Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

NILAI TERKANDUNG DALAM PERINGATAN MAULID NABI SAW

Oleh : H. Mas’oed Abidin

jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram1Memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad Rasulullah SAW, bermakna secara sadar menelusuri pekerti agung dari seorang terpilih. Jelas nasabnya, jujur, amanah, baik pekertinya, serta penyantun dan pemaaf (pengakuan Ja’far bin Abi Thalib dihadapan Raja Najasyi), sebagai uswah hasanah (suri teladan baik), bagi setiap mukmin yang percaya kepada Allah dan hari akhir (QS.33,al-Ahzab:21). Karena, dia diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS.21,al-Anbiya’:107). Muhammad SAW, adalah seorang yang istimewa. Dia adalah Rasul Allah, pilihan di antara banyak rasul sebelumnya (QS.3,Ali Imran:144). Bahkan, menjadi penutup Nabi-Nabi (QS.33,al-Ahzab:40). Karena itu pula, siapapun yang meyakini wahyu Allah (al-haq) yang telah diturunkan kepadanya, sembari mengikuti dengan amalan shaleh, niscaya kekurangan masa lampaunya di ampuni, dan akan memiliki masa depan lebih cerah (QS.47,Muhammad:2-3).

Ciri utama pengikutnya adalah ruhama (berkasih sayang di antara sesamanya), rukka’an sujjadan (tunduk, patuh, dan setia) yang tampak nyata pada wijhah (pandangan hidup) yang senantiasa mencari redha Allah (QS.48,al Fath:29).

Wahyu Allah yang dibawanya (al Quran) berperan dalam melakukan perubahan mendasar (social reform) yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Telah mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat beradab, melalui proses civilisasi, dari gelap kepada terang (QS.14,Ibrahim:1).

Perubahan itu tampak nyata pada tiga tahapan. Pertama, memulai dari ajaran tauhid, dengan paradigma La ilaha illa Allah, yakni komitmen tentang keesaan Allah. Konsekwensi dari paradigma ini adalah penyerahan total kepada kedaulatan Allah. Tiada satupun yang berhak di sembah dan tempat meminta pertolongan, kecuali semata hanya kepada Allah zat Yang Esa (QS.1,al-Fatihah: 5, juga QS.112, al-Ikhlas:1-5). Setiap permintaan perlindungan kepada selain Allah, adalah terlarang. Berpijak pada paradigma ini, manusia dibimbing kepada merebut keberhasilan di dunia maupun di akhirat, melalui sikap tauhid (aqidah) yang kokoh, kesabaran (keteguhan sikap jiwa) yang konsisten, keikhlasan (motivasi amal dan ikhtiar) semata karena Allah, tawakkal (penyerahan diri secara bulat kepada Allah) yang sangat dalam.

Kedua, membentuk tata-masyarakat kesatuan (universal), dengan prinsip persaudaraan, menentang anasir perpecahan, menjauhi hasut-fitnah, toleransi dan saling menghargai, dengan menggerakkan upaya ta’awunitas (QS.49,al-Hujurat : 6-13). Salah satu missi kerasulan Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki tatanan laku perangai (moral) manusia, dengan mengedepankan akhlak mulia (al-Hadist). Akhlak karimah (mulia) mencakupi hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah), penataan sikap dan kepribadian manusia (ihsanisasi), dan pemeliharaan hubungan antar makhluk manusia maupun alam lingkungan (mu’amalah ma’an-naas).

Ketiga, peduli perempuan yang di masa jahiliyah berlaku pelecehan gender yang terbukti dengan kelahirannya di sambut (QS.QS.16,an-Nahl :57-60). Kondisi ini sama dengan masa fir’aun, terhadap anak lelaki yang di lahirkan kaum Musa (keluarga ‘Imran) harus dibunuh, yang pada masa sekarang mirip rasilalisme, atau ethnic cleansing.

Wahyu al-Quran yang dibawa Muhammad SAW, menempatkan perempuan pada posisi azwajan (pasangan hidup kaum lelaki), mitra sejajar/setara (QS.16:72), berperan menciptakan sakinah (kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram, melalui mawaddah berupa kasih sayang (QS.30:21).

Citra perempuan ini diperankan secara sempurna dengan posisi sentral sebagai IBU (Ikutan Bagi Ummat), salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family, bundo kanduang di Minangkabau). Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist). Posisi ini adalah penghormatan mulia, “sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).

Ada tiga tipe perempuan perlu dicontoh, (a). Selalu menghindar dari kelaliman dan kemusyrikan, senantiasa mengharapkan rumah di sorga, seperti Asiyah isteri Fr’aun (QS.66 at-Tahrim : 11). (b). Perempuan yang berupaya agar generasi mendatang yang di lahirkan dari kandungannya menjadi zurriyat yang memegang teguh amanah membela agama Allah, seperti isteri ‘Imran ibu dari Maryam (QS.3, Ali Imran : 35-36), dan (c). Perempuan yang selalu memelihara faraj, yakni Maryam sendiri (QS.66:12).

Di depan Rumah (bangunan) tempat lahirnya Muhammad Rasulullah SAW.

Bermacam cara umat Memperingati

Kotogadang, satu negeri kecil di kaki gunung Singgalang, tempat lahirnya banyak tokoh Nasional seperti Agus Salim, Sutan Syahrir, Mr. Mohamad Nazif dan juga disebut sebagai nagari yang menghasilkan ratusan dokter dan ribuan sarjana hingga kini, pada masa dulu pernah punya seorang ulama yang disebut di dalam catatan-catatan Belanda bernama Tuanku Malin Kaciek. Sejak masa itu konon peringatan-peringatan tentang maulid telah hidup di negeri ini.

Koto Gadang—nagarinya “the saint Tuanku Malim Kecil”, meminjam istilah Jeffrey Hadler (2008:118)—adalah contoh mikro sebuah masyarakat timur yang lebih awal memperoleh pencerahan (enlightenment) Barat. Akan tetapi, sungguh ajaib, mengapa pencerahan itu mampir di Koto Gadang pada abad ke-19, sebuah desa kecil dalam ‘belantara’ keterbelakangan dunia timur pada zaman itu? (Catatan dari Suryadi, dosen & peneliti pada Opleding Talen en Culturen van Indonesië Universiteit Leiden, Belanda).

Uniknya, di Kotogadang masa lalu, peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan di rumah-rumah penduduk dalam suku dan kaumnya. Dilaksanakan malam hari dengan dihadiri oleh seluruh anak kemenakan, dengan memanggil seorang muallim (engku pakieh = faqih, yang faham tentang syariat Islam), guna menyurahkan (surah=kitab) atau membacakan dari kitab yang shahih tentang sejarah hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW Pengajian ini menekankan kepada perilaku yang mesti ditiru dan perangai yang mesti dijauhi.

Dari pengajian ini lahirlah sikap anak nagari melalui suku dan kaumnya, menjadi kelompok yang bermoral tinggi melaksanakan ajaran agama dengan baik serta berinteraksi yang sempurna sesuai bimbingan agama Islam. Kotogadang sebagai nagari yang sudah maju dan umumnya mengerti dan berdialog dengan bahasa Belanda itu, tidak seorangpun keturunan mereka ketika itu yang tidak memakai nama dengan nama Islam. Inilah hasil dari peringatan Maulid Nabi SAW.

Tidak jarang Maulid Nabi SAW diperingati sampai jauh malam, hingga jam 2 malam atau menjelang subuh datang, dan bahkan ditutup dengan shalat Sunat Tasbih berjamaah di rumah itu. Setiap pengajian peringatan Maulid ini umumnya ibu-ibu membawa penganan, dan lazimnya “lepat batu = baharu”, satu penganan khas yang disediakan waktu Maulid Nabi. Masih adakah itu sekarang. Sudah punah dimakan waktu. Maulid hanya sekali-sekali diperingati di surau atau di masjid dengan cara tabligh Akbar.

Beberapa daerah di Sumatera Barat dan Riau, yang dulunya menjadi bagian dari adat budaya Melayu dan Minangkabau, bulan Maulid masih disebut sebagai bulan “melamang” atau membuat penganan lemang sebagai menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan kalau di Yogyakarta dengan acara grebegan.

Semoga salam dan salawat kita sampai kepada beliau, Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.

Padang, 25 Shafar 1430 H / 21 Februari 2009 M.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s