Itiqamah di Jalan Allah

Istiqamah Di Jalan Allah

Khuthbah Idul Adh-ha

Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

Di hari ini seluruh umat Islam Indonesia, yang jumlahnya lebih kurang 80 prosen dari hampir 225 juta penduduk Indonesia, yang hidup di tengah hampir satu setengah miliyar muslim di dunia, membahanakan tahmid dan syukur atas nikmat Allah yang besar, dengan mengumandangkan kalimat tauhid, Allahu Akbar, Mahabesar Allah, Maha Agung Allah, tidak ada syarikat bagi Nya, Maha Suci Allah dari sifat tercela. Setiap Muslim hari ini mengumandangkan kalimat takbir dan tahmid di manapun di tadah bumi, di bawah cungkup langit biru, sambil merenungkan peristiwa sejarah yang telah di nukil indah oleh Nabi Ibrahim Khalilullah beserta istrinya Hajar dan anaknya Ismail, sebagai bukti kebenaran ucapan takbir, Allah Akbar.

Inilah jihad besar mencari redha Allah, yang dilambangkan dengan penyembelihan hewan kurban itu semata-mata karena hendak menjalankan perintah Allah SWT,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS.Alkautsar., 108 : 2)

Realita Kalimat Tahmid adalah Jihad Akbar.

Jihad dibuktikan dengan kerelaan berkorban, artinya setiap saat taqarrub ila Allah – menghampirkan diri kepada Allah Yang Maha Besar –, Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd.

Semua pengakuan perlu pembuktian, dengan amal perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail A’laihimas-salam.

IBADAH KURBAN, mengikut millah Nabi Ibrahim AS secara lengkap disebutkan dalam QS.37, Shaffat, ayat 100-113, simbol taqarrub (mendekatkan), tafakkur (memikirkan) serta tadzakkur (mengingat) nikmat Allah, yang telah ditetapkan sebagai manasik bagi setiap umat beriman.[1] Ibadah adalah “persembahan hamba kepada Allah Yang Maha Kuasa” sebagai bukti ketaatan ‘abid (hamba) dalam menunaikan perintah, dan penerjemahan secara hakiki arti ibadah qurban itu. Beberapa ahli fiqh Islam meletakkan ibadah qurban tidak semata sunnat muakkad, bahkan menetapkannya pada taraf wajib bagi yang mampu. Refleksi ibadah ini adalah lahirnya sikap pengorbanan yang tulus, rela, sadar, menjadi bukti tanggung jawab yang tinggi dari makhluk terhadap khaliknya.[2] Allah SWT menyediakan pahala besar dari ibadah ini, “hasanah pada setiap helai bulu ternak yang di korbankan”, dan menjadikan ibadah qurban satu amal paling disenangi Allah di yaumun-nahar (hari qurban), puncak kegembiraan muttaqin.[3] Rasakan betapa redhanya Ibrahim AS mengorbankan anaknya, dan bagaimana ikhlasnya Ismail AS dalam melaksanakan perintah Allah, menjadi ruh dari ibadah qurban ini.

َقَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS.Ash-Shaffat : 102).

Pernyataan dari lubuk hati yang dalam,

Sekarang ini, saat kita merayakan Idul Adh-ha 1428 H/2007 M, lebih dari 200.000 jamaah haji Indonesia, berhimpun di Masy’aril Haram, mengumandangkan kalimat talbiyah bersama hamper 4 juta umat muslimin sedunia. Labbaika Allahumma Labbaika, Laa syarika laka labbaika, Panggilan Mu ku ta’ati, Ya Allah, panggilan Mu ku ta’ati, Pangilan Mu ku patuhi, Tak ada sekutu bagi Mu, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka, Laa Syarika laka, Sungguh kepunyaan Mu semata segala puja dan puji, Nikmat dan Kekuasaan milik Mu, Tiada sekutu bagi Mu !!

Di antara Jamaah Haji itu, mungkin terdapat saudara, ibu dan bapak kita, sanak keluarga, adik, kakak, teman sebaya, sekantor, atasan dan karyawan kita. Bahkan mungkin istri atau suami dan anak-anak kita. Mereka berbaurberpakaian ihram putih seperti layaknya kain kafan. Rambut dan pakaian kusut masai, berdebu, seperti musafir berjalan jauh — A t t a f a l u –, bau badan menusuk hidung, tanpa pengharum, sibuk bekerja keras, menguras tenaga, bermandi peluh, menyahuti panggilan Allah, Labbaika Allahumma Labbaika, bergulat melupakan kemewahan duniawi, semata untuk mencapai mabrur dan makbul.

Menjelang malam 10 Dzulhijjah, semua Prajurit Allah (Jundullah) yang masih berpakaian ihram, mulai meninggalkan Arafah menuju Mudzdalifah. Berbondong menuju Mina, menyempurnakan manasik mencapai Jamarat dan thawaf ifadhah. Satu perjuangan berat mendapatkan haji maqbul yang mabrur, dengan suci hati dari kecabulan (rafast), berperilaku taqwa, tidak tercemar kemilau dunia, menghindari kesia-siaan (fusuq), sanggup hidup dan memberi hidup kepada khalayak ramai dengan ukhuwah (integrasi) yang kuat kokoh, menjauhi pertengkaran (jidal) diikat persatuan hati (ikhlas) mencari redha Allah.

MAKNA IBADAH adalah lahirnya watak positif sebagai hasil jalinan hubungan komunikatif dengan ma’bud (hablum minallah), membentuk sisi kejiwaan (psychological side-effect) yang tampak pada sikap ikhlas (bersih), redha (siap sedia), shabar (tahan uji), istiqamah (disiplin), qanaah (hemat), jihad (rajin dan berani), taat (setia), syukur nikmat (pandai berterima kasih), yang merupakan dasar-dasar akhlaq mulia yang menjadi tugas pokok risalah keutusan Muhammad SAW.[4]

IBADAH mengokohkan hubungan mu’amalah, atau hubungan sosial kemasyarakatan, yang terlihat nyata pada jalinan tugas-tugas kebersamaan (hablum minan-naas), kesediaan meringankan beban orang lain, peduli dengan kaum fuqarak wal masakin, sedia memikul beban secara bersama, hidup dengan prinsip ta’awun (saling menolong, bekerja sama dan sama-sama bekerja).

Maka hikmah ibadah pembuktian yang nyata dari tauhidiyah (shalat, nusuk, hidup-mati), ditujukan kepada Allah, dengan sikap prilaku hubbullah, menghidupkan sunnah al muwahhidin, dan membudayakan mawaddah wa rahmah[5] (hubungan kasih sayang sesama manusia), syukur[6] atas nikmat Allah, berarti tunduk, cinta, pengakuan, memuji, redha, mawas diri dengan tafakkur (berfikir) dan tadzakkur (berzikir) atas hidayah-Nya, dan ihsan[7], bersikap peduli sesama.

Semangat terpuji ini, amat berguna di dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta, dengan keikhlasan, rela berkorban, semangat persatuan yang kuat, yang diraih dengan mabrur itu. Sejarah bangsa Indonesia banyak terkait dengan perjalanan Haji sampai kini. Sejak mula pertama kali sang Merah Putih berkibar di Padang Arafah (1946), jauh sebelum Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik, dan para mujahid sesudahnya, di antaranya, Syeikh DR. H. Abdullah Ahmad, DR. H. Abdul Karim Amarullah, dan kawan-kawan, diikuti oleh Ilyas Yakub, Muchtar Luthfie, Hamka, dan lain-lainnya. Bahkan sejak abad 11 hingga abad 21 ini –, sambung bersambung tidak terputus, dalam kurun sepuluh abad lamanya.

Berbahagialah satu bangsa yang memiliki para Hujjaj yang mabrur, ketika kembali kekampung halaman, mampu memberi contoh hajjan mabruran, sa’yan masykuran, dzanban maghfuran, dan tijaratan lan-taburan, dengan pengabdian membangun negeri, melawan kemelaratan, peduli terhadap mustadh’afin yang jumlahnya bertambah setiap hari[8], walau tanah air kita adalah negeri yang kaya., menggapai kebahagiaan tertinggi, maghfirah dan jannah, sesuai sabda Rasulullah SAW menyebutkan ;

الحَجُّ مَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءً إِلاَّ الَجنَّة artinya “Haji yang mabrur, tidak ada baginya pembalasan selain surga”. قِيْلَ وَ مَا بِرُّه Lalu ditanya orang, “apa yang dimaksud dengan birruhu ?” Rasulullah SAW menjawab, إِطْعَمُ الطَّعَامِ yaitu “memberi makan kepada Si Lapar”, dan و إِفْسَاءُ السَّلاَمِ artinya “menyebarkan keselamatan”, memelopori tegaknya keadilan dengan berbagai kebajikan yang pasti melahirkan keselamatan dan kedamaian bagi segenap manusia–.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Baihaqie).

Tonggak Sejarah

Peristiwa di hari ini, membawa kita larut kembali ke tonggak sejarah seribu empat ratus delapan belas tahun silam, 9 Zulhijjah 10 H bertepatan Maret 632 M. Di kala Nabi Muhammad SAW berdiri di tengah hampir 120.000 sabiquunal-awwaluun di kaki Jabal Rahmah, di Padang Arafah, menyampaikan wasiat timbang terima dakwah Risalah dengan wahyu terakhir,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الاِسْلامَ دِينًا

“Dihari ini, Aku lengkapkan untuk kamu agamamu, dan Aku sempurnakan untuk kamu ni’mat Ku, dan Aku nyatakan keredhaan KU untuk Islam menjadi agamamu” (QS.5, Al Maidah:3).

Peristiwa yang disebut Haji Tamam atau Haji Kamal, sesuai wahyu terakhir itu, dikenal juga dengan Haji Wada’. Dalam khutbah Rasulullah SAW menetapkan prinsip-prinsip Islam dengan lengkap,Wahai manusia, Dengarkanlah perkataanku ! Sesungguhnya saya tidak datu, barangkali saya tak akan menemui kamu lagi sesudah tahun ini, di tempat ini selama-lamanya.”

Kalimat ini mengingatkan kita akan wasiat terakhir utusan Allah yang mulia, Muhammad SAW, yang menjadi suri tauladan,

1. Wahai manusia ! Sesungguhnya darah kamu dan harta benda kamu, adalah suci bagi kamu, sampai kelak kamu menghadap tuhanmu, pada suatu hari dan bulan yang sama sucinya dengan hari dan bulan ini. Sesungguhnya kamu akan menghadap Tuhanmu, dan Tuhanmu akan menanyakan tentang segala amal-amalmu. Sesungguhnya saya telah sampaikan hal itu kepadamu”.

2. “Barang siapa yang menerima amanah hendaklah ditunaikannya amanah tersebut kepada orang yang mempertaruhkan amanah tersebut kepadanya”.

3. “Sesungguhnya setiap riba sudah dihapuskan. Tetapi kamu akan tetap memperoleh modal harta benda kamu“. Jangan kamu berlaku zalim dan jangan pula bersedia dizalimi oleh orang lain. “Allah telah menetapkan supaya Riba itu tidak ada. Dan sesungguhnya Riba dari (paman saya) Abbas bin Abdul Muthalib telah saya hapuskan sama sekali.

4. Dan sesungguhnya kebiasaan balas membalas, menumpahkan darah sebagai adat kebiasaan zaman jahiliyah telah dihapuskan. Dendam darah yang pertama saya hapuskan ialah dendam darah dari Rabi’ah bin al Harits yang dibesarkan di tengah-tengah Bani Laits dan telah dibunuh oleh Huzail.

5. Sungguh kamu mempunyai hak-hak atas istrimu. Hak kamu atas mereka ialah bahwa mereka tidak dibenarkan mendudukkan orang lain di atas tempat tidurmu. Mereka tidak boleh mengerjakan perbuatan-perbuatan nista. Jika mereka lakukan perbuatan itu, maka Allah mengizinkan kamu untuk memukul tanpa mencederai mereka. Tetapi jika mereka telah menghentikan perbuatan tersebut maka mereka berhak menerima nafkah dengan cara baik..

6. Terimalah wasiat untuk berbuat baik terhadap kaum wanita, mereka adalah orang yang harus dilindungi di sisimu. Telah halal bagimu faraj isterimu hanya dengan kalimat Allah. Pikirkanlah perkataanku ini wahai manusia ! Sesungguhnya saya telah menyampaikan kepada kamu.

7. Saya tinggalkan kepada kamu dua pegangan. Jika kamu berpegang kepada keduanya, niscaya kamu tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Ingatlah keduanya selalu, yakni Kitabullah (al Quran) dan Sunnahku (Sunah Rasulullah SAW).

8. Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku dan pikirkan, bahwa setiap muslim adalah saudara. Seluruh orang-orang Islam bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim dari saudaranya kecuali sesuatu yang diberikan kepadanya dengan hati yang suci. Janganlah kamu menganiaya dirimu. Perhatikanlah. Bukankah aku telah sampaikan kepada kamu ?

Menjawab orang banyak yang hadir ketika itu, “Sudah Yaa Rasulullah”. Lantas Rasul SAW berkata, “Yaa Allah, saksikanlah !!!”.

Walau dalam waktu dekat sesudah Haji Wada’ ini Rasulullah SAW. sudah wafat, namun jihad Islam tidak pernah mundur … إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْح ُ Apabila telah datang pertolongan Allah dan hari kemenangan”…,

Di tangan para sahabat, berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, Agama Islam menyebar sangat cepat … وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا “dan engkau lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah”. Hanya dalam kurun 50 tahun, telah tumbuh masyarakat Muslim mulai dari tepian sungai Indus di India hingga samudera Atlantik di barat, meliputi Asia Barat, jazirah Arab, Afrika Utara, Mideterianian atau lautan Putih Tengah …, semata karena pertolongan Allah dengan kemenangan beruntun dan kearifan diplomasi sampai kepada berlututnya Toledo dan Cordova ..,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا maka bertasbihlah engkau dengan pujaan-pujaanmu terhadap Allah Tuhan engkau dan beristiqfarlah akan dia. Sesunggunya Dia Allah maha memberi taubat” (QS. 110, an-Nashru 1-3).

Menjaga fathullah (anugerah kemenangan dari Allah), hanya semata-mata dengan kesungguhan jihad disertai istighfar, bersih iman tauhid dan akidah Islamiyah dengan tahmid dan tadzkir kepada Allah semata.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka (istiqamah) menegakkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadanya”.(QS. Fussilat; 30)

I s t i g h f a r bersumber dari kesadaran instrospeksi dengan jujur, mengevaluasi perjalanan yang di lalui. Tasbih, tahmid dan istigfar memperkuat sifat istiqamah, konsisten dalam garis Allah di medan juang manapun berada supaya tidak hanyut di bawah arus.

Memisahkan nilai‑normatif dalam aktifitas hidup manusia, dengan mengabaikan dominasi moral agama yang sebelumnya telah di jadikan ukuran kualitas manusiawi, pasti akan mengundang bencana berupa krisis citra kemanusiaan, karena hajat hidup tidak semata pemenuhan kebutuhan materiil, malah lebih oleh kepuasan spiritual yang melahirkan rasa aman, rasa bahagia dan hidup yang tenteram.

Merebut materi semata dengan menghalalkan serba cara, dapat menghapuskan kecintaan terhadap sesama manusia, dengan hilangnya kerukunan dan kesantu­nan. Nilai‑nilai halus kemanusiaan akan terusik dan terabaikan, manakala aktifitas kehidupan semata bersandar kepada penataan indivi­dualistic, menganggap bahwa kehidupan ukhrawi tidak kena mengena dengan kegiatan duniawi, akan berakibat jauh kepada manusia akan leluasa merampas hak orang lain, dan akhirnya berkembang kehidupan hedonistik, kriminalitas, sadisma, pergaulan tak bermoral, hilangnya kepercayaan di tengah pergaulan hidup, kemudian menjelma menjadi krisis (dharra’) yang sulit diatasi.

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak dengan tanah air paling strategis di perlintasan dunia, indah seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, mesti berperan membentuk umat masa depan yang gemilang. Membangun umat yang baik, di awali dengan memperbaiki silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ. ) رواه أحمد(

Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Alim Ulama mesti menjadi pengawal umat, menjaga jangan ada perpecahan di dalam masyarakat. Berpisahnya ulama dengan umat akan berakibat sangat pahit bagi umat Islam, yakni umat akan sesat dan bodoh, sabda Rasulullah SAW;

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ اِنتْزَِاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ وَلكَِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَافْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا أَوِ أَضَلُّوا )رواه البخارى و مسلم عن ابن عمر (

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hambanya, melainkan Allah mencabut ilmu dengan mengambil nyawa para ahli ilmu (ulama), sehingga setelah tiada lagi orang berilmu, orang banyak akan mengambil orang bodoh-bodoh menjadi pemimpinnya, lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, karena itu, mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar). Artinya, apabila ulama yang menuntun umat tidak ada, maka umat akan menjadi liar kembali.

Fenomena sekarang generasi muda Islam – terutama di kota-kota besar – mulai asyik kembali mempelajari ajaran agama Islam yang murni. Selama ini, tanpa disadari agama telah diabaikan sampai kepada akibat yang membawa mereka jatuh kelembah kehinaan. Dunia mulai ingat kembali kepada misi Islam di tengah pergaulan Internasional, sebagai pernah di raih 14 abad silam, seperti dikatakan olehRub’ie bin Amir ketika berhadapan dengan seorang jendral Persi,

إِنَّ اللهَ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ النَّاسَ مِنْ عِبَادِةَ العِبَاد إِلى عِبَادَةِ الله وَ من ضَيِّقِ الدُّنْيَا عَلَى سِعَتِهَا و مِنْ جُور الأَدْيَان إِلىَ عَدَلِ الإِسْلاَم.

“Tuhan telah menampilkan kami umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia kepada menyembah Allah semata, dari sempitnya dunia (jahilinyah) kep[ada keluasaan (ilmu pengetahuan), dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam”.

Sebenarnya, di dalam lubuk hati umat Islam masih berkumandang pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab yang menegaskan ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ ) رواه الحكم (

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam, kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaanlah yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di sinilah tanggung jawab besar para Ulama dan cendekiawan muslim untuk membimbing dan memberikan pedoman kepada umat. Seiring dengan tanggung jawab umarak, di antaranya melindungi orang lemah dengan memperbaiki silaturahim dan menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati, seperti sabda Rasulullah SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ. }رواه ابن النجار عن أبي هريرة{

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Perpaduan hati antara Umarak dengan rakyatnya direkat oleh keadilan yang menjadi landasan kecintaan, diperkuat oleh pemurahnya hartawan dan cermatnya ulama. Inilah langkah awal dari persatuan. Bersihnya para pemuda dan sikap malu yang tertanam pada setiap perempuan akan menjadikan dunia bersih tak bernoda, sebagaimana di ingatkan oleh hadits Rasulullah SAW,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ. }رواه الديلمى عن عمر{

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak(pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, namun akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan di tengah alam dan masyarakat. Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih di mata rakyatnya. Perpaduan hati antara Umarak dengan rakyat menjadi landasan kecintaan, dan langkah awal menumbuhkan kekuatan sesuai sabda Rasulullah SAW,

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ. }رواه مسلم عن ابن مالك{

Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Aghniyak atau kalangan hartawan yang menguasai bidang-bidang ekonomi merajut kemakmuran masyarakat, sama memikul amanah menentukan corak masyarakat. Mereka adalah tonggak utama amat menentukan bagi tegak rubuhnya masyarakat itu. Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan hartawan itu sebagai:

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ. }رواه الترمذي{

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah,selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Terpilihnya Umarak dari orang-orang baik dan bijak, di sampingnya ada para pengusaha (aghniyak) dermawan, inilah yang menjadi jaminan terlaksana demokrasi dan menjadi syarat mutlak untuk menciptakan kemesraan hidup bermasyarakat yang ahsan (baik) itu. Demokrasi yang murni sangat sesuai dengan fitrah manusia, karena ditujukan untuk semua rakyat, tidak hanya untuk satu golongan dan kelompok. Selama berpuluh-puluh tahun, demokrasi dikaburkan oleh kekuasaan, dengan akibat yang sangat merugikan umat. Namun, kepincangan yang sudah lama dirasai tersebut, akhirnya disadari, kemudian telah membersitkan harapan akan adanya suasana perubahan zaman.

Betapapun kecilnya perubahan itu mestilah disyukuri dan dipelihara. Demokrasi mesti di kawal dan di jaga dengan baik, sesuai firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Apabila tidak mampu memelihara nikmat, demokrasi akan menjadi laknat bertabur tindakan anarkis. Keadaan akan berubah dari terbaik bertukar menjadi terbalik, bertolak belakang 180 derajat. Ujungnya, masyarakat banyak akan dihimpit derita dan nestapa. Ketika itu, penguasa dan pengusaha akan berubah menjadi penindas dan penghisap. Di sampingnya akan tegak berhimpun para cendekiawan yang menjadi penghasut. Mau tidak mau, rakyat jelata terpaksa memikul beban berat, karena posisi rakyat hanya akan menjadi sekedar alat tunggangan untuk mencapai kedudukan semata. Maka, demokrasi tanpa akhlak akan membuka kesempatan kepada pemaksaan kehendak. Padahal ajaran demokrasi menetapkan satu pilihan demi kemashlahatan umat banyak dan terjaminnya kesejahteraan. Maka disini, peran umarak amat menentukan.

إِذَا كَانَ أُمَرَائُكُمْ خَيَارُكُمْ وَ أَغْنِيَائُكُمْ سَمَحَائُكُمْ وَ أَمْرُكُمْ شُوْرَى بَيْنَكُمْ فَظَهَرَ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ بَطْنِهَا

Manakala para pemimpin kamu diambil dari dari orang-orang baik di antara kamu dan para orang kaya kamu adalah orang-orang penyantun di antara kamu serta semua urusan kamu di musyawarahkan di antara sesamamu maka punggung bumi akan lebih baik sebagai tempat tinggalmu daripada — mati berkalang tanah, dalam perut bumi.

Karena itu perjuangan demokrasi yang adil tujuan utamanya agar kemiskinan tidak merajalela. Sunnah Rasulullah mewajibkan untuk selalu hati-hati dan mawas diri di dalam memilih pemimpin agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya satu-satunya hanyalah dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlak agama.

Apabila akhlak agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik. Pejuang demokrasi yang beriman memahami bahwa demokrasi tidak akan pernah tampil jika tidak ada penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama.

Artinya, demokrasi lahir dari rasa tanggung jawab dengan akhlak mulia. Demokrasi tampil lebih baik dengan terpeliharanya keteguhan prinsip (konsisten, taat asas) dalam kehidupan beradat yang luhur. Hati-hati dalam memilih dan mengangkat pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik.

إِذَا كَانَ أُمَرَائكُِمْ شِرَرُكُمْ وَ أَغْنِيَائِكُمْ بُخَلاَئِكُمْ وَ أَمْرُكُمْ فِى يَدِ نِسَائِكُمْ فَبَطْنِ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ ظَهْرِهَا.

“ Jika Umarak kamu terambil dari mereka-mereka yang jahat, hartawan kamu adalah manusia-manusia bakhil budak harta, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu tidak di musyawarahkan lagi, akan tetapi terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, perut bumi yakni mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Na’izubillahi min zaalik.

Generasi Depan mesti menjadi Pahlawan Pejuang.

Pembangunan masyarakat memerlukan unsur kepahlawanan. Pahlawan ialah manusia yang dapat menjangkau apa yang tidak dapat diraih manusia biasa. Pahlawan selalu mampu berkurban apa saja untuk kepentingan orang banyak. Kepahlawanan seperti ini, mestinya lebih banyak tampil dari kalangan angkatan muda. Nabi Muhammad SAW sangat sering mengingatkan umat tentang pemuda angkatan datang:

أٌوْصِيْكُمْ بِالشَّبَابِ فَإِنَّهُمْ أُرِقَ أَفْئِدِهِ، فَلَمَّا بَعَثَنِي اللهُ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا حَالَفَنِي الشَّبَابِ وَ خالَفَنِي الشُّيُوْخِ.

“Saya wasiatkan kepada kamu akan angkatan muda supaya dipelihara sebaik-baiknya. Pemuda-pemuda itu jiwanya sangat peka sekali, mudah digetarkan oleh situasi sekelilingnya. Dahulu waktu saya sendirian mula dibangkitkan sebagai Rasul berbondong pemuda mengelilingiku, bersumpah setia mendukung jihad fi sabilillah, pada hal di waktu yang sama masa itu, golongan-golongan tua malah jadi penantangku.”

Sukses Rasulullah Saw. tidak tertandingi dalam sejarah pembangunan Umat. Tampak nyata dari terjelmanya satu masyarakat yang komplit dengan tatanan dan peraturannya, dalam masa bakti selama 23 tahun, hanya karena banyak dukungan dansaham jihad angkatan muda. Sederetan nama-nama sahabat penting Rasulullah yang terkemuka, umurnya rata-rata di bawah umur Beliau, — berusia diantara umur belasan tahun dan tiga puluhan — sebagai contoh,Abu Bakar as Shiddiq berusia 37 tahun tatkala menjadi tiang penyangga dakwah Islamiyah. Usman bin Affan, berumur sekitar 20 tahun, tatkala memberikan pernyataan menerima Islam di hadapan Rasulullah. Umar bin Khattab yang menjadi pagar dakwah berusia 26 tahun, ketika tampil membela Islam. Ali bin Abi Thalib, berusia 8 ½ tahun. Abdul Rahman bin ‘Auf baru berumur sekitar 30 tahun. Demikian juga dari kalangan kaum perempuan, seperti Asma binti Abubakar dan Ummil Mukminin ‘Aisyah RA dan lainnya, rata-rata masih muda belia. Mereka semua adalah, إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan dan Kami telah tambahkan hidayah kami untuk mereka.”

Al Qur’an banyak sekali menampilkan tokoh-tokoh angkatan muda. Umpamanya Nabi Yusuf, Nabi Musa, Pemuda Ashabul Kahfi. Dan yang paling menyentuh adalah Ismail AS, yang sangat menyayangi Allah melebihi kecintaannya kepada nyawa dan kehidupannya. Kisah pahlawan Generasi Muda selalu tampil indah dalam membela kebenaran dan menegakkan prinsip keikhlasan serta keadilan.

Umat Islam Indonesia tidak terkecuali, apabila ingin meneruskan pembangunan, maka persoalan angkatan muda, mesti menjadi prioritas utama. Generasi muda harus melatih diri menjadi pahlawan di masa datang. Umat Islam Indonesia mesti prihatin manakala generasi muda tidak tersentuh ajaran agama. Karena yang akan tampil adalah generasi lepas kendali. Mereka akan tumbuh di pacu derasnya infiltrasi budaya, beriringan dengan kelalaian melatihkan peran kepada generasi pengganti, jalan akan di alih orang lalu.

Apabila pengawasan dan pendidikan terlupakan, orang tua atau ibu bapak akan menjadi layaknya ayam beranak itik. Setelah memiliki tenaga, mereka akan terbang ke dunia lain, tanpa hirau dengan budaya dan tamaddun bangsa sendiri.

Kelalaian dalam pembinaan akan melahirkan generasi lemah, seperti diperingatkan oleh Allah SWT dalam surat Maryam ,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, keturunan pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”(QS. Maryam, 19 : 59)

Sebagai penutup, marilah kita simak sebuah sabda Rasulullah untuk melempangkan jalan bagi kita dalam menghadapi segala tantangan yang menghadang kita dari berbagai penjuru, sebagai berikut:

قَالَ رَسُوْلُ الله صلعم: يَا مَعْشَرَ المُسْلِمِيْنَ شَمِّرُوا فَإِنَّ الأَمْر جَدُّ، وَ تَاهَبُّوْا فَإِنَّ الرَّحِيْلَ قَرِيْبٌ: وَ تَزَوَّدُوا فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ وَ خَفَّفُوا أَثْقَالَكُمْ وَ إِنّ َوَرَائِكُمْ عَقَبَةً كَؤُوْدًا لاَ يَقْطَعَهَا إِلاَّ المُخَفَّفُونَ.

“Wahai kaum muslimin, bersiap-siaplah karena perkara ini sangat serius. Siap sedialah karena saat kepergian sudah dekat. Persiapkanlah perbekalan karena perjalanan ini sangat jauh. Kurangilah bebab-bebanmu, karena di depanmu sudah menantang rintangan yang sangat menyulitkan, kecuali bagi orang-orang yang ringan bebannya.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ بَيْنَ يَدَي السَّاعَةَ أُمُوْرًا شَدِيْدًا وَ أَهْوَالاً عِظَامًا وَ زَمَانًا صَعْبًا يَتَمَلَّكَ فِيْهِ الظُّلْمَةُ يَتَهَدَّرُ فِيْهِ الفُسُقُ فَيُضْطَهَدُ فِيْهِ الآمِرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ يُضَاَح النَّاهُوْنَ عَنْ المُنْكَرِ،

Wahai manusia, sesungguhnya menjelang hari kiamat akan terjadi berbagai peristiwa yang sangat gawat. Dan berbagai bencana yang besar. Dan akan terjadi pula saat-saat yang kritis di mana kelompok orang-orang zalim berkuasa, dan orang-orang fasik memegang kedudukan penting. Sementara itu orang-orang yang menyeru kebaikan akan di tindas, selanjutnya orang-orang yang mencegah kemungkaran di tekan.

فَأَعِدُّوا لِذَالِكَ الإِيْمَانَ عَضُّوْا عَلَيْهِ بِالنَّوَاجِذِ وَ الجَوْءُ إِلَى العَمَلِ الصَّاِلحِ وَ أَكْرِهُوْا عَلَيْهِ النُّفُوْسَ وَ اصْبِرُوا عَلَى الضَّرَّاءِ تَفَضَّلُوْا إِلَى النَّعِيْمِ الدَّائِمِ.

Karena itu bersiaplah untuk menghadapi semua itu dengan bekal iman yang sangat cukup. Perbanyaklah amal shaleh dan paksalah dirimu untuk mentaatinya. Serta bersabarlah dalam menghadapi kesulitan ini, niscaya kalian akan mendapatkan ganjaran sorga yang abadi.”

Penutup

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama, selama ini hidup rukun dan damai karena kebetulan mayoritas mutlaknya adalah umat berakhlak Islam.

Umat Muslimin pada hari ini berkumpul di mana-mana melakukan shalat Idul Adha dengan segala amaliahnya bertujuan mempertebal iman dan taqwa kepada Allah. Sikap ikhlas dalam setiap ibadah Islam akan melahirkan rasa kesetiakawanan sosial. Suatu contoh konkrit, sebentar lagi kita akan melakukan penyembelihan hewan kurban dan membagikan daging kepadabaisal faqir (fakir yang melarat).

Selama empat hari ini berkumandang dengan lantang kalimat takbir, tahmid dan tasbih, walau ada sebahagian saudara muslim kita merasa cemas dan takut. Maka tugas kita bersama mengulurkan bantuan semampu kita.

Ketika canang kebebasan mulai diguguh, membangun suasana baru dengan perubahan, tidak jarang korban manusia berguguran karena hilangnya kendali yang melahirkan balas dendam dan disintegrasi. Bahaya yang mengancam generasi. Setiap kita berkewajiban mencegah, agar kondisi rusuh runyam itu tidak terjadi. Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus dan ikhlas agar kemelut tidak terjadi.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

Padang, 10 Zulhijjah



[1] Disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Prov.Sumbar. Ketua Umum BAZ Prov Sumbar, di Lapangan Imam Bonjol Padang, pada Hari Raya Idul Qurban, 10 Zulhijjah 1428 H/20 Desember 2007 M.



Catatan Akhir

[1] Dalam sebuah hadist disebutkan, tatkala para shahabat bertanya “Maa haa dzihi al-adhaa-hiy? (apa artinya udh-hiyah (memotong hewan kurban) itu?) maka Rasulullah SAW menjawab “Sunnatu abii-kum Ibrahim”(Sunnah atau ketentuan dari Bapakmu Ibrahim AS), (HR.Ahmad dan Ibnu Majah). Lihat juga peristiwa kurban Ibrahim dalam QS.37,As-Shaffat, ayat 100-113.

Dan Al Quran Surat Hajj (22) ayat 34 menyebutkan dengan terang; “wa likulli ummatin ja’alnaa mansikan, liyadzkurusmallahi ‘alaa maa razaqakum min bahiimatil-an’aami, fa ilaahukum ilaahun waahidun, falahuu aslimuu, wa bassyiril mukhbitiina”, artinya “dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah di rezekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Satu (Allah SWT), karena itu berserah dirilah kepada Nya. Dan beri kabar gembiralah kepada orang-orang yang tunduk dan patuh (kepada Allah)”.

[2] Sabda Rasulullah SAW; “ man wajada sa’ata li-an yudhah-hiya falam yudha-hiy fala yaqrubanna mushalla-na” (HR.Ahmad dan Ibnu Majah), artinya “ siapa yang telah memiliki kesanggupan untuk berkurban dan tidak mau melaksanakan kurban, maka janganlah di hampiri tempat shalat kami”, untuk bahan penilitian lihat juga Nailul Authar V; 197-200, dan Al Majmu’ syarah Al Muhadzdzab VII; 382-386, dan Al Fath-hul Rabbani XIII; 57-60, dan Takmilul Fath-hul Qadir IX; 504-509, atau Subulus Salam 89-91.

Menurut istilah kurban, bermakna “persembahan kepada Allah Yang maha Kuasa” (KUBI,1996 hal 744), berkurban artinya mempersembahkan kurban kepada Yang maha Kuasa, sebagai suatu tuntutan ajaran agama terhadap seseorang yang mampu (lihat KBIK,1995, hal 802). Sedangkan kata korban adalah kata kurban yang telah berobah makna, maka berkorban berarti menantang derita bahkan kematian untuk sesuatu tujuan yang sangat mulia atau ditujukan kepada sesuatu yang sangat di cintai, dan “pengorbanan” adalah hal, cara, hasil dari pekerjaan mengorbankan sesuatu itu (KUBI,hal: 718). Lihat Cyril Glasse,”Ensiklopedia Islam”, Ed.Indonesia, Jakarta 1996, hal 331-332

[3] Firman Allah menyatakan;

“dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya, dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta), dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS.22,Al.Hajj: 36).

Sabda Rasul; “maa lanaa minha?”, tanya sahabat, Rasulullah menjawab :”bi kulli sya’ratin hasanatun”, artinya “pada setiap helai bulu ternak yang di kurbankan itu, untukmu ada kebaikan”(HR.Ahmad dan Ibnu Majah).

Demikian pula sabda Rasul; “maa ‘amal ibnu Adama yauman-nahri ‘amalan ahabba ila^llahi min hiraaqati damin, wa innahu lata’tii yaumal qiyamati bi qurunihaa wa adzlaafihaa wa asy’arihaa; wa inna^ddama layaqa’u minal^lahi bi makaanin qabla an yaqa’a ‘alaal-ardhi, fa thibuu bihi nafsan”, artinya “tidak ada satu amalan anak cucu Adam yang paling disenangi Allah di hari nahar (hari raya kurban) adalah menumpahkan darah menyembelih hewan kurban. Kurban itu akan mendatanginya di hari kiamat lengkap dengan tanduk, kuku dan kulit (bulunya). Darah dari hewan yang di kurbankan itu telah diletakkan Allah pada satu tempat (terpilih) sebelum tertumpah ke bumi, maka bahagiakanlah diri-diri (orang yang berkurban) itu” (HR.At Turmudzi dan Ibnu Majah).

[4] Sabda Rasulullah SAW “Innama buits-tu li utammi makarimul akhlaq” artinya “ aku di utus untuk membentuk akhlaq mulia (bagi setiap manusia)” (Al Hadist).

[5] QS.Al An’am, ayat 162. Dan lihat, QS.(3) Ali Imran ayat 14 tentang “hubbusy-syahawat”, atau pada QS(9), At-Taubah, 24, tentang orang fasik (sangat mencintai dunia) yang tidak akan mendapatkan pertolongan Allah dan akhirnya menuju kehancuran.

Hadist Rasul “laa yu’minu aahadukum hatta yakuuna^llahu wa rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwaa humaa”, artinya “belum beriman seseorang diantara kamu hingga Allah dan Rasul lebih dia cintai dari apapun selain keduanya” (HR.Bukhari Muslim).

Sunnah al Muwahhidin, adalah contoh keikhlasan para pendahulu, lihat juga kisah Ibrahim QS.(37) Ash-Shaffat 100-111.

[6] Al Ghazali, dalam Ihya’ VI:79, menyebutkan syukur itu memiliki tiga rukun, (1). ilmu (tauhidullah), (2). sikap jiwa (hal gembira menerima pemberian Allah, tanpa mengomel), (3). amal (kemampuan meningkatkan nikmat kearah yang lebih positif)

[7] Ihsan, merasa di awasi oleh Allah, setiap gerak menjadi sangat terkendali. Dalam sebuah hadist, disebutkan “al ihsaan an ta’buda Allaha ka annaka tarahu, fa in lam takun tarahu fainnahu yaraaka”, (HR.Bukhari,Muslim).

Ihsan (perbuatan baik), untuk semua makhluk, disebutkan dalam sabda Rasul Allah SAW Inna^llaha katabal-ihsan ‘alaa kulli syay-in, fa in qataltum fa ahsinul-qithlata, wa idza dzabahtum fa ahsinu^dzabha, wal-yuhidda ahadukum bisyafratuhu wal-yurih dzabihatahu” (HR.Muslim), yakni ada kewajiban jika membunuh secara ihsan (baik), menyembelih dengan baik (ihsan), dan tajamkan pisau, sempurnakan sembelihan.

Lihat juga QS.Qashash ayat 77, kewajiban ihsan di seluruh segi kehidupan duniawi; dan QS.(3) Ali Imran 134-135, tentang ciri-ciri muhsinin; juga QS.Al Baqarah (2) ayat 195, pada dasarnya menyuruh berinfaq dijalan Allah, peduli terhadap dhu’afak (orang lemah).

[8] Hari ini, jumlah masyarakat miskin itu sudah mencapai 38, 5 juta di tengah 215 juta bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s