Pernikahan adalah Ibadah Sakral, Hati-hatilah dalam memilih Jodoh

MEMILIH JODOH, dan Pelaksanaan Perkawinan dalam Islam

pernikahan adalah ibadah yang sakral

 

Oleh : H. Mas’oed Abidin

الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات.  اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِ الكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات.  أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ .

Mukaddimah

Pernikahan adalah ibadah yang sakral. Mempunyai risiko hukum yang memungkinkan terjadi pengharaman pada waktu yang tidak disadari. Maka, harus diperhatikan dalam mengaplikasikan hadits berikut, “Empat hal yang dibolehkan jika keempat hal itu diucapkan, yaitu : “Thalaq, Memerdekakan (hamba sahaya), Nikah dan Nadzar.”

buya-dan-hrustam-madinahSeperti diriwayatkan dari Umar RA., bahwa Ali bin Abi Thalib Karamallhu wajhahu, berkata; Tidak ada gurauan dalam keempat hal itu.” Yang dimaksud dengan gurauan di sini adalah bermain-main dengan menyebut suatu ungkapan yang bukan pada tempatnya, seperti seorang berkata, “Aku nikahkan kamu dengan putriku”, sementara ia sendiri tidak bermaksud menikahkan putrinya itu, dengan lawan bicaranya yang laki-laki tersebut. Demikian Ali bin Abi Thalib RA berpendapat dalam riwayat Umar dimaksud.

52

Hal yang terpenting dalam kehidupan di dunia ini adalah kebahagiaan, melalui “proses penyempurnaan” ke arah pencapaiannya. Di akhirat tidak lagi penyempurnaan, seperti yang dialami di dunia ini.

Proses penyempurnaan hanya ada di dunia, dengan makna bahwa di akhirat kita akan menerima sesuai dengan apa yang diperbuat di dunia ini. Maka, kehidupan di dunia ini seperti ungkapan, “Dunia tempat beramal, dan akhirat adalah tempat menerima ganjarannya“, sesuai dengan apa yang kita usahakan di dunia, kita renungkan hadits ini,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الْصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْحَنِيْءُ .وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ الْسُوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ الْسُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيَّقُ.

(رَوَاهُ أَحْمَدٌ وَ إِبْنُ حِبَّانٌ).

“Empat hal yang merupakan kebahagiaan, yaitu: perempuan shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: tetangga yang jahat, istri yang jahat, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban). 

Hadist ini menjelaskan bahwa perempuan yang shalehah itu adalah perempuan yang patuh pada ajaran agama, suami, pandai menjaga hati suaminya, pandai menjaga kehormatan dan martabat serta keluarganya.

Rumah yang luas adalah tempat tinggal yang sarat dengan nilai-nilai religius, saling amanah (mempercayai), terhindar dari rona keduniaan, yang dapat melupakan perintah Allâh.

Dalam kehidupan di dunia ini, perlu ada keyakinan bahwa hanya Allâh satu-satunya pembimbing keluarganya mereka (QS. Al-Munâfiqûn/63: 9).

Keluarga sedemikian akan berkata,

rumahku adalah sorgaku”.

Maka menikah itu separoh dari agama, sebagaimana sabda Rasul Allâh SAW,

اِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْدُ فَقَدِاْستَعْمَلَ نِصْفُ اْلدِّيْنُ فَاْليَتَّقِ اللهَ فِي اْلنِّصْفِ الْبَاقِي  . رَوَاهُ البَيْهَقِى.

“Apabila telah nikah seseorang, maka ia benar-benar telah menyempurnakan seruan agama. Maka hendaklah ia takut kepada Allâh pada separoh yang tinggal” (HR. Baihaqiy).

 

 

Dorongan Untuk Melangsungkan Pernikahan

Mengenai pernikahan ini Rasul Allâh, Muhammad SAW (570-632 H)[1], memberi dorongan kepada para Pemuda yang telah mampu, pesan itu diungkapkan dalam hadits berikut ini,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ لَنَارَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَائَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (رَوَاهُ مُتَفَقٌّ عَلَيْهِ)[2]

“Rasul Allâh SAW bersabda : “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu sudah mampu (lahir dan bathin) untuk berkeluarga, maka kawinlah. Sesungguhnya hal yang demikian lebih memelihara pandangan mata, memelihara kehormatan, dan siapa yang belum mampu untuk berkeluarga, dianjurkan baginya untuk berpuasa, karena hal itu akan menjadi pelindung dari segala perbuatan memperturutkan syahwat.” (HR. Mutafaqq `alaihi).[3]

Dan Allâh meridhai akan hal ini, serta memberikan statemen yang patut diyakini yaitu;

تزويج العسر, لقوله تعالى: … إِنْ يَّكُونُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ والله وَاسِعٌ عَلِيْمٌ.

“Kesulitan dalam pelaksanaan nikah, sebagaimana firman Allâh: Yakinlah, jika kamu miskin Allâh akan memampukan kamu dengan karunia (rezki-Nya), dan Allâh Maha luas (pemberian-Nya).” (Bukhâriy, Jilid 3, Juz 7, halaman 8).[4]

Kandungan hadits ini berisi ;

a)      Dorongan bagi generasi muda yang telah mampu lahir bathin untuk segera melangsungkan pernikahan dan berkeluarga.

b)      Pernikahan itu lebih mampu memelihara kehormatan diri.

c)      Dorongan untuk melakukan puasa, sunat bagi pemuda yang belum mampu kawin, untuk maksud membentengi diri dari syahwat.

Demikian pentingnya melangsungkan sebuah pernikahan yang akan melanggengkan kehidupan, sesuai ajaran Islam.

Ketika manusia dalam keadaan berduka, atau dalam kemiskinan, bukanlah penghalang untuk melangsungkan pernikahan, karena Allâh menjamin rizkinya.

 

“ Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian – yakni, hendaklah laki-laki yang belum kawin atau perempuan- perempuan yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin –, di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nûr/24: 32).

Pernikahan menjamin keseimbangan dalam kehidupan, dengan adaya pasangan suami-isteri.

Memilih calon isteri/suami, dianjurkan yang jauh dari hubungan keluarga. Umar bin Khaththab RA. menganjurkan, Aghribu wa lâ tadhawwu(carilah yang jauh/asing dan jangan kamu menjadi lemah). Hal ini akan menjadi satu perekat tali persaudaraan muslim semakin besar. Maka, bila kemampuan sudah ada, tetapi tidak mau melakukan pernikahan, keadaan itu akan mengundang bahaya, sebagaimana dipaparkan Rasul Allâh SAW,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

(رَوَاهُ التُّرْ مُذِىوَإِبْنُ حِبَّانٌ فِى صَحِيْحِهِ)

“Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah mulut dan kemaluannya.” (HR. Al-Tirmidziy dan dia berkata hadits ini shahih).

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

Sabda Nabi Muhammad SAW, menyebutkan,

 Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain. (Hadits Qudsi).[5] Dapat disimpulkan bahwa agama Islam sangat mengecam pola hidup yang lebih menyukai membujang (celibat), yaitu hidup tanpa ada ikatan perkawinan yang sah. Agama Islam melarang celibat tersebut terjadi dalam kondisi ia mampu untuk nikah, kecuali ada alasan biologis, seperti impoten[6].

Hidup membujangkan (celibat) memberi peluang untuk berbuat serong, menimbulkan fitnah, tidak sesuai dengan fitrah manusia yang sesungguhnya, mudah jatuh kelobang zina. Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa daripada zina”.

Di akhir zaman, manusia akan berjuang untuk menghalalkan Zina sebagaimana telah diprediksi oleh Rasul Allâh SAW berikut,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).[7]

Peringatan Rasul Allâh SAW di atas, sekaligus perintah agar umat Islam membatasi pergaulan dengan lain jenis, agar terjauh dari pornoaksi ini.

لاَيَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ)

“Janganlah sekali-kali (di antara kalian) berduaan dengan perempuan, kecuali dengan mahramnya.” (HR. Al-Bukhâriy dan Muslim).

Melaksanakan hadist Nabi SAW ini, akan dapat diantisipasi timbulnya pelanggaran hukum, menjauhi yang diharamkan, dan sekaligus merupakan perlindungan hak-hak dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan, baik di kalangan pribadi muslim maupun antar sesama manusia, dan terpeliharanya hubungan dengan Sang Khaliq (hablun minallah). Hadist Rasul Allâh SAW ini menjadi panduan hidup muslim yang memberikan batasan-batasan sebagai syari`at (ketentuan agama Islam).


[1]  Muhammad SAW, adalah orang nomor satu dunia dalam sejarah peradaban manusia, beliau seorang pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif. Lihat Michail H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1988), Cet. Ke-8. judul asli: The 100`s, a Ranking of The Most Influential Persons in History.

[2]  Al-Bukhâriy, Shahih al-Bukhâri, (Bairut : Dâr al-Ihyâ’ al-Turâts al-`Arabiy, [tth]), Juz 7, h. 3

[3]  Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari pada kitab al-Nikah, Jilid tiga, juz tujuh halaman tiga dan Shahih Muslim pada kitab al-Nikah, Juz  2, halaman 118-119.

[4] (سُوْرَةُالنُّوْرِ/24:32) (رَوَاهُ الْبُخَارِى-كِتَابُ النِّكَاحِ-جِلِدْ 3, جُزْءٌ 7:8)

[5]  Menurut bahasa kata Qudsi adalah dinisbatkan pada lafazh “al-Qudsu” atau “alQudusu“. Artinya suci dan bersih. Disebut juga hadits Ilahiy, dinisbatkan pada lafazh “al-Hilâhu”. Atau disebut juga hadits rabbaniy, dinisbatkan pada lafazh “al-Rabbu“. Menurut istilah sesuatu yang didasarkan dan di-isnadkan oleh Nabi SAW kepada Allâh, tapi bukan al-Qur’ân.

[6]  Kecuali dalam ajaran Nasrani khususnya Rum Katolik, yang menganggap celibate tersebut suatu hal yang mulia, bahkan mencerminkan kesempurnaan agamanya (seperti yang dialami oleh Yesus hingga di salib dan Maryam yang tetap perawan). Dasar mereka adalah Injil Matius 19: 12, 27-29; Korintus 7: 32-33 dan Surat Paulus, Rum 12: 1 yang isinya: “karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allâh aku menasehati kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allâh; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Lembaga Al-Kitab Indonesia, Al-Kitab, ( Jakarta: LAI, 1990), h. 203- PB, tapi sebagian mereka membolehkan. Yang menentang sikap menyendiri atau tidak berkawin mawin adalah Kristen Protestan, menganggap ini pernikahan sebagai sunnah Allâh. (lihat Abu Jamin Rohan, Garam Dunia, (Jakarta : Yayasan Garam Dunia, 2001), No. 180, Th. V, juga No. 181. Namun ajaran islam tidak mengajarkan pola hidup yang egois ini.

[7] صَحِيْحُ الْجَمْع/ِ 5466

Rahasia besar Membuat Rumahku Sorgaku

Rahasia besar Membuat Rumahku Sorgaku

Perhatikanlah Kenapa Siti Khadijah

Sangat Dicintai Rasul Allâh

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

 

Siti Khadijah adalah isteri pertama nabi Muhammad SAW, dan beliau tidak menikah lagi sampai Siti Khadijah meninggal dunia, demikianlah hubungan kasih sayang di antara beliau dan isterinya.

Karena hal tersebut menjadi skenario yang bijak menurut kehendak Allâh, dan sesuai dengan firman-Nya,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًالِتَسْكُنُوْااِلَيْهَاوَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لآ يَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”. (QS. Al-Rûm/30: 21) .

Khadijah binti Khuwailid, memandang Nabi SAW adalah orang yang sangat cerdas, jujur. Khadijah telah mendapatkan barang yang mulai hilang dari perilaku manusia ketika itu.

Di dalam berdagang, Nabi Muhammad SAW sangat menjaga amanah dari perempuan yang memberikan kepercayaan kepadanya, di mana selama ini Khadijah hampir tidak pernah lagi melihat watak mulia itu. Atas keterangan pembantunya Maisarah, beliau menjadi tertarik pada Nabi SAW dan akhirnya terjadilah pinang meminang antara kedua keluarga.

Akad nikah dilaksanakan, dihadiri oleh Bani Hasyim dan para Pemuka Bani Mudhar. Maskawinnya dua puluh ekor onta.

Khadijah adalah orang yang pertama dinikahi Nabi SAW. Beliau tak pernah nikah sampai Khadijah meninggal dunia. Semua putera-puteri beliau, selain Ibrahim yang dilahirkan dari Maria Al-Qibthiyah, dilahirkan dari rahim Khadijah. Yang pertama adalah Al-Qasim dan dengan nama ini beliau dijuluki (Abu al-Qasim), kemudian Zainab, Ruqayyah, Umm Kultsum, Fathimah dan Abdullah.

Semua putra beliau meninggal dunia selagi kecil. Sedangkan semua puteri beliau sempat menemui Islam serta ikut hijrah. Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi beliau masih hidup, kecuali Fathimah. Dia meninggal dunia enam bulan setelah Rasul Allâh SAW wafat.

Tercatat dalam sejarah, bahwa Siti Khadijah binti Khuwailid adalah isteri Nabi yang sangat ia cintai dan menduduki tempat yang khusus di dalam lubuk hati Rasul Allâh SAW, selalu diceritakan dan disebut-sebut oleh beliau kepada isteri-isterinya yang lain. Pernah satu kali Siti Aisyah berkata kepada Nabi Muhammad kira-kira,Apakah yang harus diingat-ingat lagi kepada perempuan tua itu …!”, Merah padam muka Rasul Allâh pada waktu itu menahan marahnya terhadap Siti `Aisyah.

90

 

Karena sangat cinta Nabi SAW. Apabila Muhammad kebetulan memotong kambing, maka Nabi selalu menyuruh supaya sebagian dari daging kambing itu diberikan kepada orang-orang yang sebaya dan teman-teman akrab Siti Khadijah, yang mengembalikan ingatan beliau kepada isteri yang terkesan di lubuk hatinya itu. Begitulah cintanya Nabi Muhammad kepada Siti Khadijah yang perlu dikaji bagi kaum ibu khususnya sehingga bagi kaum bapak ia akan berkata, “Rumahku adalah syorgaku”.

Kenapa Nabi sangat cinta kepada Siti Khadijah, ini pernah dikemukakan Nabi dengan kata-kata ;

“Sesunguhnya demi Allâh! Tuhan tidak menggantikan bagiku isteri yang lebih baik dari pada Khadijah. Dia beriman bersama-samaku di waktu manusia yang lain masih engkar. Dia membenarkan aku dikala manusia yang lain mendustakan, ia melapangkan aku dengan mengorbankan harta bendanya di waktu manusia yang lain tidak mau memberi. Tuhan mengaruniakan kepada kami anak-anak yang tidak kunikmati dari isteri-isteri yang lain”.

Dari ungkapan Nabi di atas, dikatakan ada empat sebab Siti Khadijah sehingga Nabi SAW sangat cinta kepadanya, yaitu:

Pertama, Khadijah tetap beriman kepada Nabi, di kala manusia yang lain masih engkar, dengan tulus dan ikhlas. Suatu hal yang memberi kesan pada diri Nabi di saat orang tak mau beriman kepadanya lalu muncul seorang yang tanpa ragu siap untuk beriman. Pada saat itu sangat terangkat jiwanya, Khadijah beriman kepada Muhammad bukan karena faktor kekayaan tapi berdasarkan kejujuran yang muncul dari diri Nabi Muhammad SAW. Iman adalah suatu keyakinan yang melekat dalam hati dinyatakan dengan lisan, diamalkan dengan panca indera. Kalau kita kaitkan iman ini dengan keyakinan seorang isteri kepada suaminya adalah suatu prinsip dasar dan keyakinannya bahwa suaminya sangat mencintainya. Kepercayaan seorang isteri kepada suaminya itu harus dipelihara dan ditunjukkan dalam ucapan, tindakan, namun demikian kepercayaan yang berlebih-lebihan tidak baik pula. Misalnya suami terlambat pulang, tidak ditanya atau tidak pulang semalaman tidak ada pertanyaan apapun dan tentu akan menimbulkan efek lain misalnya suami merasa tidak diperhatikan. Siti Khadijah adalah orang yang sangat bijak dalam hal ini.

Kedua, Khadijah selalu membenarkan apa saja yang disampaikan suaminya.

Khadijah adalah orang yang ta’at kepada suaminya. Dalam hal ini timbul pertanyaan, ialah kalau yang dikatakan itu benar bagaimana kalau yang salah. Kalau suami berkata yang salah, perkataan itu dengarkan dulu sampai dia selesai bicara, hendaknya isteri menyanggah atau meluruskan dengan intonasi keperempuanannya dan mengemukakan bukti-bukti yang memungkinkan. Kalau ia tak mau memahami, tentu dituntut kesabaran si isteri, kan orang bijak pernah berkata, “menghadapi suami sama halnya dengan anak TK yang sudah besar”. Inilah yang selalu dipelihara oleh Siti Khadijah dalam keluarganya.

Ketiga, Khadijah adalah isteri yang mau berkorban untuk kepentingan suaminya. Siti Khadijah adalah seorang isteri yang mau mengorbankan hartanya untuk kepentingan suaminya. Ia sangat merasakan miliknya adalah milik suaminya, cita-cita suaminya adalah cita-citanya, ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun. Tidak jalan sendiri-sendiri.

Keempat, Memperoleh keturunan dari Khadijah, anak-anak beliau tidak satupun yang mengingkari beliau, sama-sama beriman kepada Nabi SAW.

Itulah empat keistimewaan Khadijah yang menjadi sebab kenapa Nabi sangat cinta kepadanya, yang patut ditauladani oleh para ibu atau isteri-isteri orang yang beriman dan shaleh. Karena tauladan yang paling baik bagi kaum perempuan itu adalah umm al-mukminîn yakni para isteri Nabi Muhammad SAW. Ketika canang kebebasan mulai diguguh, korban manusia berguguran karena hilang kendali yang melahirkan balas dendam. Kaum perempuan kembali jadi sasaran.

Bahaya besar mengancam generasi. Setiap kita berkewajiban mencegah, dengan berdo’a secara tulus ikhlas agar kemelut tidak terjadi.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat bermanfaat, bagi semua umat islam, khusus bagi penulis sendiri menajadi amal yang shaleh. Amien. Wa Allâhu A`lam bi al-Shawâb.

Tata Cara Mandi Wajib Menurut Bimbingan Islam

Tata Cara Mandi Wajib

Menurut Bimbingan Agama Islam

Oleh Buya H. Masoed Abidin

1.Berniat dalam hati, tidak perlu dilafazkan. Contoh Niat, “Bismillâhi al-Rahmâni al-Rahîm, sengaja aku mandi wajib (membersihkan hadas dan najis) karena Allâh  subhânahu wata`âlâ.

2.Membasuh Seluruh Anggota Badan. Pada saat membasuh anggota badan, ada beberapa hal yang disunatkan:

a.Mulailah dengan mencuci kedua tangan tiga kali.

b.Kemudian membasuh kemaluan.

c.Lalu berwudhu’ secara sempurna, seperti halnya wudhu’ untuk shalat. Mulai dari sebelah kanan.

d.Kemudian menuangkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali sambil menyelang-menyelangi rambut agar air sampai membasahi urat-uratnya. (ini khusus membasahi kepala saja atau sama dengan seseorang membersihkan rambutnya pakai shampo).

e.Lalu mengalirkan air keseluruh badan dengan memulai sebelah kanan lalu sebelah kiri tanpa mengabaikan kedua ketiak, bagian dalam telinga, pusar dan jari-jari kaki serta menggosok anggota tubuh yang dapat digosok. Mengalirkan air sedikitnya tiga kali. Selesai.

f.Khusus untuk perempuan yang berambut panjang tidak diwajibkan menguraikan rambutnya seperti laki-laki. Sabda Rasul Allâh SAW, “Bahwa seseorang perempuan bertanya kepada Rasul Allâh SAW: “Jalinan rambutku amat ketat, haruskah diuraikan jika hendak mandi janabah? ”Rasul AllâhSAW menjawab: “Cukuplah bila engkau menuangkan ke atasnya air tiga kali, kemudian engkau timbakan ke seluruh tubuhmu. Dengan demikian engkau telah suci.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidziy).

Semua aturan ini berdasarkan pemahaman prinsip-prinsip ajaran Islam, yang mengandung hikmah dan kebaikan untuk semua manusia, terutama sekali bagi umat islam, untuk menjaga kepuasan bagi sesama pasangan berdasarkan tujuan awal dari pernikahan yaitu ibadah kepada Allâh, serta untuk menjaga kelestarian keturunan, disamping suatu wadah penyaluran hasrat sex yang dimiliki manusia kepada lawan jenis secara sehat dan bermartabat lagi terhormat. Maka bertakwalah kepada Allâh dan ta`atlah.

Ketahuilah, pada hakekatnya maksud dari syari`at adalah mentaati Allâh secara mutlak, karena manusia hanya dapat mengkaji, memahami dan mengamalkannya berdasarkan kemampuan intelektual yang dianugerahkan-Nya.

Dalam berbagai literatur ditemukan banyak fatwa-fatwa ulama tentang perempuan, berkisar antara profesi dan status perempuan sebagai mitra laki-laki dalam urusan mu`amalah, namun dalam masalah ibadah, perempuan mendapat tempat tersendiri. Contoh, perempuan yang haid tidak diwajibkan melakukan shalat, sampai ia suci, dari haid atau bahkan dalam keadaan nifas juga termasuk dalam kategori ini. Contoh lain, seorang isteri yang ingin berpuasa sunat dalam keadaan yang sama ia harus menuhi hasrat seksual suaminya, pada saat itu, bagi sang isteri tidak ada pilihan lain, hanya memenuhi hasrat suaminya, dengan ikhlas, akan menjadi ibadah baginya, melebihi puasanya yang akan dilakukan.

Lelaki (suami) yang bertaqwa, tentulah tidak meminta istrinya membatalkan puasa, hanya karena ingin memenuhi hajat libidonya. Hamba yang mukmin dan muttaqin, tentulah mampu mengendalikan hasratnya.

Demikian Islam menghormati kaum laki-laki dan menghargai perempuan dengan pahala yang seharusnya berada dalam keinginan yang tidak terbayangkan. Dan banyak lagi peluang-peluang terhormat lainnya terkadang diabaikan atau bahkan meremehkannya. Nabi Muhammad SAW pernah mengisyaratkan, “kalaulah tidak dilarang makhluk menyembah makhluk, maka akan aku perintahkan isteri menyembah pada suaminya.”

Begitu berharganya penghormatan yang diberikan kepda sang suami. Konsekwensi dari penghormatan terhadap suami (lelaki) ini, maka seorang suami bertanggungjawab terhadap perlindungan dan kasih sayang tercurah dengan tulus kepada istrinya.

Di mata sang isteri hanya suaminya menjadi sanjungan, setelah kecintaan kepada Allâh dan Rasul.

Maklumilah, bahwa Allah pula yang mewasiatkan kepada setiap manusia agar menghormati dan berterima kasih kepada kedua orang tua (ayah dan bunda).

Di sini terletak pokok akhlak mulia itu.

Hubungan Suami Istri menurut Etika Islam

Hubungan Suami Istri menurut Etika Islam

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

Jodoh adalah Qadha’ (ketentuan) Allâh, di mana manusia tidak punya andil menentukan, manusia hanya dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Untuk itu perlu diperhatikan sungguh-sungguh watak dan ciri-ciri dari pasangan hidup yang sewajarnya akan menjadi pendamping (suami-isteri).

Tercantum dalam Al Qur’ân: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali dengan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang mukmin. (QS. Al-Nûr/24: 3).

A.     Sebelum Melakukan Hubungan Seks (Coitus)

Pengantin atau suami isteri sebelum melakukan hubungan biologis (coitus) penganten atau suami-isteri mesti melaksanakan hal-hal berikut ini:

1.        Wajib memberikan mahar terlebih dulu (bagi pengantin baru) jika maharnya di utang, harus dibayarkan maharnya dulu, sabda Rasul Allâh, SAW: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi SAW, melarang Ali menggauli Fatimah sampai ia memberikan sesuatu (mahar) kepadanya. Lalu jawab Ali: “Saya tidak punya apa-apa.” Maka sabda Rasul Allâh, “Dimana baju besi ‘Hutamiyahmu? Lalu berikanlah barang itu kepadanya. (HR. Abu Dâud, Al-Nasâ’iy dan Hakim)

2.        Membersihkan badan (mandi) dari hadas dan najis serta hal-hal berbau tak sedap.[1]

3.        Setelah bersih, hendaklah berwudhu’, yang termasuk padanya membersihkan mulut, hidung, tangan, muka dan lainnya anggota wudhu’.

4.        Pakailah cahaya remang-remang atau gelap, karena dalam suasana demikian akan meningkatkan konsentrasi, sehingga segala kekurangan jasmaniah dapat diatasi.

5.        Berdo’a kepada Allâh (semoga Allâh melimpahkan nikmat-Nya), seperti do’a diajarkan[2]

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ قَالَ لَوْ أَنَّكُمْ إِذَا آتَى أَهْلَهُ قَالَ : بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَقُضِىَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌلَمْ يَضُرُهُ.

“Dari Ibnu Abbas r.a. ia menyampaikan apa yang diterima dari Nabi SAW. Beliau bersabda, “Andaikata seseorang diantara kamu semua mendatangi (menggauli) isterinya, ucapkanlah, “Bismi Allâhi, Allâhumma Jannibnâ Syaithânâ wajannibi al-syaithânâ mâ razaqtanâ.” (dengan nama Allâh. Ya Allâh, hindarilah kami dari syetan dan jagalah apa yang engkau rizkikan kepada kami dari syetan.” Maka apabila ditakdirkan bahwa mereka berdua akan mempunyai anak, syetan tidak akan pernah bisa membahayakannya.” (HR. Bukhâriy dalam Kitab Shahihnya pada Kitab Wudhuk Hadits ke-141). 

6.        Mulailah coitus dengan awal lembut dan harmonis tanpa paksaan. Lakukan jima’ pada sepertiga malam (pukul 10 keatas), atau pada tiga waktu yang nyaman yaitu, sebelum shalat subuh, tengah hari, dan sesudah shalat isya’, sebagaimana disebut dalam wahyu ;

 

” Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allâh menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Nûr/24: 58).

Sabda Rasul Allâh SAW: “Siapa pun diantara kamu, janganlah menyamai isterinya seperti seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia dahului dengan perentaraan. Selanjutnya, ada yang bertanya: Apakah perantaraan itu ?

Rasul Allâh SAW bersabda, “yaitu ciuman dan ucapan-ucapan romantis”. (HR. Bukhâriy dan Muslim).

7.        Dilakukan dalam kondisi yang sehat dan menyenangkan bagi kedua pasangan. Dalam keadaan begini insyâ Allâh akan sama menikmati dan dilakukan dalam keadaan siap fisik dan psychis kedua pasangan.[3]

8.        Setelah selesai melakukan hubungan intim, hendaknya membaca do`a,

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا.

“Segala puji bagi Allâh yang telah menjadikan manusia dari air (mani), lalu menjadikan pertalian darah, dan hubungan perkawinan. Dan Allâh adalah Maha Berkuasa”.  

9.        Apabila ingin memulai yang kedua atau seterusnya lebih afdhallah melakukan wudhu’, sekurang-kurangnya membasuh faraj dengan bersih.

B.    Sesudah Melakukan Hubungan Seks

Suami-isteri yang baru saja melakukan hubungan seks (coitus, jima’) dalam fiqh thaharah disebut dengan istilah junub (berjunub), maka ia wajib mandi (QS. Al-Mâidah/5: 6).

Agama Islam menetapkan ada beberapa macam yang menyebabkan seseorang wajib mandi dalam fiqh Islam sebagai ijtihad al-thathbiqy (penerapan hukum):

1.      Karena melakukan hubungan seksual (coitus/jima’)

2.      Keluarnya mani (sperma), (bermimpi, senggama, sengaja atau tidak sengaja). Rasul Allâh SAW bersabda, Apabila air (sperma) itu terpancar keras, maka mandilah. (HR. Abu Dâud). Kalau tidak keluar mani, maka Rasul Allâh SAW. menerangkan, dalam hadits berikut,

عَنْ أُبَىَّ ابْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ فَلَمْ يُنْزِلْ. قَالَ “يَغْتَسِلُ مَا مَسَّ الْمَرْأَةَ مِنْهَ ثُمَّ يَتَوَضَّاءُ وَيُصَلِّى”. قَالَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ: الْغَسَلَ اَحْوَطُ وَذَاكَ اْلآخِرُوَإِنَّمَا بَيْنَا ِلإِخْتِلاَفِيْهِمْ. ( رَوَاهُ الْبُخَارِى فِى الْكِتَابِ الْصَّحِحِهِ/كِتَابٌ الْغُسْلِ–حَدِيْثٌ- 290 )

116

“Dari Ubai bin Ka`ab bahwasanya ia berkata : “Wahai Rasul Allâh, apabila ia seorang laki-laki menyetubuhi isterinya, tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang diwajibkan olehnya? Beliau bersabda, ”Hendaknya dia mencuci bagian-bagian yang berhubungan dengan kemaluan perempuan, berwudhu’ dan lalu shalat”. Abu `Abd Allâh berkata, “mandi adalah lebih berhati-hati dan merupakan peraturan hukum yang terakhir. Namun mengetahui tidak wajibnya mandi kamu uraikan juga untuk menerangkan adanya perselisihan pendapat antara orang `alim.” (HR. Bukhâriy dalam Kitab Shahihnya/Kitab Mandi, hadits ke-290)

3.      Berhenti Haid dan Nifas

Rasul Allâh SAW, “Dari Fatimah binti Abi Hubaisy, Rasul Allâh SAW bersabda, Apabila haidmu datang maka tinggalkanlah shalat dan apabila haid tersebut telah selesai maka mandilah kemudian shalat.”

4.      Karena Meninggal Dunia.

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW bersabda, “Mandikanlah olehmu dengan air dan bidara …. (HR. Mutafaqq ‘alaih)

C.    Hubungan Seks yang Dilarang Islam

Banyak buku-buku Islam mengenai Rumah Tangga, Kebahagiaan Rumah Tangga yang membahas masalah senggama, dalam Bâb al-Jima’, ada beberapa yang mesti dihindari dan dapat menjauh dari etika religi menurut agama Islam. Hal yang melanggar adab Jima` dalam Islam, antara lain ;

1.      Berbugil (kecuali dalam selimut).

2.      Oral sex.

3.      Bersetubuh lewat dubur.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَلْعُوْنٌ مَنْ اَتَى إِمْرَأَةً مِنْ دُبُوْرِهَا (رَوَاهُ اَبُوْدَاوُدْ وَ النَّسَاءِى)

“Dari Abu Hurairah radhiy Allâhu `anhu, Rasul Allâh SAW bersabda, “Terkutuklah siapa saja yang menggauli isterinya melalui duburnya”. (HR. Abu Dâud dan al-Nasâ’iy)

4.      Menyakiti/berlaku kasar terhadap pasangan (QS. Al-Nisâ’/4 : 14).

5.      Bersetubuh waktu perempuan haid, seperti firman Allâh berikut;

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَأَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.

118

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allâh kepadamu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah/2: 222)

Imam Al-Ghazali16 dalam Ihya’ `Ulumuddin mengulas lengkap masalah ini berdasarkan Al-Qur’ân, Hadis dan Ijtihadnya.

Beliau menyebutkan misalnya di mana saja dari bagian tubuh perempuan itu yang sensitif dan yang sangat sensitif, yang berbeda pada setiap perempuan, maka sangat perlu ada komunikasi intim.


[1] Dr. H. Ali Akbar, menambahkan bahwa pada tahap mandi bersih-bersih ini hendaklah dikosongkan kantong kencing, dan membersihkan penis (alat kelamin laki-laki) dan vagina (alat kelamin perempuan).

[2] رَوَاهُ الْبُخَارِى فِى اْلكِتَابِ الصَّحِيْحِهِ/كِتَابُ الْوُضُوْءِ- حَدِيْثٌ- 141

[3] Selanjutnya dalam masalah ini Ali Akbar berpesan, “Bagi kita kaum muslimin, adab seksual yang baik dan terpuji adalah adab seksual Islam, yang ditauladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Kesenangan dari aktivitas seksual itu sebenarnya adalah tergantung dari keadaan mental kedua belah pihak.

 

16 Dalam kitab ini beliau membahas masalah hubungan suami-isteri secara gamlang, sehingga jelas etika bagaimana berhubungan intim yang sesuai syari`at Islam, paling tidak menggambarkan keluesan Islam mengajarkan kepada kita untuk melakukannya dengan nyaman. Walaupun Syaikh Shalih Al-Fauzhan mengkritisi banyak hadits-hadits dha`if dalam kitab tersebut, dan sampai ada ungkapan, “Ilmu Hadits yang dimiliki Imam Al-Ghazali seperti orang mencari kayu bakar dimalam hari.” Namun kekurangan tersebut dapat diatasi dengan mengedit beberapa hal yang perlu oleh penerusnya dengan tidak merobah kandungan aslinya, mesti proposional. Masalah tentang hubungan intim itu dibahas oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ `Ulumuddin, penerjemah: Ahmad Rofi` Usmani, (Bandung: Pustaka, 2005), Cet. I. Jilid 4, hal. 130-181. Dalam keterangan lain Felyx Bryk menyelidiki dengan kesimpulan bahwa “berkhitan dapat memperlambat ejaculatio seminis (memperlambat/memperpanjang persenggamaan).” Sejarah berkhitan ini, terdapat semenjak purba, pada bangsa Semit, Mesir, berbagai bangsa Amerika, Afrika, Melanesia, Polynesia, Australia dan Indonesia. Hanya pada bangsa Indo-Jerman, Mongol dan Fin yang tiada kebiasaan ini (kecuali yang dipengaruhi kebudayaan Islam).

Menurut Riwayat, yang mula berkhitan ialah Nabi Adam `alaihi salam, dan mewariskan kepada keturunannya. Dan diteruskan oleh Nabi Ibrahim `alaihi salam. Akan tetapi oleh Penganut Kristen, syari`at berkhitan itu dibatalkan. Bacalah: 1 Korintus 7: 18-19 juncto Galitia 5: 2, Galitia 6: 15. Inilah yang menjadi syari`at Nabi sebelum Nabi Muhammad yang disyari`atkan juga pada umatnya. Khitan, pada anak laki-laki adalah sebelum akhir baligh dan perempuan secepatnya pada umur tujuh hari sesudah kelahirannya dan biasanya paling lambat selagi balita. (Panji Masyarakat No. 619, 1989, hal. 36-37).

TUNTUNAN MEMBENTUK KELUARGA SAKINAH

TUNTUNAN MEMBENTUK KELUARGA SAKINAH

Oleh Buya H Masoed Abidin

A.    Sebelum Nikah

Sebelum melangsungkan akad pernikahan, hendaklah seorang perempuan memperhatikan calon suaminya, dan laki-laki memperhatikan calon isterinya. Ulama telah memberikan kriteria perempuan yang baik dan begitu juga dengan laki-laki. Menurut Subki Junaedi, kriteria isteri yang baik itu menurut Rasul Allâh SAW menggaris bawahi dengan sabdanya;

اَلْمَرْءُعَلَىِ ديْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرُأَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang perempuan akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapa yang harus dikawininya”.

Ungkapan itu disambut dengan sebuah sya`ir, “Kawini perempuan yang kecil lalu kupenuhi, kendaraan yang lebih kusukai adalah yang belum dikendarai. Banyak biji permata yang berlubang, lalu diuntai, tetapi ada juga yang belum berlubang. Diteruskan, “Sungguh kendaraan yang dikendarai tidak akan lezat, sebelum diikat dan diatur tali penambat. Permata bagi pemiliknya belum berarti, sehingga diuntai dengan rapi dan dilubangi.

Perhatian Sebelum Melangsungkan Pernikahan

1.        Kriteria Memilih Pasangan Hidup Perempuan:

a.        Beragama Islam dan beramal shaleh (QS. Al-Nisâ’/4: 34)

Rasul Allâh SAW bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat faktor: Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga, kedudukan; dan Keempat, karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih yang taat beragama, engkau pasti bahagia. (HR. Bukhâriy dan Muslim).

b.        Berasal dari keturunan yang baik-baik

Rasul Allâh SAW bersabda, Jauhilah oleh kamu sicantik yang beracun!, lalu sahabat bertanya: “Wahai Rasul Allâh, siapakah perempuan yang beracun itu? jawab Rasul Allâh,”Perempuan yang cantik tapi berada dalam lingkungan yang jahat. (HR. Dâr al-Quthniy).

c.         Masih perawan

Diriwayatkan dari Jabir, Rasul Allâh SAW bersabda, “Sesungguhnya Rasul Allâh telah berkata kepadanya, kata Beliau: Hai Jabir, apakah engkau kawin dengan perawan atau dengan janda?Jawab Jabir: “Saya kawin dengan janda”. Kata beliau: Alangkah baiknya jika engkau kawin dengan perawan. Engkau dapat menjadi hiburan baginya dan diapun  menjadi hiburan bagimu. (HR. Jama’ah).

84

 

d.        Carilah perempuan yang Sehat atau tidak Mandul

Rasul Allâh SAW bersabda, “Dari Mu’qil bin Yasar, katanya telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW. Kata laki-laki itu, Saya telah mendapat seorang perempuan yang bangsawan dan cantik tapi hanya dia tidak beranak (mandul). Baikkah saya kawin dengan dia ?”. Jawab Nabi SAW, “Jangan”, kemudian laki-laki itu datang untuk kedua kalinya dan Nabi tetap melarangnya. Kemudian pada kali ketiga laki-laki itu datang lagi. Nabi bersabda: Kawinlah dengan yang dikasihi dan berkembang menghasilkan keturunan (subur). (HR. Abu Dâud dan Al-Nasâ’i).

2.        Kriteria Memilih Laki-Laki yang baik  Calon Suami :

a.      Laki-laki yang beragama Islam dan shaleh (QS. Al-Nûr/24: 3 dan 26).

b.      Mempunyai kemampuan untuk membiayai kehidupan Rumah Tangga (sesuai dengan hadits Mutafaqq `alaihi – “yâ ma`syar al-syabâb”).

c.      Cerdas dan Sehat (layak untuk berumah tangga, baik jasmani dan rohani). dan

d.      Cakap Hukum (Baligh).

B.    Sesudah Akad Nikah

Setelah akad nikah dilaksanakan, suami isteri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, untuk mencapai tujuan perkawinan, membentuk keluarga bahagia dan kekal dalam aturan syari’at Islam. Semua orang berkeinginan untuk hidup bahagia, kekal dan langgeng, tapi sering tersua rumah tangga menjadi rumah tanggal dan penjara di rumah tinggal. Rumahku adalah syorgaku seringkali hanya dalam mimpi belaka. Perlu ada berapa resep untuk mewujudkan keluarga sakinah dan bahagia[1], yaitu:

1.        Saling Mengerti antara Suami-isteri

Seorang suami atau isteri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai dasar untuk menjalin komunikasi masing-masing. Dan dari sinilah seorang suami atau isteri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula isteri. Seorang suami atau isteri hendaklah mengetahui hal-hal sebagai berikut :

a)      Perjalanan hidup masing-masing,

b)      Adat istiadat daerah masing-masing (jika suami isteri berbeda suku dan atau daerah),

c)      Kebiasaan masing-masing,

d)      Selera, kesukaan atau hobi,

e)      Pendidikan,

f)       Karakter/sikap pribadi secara proporsional (baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.

2.        Saling Menerima

Suami isteri harus saling menerima satu sama lain. Suami isteri itu ibarat satu tubuh dua nyawa. Tidak salah kiranya suami suka warna merah, si isteri suka warna putih, tidak perlu ada penolakan. Dengan keredhaan dan saling pengertian, jika warna merah dicampur dengan warna putih, maka akan terlihat keindahannya.

3.        Saling Menghargai

Seorang suami atau isteri hendaklah saling menghargai:

a.    Perkataan dan perasaan masing-masing

b.    Bakat dan keinginan masing-masing

c.    Menghargai keluarga masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju terkaitnya perasaan suami-isteri.

4.        Saling Memercayai

Jika suami isteri saling mempercayai, maka kemerdekaan dan kemajuan meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.

5.        Saling Mencintai

Suami isteri saling mencintai akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram

Dari uraian di atas dipahami bahwa tetumbuhan yang dirawat dan diperhatikan akan tumbuh dengan subur, pasti tidak sama dengan tumbuhan yang tidak diperhatikan sama sekali. Artinya suami atau isteri harus selalu merawat dan memupuk lima saling di atas akan mencapai keluarga bahagia dan kekal beradasarkan Syari’at Islam. Tidak ada kata yang lebih indah, serta lebih benar, mengenai hubungan antara suami-isteri, kecuali yang telah disebutkan, “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah/2: 187)

Resep Nabi Muhammad SAW seperti yang diriwayatkan oleh Abd Allâh bin Mas’ûd: “Wahai generasi muda, siapa saja diantara kalian telah mampu serta berkeinginan menikah, maka nikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan siapa saja diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.(HR. Bukhâriy, Muslim, Ibnu Majah, dan Tirmidziy).

Kepada generasi Muslim diingatkan agar jangan suka mojok berduaan di tempat yang sepi, karena akan ditemani oleh pihak yang ketiga adalah syaitan, sesuai sabda Nabi, “Janganlah seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syetan menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan perempuan, kecuali disertai dengan mahramnya.” (HR. Bukhâriy dan Muslim).

Dan untuk para muslimah diingatkan pula agar jangan lupa untuk menutup auratnya agar tidak merangsang para lelaki.

 

“ Katakanlah kepada perempuan yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan sesama Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan, dan janganlah mereka memukulkan kakinya (menghentakkan kaki dengan berlenggang lenggok), agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Nûr/24: 31).

Dan Nabi SAW bersabda, “Hendaklah kita benar-benar memejamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allâh akan menutup rapat matamu.”(HR. Thabraniy).


[1] Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya “Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga” memberikan 5 (lima) resep mewujudkan keluarga tenang dan bahagia

Posisi Kaum Perempuan

Posisi Kaum Perempuan

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Islam sangat menghormati kedudukan perempuan, Sorga ditelapak kaki Ibu, artinya bahwa “Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan kedua orang tua (ayah dan ibu). Agama Islam degan hadist Nabi Muhammad SAW telah meletakkan penghormatan kepada posisi kaum perempuan (ibu) dengan tiga banding satu dengan kaum lelaki (ayah). Selain itu, « perempuan adalah tiang negeri, rusak perempuan maka rusaklah negeri ». Perempuan adalah ibu yang mendidik pertama dari generasi yang dilahirkannya.

Kaum perempuan selayaknya kembali kepada fitrah yang telah digariskan penciptanya. Agama Islam telah mengembalikan fitrah kaum perempuan dari rongrongan kebiasaan jahiliyah yang telah mengingkari kebradaan kaum perempuan, dan menganggap kedudukan perempuan sangat rendah. Pandangan jahiliyah ini adalah kelanjutan dari perdayaan syaithan sepanjang masa.

Sejak awal kejadian manusia Adam dan Hawa, iblis dan syaithan, selalu berusaha menjerumuskan kaum lelaki atas rayuan sang perempuan (isteri), yang telah dicatat dalam sejarah kehidupan manusia. Di samping memang sudah menjadi skenario sang Pencipta, agar manusia dapat berkembang turun temurun di atas bumi, namun satu hal telah terbukti di satu sisi  bahwa kaum perempuan mampu menjadi penakluk kaum pria, selain diri mereka juga dicipta untuk memberikan ketenangan terhadap jiwa kaum pria (sang suami). Perempuan dapat menghidupkan suasana hidup yang indah dan bahagia, bila dibimbing oleh nilai-nilai ajaran agama yang luhur (Dinul Islam).

Di zaman modern, di era globalisasi, karena didorong paham kebebasan (liberalisme) dan kebendaan (materialisme), dan mengedepankan hak-hak kepentingan sendiri (individualisme), tanpa disadari telah memenjarakan kembali kaum perempuan menjadi obyek pemuasan nafsu rendah, oleh manusia yang tidak beretika religi (tidak berakhlak agama). Perempuan kembali menjadi mangsa dari porno aksi dan pornografi, yang menganggap kaum perempuan adalah pemuas nafsu dan bagian dari kreativitas seni semata. Bahaya mengintai kaum perempuan karena berkembangnya paham sekuler yang menitik beratkan kepada kesenangan badani (hedonistiik), yang semata hanya mengukur kenikmatan sensual dan erotik, di mana kesejahteraan hidup tidak lagi menjadi utama dipikirkan, bahkan telah bertukar dengan hanya mengedepankan nilai jual yang kadang kala berakibat sangat merusak moral.

Di tengah pergeseran nilai ini, maka kita dituntut sadar kembali kepada tuntunan Islam. Kaum perempuan semestinya tidak berpaling dari kodrat sebagai perempuan, yang mempunyai kelebihan dan memiliki keterbatasan-keterbatasan, sesuai kehendak Maha Pencipta. Dengan mempedomani Al-Qur’ân dan Sunnah, sebagai dinasehatkan oleh umm al-Mukminîn, kaum perempuan wajib mempersiapkan diri menjadi isteri shalehah, sesuai sabda Rasul Allâh SAW,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلاَثٌ الطَّيِّبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِي الصَّلاَةِ.

“Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Wangi-wangian, Isteri shalehah, dan ketenangan saat shalat.”(Imam Nawawi, 2005, hal. 75).

Kaum perempuan yang menjadi isteri dan memiliki kelebihan dengan kekayaan materi (harta benda), jika memiliki keikhlasan yang besar, akan merasa senang hati menaruhkan hartanya kepada suaminya atas dasar kasih sayang dan amanah (seperti dilakukan oleh Khadijah atas Muhammad SAW).

Maka suami yang tadinya miskin tapi amanah dalam memelihara kekayaan istrinya, pasti akan mendapatkan dua pahala, satu pahala ibadah dan satu pahala sedekah, karena harta isteri merupakan hak isteri.[1] Shahabat Rasul Allâh SAW, yakni Umar bin al-Khatthab RA, juga pernah berkata, 

لَوْلاَ اْدِّعَاءُ الْغَيْبِ لَشَهِدْتُ عَلَى خَمْسِ نَفَرٍ أَنَّهُمْ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْفَقِيْرُ صَاحِبُ اْلعِيَالِ وَالْمَرْئَةُ الرَّاضِى عَنْهَازَوْجُهَاوَالْمُتَصَدِّقَةُ بِمَهْرِهَاعَلَىزَوْجِهَا وَالْرَّاضِى عَنْهُ اَبَوَاهُ وَالْتَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ.

“Sekiranya tidak takut dituduh mengetahui yang ghaib, tentulah aku mau bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini adalah termasuk ahli surga, yaitu: a. Orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya; b. perempuan yang suaminya ridha kepadanya; Isteri yang menshadaqahkan mahar/maskawinnya kepada suaminya; Anak yang kedua orang tuanya ridha kepada dirinya; dan Orang yang bertobat dari kesalahannya.”

Agama Islam mengajar umatnya, untuk selalu bersikap ridha dan syukur atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allâh atas mereka. Dengan sikap ini dapat dirasakan betapa indahnya kehidupan berkeluarga, sehinga dapat diraih nikmat paling besar rumahku adalah surgaku”.

Konsep hidup seperti ini seharusnya dimunculkan oleh kaum perempuan pada masa ini, saling membutuhkan, saling memberi kemudahan, saling menjaga keutuhan rumah tangga, sebagai modal  dalam menghadap berbagai persoalan hidup, sesuai perkembangan zaman.

Perempuan Pendidik Generasi Berakhlak Mulia

Perempuan muslim mesti memiliki Sahsiyah sebagai pendidik generasi, dalam rumah tangganya. Kaum perempuan (ibu) adalah murabbi yang punya kepribadian baik, serta uswah hidup yang terpuji. Dengan modal akhlak ini, kaum perempuan (ibu)  akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak yang dilahirkan dari rahimnya. Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya, tidak akan dapat mengambil alih peranan ibu sebagai pendidik anak (generasi) yang dilahirkannya. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi generasi demi generasi dalam menanamkan laku perangai — sahsiah – pada si anak. Tegasnya sahsiah mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang [2]

Ciri Utama dari sahsiah (شخصية) bermakna pribadi atau personality, yang  menggambarkan sifat individu yang merangkum padanya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.[3] Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang ibu atau bapak yang berperan sebagai murabbi atau pendidik yang akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pembentukan watak anak dan generasi, sesuai dengan yang mereka sampaikan.[4]

Dari beberapa penilitian terdapat senarai panjang yang menerangkan sikap yang diinginkan, dan seharusnya dimiliki para orang tua, yang akan berperan menjadi murabbi (pendidik dan pelindung) terhadap generasi yang di bawah tanggung jawab mereka. Di antara yang saangat utama, adalah  :

ü  Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan masalah dengan jelas, berdisiplin, mampu menarik perhatian anak (generasi), artinya jadi panutan.

ü  Amanah dan menunaikan janji, mempunyai sahsiah yang dihormati, mempunyai arahan yang jelas dan spesifik, berkemauan yang kuat, berbakat pemimpin yang tinggi, artinya memberikan contoh dalam akhlak dan ibadah.

ü  Mempunyai pengetahuan yang luas, tidak menyimpang dari tajuk pendidikan watak yang akan dibentuk, memiliki suara yang baik, merangkul dan mendidik, mengenal titik kuat dan lemah dari anak (generasi).

ü  Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan anak (generasi), pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana anak (generasi) di rumah, artinya menjadikan rumah menjadi benteng pembentukan watak generasi.

ü  Mengujudkan sikap kerjasama dan bersemangat riadah dan kedisiplinan

Karena beratnya tanggung jawab tersebut, maka sifat dan ciri dari orang tua muslim dan muslimah hendaklah merangkum :

    A.  Sifat Ruhaniah dan Akidah

1.      Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna

2.      Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan hari pembalasan

3.      Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

    B.   Sifat-Sifat Akhlak

1.      Benar dan jujur

2.      Menepati janji dan Amanah

3.      Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan

4.      Merendah diri – tawadhu’ —

5.      Sabar, tabah dan cekatan

6.      Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi

7.      Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan  sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

    C.  Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani

1.      Sikap Mental, mencakup cerdas (kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai sikap takhasus dari anak turunannya, luas pengetahuan, cenderung kepada berbagai bidang   ilmiah yang sehat serta mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan anak (generasi) yang diamanahkan padanya, fasih, bijak dan cakap, dan penuh kasih sayang.

2.      Sifat Kejiwaan, tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya, percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan, berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan.

3.      Sifat Fisik, mencakup sehat tubuh dan badan dari penyakit menular dan berusahalah selalu berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

Orang tua (ibu bapa) muslim adalah pendidik generasi (murabbi) dengan sahsiah mengamalkan etika Islam dengan sikap mental terpuji dalam menyikapi tantangan hidup. Secara teori human behavior, ditemui bahwa sikap mental manusia dipengaruhi atau dibentuk oleh nilai luhur agama, ideologi, pengalaman sejarah, tradisi lingkungan, situasi, keinginan dan norma. Inilah yang akan memunculkan perilaku seseorang baik tingkah individu maupun sosial, yang selalu terjaga oleh nilai-nilai luhur berdasarkan nilai-nilai luhur sosial, budaya dan agama.

Para Nabi dan Rasul yang telah diutus kepada manusia dengan memberikan tuntunan akhlak dalam setiap prilaku kehidupan.

Rujukan dari tuntunan akhlak dimaksud adalah wahyu Allah, yang hanya terdapat  pada Kitabsuci Samawi. Tuntunan dimaksud tidak hanya sebatas teori, tetapi dalam bentuk prilaku dalam semua tingkat pelaksanaan hubungan kehidupan, dalam bentuk prilaku, contoh dan uswah.

Firman Allah menyebutkan, Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharap[kan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagaiHanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al Hadist).

Kita dapat menyimak ada 20 Watak Terpuji menurut ajaran Rasulullah SAW, di antaranya adalah, 1. Berilmu (‘alim), 2. Adil, 3. Cakap (fathanah), 4. Berani (shiddiq), 5. Berbudi pekerti halus/luhur, 6. Dermawan (Pemurah), 7. Pemaaf, 8. Waspada (hati-hati), 9. Teguh janji dan Selalu mencari kebenaran, 10. Menjaga rahasia (amanah), 11. Selalu bersungguh‑sungguh (mujahadah),  12. Bijaksana (hikmah dan berpikir cepat), 13. Rendah hati (Tawadhu’), 14. Tidak iri (tidak hasad), 15. Sabar, 16. Pandai berterima kasih (syakiriin), 17. Mampu mengendalikan keingi­nan hawa nafsu (istiqamah), 18. Diplomatis, taktis, dan tidak mudah terpengaruh oleh desas‑desus dan fitnah, 19. Mampu mengatur dan memperhatikan kelilingnya dengan cara menasehati dan mengkri­tik secara terarah (tabligh), 20. Tidak mengangkat orang yang kufur dan durhaka sebagai pemimpin. Di sini kita melihat pokok-pokok akhlak yang utama.

Pentingnya akhlak di ungkap banyak penyair (ahli hikmah),

إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ، وَ انْهُمُوا ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوا 

“tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”.

Maka potensi masyarakat mestinya digerakkan optimal dan terpadu untuk menghidupkan tata masyarakat beradat itu.

Masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah hidup “adat basabdi syarak, syarak basasndi kitabullah”, banyak menampilkan pepatah [5] tentang akhlak dalam membina anak nagari, terutama di dalam perilaku beradat di Ranah Bundo sampai kepelosok kampung, dusun dan taratak, bahwa Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek.

Selanjutnya Anak urang Koto Hilalang, nak lalu ka pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Kedua ungkapan ini menjadi bukti terlaksana aturan beradat di dalam tatanan masyarakat Minangkabau dengan falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, mengajarkan pepatah tentang akhlak ini, di antaranya, “Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baiak budi,  nan indah baso” [6], atau “Bahasa menunjukkan bangsa”.  Baik buruk perangai (akhlak), menunjukkan tinggi rendahnya asal turunan. Budi Pekerti selalu hidup, walaupun pelakunya sudah tiada. “Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”.

Dengan modal akhlak, keluarga akan terpacu menuju kepada taraf melakukan selfless help, memberikan bantuan atau menanamkan ruhul infaq tanpa mengharapkan balasan jasa.

Pembinaan masyarakat, memulai dari akar rumput, dari rumah tangga sebagai basis masyarakat dan lingkungan, melalui menanmkan saling menghormati sesama besar, terhadap orang tua dan anak-anak, sayang menyayangi mendidik masyarakat, mengutamakan ukhuwah, mengedepankan kepentingan orang banyak dengan  sikap pemurah. Disini terletak kekuatan utama.    

لَيـْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لمْ  يُجِلُّ كَبِيْرَناَ، وَ  لمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا، وَ لمْ  يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا (رواه أحمد)

Tidak terbilang kepada umatku – yakni umat Muhammad SAW – barang siapa yang tidak menghormati yang tua, dan tidak menyayangi yang muda, dan juga yang tidak mau arif mengikuti nasehat dari kalangan berilmu” (HR. Ahmad).


[1]   Kandungan Hadits Riwayat Bukhâriy dan Muslim, lihat dalam SAHID, No. 10/Tahun III/Februari 1991, hal. 41.

[2] Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[3] G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok Soon Sang, 1994:1). Mental ini mempunyai definisi, G.W. Allport menemukan lebih dari 100 definisi mental (attitude = mental attitude) ini.

[4]    Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani

[5] Pepatah adalah pribahasa yang mengandung ajaran, lihat Kamus Bahasa Indonesia 1998, disusun Drs. John Surjadi Hartanto, Penerbit INDAH, Surabaya, Januari 1998 hal 255.

[6] Kuriak=rintik-rintik, kundi=biji saga. Arti peribahasa ini adalah “tiada yang lebih baik dari budi bahasa”, Anas Nafis, Peribahasa Minangkabau, Jakarta, Intermasa, 1996, kerjasama dengan YDIKM, hal.47.

Pikiran Rahima di Biaro, untuk anak-anak di Palestina dengan ucapan “Sayonara”….. pertanda sedih dan kecewa.

Bismillahirrahmaanirrahiim

  Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

SAYONARA.

  Saya tidak tahu, kenapa setiap mengingat lagu Sayonara ini, air mataku sering seakan mau jatuh saja. Syukur masih bisa kutahankan dengan ketegaran hatiku.

Ada apa sih dengan lagu itu.

  “Kini, tiba saat berpisah,..

Jangan bersedih hati,..

Kini,..akan tiada lagi,…

……..

 

Sayonara…sayonara…selamat tinggal….

Yah,..lagu ini bisa saja dirubah-rubah liriknya sesuai dengan kepentingan yang menyanyikannya.

Yang pasti lagu ini sangat mengingatkan diriku akan situasi pesantren Diniyyah Puteri Padang Panjang, yang mana selama 4 tahun aku bersama-sama teman sebayaku, adik kelas, kakak kelas yang penuh dengan segala macam suka dan duka. Setahuku, disanalah diriku tumbuh menjadi dewasa dan bisa memahami banyak orang lain, dimana sebelumnya hidupku sangatlah egoisnya, karena sebelum aku hidup dipesantren, aku hidup bersama dengan kedua orang tuaku, kakak-kakakku, yang penuh dengan kemanjaan, bahkan boleh dikatakan yang paling dimanjakan, sehingga tak pernah sedikitpun tangan orang tuaku melayang kemanapun di tubuhku. Aku memang dibedakan dari kakak-kakakku yang mereka selalu membuat kesalahan dan sering kena pukul, sementara aku anak yang patuh pada orang tua, makanya tak pernah kena pukul sedikitpun. Namun, ini membuat diriku jadi egois, merasa diri sudah sempurna, lebih dari kakak-kakakku yang lain, karena merasa tak pernah bersalah saja.

 Sangat banyak manfaat yang kudapatkan hidup bermasyarakat di pesantren dengan segala macam pola, karakter jiwa dan tingkah seseorang. Mulai dari teman sebayaku, kakak kelas, adik kelas, semua pergaulan itu, dari berteman dengan orang yang alimnya minta ampun, sampai berteman dekat dengan peminum khamar, merokok(jujur ini dilakukan oleh anak pesantren perempuan lagi, karena mereka dimasukkan pesantren bukan kemauannya sendiri, tetapi atas kemauan ortunya, begitulah akhirnya). Jujur saja, aku sendiripun masuk pesantren atas kemauan ortuku juga, tetapi karena memang patuh sama ortu jadi pelarianku tidak kepada minuman/serta merokok itu, tetapi kemesjid, ngaji dan shalat saja.

 

Aku berteman dengan mereka yang nakalnya minta ampun itu. Aku sama sekali tak merendahklan mereka, berusaha untuk mencoba mengerti saja. Bahkan terkadang aku lebih senang berteman dengan mereka ketimbang yang dari luarnya alim, tak taunya hatinya busuk, punya sifat iri dan punya penyakit yang mematikan dan sangat kronis, yaitu penyakit :”SMOS-SMOS” (Senang Melihat Orang Susah-Susah Melihat Orang Senang).

 Kondisi hidup dari pagi-malam bersama sekian ratus, bahkan mencapai seribu lebih manusia membuat diriku justru lebih bisa mengerti akan arti dari hidup ini. Kita tak boleh egois, kita tak boleh merasa hebat sendiri, kita tak boleh merasa semua milik diri kita sendiri, dan kita tak boleh merasa mau bahagia sendiri.

Hidup berkecimpung dalam dunia keperempuanan, membuat diriku, sangat faham akan gelagat perempuan.Aku memiliki teman akrab dari tingkatan teman sebaya, kakak kelas, adik kelas, yang semua mereka baik wajah ataupun namanya tak bisa kulupakan sama sekali.Dan semuanya membawa nilai yang cukup positif dalam pembentukan jiwa dan keilmuwanku. Aku dilatih menjadi seorang yang mengerti segala kekurangan dan kelebihan seseorang, aku juga dilatih untuk bersabar dan menyayangi orang lain, tak mementingkan diriku sendiri, dan aku dilatih untuk terbiasa selalu banyak memberi ketimbang menerima.Aku juga dilatih untuk selalu  memperhatikan orang yang justru banyak memberi kepadaku, selalu berusaha membalas jasa orang terhadapku, dan tak akan pernah melupakannya.

 Ketika kelas III KMI, aku harus siap berpisah dengan lingkungan pesantrenku yang penuh dengan kenangan indah. Sungguh, betapa pilu hatiku berpisah dengan semua orang disana, terutama sahabat karibku, yang meskipun setelah hamper 25 tahun kami berpisah, dia tetap saja mengirimkan card ucapan Lebaran ke alamatku di Indonesia, karena dia sudah menjadi warga Negara Malaysia. Sungguh dia adalah teman yang baik, yang mengajari aku melafazkan bacaan AlQuran dengan fasih, karena ia mantan Qariah Nasional. Kami selalu shalat tahajjud bersama-sama, tempat tidur kami selalu berdampingan mulai dari masa Pra KMI, sampai tammatpun, selalu bersama-sama, meski dalam pergaulan dengan teman lainnya, kakak kelas, tidak juga terganggu. Kami sangat menjaga arti sebuah persahabatan itu, dan kami sangat bisa memengerti satu sama lain, sehingga tak pernah kami bertengkar oleh apapun.Sungguh aku sangat sedih ketika akan berpisah dengannya setelah tammat.karena dia telah mengajarkan aku sesuatu yang teramat penting, yakni AlQuran. Apa yang didapatkannya dari diriku, akupun tak tahu, yang pasti kami saling take and give.

 

Kesedihanku berpisah dengan teman akrabku itu, tidaklah berlangsung lama, karena aku memulai hidup baruku di Kairo, dan satu kamar dengan orang Thailand, yang tak bisa berbahasa Melayu. Komunikasi kami, kalau tak bahasa Inggris yah bahasa Arab. Dia sudah tingkat IV(kakak kelas), sementara aku baru tahun pertama di Al Azhar itu. Dari dialah aku banyak mendapatkan bimbingan dan semangat belajar, sehingga wajar saja tahun pertama aku naik tingkat, itu semua berkat dorongan dan jasanya juga.

Mungkin tak semua orang Thailand seperti yang aku ceritakan ini. Karena watak manusia berbeda-beda. Yang ini lain lagi, ngak sampai sebulan kami bersama sudah bisa akrab, bagaikan kakak-adik kandung saja. Namun sayangnya, kakak kelasku orang Thailand ini, setia kawannya sangat tinggi sekali, saking tingginya, saya berteman dengan teman Indonesia yang lainpun dia sepertinya marah. Maunya saya, hanya dia teman saya satu-satunya. Tidak seperti teman akrabku kemaren ketika di Diniyyah. Aku agak sedikit terikat dengan yang satu ini, orangnya baik sekali, anak dari orang kaya raya di Thailand itu. Sayangnya hanya satu ini saja, dia menangis kalau saya dekat juga dengan teman lainnya.(lucu juga saya pikir, padahal banyak juga yang suka berteman dengannya, habis orangnya selain cantik, kaya, lembut, dan pendiam, siapa yang menyangka, kalau dia setia kawan luar biasa), namun menurut penuturannya, setelah tiga tahun pernah berteman dan sekamar dengan orang Thailand lainnya ataupun dengan Indonesia lainnya, baru bersama saya dia mendapatkan ketenangan, perhatian dan benar-benar keikhlasan. Hal ini dapat dirasakannya, menurut penuturannya, berteman dengannya bukan karena dia orang kaya, bahkan justru mulanya saya kelihatan cuek. Sebenarnya aku bukan type perempuan cuek, tetapi sebelum mengenal betul seseorang, memang cuek, karena ngak mau dibilang “CAPER( Cari Perhatian)”, tetapi bila telah mengenalnya, perhatianku padanyapun cukup tinggi, dan aku jarang melepas ikatan persahabatan itu sampai memang waktu dan kondisi yang memisahkan kami.

 

Yah, setahun bersamanya, dia sudah tammat Lc. Sementara aku baru naik ke tingkat II. Ucapan Sayonara untuk yang kesekian kalinya kurasakan lagi. Tapi, lagi-lagi, aku tak pernah larut dalam kesedihan perpisahan itu, karena bagiku :”Patah Tumbuh Hilang Berganti, Mati satu, Tumbuh Seribu”.

 Kini, aku merasakan kembali Perpisahan yang lebih memilukan lagi. Yakni anak-anak tak berdosa dari para Ibu yang tergilas dari kekejaman dan kebiadaban tentara Israel, di Gaza sana. Sungguh, ini suatu Sayonara yang lebih perih sepanjang sejarah hidup yang kurasakan. Aku tak kuat meneguk nasi bercampur sambal daging ayam, sementara disana ada anak-anak kelaparan, merintih perih, lebih perih dari sembayat sembilu pedang ataupun setajam pisau silet(Bukan SILET dalam acara Gosip Artis di RCTI). Benar-benar tajam dan ganas kematian ribuan manusia tak berdosa.

 

SAYONARA…SAYONARA…duhai para anak-anak, ibu-ibu, tentara dan masyarakat Palestina. Betapa Tragis nasibmu kini.Siapakah yang sanggup menahan kekejaman Israel, Yahudi yang memang sudah terkenal dari sononya, sejak dahulu kala, suka ingkar janji, suka pembuat huru hara, kerusakan dimuka bumi ini. Tak sedikit ayat-ayat AlQuran yang memperingatkan dan menceritakan watak mereka-mereka itu.

Pemerintahan Mesirpun sampai tak kuasa mengepakkan sayapnya, mencuarkan muncungnya untuk menahan kekejaman Israel. Semua karena apa? Karena takut. Siapapun yang berani menantang mereka, akan mendapat ganjaran yang lebih parah lagi.

 Yah,..Ummat Islam hampir diseluruh penjuru dunia mengalami krisis “Ketakutan” yang amat parah.Banyak yang saling menyalahkan. Akh…Mesir salah, Saudi salah, Negara islam di Timteng salah, pokonya SEMUANYA seakan-akan bersalah. Saling tuding menuding. Itulah yang dapat dilakukan sebahagian ummat Islam untuk sementara ini, paling tidaknya.

Berusaha untuk membentu, menggalang dana, sampai donor darah, uang saku keluar, pemboikotan, dan segala macam cara.

Namun, apakah semua cara dan metode ini dapat menghentikan kebiadaban Yahudi?

Apakah ummat Islam perlu memasang strategi Perang habis-habisan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh zamannya Rasulullah dan sahabat dahulu kala? Allahu’alam. Pasti ada Pro dan Kontra dalam hal ini.

 

Sayonara..sayonara, untuk Bush yang sempat kecipratan lemparan sepatu di akhir masa jabatannya, dan manusia diseluruh penjuru dunia menggantungkan nasibnya ditangan Obama.

 Akh…kalau aku sih TIDAK!!, untuk ketergantungan pada manusia. Mungkin bagi rakyat kecil seperti aku ini, hanya mampu berdo’a untuk keselamatan ummat Islam seluruh dunia, serta berusaha untuk tidak memperkaya Yahudi dengan memakai produknya(kecuali memang terpaksa sekali,.yah..semacam/sejenis fasilitas gratis internet).Aku yakin dan percaya akan KEKUATAN DO’A.

 

Katakanlah :”Sayonara untuk Produk Yahudi”

SAYONARA….SAYONARA…masa kegemilangan dan kejayaan Ummat Islam. Kini tinggal nama dan puing-puing kehancuran, untuk kelak di suatu hari nantik, Allah Ta’ala yang turun tangan langsung. Hanya saja, sesuai janjiNya :”Allah tidak akan pernah merubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu sendiri yang akan merubahnya”.

 Mungkin, kita perlu membenahi kembali keimanan kita, keilmuwan kita, ibadah kita, rasa solidaritas kita terhadap sesama. Membuang jauh-jauh sikap keegoisan yang bisa mematikan dan justru menimbulkan kemiskinan yang berkepanjangan, menciptakan dan menanamkan rasa  kasih sayang, menjauhi segala macam penyakit hati yang lebih mematikan ketimbang penyakit kanker stadium IV sekalipun. Terakhir tawakkal dan konsisten, tanggung jawab terhadap segala perkataan dan perbuatan kita.

 

Wassalamu’alaikum. Biaro, 21 Januari 2009. Rahima.