Hijrah memasuki alaf baru

MEMASUKI ALAF BARU


oleh : H.Mas’oed Abidin

Secara sederhana, hijrah berarti pindah. Suatu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu. Menjadi awal penghitungan tahun baru Islam.

buya-dan-helva-zahar1Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA yang menjabat sebagai Khalifah III menetapkannya sebagai kalender hijrah.

Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Satu peristiwa penting yang menjadi titik awal (starting-point) kebangkitan Dakwah Islam. Merupakan dedikasi keyakinan Tauhid, beriman kepada Allah. Bukti kepatuhan. Buah kesetiaan serta taat prinsip terhadap ajaran tauhid.

Hijrah merupakan jawaban tegas atas seruan Allah.

Pertanda kecintaan sejati (mahabbah) kepada Muhammad Rasulullah SAW. Kecintaan kepada Allah dan Rasul SAW akan mengalahkan kecintaan terhadap harta benda, sanak keluarga. Kerelaan mengganti kemilauan dunia dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah fenomena kekuatan umat Mukminin.

Menampilkan citra ajaran dan latihan yang di lakukan Rasulullah SAW terhadap pengikutnya. Walaupun mereka telah di uji dengan krisis ;

“ wadzkuruu idz antum qalilun, mustadh-‘afuuna fil-ardhi. Takhafuuna an yatakhat-tafakumun-naasu.

Fa awaakum, wa ayyadakum bi nashrihi, wa razaqakum minat-thaiyibaati, la’allakum tasykurun”, artinya ;

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas dipermukaan bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongannya, dan diberinya kamu rezeki dari yang baik-baik, agar kamu bersyukur” (QS.8, al-Anfaal :26).

Mampu menampilkan satu sosok umat bermutu (khaiyr-ummah). Melahirkan umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi. Sebagai khalifah Allah di muka bumi. Puncak kewibawaan ajaran Islam.

Hijrah merupakan gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran.

Menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah. Tidak bisa di rusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin (atheis) Quraisy.

Muhajirin adalah umat yang tidak cemas dan takut terhadap penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi dari pihak Jahiliyah Qureisy. Tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis. Walaupun dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang (embargo ekonomi) serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin dimasa itu.

Namun,

wa idz yamkuru bikal-ladzina kafaruu, liyutsbituuka aw yaqtuluuka, aw yugrijuuka. Wa yamkuruuna, wa yamkurullahu. Wallahu khairul makirina” , artinya :

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8, al Anfal :30).

Hijrah adalah kebenaran undang-undang baja perjalanan sejarah manusia yang memiliki keyakinan tauhid dengan akidah Islam. Akan berlaku sepanjang masa. Kesediaan melaksanakan reformasi actual. Menanggalkan kehidupan jahili yang tumbuh membiasa sebagai karakter masyarakat Jahiliyah.

Masyarakat Jahiliyah berkebiasaan selalu menyembah berhala dan manusia, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela (zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba), menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah (lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi).

Strukturisasi ruhaniyah melalui Risalah Muhammad SAW, yang terkenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah). Kepercayaan terhadap hari berbangkit (akhirat). Disiplin dalam beribadah (syari’at). Memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki). Hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah). Akhirnya setiap pribadi mukmin siap untuk berhijrah semata-mata mengharapkan balasan (pahala) dari Allah.

“Wa man yuhaajir fii sabiilillahi yajid fil-ardhi muraghaban katsiraran wa sa’ah.

Wa man yakhruj min baitihi muhajiran ilallahi wa rasulihi tsumma yudrikhul mautu faqad waqa’a ajruhu ‘alallahi. Wa kanallahu ghafuran rahiman”

artinya

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempat berhijrah yang luas dan rezeki yang banyak.

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sesungguhnya telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.4, an-Nisa’:100).

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru.

Tegak dengan ikatan kepercayaan. Dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok (‘ashabiyah, nepotisme).

Kemudian, tumbuh-kembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran.

Kekayaan (iman, harta dan ilmu) merupakan sumber kekuatan dalam membangun.

Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah).

Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin (homogrenitas agama), tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan Munafik.

Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua, dengan kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya.

Tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju.

Salah satu keutamaan yang di tampilkan Islam adalah membangun satu masyarakat yang kuat.

Berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun).

Sebuah peradaban yang tinggi yang melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil. Sehingga memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah. Mengikut perintah-perintah Allah dalam semua kegiatan (lihat QS.Tahrim,ayat 6). Tanpa adanya rintangan dari institusi-institusi yang memerintah masyarakat itu.

Masyarakat akan tetap di anggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya.

Maka tidak dapat di sangkal bahwa Islam dan Iman telah mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul.

Memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual.

Inilah suatu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.

Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam.

Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.

Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selalu berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka. Walan tardha ‘ankal yahauudu wa lan-nashara hatta tattabi’ millatahum (QS.2:120).

Wallahu a’lamu bis-shawaab.

Padang, Dzulhijjah 1429 H

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s