Ibadah Qurban Mentawai (2)

dsc08571_76

Menyembelih hewan qurban di Berioulou Sipora

Menyembelih Hewan Qurban di Matobek oleh Zulkifli TS
Menyembelih Hewan Qurban di Matobek oleh Zulkifli TS
Bergotong royong menguliti hewan qurban di Mentawai
Bergotong royong menguliti hewan qurban di Mentawai
Membagikan daging qurban
Membagikan daging qurban
Sebelum ternak Qurban di sembelih di halaman Masjid Sagitci Mentawai
Sebelum ternak Qurban di sembelih di halaman Masjid Sagitci Mentawai
Kondisi pemukiman muallaf dan bangunan mushalla yang terbengkalai
Kondisi pemukiman muallaf dan bangunan mushalla yang terbengkalai
Iklan

Hijrah memasuki alaf baru

MEMASUKI ALAF BARU


oleh : H.Mas’oed Abidin

Secara sederhana, hijrah berarti pindah. Suatu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu. Menjadi awal penghitungan tahun baru Islam.

buya-dan-helva-zahar1Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA yang menjabat sebagai Khalifah III menetapkannya sebagai kalender hijrah.

Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Satu peristiwa penting yang menjadi titik awal (starting-point) kebangkitan Dakwah Islam. Merupakan dedikasi keyakinan Tauhid, beriman kepada Allah. Bukti kepatuhan. Buah kesetiaan serta taat prinsip terhadap ajaran tauhid.

Hijrah merupakan jawaban tegas atas seruan Allah.

Pertanda kecintaan sejati (mahabbah) kepada Muhammad Rasulullah SAW. Kecintaan kepada Allah dan Rasul SAW akan mengalahkan kecintaan terhadap harta benda, sanak keluarga. Kerelaan mengganti kemilauan dunia dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah fenomena kekuatan umat Mukminin.

Menampilkan citra ajaran dan latihan yang di lakukan Rasulullah SAW terhadap pengikutnya. Walaupun mereka telah di uji dengan krisis ;

“ wadzkuruu idz antum qalilun, mustadh-‘afuuna fil-ardhi. Takhafuuna an yatakhat-tafakumun-naasu.

Fa awaakum, wa ayyadakum bi nashrihi, wa razaqakum minat-thaiyibaati, la’allakum tasykurun”, artinya ;

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas dipermukaan bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongannya, dan diberinya kamu rezeki dari yang baik-baik, agar kamu bersyukur” (QS.8, al-Anfaal :26).

Mampu menampilkan satu sosok umat bermutu (khaiyr-ummah). Melahirkan umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi. Sebagai khalifah Allah di muka bumi. Puncak kewibawaan ajaran Islam.

Hijrah merupakan gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran.

Menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah. Tidak bisa di rusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin (atheis) Quraisy.

Muhajirin adalah umat yang tidak cemas dan takut terhadap penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi dari pihak Jahiliyah Qureisy. Tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis. Walaupun dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang (embargo ekonomi) serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin dimasa itu.

Namun,

wa idz yamkuru bikal-ladzina kafaruu, liyutsbituuka aw yaqtuluuka, aw yugrijuuka. Wa yamkuruuna, wa yamkurullahu. Wallahu khairul makirina” , artinya :

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8, al Anfal :30).

Hijrah adalah kebenaran undang-undang baja perjalanan sejarah manusia yang memiliki keyakinan tauhid dengan akidah Islam. Akan berlaku sepanjang masa. Kesediaan melaksanakan reformasi actual. Menanggalkan kehidupan jahili yang tumbuh membiasa sebagai karakter masyarakat Jahiliyah.

Masyarakat Jahiliyah berkebiasaan selalu menyembah berhala dan manusia, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela (zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba), menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah (lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi).

Strukturisasi ruhaniyah melalui Risalah Muhammad SAW, yang terkenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah). Kepercayaan terhadap hari berbangkit (akhirat). Disiplin dalam beribadah (syari’at). Memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki). Hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah). Akhirnya setiap pribadi mukmin siap untuk berhijrah semata-mata mengharapkan balasan (pahala) dari Allah.

“Wa man yuhaajir fii sabiilillahi yajid fil-ardhi muraghaban katsiraran wa sa’ah.

Wa man yakhruj min baitihi muhajiran ilallahi wa rasulihi tsumma yudrikhul mautu faqad waqa’a ajruhu ‘alallahi. Wa kanallahu ghafuran rahiman”

artinya

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempat berhijrah yang luas dan rezeki yang banyak.

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sesungguhnya telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.4, an-Nisa’:100).

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru.

Tegak dengan ikatan kepercayaan. Dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok (‘ashabiyah, nepotisme).

Kemudian, tumbuh-kembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran.

Kekayaan (iman, harta dan ilmu) merupakan sumber kekuatan dalam membangun.

Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah).

Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin (homogrenitas agama), tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan Munafik.

Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua, dengan kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya.

Tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju.

Salah satu keutamaan yang di tampilkan Islam adalah membangun satu masyarakat yang kuat.

Berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun).

Sebuah peradaban yang tinggi yang melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil. Sehingga memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah. Mengikut perintah-perintah Allah dalam semua kegiatan (lihat QS.Tahrim,ayat 6). Tanpa adanya rintangan dari institusi-institusi yang memerintah masyarakat itu.

Masyarakat akan tetap di anggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya.

Maka tidak dapat di sangkal bahwa Islam dan Iman telah mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul.

Memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual.

Inilah suatu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.

Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam.

Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.

Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selalu berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka. Walan tardha ‘ankal yahauudu wa lan-nashara hatta tattabi’ millatahum (QS.2:120).

Wallahu a’lamu bis-shawaab.

Padang, Dzulhijjah 1429 H

Berqurban ke Mentawai

Penyerahan hewan Qurban di daerah Sagitci Mentawai

Penyerahan hewan Qurban di daerah Sagitci Mentawai
Masjid di Mentawai
Masjid di Mentawai
Persiapan pemotongan hewan Qurban di SP I Tuapejat
Persiapan pemotongan hewan Qurban di SP I Tuapejat
Anak-anak Muallaf Mentawai bergembira menyambut Hari Raya Idul Adha 1429 H
Anak-anak Muallaf Mentawai bergembira menyambut Hari Raya Idul Adha 1429 H
Memotong hewan Qurban di SP I Tuapejat Sipora
Memotong hewan Qurban di SP I Tuapejat Sipora
Membagi daging qurban
Membagi daging qurban
Bersama-sama menguliti hewan qurban
Bersama-sama menguliti hewan qurban

Memaknai Hijrah, dengan manfaatkan waktumu dengan sempurna.

BERHIJRAHLAH DENGAN SIKAP MANFAATKAN WAKTUMU

الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات.

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ،


“ Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia, dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui ….. (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (QS.16, an Nahl : 41-42)

Di depan Bab Fahd Masjidil Haram
Di depan Bab Fahd Masjidil Haram

Kita meyakini bahwa suatu saat pasti akan mati. Kenyataan tidak pernah ada manusia yang hidup selamanya. Menurut survey, rata-rata umur orang Indonesia 67 tahun tetapi tidak jaminan kita hidup hingga 67 tahun karena umur rahasia Allah swt dan tidak seorangpun tahu kapan ia akan meninggal. Bahkan seorang dokter yang memperkirakan umur seorang pasien kanker hanya 3 bulan, ternyata pasien bisa bertahan hingga 1,5 tahun. Sebaliknya, orang yang sehat dan segar bugar tiba-tiba meninggal karena kecelakaan.

Namun sinyalemen Rasulullah SAW menyebutkan, inna a’mar min ummatiy bayna sittin wa sab’iin, bahwa umur umatku antara 60 dan 70 tahun saja, aqillatun man yajuzu dzalik dan sedikit yang melewati bilangan itu.

Karena kematian suatu yang pasti sementara kita tidak tahu kapan datangnya. Satu-satunya cara menghadapinya dengan mempersiapkan diri menghadapi kematian. Di antara caranya, dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Membanyakkan perbuatan yang bernilai ibadah atau pahala.

Menjadikan waktu yang tersedia ini mempunyai nilai lebih. Dengan melaksanakan amalan wajib ataupun sunat. Menekan seminimal mungkin perbuatan sia-sia (mubah). Tidak melakukan perbuatan dosa (haram). Mendalami telaahan bagaimana semestinya seorang muslim mengisi sebagian besar waktunya dengan ibadah, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Aktifitas seorang muslim dimulai ketika ia bangun dari tidurnya, ia mengucapkan syukur kepada Allah swt yang telah menghidupkan kembali dari tidurnya karena Allah swt memegang jiwa orang yang tidur.

“ Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”. (QS.39, Az-Zumar : 42).

Ibadah utama seorang muslim adalah shalat 5 waktu. Terutama dan dianjurkan dilakukan dengan berjama’ah di mesjid/mushala sekaligus menjalin ukhuwah dengan jama’ah mesjid.

Kebiasaan baik membaca al-Quran setelah shalat subuh, kemudian dilanjutkan dengan tadabbur al-Quran yakni merenungkan makna ayat melalui kitab tafsir.

Sepanjang perjalanan berangkat kerja bisa di isi dengan ibadah melalui bibir yang selalu basah dengan dzikir, mendengarkan murotal al-Quran atau membaca buku-buku Islam bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi.

Bekerja mencari rezeki secara halal, jika tidak dicampuri dengan perbuatan maksiat maka ia memperoleh pahala. Karena bekerja merupakan kewajiban, sama saja dengan kewajiban shalat, puasa, zakat dan haji.

Makan malam bersama keluarga bisa dijadikan sarana untuk memberikan nasehat kepada anak. Di samping memberikan pemahaman Islam lebih dini kepada anak, juga merupakan bagian dari da’wah kepada keluarga sendiri. Bukankah Rasulullah saw pertama sekali berda’wah kepada keluarga terdekatnya.

Ketika banyak orang terlelap tidur, ia bangun dan melakukan shalat tahajud.

Shalat tahajud merupakan sunah muakad (dianjurkan) sehingga semakin mendekatkan (taqarrub) dirinya kepada Allah SWT, do’a-do’a dikabulkan dan Allah SWT akan memuliakannya.

Di samping aktifitas harian di atas, pada waktu tertentu bisa di isi dengan: puasa sunah, shalat sunah, berda’wah, mengikuti kajian, berdo’a sebelum beraktifitas, berdzikir, berinfaq, membantu orang yang kesusahan, dll.

Dengan aktifitas harian seperti itu nyaris sedikit sekali waktu terbuang percuma tanpa bernilai ibadah. Karena perbuatan yang tadinya mubah di dorong menjadi sunah yang bernilai pahala. Cobalah telaah lebih dalam, bukankah membaca al-Quran itu lebih baik daripada nonton sinetron, dan membaca buku-buku Islam itu lebih bermanfaat daripada main PS, dan seterusnya.

Intinya adalah, jangan tinggalkan yang wajib. Perbanyak yang sunah. Jangan lakukan yang haram dan makruh. Kurangi perbuatan yang mubah. Jika konsisten melakukannya maka insyaallah di akhirat nanti kita tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Bila kita ingat pesan Rasulullah SAW, bahwa tidak ada hijrah lagi setelah futuh Makkah”. Penjelasan bahwa al muhajir man hajaara maa naha-Allahu ‘anhu”.

Bahwa orang yang berhijrah itu sebenarnya adalah orang-orang yang berpindah dari yang dilarangkan oleh Allah kepada yang disuruh. Berpindah dari yang dibenci kepada yang disenangi oleh Allah. Maka berhijrah dalam arti visioner ini akan berlaku sepanjang zaman hingga hari kiamat..

Makna lebih jauh bahwa hijrah masa ini dan masa datang yakni dengan berpindah dari pandangan liberal kepada pandangan syariat. Berhijrah dari yang haram kepada yang halal. Atau meninggalkan yang dilarang oleh agama (syarak) dan konsisten menuju sesuatu suruhan agama sesuai Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Makna hakiki dari agama Islam adalah tauhid. Implementasi ad-din adalah akhlak mulia (karimah) yang mencakupi tata cara hubungan dengan Allah (hablum minallah), dan mu’amalah dengan manusia (hablum minan-naas), sebagai eksistensi ibadah makhluk manusia yang bersyariat itu.

Barakallahu lii wa lakum