REALITA KALIMAT TAHMID ADALAH JIHAD AKBAR

REALITA KALIMAT TAHMID ADALAH JIHAD AKBAR

.
Oleh : H. Mas’oed Abidin

Di masa ini, setiap saat kita memasuki bulan Zulhijjah di setiap akhir tahun Hijrah, kita akan memasuki satu masa ibadah yang besar, yakni Hajji dan Idul Adh-ha.
Setiap tahun, Umat Islam Indonesia yang beruntung dapat menunaikan ibadah haji, yang jumlahnya tiap tahun meningkat, tidak kurang dari 200 – 250 ribu jamaah dari Indonesia, di tengah 3 sampai 5 juta umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Semua mereka, di masa-masa itu sedang berada dalam perjalanan jihad.
Jihad dibuktikan dengan kerelaan berkurban.
Rela dan siap setiap saat untuk bertaqarrub ila Allah.
Senantiasa mendekatkan diri selalu kepada Allah Yang Maha Besar.
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd.

Semua ucapan dan pengakuan perlu pembuktian.
Bukti tampak dalam bentuk amal perbuatan.
Ketika semua para Mujahidin berhimpun di sekitar Masy’aril Haram, mengumandangkan kalimat talbiyah.

Satu pernyataan dari lubuk hati yang dalam.
Labbaika Allahumma Labbaika, Panggilan Mu ku ta’ati, Ya Allah, panggilan Mu ku ta’ati, Pangilan Mu ku patuhi, Tak ada sekutu bagi Mu, Panggilan Mu kusahuti, Sungguh kepunyaan Mu semata segala puja dan puji, Nikmat dan Kekuasaan milik Mu, Tiada sekutu bagi Mu !!

Di antaranya mungkin terdapat saudara, ibu dan bapak, sanak keluarga, adik dan kakak, teman sebaya dan sekantor, atasan dan karyawan, bahkan mungkin kita sendiri.
Semuanya di waktu yang sama itu, berbaur dengan berpakaian ihram putih tanpa beda seperti layaknya kain kafan.

Rambut dan pakaian kusut masai.
Berdebu, seperti musafir dalam menempuh perjalanan jauh.
A t t a f a l u dengan bau badan menusuk hidung.
Tanpa pembersih dan pengharum.
Selalu sibuk kerja keras.

Menguras tenaga, bermandikan peluh.
Semata hanya menyahuti panggilan Allah,
Labbaika Allahumma Labbaika.

Sepertinya, tengah melakukan pembinaan pribadi di tengah pergulatan hidup. Pengendalian diri, hanya sangat mungkin dimenangkan dengan melupakan kemewahan.
Untuk mencapai mabrur dan makbul.

MABRUR YANG DICITAKAN MESTI DIAWALI OLEH MAKBUL.
SEORANG YANG MENDAPATKAN MABRUR MESTI BERSEDIA MENJADI JUNDULLAH.

Prajurit-prajurit Allah yang akan berperang melawan kemiskinan.
Membasmi kemelaratan dan kelaparan melalui upaya bersungguh-sungguh. Menabur benih keselamatan ditengah kesetaraan hidup.
Penyandang gelaran mabrur adalah pribadi-pribadi berhati bersih.
Berprilaku taqwa, berjiwa kokoh tahan uji.
Pantang terpengaruh oleh kemilauan hidup duniawi.

Sikap-sikap terpuji ini mendorong pribadi untuk sanggup hidup dan memberi hidup. Hidup ditengah keluarga dalam hubungan integrasi yang kuat kokoh.

Di ikat tali persatuan bangsa dan kesatuan wilayah.
Menghidupkan kemandirian local dalam wacana nusantara dan wawasan global. Dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia tercinta ini.

Sejarah bangsa Indonesia ini sangat banyak kaitannya dengan perjalanan para Hujjaj.
Sejak dahulu sampai kini.
Sejak pertama kalinya bendera Merah Putih berkibar di Padang Arafah di tahun 1946.
Bahkan jauh dari sebelum pulangnya Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik dan para mujahid lainnya.
Sedari pertengahan abad keduabelas hingga penghujung abad ke tujuhbelas.
Sambung bersambung tidak terputus, dalam kurun tujuh ratus tahun yang silam.

Amatlah berbahagia satu masyarakat bangsa yang memiliki sederetan para Hujjaj yang mabrur.
Ketika kembali kekampung halaman masing-masing di tanah air tercinta berkemampuan menerapkan sikap hajjan mabruran disertai pengabdian besar.
Kehadiran mereka, Insya Allah, ditengah keluarga dan masyarakat pasti akan menambah panjangnya barisan penegak kebenaran.
Menggerakkan pembangunan negeri yang tangguh kokoh dan tahan uji.

Kebahagiaan para hujjaj yang berhasil merebut makbul dan mabrur semakin besar dikala teringat janji Allah, maghfirah dan jannah.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW,“al Hajjul-mabruuru laisa lahu jazaa-an illa-al Jannah”, artinya “Haji yang mabrur, tidak ada baginya pembalasan selain surga”.
”Qiila wa maa birruhuu ?” Lalu ditanya orang, “apa yang dimaksud dengan birruhu ?”
Jawaban Rasulullah SAW, Ith-’amu at Tha-’aami, yaitu “memberi makan kepada Si Lapar”. Yakni memiliki kepedulian mendalam terhadap simiskin mustadh’afin. Bilangan mereka semakin bertambah setiap hari (35 juta orang), walau senyatanya hidup ditengah negeri yang kaya dan raya.
Wa ifsya’ us-Salami artinya “menyebarkan keselamatan”. Memelopori tegaknya keadilan. Menanam berbagai kebajikan yang pasti berbuah keselamatan. Menabur kedamaian bagi segenap manusia”.
(HR. Imam Ahmad dan Imam Baihaqie).

TONGGAK SEJARAH.
Setiap dilaksanakan Ibadah Hajji dari tahun ketahun, bersambut dengan Muharram tahun Baru Hijrah seperti sekarang, mau tidak mau akan membawa larut kenangan setiap Muslim.

Menuju kepada satu titik sejarah 9 Zulhijjah 10 H bertepatan Maret 632 M, seribu empatratus sepuluh tahun silam.

Di masa itu, Nabi Muhammad SAW berdiri ditengah hampir 120.000 sabiquunal-awwaluun umat Islam pertama. Mereka juga berdatangan min kulli fajjin ‘amiiq dari segenap penjuru Jazirah.
Merupakan umat pertama yang berkumpul dikaki Jabal Rahmah di tengah Padang Arafah bersama-sama Rasulullah SAW untuk meneriwa wasiat.
Seakan peristiwa timbang terima dakwah ketangan umat pelanjut Risalah berikutnya sepanjang masa.
Di saat itu pula Allah telah menurunkan wahyu terakhir, yang isinya;
Dihari ini (firman Ilahi), Aku lengkapkan untuk kamu agamamu, dan Aku sempurnakan untuk kamu ni’mat Ku, dan Aku nyatakan keredhaan KU untuk Islam menjadi agamamu” (QS.5, Al Maidah:3).

Peristiwa sejarah ini disebut juga Haji Tamam atau Haji Kamal, sesuai makna wahyu terakhir tersebut.
Lebih terkenal dengan Wasiat Haji Wada’.

Dalam khuthbah Wada’ Rasulullah SAW menetapkan prinsip-prinsip Islam secara lengkap.

Sehubungan Haji Wada’ ini, firman Allah kemudian menyebutkan,
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan hari kemenangan dan engkau lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah; maka bertasbihlah engkau dengan pujaan-pujaanmu terhadap Allah Tuhan engkau dan beristiqfarlah akan dia. Sesunggunya Dia Allah maha memberi taubat” (QS. 110, an-Nashru 1-5),

Dari rentetan sejarah ini, marilah kita masuki kehidupan baru dengan semangat merebut “nashrum minal-lah” dengan senantiasa melakukan tasbih dan tahmid dalam makna hakiki istighfar dan introspeksi. ***

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s