Posisi Kaum Perempuan

Posisi Kaum Perempuan

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Islam sangat menghormati kedudukan perempuan, Sorga ditelapak kaki Ibu, artinya bahwa “Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan kedua orang tua (ayah dan ibu). Agama Islam degan hadist Nabi Muhammad SAW telah meletakkan penghormatan kepada posisi kaum perempuan (ibu) dengan tiga banding satu dengan kaum lelaki (ayah). Selain itu, « perempuan adalah tiang negeri, rusak perempuan maka rusaklah negeri ». Perempuan adalah ibu yang mendidik pertama dari generasi yang dilahirkannya.

Kaum perempuan selayaknya kembali kepada fitrah yang telah digariskan penciptanya. Agama Islam telah mengembalikan fitrah kaum perempuan dari rongrongan kebiasaan jahiliyah yang telah mengingkari kebradaan kaum perempuan, dan menganggap kedudukan perempuan sangat rendah. Pandangan jahiliyah ini adalah kelanjutan dari perdayaan syaithan sepanjang masa.

Sejak awal kejadian manusia Adam dan Hawa, iblis dan syaithan, selalu berusaha menjerumuskan kaum lelaki atas rayuan sang perempuan (isteri), yang telah dicatat dalam sejarah kehidupan manusia. Di samping memang sudah menjadi skenario sang Pencipta, agar manusia dapat berkembang turun temurun di atas bumi, namun satu hal telah terbukti di satu sisi  bahwa kaum perempuan mampu menjadi penakluk kaum pria, selain diri mereka juga dicipta untuk memberikan ketenangan terhadap jiwa kaum pria (sang suami). Perempuan dapat menghidupkan suasana hidup yang indah dan bahagia, bila dibimbing oleh nilai-nilai ajaran agama yang luhur (Dinul Islam).

Di zaman modern, di era globalisasi, karena didorong paham kebebasan (liberalisme) dan kebendaan (materialisme), dan mengedepankan hak-hak kepentingan sendiri (individualisme), tanpa disadari telah memenjarakan kembali kaum perempuan menjadi obyek pemuasan nafsu rendah, oleh manusia yang tidak beretika religi (tidak berakhlak agama). Perempuan kembali menjadi mangsa dari porno aksi dan pornografi, yang menganggap kaum perempuan adalah pemuas nafsu dan bagian dari kreativitas seni semata. Bahaya mengintai kaum perempuan karena berkembangnya paham sekuler yang menitik beratkan kepada kesenangan badani (hedonistiik), yang semata hanya mengukur kenikmatan sensual dan erotik, di mana kesejahteraan hidup tidak lagi menjadi utama dipikirkan, bahkan telah bertukar dengan hanya mengedepankan nilai jual yang kadang kala berakibat sangat merusak moral.

Di tengah pergeseran nilai ini, maka kita dituntut sadar kembali kepada tuntunan Islam. Kaum perempuan semestinya tidak berpaling dari kodrat sebagai perempuan, yang mempunyai kelebihan dan memiliki keterbatasan-keterbatasan, sesuai kehendak Maha Pencipta. Dengan mempedomani Al-Qur’ân dan Sunnah, sebagai dinasehatkan oleh umm al-Mukminîn, kaum perempuan wajib mempersiapkan diri menjadi isteri shalehah, sesuai sabda Rasul Allâh SAW,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلاَثٌ الطَّيِّبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِي الصَّلاَةِ.

“Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Wangi-wangian, Isteri shalehah, dan ketenangan saat shalat.”(Imam Nawawi, 2005, hal. 75).

Kaum perempuan yang menjadi isteri dan memiliki kelebihan dengan kekayaan materi (harta benda), jika memiliki keikhlasan yang besar, akan merasa senang hati menaruhkan hartanya kepada suaminya atas dasar kasih sayang dan amanah (seperti dilakukan oleh Khadijah atas Muhammad SAW).

Maka suami yang tadinya miskin tapi amanah dalam memelihara kekayaan istrinya, pasti akan mendapatkan dua pahala, satu pahala ibadah dan satu pahala sedekah, karena harta isteri merupakan hak isteri.[1] Shahabat Rasul Allâh SAW, yakni Umar bin al-Khatthab RA, juga pernah berkata, 

لَوْلاَ اْدِّعَاءُ الْغَيْبِ لَشَهِدْتُ عَلَى خَمْسِ نَفَرٍ أَنَّهُمْ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْفَقِيْرُ صَاحِبُ اْلعِيَالِ وَالْمَرْئَةُ الرَّاضِى عَنْهَازَوْجُهَاوَالْمُتَصَدِّقَةُ بِمَهْرِهَاعَلَىزَوْجِهَا وَالْرَّاضِى عَنْهُ اَبَوَاهُ وَالْتَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ.

“Sekiranya tidak takut dituduh mengetahui yang ghaib, tentulah aku mau bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini adalah termasuk ahli surga, yaitu: a. Orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya; b. perempuan yang suaminya ridha kepadanya; Isteri yang menshadaqahkan mahar/maskawinnya kepada suaminya; Anak yang kedua orang tuanya ridha kepada dirinya; dan Orang yang bertobat dari kesalahannya.”

Agama Islam mengajar umatnya, untuk selalu bersikap ridha dan syukur atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allâh atas mereka. Dengan sikap ini dapat dirasakan betapa indahnya kehidupan berkeluarga, sehinga dapat diraih nikmat paling besar rumahku adalah surgaku”.

Konsep hidup seperti ini seharusnya dimunculkan oleh kaum perempuan pada masa ini, saling membutuhkan, saling memberi kemudahan, saling menjaga keutuhan rumah tangga, sebagai modal  dalam menghadap berbagai persoalan hidup, sesuai perkembangan zaman.

Perempuan Pendidik Generasi Berakhlak Mulia

Perempuan muslim mesti memiliki Sahsiyah sebagai pendidik generasi, dalam rumah tangganya. Kaum perempuan (ibu) adalah murabbi yang punya kepribadian baik, serta uswah hidup yang terpuji. Dengan modal akhlak ini, kaum perempuan (ibu)  akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak yang dilahirkan dari rahimnya. Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya, tidak akan dapat mengambil alih peranan ibu sebagai pendidik anak (generasi) yang dilahirkannya. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi generasi demi generasi dalam menanamkan laku perangai — sahsiah – pada si anak. Tegasnya sahsiah mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang [2]

Ciri Utama dari sahsiah (شخصية) bermakna pribadi atau personality, yang  menggambarkan sifat individu yang merangkum padanya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.[3] Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang ibu atau bapak yang berperan sebagai murabbi atau pendidik yang akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pembentukan watak anak dan generasi, sesuai dengan yang mereka sampaikan.[4]

Dari beberapa penilitian terdapat senarai panjang yang menerangkan sikap yang diinginkan, dan seharusnya dimiliki para orang tua, yang akan berperan menjadi murabbi (pendidik dan pelindung) terhadap generasi yang di bawah tanggung jawab mereka. Di antara yang saangat utama, adalah  :

ü  Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan masalah dengan jelas, berdisiplin, mampu menarik perhatian anak (generasi), artinya jadi panutan.

ü  Amanah dan menunaikan janji, mempunyai sahsiah yang dihormati, mempunyai arahan yang jelas dan spesifik, berkemauan yang kuat, berbakat pemimpin yang tinggi, artinya memberikan contoh dalam akhlak dan ibadah.

ü  Mempunyai pengetahuan yang luas, tidak menyimpang dari tajuk pendidikan watak yang akan dibentuk, memiliki suara yang baik, merangkul dan mendidik, mengenal titik kuat dan lemah dari anak (generasi).

ü  Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan anak (generasi), pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana anak (generasi) di rumah, artinya menjadikan rumah menjadi benteng pembentukan watak generasi.

ü  Mengujudkan sikap kerjasama dan bersemangat riadah dan kedisiplinan

Karena beratnya tanggung jawab tersebut, maka sifat dan ciri dari orang tua muslim dan muslimah hendaklah merangkum :

    A.  Sifat Ruhaniah dan Akidah

1.      Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna

2.      Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan hari pembalasan

3.      Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

    B.   Sifat-Sifat Akhlak

1.      Benar dan jujur

2.      Menepati janji dan Amanah

3.      Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan

4.      Merendah diri – tawadhu’ —

5.      Sabar, tabah dan cekatan

6.      Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi

7.      Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan  sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

    C.  Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani

1.      Sikap Mental, mencakup cerdas (kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai sikap takhasus dari anak turunannya, luas pengetahuan, cenderung kepada berbagai bidang   ilmiah yang sehat serta mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan anak (generasi) yang diamanahkan padanya, fasih, bijak dan cakap, dan penuh kasih sayang.

2.      Sifat Kejiwaan, tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya, percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan, berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan.

3.      Sifat Fisik, mencakup sehat tubuh dan badan dari penyakit menular dan berusahalah selalu berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

Orang tua (ibu bapa) muslim adalah pendidik generasi (murabbi) dengan sahsiah mengamalkan etika Islam dengan sikap mental terpuji dalam menyikapi tantangan hidup. Secara teori human behavior, ditemui bahwa sikap mental manusia dipengaruhi atau dibentuk oleh nilai luhur agama, ideologi, pengalaman sejarah, tradisi lingkungan, situasi, keinginan dan norma. Inilah yang akan memunculkan perilaku seseorang baik tingkah individu maupun sosial, yang selalu terjaga oleh nilai-nilai luhur berdasarkan nilai-nilai luhur sosial, budaya dan agama.

Para Nabi dan Rasul yang telah diutus kepada manusia dengan memberikan tuntunan akhlak dalam setiap prilaku kehidupan.

Rujukan dari tuntunan akhlak dimaksud adalah wahyu Allah, yang hanya terdapat  pada Kitabsuci Samawi. Tuntunan dimaksud tidak hanya sebatas teori, tetapi dalam bentuk prilaku dalam semua tingkat pelaksanaan hubungan kehidupan, dalam bentuk prilaku, contoh dan uswah.

Firman Allah menyebutkan, Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharap[kan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagaiHanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al Hadist).

Kita dapat menyimak ada 20 Watak Terpuji menurut ajaran Rasulullah SAW, di antaranya adalah, 1. Berilmu (‘alim), 2. Adil, 3. Cakap (fathanah), 4. Berani (shiddiq), 5. Berbudi pekerti halus/luhur, 6. Dermawan (Pemurah), 7. Pemaaf, 8. Waspada (hati-hati), 9. Teguh janji dan Selalu mencari kebenaran, 10. Menjaga rahasia (amanah), 11. Selalu bersungguh‑sungguh (mujahadah),  12. Bijaksana (hikmah dan berpikir cepat), 13. Rendah hati (Tawadhu’), 14. Tidak iri (tidak hasad), 15. Sabar, 16. Pandai berterima kasih (syakiriin), 17. Mampu mengendalikan keingi­nan hawa nafsu (istiqamah), 18. Diplomatis, taktis, dan tidak mudah terpengaruh oleh desas‑desus dan fitnah, 19. Mampu mengatur dan memperhatikan kelilingnya dengan cara menasehati dan mengkri­tik secara terarah (tabligh), 20. Tidak mengangkat orang yang kufur dan durhaka sebagai pemimpin. Di sini kita melihat pokok-pokok akhlak yang utama.

Pentingnya akhlak di ungkap banyak penyair (ahli hikmah),

إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ، وَ انْهُمُوا ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوا 

“tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”.

Maka potensi masyarakat mestinya digerakkan optimal dan terpadu untuk menghidupkan tata masyarakat beradat itu.

Masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah hidup “adat basabdi syarak, syarak basasndi kitabullah”, banyak menampilkan pepatah [5] tentang akhlak dalam membina anak nagari, terutama di dalam perilaku beradat di Ranah Bundo sampai kepelosok kampung, dusun dan taratak, bahwa Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek.

Selanjutnya Anak urang Koto Hilalang, nak lalu ka pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Kedua ungkapan ini menjadi bukti terlaksana aturan beradat di dalam tatanan masyarakat Minangkabau dengan falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, mengajarkan pepatah tentang akhlak ini, di antaranya, “Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baiak budi,  nan indah baso” [6], atau “Bahasa menunjukkan bangsa”.  Baik buruk perangai (akhlak), menunjukkan tinggi rendahnya asal turunan. Budi Pekerti selalu hidup, walaupun pelakunya sudah tiada. “Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”.

Dengan modal akhlak, keluarga akan terpacu menuju kepada taraf melakukan selfless help, memberikan bantuan atau menanamkan ruhul infaq tanpa mengharapkan balasan jasa.

Pembinaan masyarakat, memulai dari akar rumput, dari rumah tangga sebagai basis masyarakat dan lingkungan, melalui menanmkan saling menghormati sesama besar, terhadap orang tua dan anak-anak, sayang menyayangi mendidik masyarakat, mengutamakan ukhuwah, mengedepankan kepentingan orang banyak dengan  sikap pemurah. Disini terletak kekuatan utama.    

لَيـْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لمْ  يُجِلُّ كَبِيْرَناَ، وَ  لمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا، وَ لمْ  يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا (رواه أحمد)

Tidak terbilang kepada umatku – yakni umat Muhammad SAW – barang siapa yang tidak menghormati yang tua, dan tidak menyayangi yang muda, dan juga yang tidak mau arif mengikuti nasehat dari kalangan berilmu” (HR. Ahmad).


[1]   Kandungan Hadits Riwayat Bukhâriy dan Muslim, lihat dalam SAHID, No. 10/Tahun III/Februari 1991, hal. 41.

[2] Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[3] G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok Soon Sang, 1994:1). Mental ini mempunyai definisi, G.W. Allport menemukan lebih dari 100 definisi mental (attitude = mental attitude) ini.

[4]    Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani

[5] Pepatah adalah pribahasa yang mengandung ajaran, lihat Kamus Bahasa Indonesia 1998, disusun Drs. John Surjadi Hartanto, Penerbit INDAH, Surabaya, Januari 1998 hal 255.

[6] Kuriak=rintik-rintik, kundi=biji saga. Arti peribahasa ini adalah “tiada yang lebih baik dari budi bahasa”, Anas Nafis, Peribahasa Minangkabau, Jakarta, Intermasa, 1996, kerjasama dengan YDIKM, hal.47.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s