Menuju Masyarakat Madani

Menuju Masyarakat Madani

Oleh: Buya H Mas’oed Abidin

Salah sekali anggapan bahwa agama Islam hanya sebatas ritual pada hari-hari tertentu. Sesat sekali pendapat beragama hanya di batasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata. Terlalu sesat memahami agama yang tidak kena mengena (relevan) dengan gerak kehidupan riil, tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, budaya, hubungan hak asasi manusia, atau ilmu pengetahuan dan teknologi.

Agama Islam berdasar al Quran berperan multifungsi, “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur)[1].

Buya di Masjid Nabawi
Buya di Masjid Nabawi

Bila Islam tidak diamalkan dari inti nilai-nilai dasar (basic of value) Dinul Islam, atau hanya sebatas kulit luar berupa ritual ceremonial, maka ummat ini tidak akan berkemampuan bertarung di tengah perkembangan dunia global pada abad keduapuluh satu mendatang.

Masyarakat yang lalai senang menerima, suka menampung dan menagih apa-apa yang tidak diberikan orang, cenderung menjadi bangsa pengemis yang kesudahannya membawa bangsa ini bertungkus lumus (terjerumus) kepada penggadaian menjual diri, dan tampillah pelecehan nilai-nilai bangsa.

Dinul Islam menyimpan rahasia besar “gerakkan tanganmu, Allah akan menurunkan untukmu rezeki” [2].

Nilai ajaran dinul Islam melahirkan masyarakat proaktif menghadapi berbagai keadaan sebagai suatu realitas perbaikan kearah peningkatan mutu masyarakat.

Abad kedepan akan banyak berperan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan (knowledge base society), berbasis budaya (culture base sociaty) dan berbasis agama (religious base society). Peran terbesar para intelektual aktif menata ulang masyarakat dengan nilai-nilai kehidupan berketuhanan dan bertamaddun sebagai mata rantai tadhamun al Islami (modernisasi, pengenalan Islam ketengah peradaban manusia). Peran ini penting untuk menggiring masyarakat Indonesia ini menuju masyarakat madaniyah (maju, beradab). [3]

Menghidupi Masyarakat Desa

(Kaum Dhu’afak)

Mengangkat taraf hidup kelompok lemah, akar serabut (grass root) dari masyarakat alas terbawah piramida, bukan usaha mustahil dikerjakan. Asal saja dapat merasakan nilai kepentingan, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta) mengangkatnya, tentu akan dapat memulainya. [4]

Kepandaian-kepandaian betapapun sederhananya, seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar, beternak itik ataupun ayam buras, dengan jumlah kecil, dizaman jet supersonic dan satelit-satelit mengitari bumi seperti sekarang ini, tidak dapat dikatakan apalah artinya. Tidak dapat dianggap rendah usaha-usaha kecil yang mungkin oleh banyak kalangan dianggap kurang bermakna.

Proses mempertinggi kesejahteraan hidup dhu’afak, adalah rangkaian gerbong yang erat terkait dengan proses pembangunan ekonomi bangsa.

Proces geraknya bisa dipercepat. Ada undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani, yang umumnya bersifat natuurlijk (alami dan sunnatullah), yaitu faktor manusia yang terikat erat dengan adat kebiasaan. Karena sering dilupakan, akhir kesudahannya menanggung akibat-akibat yang mengecewakan.

Andai kata faktor kebiasaan masyarakat sengaja dilupakan maka nasibnya tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Akibat langsung adakalanya program tidak jalan, pemborosan disegala sektor, malah didapati tindakan yang wasted (mubazir).

Dalam setiap proses pembangunan keummatan (ummatisasi) tidak selalu harus ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata, tetapi perlu ada pemahaman mendalam kedalam lubuk hati serta kemauan pada diri ummat secara individu ataupun kelompok yang akan dibawa serta dalam proses pembangunan itu..

Daerah kita terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Sumber Daya Alam (natural resources) belum seluruhnya di olah. Dapat dikatakan bisa mendukung suatu pertumbuhan ekonomi yang sehat. Tetapi kecenderungan penduduknya dibidang ekonomi baru kepada mencari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain saja.

Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian. Padahal sumber kemakmuran yang asasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang. Peran ini seringkali “dilupakan”. Latar belakang usaha sebenarnya adalah merombak tradisi dengan membuka pikiran masyarakat dan merintis jalan baru, memulai dari urat masyarakat dengan cara-cara yang praktis.

Melalui amaliyah yang sepadan dengan kekuatan yang tersedia dalam tubuh masyarakat mestinya disertai serentak membangun jiwa dan pribadi untuk menjadi ummat yang sadar. Ummat perlu dihidupkan jiwanya menjadi satu ummat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata, memiliki identitas (shibgah), bercorak kepribadian terang (transparan) untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam. sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah. Upaya ini secara luas merupakan “satu aspek dari Social Reform”, yang tidak dapat diabaikan. Memang begitulah hakekatnya. Karena pekerjaan ini akan menafaskan jiwa lain, yaitu berusaha di urat masyarakat.

Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah (kaum dhu’afak), di awali oleh memerankan hubungan kepedulian terhadap kebiasaan hidup melalui program silaturrahmi yang saling memahami dan bukan dalam bentuk sekedar “meminta atau membagi nasi bungkus”.

Pembinaan dhu’afak di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan berdasarkan

(a).hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup,

(b). menanam tanggung jawab atas kesejahteraan lahir batin dari tiap anggota masyarakat sebagai suatu kesatuan menyeluruh secara timbal balik (takaful dan tadhamun);

(c). mengajarkan keragaman serta ketertiban dan disiplin jiwa dari dalam, bukan penggembalaan dari luar;

(d). menumbuhkan ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa;

(e).mengajarkan hidup seimbang (tawazun) antara kecerdasan otak dan ketangkasan otot tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a.

Demikian pandangan hidup dan identitas ummat yang hendak di pancangkan.

Tentu tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat semacam itu dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada masing-masing, dengan nawaitu tertanam sejak semula. Yang perlu dijaga adalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Besar kecilnya nilai amal terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai dengan tinggi rendahnya mutu niat dari yang mengejar hasil itu.

Amal akan kering dan hampa, tatkala kulit luarnya di lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya hilang di tengah jalan. Bila kondisi ini kelihatan tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, maka kewajiban social control (nahyun ‘anil munkar) harus lekas-lekas dilaksanakan, agar masyarakat jangan berserak dan terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang bertebaran semata, perlu pula lekas-lekas dipintasi dengan mengemukakan social support (amar makruf) secara jelas. Insya Allah masyarakat lemah (dhu’afak) akan kuat dan masuk shaf kembali. Itulah inti kesatuan dan persaudaraan (ukhuwah dan badunsanak ) itu.

Sebenarnya seorang pemimpin pelopor penggerak pembangunan memikul beban menghidupkan dapur masyarakatnya dengan sungguh-sungguh.

Kebahagiaan tertinggi seorang pemimpin tatkala dapat menghidupkan salah satu dari ribuan dapur yang senantiasa berasap karena usahanya. Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar (al Hadist).

Semestinya di pahami apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana, menyesuaikan ikrar dengan ucapan, menyelaraskan perencanaan dengan pelaksanaan, menyamakan harapan dengan kenyataan, memerlukan kesungguhan gerak disamping gagasan. Apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati dapat dijadikan bimbingan untuk menerjemahkan kesetiaan kepada kalangan bawah (dhu’afak) kaum lemah melalaui perlakuan nyata dalam amal perbuatan.

Tujuan akhir yang lebih mulia adalah mencari keridhaan Allah jua, Moga-moga, Amin. ***


[1] Diantaranya terdapat dalam A.1:14,QS.Ibrahim.

[2] Ungkapan Umar bin Khattab RA, kepada seorang pemuda yang hanya mendoa dibawah naungan Ka’bah adalah;Harrik yadaka unzil ‘alaika ar-rizqa”. (al atsar).

[3] Sebagai catatan, kata-kata madani belum ada dalam kamus bahasa Indonesia. Bukan berarti bahwa masyarakat madani adalah “masyarakat yang belum ada dalam kamus”. Atau masyarakat guyon, madaniyee. Mada, berarti bengal, tak mau di ajar, bhs.Minang, atau “pahit” bhs Kawi. Tetapi, masyarakat Madani adalah masyarakat maju dengan basic ilmu pengetahuan, kultur dan agama (Akidah tauhid) yang benar.

[4] Firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang artinya; “Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al-Ankabut, ayat 69.).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s