Tanya Jawab Menanam Kepala Sapi

BuyaPertanyaan masa lalu yang masih ditanyakan orang masa kini

Menanam Kepala Kerbau

Menanam kepala Sapi Mencari Keselamatan

Kamis, 12 Jun 08 07:12 WIB

Assallamualaikum Wr Wb.

Dengan ini kami ingin bertanya apakah jika kita menguburkan kepala
sapi yang telah di sembelih dengan niat untuk mencari keselamatan atas
tempat yang kita tinggalkan ada unsur syiriknya atau tidak?

Atas jawaban dari Ustadz saya ucapkan terima kasih.
Wassallam,
Deny MHamba Allah

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menguburkan kepala sapi dengan niat agar mendapatkan keselamatan
adalah salah satu praktek kepercayaan yang didasarkan atas tahayyul.

Kenapa dikatakan tahayyul?

Karena orang yang menanamkan percaya kepada hal-hal yang tidak ada
dasarnya. Mereka percaya pada kekuatan ghaib tertentu, dan juga percaya
pada tata laksana untuk meminta keselamatan itu yang juga tidak jelas
asal usulnya.

Dalam kepercayaan mereka, kalau tidak ditanam kepala sapi, nanti
akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Inilah letak tahayulnya.

Mungkin orang-orang yang masih saja mempraktekkan hal itu
berargumen, bahwa kita kan hanya menjalankan apa yang dipercaya orang.
Mau percaya mau tidak percaya, silahkan saja. Yang penting, ritualnya
sudah dijalankan.

Koreksi Secara Islam

Bagaimana kita mengoreksi cara berpikir seperti ini?

Pertama, tidak salah kalau kita harus meminta keselamatan agar
gedung atau bangunan yang sedang dibangun itu mendapatkan perlindungan.
Sebagai makhluk yang lemah, dalam pandangan kita memang banyak hal-hal
yang tidak masuk logika akal manusia biasa yang bisa terjadi.

Maka tidak salah kalau kita berdoa dan meminta keselamatan atas
kerja dan proyek yang kita lakukan. Karena pasti ada faktor x yang
penting dan luput dari urusan perhitungan manusiawi.

Kedua, rasanya kita sepakat bahwa yang namanya minta keselamatan itu
bukan kepada jin Tomang atau setan gundul atau genderuwo, atau apalah
yang sejenisnya.

Sebagai muslim, kita hanya boleh meminta keselamatan dari Allah SWT, sebagai Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Memelihara.

Dan bila kita sepakat bahwa meminta keselamatan hanya boleh kepada
Allah WT, maka haram hukumnya kalau kita minta keselamata kepada
makhluknya, baik makhluk halus atau pun makhluk kasar.

Sayangnya, justru pada poin kedua inilah kita sebagai umat Islam
sering diuji. Betapa banyak orang yang mengaku Islam, tapi sistem
logika tauhidnya agak melenceng dari garis utama. Sebab masih saja ada
orang yang mengaku sebagai muslim, namun dia malah menyembah
makhluk-makhluk-Nya.

Masih banyak kalangan yang mengaku bertuhan kepada Allah, tetapi
pada saat yang sama, dia juga menyembah tuhan-tuhan yang lain.
Sementara dia shalat 5 waktu mengerjakan perintah Allah, di saat yang
sama dia juga melakukan ritual yang diajarkan oleh tuhan lainnya.

Dan sikap ini adalah ambigu serta membuat Allah SWT marah besar.
Sikap inilah yang kemudian dikatakan sebagai mempersekutukan Allah.
Atau dalam kata lain disebut dengan menduakan Allah. Dan dalam bahasa
Arab disebut dengan istilah: Syirik.
Sebagai muslim, kita diharamkan menduakan Allah dalam segala ajaran-Nya.
Ritual Meminta Kepada Allah

Nah, kalau dua hal ini sudah kita sepakati, tinggal masalah yang
nomor tiga, yaitu bagaimana cara ritual kita meminta keselamatan dari
Allah SWT?

Allah SWT telah menurunkan Al-Quran dan Sunnah kepada kita sejak 14
abad lampau. Di dalamnya telah dirinci teknik bagaimana kita meminta
perlindungan dan berdoa serta bagaimana cara meminta.

Dan setelah kita telurusi ayat demi ayat, hadits demi hadits,
nyatalah bahwa perbuatan menanam kepala sapi atau kerbau tidak termasuk
cara yang dibenarkan untuk meminta keselamatan.

Jadi kalau penanaman kepala kerbau ini dipaksa-paksa mau dilakukan
dan dianggap bagian dari agama Islam, pada hakikatnya hal ini adalah
sebuah pelecehan dan penodaan terhadap Islam.

Islam tidak mengajarkan hal-hal yang seperti ini.Bahkan Islam telah
mengharamkan praktek ibadah ritaul yang tidak diajarkan oleh Rasulullah
SAW.

Hukum Menyembelih Untuk Selain Allah

Islam telah mengharamkan kita menyembelih hewan yang niatnya bukan
karena Allah perintahkan. Kalau sekedar untuk dimakan tanpa niat
apa-apa, hukum penyebelihan hewan itu pasti halal.

Kalau penyembelihan itu diniatkan sebagai ritual kelahiran bayi,
maka itu bukan hanya halal tetapi malah disunnahkan. Kita menyebutkan
aqiqah.

Kalau penyembelihan itu diniatkan sebagai ritual i bulan haji, juga
halal dan mendapat pahala. Istilah yang bakunya adalah penyembelihan udhiyah. Tetapi bangsa kita terlanjur menyebutnya sebagai hewan korban.

Tetapi kalau menyembelih hewan yang tujuannya minta keselamatan,
lalu ada ritual menanamkan kepada hewan itu di dalam tanah, jelasnya
hal ini tidak dibenarkan. Dan bahkan daging hewan itu pun menjadi haram
untuk dimakan. Karena hewan itu disembelih bukan karena Allah, tidak
seusai dengan peraturan Allah dan melanggar ketentuan Allah.
Dalam hukum Islam, daging hewan itu termasuk bangkai yang haram dimakan oleh seorang muslim, sebagaimana firman Allah SWT:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah,
daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah (QS. An-Nahl: 115)
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

http://groups.google.com/group/RantauNet/browse_thread/thread/f5e534ec90d1a0d1?hl=id

Jawaban dari Buya H Masoed Abidin tanggal: Sab 14 Jun 2008 01:14

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

 Hakikat dari Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah adalah
 bahwa syarak mangato adaik akan memakaikan.

 Artinya, jika adat adalah perilaku kebiasaan dalam hubungan bermasyarakat dari satu masyarakat adat, dalam hal ini mungkin Minangkabau,
 maka semua yang di adatkan itu tidak boleh menyimpang dari ketentuan agama (syarak).

 Agama (syarak) diturunkan untuk manusia, maksudnya antara lain ;
 1. membersihkan akal fikiran manusia dari sikap syirik,
 2. menyucikan hati manusia dengan tauhid dan cinta melaksanakan ibadah,
 3. membersihkan harta manusia dari yang syubhat dan haram,
 4. membersihkan agama itu sendiri agar tidak tercampur dengan yang dilarang atau bid’ah,
 5. menyucikan nasab manusia agar tidak terjamah oleh zina.

 Maka di dalam upacara-upacara yang ada hubungannya dengan  manusia,
 masyarakat atau yang disebut ada kaitan dengan adat,
 semestinya tidak boleh sama sekali tercemar oleh
 yang bertentangan dengan agama (syarak=syariat) itu.

 Bagi masyarakat Adat Minangkabau,
 sudah dipateri dengan kesepakatan kesekian kalinya
 antara pemangku adat dan penjaga syarak yang disebut ulama suluah bendang di nagari, bahwa antara adat dan syarak tidak boleh ada pertentangan.
 Perjanjian yang terbesar disebut dengan Sumpah Satie Bukik Marapalam.

 Sekarang ini, di zaman modern,
 ingatlah kembali kepada sumpah satie itu.
 Bahwa kepala kerbau bukan untuk dibenam, tapi untuk dimakan.
 Dalam kalimat petatah adat disebutkan,
 dagiang di lapah, utak (benak) dikacau, tulang dikubur.

 Kalau akan ada yang di kubur,
 maka yang dikubur itu adalah tulang belulang,
 agar tidak mencelakakan bagi orang banyak,
 juga tidak membawa anyir di nagari.

 Bahkan menyembelih pun di tunjukkan
 agar lebih dahulu galilah lobang agar darah tidak terserak.

 Belum cukup dimengertikan aturaan adat itu?
 Adakah cara ini bertentangan dengan syarak?

 Bila masih ada peranagan menanam kepala kerbau,
 atau kepala sapi agar musibah terjauh,
 seperti yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh
 dengan mencampakkan sapi atau ternak kambing ke lobang lumpur di Porong atau membenamkan kepada sapi di kaki jembatan
 agar jembatannya kuat,
 nyatanya itu pekerjaan yang mubazir.
 Mubazir membuang otak sapi yang halal untuk di makan,
 dan mubazir pula dari segi ilmu pengetahuan modern
 bahwa kuatnya jembatan tidak terletak pada kepala kerbau/sapi,
 tapi terletak kepada benar atau tidaknya konstruksi yang dibuat.

 Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak perlu di tanyakan lagi.
 Bagi orang Islam pekerjaan itu adalah syirik,
 di samping mubazir dalam materi.

 Bagaimana selanjutnya ???
 Tinggalkan dan tinggalkan,
 dan jauhi perbuatan itu.

 Sekian saja,
 Wassalam
 BuyaHMA

 http://groups.google.com/group/RantauNet/browse_thread/thread/9bb20cfb2d1bd6d2?hl=id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s