti bahwa perilaku manusia berkaitan erat dengan apa yang tampil di bumi.[13]

Manusia dipersiapkan sebagai makhluk utama. Memiliki segala kelebihan. Secara fisik, tubuhnya lengkap, kuat, cantik, penuh gaya. Spiritnya (jiwanya) disempurnakan dengan akal, pikiran, dan punya keinginan, kecerdasan (inteligensia), rasa (emosional), memiliki dorongan kehendak (nafsu), guna meraih dan mewujudkan segala yang diingininya. Manusia dianugerahi kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kecerdasan social, yang dengannya mampu menjadi umat yang memiliki keseimbangan (ummatan wasathan).

Alam dijadikan bersahabat dengan manusia. Laut dan darat adalah ladang kehidupan manusia turun temurun. Di sana, manusia dapat berkiprah. Mengolah alam selama hayatnya, patah tumbuh hilang berganti, dari generasi ke generasi. Membangun dan merombak ke arah yang lebih baik, menjalankan reformasi dalam bimbingan Tuhan. Artinya, tidak satu kewajibanpun boleh ditinggal dalam memenuhi suatu kewajiban lain.

Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam. Tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak datang menimpa. Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri, dalam satu siklus hidup yang aman dan menyejahterakan manusia sepanjang masa. Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh).[14]

Bila keseimbangan alam terganggu, karena hasil kurenah (perbuatan) tangan manusia sendiri,[15] maka sunnatullah (undang-undang baja alam) akan berlaku sepanjang masa, hingga kiamat datang menjelang, yakni datangnya bencana, sebagai peringatan kepada manusia agar tetap teguh memelihara perannya, sebagai khalifah fil ardhi.

Untuk menata kehidupan ini tetap berjalan seimbang, maka Khalik ( Allah Rabbun Jalil) memberikan pedoman (hidayah) yang jelas dan terang, yakni ‘Aqidah Tauhid’ (keyakinan kepada kekuasaan Allah yang mutlak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa).

Keyakinan tauhid melahirkan sikap tunduk dan taat, akhirnya menumbuhkan kesediaan menyerahkan segala kemampuan akal dan gagasan pikiran, maupun hasil observasi dan eksperimentasi kepada kekuasaan Allah dengan pernyataan yang bersih.[16] Tatkala itulah ilmu memperoleh kebenaran.

Seorang yang beriman melihat satu bencana, hanya sebatas ujian dari Allah. Musibah menuntutnya untuk bertindak lebih baik dan hati-hati di masa mendatang.

Manusia yang mengingkari kekuasaan Allah SWT, berarti dibutakan mata hatinya di dunia ini (dari petunjuk Allah), dan di akhirat nanti dia akan lebih buta, dan lebih tersesat dari jalan yang benar.(QS 17: 72). Manusia ini akan merasa azab menyiksa kehidupan, dadanya akan sesak, mengumpat kiri-kanan, linglung kehilangan keseimbangan dalam percaturan kehidupan di atas bumi ini.

Kembalilah kepada Allah, supaya Allah senantiasa memberikan perlindungan. Marilah segera laksanakan berserah diri (tawakkal) kepada Allah. Manfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia. Selalu berdoa.

Jauhi semua perbuatan dosa. Keingkaran (berbuat dosa) kepada Allah, dan sengaja melakukan maksiat akan mengundang bencana.[17] Membentengi diri dari bencana, dengan menjaga disiplin diri, pelihara akidah,iman dan taqwa kepada Allah SWT.[18]

Pariaman, 11 Maret 2009 M. / 14 Rabi’ul Awwal 1430 H.


Catatan Akhir

[1] QS.3, Ali Imran : 110.

[2] QS.3, Ali Imran : 16-17.

[3] QS.12, Yusuf : 76.

[4] QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7.

[5] QS.17, Isra’:36.

[6] QS.31:Luqman:34.

[7] QS.17, Isra’:85.

[8] QS.3,Ali Imran:185.

[9] QS.3, Ali Imran:165.

[10] QS.2,Al Baqarah:155.

[11] QS.2,Al Baqarah:156.

[12] QS.3,Ali Imran:165.

[13] Q.S.17, Al Isra’, ayat 70.

[14] QS.21,al Anbiya’:105.

[15] QS. 30, Ar-Rum, ayat 41.

[16] QS 3, Ali Imran : 190.

[17] Lihat Firman Allah dalam QS.7 Al A’raf : 97-102.

[18] QS.7, Al A’raf:96

šššš ŸŸ‘žš

3 pemikiran pada “Nilai-nilai Agama Islam dalam mengatasi dan menghadapi “Kesehatan Mental-Spiritual” Pasca Bencana Alam,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s