Nilai-nilai Agama Islam dalam mengatasi dan menghadapi “Kesehatan Mental-Spiritual” Pasca Bencana Alam,

Menerapkan Hasil-hasil Iptek,

Bertawakkal kepada Allah.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pengantar

Sesungguhnya umat manusia, dengan kekayaan ilmu –- dapat melaksanakan amar ma’ruf, yakni saling membawa kepada yang makruf (baik dan terpuji), dan melakukan nahyun ‘anil munkar, yaitu mencegah dari yang munkar atau tidak baik. Keduanya dengan mudah dilakukan, manakala memiliki ilmu pengetahuan –. Di samping itu, kekayaan iman – yakni kepercayaan atau keyakinan sepenuhnya, bahwa alam serta semua isinya adalah milik Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Esa, maka umat manusia akan menjadi umat yang paling beruntung (khaira ummah), karena tidak mempunyai kecemasan berlebihan dalam hidupnya, sesuai QS.3,Ali Imran:110.[1]

Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan atau khaira ummah. Kesediaan menerima ajaran agama (dinul Islam), yang telah diwahyukan kepada Rasul SAW akan memberi banyak petunjuk bagi manusia, dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Ketika manusia mejpeg-image-315c397445-pixelsbuya-khutbahnjadi kufur (menolak), atau sengaja berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), seketika itu pula manusia jatuh menjadi tidak berilmu dan kehilangan pegangan hidup. Khaira ummah menjadi identitas umat. Di antara watak (perilaku) umat pilihan itu adalah selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten), mempunyai perangai mulia (akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah), dan selalu berdakwah (menyeru, mengajak umat kepada yang baik, dan amar makruf), serta teguh melarang dari yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.

Ilham dan ilmu belum berakhir. Wahyu Allah memberi dorongan kepada manusia untuk memperdalam pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

Manfaatkan Ilmu Pengetahuan

Keistimewaan ilmu, dapat mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sebelumnya hanya menjadi pengetahuan Allah SWT. Melalui penelitian dan penganalisaan, seorang ilmuan akan dapat mendalami satu fenomena ke fenomena berikutnya dari alam. Makin dalam penguasaan ilmu, seseorang akan dengan mudah mengakui bahwa alam semesta yang luas ini, milik Allah, dan akan selalu berdoa mohon ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati. [2]

Di atas orang berilmu, masih ada Yang Maha Tahu, maka orang berilmu selalu menyandarkan pengetahuannya kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Allah SWT mengangkat derajat mereka yang berilmu.[3] Para ilmuan dengan ilmu yang dimiliki, akan menjadi rujukan bagi orang banyak. Para ilmuan, menjadi tempat bertanya bagi masyarakat awam. [4]

Ajaran agama melarang untuk mengikuti issue atau dugaan-dugaan, tanpa dasar ilmu yang kuat. [5] Setiap orang, memohon kepada Allah agar ilmu bertambah (QS.20:114), memahami bahwa orang-orang berilmu bisa mengerti (QS.29:43), dan orang berilmu punya rasa takut kepada Allah (QS.35:28). Karena itu pula, Allah SWT akan meninggikan posisi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).

Padukan antara Iptek dengan Iman dan Taqwa

Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin, digital dan wireless itu. Teknologi tidak akan berarti apabila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati.

Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir pengendali teknologi itu, dengan cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social. Kecerdasan akan membawa manusia mudah menggunakan perangkat teknologi, dan manusia beroleh manfaat besar di dalam kehidupannya.

Teknologi tanpa dhamir manusia yang cerdas, akan merusak martabat kehidupan manusia itu.

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut. Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam.

Iptek akan menjadi musuh, bila hasilnya menghancurkan derajat manusia. Pemanfaatan iptek berperan meningkatkan harkat kemanusiaan, yang senyatanya hidup multi komplek, memiliki keyakinan (iman), punya penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT,Yang Maha Menjadikan.

Saringan penggunaan iptek adalah agama, akal budi. Di Minangkabau,adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Manusia Tidak Tahu Apa yang akan Terjadi

Allah SWT tidak memberi tahu tentang bila kiamat tiba, kapan tetes pertama hujan turun, tentang kandungan ibu dan kelahiran, tentang yang akan terjadi sebentar lagi, tidak juga di mana tempatnya seorang akan mati.[6] Tidak juga tentang rahasia roh, yang disandang manusia dalam hidupnya.[7] Hanya tanda-tanda yang dapat dipahami, dan dibaca oleh orang berilmu. Ayat ini bermakna, bahwa manusia tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dialami besok, atau apa-apa yang akan diperolehnya sebentar lagi.

Ketidak tahuan manusia ini, menjadikan manusia aktif dan selalu berupaya untuk melindungi diri, sebagai satu kewajiban hakiki, yakni berusaha dan berharap. Tidaklah seorang manusia mengetahui kapan kematiannya datang menjelang.[8] Konsekwensi dari ketidak tahuan ini, manusia diperintah untuk bersiap diri setiap waktu. Kehidupan dunia seakan sebuah pentas permainan, jika sudah selesai, panggungnya akan bubar dan ditinggalkan.

Selalu Bermohon kepada Allah

Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas (ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan (informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq.

Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh memiliki dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya.

Musibah selalu disebabkan kesalahan sendiri.[9] Kekalahan dapat datang karena lupa kepada Allah dan kelalaian juga yang mengundang musibah datang menimpa.

Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata (QS.2,Al Baqarah:155). Cobaan datang dari Allah.[10] Keyakinan mendasar ini, adalah konsekwensi logis dari iman kepada kekuasaan Allah semata.

Cobaan selalu itu, mengingatkan manusia, bahwa alam ini adalah milik-Nya.

Manusia mesti hidup dengan berbekal sabar dan tawakkal, hasil dari kecerdasan intelektual yang melahirkan kecerdasan emosional dengan dasar kecerdasan spiritual, dan kemudian melahirkan kepedulian buah kecerdasan social, dengan saling membantu, solidaritas sesama, dan tidak mau mencelakan di dalam tata kehidupannya.

Menghadapi musibah dengan sikap sabar.

Ada pengakuan bahwa kita akan kembali kepada-Nya jua (QS.Al Baqarah : 156).[11] Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya. Walau ada sebagian manusia, yang memungkiri akan kekuasaan Allah[12], tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.

Jangan Sombong dan Jauhi perbuatan Maksiyat

Umat manusia diberi kemuliaan oleh Allah SWT untuk menjaga, mengolah bumi, ini berarti bahwa perilaku manusia berkaitan erat dengan apa yang tampil di bumi.[13]

Manusia dipersiapkan sebagai makhluk utama. Memiliki segala kelebihan. Secara fisik, tubuhnya lengkap, kuat, cantik, penuh gaya. Spiritnya (jiwanya) disempurnakan dengan akal, pikiran, dan punya keinginan, kecerdasan (inteligensia), rasa (emosional), memiliki dorongan kehendak (nafsu), guna meraih dan mewujudkan segala yang diingininya. Manusia dianugerahi kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kecerdasan social, yang dengannya mampu menjadi umat yang memiliki keseimbangan (ummatan wasathan).

Alam dijadikan bersahabat dengan manusia. Laut dan darat adalah ladang kehidupan manusia turun temurun. Di sana, manusia dapat berkiprah. Mengolah alam selama hayatnya, patah tumbuh hilang berganti, dari generasi ke generasi. Membangun dan merombak ke arah yang lebih baik, menjalankan reformasi dalam bimbingan Tuhan. Artinya, tidak satu kewajibanpun boleh ditinggal dalam memenuhi suatu kewajiban lain.

Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam. Tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak datang menimpa. Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri, dalam satu siklus hidup yang aman dan menyejahterakan manusia sepanjang masa. Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh).[14]

Bila keseimbangan alam terganggu, karena hasil kurenah (perbuatan) tangan manusia sendiri,[15] maka sunnatullah (undang-undang baja alam) akan berlaku sepanjang masa, hingga kiamat datang menjelang, yakni datangnya bencana, sebagai peringatan kepada manusia agar tetap teguh memelihara perannya, sebagai khalifah fil ardhi.

Untuk menata kehidupan ini tetap berjalan seimbang, maka Khalik ( Allah Rabbun Jalil) memberikan pedoman (hidayah) yang jelas dan terang, yakni ‘Aqidah Tauhid’ (keyakinan kepada kekuasaan Allah yang mutlak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa).

Keyakinan tauhid melahirkan sikap tunduk dan taat, akhirnya menumbuhkan kesediaan menyerahkan segala kemampuan akal dan gagasan pikiran, maupun hasil observasi dan eksperimentasi kepada kekuasaan Allah dengan pernyataan yang bersih.[16] Tatkala itulah ilmu memperoleh kebenaran.

Seorang yang beriman melihat satu bencana, hanya sebatas ujian dari Allah. Musibah menuntutnya untuk bertindak lebih baik dan hati-hati di masa mendatang.

Manusia yang mengingkari kekuasaan Allah SWT, berarti dibutakan mata hatinya di dunia ini (dari petunjuk Allah), dan di akhirat nanti dia akan lebih buta, dan lebih tersesat dari jalan yang benar.(QS 17: 72). Manusia ini akan merasa azab menyiksa kehidupan, dadanya akan sesak, mengumpat kiri-kanan, linglung kehilangan keseimbangan dalam percaturan kehidupan di atas bumi ini.

Kembalilah kepada Allah, supaya Allah senantiasa memberikan perlindungan. Marilah segera laksanakan berserah diri (tawakkal) kepada Allah. Manfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia. Selalu berdoa.

Jauhi semua perbuatan dosa. Keingkaran (berbuat dosa) kepada Allah, dan sengaja melakukan maksiat akan mengundang bencana.[17] Membentengi diri dari bencana, dengan menjaga disiplin diri, pelihara akidah,iman dan taqwa kepada Allah SWT.[18]

Pariaman, 11 Maret 2009 M. / 14 Rabi’ul Awwal 1430 H.


Catatan Akhir

[1] QS.3, Ali Imran : 110.

[2] QS.3, Ali Imran : 16-17.

[3] QS.12, Yusuf : 76.

[4] QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7.

[5] QS.17, Isra’:36.

[6] QS.31:Luqman:34.

[7] QS.17, Isra’:85.

[8] QS.3,Ali Imran:185.

[9] QS.3, Ali Imran:165.

[10] QS.2,Al Baqarah:155.

[11] QS.2,Al Baqarah:156.

[12] QS.3,Ali Imran:165.

[13] Q.S.17, Al Isra’, ayat 70.

[14] QS.21,al Anbiya’:105.

[15] QS. 30, Ar-Rum, ayat 41.

[16] QS 3, Ali Imran : 190.

[17] Lihat Firman Allah dalam QS.7 Al A’raf : 97-102.

[18] QS.7, Al A’raf:96

šššš ŸŸ‘žš

Maulidur Rasul Muhammad SAW

MEMPERINGATI MAULID NABI SAW


Oleh: H.Mas’oed Abidin*

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada segenap ummat manusia, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak rnengetahui.” (Q.S. Saba’: 28)


NAPAK TILAS KEHIDUPAN RASULULLAH ATAU SIRAH NABAWIYAH. “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At Taubah: 128)


Muhammad Rasulullah saw. dilahirkan di tengah-tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah el Mukarramah di bulan Rabi’ul Awwal (musim bunga), pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal permulaan tahun dalam peristiwa gajah (al fiil); bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M, dan empat puluh tahun setelah berkuasanya Kisra Anusyirwan di Parsi. Walaupun ada juga sebagian ulama tarikh yang berpendapat bahwa beliau lahir pada subuh pagi Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal tahun Fil pertama.

Beliau lahir diberi nama Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya dipanggil Abdul Muthallib yang namanya adalah Syaibah (orang tua yang bijaksana). Sementara bidan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat) yang adalah ibu dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf R.Anhu. Perempuan yang menyusukan Muhammad adalah Halimah As-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur). di-depan-rumah-maulid-rasul-di-makkah

Semua nama-nama itu, sungguh telah mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW yang dipilihkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Makna nama-nama tersebut menurut para Ulama memiliki kaitan yang erat dengan keperibadian Nabi Muhammad SAW.


NASAB MUHAMMAD SAW

Keluarga Muhammad lazim disebut Bani Hasyim, yang dinisbatkan kepada Hasyim bin Abdi Manaf.. Di dalam tarikh (family tree), nasabnya amat jelas.

MUHAMMAD bin Abdullah bin Abdul Muthalib (Syaibah) bin HASYIM (al Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin FIHR (yang berlaqab Quraisy) bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mu’id bin Adnan.

Dari Adnan juga dicatatkan oleh tarikh sebagai berikut, Adnan bin Ibnu Ad bin Humaisa’ bin Salaman bin Aush bin Basuz bin Qumwal bin Ubay bin Awwam bin Nasyid bin Haza bin Baldaz bin Yadlaf bin Thabikh bin Jahim bin Naisy bin Makhi bin Iyadl bin Abqar bin Ubaid bin Ad Da’a bin Hamdan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzam bin Yalhan bin Ar’awa bin Iyadh bin Disyan bin Aishir bin Afnad bin Aiham bin Maqshar bin Nahits bin Zarah bin Sama bin Maza bin Audhah bin Iram bin Qidar bin ISMAIL bin IBRAHIM Khalilullah AS.

MASA REMAJA DAN DEWASA

Pada awal masa remajanya, Rasulullah SAW biasa mengembala kambing di kalangan Bani Sa’ad. Pada usia dua puluh lima tahun, seorang saudagar kaya bernama Khadijah binti Khuwaylid al As’ad telah mendengar tentang kejujuran, kredibilitas dan kemuliaan akhlaq Muhammad. Siti Khadijah telah mengirim utusannya kepada pemuda Muhammad bin Abdullah, menawarkan kepadanya berkenan berangkat ke Syam (Syria) untuk menjalankan barang dagangannya.

Beliau menerima tawaran itu, dan kemudian berangkat ke Syam membawa barang dagangan milik pengusaha perempuan Khadijah binti Khuwaylid dengan disertai Maisarah.

Dua bulan sepulang beliau dari negeri Syam, Khadijah meminang Muhammad SAW melalui sahabatnya Nafisah binti Munyah. Muhammad SAW menerima tawaran ini dan menikah dengan Siti Khadijah, dengan maharnya menurut riwayat dua puluh ekor onta muda.

Putra-putri Muhammad SAW, dilahirkan dari rahim Siti Khadijah r.a., adalah Al-Qasim, kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah dan Abdullah yang bergelar Ath-Thayyib dan Ath-Thair. Semua putra beliau meninggal selagi masih kecil. Semua putri beliau sempat menjumpai Islam, dan masuk Islam serta ikut berhijrah ke Madinah. Mereka semua meninggal dunia selagi Rasulullah SAW masih hidup, kecuali Fathimah. Fathimah meninggal dunia selang enam bulan sepeninggalan beliau.

Ada juga anak Muhammad SAW bernama Ibrahim yang lahir dari isteri beliau Maria Al Qibthiyah, seorang isteri yang beliau nikahi sebagai tanda persahabatan dengan Muqauqis dari Mesir, ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasulullah SAW.

NUBUWWAH DAN RISALAH SERTA PERINTAH DAKWAH

Di saat Umur Rasulullah SAW genap empat puluh tahun, suatu awal kematangan, mulailah tampak-tampak tanda-tanda nubuwwah pada diri beliau.

Di antara tanda-tanda itu adalah mimpi hakiki. Selama enam bulan mimpi yang beliau alami itu hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Mimpi ini termasuk salah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwwah.

Akhirnya pada bulan Ramadhan pada tahun ketiga dari masa pengasingan di gua Hira, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi, memuliakan beliau dengan nubuwwah dan menurunkan Malaikat Jibril kepada beliau sambil membawa ayat-ayat Al Qur’an (Al ‘Alaq: 1- 5). Hal ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Fathul Bary. di-mulut-gua-hira-tempat-muhammad-saw-menerima-wahyu-pertama-1

Kemudian turunlah wahyu Ilahi yang memuat pesan-pesan untuk melaksanakan Dakwah kepada Allah SWT, seperti dalam surat Al Muddatstsir ayat 1-7. Sungguh dalam makna terkandung dalam ayat ini.

Di antaranya berisi peringatan agar tidak melanggar apa yang telah diperintahkan atau telah dilarang oleh Allah SWT, sebab akan berakibat ditimpa azab yang sangat pedih dan dahsyat. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk mengagungkan Rabb, Allah SWT Yang Maha Agung. Juga mengingatkan agar menjauhi sikap sombong, yang dapat menyeretnya ke dalam kehancuran dan murka Allah.

Wahyu Allah SWT dimaksud juga mengandung perintah untuk membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar kesucian lahir batin benar-benar tercapai, sehingga mendapatkan pancaran cahaya Ilahi yang penuh dengan hidayah Allah SWT. Muhammad SAW diperintahkan untuk menggerakkan Dakwah dan amal Islamiyah dengan selalu sabar dan tabah, memulainya dari keluarganya terdekat (wa andzir ‘asyiratakal aqrabiin), dengan terus meminta pertolongan dan perlindungan serta memohon hidayah, taufiq dan ridho-Nya.

Setelah mendapatkan perintah ini, Muhammad Rasulullah SAW bangkit mendakwahkan tauhid, dan selama dua puluh lima tahun beliau tidak pernah istirahat dan berdiam diri. Beliau tidak pernah mengeluh apalagi berputus asa dalam melaksanakan misi dakwah ini.

Diajaknya umat dengan lembut dan penuh perhatian. Disampaikannya wahyu Allah penuh hikmah, bil mau’dzatil hasanah. Dihadapinya persoalan keumatan dengan bersama menghidupkan « alika bil jamaah », kebersamaan dan sinerji (silaturahim).

WAFATNYA RASULULLAH SAW.

Pada detik-detik terakhir dari hidup Rasulullah SAW, beliau masih sempat bersiwak yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar. Di dekat pembaringan beliau tersedia bejana berisi air.

Beliau celupkan kedua tangan kedalam bejana berisi air lalu mengusapkan ke wajah sambil bersabda, “Tiada Tuhan selain Allah. Sungguh kematian itu ada sekaratnya.”

Seusai bersiwak, beliau mengangkat tangan dan mengarahkan pandangan ke langit-langit rumah dan bibir beliau bergerak-gerak. Sayyidah Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau saat itu. Beliau bersabda, “bersama orang yang Engkau beri nikmat atas mereka para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Ya Allah, ampunilah dosaku, dan rahmatilah aku. Pertemukan aku dengan kekasih Yang Maha Tinggi, Ya Allah, kekasih Yang Maha Tinggi.”

Kalimat yang terakhir ini diulangi hingga tiga kali yang disusul dengan tangan beliau yang melemah. “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun.” Beliau telah berpulang kepada kekasih Yang Maha Tinggi. Hal ini terjadi selagi waktu dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 11 H, dalam usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari.

TRADISI PERINGATAN MAULID NABI SAW

Tradisi perayaan Mulid yang diselenggarakan di hampir semua masyarakat muslim sekarang ini bukan satu warisan dari Nabi Muhammad SAW sejak masa hayatnya. Peringatan ini, keputusan bijak ditetapkan Sultan Shalahuddin al Ayyubi yang memerintah Mesir dan Syiria pada tahun-tahun 564 – 589 M/1169-1193 H.

Berbagai pendapat telah berkembang tentang kebolehan, keutamaan, dan hikmah, bahkan penolakan, terhadap diadakannya peringatan Maulid Nabi SAW ini.

Ada hal terpenting dalam peringatan Maulid Nabi, di antaranya memperkokoh keimanan kepada Allah dan Rasul SAW, melalui menanamkan pada diri generasi kecintaan kepada Nabi SAW, yang melahirkan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW. Sehingga suri tauladan kehidupan (uswah hasanah) Muhammad SAW dapat diserap dalam pikiran dan perilaku mereka.

Untuk mengetahui lebih dalam sejarah tauladan Rasulullah dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, tentulah diperlukan bahan referensi dalam mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah dan Sunnah Rasulullah SAW ini.

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa dua pusaka abadi yang beliau wariskan kepada ummatnya adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Tradisi memperingati Maulid Nabi semestinya dirakit menjadi sebuah tradisi Islami yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Dalam acara-acara peringatan Maulid Nabi dapat didengarkan dan dihayati suri tauladan kehidupan Rasulullah.

Memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW, bermakna secara sadar menelusuri pekerti agung seorang terpilih. Jelas nasabnya, jujur, amanah, baik pekertinya, penyantun dan pemaaf (pengakuan Ja’far bin Abi Thalib dihadapan Raja Najasyi), sebagai uswah hasanah (suri teladan baik), bagi setiap mukmin yang percaya kepada Allah dan hari akhir (QS.33,al-Ahzab:21), karena beliau diutus menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS.21,al-Anbiya’:107).

Muhammad SAW, adalah seorang yang istimewa. Dia adalah Rasul Allah, pilihan diantara banyak rasul sebelumnya (QS.3,Ali Imran:144).

Bahkan, menjadi penutup Nabi-Nabi (QS.33,al-Ahzab:40).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allalt (zikrullah). (Q.S. Al Ahzab: 21)

Makna hakiki dari memperingati Maulid Nabi SAW haruslah diinsyafi bukan sekedar seremonial keagamaan semata, namun hendaklah ditujukan kearah intropeksi total diri sendiri, guna meningkatkan kualitas hidup beragama, beribadah, dan bermasyarakat.

REFLEKSI PERINGATAN MAULID, MENELADANI RASULULLAH SAW

Salah satu refleksi peringatan maulid adalah mengambil keteladanan Nabi Muhammad SAW yang telah mengeluarkan ummat manusia dan lembah kemiskinan harta, kemiskinan ilmu, kemelaratan mental (akhlak) maupun spritual (hakekat uluhiyah dan rububiyah), serta kemiskinan komunikasi (ukhuwwah).

Muhammad SAW mengentaskan ummat dari kemiskinan harta dengan memacu kepada usaha individu dengan memberi bibit untuk ditanam bukan menyediakan nasi untuk dimakan.

Petunjuk yang tersirat dalam beberapa sabda Rasulullah SAW. Di antaranya: Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan-akan hidup selamanya dan berusahalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok hari. (H.R. Ibnu ‘Asakir)

Dalam kehidupannya Rasulullah telah memberi contoh, tidak pernah menolak pengemis yang datang ke rumahnya. Bahkan sering para pengemis diberi bibit kurma untuk ditanam sehingga sang pengemis dapat memberi makan anak cucunya.

Rasulullah SAW sangat menghargai makna sebuah kerja.

Etos kerja Islam merupakan manifestasi kepercayaan muslim yang memiliki kaitan dengan tujuan hidup yang hakiki, yaitu ridha Allah SWT dalam meraih prestasi di Dunia dan Akhirat. Nabi Muhammad SAW mendorong ummat agar tidak miskin ilmu.

Beberapa pesan Rasulullah SAW mengingatkan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yajig menginginkan akhirat haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kedua-keduanya haruslah dengan ilmu”. (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).

Di atas semua itu, dengan ilmu yang diredhai Allah maka seseorang dianggap sebagai pewaris Nabi, dan dengan ilmu kebahagiaan di dunia akhirat dapat di raih.

Nabi Muhammad Saw mendorong agar manusia tidak menjadi miskin mental. Apabila jiwa atau mental sehat, memancar bayangan kesehatan itu pada perilaku kehidupan sehari-hari.

Risalah Islamiyah adalah suatu anugerah bagi ummat manusia. Nabi Muhammad SAW telah berhasil membawa masyarakat jahiliyah yang miskin mental menjadi masyarakat yang luhur, berakhlak. memiliki sopan santun dan tata krama dalam pergaulan dan penuh peradaban, dengan menghidupkan empat sikap utama.

Pertama, Syaja‘ah artinya berani pada kebenaran dan takut pada kesalahan dan dosa. Selanjutnya, Iffah artinya pandai menjaga kehormatan diri lahiriah dan batiniyah. Kemudian, Hikmah artinya tahu rahasia diri dan pengalaman hidup, dan terakhir adalah ‘Adalah artinya adil walaupun pada diri sendiri.

Muhammad SAW adalah figur teladan yang mesti diidolakan kaum muslimin. Setiap langkahnya selalu dibawah kontrol Ilahi. Tindakan dan ucapannya adalah mutiara berharga, menjadi landasan pemebentukan akhlak ummatnya dalam berbuat dan menjadi hukum yang ditaati. Tiada seorangpun yang dapat meragukan keagungan peribadi Rasulullah SAW.

Keperibadiannya menjadi contoh teladan dalam segala hal.

Rasulullah sebagai seorang suami yang teladan, sebagai ayah teladan, sebagai guru teladan, sebagai tokoh teladan, sebagai abli strategi teladan, sebagai ahli ekonomi teladan, sebagai pejuang hak-bak asasi manusia teladan, dan sebagai kepala negara yang teladan.

Keteladanan Muhammad SAW mampu mereformasi sistem dan tatanan yang ada, ke arah yang lebih baik dan tujuan yang mulia, yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yanq makmur dan penuh ampunan Tuhan).

Nilai-nilai keteladanan tersebut hendaknya menjadi warisan yang paling berharga bagi kita ummat manusia, tanpa terkecuali. Setiap langkah yang kita ayunkan, setiap nawaitu yang kita bulatkan, setiap pernyataan yang kita ikrarkan dan setiap perbuatan yang kita lakukan merupakan cerminan dan keteladanan Rasulullah saw. yang mesti diterapkan dalam kehidupan.

Maka dalam upaya mengikuti ajaran beliau, semestinya sifat beliau menjadi jatidiri seorang muslim.

Di antara sifat mulia yang beliau miliki adalah sifat shiddiq, sehingga Rasulullah SAW. diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya).

Shidiq (as shidqu) artinya benar atau jujur, lawan dan dusta atau bohong (al kidzbu). Seorang muslim dituntut memiliki sifat shidiq; dalam keadaan benar lahir maupun batin.

Sifat shidiq yang utama adalah Shidqul qalb, yaitu benar hati atau kejujuran hati nurani, hanya dapat dicapai jika hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dan segala macam penyakit hati. Sifat ini akan mencapai kematangan bila didukung dengan sifat ihsan.

Selanjutnya Shidqul hadits, yaitu benar atau jujur dalam ucapan dan perkataan. Seseorang dapat dikatakan jujur dalam perkataan apabila semua yang diucapkannya adalah suatu kebenaran bukan kebatilan.

Di samping itu perlu ada Shidqul ‘amal, yaitu benar perbuatan atau beramal shaleh sesuai dengan syari’at Islam. Sifat shidiq mengantarkan seseorang ke pintu gerbang kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, sesuai firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 177.

Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang sang telah jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebaqai seorarig yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Oranq yang se1a1u berbohonq dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebaqai pembohonq (kadzdzab)”. (HR. Bukhari)

Sifat shidiq adalah “tambang emas” dalam diri seseorang yang sangat berharga. Dan sifat inilah yang dijadikan standar kepercayaan orang lain kepadanya.

Apabila seseorang telah kehilangan sifat shidiq, maka hilanglah arti dirinya, karena tiada yang mau mempercayainya. Sikap ini pula yang amat diperlukan di dalam membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta ini. Allahu a‘lam bishawab.


NILAI ESENSIAL PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Memperingati “maulid-rasul” sebenarnya menanamkan keinginan kuat mengikuti jejak langkah — sunnah Rasul — yang di wariskannya, sesuai Wahyu Allah tentang keutusan Muhammad Rasulullah SAW menjadi “Rahmat bagi seluruh alam” , dan rela menjadikannya “uswah hasanah” , suri ketauladanan yang teramat sempurna dari “nabi terakhir” yang telah melakukan perubahan (ishlah) menyeluruh terhadap berbagai prilaku kearah yang lebih baik dalam kehidupan manusia, dari kondisi dzulummat (kegelapan) kepada peradaban (civilisasi) yang terang benderang, transparan, an-nur atau kehidupan yang penuh cahaya.

Bila disadari sungguh-sungguh kehadiran manusia di permukaan bumi memikul dua beban utama untuk melakukan ishlah (perubahan, perbaikan, reform) dan untuk uswah (pencontohan) dalam peran kekhalifahan. Tanpa kedua sikap ini sebenarnya tidak terdeteksi eksistensi manusia. Perubahan yang di bawa Rasulullah SAW, berdasar bimbingan Wahyu Allah SWT, menuntun manusia kepada fithrahnya menjadi ummat bertuhan (tauhidic weltanschaung) dan berakhlaq budi pekerti.

Perubahan tidak semata bertumpu kepada keinginan pribadi, tetapi selalu dengan bimbingan Khaliq Maha Pencipta. Dan prilaku manusia yang terbimbing wahyu Allah dan sunnah Rasul ini, pasti terjauh dari pertentangan dalam kehidupan manusia.

Inilah perbedaan mendasar dalam hal perubahan yang di lakukan reformer lainnya yang sering melahirkan pemaksaan kehendak, tindakan kekerasan bahkan anarkis.

Perubahan berdasar Sunnah Rasulullah SAW, bermuara kepada “syari’at Islam”, dan berintikan proses perubahan dan perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian) , Ishlah (penyempurnaan dan penyelesaian) dan taghyir (perubahan sikap) .

Perubahan prilaku yang berperadaban kearah perbaikan prilaku tanpa merusak. Ajaran Islam memperingatkan ummat untuk menghindari tindakan merusak (fasad=anarkis) dalam tatanan prilaku maupun idea (pemikiran) dengan berupaya menjauhi pemaksaan kehendak.

Agama Islam menghormati prinsip tidak ada paksaan dalam agama . Kewajiban asasi melembagakan musyawarah dalam setiap urusan. Teguh identitas (shibghah) dalam ujud amar ma’ruf (proaktif mengajak dan mengamalkan kebaikan-kebaikan) dan nahyun ‘anil munkar (taat asas menolak setiap kejahatan).

Gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan melawan segala corak kemakshiyatan menyangkut tatanan dan hubungan pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara.

Tujuan utamanya menciptakan ummat berkualitas “khaira ummah” atas dasar “iman” kepada Allah. Intensitas tinggi berpacu dalam menggairahkan perlombaan kepada kebaikan “fastabiqul-khairat”.

Ajaran Islam terbukti dalam sejarah panjang peradaban manusia berhasil menciptakan suatu komunitas ummat yang kian hari bertambah jumlahnya sampai akhir zaman .

Risalah Rasulullah SAW, mencatat kegelapan perilaku kehidupan jahiliyah masa lalu, antara lain ;“Kami adalah orang jahiliyah, penyembah berhala (kepatuhan kepada selain Allah dengan pemberhalaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), pemakan bangkai (tidak mengenal halal-haram), memutus silaturrahim (dengan penidasan, anarkis, intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan perbuatan keji (judi,rampok,korupsi,zina) , sehingga yang kuat menelan yang lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan golongan dan kelompok). Sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yakni Muhammad SAW yang sangat kami kenal nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risalahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).

Hadist ini sebenarnya berisikan;

Pertama, Risalah Rasulullah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad Al-Amin).

Kedua, keutamaan Wahyu Allah mampu merombak tata prilaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeluruh).

Ketiga, keteguhan ummat dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi dalam kerangka jihad fii sabilillah.

Keempat, teguhnya keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata materil fisik.

Kelima, kecerdasan ummat melihat cerdas Agama Islam adalah konsep hidup terbaik.

Kelima faktor ini yang menjadi pembangkit utama harakah Islam sebagai kekuatan alternatif masa datang.

Ummat Islam hari ini di tuntut berperan aktif sebagai pengisi konsep, pelaku penggerak kehidupan duniawi berkeadilan. Agama Islam tidak hanya ibadah dalam arti sempit (puasa, shalat, zikir dan do’a), tetapi menata amalan nyata yang shalih dalam membentuk kualitas hidup “hasanah” di dunia dan di akhirat.

Ummat Islam mesti sadar bahwa Dakwah Ilaa Allah selalu berhadapan dengan kekuatan konsep fikrah (ghazwul fikriy) Yahudi dan Salibi , dalam penguasaan ekonomi tersistim kearah pemelaratan ummat yang kaya menjadi sangat tergantung kepada belas kasihan para pemodal sehingga lahirlah masyarakat yang miskin dari kekayaan.

Keadaan ini, akhirnya diperparah oleh percaturan politik dengan bungkus demokratisasi, humanisasi, dan hak asasi yang pada dasarnya menjadi kemasan dari phobia terhadap Islam yang berujung dengan intimidasi terhadap ummatnya.

Dalam rangka ini kita peringati Maulid Nabi.

Padang, Rabi’ul Awwal 1430 H/ Maret 2009 M.