Kiat Membina Rumah Tangga Sorga (Baiti Jananati) dengan bimbingan Kitabullah dan Adat di Minangkabau

Binalah Rumah Tangga Sorga

Berpedoman kepada Kitabullah


Oleh : H. Mas’oed Abidin


الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ

وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ،

اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّد، وَ عَلىَ آله وَصَحْبهِ. وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. أَمَّا بَعْدُ.

Buya ikut menyaksikan sebuah acara pernikahan

Ketika sebuah pernikahan dilangsungkan tidak dapat lepas dari aturan Sunnah, sesuai hadist Rasulullah SAW,

“an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”,

artinya “nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, tidaklah termasuk umatku”

(al Hadist).

Sasaran pernikahan adalah mendapatkan kedamaian, kenyamanan dan ketenangan.

Rasa damai hanya dicapai dengan saling mencintai.

Rasa bahagia akan tercipta dengan menguatkan rasa saling menghargai, dan saling pengertian antara kedua keluarga terutama di dalam mencapai tujuan pernikahan.

Baiti Jananati, rumah tanggaku adalah sorgaku


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan di- jadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.ar-Rum : 21).

Ayat ini memakai dua kosa kata secara berurutan,

yakni mawaddah, dan rahmah.

Kedua-duanya berarti cinta, kasih dan sayang.

Mawaddah artinya cinta dan ghairah ketika masih usia awal dan saling ketertarikan antara keduanya.

Rahmah adalah cinta, kasih saying, kepedulian karena pengalaman dalam perjalanan waktu dalam wadah ketenteraman (sakinah).

Nabi Muhammad SAW memberikan khutbah, di awali dengan kata singkat اتَّقُوا اللَّهَ artinya bertaqwalah kepada Allah.

Tidak ada satu sistim peradilan di dunia ini yang bisa secara adil menetapkan seberapa besar rasa cinta seseorang.


dsc03288

Kecuali dengan bertakwa dan ingat kepada Allah SWT pada tiap langkah kehidupan.

Ayat pertama Surat an-Nisa’, cukup sebagai peringatan pada pernikahan yang suci ini.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Allah SWT telah mencipta semua keperluan kita dan telah memberi pula alat dan daya untuk mendukung hidup dengan hak dan kewajiban.

Ananda Putra, yang baru saja mengucapkan Ijab Kabul, i

Artinya telah terjadi timbang terima tanggung-jawab antara ayah bunda dari istri dengan diri ananda (suami).


Mulai detik akad nikah diucapkan, maka seorang lelaki  telah menjadi suami dari putri dalam keluarga di rumah ini.

Nan ka di-bao jadi kawan sa-iriang, tagak ka di-bao ba-iyo,

duduak ka di-bao ba-rundiang.

Inilah tugas sumando di Minangkabau.


Allah SWT perintahkan kepada setiap suami,

wa ‘a-syiruu-hunna bil ma’ruf,

artinya pergaulilah istrimu dengan dengan ma’ruf, lemah lembut.

Itulah janji yang diucapkan di dalam sighat thalaq ta’lik.

Tanggung-jawab suami menurut hidayah Alquran sangat berat.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ Lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan … (QS. an-Nisa’:34).

Kaum lelaki bukan dictator.


Seorang suami mesti “menggauli isterinya dengan baik” sesuai bimbingan Allah di dalam Alquran QS.an-Nisa’:19

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata, dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS.4, An-Nisa’ : 19).


Suami mesti memperlakukan perempuan dengan lembut.

Hak-hak lelaki dan perempuan tidak ada perbedaan,

“ … dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”


Lelaki berkewajiban melindungi perempuan

Di sini tugas dan kehormatan laki-laki yang diberikan Allah SWT.

Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.al-Baqarah:228).

Betapa bijaksana Allah, memberikan tanggung jawab kepada lelaki memikul tugas menyeluruh membina rumah tangga.

Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya.

Rumah tangga wajib di bina.

Masyarakat keliling mesti di tenggang.

Keduanya wajib di jaga.

Mancari kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang,

Mam-bilai mano nan senteng, ma-uleh sado nan singkek,

Man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano nan ranggang, Ma-nyalasai mano nan kusuik, Ma-nyisik mano nan kurang, Ma-lantai mano nan lapuak, mam-baharui mano nan usang.

Keseimbangan berumah tangga masyarakat adat di Minangkabau  digambarkan dalam mamangan ;


Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik,

Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

Betapa agung Allah, yang mewajibkan suami musyawarah dengan istri, serta menggauli istri dengan lemah lembut setiap waktu.


مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ]رواه الضياء عن أنس[

Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya sesuatu dan jika lemah lembut itu telah dicabut dari sesuatu, niscaya yang akan tersisa adalah keburukan. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas).

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya.”

Nilai martabat seseorang terletak pada akhlaknya.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًاَ ]رواه الطبراني و أبو نعيم[

Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).

Kewajiban suami, menjadi pelindung terhadap perempuan, karena Allah telah memberikan kelebihan kepada suami membelanjakan harta untuk membahagiakan istrinya.

Umar bin Khattab RA, menceritakan tentang bakti istrinya ;

“Istriku, benteng bagiku dari api neraka.

Istriku, orang yang paling setia mendampingiku di saat senang dan susah.

Istriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku. I

striku adalah ibu dari anak-anakku.

Saya tahu betul, betapa berat tugas ibu, mengandung, melahirkan, menyusukan, dan menjaga anak-anak.

Selain itu, istriku tanpa mengenal lelah, setiap hari mencuci pakaianku, dan memasakkan makanan untukku, dan anak-anakku.

Karena itu, aku selalu memaafkannya. Mungkin banyak hak-haknya yang belum sempat aku penuhi.”

Begitu sahabat Nabi SAW mempergauli istri dan membina rumah tangga baiti jannati adalah sorgaku.

Kiat Umar bin Khattab ini mesti ditiru.

Kebahagiaan rumah tangga hanya bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah.

Hindarilah sifat menang sendiri dan memaksakan kehendak.

Bina rumah tangga dengan penuh kasih sayang.

Hindari sifat tertutup dan saling curiga.

Hadapi masalah dengan bersama.

Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako sampai nan di cito.

Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan,

”Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai,

Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali,

Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso,

Handak pandai rajin balaja.”

Suami dituntut berpendir­ian teguh dengan sifat‑sifat mulia.

Lembut hati, penyabar, penyayang sesama, dan teguh iman melaksanakan suruhan Allah.

Mampu memimpin keluarga dan masyarakat dengan akhlak yang mulia,

إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.

Sesungguhnya, termasuk budi pekerti orang beriman ialah, kuat memegang agama, tegas bersikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, merebut ilmu pengetahuan, membantu dengan kasih sayang, ramahtamah dalam berilmu, sederhana di waktu kaya, mampu bersahaja dikala miskin, memelihara diri dari tamak, berusaha di jalan yang halal, selalu berbuat baik, rajin menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang berkekurangan.

Inilah profil suami ideal itu.

Suami yang berakhlak mulia akan mampu membentuk rumah tangga ideal (baiti jannati)

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ

Empat kebahagiaan dalam hidup manusia: istrinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh, dan rezekinya diperoleh di negerinya. (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali)

Ananda Putri, dengan akad nikah telah mengubah posisi menjadi seorang istri.

Wahyu al-Quran menempatkan perempuan posisi azwajan (pasangan hidup, mitra sejajar dan setara) dengan hak dan kewajiban seimbang.

Perempuan, sumber sakinah (kebahagiaan).

Merajut kasih dan rahmah.

Tenteram, dengan mawaddah kasih sayang.

Citra perempuan Minangkabau sangat sempurna diperankan pada posisi sentral IBU = Ikutan Bagi Ummat.

Ibu adalah inti keluarga yang disebut bundo kanduang. Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist).

Perempuan mendapat penghormatan mulia dalam hadist Rasulullah SAW, “sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).

Kaum perempuan wajib menjaga marwah (muruah) dengan menjaga “aurat”, sebagai ujud ciri-ciri feminim.

Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, mengubah rasionalitas menjadi intuisi, dan mendorong seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan”.

Bahkan, “hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap istri terlalu maskulin”.[1]

Tipe perempuan yang tidak boleh ditiru ;

1. perempuan yang kufur dan khianat kepada suami, seperti isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka.

š “ Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan, bagi orang-orang kafir. Keduanya, berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh, di antara hamba-hamba kami. Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya):

“Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk ( ke dalam jahannam itu)”. (QS.66,at Tahrim :10),

Nabi-nabi sekalipun, tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah, apabila mereka menentang ajaran agama.

2. perempuan yang suka meninggalkan bengkalai dan merusak rajutan, seperti di siang hari dia menenun, di malam hari mengungkai kembali tenunan itu.

Ÿ“ Dan janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan, yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)-mu sebagai alat penipu di antaramu…,” (QS.16, an-Nahl :92).

Tiga Tipe Perempuan Perlu Ditiru ;

a. Selalu menghindar dari kezaliman dan kemusyrikan. Senantiasa berharap sorga, seperti Asiyah isteri Fir’aun ;

“ Dan Allah membuat isteri Fir’aun, perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu, dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS.66 at-Tahrim : 11).

Sekalipun isteri seorang kafir, apabila menganut ajaran Allah dengan ketaatan, akhirnya, akan masuk ke dalam jannah.

b. Selalu berupaya agar generasi yang lahir, menjadi zurriyat yang memegang teguh amanah Allah, seperti isteri ‘Imran ibu dari Maryam ;

“ Dan (ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau, anak yang dalam kandunganku ini, menjadi hamba yang saleh, dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.


Maka, tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan (padahal), anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya, serta anak-anak keturunannya, dengan (pemeliharaan) Engkau (ya Allah), daripada syaitan yang terkutuk.”

(QS.3, Ali Imran : 35-36),

Doa ibu muda ini makbul.

Maryam, melahirkan anak laki-laki yang sangat baik, mulia dan bermartabat, menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk Bani Israil, yaitu Isa ibni Maryam.

c. Selalu memelihara faraj, yakni Maryam itu sendiri.

“ Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang (perempuan) yang taat.” (QS.66, Tahrim : 12).


Tugas seorang ibu rumah tangga tidak hanya sekedar menyiapkan makanan dan minuman.


Seorang ibu, adalah sumber sakinah yakni bahagia dan ketenangan.

Seorang ibu di rumah tangganya, sangat dituntut bersifat kreatif, ulet, tabah, sabar dan mampu menghidangkan keindahan.


Seorang perempuan, di Minangkabau, hati-hati melangkah.


“ boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “ (QS.2, Al Baqarah : 216)


Ada kearifan, bahwa di balik sesuatu tersimpan sesuatu. Jangan terperdaya kepada yang tampak lahir semata.


Arif melahirkan kewaspadaan dalam bertindak dan berperangai.

Dalam awa akie mambayang, Dalam baiak kanalah buruak,

Dalam galak tangih kok tibo, Hati gadang utang kok tumbuah.


Sejak awal, diperhitungkan apa mudharat dan manfaat dari suatu. Hati-hati dalam bertindak. Jangan perturutkan hati gadang, sehingga lupa nasehat orang tua-tua.

Dibalik gembira, bisa menanti duka membawa tangis. Sia-sia hutang tumbuh, kurang awas nagari kalah.


masyarakat Adat di minangkabau

telah menetapkan kemuliaan sifat perempuan,

”Adopun nan di sabuik parampuan, tapakai taratik dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu di ereang jo gendeang.

Mamakai raso jo pareso. Manaruah malu dengan sopan.

Manjauhi sumbang jo salah. Muluik manih baso katuju.

Kato baiak kucindan murah, pandai bagaua samo gadang.

Hormat kapado ibu bapo.

Khidmat kapado urang tuo-tuo, labiah kapado pihak laki-laki. Takuik kapado Allah, manuruik parentah Rasulullah.

Tahu di korong dengan kampuang, tahu di rumah dengan ranggo.

Tahu manyuri mangulindan. Takuik di budi katajua.

Malu di paham ka tagadai. Tahu di mungkin dengan patuik. Malatakkan sasuatu pado tampeknyo.

Tahu ditinggi dengan randah, bayang-bayang sapanjang badan.

Bulieh ditiru dituladan.

Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang.

Maleleh buliaeh dipalik, manitiak bulieh ditampuang.

Satitiak bulieh dilauikkan, sakapa dapek digunuangkan.

Iyo dek urang di nagari”.

Inilah, harkat perempuan di Ranah Bundo.

Mulia dan bermartabat.

Perempuan Minang, padu isi dengan lima sifat utama; benar, jujur, pandai, fasih terdidik, dan bersifat malu.

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek,

Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek.

Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,

Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.

Al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

Falsafah hidup beradat mendudukkan perempuan Minang,

limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci,

umbun puruak aluang bunian, hiasan di dalam kampuang,

sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, kalau mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka madinah, ka payuang panji ka sarugo.

Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir bernasab ke ayahnya, bersuku ke ibunya, dan bersako ke mamak atau memperoleh gelar sako dan pusako dari mamaknya. Ketek banamo gadang bagala.

Yang perlu di ingat ;

1. Jangan cepat berputus asa.

Riak jo galombang adolah permainan lauik.

Bagisia sampan jo pandayuang adaik nan alah biaso.

Usah rusuah jo putuih aso. Kandalikan kamudi elok-elok, nak ja-an ma-antak karang, karam sampan karam nakodo, karamlah rumah tanggo ananda baduo.

2. Minta selalu pertolongan dari Allah dengan shabar dan shalat.

Sesuai pesan Rasulullah SAW, Bila perlu perlindungan minta perlindungan kepada Allah. Bila engkau memerlukan pertolongan minta pertolongan dari Allah “.

3. Jangan meminta kepada jimat yang dikeramat-keramatkan, apalagi kepada paranormal. Akibatnya bisa terseret kepada mensyarikatkan Allah, satu dosa besar, ujungnya doamu tidak akan dikabulkan Allah.

4. Shalat yang lima waktu jangan dilalaikan apalagi di tinggalkan.

Doamu dinilai dari sini !!!.

Seorang istri mesti menjaga diri dan muruah-nya;

1. Pakaiannya menutup aurat.

Mamakai raso jo pareso,

Mampunyai malu dengan sopan.

“ Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.33, al Ahzab : 59).

2. Tidak berkata keras, apalagi bersikap kasar sombong, di kacak batih bak batih, di kacak langan bak langan, yang diarahkan kepada suami junjungan diri.

3. Jangan menolak panggilan suami kepada yang baik. Jangan berpuasa sunat tanpa seizin suami (kecuali puasa yang wajib). Jangan meninggalkan rumah tanpa seizin suami. Jangan berhias berlebih-lebihan untuk dilihat orang lain. Jangan lupa berbenah diri ketika suami pulang ke rumah. Jangan menerima tamu laki-laki yang bukan muhrim, di saat suami tidak di rumah.

4. Simpan rahasia rumah tangga dengan baik. Karena, suami istri adalah ibarat pakaian yang saling melindungi.

“.. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…” (QS.2, al-Baqarah : 187)

Menceritakan rahasia rumah tangga, adalah aib besar. Inilah pertanda kuatnya budi dan malu.

Rasulullah SAW telah bersabda,

“Seorang istri yang taat melakukan shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga diri (kehormatan faraj-nya), setia kepada suaminya, — dia akan di masukkan ke dalam sorga dari pintu mana saja yang dia ingini”.[2]

Alangkah mulia dan tingginya penghargaan Allah SWT bagi seorang istri. Bila ia mau mengamalkannya.

Dengan bekalan syariat agama Islam dan adat istiadat yang baik akan dapat dibina rumah tangga sakinah, “Baiti jannati”, yakni Rumah Tanga Sorga.

Pesan Rasulullah SAW, “ sinarilah rumah tangga kalian berdua, dengan shalat dan bacaan Alquran.”

Bismillah, dengan pedoman hidup ini layarkanlah bahtera hidup, hati-hati memegang kemudi,

Insya Allah terjejak tanah tepi.

Kami bersama mendoakan.

Semoga Allah akan senantiasa melimpahkan berkah yang banyak kepada ananda berdua yang telah mengumpulkan ananada berdua ke dalam kebaikan. Amin Ya Mujibas Sailina.

Ucapan Selamat, kepada kedua orang tua, ayah dan bunda yang berbahagia, karena telah menunaikan tanggung-jawab patah tumbuah hilang baganti, dari mengazankan anak ketika lahir, memberi nama yang baik pada mereka, memberi makanan, pakaian baik-halal, dan pendidikan cukup, kemudian, mengantarkan kejenjang pernikahan,


اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،


اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا.


اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.


Padang, 1430 H / 2009 M


[1] Hani’ah, HISKI, UNP-1997, dan Armiyn Pane, “Belenggu”

[2] Hadist dari Anas bin Malik.

3 pemikiran pada “Kiat Membina Rumah Tangga Sorga (Baiti Jananati) dengan bimbingan Kitabullah dan Adat di Minangkabau

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s