Pejuang Demokrasi

PEJUANG DEMOKRASI

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

Pejuang-pejuang demokrasi yang beriman memahami betul bahwa demokrasi dinegeri ini tidak akan pernah ujud bila tidak disertai dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama.

Memberikan penghargaan terhadap ajaran Agama berarti melahirkan rasa tanggung jawab dengan bungkus akhlaq mulia.

Apabila akhlaq agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik.
Demokrasi tanpa akhlaq memberi kesempatan terbukanya pintu pemaksaan kehendak.

Ujungnya yang tampak adalah tindakan-tindakan anarkis.
Akhirnya akan tampil perubahan keadaan dari terbaik bertukar menjadi terbalik. Bertolak belakang 180 derajat.

Idaman masyarakat banyak akan selalu menjadi mimpi.
Di kala terbangun dari lelapnya, yang tersua hanyalah derita dan nestapa.
Hal demikian muncul lebih banyak disebabkan oleh penguasa dan pengusaha yang berubah menjadi penindas dan penghisap.
Atau karena para cendekia bertukar menjadi penghasut.

Dalam satu sabda Rasulullah SAW ditemui sebuah peringatan antara lain :
“Ada dua kelompok dari umat-ku, kalau keduanya baik Umat seluruhnya menjadi baik, dan kalau ke duanya jahat umat seluruhnya jadi binasa.
Mereka ialah Ulama dan ‘Umara”.

Dari hadist lain Rasulullah bersabda pula,
“Apabila Umara dan penguasa-penguasa kamu terdiri dari orang-orang baik, dan hartawan (ekonom-ekonom) kamu terdiri dari orang-orang pemurah, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu pecahkan secara musyawarah atau demokratis, maka hidup di muka bumi tanah airmu sungguh indah dari pada mati berkalang tanah”.

Bila esensi musyawarah hilang, maka rakyat jelata akan terpaksa memikul beban berat beban dipundaknya.
Peran masyarakat bawah hanya sekedar jadi tunggangan untuk mencapai kedudukan semata.

Kondisi buruk ini pernah kita alami dalam dasawarsa yang panjang.
Di bawah pengekangan-pengekangan, dalam semboyan demi kepentingan-kepentingan.
Padahal ajaran demokrasi sebenarnya menetapkan satu pilihan, demi kemashlahatan umat banyak.
Demi terjaminnya kesejahteraan.

Perjuangan demokrasi yang adil bertujuan agar kemiskinan tidak lagi menjadi pakaian orang banyak.
Dan akan sulit dibantah, bahwa masyarakat yang melarat menjadi sangat mudah untuk dikuasai.

Karena itu, sangatlah ditekankan sekali oleh Sunnah Rasulullah untuk selalu hati-hati dan mawas diri.
Supaya diwaspadai betul agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat.
Umat Islam di seluruh dunia sekarang ini sudah ingat kembali kepada misi penampilannya di tengah pergaulan hidup Internasional sebagai pernah di sampaikan 14 abad.

“Tuhan telah menampilkan kami umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia kepada menyembah Allah semata, dari sempitnya dunia (jahilinyah) kep[ada keluasaan (ilmu pengetahuan), dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam” (ucapan Amir bin Rabi’ kepada Jenderal Parsi).

Upaya satu-satunya hanyalah dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlaq agama. Memelihara keteguhan (konsisten) dalam kehidupan beradat yang luhur.

Karena itu, kehati-hatian dalam memilih dan mengikut pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik.

“Dan apabila Umara’ kamu terambil dari mereka-mereka yang jahat, hartawan kamu merupakan manusia-manusia bakhil penyembah harta, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu tidak di musyawarahkan lagi, tapi terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”.

Na’izubillahi min zaalik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s