Menghadapi Bencana Alam, Menerapkan Hasil-hasil Iptek serta Bertawakkal kepada Allah.

Menghadapi Bencana Alam,
Menerapkan Hasil-hasil Iptek serta Bertawakkal kepada Allah,
Intisari dari ajaran agama yang benar

.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

PENGANTAR ;

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.3,Ali Imran:110).

Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan, khaira ummah, dengan menerima dinul Islam, sesuai diwahyukan kepada Rasul SAW. Ketika manusia menjadi kufur (menolak), dan sebahagian lagi berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), maka seketika pula manusia kehilangan pegangan hidup, di dalam meniti setiap perubahan.

Khaira ummah menjadi identitas umat, yang selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten) dengan sikap mulia akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah, selalu berdakwah, menyeru, mengajak umat kepada yang baik, (amar makruf), dan melarang yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.

Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Ketika manusia pertama diciptakan (Adam AS), kepadanya diberi beberapa perangkat ilmu (QS.2:30-35), untuk dapat mengemban misi khalifah di permukaan bumi.
Nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah, juga dengan ilmu pengetahuan dan memiliki pengertian dan pemahaman tentang suruhan berbuat baik dan larangan dari berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).

Amar Makruf Nahi Munkar sangat sesuai dengan martabat manusia. Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) di pagar oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah). Amar makruf nahi munkar, tidak ditetapkan oleh like or dislike (suka atau tidak). Menerapkan benar dan salah di kehidupan sehari-hari, seringkali mengali kerancuan, karena disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan tentang right dan wrong, tentang yang disuruh dan yang dilarang. Selain juga disebabkan karena ada kebiasaan mudah meninggalkan ajaran agama, tidak teguh (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong tersebut.

Bila di dalami ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5, maka membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”, dengannya manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui (‘allamal-insana maa lam ya’lam). Ilham dan ilmu belum berakhir. Wahyu Allah member sinyal dan dorongan kepada manusia untuk mendalami pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

MANFAATKAN ILMU PENGETAHUAN;
Keistimewaan ilmu, dapat meneliti dan mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sesungguhnya menjadi pengetahuan Allah SWT. Dan orang yang dalam ilmunya.

Orang berilmu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan alam yang luas ini milik Allah, karena itu mereka selalu berdoa dan mohonkan ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati;
“ (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati subuh.” (QS.3, Ali Imran:16-17).

Di atas orang berilmu, masih ada lagi yang Maha Tahu,
“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha mengetahui.” (QS.12, Yusuf:76).

“ Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu,” (QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7).

“ Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17, Isra’:36).

Karena itu, memohonlah kepada Allah supaya ilmu bertambah (QS.20:114). Hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43). Yang takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28). Tuhan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).

PADUKAN ANTARA IPTEK DENGAN IMAN DAN TAQWA
Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin itu. Teknologi tidak berarti bila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati. Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir (cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social) yang dipunyai manusia, untuk dapat menggunakan perangkat teknologi, yang diperoleh bermanfaat untuk kehidupan manusia. Karena teknologi tanpa dhamir yang cerdas akan merusak kehidupan itu sendiri.

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut. Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam.
Iptek akan menjadi musuh kemanusian, bila hasilnya menghancurkan harkat (derajat) manusia. Namun, iptek sangat penting, dan teramat berguna dalam meningkatkan taraf hidup manusia, jika manusia yang mempergukanak iptek itu, memiliki keyakinan (iman) dengan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT, Yang Maha Menjadikan alam semesta ini.

Tidak dapat tidak, perlu ada saringan bagi pengguna iptek itu. Saringannya, tiada lain adalah agama, akal budi, dan di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

MANUSIA TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI SEBENTAR LAGI !!!
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat (saat), dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan Dia-lah mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.31:Luqman:34).

Ayat ini bermakna, bahwa manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau apa-apa yang akan diperolehnya, Karena itu, manusia mempunyai satu kewajiban yang hakiki, yakni berusaha dan berharap.

Begitu juga, tidaklah seorang manusia juga yang mengetahui termasuk tentang kematian. Namun manusia disuruh bersiap2 selalu.
“ dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS.17, Isra’:85).

“ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.., sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.3,Ali Imran:185).

SELALU BERMOHON KEPADA ALLAH ;
Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas (ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan (informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq. Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh itu akan mempunyai dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya.

Kekalahan (musibah) selalu disebabkan kesalahan sendiri. Kekalahan dapat datang kepada kelompok yang sebelumnya pernah menang.
” dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal (sebelumnya) kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu masih bertanya: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.3, Ali Imran:165).

Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata, sebagai suatu konsekwensi logis bahwa alam ini adalah milik-Nya .
“ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2,Al Baqarah:155).

Menghadapi musibah dengan sikap sabar, yang dinyatakan dengan pengakuan bahwa semata kita akan kembali kepada-Nya jua.
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS.2,Al Baqarah:156).

Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya.

Walau sebagian manusia, ada yang memungkiri akan kekuasaan Allah, tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.
“.. dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (yang menyembah kepada selain Allah) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS.3,Ali Imran:165).

Marilah segera kita laksanakan berserah diri kepada Allah, dengan memanfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia, dan jangan hanya sebatas semboyan belaka.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s