Membentuk Masyarakat Tamaddun Sehat Rohani dan Jasmani

MEMBENTUK MASYARAKAT TAMADDUN
SEHAT ROHANI DAN JASMANI

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Salah satu tema menarik saat ini adalah upaya menciptakan masyarakat tamaddun (beradab).
Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban Barat.
Konsep ini mulai difikirkan dan dirancang oleh beberapa politisi dunia, khususnya yang ada di Malaysia dan Asean serta beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi di tengah masyarakat yang ada dengan problematika sosial dan pribadi yang tengah bergumul di dalamnya.

KONSEPSI SEHAT

Berawal dari konsepsi tentang kesehatan manusia, membaginya atas empat bahagian,

1. kesehatan fisik.
2. kesehatan jiwa.
3. kesehatan ide (pemikiran),
4. kesehatan sosial masyarakat disekitarnya.


Keempat bentuk kesehatan tersebut berada dalam ruang lingkup yang sama (integratif) yang memiliki interrelasi satu sama lain.

Interrelasi ini berada dalam ruang lingkup pemikiran Islam, sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau” terhadap segala bentuk pemikiran yang ada.

Sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau”, dia tidak mengalami gesekan gesekan pemikiran dan mengambil segala bentuk pemikiran konstruktif dan meninggalkan pemikiran destruktif.

Istilah yang pas untuk menjelaskan hal ini adalah melalui pembentukan cara hidup yang diajarkan agama Islam, antara lain;

1. berdikari terhadap diri sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain (self help),
2. membantu orang lain tanpa pamrih dengan ukuran ikhlas karena Allah SWT (selfless help),
3. membentuk sebuah ketergantungan untuk membantu satu sama lain (mutual help).

Cara hidup ini merupakan konsepsi pemikiran Islami yang dikembangkan menjadi dasar pembentukan kerjasama antara negara yang mendasari bentuk hubungan inernasional yang mampu menciptakan tata perdamaian dunia.

Ketiga dasar tersebut merupakan dasar pembentukan masyarakat tamaddun (beradab), yang bukan hanya bersifat “kebangkitan ekonomi”, tetapi merupakan sesuatu yang bersifat moral (the moral renewance).

Dalam “pembersihan moral” (the moral renewance), maka peranan agama Islam menjadi penting.

Kepentingannya terletak kepada kemampuan aplikasi dari segala ide atau pemikiran yang dilaksanakan, sebagaimana yang dikemukakan oleh pengertian globalisasi yang diartikan sebagai ruang lingkup pemikiran yang bisa dilaksanakan di tengah masyarakat (The policy making something worldwide in scope or application).

Sebagai sebuah proses globalisasi, ajaran agama Islam tidak dapat berdiri sendiri, tanpa bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya.

Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya, tetapi harus bersifat inklusif untuk bisa dipahami oleh semua orang.

Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan problematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap ma¬syarakat yang ada dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut.

Pemikiran Dakwah Islam merupakan pemikiran ahlul salaf yang berada di tengah tengah sebagai upaya penjelmaan umat pertengahan (ummathan wassatahan) yang dikemukakan ajaran Al Qur’an.

Sebagai pemikiran aplikatif terhadap problemtika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupakan sebuah kebutuhan mutlak yang diharapkan masyarakat saat ini.

Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan dilahirkan oleh kesenjangan antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut.

Kesenjangan ini, akan teratasi oleh pembentukan masyarakat self help, self¬less help dan mutual help di atas.

Upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut hanya bisa dilakukan melalui upaya nyata dengan “Berorientasilah kepada ridha Allah SWT.

Kata kata ridha merupakan maqam (tingkatan) terakhir dalam maqam (tingkatan) rohani kehidupan tasauf (pembersihan diri).

Maqam ini hanya bisa dicapai setelah melalui maqam maqam di bawahnya, seperti taubat, wara, zuhud, shabr, fakir dan tawakkal.

Ketujuh maqam tersebut hanya bisa dilalui oleh mereka yang telah mengalami pencerahan (enlightenment), baik dalam bidang pemikiran maupun spritual rohani.

Pencerahan (enlightenment) tersebut dilakukan oleh mereka yang telah menjelajahi berbagai pemikiran yang ada dan melakukan penyaringan (filter) terhadap segala bentuk pemikiran tersebut, agar melahirkan pemikiran bersih, jernih dan bisa diterima oleh semua pihak, baik mereka yang setuju maupun mereka yang berseber¬angan dengan dirinya.

Di samping itu, proses pencerahan dan sikap politik, dibentuk juga oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman hidup, sebagai politisi aktif yang hidup dalam masyarakat, tetapi juga sebagai the political thinkers atau the political idea philospher.

Sebagai seorang the political thinkers atau the political idea philospher, maka peranan masyarakat kecil merupakan ide (pemikiran) politik beliau yang utama.
Dalam proses globalisasi ini, hanya produk produk yang mampu bersaing pada tingkat pasaran dunia yang mampu memenangkan persaingan besar.

Persaingan pasar tersebut ditentukan oleh speksifikasi produk yang menjadi unsur “kepercayaan” (trust), seperti yang diungkapkan oleh penulis sejarah Francis Fukuyama, pria Jepang yang lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat dan menduduki Dekan di George Mason University, Washington baru baru ini di Jakarta.
Berbeda dengan Francis Fukuyama yang mengemukakan tesis kesejarahan telah berakhir saat ini (The End of History), maka agama Islam, menurut pemahaman Bapak Mohamad Natsir diantaranya mengemukakan bahwa, adanya tesis kesejarahan pada setiap saat dan tempat (wa tilka al-ayyamu nudawilu-haa baina an-naas).

Setiap ajaran Islam, mampu memberikan jalan keluar (solusi) terhadap problematika sosial umat manusia, dia berada dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya.

Mereka yang mampu menangkap tanda tanda tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut, mereka adalah orang orang beriman.

Apatisme politik dan bersikap menjadi “pengamat” dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang selalu mengalami perubahan hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan,

• mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,
• jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,
• apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu,
• jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata kata tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu perubahan sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini, tetapi memanfaatkan segala perubahan yang berhu¬bungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya.

Sikap hidup menjemput bola, bukan menunggu bola merupakan sikap hidup sesuai ajaran Islam, untuk mengantisipasi selemah lemah iman yang menjadi kata kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang diinginkan oleh agama Islam melalui tiga cara hidup , yakni,

• bantu dirimu sendiri (self help),
• bantu orang lain (self less help), dan
• saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini tidak mengajarkan seseorang untuk tidak tergantung kepada orang lain, ketergantungan akan menempatkan orang terbawa ke mana mana oleh mereka yang menjadi tempat bergantung.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s