Bahay Kehidupan Konsumeristis

Kehidupan konsumerisme.

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

Berbelanja tanpa takaran selalu memancing keluarga, terutama masyarakat lapis bawah yang adalah grass root dan menjadi akar serabut masyarakat  kepada pemborosan yang pada gilirannya terlihat pada terikat kepada hutang (kredit lunak berbunga besar), rusak kerukunan bermasyarakat, hilangnya ketenteraman, timbulnya penipuan, pemalsuan, perampokan, pembunuhan, dan, berbagai tindakan kriminal. pemurtadan aqidah, karena yang kuat akan selalu memakan yang lemah, pada akhirnya patriotisme berbangsa dan bernegara mulai terasa hilang. Agama Islam menyebutkan bahwa “kekafiran itu seringkali datang karena kefakiran”.

Krisis yang menjangkiti masyarakat desa, tersebab mulai menjauhnya umat dari bimbingan agama, melemahnya tabligh, pengajian, majlis ta’lim, dan mulai lengangnya masjid dan langgar, orang tua enggan memasukkan anak-anaknya kesekolah-sekolah agama.

Proyek modernisasi barat   Akibat dari runtuhnya kekuasaan gereja, terutama di belahan dunia barat, telah menggeser pandangan masyarakat yang semula akrab dengan  perpegangan agama menjadi condong kearah pengkejaran kepada memenuhi keperluan-keperluan lahiriah dengan mengabaikan kebutuhan rohaniah melalui tindakan-tindakan pengabaian prinsip-prinsip moral yang lazim berlaku, dan acapkali berakhir dengan lenyapnya kebahagiaan atau lumpuhnya pertumbuhan jiwa manusia.

Keperluan manusia kepada Tuhan menyebabkan mereka mencari-cari Tuhan kemana saja, padahal “Hingga batas manapun pemikiran tidak adanya Tuhan tidak dapat diterima” (Lihat Richard Swanburn, Oxford ,Wujud Allah, 1979).

Bila umat Islam terbias oleh pandangan proyek modernisasi barat dengan meninggalkan pemahaman ajaran Islam yang selama ini dianut, maka ungkapan bahwa “Islam telah meninggalkan dunia Islam, karena walaupun ditemui banyak umat Islam, tetapi hanya sedikit di dapati pengamal agama (syari’at) Islam“, mungkin akan menjadi kenyataan.

Kecaman terhadap Islam tidak dapat dipisahkan dari pemikiran Barat dan permusuhan yang lama terhadap Islam dengan menyia-nyiakan dan masa bodoh terhadap peradaban manusia yang telah dilahirkan oleh Islam.

Sungguhpun telah terpampang bukti jelas di bidang kedokteran terkenal Ibnu Sina (Avisienna), Ar-Razi (Razes),dan Ibn Nafis. Di bidang filsafat Ibnu Rusyd (Averroes). Di bidang apoteker dikenal pula Ibnu Baitar dan Abu Dawud. Di bidang teknik, Nabag ibnu Farnas dan astronomi Al Bairuni.

Namun dalam arus westernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan selalu dianggap dominasi negeri Barat. Yang lebih parah adalah penerapan double standard dua ukuran dengan pengaruh besar pada  media massa yang selalu menyuarakan bahwa kekerasan, fundamentalis, teroris dan tuduhan-tuduhan brutal lainnya dialamatkan kepada Islam. Permusuhan atheisme – rasialisme dalam menganalisa tindakan umat Islam tidak semata bermuatan politik tetapi lebih banyak karena agama Islam itu dinilai sebagai ajaran yang buruk.

Gerak dakwah Islam di zaman modern membuktikan perkembangan umat Islam yang pesat. Menurut statistika Barat, tahun 1991, jumlah umat Islam didunia mencapai 990.547.000 jiwa. Berapa tahun lagi diperkirakan melebihi 1,5 milyar, karena pertumbuhan penduduk dunia dan penyebaran dakwah, serta kejenuhan dunia barat terhadap paham yang dianut selama ini, Perkembangan Islam cukup pesat. Umat Islam Spanyol (1994) membangun kembali Universitas Islam Internasional “Averroes”. Di Cordove, kembali terdengar suara adzan, setelah lebih 500 tahun  terusir dari Andalusia.

Perkiraan Barat tetap dalam anggitan bahwa Islam adalah musuh utama. Karena itu, pertentangan kedepan tidak hanya terbatas antara Kristen (saliby) atau Yahudi (zionis), tetapi antara minoritas berakidah tauhid yang mengamalkan ajaran agama dipertentangkan dengan mayoritas yang tidak beriman kepada agama Allah.  Persepsi Barat selalu menganggap bahwa Islam adalah agama peperangan, keras, extrim, fundamentalis, teroris, dan penuh keterbelakangan.      

Sebenarnya peradaban manusia mengakui bahwa agama Islam sangat concern terhadap keadilan dan menentang setiap pertentang-an rasialisme. Keadilan adalah pilar langit dan bumi, menjamin dan memelihara harkat kemanusiaan (Lihat QS.an-Nahl:90, al-An’am:152, ath-Thalaq: 2, al-Hujurat: 9, an-Nisa’:58, al-Maidah:8).***

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s