Meraih Keberhasilan Bekerja

Meraih Keberhasilan Bekerja

menurut Bimbingan Agama Islam

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

«  Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. »

« (Mereka mengerjakan yang demikian) supaya Allah memberikan pahala kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Allah memberi rezeki kepada siapa yang di kehendaki-Nya tanpa batas. » (Q.S. An-Nur: 37-38)

past-photo-masoed-abidinDalam Islam setiap orang dituntut bekerja. Setiap orang disuruh menyebar di muka bumi, untuk mencari rezeki yang Allah telah hamparkan untuk manusia. Allah SWT berfirman:

“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Q.S. Al-Mulk: 15)

Bekerja adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang, baik sendiri atau bersama orang lain, untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa.

Islam membukakan pintu amal bagi setiap orang agar ia dapat memilih amalan atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan pilihannya. Islam tidak membatasi suatu pekerjaan secara khusus, kecuali demi pertimbangan kemaslahatan masyarakat dan lingkungan. Islam tidak akan menutup peluang kerja seseorang kecuali jika pekerjaan itu akan merusak fisik ataupun mental. Setiap pekerjaan yang merusak diharamkan oleh Islam.

Dengan bekerja, seseorang akan memperoleh penghasilan, laba, atau imbalan, yang dapat digunakannya untuk memenuhi nafkahnya dan keluarganya, baik sandang, papan maupun pangan.

Mencari nafkah dengan bekerja secara halal adalah suatu kewajiban setiap muslim.

Para Nabiyullah ‘Alaihissalam pun orang-orang yang senantiasa melestarikan kewajiban ini.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan keberhasilan dan keberkahan dalam dunia usaha dan kerja. Di antaranya adalah tersedia faktor pendukung fisik material (yakni, tenaga manusia, modal atau kapital dan alat-alat pendukungnya), dan faktor mental spritual.

a) Skill, keahlian, kepandaian dan keterampilan adalah faktor yang cukup menentukan keberhasilan seseorang dalam segala bidang usaha dan pekerjaan. Dalam usaha dagang misalnya, diperlukan pengetahuan khusus seperti ekonomi umum, marketing, management dan pembukuan.

b) Iman dan Taqwa, – menjamin keberhasilan dan keberkahan setiap usaha dan pekerjaan.

c) Kejujuran, menjadi modal utama setiap orang dalam bekerja. Karena kejujuran seseorang dipercaya oleh orang lain. Jika seseorang menelantarkan kejujuran dengan berlaku khianat, curang atau culas, maka akan sempitlah ruang geraknya dan sempit pula peluang rezekinya. Begitu berharganya kejujuran, Rasulullah SAW bersabda:

“Pedagang yang jujur lagi dipercaya, (akan duduk) bersama para Nabi, Shadiqin dan para Syuhada (orang-orang yang mati syahid)”. (H.R. Tirmidzi dan Hakim)

d) Azam (kemauan keras dan Istiqamah (tekun). Kemauan keras untuk terus maju (azam), tekun (istiqamah) dan sabar memegang peranan penting dalam dunia usaha. Pekerja yang berhasil adalah mereka yang tidak pernah berputus asa. Mereka selalu memiliki azam dan istiqamah dalam bekerja dan membina usaha, dengan melahirkan inisiatif, daya cipta, gagasan dan kreasi-kreasi baru dalam rangka meningkatkan karya dan pengembangan usahanya.

Sikap azam, istiqamah serta kesabaran adalah pakaian para Rasul Sikap mental yang terpuji ini perlu diterapkan oleh setiap pekerja di semua profesi yang ia tekuni.

e) Tawakkal. Keberuntungan dalam bekerja bukanlah suatu yang dapat dicapai hanya semata dengan kalkulasi matematik. Agama Islam mengajarkan perlunya tawakkal, yaitu membuat perhitungan, perencanaan yang matang, dan mengerjakan dengan sebaik-baiknya serta mempercayakan dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.

f) Qana’ah. Sikap qana’ah, senang menerima apa adanya dari anugerah Allah adalah salah satu sikap yang mesti dipunyai oleh siapa saja yang ingin berhasil dalam usahanya dan diridhai oleh Allah. Qana’ah menjauhkan seseorang dari sifat tamak dan rakus sehingga jiwanya tenteram dan selalu bahagia memeroleh anugerah Allah dalam bentuk harta juga diberi kekayaan batin. Rasulullah SAW bersabda ;

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang memadai (cukup) dan Allah menjadikan dia puas (qana’ah) dengan pemberian itu.” (H.R. Muslim)

g) Zakat dan Infaq. Tanda syukur atas anugerah Allah berupa harta benda adalah membersihkannya dengan membayar zakat dan berinfaq, maka harta akan mendapat berkahnya, dan janji Allah akan mngganti lebih banyak dan lebih baik. Allah SWT berfirman:

« Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantiknya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya”. » (Q.S. Saba’: 39).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s