Tantangan Dakwah, Panghayatan Islam dan Pengamalan Umat Islam di Tanah Melayu, Minangkabau dan Nusantara, di kawasan Serantau

TANTANGAN DAKWAH
PENGHAYATAN ISLAM DAN PENGALAMAN UMAT ISLAM
MELAYU, MINANGKABAU, INDONESIA

Oleh : H. Mas’oed Abidin

( I )
Di Abad ini, telah terjadi lonjakan perubahan dengan cara cepat, transparan, dan bumi terasa sempit seakan tak ada sekat (batas).
Hubungan komunikasi, informasi, dan transportasi telah menjadikan satu sama lain menjadi dekat.

Kita, masyarakat Serumpun, amatlah bersyukur kepada Allah, atas rahmat yang besar dengan nilai-nilai tamadun budaya Melayu yang terikat kuat dengan penghayatan Islam, dan terbukti pada masa yang panjang di zaman silam menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia.

Namun, tersebab kelengahan dan terpesona kepada budaya lain di luar kita, dan karena derasnya infiltrasi budaya luar (asing), kita pun mengalami situasi seakan membakar obat nyamuk, lapis pertama berangsur punah menuju lingkaran ke tengah dan dalam. Bila ini dibiarkan, rela ataupun tidak, akhirnya tinggal abu jua.

( II )
Tuntutan zaman terus bergulir, sebagai bagian dari “Sunnatullah”.
Apabila di masa lampau, saudara Serumpun telah banyak belajar menuntut ilmu ketanah seberang, karena kuat dan samanya ikatan batin, namun dihari ini senyatanya mesti diakui, kami pula harus belajar banyak dari semenanjung. Inilah satu kenyataan sejarah, yang memang sulit untuk dibantah.
Tetapi, masih tersedia satu lapangan dimana kita bisa berkejaran bersama, ya’ni di medan dakwah Ilaa Allah.

Karena itu, sangatlah dihajatkan benar tampilnya penggerak dakwah dengan berbekal teoritikus yang tajam, dan effektif, qanaah dan istiqamah dibidangnya.

Di samping itu, yang dihajatkan benar dalam pembinaan umat adalah, “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah tengah umat.
Selain daripada ilmuan atau sarjana berpengalaman, maka yang paling dihajatkan bukan mata mata yang “mahir membaca berjilid-jilid buku tetapi buta membaca masyarakat”. Kemahiran membaca “kitab masyarakat” acap kali tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata.

Karenanya pula, perlu mengintrodusir ke tengah masyarakat, dalam upaya membawa umat untuk aktif bersama-sama dalam menghadapi setiap persoalan. Akhirnya, dengan usaha sedemikian itu, akan dapat dirasakan denyut nadi kehidupan umat, dan lambat laun akan berurat pada hati umat itu.
“Makin pagi makin baik….”,

Jangan berhenti tangan mendayung, demikianlah diantara pesan Allahyarham Bapak Mohammad Natsir.

( III )
Tidaklah kecil kerja kita, dalam mengurus rakyat kecil yang nyata-nyata jumlahnya sangat besar berada di akar serabut (grass-root) masyarakat bangsa Serumpun.

Kekuatan kita pula terletak didalam kekuatan mereka “innama tunsharuuna wa turzaquuna bi dhu’afaikum”.
Bila kita mengkaji berhitung-hitung bahwa kita bangsa Serumpun yang besar ini, besar pula jumlah penganut Islamnya.

Kebanyakannya pula adalah dhu’afak yang larat melarat.
Maka tentulah terbuka peluang menghelanya oleh orang lain yang berminat mengubah dan memindah-mindahkannya kepada keyakinan di luar Islam.
Memang sangat memilukan sekali bahwa rakyat kecil itu pula di masa derasnya arus globalisasi ini senantiasa dijadikan sasaran empuk.

Karena ketiadaan juga rupanya mereka menjadi kafir.
Karena ketiadaan pula mereka menjadi umpan dari satu perubahan berbalut westernisasi.
Karena ketiadaan ilmu, dan bekalan iman jua agaknya mereka menjadi rapuh, dan terhempas di lamun ombak pemurtadan.
Acap kali mereka tersasar, sesat jalan, hanya karena kurangnya pemahaman terhadap agama.
Karena ketiadaan.
Itulah penyebabnya.

Arus globalisasi yang bergerak deras itu telah menggeser pula pola hidup masyarakat dibidang ekonomi, perniagaan atau pertanian, perkebunan dan lain sebagainya.
Kehidupan sosial berteras kebersamaan bergeser menjadi individualis dan konsumeristis.
Masing masing berjuang memelihara kepentingan sendiri-sendiri dan condong kepada melupakan nasib orang (negara negara) lain.
Persaingan bebas tanpa kawalan akan bergerak kepada “yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri, dan yang kuat akan menelan yang lemah di antara mereka“.

( IV )
Tantangan dan tantangan di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik dan lemahnya penghayatan agama akan menyangkut setiap aspek kehidupan tak terelakkan.

Paling terasa di berapa medan dakwah dan daerah terpencil (i.e. Mentawai, Lunang Silaut dan Pasaman) adalah gerakan salibiyah dan bahaya pemurtadan.
Di tengah perkotaan berkembang pula tantangan pendangkalan keyakinan dan menipisnya pengamalan agama serta pula bertumbuhnya penyakit masyarakat (tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas dikalangan kaula muda, narkoba, dan beberapa tindakan kriminal dan anarkis) mengarah kepada dekadensi moral.

Pengendali kemajuan sebenar adalah agama dan budaya umat (umatisasi).
Selain itu semua, akan ditopang oleh budaya dan tamaddun yang dipakai oleh umat jua adanya.

Prediksi kedepan, diharapkan abad keduapuluh satu menjadi abad agama dan budaya.

Ternyata kemajuan teknologi informasi (teknologi maklumat) yang pesat dan tidak diseiringkan dengan kawalan yang ketat telah menyisakan pula bermacam problema.

Walau kecenderungan pemahaman bahwa tercerabutnya agama dari diri masyarakat (khususnya dibelahan dunia Barat) tidak banyak pengaruh pada kehidupan pribadi dan masyarakatnya.

Akan tetapi akan lainlah halnya bila tercerabutnya agama dari diri masyarakat Serumpun (Melayu, dan juga Minangkabau) akan berakibat besar kepada perubahan prilaku dan tatanan masyarakatnya.

Hal tersebut disebabkan karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak (=agama) mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)”.

Peranan dakwah membawa umat, melalui informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik.
Kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah.
Berkualitas, dengan iman dan hikmah.
Ber-‘ilmu dan matang dengan visi dan misi.
Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional.
Research-oriented dengan berteraskan iman dan bertelekankan tongkat ilmu pengetahuan (knowledge based).

Peran dakwah sedemikian, Insya Allah akan mampu merajut khaira ummah yang niscaya akan diperhitungkan mendunia (global) karena pacak menghadapi kompleksitas abad keduapuluh satu, awal alaf baru.

Masa ke depan amatlah di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya dominan.
Pembentukan generasi penyumbang dalam pemikiran dan pembaharuan (inovator), tidak boleh di abaikan agar tidak terlahir generasi konsumptif (pengguna) yang akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.

Kelemahan mendasar ditemui pada melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa.
Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri dan kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya, lemahnya minat menuntut ilmu, yang menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.

( V )
Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya didalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi, dengan menanamkan kearifan dan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang.

Konsekwensinya, kita memikul beban kewajiban memelihara dan menjaga warisan kepada generasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna agar supaya dapat berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah, antara pemimpin yang akan pergi dan yang akan menyambung, dalam suatu proses patah tumbuh hilang berganti.

Kesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu api juga.
Inilah kewajiban setiap kepala keluarga (pemimpin pergerakan) yang selalu teguh dan setia membina jamaah, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.

Siap melakukan dan menerima perubahan dalam tindakan yang benar.
Segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.

Pandangan yang berlaku bahwa semakin banyak pengetahuan, ilmu dan informasi, akan semakin besar kemampuan pengendalian yang semula ada telah pula menjadi kabur.

Kenyataan tersua, makin banyak informasi, semakin kecil kemungkinan pengendalian.

Informasi memerlukan penerjemahan sesuai dengan keperluan dan tatanan masyarakat penggunanya.

Menjaga norma kehidupan masyarakat menjadi kerja utama yang tidak boleh dianggap remeh.
Tanpa itu semua kemajuan mustahil terkendali dan tidak lagi menjanjikan rahmat, tetapi sebaliknya petaka.
Kebebasan bisa menjadi ancaman bagi kemajuan itu sendiri.

Bila kurang siap, di abad depan bisa menjadi abad penjajahan informasi yang berujung dengan imperialisme kapital.
Di awali dengan penjajahan konsep-konsep.
Maka mulailah bangsa ini terjajah di negeri sendiri, tanpa perlu hadir sosok tubuh sipenjajah. Alangkah malangnya nasib badan.

Generasi serumpun mesti siap memerankan tanggung jawab sendiri dan bersama, menanamkan kebebasan terarah dengan memelihara dan meningkatkan daya saing, bersikap produktif, agar dapat membuahkan kreativitas beragam yang dinikmati bersama.

Keseriusan dakwah dan pelayan umat, sebisanya sanggup menawarkan alternatif keumatan, dalam menjawab masalah umat dikelilingnya.

Karenanya, perlu supply informasi secara local, nasional, dan regional yang amat berguna dalam menggerakkan umat agar mampu berpartisipasi pada setiap perubahan.

Kitapun sudah mesti berdakwah kepada setiap orang dan rumah tangga dengan kepedulian yang tinggi.

Sudah masanya kita harus mendatangi setiap rumah tangga dan keluarga dalam memberi ingat kembali kepada penghayatan Islam.
Akan tetapi, tentulah tidak mungkin kita melawatnya setiap waktu.

Maka upaya yang memungkinkan adalah memanfaatkan fasilitas satelit, dengan fasilitas teknologi maklumat (IT) berkemaskan pesan dan penghayatan agama Islam.

Apa yang telah kita saksikan dalam tayangan TV di sejagat hari ini, mestilah kita balas dengan paket program dalam siaran yang banyak, yang berisikan kawalan-kawalan agama dan budaya (tamadun) dalam meng-counter upaya pendangkalan pihak-pihak sekuler.

Bila mungkin kita harus menggerakkan minat menghadirkan TV Islam yang dikemas global dan dengan muatan local untuk seluruh daerah kawasan Islam dunia, dengan bahasa komukasi dan ta’aruf.

Kita mestinya menghadapi arus global dengan cara global tetapi dengan komunikasi local.
Bisakah kita sebut dengan paket glocal (global dan local)???

( VI )
Tantangan dakwah di lapangan adalah berhadapan dengan tantangan yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit.
Mengatasi situasi ini hanya dengan modal kesadaran, dengan memanfaatkan jalinan hubungan yang sudah lama terbina.

Gerakan dakwah akan menjadi lemah bila tidak mampu melahirkan sikap (mental attitude) yang penuh semangat vitalitas, enerjik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya.

Secara Nasional mesti tertanam komitmen fungsional bermutu tinggi.
Memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif, mendorong terbinanya center of excelences.

Pada ujungnya, tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif bahwa,
Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.

( VII )
Sungguh suatu kecemasan ada di depan kita, bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak.
Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah.
Memelihara sikap-sikap harmonis dengan menjauhi tindakan eksploitasi hubungan bermasyarakat.

Penguatan lembaga kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil, agar dapat dirasakan spirit reformasi.

Mengembalikan serumpun Melayu keakarnya ya’ni Islam tidak boleh dibiar terlalai. Karena akibatnya akan terlahir bencana.
Acap kali kita di abaikan oleh dorongan hendak menghidupkan toleransi padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula.

Amatlah penting untuk mempersiapkan generasi umat yang mempunyai bekalan mengenali
(a) keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,
(b) sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi,
(c) tamadun, budaya,dan adat-istiadat berbudi bahasa yang baik.

Secara natural alamiah setiap tanah ditumbuhi tanaman khas.
Berbeda tanaman menjadi taman sangat indah dalam satu tata pemeliharaan. Memaksa hanya ada satu tanaman yang boleh tumbuh dalam satu taman istana, akan menjadikan taman tidak berseri.

Tujuan akhirnya menghapuskan ketidak seimbangan serius melalui pendidikan dan prinsip-prinsip Islami.

( VIII )
Mementingkan kelompok semata akan sama halnya dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah.

Padahal, masyarakat lingkungan adalah media satu-satunya tempat beroperasinya dakwah sepanjang hidup.

Perlulah diingat, bahwa “yang banyak diperhatikan umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”.
Konsekwensinya setiap pemimpin umat harus siap menerima segala cobaan dari Allah.

Dalam pengalaman di lapangan dakwah kemajuan selalu dihalangi kelemahan yang dimiliki.
Keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.
Kurangnya perencanaan akan menghapus semangat kelompok dan padamnya inisiatif.
Kewajiban yang teramat krusial adalah, menghidupkan ketahanan umat baik secara nasional maupun regional.
Mempertemukan pemikiran dan informasi, konsultasi dan formulasi strategi serta koordinasi di era globalisasi memasuki alaf baru menjadi tugas utama dalam menapak keperubahan cepat dan drastis.
Di alaf baru, setiap hari akan terasa dunia semakin mengecil.

Rusaknya dakwah dalam pengalaman selama ini karena melaksanakan pesan sponsor di luar ketentuan wahyu agama.
Kemunduran dakwah selalu dibarengi oleh kelemahan klasik kekurangan dana, tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak.

Akhirnya, dapatlah dibuktikan bahwa kerjasama lebih baik dari sendiri.
Mengikut sertakan seluruh potensi umat, sangat mendukung gagasan dan gerak dakwah dalam mengawal umat agar jiwanya tidak mati.

Masyarakat yang mati jiwa akan sulit diajak berpartisipasi dan akan kehilangan semangat kolektifitas.
Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin.

Tugas kitalah menghidupkan umat.
Umat yang berada di tangan pemimpin otoriter dengan meninggalkan prinsip musyawarah sama hal nya dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikannya.
Karena itu, hidupkan lembaga dakwah sebagai institusi penting dalam masyarakat.

( IX )
Tugas kita termasuk membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis dan darurat.

Dakwah merupakan suatu pekerjaan rutin.
Kesalahan dalam membuat rencana, maka tujuan dakwah menjadi kabur.

Salah menempatkan sumber daya yang ada akan berakibat kesalahan prioritas. Perencanaan matang menjadikan gerakan dakwah berangkat dari hal yang logis (ma’qul, rasionil), selanjutnya sasaran dakwah dapat diterima oleh semua pihak.

X
Dakwah bukan kerja part-time sambilan bagi yang giat dan aktif saja.
Tetapi harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis ditengah masyarakat, dan semestinya ditunjang oleh sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan sebagai suatu social action.

Memahami fenomena besar dan menarik dari perkembangan globalisasi akan membuka peluang perkembangan Islam untuk siap menerima kembali peradaban Islam sebagai alternatif untuk mewujudkan keselamatan di dunia.

Dakwah kedepan adalah dakwah global, yang tujuannya adalah Islamisasi masyarakat Islam.
Lebih umum, adalah membangun, berkorban, mendidik, mengabdi, membimbing kepada yang lebih baik.
Tugas ini tak bolehlah diabaikan dalam berupaya merobah imej dari konfrontatif kepada kooperatif.

Akhirnya dapat dimengerti bahwa kebajikan akan ada pada hubungan yang terang dan transparan, sederhana dan tidak saling curiga.
Gila kekuasaan dan berebut kekuasaan, niscaya akan berakhir dengan masyarakat jadi terkoyak-koyak.

Nawaitu bekerja tidak untuk mencari sukses, atau hanya bekerja asal jadi, sudah semestinya diubah.
Yang mesti ditampilkan adalah amal karya bermutu di tengah percaturan kesejagatan (globalisasi).
Semakin kecil kesalahan akan semakin besar keberhasilan dalam menyampaikan risalah dakwah.

Maka tidak dapat ditolak, kemestian menggunakan semua adab-adab Islam untuk menghadapi semua persoalan hidup manusia yang akan menjamin sukses dalam segala hal.

Kitapun harus mampu mengetengahkan, formula ukhuwah antar organisasi Islam, supaya dapat berjalan lebih baik dari keadaan yang sekarang.

( X )

Khulasahnya adalah memerankan kembali organisasi formal yang andal sebagai alat perjuangan dengan sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi Islam pada pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non formal secara jelas dalam gerak dakwahnya, antara lain,

1. pengikat umat menjadi jamaah yang lebih kuat, se¬hingga merupakan kekuatan sosial yang efektif,

2. media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami,

3. media pendidikan dan pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa,

4. merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.

5. media pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu, ekonomi, sosial, budaya, dan politik dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

6. Harus dikembangkan dakwah yang sejuk, dakwah Rasulullah bil ihsan.
a. Dengan prinsip jelas, tidak campur aduk (laa talbisul haq bil bathil).
b. Integrated , menyatu antara pemahaman dunia untuk akhirat, keduanya tidak boleh dipisah-pisah.
c. Belajar kepada sejarah, dan amatlah perlunya gerak dakwah yang terjalin dengan net work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam), untuk penyadaran kembali (re-awakening) generasi Islam tentang peran Islam membentuk tatanan dunia yang baik. Insya Allah.

Begitulah semestinya peranan lembaga-lembaga dakwah dalam menapak alaf baru.

Di sampaikan dalam rangka memperingati Ulang Tahun Angkatan Belia Islam Malaysia betempat di Aula Malik Faishal, University Islam Antar Bangsa Malaysia di Kuala Lumpur.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s