Menuju Masyarakat Madani

Menuju Masyarakat Madani

Oleh: Buya H Mas’oed Abidin

Salah sekali anggapan bahwa agama Islam hanya sebatas ritual pada hari-hari tertentu. Sesat sekali pendapat beragama hanya di batasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata. Terlalu sesat memahami agama yang tidak kena mengena (relevan) dengan gerak kehidupan riil, tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, budaya, hubungan hak asasi manusia, atau ilmu pengetahuan dan teknologi.

Agama Islam berdasar al Quran berperan multifungsi, “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur)[1].

Buya di Masjid Nabawi
Buya di Masjid Nabawi

Bila Islam tidak diamalkan dari inti nilai-nilai dasar (basic of value) Dinul Islam, atau hanya sebatas kulit luar berupa ritual ceremonial, maka ummat ini tidak akan berkemampuan bertarung di tengah perkembangan dunia global pada abad keduapuluh satu mendatang.

Masyarakat yang lalai senang menerima, suka menampung dan menagih apa-apa yang tidak diberikan orang, cenderung menjadi bangsa pengemis yang kesudahannya membawa bangsa ini bertungkus lumus (terjerumus) kepada penggadaian menjual diri, dan tampillah pelecehan nilai-nilai bangsa.

Dinul Islam menyimpan rahasia besar “gerakkan tanganmu, Allah akan menurunkan untukmu rezeki” [2].

Nilai ajaran dinul Islam melahirkan masyarakat proaktif menghadapi berbagai keadaan sebagai suatu realitas perbaikan kearah peningkatan mutu masyarakat.

Abad kedepan akan banyak berperan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan (knowledge base society), berbasis budaya (culture base sociaty) dan berbasis agama (religious base society). Peran terbesar para intelektual aktif menata ulang masyarakat dengan nilai-nilai kehidupan berketuhanan dan bertamaddun sebagai mata rantai tadhamun al Islami (modernisasi, pengenalan Islam ketengah peradaban manusia). Peran ini penting untuk menggiring masyarakat Indonesia ini menuju masyarakat madaniyah (maju, beradab). [3]

Menghidupi Masyarakat Desa

(Kaum Dhu’afak)

Mengangkat taraf hidup kelompok lemah, akar serabut (grass root) dari masyarakat alas terbawah piramida, bukan usaha mustahil dikerjakan. Asal saja dapat merasakan nilai kepentingan, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta) mengangkatnya, tentu akan dapat memulainya. [4]

Kepandaian-kepandaian betapapun sederhananya, seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar, beternak itik ataupun ayam buras, dengan jumlah kecil, dizaman jet supersonic dan satelit-satelit mengitari bumi seperti sekarang ini, tidak dapat dikatakan apalah artinya. Tidak dapat dianggap rendah usaha-usaha kecil yang mungkin oleh banyak kalangan dianggap kurang bermakna.

Proses mempertinggi kesejahteraan hidup dhu’afak, adalah rangkaian gerbong yang erat terkait dengan proses pembangunan ekonomi bangsa.

Proces geraknya bisa dipercepat. Ada undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani, yang umumnya bersifat natuurlijk (alami dan sunnatullah), yaitu faktor manusia yang terikat erat dengan adat kebiasaan. Karena sering dilupakan, akhir kesudahannya menanggung akibat-akibat yang mengecewakan.

Andai kata faktor kebiasaan masyarakat sengaja dilupakan maka nasibnya tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Akibat langsung adakalanya program tidak jalan, pemborosan disegala sektor, malah didapati tindakan yang wasted (mubazir).

Dalam setiap proses pembangunan keummatan (ummatisasi) tidak selalu harus ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata, tetapi perlu ada pemahaman mendalam kedalam lubuk hati serta kemauan pada diri ummat secara individu ataupun kelompok yang akan dibawa serta dalam proses pembangunan itu..

Daerah kita terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Sumber Daya Alam (natural resources) belum seluruhnya di olah. Dapat dikatakan bisa mendukung suatu pertumbuhan ekonomi yang sehat. Tetapi kecenderungan penduduknya dibidang ekonomi baru kepada mencari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain saja.

Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian. Padahal sumber kemakmuran yang asasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang. Peran ini seringkali “dilupakan”. Latar belakang usaha sebenarnya adalah merombak tradisi dengan membuka pikiran masyarakat dan merintis jalan baru, memulai dari urat masyarakat dengan cara-cara yang praktis.

Melalui amaliyah yang sepadan dengan kekuatan yang tersedia dalam tubuh masyarakat mestinya disertai serentak membangun jiwa dan pribadi untuk menjadi ummat yang sadar. Ummat perlu dihidupkan jiwanya menjadi satu ummat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata, memiliki identitas (shibgah), bercorak kepribadian terang (transparan) untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam. sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah. Upaya ini secara luas merupakan “satu aspek dari Social Reform”, yang tidak dapat diabaikan. Memang begitulah hakekatnya. Karena pekerjaan ini akan menafaskan jiwa lain, yaitu berusaha di urat masyarakat.

Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah (kaum dhu’afak), di awali oleh memerankan hubungan kepedulian terhadap kebiasaan hidup melalui program silaturrahmi yang saling memahami dan bukan dalam bentuk sekedar “meminta atau membagi nasi bungkus”.

Pembinaan dhu’afak di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan berdasarkan

(a).hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup,

(b). menanam tanggung jawab atas kesejahteraan lahir batin dari tiap anggota masyarakat sebagai suatu kesatuan menyeluruh secara timbal balik (takaful dan tadhamun);

(c). mengajarkan keragaman serta ketertiban dan disiplin jiwa dari dalam, bukan penggembalaan dari luar;

(d). menumbuhkan ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa;

(e).mengajarkan hidup seimbang (tawazun) antara kecerdasan otak dan ketangkasan otot tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a.

Demikian pandangan hidup dan identitas ummat yang hendak di pancangkan.

Tentu tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat semacam itu dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada masing-masing, dengan nawaitu tertanam sejak semula. Yang perlu dijaga adalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Besar kecilnya nilai amal terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai dengan tinggi rendahnya mutu niat dari yang mengejar hasil itu.

Amal akan kering dan hampa, tatkala kulit luarnya di lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya hilang di tengah jalan. Bila kondisi ini kelihatan tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, maka kewajiban social control (nahyun ‘anil munkar) harus lekas-lekas dilaksanakan, agar masyarakat jangan berserak dan terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang bertebaran semata, perlu pula lekas-lekas dipintasi dengan mengemukakan social support (amar makruf) secara jelas. Insya Allah masyarakat lemah (dhu’afak) akan kuat dan masuk shaf kembali. Itulah inti kesatuan dan persaudaraan (ukhuwah dan badunsanak ) itu.

Sebenarnya seorang pemimpin pelopor penggerak pembangunan memikul beban menghidupkan dapur masyarakatnya dengan sungguh-sungguh.

Kebahagiaan tertinggi seorang pemimpin tatkala dapat menghidupkan salah satu dari ribuan dapur yang senantiasa berasap karena usahanya. Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar (al Hadist).

Semestinya di pahami apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana, menyesuaikan ikrar dengan ucapan, menyelaraskan perencanaan dengan pelaksanaan, menyamakan harapan dengan kenyataan, memerlukan kesungguhan gerak disamping gagasan. Apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati dapat dijadikan bimbingan untuk menerjemahkan kesetiaan kepada kalangan bawah (dhu’afak) kaum lemah melalaui perlakuan nyata dalam amal perbuatan.

Tujuan akhir yang lebih mulia adalah mencari keridhaan Allah jua, Moga-moga, Amin. ***


[1] Diantaranya terdapat dalam A.1:14,QS.Ibrahim.

[2] Ungkapan Umar bin Khattab RA, kepada seorang pemuda yang hanya mendoa dibawah naungan Ka’bah adalah;Harrik yadaka unzil ‘alaika ar-rizqa”. (al atsar).

[3] Sebagai catatan, kata-kata madani belum ada dalam kamus bahasa Indonesia. Bukan berarti bahwa masyarakat madani adalah “masyarakat yang belum ada dalam kamus”. Atau masyarakat guyon, madaniyee. Mada, berarti bengal, tak mau di ajar, bhs.Minang, atau “pahit” bhs Kawi. Tetapi, masyarakat Madani adalah masyarakat maju dengan basic ilmu pengetahuan, kultur dan agama (Akidah tauhid) yang benar.

[4] Firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang artinya; “Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al-Ankabut, ayat 69.).

Pelihara Kebersamaan

Pelihara kebersamaan

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama, selama ini hidup dalam rukun dan damai. Antara lain disebabkan karena kebetulan mayoritas mutlaknya terdiri dari umat yang berakhlaq agama, yakni Islam.

Akhlak ialah terpeliharanya hubungan baik dengan Allah dan baiknya hubungan dengan manusia. Lihat juga Al Quran S.2, Albaqarah ayat 83 – 86.

Umat Muslimin di mana-mana melakukan segala amaliahnya bertujuan mempertebal iman dan taqwa kepada Allah semata.

Sikap ikhlas yang lahir dari setiap ibadah umat Islam akan berbuah dengan tingginya rasa kesetiakawanan sosial.

Di beberapa tempat dan kawasan, didalam dan diluar negara kita, tatkala kita merasakan suasana indah dan damai, sebahagian saudara Muslim kita merasakan penindasan. Dikejar-kejar rasa cemas dan takut. Betapapun sahabat muslimin itu nun jauh di sana, tapi senyatanya mereka masih berdiam di dunia kita juga

Di Palestina tanah air mereka dirampas Yahudi Zionis dengan dukungan imperialis Barat. Di India yang tak pernah berhenti dari suasana terror oleh mayoritas fanatisme Hindu. Di Chechnya, Kosovo, Filipina, mereka tak bebas bernafas hanya karena tergolong minoritas ditengah mayoritas warga negaranya yang tidak seagama bertindak radikal dan rasial, serta fanatik menghapuskan etnik (ethnic cleansing dan genocide). Di tempat lain disungkup langit ini, di Afrika, Asia, dan kawasan timur Nusantara, saudara kita sesama Muslim sedang menderita kepedihan dijajah kesengsaraan. Kesemuanya tengah berjuang dengan tekad esa hilang dua terbilang, hidup mulia atau gugur sebagai syuhada’.

Ketika canang kebebasan mulai diguguh, membangunkan suasana baru dengan perubahan, tidak jarang terjadi korban berguguran karena hilangnya kendali dan kaburnya batas wawasan Nusantara.

Hilangnya kebersamaan, dan terjadi balas dendam dan disintegrasi. Bahaya besar bagi generasi bangsa ini.

Setiap kita mestinya berkewajiban mencegah, agar kondisi rusuh runyam itu tidak terjadi.

Kepada setiap korban, kaum muslimin yang menderita itu, kewajiban kita mengulurkan bantuan materil dan moril sebanyak mungkin, semampu kita. Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus dan ikhlas:

Mari kita simak sebuah hadits lagi sabda Rasulullah untuk melempangkan jalan bagi kita dalam menghadapi segala tantangan yang menghadang kita dari berbagai penjuru berbunyi sebagai berikut:

“Wahai kaum muslimin, bersiap-siaplah karena perkara ini sangat serius.

Siap sedialah karena saat kepergian sudah dekat.

Persiapkanlah perbekalan karena perjalanan ini sangat jauh.

Kurangilah beban-bebanmu, karena di depanmu sudah menantang rintangan yang sangat menyulitkan, kecuali bagi orang-orang yang ringan bebannya.

Wahai manusia, sesungguhnya menjelang hari kiamat akan terjadi berbagai peristiwa yang sangat gawat. Dan berbagai bencana yang besar.

Dan akan terjadi pula saat-saat yang kritis di mana kelompok orang-orang dhalim berkuasa, dan orang-orang fasik memegang kedudukan penting.

Sementara itu orang-orang yang menyeru kebaikan ditindas, sebaliknya orang-orang yang mencegah kemungkaran ditekan.

Oleh karena itu bersiap-siaplah untuk menghadapi semua itu dengan bekal iman yang sangat cukup.

Perbanyaklah amal shaleh dan paksalah dirimu untuk mentaatinya.

Serta bersabarlah dalam menghadapi kesulitan ini, niscaya kalian akan mendapatkan ganjaran sorga yang abadi.”

Karena itu selalulah iringkan setiap usaha dengan do’a.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah berikan kemungkinan mereka memerintahkan kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan mereka yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang kafir yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, untuk ternyata bebas, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi, para Aulia”.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkanlah kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau turunkan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

Apa Kata Bung Hatta

Berkata Hatta, Bukan sembojan tapi isi dan bukti.

“Bagi saja jang penting bukanlah sembojan jang njaring kedengarannja, melainkan isi dan bukti dari pada pelaksanaan tjita-tjita repolusi Indonesia, jang ditjetuskan dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Ini hanja dapat dikerjakan, apabila tenaga-tenaga jang revolusioner dan ahli dikonsolidasi mendjadi kesatuan tenaga membangun. Pembangunan itu dikerdjakan setjara rasionil menurut suatu rentjana jang tepat urutannja dan susunannja.

Dalam hal ini kita sudah gagal. Tetapi belum terlambat untuk memulai kembali, dengan tekad jang kuat. Dan kemauan jang djudjur. Kalau kita, kaum nasionalis dan kaum agama jang berpegang kepada Pantjasila, tidak sanggup, nanti gerakan komunis akan mengerjakannja, dengan tjaranya sendiri.

Dengan memperhatikan perkembangan politik dimasa jang lampau pemuda sekarang, jang akan menjadi manusia jang bertanggung jawab dimasa datang, dapat mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan jang diperbuat. Kesalahan-kesalahan itu hendaklah membuka pikiran untuk mendapatkan kembali djalan jang benar, jang disinari oleh pelita Pantjasila.

Kesalahan jang terutama dilakukan oleh pemimpin-pemimpin rakjat ialah mendjadikan Pantjasila sebagai lip-service belaka. Tadi pada permulaan uraian ini saja katakan, bahwa tidak ringan tugas untuk membangun Indnesia jang adil dan makmur. Sebab itu negara kita berpegang kepada Pantjasila sebagai bimbingan dalam melaksanakan tugas jang berat itu.

Dalam masa pertama, dalam menegakkan dan membela kemerdekaan, kita rata-rata berpegang kepada Pantjasila dengan hati jang murni, ketjuali golongan F.D.R/P.K.I. jang menikam dari belakang dengan pemberontakan Madiun. Segala tindakan dikemudikan oleh kepentingan nasional; kepentingan golongan dan pribadi terletak dibelakang.

Dalam masa kedua, setelah Indonesia merdeka, bersatu dan berdaulat terlaksana, kita lupa bahwa kita baru pada permulaan, belum sampai kepada tudjuan. Itulah saatnja untuk memulai pembangunan Indonesia jang adil dan makmur dengan segala tenaga jang ada pada kita. Djustru dalam masa itu penjelewengan dari Pantjasila mulai terjadi. Kepentingan negara dan masjarakat sering dibelakangkan dari kepentingan partai dan pribadi.

Selain dari itu pemimpin-pemimpin partai lupa bahwa demokrasi tidak lahir begitu sadja dengan diproklamirkan dan dituliskan dalam suatu piagam, melainkan dihidupkan sungguh-sungguh dalam asuhan dan latihan.

Orang tahu tetapi tidak diinsjafi benar-benar, bahwa demokrasi jang meluap-luap menjadi anarki disingkirkan oleh diktatur.

Dalam masa ketiga, jang bertjorak diktatur demokrasi terpimpin, kita tidak lebih dekat kepada Indonesia jang adil dan makmur malahan bertambah djauh. Aktivita dipusatkan kepada “show”, pertundjukan kemegahan dan kebesaran jang kosong. Demokrasi jang seharusnja didjiwai oleh Pantjasila hilang samasekali, digantikan oleh kultus perseorangan. Inflasi meradjalela, ekonomi meluntjur terus menerus dengan tidak ada remnya. Negara hampir bangkrut.” [1]

Dalam Pidato 2 Tahun Merdeka, Bung Hatta yang ketika itu adalah Wakil Presiden Republik Indonesia, berkata, “Pemimpin harus mempunjai z e l f – d i s i p l i n, harus kenal akan dirinja, mengerti akan ketjakapannja dan harus tahu pula batas kesanggupannja.

Dalam penghidupan negara modern adalah tiga matjam sifat pemimpin, jaitu pertama o r a n g a h l i , jang berkedudukan sebagai pegawai atau pegawai tinggi, kedua p o l i t i k u s jang ikut menentukan dan memperdjoangkan politik negara, dan ketiga p e m a n g k u n e g a r a (staatsman), jang mendjalankan dan memimpin politik negara.

Dari penghidupan sehari-hari dapat kita ketahui, bahwa tidak semua orang ahli mempunjai pembawaan politikus atau dapat mendjadi pemangku negara. Malahan sebagian besar tidak mempunjai pembawaan kedjurusan itu. Tetapi dalam daerah pengetahuannja masing-masing mereka bisa memimpin dengan penuh tanggung djawab.

Demikian djuga, tidak semua politikus adalah pemangku-negara, staasman, sungguhpun staasman biasanya ahli-politik djuga. Kedua-duanya itu berlainan karakternja, berlainan tabiatnja. Ada politikus besar dan ulung, hebat dalam Parlemen dan disegani orang, tetapi meleset sebagai staasman.

Politikus jang umumnya memperdjoangkan politik, sering tadjam dan runtjing dalam perdebatan, suka menegaskan dasar p[olitiknja. Pendiriannja sangat subjektif, menentang segala jang berlawanan dengan kejakinan politiknja. Ia sering berat kepada partainja.

Lain tabiatnja staasman, pemangku negara! Ia biasanja bertindak dengan timbang menimbang, mentjari kompromis dimana dapat dengan tiada melepaskan kejakinan politiknja. Pandangannja terutama tertudju kepada negara, mentjari djalan bagaimana mengemudikan negara dengan sebaik-baiknja melalui gelombang dan karang dalam pertentangan politik. Ia djarang runtjing dalam pembitjaraannja, tetapi tegas dan bidjaksana, sering djuga suggestif, mempengaruhi.

Ketiga-tiga tjorak pemimpin itu: pegawai, politikus dan pemangku negara, perlu ada. Tetapi Republik kita yang masih muda ini banjak kekurangan pemimpin kaliber besar. Oleh karena itu, pemimpin-pemimpin kita hendaklah kenal diri dalam memilih kedudukan jang membawa kewadjiban. Pada umumnya lebih banjak pemimpi n jang sanggup duduk di dalam Dewan Perwakilan Ra’jat untuk mempersoalkan dasar pemerintahan negara. Hanya sedikit yang akan sanggup bertanggung djawab sepenuhnja dalam mendjalankan politik dan pemerintahan negara. Sebab, bagi orang pemerintahan tak tjukuplah mempunjai pendirian politik sadja, tetapi harus mempunjai pengetahuan dalam hal pemerintahan negeri.

Keinsjafan tentang tanggung djawab dan pengertian tentang tuntutan djabatan pemerintahan mudah-mudahan dapat mengurangi keinginan berbagai orang untuk berganti kedudukan, dari politikus mau djadi orang pemerintah. Kita harus menuju kepada tjita-tjita: the right man on the right place.”[2]

Mengnai demokrasi dengan tegas Bung Hatta berkata “ Orang sering lupa, bahwa demokrasi bukanlah anarchi. Demokrasi ada hukumnja, ada aturannja tentang mencapai kekuasaan. Demokrasi menghendaki aturan dan keadaan jang teratur, bukanlah rebutan kekuasaan dengan djalan sembrono sadja.” [3]

Bahwa berlakunya low enforcment dalam negara menjadi pendukung utama bagi terlaksananya kehidupan berdemokrasi yang baik. “ Demokrasi hanja bisa terdjamin dalam negara hukum. Tiap-tiap tindakan jang melakukan hukum sendiri adalah anarchi, bertentangan dengan sifat-sifat demokrasi.”[4]

Rakyat perlu di didik mengerti akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai wagra negara. Rakyat tidak semata berguna untuk mendapatkan sejumlah suara mendukung. Namun, rakyat menjadi pemilik kedaulatan dalam arti bertanggung jawab sesuai dengan ukuran kekuasaan yang diwakilkan oleh mereka. Bung Hatta menyebut dengan jelas, “Kedaulatan ra’jat tidak sadja menghendaki kekuasaan jang tertinggi pada ra’jat, jang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Ra’jat dengan tjara bermusjawarat, melainkan menghendaki juga tanggung djawab rakjat jang seukuran dengan kekuasaan jang dilakukan itu. Dan tak dapat disangkal lagi, bahwa dalam daerah tanggung djawab itu banjak terdapat kekurangan pada kita dalam masa dua tahun jang lalu. Itulah sebabnja, maka pemerintahan negeri tidak berjalan dengan se-efektif-efektifnya.[5]

Bung Hatta mengetengahkan kemestian adanya kesadaran (keinsafan) bernegara sehingg kedudukan negara kita di mata dunia kelihatan kokoh. “Pertama, k e i n s j a f a n n a s i o n a l[6]. Barangkali sulit untuk dibantah, bahwa keyakinan dan keinsafan yang ada di dalam diri satu satu bangsa yang merdeka dan berdaulat, akan melahirkan tanggung jawab dan kewajiban bersama untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dengan segala jiwa dan raga. Kesadaran nasional ini mestinya menjadi kebanggaan dan bahkan menjadi pendorong untuk mengobarkan semangat kebangsaan yang muaranya tentu adalah keinginan dan keikhlasan berkorban untuk bangsa dan negaranya. Dengan keinsafan nasional seorang akan terhindar dari mengorbankan negaranya untuk kepentingan diri sendiri.

Kesadaran kedua menurut Hatta adalah k e i n s a f a n b e r n e g a r a yaitu pengertian bahwa kita ini mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya dan memunyai susunannya yang tertentu. Dalam hal ini, Bung Hatta menghadapkan kita dengan pertanyaan, “cukup dalamkah keinsyafan bernegara itu dalam jiwa rakyat seluruhnya dan juga dalam kalbu berbagai pemimpin ?” Beliau jawab sendiri pertanyaan itu dengan satu self-kritik, yang perlu perenungan dalam, dan kiranya masih relevan dengan kondisi kekinian. “Berbagai-bagai tindakan yang merugikan negara di mata bangsa asing, memberi keyakinan kepada kita, bahwa keinsafan itu belum merata dan belum cukup mendalam. Sering-sering orang tak dapat membedakan partai dari negara, menyangka bahwa negara itu dalam hidupnya sama saja dengan partai atau perkumpulan[7].

Pengertian berorganisasi dalam partai dengan berorganisasi dalam negara perlu pemahaman mendalam. Salah satu kriteria yang ditampilkan Hatta menarik untuk di simak. “Diantara dua ini ada bedanya. Partai atau perkumpulan adalah pada umumnya o r g a n i s a s i s u k a r e l a, dimana orang merdeka untuk menjadi anggota atau keluar sebagai anggota. Tidak demikian dengan negara! Negara adalah satu macam o r g a n i s a s i p a k s a a a n, dimana orang tidak merdeka keluar masuk menjadi anggota.


[1] Mengambil Peladjaran Dari Masa Lampau Untuk Membangun Masa Datang, Tjeramah didepan K.A.M.I. Bogor 25 Djuni 1966 oleh Mohammad Hatta, Penerbit Angkasa Bandung 1966, hal.26-28.

[2] Pidato 2 Tahun Merdeka, oleh PJM.Wk.Presiden DRS.MOHAMMAD HATTA, Buletin No.8, Diterbitkan oleh Dewan Pertahanan Daerah Sumatera Barat Bag: Publikasi, tt., hal. 10-11.

[3] Ibid. hal. 8

[4] ibid.

[5] ibid, Pidato 2 Tahun Merdeka, oleh PJM.Wk.Presiden DRS.MOHAMMAD HATTA, hal. 8, selanjutnya Hatta berkata, “zelf-kritik ini perlu kita kemukakan disini, karena kita sekarang menghadapi masa datang yang lebih sulit, yang lebih banyak menghendaki rasa tanggung jawab dari kita semuanya”.

[6] Ibid.

[7] ibid. hal.9

Tanya Jawab Menanam Kepala Sapi

BuyaPertanyaan masa lalu yang masih ditanyakan orang masa kini

Menanam Kepala Kerbau

Menanam kepala Sapi Mencari Keselamatan

Kamis, 12 Jun 08 07:12 WIB

Assallamualaikum Wr Wb.

Dengan ini kami ingin bertanya apakah jika kita menguburkan kepala
sapi yang telah di sembelih dengan niat untuk mencari keselamatan atas
tempat yang kita tinggalkan ada unsur syiriknya atau tidak?

Atas jawaban dari Ustadz saya ucapkan terima kasih.
Wassallam,
Deny MHamba Allah

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menguburkan kepala sapi dengan niat agar mendapatkan keselamatan
adalah salah satu praktek kepercayaan yang didasarkan atas tahayyul.

Kenapa dikatakan tahayyul?

Karena orang yang menanamkan percaya kepada hal-hal yang tidak ada
dasarnya. Mereka percaya pada kekuatan ghaib tertentu, dan juga percaya
pada tata laksana untuk meminta keselamatan itu yang juga tidak jelas
asal usulnya.

Dalam kepercayaan mereka, kalau tidak ditanam kepala sapi, nanti
akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Inilah letak tahayulnya.

Mungkin orang-orang yang masih saja mempraktekkan hal itu
berargumen, bahwa kita kan hanya menjalankan apa yang dipercaya orang.
Mau percaya mau tidak percaya, silahkan saja. Yang penting, ritualnya
sudah dijalankan.

Koreksi Secara Islam

Bagaimana kita mengoreksi cara berpikir seperti ini?

Pertama, tidak salah kalau kita harus meminta keselamatan agar
gedung atau bangunan yang sedang dibangun itu mendapatkan perlindungan.
Sebagai makhluk yang lemah, dalam pandangan kita memang banyak hal-hal
yang tidak masuk logika akal manusia biasa yang bisa terjadi.

Maka tidak salah kalau kita berdoa dan meminta keselamatan atas
kerja dan proyek yang kita lakukan. Karena pasti ada faktor x yang
penting dan luput dari urusan perhitungan manusiawi.

Kedua, rasanya kita sepakat bahwa yang namanya minta keselamatan itu
bukan kepada jin Tomang atau setan gundul atau genderuwo, atau apalah
yang sejenisnya.

Sebagai muslim, kita hanya boleh meminta keselamatan dari Allah SWT, sebagai Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Memelihara.

Dan bila kita sepakat bahwa meminta keselamatan hanya boleh kepada
Allah WT, maka haram hukumnya kalau kita minta keselamata kepada
makhluknya, baik makhluk halus atau pun makhluk kasar.

Sayangnya, justru pada poin kedua inilah kita sebagai umat Islam
sering diuji. Betapa banyak orang yang mengaku Islam, tapi sistem
logika tauhidnya agak melenceng dari garis utama. Sebab masih saja ada
orang yang mengaku sebagai muslim, namun dia malah menyembah
makhluk-makhluk-Nya.

Masih banyak kalangan yang mengaku bertuhan kepada Allah, tetapi
pada saat yang sama, dia juga menyembah tuhan-tuhan yang lain.
Sementara dia shalat 5 waktu mengerjakan perintah Allah, di saat yang
sama dia juga melakukan ritual yang diajarkan oleh tuhan lainnya.

Dan sikap ini adalah ambigu serta membuat Allah SWT marah besar.
Sikap inilah yang kemudian dikatakan sebagai mempersekutukan Allah.
Atau dalam kata lain disebut dengan menduakan Allah. Dan dalam bahasa
Arab disebut dengan istilah: Syirik.
Sebagai muslim, kita diharamkan menduakan Allah dalam segala ajaran-Nya.
Ritual Meminta Kepada Allah

Nah, kalau dua hal ini sudah kita sepakati, tinggal masalah yang
nomor tiga, yaitu bagaimana cara ritual kita meminta keselamatan dari
Allah SWT?

Allah SWT telah menurunkan Al-Quran dan Sunnah kepada kita sejak 14
abad lampau. Di dalamnya telah dirinci teknik bagaimana kita meminta
perlindungan dan berdoa serta bagaimana cara meminta.

Dan setelah kita telurusi ayat demi ayat, hadits demi hadits,
nyatalah bahwa perbuatan menanam kepala sapi atau kerbau tidak termasuk
cara yang dibenarkan untuk meminta keselamatan.

Jadi kalau penanaman kepala kerbau ini dipaksa-paksa mau dilakukan
dan dianggap bagian dari agama Islam, pada hakikatnya hal ini adalah
sebuah pelecehan dan penodaan terhadap Islam.

Islam tidak mengajarkan hal-hal yang seperti ini.Bahkan Islam telah
mengharamkan praktek ibadah ritaul yang tidak diajarkan oleh Rasulullah
SAW.

Hukum Menyembelih Untuk Selain Allah

Islam telah mengharamkan kita menyembelih hewan yang niatnya bukan
karena Allah perintahkan. Kalau sekedar untuk dimakan tanpa niat
apa-apa, hukum penyebelihan hewan itu pasti halal.

Kalau penyembelihan itu diniatkan sebagai ritual kelahiran bayi,
maka itu bukan hanya halal tetapi malah disunnahkan. Kita menyebutkan
aqiqah.

Kalau penyembelihan itu diniatkan sebagai ritual i bulan haji, juga
halal dan mendapat pahala. Istilah yang bakunya adalah penyembelihan udhiyah. Tetapi bangsa kita terlanjur menyebutnya sebagai hewan korban.

Tetapi kalau menyembelih hewan yang tujuannya minta keselamatan,
lalu ada ritual menanamkan kepada hewan itu di dalam tanah, jelasnya
hal ini tidak dibenarkan. Dan bahkan daging hewan itu pun menjadi haram
untuk dimakan. Karena hewan itu disembelih bukan karena Allah, tidak
seusai dengan peraturan Allah dan melanggar ketentuan Allah.
Dalam hukum Islam, daging hewan itu termasuk bangkai yang haram dimakan oleh seorang muslim, sebagaimana firman Allah SWT:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah,
daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah (QS. An-Nahl: 115)
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

http://groups.google.com/group/RantauNet/browse_thread/thread/f5e534ec90d1a0d1?hl=id

Jawaban dari Buya H Masoed Abidin tanggal: Sab 14 Jun 2008 01:14

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

 Hakikat dari Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah adalah
 bahwa syarak mangato adaik akan memakaikan.

 Artinya, jika adat adalah perilaku kebiasaan dalam hubungan bermasyarakat dari satu masyarakat adat, dalam hal ini mungkin Minangkabau,
 maka semua yang di adatkan itu tidak boleh menyimpang dari ketentuan agama (syarak).

 Agama (syarak) diturunkan untuk manusia, maksudnya antara lain ;
 1. membersihkan akal fikiran manusia dari sikap syirik,
 2. menyucikan hati manusia dengan tauhid dan cinta melaksanakan ibadah,
 3. membersihkan harta manusia dari yang syubhat dan haram,
 4. membersihkan agama itu sendiri agar tidak tercampur dengan yang dilarang atau bid’ah,
 5. menyucikan nasab manusia agar tidak terjamah oleh zina.

 Maka di dalam upacara-upacara yang ada hubungannya dengan  manusia,
 masyarakat atau yang disebut ada kaitan dengan adat,
 semestinya tidak boleh sama sekali tercemar oleh
 yang bertentangan dengan agama (syarak=syariat) itu.

 Bagi masyarakat Adat Minangkabau,
 sudah dipateri dengan kesepakatan kesekian kalinya
 antara pemangku adat dan penjaga syarak yang disebut ulama suluah bendang di nagari, bahwa antara adat dan syarak tidak boleh ada pertentangan.
 Perjanjian yang terbesar disebut dengan Sumpah Satie Bukik Marapalam.

 Sekarang ini, di zaman modern,
 ingatlah kembali kepada sumpah satie itu.
 Bahwa kepala kerbau bukan untuk dibenam, tapi untuk dimakan.
 Dalam kalimat petatah adat disebutkan,
 dagiang di lapah, utak (benak) dikacau, tulang dikubur.

 Kalau akan ada yang di kubur,
 maka yang dikubur itu adalah tulang belulang,
 agar tidak mencelakakan bagi orang banyak,
 juga tidak membawa anyir di nagari.

 Bahkan menyembelih pun di tunjukkan
 agar lebih dahulu galilah lobang agar darah tidak terserak.

 Belum cukup dimengertikan aturaan adat itu?
 Adakah cara ini bertentangan dengan syarak?

 Bila masih ada peranagan menanam kepala kerbau,
 atau kepala sapi agar musibah terjauh,
 seperti yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh
 dengan mencampakkan sapi atau ternak kambing ke lobang lumpur di Porong atau membenamkan kepada sapi di kaki jembatan
 agar jembatannya kuat,
 nyatanya itu pekerjaan yang mubazir.
 Mubazir membuang otak sapi yang halal untuk di makan,
 dan mubazir pula dari segi ilmu pengetahuan modern
 bahwa kuatnya jembatan tidak terletak pada kepala kerbau/sapi,
 tapi terletak kepada benar atau tidaknya konstruksi yang dibuat.

 Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak perlu di tanyakan lagi.
 Bagi orang Islam pekerjaan itu adalah syirik,
 di samping mubazir dalam materi.

 Bagaimana selanjutnya ???
 Tinggalkan dan tinggalkan,
 dan jauhi perbuatan itu.

 Sekian saja,
 Wassalam
 BuyaHMA

 http://groups.google.com/group/RantauNet/browse_thread/thread/9bb20cfb2d1bd6d2?hl=id

Rumah Gadang di Solok Selatan

http://www.antara-sumbar.com

Padang Aro, (ANTARA) – Pemkab Solok Selatan (Solsel) Sumbar “menjual”
rumah-rumah “tempo doeloe” di daerahnya di pasar wisata lokal dan nasional, karena memiliki keunikan dan bersejarah sehingga diyakini menarik minta wisatawan.

Ratusan rumah-rumah bersejarah tetap terjaga di Solsel dan diperkenalkan di pasar wisata sebagai daya tarik daerah ini, kata Bupati Solsel, Syafrizal di
Padang. Aneka gambar rumah-rumah tempo doeloe yang bersejarah itu kini dipamerkan pada stand Kabupaten Solsel di Pekan Budaya Sumbar 2007.
Rumah-rumah itu antara lain, “Rumah gadang (rumah adat) Durian Taruang”
berlokasi sekitar 500 meter dari ibukota Solsel Padang Aro. Rumah ini
merupakan istana raja dan Putri Intan Juri serta rumah gadang pertama yang dibangun di Nagari Durian Tarung, ratusan tahun lalu.

Hingga kini rumah gadang tersebut masih tetap berfungsi sebagai tempat
penyelenggaraan upacara adat dan pesta perkawinan anak keturunan Raja Intan Juri.

Kemudian, rumah gadang “Datuak Rajo Disambah” 49 kilometer dari Padang Aro yang memiliki atap bagonjong lima, beranjungan satu dan merupakan rumah adat khas Sungai Pagu, Solsel. Dalam rumah ini banyak tersimpan peninggalan adat budaya bernilai tinggi yang hanya digunakan pada saat penyelenggaraan upaya adat.
Selanjutnya, di daerah “1000 Rumah Gadang” sebagai perkampungan tradisional masyarakat Alam Sarambi Sungai Pagu di Nagari Koto Baru, 33 kilometer dari Padang Aro. Di perkampungan ini terdapat banyak rumah gadang sehingga dinamakan “1000 Rumah Gadang” yang tersebar di segala penjuru kawasan dengan panorama ribuan atap bagonjong yang tinggi menjulang.

Rumah bersejarah lainnya, bangunan Ustano Rajo Balun di Jorong Balun, 47
kilometer dari Padang Aro yang merupakan kediaman keluarga raja adat Alam Serambi Sungai Pagu. Rumah gadang ini berbentuk istana serambi Aceh dengan posisi menghadap ke Timur dan di dalamnya menyimpan banyak peninggalan kuno seperti naskah Balun, perlengkapan penobatan raja, peralatan sekapur sirih dan peralatan makan raja.

Berikutnya, Rumah Gadang 21 ruang di Nagari Abai, 40 kilometer dari Padang Aro. Rumah ini memiliki 21 ruang memanjang dengan arsitektur bagonjong dan dikenal sebagai rumah gadang terpanjang di Sumbar.

Rumah ini difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan acara adat dan kesenian batombe serta pesta perkawinan. Rumah tersebut tidak digunakan untuk tempat tinggal keluarga, tetapi bagi laki-laki yang belum mampu membuat rumah sendiri dan bisa tinggal sementara di tempat itu.

Di Solsel juga terdapat rumah perjuangan Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI) berlokasi di Nagari Bidar Alam, 26 kilometer dari Padang
Aro. Secara historis Solsel menyimpan berbagai bukti sejarah bangsa dan Nagari Bidar Alam pernah menjadi pusat PDRI tahun 1949 serta di rumah tersebut digunakan sebagai pos keamanan dan tempat sidang-sidang kabinet PDRI.

Satu kilometer dari rumah itu terdapat tugu PDRI sebagai saksi sejarah
perjuangan Presiden PDRI saat menyelamatkan negara Indonesia dalam keadaan darurat tahun 1949.
Solsel juga memiliki bangunan masjid tua bersejarah yakni “Masjid Aso Kurang 60” di Nagari Pasir Talang, 49 kilometer dari Padang Aro. Masjid dibangun 200 tahun lalu oleh 60 orang ninik-mamak (tokoh adat).

Namun dalam perjalanan pembangunannya seorang ninik mamak meninggal dan tinggal 59, sehingga di namakan “Masjid Aso Kurang 60”. Masjid ini merupakan simbol masyarakat setempat karena dianggap sebagai
bangunan pertama di Alam Serambi Sungai Pagu. Pada awalnya masjid ini
beratap ijuk dengan empat tingkat sebagai lambang empat suku di Nagari itu.

Dinding masjid dari kayu penuh ukiran bungai teratai berkombinasi dengan
rebung, Mimbarnya bertingkat dan dilengkapi beduk besar. Masjid dengan
ukuran 15,5 x 14 meter itu pada bagian belakang mi’raj nya terdapat makam
Syech Maulana Sofi dengan ukuran 4 x 2,75 meter.
—–
 Lihat juga: http://www.solok-selatan.com

Wali Kota Padang Buka Plang JAI

Walikota Padang Buka Plang JAI

HEADLINE NEWS
Sabtu, 14 Juni 2008
Plang JAI Padang Diturunkan
Wako Ikut Shalat Jumat Bersama Jemaat Ahmadiyah

Sample Image BUKA PLANG : Wali Kota Padang Fauzi Bahar disaksikan Ketua MUI Kota Padang Syamsul dan jemaat Ahmadiyah membuka plang organisasi JAI Padang, kemarin. Pembukaan dan penurunan plang tersebut berlangsung aman dengan pengawalan polisi.
 
Padang, Padek— Setelah melewati dialog yang cukup panjang, akhirnya Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kota Padang memberikan izin kepada Wali Kota Padang Fauzi Bahar untuk menurunkan plang nama organisasi JAI Padang, kemarin.

 

 Penurunan plang ini berlangsung damai serta disaksikan jemaat Ahmadiyah. Sebelumnya, Wako Padang bersama Ketua MUI dan Kepala Departemen Agama (Depag) Kota Padang turut shalat Jumat bersama jemaat Ahmadiyah di Masjid Mubarak. 

Penurunan plang nama organisasi JAI Padang ini berawal sejumlah pengurus JAI Padang melakukan pertemuan dengan Wali Kota Padang Fauzi Bahar beserta Kepala Kesbangpol Surya Budhi, MUI Kota Padang Syamsul Bahri Khatib dan Kepala Depag Kota Padang, Syamsul Bahri di Palanta Kota Padang, sekitar pukul 09.30 WIB. Pengurus JAI yang hadir, Ketua JAI Sumbar J S Nurdin, Ketua JAI Padang  Syaiful Anwar dan Mubaligh JAI Mudatsir. Selama hampir dua jam dialog tertutup itu berlangsung.

Sekitar pukul 12.30 WIB, Wako Padang Fauzi Bahar bersama pengurus JAI menuju Kantor Cabang Ahmadiyah Kota Padang Jalan Agussalim Padang dengan pengawalan polisi. Begitu sampai, Wako bersama rombongan menuju Masjid Mubarak berada dalam kompleks JAI Padang untuk shalat Jumat bersama jemaat Ahmadiyah.

Shalat Jumat diimami Ketua JAI Padang Syaiful Anwar setelah sebelumnya menyampaikan khutbah jumat. Usai shalat Jumat, Wako kembali berdialog dengan JAI di lantai 2 Masjid Mubarak berlangsung sepuluh menit sekitar pukul 13.30 WIB. Wali Kota Padang Fauzi Bahar pun mendapatkan izin dari jemaat Ahmadiyah untuk menurunkan plang nama organisasi JAI Padang.

“Sebagai pemimpin di Kota Padang saya berharap tidak ada kericuhan yang terjadi usai keluarnya SKB tiga menteri tentang pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah yang menyimpang. Makanya saya meminta kesediaan JAI untuk menurunkan plang JAI, sedangkan untuk peribadatan saya tidak turut campur,” ujar Wali Kota Padang, Fauzi Bahar kepada wartawan.

Ketua JAI Padang, Syaiful Anwar mengatakan pihaknya sangat taat kepada pemerintah. Jika pemerintah mengganggap hal tersebut merupakan jalan kedamaian mereka menerima. “Kami orang yang taat pada aturan pemerintah, jika pemerintah yang menurunkan kami terima. Namun pemerintah tidak berhak melarang kami untuk melaksanakan ibadah. Sebab ibadah merupakan hubungan manusia dengan Tuhannya,” ujarnya.

Penurunan Plang Aman

Fauzi Bahar beserta rombongan dan disaksikan jemaat Ahmadiyah membuka plang nama organisasi JAI Padang terletak di depan kantor cabang Ahmadiyah. Saat plang dibuka sejumlah jemaat tampak tidak sanggup menahan haru, meskipun demikian mereka tidak melakukan perlawanan. Hanya saja seorang perempuan tua dipanggil “Anduang” berteriak-teriak, mengatakan pemerintah tidak adil terhadap Ahmadiyah.

“Pemerintah tidak adil, mengatasnamakan hukum bertindak semena-mena,” teriaknya. Aksi Anduang berusaha diredam sejumlah anggota Ahmadiyah perempuan, namun ia tetap berteriak-teriak menghujat pemerintah. Meskipun demikian aksi tersebut tidak menganggu berjalannya penurunan plang nama organisasi JAI Padang.

Plang nama organisasi JAI yang diturunkan diletakan di mobil Kesbangpol dan dibawa ke kantor Kesbangpol untuk diamankan. Aksi Wako tersebut menarik perhatian sejumlah warga yang lewat di jalan tersebut. Bahkan sempat terjadi kemacetan sebab antrean warga yang melihat langsung dengan memarkir mobil dan kendaraan di jalan raya. (zikriniati zn)