Berencanalah dengan baik dalam menghadapi gerakan Salibiyah, Pesan Dakwah Mohamad Natsir

 

Berencanalah dengan baik

dalam berhadapan dengan

gerakan Salibiyah terencana

 

Oleh H Mas’oed Abidin

Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar, kata Mohamad Natsir, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya  untuk memikirkannya lebih mendalam. Apalagi untuk membicarakannya dengan teman-teman kita secara bertenang-tenang. Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab  bakorong-ketek“.[1]

1. Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.

2. Pihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi biaya pembangunan tidak ada.

3. Akibatnya, pihak masyarakat merasa tidak puas karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.

4. Di Bukittinggi ada agen dari missi asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saya.

 

Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristenisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materi dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka di tengah-tengah ummat Islam. Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti di tengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat” itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daya upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5. Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukakan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama?  Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken

Di pulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum!- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu. Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

 

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katolik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan, mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.

Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.

6. Kalau mereka berpikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat mengadu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :

·         Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan.

·         Pihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.

·         Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang modern, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

 

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7. Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu.

Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya.

Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minangkabau secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya !

Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.    Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?

Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:

a) rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,b) soal asrama untuk tentara,

 

 

b) soal kekurangan rumah sakit yang bermutu lebih baik, ialah dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam.

Atau setidaknya-tidaknya peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.

  Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya. Tapi apabila yang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali manfaatnya.

Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjukkan jalan alternatif yang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missi-missi asing itu :

“Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita coba-coba sama-sama pikirkan.

Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir.

 

 

 

Dan bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern. Dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dsb.

Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal. Yakni asrama yang mencukupi syarat (kalaupun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh  Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut. Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat dikumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.

Kata dari orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.

Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih flexible.  Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama. Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

 

 

 

Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana.

  Saya ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was.

Wassalam, Mohamad Natsir. G

 


 



Catatan

[1]   Surat Bapak DR. Mohamad Natsir yang ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo dan Buya Fachruddin HS. Datuk Majo Indo, bertarikh Djakarta, 20 Juli 1968, adalah merupakan pengamatan Pak Natsir serta pengalaman-pengalaman berdasarkan data-data tentang Gerakan Salibiyah yang sangat terencana.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s