Maulidur Rasul Muhammad SAW

MEMPERINGATI MAULID NABI SAW


Oleh: H.Mas’oed Abidin*

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada segenap ummat manusia, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak rnengetahui.” (Q.S. Saba’: 28)


NAPAK TILAS KEHIDUPAN RASULULLAH ATAU SIRAH NABAWIYAH. “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At Taubah: 128)


Muhammad Rasulullah saw. dilahirkan di tengah-tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah el Mukarramah di bulan Rabi’ul Awwal (musim bunga), pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal permulaan tahun dalam peristiwa gajah (al fiil); bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M, dan empat puluh tahun setelah berkuasanya Kisra Anusyirwan di Parsi. Walaupun ada juga sebagian ulama tarikh yang berpendapat bahwa beliau lahir pada subuh pagi Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal tahun Fil pertama.

Beliau lahir diberi nama Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya dipanggil Abdul Muthallib yang namanya adalah Syaibah (orang tua yang bijaksana). Sementara bidan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat) yang adalah ibu dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf R.Anhu. Perempuan yang menyusukan Muhammad adalah Halimah As-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur). di-depan-rumah-maulid-rasul-di-makkah

Semua nama-nama itu, sungguh telah mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW yang dipilihkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Makna nama-nama tersebut menurut para Ulama memiliki kaitan yang erat dengan keperibadian Nabi Muhammad SAW.


NASAB MUHAMMAD SAW

Keluarga Muhammad lazim disebut Bani Hasyim, yang dinisbatkan kepada Hasyim bin Abdi Manaf.. Di dalam tarikh (family tree), nasabnya amat jelas.

MUHAMMAD bin Abdullah bin Abdul Muthalib (Syaibah) bin HASYIM (al Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin FIHR (yang berlaqab Quraisy) bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mu’id bin Adnan.

Dari Adnan juga dicatatkan oleh tarikh sebagai berikut, Adnan bin Ibnu Ad bin Humaisa’ bin Salaman bin Aush bin Basuz bin Qumwal bin Ubay bin Awwam bin Nasyid bin Haza bin Baldaz bin Yadlaf bin Thabikh bin Jahim bin Naisy bin Makhi bin Iyadl bin Abqar bin Ubaid bin Ad Da’a bin Hamdan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzam bin Yalhan bin Ar’awa bin Iyadh bin Disyan bin Aishir bin Afnad bin Aiham bin Maqshar bin Nahits bin Zarah bin Sama bin Maza bin Audhah bin Iram bin Qidar bin ISMAIL bin IBRAHIM Khalilullah AS.

MASA REMAJA DAN DEWASA

Pada awal masa remajanya, Rasulullah SAW biasa mengembala kambing di kalangan Bani Sa’ad. Pada usia dua puluh lima tahun, seorang saudagar kaya bernama Khadijah binti Khuwaylid al As’ad telah mendengar tentang kejujuran, kredibilitas dan kemuliaan akhlaq Muhammad. Siti Khadijah telah mengirim utusannya kepada pemuda Muhammad bin Abdullah, menawarkan kepadanya berkenan berangkat ke Syam (Syria) untuk menjalankan barang dagangannya.

Beliau menerima tawaran itu, dan kemudian berangkat ke Syam membawa barang dagangan milik pengusaha perempuan Khadijah binti Khuwaylid dengan disertai Maisarah.

Dua bulan sepulang beliau dari negeri Syam, Khadijah meminang Muhammad SAW melalui sahabatnya Nafisah binti Munyah. Muhammad SAW menerima tawaran ini dan menikah dengan Siti Khadijah, dengan maharnya menurut riwayat dua puluh ekor onta muda.

Putra-putri Muhammad SAW, dilahirkan dari rahim Siti Khadijah r.a., adalah Al-Qasim, kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah dan Abdullah yang bergelar Ath-Thayyib dan Ath-Thair. Semua putra beliau meninggal selagi masih kecil. Semua putri beliau sempat menjumpai Islam, dan masuk Islam serta ikut berhijrah ke Madinah. Mereka semua meninggal dunia selagi Rasulullah SAW masih hidup, kecuali Fathimah. Fathimah meninggal dunia selang enam bulan sepeninggalan beliau.

Ada juga anak Muhammad SAW bernama Ibrahim yang lahir dari isteri beliau Maria Al Qibthiyah, seorang isteri yang beliau nikahi sebagai tanda persahabatan dengan Muqauqis dari Mesir, ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasulullah SAW.

NUBUWWAH DAN RISALAH SERTA PERINTAH DAKWAH

Di saat Umur Rasulullah SAW genap empat puluh tahun, suatu awal kematangan, mulailah tampak-tampak tanda-tanda nubuwwah pada diri beliau.

Di antara tanda-tanda itu adalah mimpi hakiki. Selama enam bulan mimpi yang beliau alami itu hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Mimpi ini termasuk salah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwwah.

Akhirnya pada bulan Ramadhan pada tahun ketiga dari masa pengasingan di gua Hira, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi, memuliakan beliau dengan nubuwwah dan menurunkan Malaikat Jibril kepada beliau sambil membawa ayat-ayat Al Qur’an (Al ‘Alaq: 1- 5). Hal ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Fathul Bary. di-mulut-gua-hira-tempat-muhammad-saw-menerima-wahyu-pertama-1

Kemudian turunlah wahyu Ilahi yang memuat pesan-pesan untuk melaksanakan Dakwah kepada Allah SWT, seperti dalam surat Al Muddatstsir ayat 1-7. Sungguh dalam makna terkandung dalam ayat ini.

Di antaranya berisi peringatan agar tidak melanggar apa yang telah diperintahkan atau telah dilarang oleh Allah SWT, sebab akan berakibat ditimpa azab yang sangat pedih dan dahsyat. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk mengagungkan Rabb, Allah SWT Yang Maha Agung. Juga mengingatkan agar menjauhi sikap sombong, yang dapat menyeretnya ke dalam kehancuran dan murka Allah.

Wahyu Allah SWT dimaksud juga mengandung perintah untuk membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar kesucian lahir batin benar-benar tercapai, sehingga mendapatkan pancaran cahaya Ilahi yang penuh dengan hidayah Allah SWT. Muhammad SAW diperintahkan untuk menggerakkan Dakwah dan amal Islamiyah dengan selalu sabar dan tabah, memulainya dari keluarganya terdekat (wa andzir ‘asyiratakal aqrabiin), dengan terus meminta pertolongan dan perlindungan serta memohon hidayah, taufiq dan ridho-Nya.

Setelah mendapatkan perintah ini, Muhammad Rasulullah SAW bangkit mendakwahkan tauhid, dan selama dua puluh lima tahun beliau tidak pernah istirahat dan berdiam diri. Beliau tidak pernah mengeluh apalagi berputus asa dalam melaksanakan misi dakwah ini.

Diajaknya umat dengan lembut dan penuh perhatian. Disampaikannya wahyu Allah penuh hikmah, bil mau’dzatil hasanah. Dihadapinya persoalan keumatan dengan bersama menghidupkan « alika bil jamaah », kebersamaan dan sinerji (silaturahim).

WAFATNYA RASULULLAH SAW.

Pada detik-detik terakhir dari hidup Rasulullah SAW, beliau masih sempat bersiwak yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar. Di dekat pembaringan beliau tersedia bejana berisi air.

Beliau celupkan kedua tangan kedalam bejana berisi air lalu mengusapkan ke wajah sambil bersabda, “Tiada Tuhan selain Allah. Sungguh kematian itu ada sekaratnya.”

Seusai bersiwak, beliau mengangkat tangan dan mengarahkan pandangan ke langit-langit rumah dan bibir beliau bergerak-gerak. Sayyidah Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau saat itu. Beliau bersabda, “bersama orang yang Engkau beri nikmat atas mereka para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Ya Allah, ampunilah dosaku, dan rahmatilah aku. Pertemukan aku dengan kekasih Yang Maha Tinggi, Ya Allah, kekasih Yang Maha Tinggi.”

Kalimat yang terakhir ini diulangi hingga tiga kali yang disusul dengan tangan beliau yang melemah. “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun.” Beliau telah berpulang kepada kekasih Yang Maha Tinggi. Hal ini terjadi selagi waktu dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 11 H, dalam usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari.

TRADISI PERINGATAN MAULID NABI SAW

Tradisi perayaan Mulid yang diselenggarakan di hampir semua masyarakat muslim sekarang ini bukan satu warisan dari Nabi Muhammad SAW sejak masa hayatnya. Peringatan ini, keputusan bijak ditetapkan Sultan Shalahuddin al Ayyubi yang memerintah Mesir dan Syiria pada tahun-tahun 564 – 589 M/1169-1193 H.

Berbagai pendapat telah berkembang tentang kebolehan, keutamaan, dan hikmah, bahkan penolakan, terhadap diadakannya peringatan Maulid Nabi SAW ini.

Ada hal terpenting dalam peringatan Maulid Nabi, di antaranya memperkokoh keimanan kepada Allah dan Rasul SAW, melalui menanamkan pada diri generasi kecintaan kepada Nabi SAW, yang melahirkan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW. Sehingga suri tauladan kehidupan (uswah hasanah) Muhammad SAW dapat diserap dalam pikiran dan perilaku mereka.

Untuk mengetahui lebih dalam sejarah tauladan Rasulullah dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, tentulah diperlukan bahan referensi dalam mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah dan Sunnah Rasulullah SAW ini.

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa dua pusaka abadi yang beliau wariskan kepada ummatnya adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Tradisi memperingati Maulid Nabi semestinya dirakit menjadi sebuah tradisi Islami yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Dalam acara-acara peringatan Maulid Nabi dapat didengarkan dan dihayati suri tauladan kehidupan Rasulullah.

Memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW, bermakna secara sadar menelusuri pekerti agung seorang terpilih. Jelas nasabnya, jujur, amanah, baik pekertinya, penyantun dan pemaaf (pengakuan Ja’far bin Abi Thalib dihadapan Raja Najasyi), sebagai uswah hasanah (suri teladan baik), bagi setiap mukmin yang percaya kepada Allah dan hari akhir (QS.33,al-Ahzab:21), karena beliau diutus menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS.21,al-Anbiya’:107).

Muhammad SAW, adalah seorang yang istimewa. Dia adalah Rasul Allah, pilihan diantara banyak rasul sebelumnya (QS.3,Ali Imran:144).

Bahkan, menjadi penutup Nabi-Nabi (QS.33,al-Ahzab:40).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allalt (zikrullah). (Q.S. Al Ahzab: 21)

Makna hakiki dari memperingati Maulid Nabi SAW haruslah diinsyafi bukan sekedar seremonial keagamaan semata, namun hendaklah ditujukan kearah intropeksi total diri sendiri, guna meningkatkan kualitas hidup beragama, beribadah, dan bermasyarakat.

REFLEKSI PERINGATAN MAULID, MENELADANI RASULULLAH SAW

Salah satu refleksi peringatan maulid adalah mengambil keteladanan Nabi Muhammad SAW yang telah mengeluarkan ummat manusia dan lembah kemiskinan harta, kemiskinan ilmu, kemelaratan mental (akhlak) maupun spritual (hakekat uluhiyah dan rububiyah), serta kemiskinan komunikasi (ukhuwwah).

Muhammad SAW mengentaskan ummat dari kemiskinan harta dengan memacu kepada usaha individu dengan memberi bibit untuk ditanam bukan menyediakan nasi untuk dimakan.

Petunjuk yang tersirat dalam beberapa sabda Rasulullah SAW. Di antaranya: Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan-akan hidup selamanya dan berusahalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok hari. (H.R. Ibnu ‘Asakir)

Dalam kehidupannya Rasulullah telah memberi contoh, tidak pernah menolak pengemis yang datang ke rumahnya. Bahkan sering para pengemis diberi bibit kurma untuk ditanam sehingga sang pengemis dapat memberi makan anak cucunya.

Rasulullah SAW sangat menghargai makna sebuah kerja.

Etos kerja Islam merupakan manifestasi kepercayaan muslim yang memiliki kaitan dengan tujuan hidup yang hakiki, yaitu ridha Allah SWT dalam meraih prestasi di Dunia dan Akhirat. Nabi Muhammad SAW mendorong ummat agar tidak miskin ilmu.

Beberapa pesan Rasulullah SAW mengingatkan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yajig menginginkan akhirat haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kedua-keduanya haruslah dengan ilmu”. (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).

Di atas semua itu, dengan ilmu yang diredhai Allah maka seseorang dianggap sebagai pewaris Nabi, dan dengan ilmu kebahagiaan di dunia akhirat dapat di raih.

Nabi Muhammad Saw mendorong agar manusia tidak menjadi miskin mental. Apabila jiwa atau mental sehat, memancar bayangan kesehatan itu pada perilaku kehidupan sehari-hari.

Risalah Islamiyah adalah suatu anugerah bagi ummat manusia. Nabi Muhammad SAW telah berhasil membawa masyarakat jahiliyah yang miskin mental menjadi masyarakat yang luhur, berakhlak. memiliki sopan santun dan tata krama dalam pergaulan dan penuh peradaban, dengan menghidupkan empat sikap utama.

Pertama, Syaja‘ah artinya berani pada kebenaran dan takut pada kesalahan dan dosa. Selanjutnya, Iffah artinya pandai menjaga kehormatan diri lahiriah dan batiniyah. Kemudian, Hikmah artinya tahu rahasia diri dan pengalaman hidup, dan terakhir adalah ‘Adalah artinya adil walaupun pada diri sendiri.

Muhammad SAW adalah figur teladan yang mesti diidolakan kaum muslimin. Setiap langkahnya selalu dibawah kontrol Ilahi. Tindakan dan ucapannya adalah mutiara berharga, menjadi landasan pemebentukan akhlak ummatnya dalam berbuat dan menjadi hukum yang ditaati. Tiada seorangpun yang dapat meragukan keagungan peribadi Rasulullah SAW.

Keperibadiannya menjadi contoh teladan dalam segala hal.

Rasulullah sebagai seorang suami yang teladan, sebagai ayah teladan, sebagai guru teladan, sebagai tokoh teladan, sebagai abli strategi teladan, sebagai ahli ekonomi teladan, sebagai pejuang hak-bak asasi manusia teladan, dan sebagai kepala negara yang teladan.

Keteladanan Muhammad SAW mampu mereformasi sistem dan tatanan yang ada, ke arah yang lebih baik dan tujuan yang mulia, yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yanq makmur dan penuh ampunan Tuhan).

Nilai-nilai keteladanan tersebut hendaknya menjadi warisan yang paling berharga bagi kita ummat manusia, tanpa terkecuali. Setiap langkah yang kita ayunkan, setiap nawaitu yang kita bulatkan, setiap pernyataan yang kita ikrarkan dan setiap perbuatan yang kita lakukan merupakan cerminan dan keteladanan Rasulullah saw. yang mesti diterapkan dalam kehidupan.

Maka dalam upaya mengikuti ajaran beliau, semestinya sifat beliau menjadi jatidiri seorang muslim.

Di antara sifat mulia yang beliau miliki adalah sifat shiddiq, sehingga Rasulullah SAW. diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya).

Shidiq (as shidqu) artinya benar atau jujur, lawan dan dusta atau bohong (al kidzbu). Seorang muslim dituntut memiliki sifat shidiq; dalam keadaan benar lahir maupun batin.

Sifat shidiq yang utama adalah Shidqul qalb, yaitu benar hati atau kejujuran hati nurani, hanya dapat dicapai jika hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dan segala macam penyakit hati. Sifat ini akan mencapai kematangan bila didukung dengan sifat ihsan.

Selanjutnya Shidqul hadits, yaitu benar atau jujur dalam ucapan dan perkataan. Seseorang dapat dikatakan jujur dalam perkataan apabila semua yang diucapkannya adalah suatu kebenaran bukan kebatilan.

Di samping itu perlu ada Shidqul ‘amal, yaitu benar perbuatan atau beramal shaleh sesuai dengan syari’at Islam. Sifat shidiq mengantarkan seseorang ke pintu gerbang kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, sesuai firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 177.

Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang sang telah jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebaqai seorarig yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Oranq yang se1a1u berbohonq dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebaqai pembohonq (kadzdzab)”. (HR. Bukhari)

Sifat shidiq adalah “tambang emas” dalam diri seseorang yang sangat berharga. Dan sifat inilah yang dijadikan standar kepercayaan orang lain kepadanya.

Apabila seseorang telah kehilangan sifat shidiq, maka hilanglah arti dirinya, karena tiada yang mau mempercayainya. Sikap ini pula yang amat diperlukan di dalam membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta ini. Allahu a‘lam bishawab.


NILAI ESENSIAL PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Memperingati “maulid-rasul” sebenarnya menanamkan keinginan kuat mengikuti jejak langkah — sunnah Rasul — yang di wariskannya, sesuai Wahyu Allah tentang keutusan Muhammad Rasulullah SAW menjadi “Rahmat bagi seluruh alam” , dan rela menjadikannya “uswah hasanah” , suri ketauladanan yang teramat sempurna dari “nabi terakhir” yang telah melakukan perubahan (ishlah) menyeluruh terhadap berbagai prilaku kearah yang lebih baik dalam kehidupan manusia, dari kondisi dzulummat (kegelapan) kepada peradaban (civilisasi) yang terang benderang, transparan, an-nur atau kehidupan yang penuh cahaya.

Bila disadari sungguh-sungguh kehadiran manusia di permukaan bumi memikul dua beban utama untuk melakukan ishlah (perubahan, perbaikan, reform) dan untuk uswah (pencontohan) dalam peran kekhalifahan. Tanpa kedua sikap ini sebenarnya tidak terdeteksi eksistensi manusia. Perubahan yang di bawa Rasulullah SAW, berdasar bimbingan Wahyu Allah SWT, menuntun manusia kepada fithrahnya menjadi ummat bertuhan (tauhidic weltanschaung) dan berakhlaq budi pekerti.

Perubahan tidak semata bertumpu kepada keinginan pribadi, tetapi selalu dengan bimbingan Khaliq Maha Pencipta. Dan prilaku manusia yang terbimbing wahyu Allah dan sunnah Rasul ini, pasti terjauh dari pertentangan dalam kehidupan manusia.

Inilah perbedaan mendasar dalam hal perubahan yang di lakukan reformer lainnya yang sering melahirkan pemaksaan kehendak, tindakan kekerasan bahkan anarkis.

Perubahan berdasar Sunnah Rasulullah SAW, bermuara kepada “syari’at Islam”, dan berintikan proses perubahan dan perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian) , Ishlah (penyempurnaan dan penyelesaian) dan taghyir (perubahan sikap) .

Perubahan prilaku yang berperadaban kearah perbaikan prilaku tanpa merusak. Ajaran Islam memperingatkan ummat untuk menghindari tindakan merusak (fasad=anarkis) dalam tatanan prilaku maupun idea (pemikiran) dengan berupaya menjauhi pemaksaan kehendak.

Agama Islam menghormati prinsip tidak ada paksaan dalam agama . Kewajiban asasi melembagakan musyawarah dalam setiap urusan. Teguh identitas (shibghah) dalam ujud amar ma’ruf (proaktif mengajak dan mengamalkan kebaikan-kebaikan) dan nahyun ‘anil munkar (taat asas menolak setiap kejahatan).

Gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan melawan segala corak kemakshiyatan menyangkut tatanan dan hubungan pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara.

Tujuan utamanya menciptakan ummat berkualitas “khaira ummah” atas dasar “iman” kepada Allah. Intensitas tinggi berpacu dalam menggairahkan perlombaan kepada kebaikan “fastabiqul-khairat”.

Ajaran Islam terbukti dalam sejarah panjang peradaban manusia berhasil menciptakan suatu komunitas ummat yang kian hari bertambah jumlahnya sampai akhir zaman .

Risalah Rasulullah SAW, mencatat kegelapan perilaku kehidupan jahiliyah masa lalu, antara lain ;“Kami adalah orang jahiliyah, penyembah berhala (kepatuhan kepada selain Allah dengan pemberhalaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), pemakan bangkai (tidak mengenal halal-haram), memutus silaturrahim (dengan penidasan, anarkis, intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan perbuatan keji (judi,rampok,korupsi,zina) , sehingga yang kuat menelan yang lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan golongan dan kelompok). Sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yakni Muhammad SAW yang sangat kami kenal nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risalahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).

Hadist ini sebenarnya berisikan;

Pertama, Risalah Rasulullah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad Al-Amin).

Kedua, keutamaan Wahyu Allah mampu merombak tata prilaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeluruh).

Ketiga, keteguhan ummat dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi dalam kerangka jihad fii sabilillah.

Keempat, teguhnya keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata materil fisik.

Kelima, kecerdasan ummat melihat cerdas Agama Islam adalah konsep hidup terbaik.

Kelima faktor ini yang menjadi pembangkit utama harakah Islam sebagai kekuatan alternatif masa datang.

Ummat Islam hari ini di tuntut berperan aktif sebagai pengisi konsep, pelaku penggerak kehidupan duniawi berkeadilan. Agama Islam tidak hanya ibadah dalam arti sempit (puasa, shalat, zikir dan do’a), tetapi menata amalan nyata yang shalih dalam membentuk kualitas hidup “hasanah” di dunia dan di akhirat.

Ummat Islam mesti sadar bahwa Dakwah Ilaa Allah selalu berhadapan dengan kekuatan konsep fikrah (ghazwul fikriy) Yahudi dan Salibi , dalam penguasaan ekonomi tersistim kearah pemelaratan ummat yang kaya menjadi sangat tergantung kepada belas kasihan para pemodal sehingga lahirlah masyarakat yang miskin dari kekayaan.

Keadaan ini, akhirnya diperparah oleh percaturan politik dengan bungkus demokratisasi, humanisasi, dan hak asasi yang pada dasarnya menjadi kemasan dari phobia terhadap Islam yang berujung dengan intimidasi terhadap ummatnya.

Dalam rangka ini kita peringati Maulid Nabi.

Padang, Rabi’ul Awwal 1430 H/ Maret 2009 M.

2 pemikiran pada “Maulidur Rasul Muhammad SAW

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s