Kewaspadaan dan Antisipasi Menghadapi Bencana Alam

Kewaspadaan dan Antisipasi

Menghadapi Bencana Alam

Kembalilah kepada Allah

 

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

G

 

empa bumi adalah fenomena alam, yang tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan Maha Pencipta Alam. Alam telah diciptakan sempurna dengan hukum-hukum yang jelas atau sunnatullah (nature wet) hukum alam =     لا تبديل لخلق الله

Fenomena alam itu berlaku sepanjang masa, menurut kehendak Khalik, pada jangka-jangka waktu tertentu, ada kalanya ketika bumi diratakan dan lempengan samudera bergerak kebawah, pulau-pulau melekat dan terseret, memuntahkan apa yang ada di bawah hingga di dalamnya menjadi kosong (QS.al Insyiqaq:3-5), dan ketika pulau-pulau terangkat dan air laut menyusut menjauhi pantai kemudian disusul lautan dijadikan meluap (QS.al-Infithaar:3-5),

Di sini kita memetik hikmah dari satu musibah (bencana alam) bertalian dengan “keimanan” kepada Yang Maha Rahim, bahwa cobaan demi cobaan akan menjadikan umat tambah waspada dan kuat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ  ( عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ)  سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء (4011)

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang marah, maka baginya kemurkaan Allah. (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

 

Bencana alam (tsunami, gempa, gunung meletus) senyatanya harus dianggap sebuah pembelajaran/latihan dari Allah untuk “manusia yang percaya” agar bersiap menghadapi kiamat. Dengan bencana itu sesungguhnya tumbuh keyakinan kuat bahwa kiamat – besar ataupun kecil – pasti dan mesti akan datang. Namun tak seorangpun tahu dengan pasti kapan akan datangnya, karena ada 5 (lima) ketidakberdayaan manusia (Lukman: 34)

1.   Hanya Allah yang tahu kapan saat terjadinya sesuatu (kiamat/gempa),

2.    Tidak seorangpun yang diberi tahu apa yang akan terjadi besok,

3.    Tidak seorangpun tahu dengan pasti kapan titik hujan pertama jatuh,

4.     Tidak seorangpun tahu selengkapnya yang ada pada rahim (kehamilan dan saat/kepastian kelahiran),

5.      Tidak seorangpun tahu bila dan dimana tempat dia akan mati.

Memang tidak dapat dibantah bahwa antara cobaan dengan kelakuan manusia erat kaitannya, sering kali kelalaian manusia menjaga kaedah alam dan dorongan keserakahan telah menjadikan manusia mendustakan hukum2 Allah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)

Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bias menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077], berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)

Kebencanaan yang terjadi di bumi banyak diakibatkan oleh peran makhluk manusia yang lalai dan serakah. “Terjadinya bencana di darat atau di laut karena ulah tangan manusia”.

Keserakahan akan mengundang bahaya dan bencana. Keserakahan terjadi karena menolak bimbingan Khalik, ( فَكَذَّبُوهُ ) karena mereka mendustakan (petunjuk Nabi),  فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ lalu mereka digoncang oleh gempa yang dahsyat, akhirnya menuai bencana فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ  dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka, (Al Ankabut : 37).  Ayat ini mengingatkan betapa eratnya hubungan gempa dengan pendustaan terhadap kekuasaan Allah atau menolak tauhidullah.

Kita memang mengerti bahwa tidak semua manusia dapat menjaga dan menerima keimanan kepada Tuhan dengan sepenuh hati sebagaimana telah pernah terjadi pada umat-umat dahulu yang mendustakan kekuasaan Allah, bahkan ini akan berlaku sampai akhir zaman.

Tidak semua manusia mampu mempunyai iman yang benar, seperti pernah terungkap dalam peristiwa bencana taufan besar pertama di zaman Nabi Nuh dimana keluarganya sendiri tidak dapat diselamatkan, karena mengandalkan kekuatan alam semata,  قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ  Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Melalui pandangan agama dan wahyu Ilahi dapat dipelajari dengan sungguh bahwa ketika bala bencana datang tidak ada satu kekuasaan pun yang mampu menahan dan menolaknya, kecuali hanya dengan pertolongan serta rahmat Allah, قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ رَحِم   Inilah yang diingatkan oleh Nuh dengan berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang“. (QS.Huud:43).

Al-Qur’an memberi jelas diantara tanda-tanda kiamat itu ketika bumi digoncang  dan air meluap, biasanya ketika itulah manusia tahu mana yang telah mereka perbuat mana yang mereka dahulukan (prioritas) manapula yang mereka lalaikan. Dan bencana kalau sudah datang dari Tuhan tiada satupun kekuasaan yang dapat menolak kecuali segera kembali kepada Allah SWT, sebab datangnya bencana gempa seringkali menyebabkan derita yang berkepanjangan.

Dengan berbagai cobaan itu manusia yang beriman atau yang masih mempunyai sedikit keyakinan dapat kembali kepada Tuhan, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk meraih rahmat dan keampunan dari Allah SWT.

فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ

قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا

إِنْ هِيَ إِلاَّ فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ

أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

“Maka ketika mereka digoncang gempa bumi,

Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?

Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya“.(QS.Al A’raf:155)

Ketika seseorang hamba mendapat ujian (bala’ dan musibah) dibalik itu ada tangan kekuasaan Allah SWT yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik sesudah itu. (inna ma’al ‘ushry yusraa). Seorang hamba mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin yang Maha Kuasa.

Maka sikap terbaik dalam menghadapi musibah adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha, seperti bunyi do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى

“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan, bahwa ridha terhadap qadha’, tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi nikmat, dan sabar atas bala’ (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara’a man qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam setiap tindakan keseharian.

Kesimpulan

Di antara antisipasi dan kewaspadaan menghadapi berbagai bencana alam adalah dengan teguh bersandar kepada kekuasaan Allah melalui upaya-upaya:

  1.     hindari perbuatan maksiat yang dapat mengundang bencana,
  2.        perbaiki ibadah dan selalu berdoa kepada Allah mengantisipasi kepanikan,
  3.          patuhi bimbingan para ahli bertalian dengan semua aspek bencana yang terjadi, sehingga tercipta kewaspadaan,
  4.          hindari isu dan jauhi mempercayai nujum agar tidak lahir fitnah,
  5.           perbanyak dzikrullah, sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, SAW.

 

لا إله إلا الله العظيم الحليم

لا إله إلا الله رب العرش العظيم

لا إله إلا الله رب السماوات و الأرض و رب العرش الكريم

ياحي يا قيوم برحمتك استغيث

إنالله و إنا إليه راجعون، اللهم أجرني في مصيبتي و اخلف لي خيرا منها

 

 

6 pemikiran pada “Kewaspadaan dan Antisipasi Menghadapi Bencana Alam

  1. H.Mas’oed Abidin, melihat gejala alam dari sudut pandang yang lain yaitu keagamaan. Posting anda dapat memberikan isnpirasi dari sudut pandang yang berbeda.

    Salam perkenalan
    Aryo Bandoro

  2. Insyaallah, moga memperkaya sudut-sudut pandang kita terhadap alam dan fenomenanya, sehingga akan membawa kita kepada mampu melihat alam kita semakin utuh.
    Terimakasih Mas Aryo Bandoro,

    Wassalam,

  3. Terimakasih Buya Masoed Abidin,
    saya sebagai generasi muda sangat banyak melakukan kesalahan dalam hidup,kurangnya ilmu dan pengetahuan tentang agama islam khususnya…
    saya yakin dan percaya hanya kepada Allah SWT tempat kembali.

    1. Sama-sama terima kasih ananda Riily …
      Insyaallah pintu rahmat Allah masih terbuka lebar …
      untuk kita semua kembali kepada Nya …
      dengan taubatan nashuha …
      inna Allah yuhibbu at-tawwabiin …
      Sungguh Allah sangat mencintai orang yang kembali (taubat) kepada Nya …
      Amin
      wassalam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s