Isu SARA dan Dampaknya Terhadap PERSATUAN dan KESATUAN BANGSA

Isu SARA dan Dampaknya Terhadap PERSATUAN dan KESATUAN BANGSA Kemajemukan atau Pluralitas Akan tumbuh karena Menghormati  Identitas  Masing-Masing dalam Keberagamaan,

Modal utama membangun Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin[1]

 

“ … dan bagi tiap-tiap umat ada  tujuan (kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…,

 di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

(QS.2, al-Baqarah : 148)

 

 

Seringkali kalau kita mendengar ”kemajemukan” atau ”pluralitas” terganggu karena ”isyu-isyu pengembangan agama”. Umat Islam yang berada di lapangan, di kota-kota, ataupun di desa-desa, di pinggir-pinggir pantai ataupun di kaki-kaki gunung, bukan saja mengetahui, akan tetapi ikut merasakan bagaimana meningkatnya upaya pengubahan keyakinan agama itu, walau sudah dianut mereka secara turun temurun.

Ekspansi proselytisme oleh pihak-pihak misionaris – misalnya –, tidak semata diarahkan ke”suku terasing” yang belum beragama saja. Bahkan, kadangkala meningkat juga diarahkan kedaerah-daerah yang menjadi pusat kebudayaan Islam – sejak lama –, seperti Aceh, Mandailing, Minangkabau, Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi, Amuntai, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sambas, Kalimantan Barat dan lain-lain, meningkat juga ekspansi itu, sebagai bagian aksi proselytisme (kegiatan menyebarkan agama) terhadap umat yang sudah beragama untuk berpindah kepada agama tertentu, dan kadang-kadang dilakukan dengan bermacam-macam cara.

Keadaan seperti ini, salah satu penyebab, yang telah memicu, terjadinya ketidak harmonisan dalam bermasyarakat, dan memancing timbulnya isu SARA. Coraknya dapat bermacam. Hakekatnya tetap sama, menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat.

”Riak proselytisme menumpang dengan gelombang globalisasi, liberalisasi dan hak asasi”. Riak-riak ini, merusak kemajemukan dalam tata bermasyarakat pluralis itu.

Ketauladanan yang diajarkan agama adalah berkelakukan baik, penyayang dan penyabar, berdisiplin dalam hidup, amanah dan menunaikan janji, suka menolong, memeiliki arah hiodup yang spesifik dengan saling menghormati, memiliki keperibadian yang disegani dan dihormati, serta mampu bermasyarakat dengan baik. Penolakan asas agama, memunculkan perpecahan di kalangan umat umat manusia (firaq) dari keterikatan kerjasama (ta’awun). Umat akan terpecah, menjadi dua pihak (hitam dan putih, diniyah dan laa diniyah).

Seakan yang satu, disiapkan harus berhadapan langsung dengan yang kedua, dalam satu satuan perang ideologi secara bengis, penuh kecurigaan dan intimidasi. Inilah yang menyebabkan timbulnya isu SARA. Pemisahan bagai belah bambu ini, akan memungkiri segala keutamaan budi manusia.

Kemajemukan dalam bermasyarakat menjadi sulit dikembangkan, ketika tidak ada sikap menghormati identitas dan keyakinan masing-masing. Penyeragaman keyakinan akan merampas hak asasi manusia yang hakiki.

Kemajemukan atau sikap pluralitas akan tumbuh subur di dalam suasana menghormati asas kebersamaan dan universalitas ajaran agama dengan sikap toleransi dalam keberagaman yang luhur.

Penyiaran agama tidak dilakukan semberono dan menyinggung perasaan. Kemajemukan akan rusak, jika pengembangan agama tidak menyikapi suasana lingkungan adat kebiasaan dan kesopanan.

Kemajemukan  tumbuh subur dalam kehidupan berbagai corak, bila terpupuk rasa percaya mempercayai dan mengindahkan perasaan sesama. Penyiaran agama mesti mematuhi rambu-rambu, yakni tidak ditujukan kepada yang sudah beragama…

Pluralitas dalam satu kehidupan masyarakat beradat terbina baik, ketika ada kesadaran menjaganya dengan teratur dan cara-cara yang baik pula.

Kesadaran itu lahir karena pengenalan atas sifat dan identitas masyarakat beradat-budaya. Minimal mengenali tingkat sosial masyarakat, tentang keadaan keyakinan dan etnografis pemahaman, serta aspek geografi dan demografi, sejarah dan latar belakang masyarakat, kemudian kondisi sosial-ekonomi dan budaya, adatistiadat yang berbeda.

Sangat perlu adanya pemahaman, bahwa hakikatnya, setiap tanah ditumbuhi tanaman khas, setiap etnik memiliki adat budaya dan anutan tersendiri juga. Pengetahuan ini amat berguna untuk memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan dan memelihara kemajemukan serta peka dengan sikap pluralitas.

Pergaulan dalam kemajemukan, sebenarnya berasal dari ajaran Agama. “Yang tidak bisa menyayangi sesama manusia tidak akan disayangi oleh Allah”. (Muttafaqun- ‘alaih)

Menyuburkan pertentangan akan menjauh dari kepentingan bersama dalam satu gemeente collectiviteit atau jamaah agama yang menjadi dasar perhubungan keselarasan hidup manusia.

Nilai Agama membentuk masyarakat berbudi. Nilai ajaran agama melahirkan satuan masyarakat yang proaktif menghadapi berbagai keadaan dalam kehidupannya. Kehidupan bermasyarakat adalah satu realitas, dan perlu dipacu kearah peningkatan mutu kehidupan dari satuan masyarakat itu sendiri. Untuk itu jiwa umat mesti dihidupkan, dengan menanamkan kesadaran pentingnya hidup damai, memiliki keyakinan atau keimanan yang kuat, hidup dengan tatanan adat istiadat yang baik, menjaga interaksi sosial dengan ukhuwah mendalam, serta melakukan amalan karya bersama dan menjaga sikap kegotong royongan yang telah diwarisi sejak lama sebagai budaya bangsa Indonesia.

Kekacauan mengakibatkan pemborosan tenaga, penghamburan harta dan pengorbanan jiwa yang percuma dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Kekacauan juga akan membawa ikhtiar ke jalan buntu dan keruntuhan.

Semestinya umat Islam menolak tiap-tiap usaha dari pihak manapun yang mengakibatkan kelumpuhan negara serta alat-alatnya.

Pluralitas akan selalu ada, ketika terjaga identitas masing-masing. Penyeragaman akan merampas hak asasi. Pluralitas akan lenyap dikala ada upaya pemaksaan pada tataran pergaulan kehidupan bermasyarakat.

Hilangnya saling menghormati berakibat penderitaan dan kekacauan di seluruh sektor serta berlaku perampasan hak-hak dan hilangnya kepercayaan, lambat laun menjadi  semacam perasaan putus asa. Ketika itu, tampak jelas raut wajah masyarakat hidup di atas puing reruntuhan kebudayaan, karena kehilangan kesadaran dan kearifan. Masyarakat yang melupakan secara sengaja ajaran Rasul Allah, akan tumbuh menjadi kelompok perusuh. Ajaran Islam adalah kasih sayang.

Sumatera Barat (Minangkabau) umumnya beragama Islam. Mereka paham agamanya. Mereka pelihara prinsip hidup berakidah dan istiqamah. Ada identitas anak Minangkabau, sebagai izzah martabat diri, ” Jikok di anjak urang banda sawah, jikok di aliah urang batu pasupadanan, jikok di ubah urang kato pusako, jikok di anjak urang kato nan bana, Busuangkan dado padek-padek, paliek-kan tando laki-laki, ja-an takuik nyawo malayang, ja-an cameh darah taserak, tabujua lalu tabulintang patah, aso hilang duo tabilang,[2] 

Arti yang disimpan mamangan ini dalam sekali. Diantaranya, “jika dialih orang tanpa hak, bandar sawah, pancang pasupadanan (batas-batas ulayat)”, maknanya jika terjadi perkosaan hak, setiap diri wajib mempertahankan agar tidak disebut zalim. Begitu pula, bila diubah orang kata pusako  (adat istiadat), dan berubah janji kebenaran, yang menjaga hak identitas keyakinan dan budaya, maka setiap komponen masyarakat wajib memeliharanya.

Dalam mempertahankan hak kebenaran, lelaki Minang wajib menampilkan jati dirinya (mampaliekkan tando laki-laki), tidak takut menentang bahaya, terbujur lalu, terbelintang patah, kewajiban asasi tidak bisa dilalaikan. ”Tanamo anak laki-laki, sabalun aja ba pantang mati, baribu cobaan mandatang, namun mati hanyo sakali.[3] Ada keteguhan keyakinan dalam satu tata cara hidup “adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah“, yang sesuai dengan munasabah kejadian manusia yang universil. Sikap ini dipunyai dalam kaedah adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau. Ketika Minangkabau diguncang oleh beredarnya Injil Berbahasa Minang di tahun 1996[4] di Pasaman dan Kinali. Peristiwa ini, telah merusak tali kemajemukan (pluralitas) oleh riak proselytisme yang sulit berhenti, kadang-kadang wajahnya kebebasan dan demokratisasi, bahkan dapat bermantel hak asasi dan reformasi serta penyesuaian globalisasi.

Ada satu pepatah mengatakan : “Sesuatu yang bathil bila teratur rapi, bisa mengalahkan yang hak, tapi centang perenang”. Baiklah bagian ini mendapat perhatian secara khusus. Kita sama-sama sadarilah, sebenarnya kita sedang berlomba dalam masyarakat majemuk “dalam menegakkan kebajikan”. Memang itulah fungsi Umat dalam masyarakat yang “pluralistik”.

Tunjukkan kehadiran kita dengan amal. Kita semua manusia, yang tidak ma’shum dari kekeliruan. Sambil jalan perbaiki. Kita surut, dimana terlanjur. Kita perkembang, mana yang baik. Kita perbarui niat semula. Ini arti hakiki sikap menghormati kemajemukan itu. Jangan jadi bahan cimee-eh orang lain. Jangan jadi penonton di tengah jalan, melihat orang lalu, sambil memangku tangan. Walau lidah sudah kaku, terus bicara dengan amal baik untuk umat banyak. Amal yang baik itu jauh lebih fasih dari pada lidah. Ini fungsi kita umat Islam.

“ Kamu hidup di atas bumi di tengah-tengah persimpang-siuran dari pada agama, kepercayaan dan persimpangan dari pada ideologi dan cita-cita. Semuanya mencapai tujuan masing-masing pula.”

Maka wajib ada sikap hidup saling menghormati. Di tengah dunia yang pecah belah dibalut pemaksaan kehendak dengan penyebaran faham dan wabah nafsu kebendaaan yang membutatulikan kemanusiaan, ikut menyeret manusia menuju malapetaka besar kemanusiaan.

Bbuktikan bahwa umat Islam memegang amanat menjunjung tinggi kehidupan beragama, dan pandai hidup dalam masyarakat majemuk. ”…. dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS.22, al Hajj : 40).

Dalam keadaan demikian, jangan lari dari persimpangansiuran itu. Karakter umat mesti dibangun dengan iman, ilmu dan ibadah yang teratur, sehingga lahirlah akhlak yang baik sesuai tuntuna Wahyu Allah SWT. Jangan uzlah menyendiri. Tetaplah berada di tengah-tengah persimpangsiuran itu. Menjaga kemajemukan dengan berlomba-lomba bersama umat-umat dunia untuk kebajikan sebagai tujuan hidup dari seorang Muslim.

Tunjukkan identitas selaku seorang Muslim. Berlomba menanam benih kebaikan. Dan kalau itu sudah dijalankan, jangan pula be-riya atau takabur, dan bergagah diri. Semua amalan itu hanya untuk dipersembahkan pada Illahi, moga diterima Allah SWT. Karya amalan baik itu diberikan kepada sesama manusia tanpa diskriminasi, tanpa pilih suku, agama, dll.

 

Umat Islam mesti memiliki sikap lapang dada – hilm –, pemaaf, toleransi dan penyayang. ”Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu”. (HR.Abu Daud)

Kalau diterjemahkan kedalam perilaku keseharian umat di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), mestinya hidup dengan peribadi memuliakan sesama, karena kokohnya iman yang dipunyai serta adat yang dipakai. Maka keyakinan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, akan memperkuat wawasan kebangsaan yang terlihat dalam kekerabatan dan kesaudaraan.

Daripadanya lahir kesepahaman dan kesatuan, yang serlanjutnya membentuk kerjasama dan keterpaduan. Dari sana lahirlah keselarasan hidup bermasyarakat. ”Iman orang-orang Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya (HR.Thabrani).[5]

Membangun ketahanan masyarakat mesti dikawal dengan Iman, akhlaq, ilmu, solidaritas, ibadah, kesadaran bermasyarakat yang diperlihatkan dengan toleransi yang tinggi.

Maka pembinaan ranah ruhani menjadi utama, agar tidak terjadi kasus SARA. Penting sekali pembentukan watak umat dengan FAST, yang meliputi fathanah (ilmiah), amanah (jujur), amaliyah yang benar (transparan), perbuatan yang jujur (shiddiq), kesalehan yang lahir karena keyakinan kepada hari akhir, setia dengan ukhuwah yang mendalam, dialogis (tabligh), percaya kepada kekuasaan Allah Tuhan Yang Maha Esa (tauhidiyah) dan hidup berdisiplin (taat). Kesembilan sikap ini akan menghambat terjadinya isu SARA dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi umat Islam, sudah jelas benar, hal ini diulang-ulang berkali-kali dan diperingatkan oleh Allah SWT, bahwa upaya proselytisme itu akan selalu ada, maka umat Islam mesti hati-hati. Seperti tegas disebutkan dalam Surat al-Baqarah : 109. ”Sebahagian besar ahli kitab menginginkan, agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.2, Al-Baqarah : 109).

Atau juga dalam surat Al-Baqarah 120. Ketika ulama Islam mengingatkan umatnya makna ayat ini dengan menyuruh umat berhati-hati serta membentengi akidah keluarga dan generasinya, berperilaku sesuai ajaran Islam, berkawin-mawin serta beradab-sopan, atau berbusana pakaian Islami, serta merta ditimpakan pernilaian tidak punya kepekaan atas kemajemukan, bahkan anti pluralitas atau radikal. Ironis sekali.

Maka, umat Islam berkewajiban memelihara hubungan horizontal, memelihara solidaritas sesama atas dasar, bahwa seluruh manusia adalah kelauarga Allah, dan paling disayangNya, adalah yang paling bermanfaat sesama hamba-hamba itu. Setiap diri wajib memelihara serta mempertahankan damai dan menyelesaikan setiap perselisihan secara damai pula. Umat Islam menyadari sepenuhnya, bahwa mereka mempunyai tugas pendukung risalah dalam mewujudkan kemashalahatan umat banyak. Maka, tidak boleh salah dalam mendasarkan sikap.

Umat Islam telah dijadikan sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan), yang berkewajiban terhadap persaudaraan dunia serta kemanusiaan. Umat Islam memiliki kewajiban terlebih dahulu untuk menciptakannya dengan memulai dari diri sendiri. Kewajiban mesti harus lebih dahulu ditunaikan sebelum hak menjadi tuntutan.

Kewajiban kita ialah, masing-masing kita, tanpa kecuali, benar-benar memelihara diri dan keluarga kita daripada terjerumus dalam kekufuran. Dan untuk menjaga agar sikap bersatu, bersaudara, berprestasi dan mandiri tetap terjaga, diperlukan pengawalan terus menerus dengan memlihara jiwa yang sadar, iman atau spiritual yang konsisten (istiqamah), akhlak atau moralitas berbaangsa, ilmu yang selalu ditingkatkan, ukhuwah yang terjaga dengan interaksi yang baik. Siklus ini dimulai dari pembinaan di rumah tangga. Sebagaimana peringatan Ilahi, “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.66, At-Tahrim : 6).

Memelihara identitas masing-masing dengan ketaatan adalah ikatan kuat bagi sikap kemajemukan itu. Tiap-tiap rumah tangga harus menjadi benteng akidah dan keyakinan masing-masing individu.

Agama Islam sangat menekankan adanya budi pekerti. Agama Islam memberikan semangat persaudaraan kepada semua manusia, yang menjadi syarat untuk menghindar dari kenistaan pertentangan paham-paham yang telah menimbulkan kesulitan-kesulitan yang berbahaya.

Solusi Islam adalah kesadaran bahwa persatuan dan persaudaraan adalah karunia Allah, atas dasar “kalimatin sawa” atau kata persamaan, yakni kemestian menyusun lapis umat dengan tertib membangun perilaku saling menghargai dengan pengertian, melalui cara mendidik sifat, menyusun perpaduan dan mengembangkan cita-cita Islam sebagai tata cara hidup, sesuai akhlaq umat yang rahmatan lil-‘alamin.

Tanpa rasa hormat, kemajemukan hanya sebuah istilah. Penindasan hak-hak asasi, akan merusak kesatuan bangsa dengan bermacam-macam agama (multi religi) ini. “ Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.(QS.3, Ali Imran : 64).

Intisarinya ialah supaya “agama yang satu jangan menjadikan agama lain menjadi sasarannya.” Artinya, seluruh masyarakat Indonesia yang beraneka agama ini, sama-sama saling tenggang rasa dan hormat menghormati satu sama lain. Keyakinan agama tidak dapat dilepas dari tatakrama satu masyarakat yang sudah diterima turun temurun.

Umat Islam memang cukup diberi perbekalan oleh agamanya, agar pandai-pandai menempatkan diri dalam satu masyarakat, dimana ada bermacam aliran agama: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. 2, Al-Baqarah : 147).

“Allah tidak melarang kamu berbuat dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama, dan (orang-orang) yang tidak mengusir kamu keluar dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang berlaku adil “. (QS. Al-Mutahanah 8).

“ Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu, dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah 9).

Ringkasnya:

  1.            Harus ditanamkan kesadaran mendalam bahwa bumi Allah ini diisi oleh bermacam-macam aliran keyakinan, paham, dan agama. Karena itu, berpedoman dengan ayat di atas, umat Islam tidak dibenarkan menyisihkan diri dari masyarakat campuran itu, malah umat Islam mesti berkecimpung di dalamnya dengan berlomba-lomba menegakkan kebajikan untuk umat manusia tanpa diskriminasi.           
  2.             Sekedar berbeda agama tidak menghalangi umat Islam ini untuk berbaik budi dan hidup rukun dengan sesama manusia yang bukan beragama Islam. Akan tetapi kita tak bisa bertepuk sebelah tangan. Yang tidak bisa dipersahabati oleh umat Islam ini hanyalah mereka yang memusuhi agama Islam itu, dan yang berkeinginan kuat untuk mengubah aqidah dan identitas Islam itu. 
  3.         Yang perlu dijaga oleh setiap generasi Islam, adalah janganlah menganggap orang Islam ini sekalipun larat-melarat dan masih dhuafak dalam materi ataupun intelektualnya, jangan dianggap sebagai animis yang perlu pula dipindah-alihkan keyakinan mereka terlebih dahulu untuk “mempercepat proses development”.
  4.         Mari kita kembali kepada “kalimatan sawaa’ “, tentunya tidak akan ada diantara kita yang mau meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa. 
  5.         Ketahuilah, bahwa umat Islam sudah berkeyakinan dengan agama Risalah ini. Untuk itu, umat Islam diwajibkan berpegang teguh hanya kepada tali Allah. Maka jangan diganggu identitas yang sudah ada, baik dalam adat, maupun keyakinan. Agar jangan terjadi, akibat menompangnya “riak proselytisme dengan gelombang globalisasi“, akhirnya ombak menghempas di tengah lautan, sebelum mencapai pantai harapan. Badai datang dan bencanapun tiba, berbentuk isu SARA.

Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman serta tunduk kepada adanya permusuhan antara golongan dalam masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah. Na’uzubillahi min zhalik! G

 


 

[1]   Disampaikan dalam Diskusi  menguatkan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dilaksanakan oleh Kesbang Linmas, Kabupaten Tanah Datar, di Batusangkar, pada tanggal 6 dan 7 Agustus 2007, bertempat di Hotel Yoherma, Batusangkar.

[2]   Jika dipindahkan orang bandar (irigasi) sawah, dialih orang batas sepadanan (batas tanah hak milik), apabila diubah kata pusaka (adat budaya yang sudah diakui sejak lama), jika dianjak orang kata yang benar (artinya  hilang prinsip musyawarah dan saling menghargai, atau hilangnya law-enforcment dan berlaku penjajahan dan penginjakan hak-hak asasi), maka, “busungkan dada dan perkuat tempat tegak, perlihatkan bahwa kita memiliki sifat laki-laki  artinya, tidak boleh dianggap remeh saja –. Jangan takut nyawa melayang, walau beribu cobaan yang datang, tetaplah berdiri sebagai pembela yang benar. Jangan cemas darah tertumpah. Terbujur lalu terbelintang patah. Esa hilang dua terbilang.

[3]   Ternama anak laki-laki, sebelum ajal berpantang mati, walau beribu cobaan datang menjelang, namun mati hanya sekali.

[4]   Contoh kasus rusaknya kerukunan beragama dalam kaitan kemajemukan (pluralitas) karena kasus proselytisme. Pada tahun 1997, Ranah Minang dikejutkan dengan beredarnya Injil Berbahasa Minang yang diterbitkan oleh Lembaga Al Kitab Jakarta. Ketika itu, para ulama pemuka masyarakat masih mampu meredam suasana. Walaupun  ketika itu, di beberapa daerah di tanah air sedang dilanda kemelut besar, seperti peristiwa Situbondo, dan lainnya. Kepekaan pluralitas (kemajemukan) yang dipunya pemuka agama di Sumatera Barat — Dewan Da’wah bersama Majlis Ulama Sumatera Barat (Ahmadillah, Sekretaris) dan Kanwil Departemen Agama Sumatera Barat (Adly Etek) — ketika itu (Januari 1997), meminta kepada Komandan Korem 032 Wirabraja dan Pemda Sumatera Barat, agar menarik Injil dimaksud dari peredaran, sehingga keamanan dan ketenteraman umat dapat dijaga dalam kemajemukan. Ini dilakukan demi masyarakat tidak menjadi heboh. Akhirnya bersama-sama dengan Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Injil Berbahasa Minang dapat ditarik dan disita (kemudian diketahui, jumlahnya lebih dari 7000 buah).

[5]   HR.Thabrani di dalam al Ausath dan Abu Nu’aim dari Ibnu Sa’ad. Albani menghasankan di dalam Shahih al Jami’ as-Shaghir.

 

 

 

H. Mas’oed Abidin

TEMPAT/TANGGAL LAHIR          :  Koto Gadang Bukittinggi, 11 Agustus 1935

AYAH dan IBU                                    :  H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss,

Suku                                                       :  Piliang

JABATAN SEKARANG                    :  Ketua Umum BAZ Sumbar, Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Sumbar (1967-sekarang), Wk.Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar (sekarang).

ALAMAT SEKARANG                      :  Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146), Fax/Telepon 0751-7052898,  Tel:0751-7058401.

LAIN-LAIN:

Personal Web-site/Mailing list         : http://masoedabidin@yahoogroups.com

Email                                                       masoedabidin@yahoo.com

                                                                  masoedabidin@hotmail.com

 

BUKU YANG SUDAH DITERBITKAN ;

1.        Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta – 1997.

2.        Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2000.

3.        Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.

4.        Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.

5.        Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang  – 2001.

6.        Surau Kito, PPIM – Padang, 2004.

7.        Adat dan Syarak di Minangkabau, PPIM – Padang, 2004.

8.        Implementasi ABSSBK, PPIM – Padang, 2005.

9.        Silabus Surau, PPIM – Padang, 2005.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s