Bangkitnya hari Kebangkitan Nasional

BANGKITNYA HARI KEBANGKITAN NASIONAL
KARENA UMMAT DIBELENGGU
KEJAHILAN DAN KEJUMUDAN

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

Sedari awal gerakan pembaharu atau Reformis melihat bahwa Ummat Islam jauh tertinggal terbelakang.
Jumud dan beku.

Ajaran agama Islam semasa itu hanya ditampilkan sebagai upacara-upacara ibadah yang beku.
Jarang sekali difahami makna dan hikmahnya.
Pengamalan agama yang banyak dilakukan hanya sebagai suatu tradisi atau wiridan.
Bahkan banyak dibumbui oleh segala macam bid’ah dan khurafat yang menyesatkan.

Di sisi lain Ulama sering dikultuskan.
Makam kuburannya mulai dikeramatkan.

Bacaan kalimat Thaiyibah La Ilaaha illallah sering disalahgunakan.
Kalimat Thayyibah tidak lagi untuk mengingatkan diri kepada Allah serta taqarrub kepada Nya.
Kalimat-kalimat itu, telah dijadikan sekadar bacaan dalam upacara-upacara untuk maksud-maksud tertentu.

Al Qur’an tidak banyak untuk dibaca dan difahami.
Bahkan jauh dari diamalkan.
Sering dijadikan untuk pelengkap acara seremonial, dibaca dengan mengutamakan dendang irama atau hanya sekedar untuk diambil barakahnya.

Shalawat kepada Nabi dijadikan sebagai satu lagu yang didendang-dendangkan. Kalau dibaca dalam wiridan dengan jumlah tertentu pada waktu yang ditentukan ditanamkan keyakinan akan memperoleh keberhasilan tertentu, seperti untuk menjadi kaya, naik pangkat atau guna mendapatkan jodoh, menyembuhkan penyakit dan lain-lain sebagainya.
Ajaran agama sudah mulai banyak dikaitkan dengan perbuatan mistik.

Dalam suasana kejumudan itu, para pemimpin agama selalu digiring kearah perlengkapan penguasa.
Dengan tujuan melestarikan kekuasaan semata.
Ulama harus berada dibelakang Amir sebagai pemberi stempel kewenangan dan legitimasi terhadap ummat.

Di sisi lain amir dan ulama tanpa tertolak telah membiarkan ummat menjadi bodoh. Tidak jarang kolusi kekuasaan selalu berakhir dengan membodohi rakyat.
Padahal rakyat sebenarnya sudah lama tenggelam dalam kebodohan.
Dalam jangka waktu yang panjang turun temurun, satu demi satu wilayah Islam mulai berpindah kedalam genggaman tangan kekuasaan.

K. H. Ahmad Dahlan memperhatikan keadaan Ummat Islam di Indonesia yang sangat memprihatinkan ini.
Di samping ummat dikurung oleh kebodohan dan kejumudan, terasa pula dihimpit dan dibelenggu dengan kemiskinan.
Pikiran ummat beku.
Jiwa terjerat dalam isti’adat tradisi yang sangat jauh jaraknya dari tuntunan serta pemahaman ajaran Islam yang benar.

Ajaran Islam hanya dilaksanakan sebagai formalitas.
Amalan Islam itupun terbatas pada ibadah shalat, puasa dan haji.

Sedangkan ajaran Islam mengenai kemasyarakatan, social politik, ilmu pengetahuan dan pendidikan serta kemajuan dan ekonomi sama sekali tidak diketahui bahkan tidak pernah boleh diajarkan.

Prilaku kehidupan social ummat sebahagian yang dipupuk dan dihidupkan mengarah kepada perbuatan syirik yang amat berbahaya.
Semarak dengan ajaran kepatuhan menjurus kepada taqlid buta.

Berdasarkan itu K. H. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk mendirikan organisasi yang bergerak dalam memperbaiki aqidah (Tauhid).
K. H. Ahmad Dahlan yang beberapa kali melakukan perjalanan menunaikan ibadah haji ke Makkah.
Pertama kali ditahun 1890 dan berada disana selama delapan bulan.
Kedua kalinya pada tahun 1902.
Lalu mendalami ilmu agama, mempelajari kitab-kitab kuning dan kitab yang populer dimasa itu.
Terutama tentang “pembaruan pemikiran Islam”.
Pembaruan seperti yang dilihatnya di dunia Islam.
Dengan memberantas kejumudan serta menjauhkan ummat dari segala macam kemusyrikan.

Pada awal abad 20 di Nusantara Indonesia mulai tumbuh pergerakan pencerdasan bangsa.

Pada tahun 1908 Dokter Soetomo dan Dokter Wahidin Soedirohusodo telah mendirikan organisasi Budi Oetomo.
Organisasi ini bercita-cita untuk mencerdaskan rakyat serta menghidupkan semangat kemerdekaan.

Pada tahun 1910 di Padang pemuda-pemuda yang tergabung di dalam Jong Islamiten Sumatranen Bond mulai mengikrarkan pekik Indonesia Merdeka.
Bukti sejarahnya masih jelas tampak dengan berdirinya tugu setia di depan Gereja di Taman Melati Padang, jadi saksi sejarah hingga hari ini.

Pada tahun 1911 Haji Samanhoedi di Surakarta juga telah mendirikan perserikatan yang bernama Sarekat Dagang Islam.
Dengan tujuan mula-mula menghadapi tindakan pemerintah jajahan yang memberi hak monopoli atas penjualan bahan pembatikan, sehingga mereka dengan sewenang-wenang memberi harga yang amat mahal yang mengancam kehidupan pengusaha batik bangsa Indonesia.

Boedi Oetomo belakangan melebur diri dan berfungsi dalam Partai Indonesia Raya (PARINDRA) pada tahun 1935 dan Serikat Dagang Islam menjelma jadi Partai Politik Sarikat Islam pada tahun 1912.

Bertahun-tahun kemudian, rasa kesatuan, kebangsaan, keperihatinan terhadap kemiskinan umnat, keterjajahan oleh kolonialis dan imperialis, yang menguras kekayaan dari perut bumi ibu pertiwi.
Tahun 1928 (28 hari bulah Oktober), lahirlah Sumpah Pemuda, yang mengikrarkan “satu bangsa bangsa Indonesia, satu bahasa bahasa Indonesia, satu tanah air tanah air Indonesia.”

27 tahun sesudah itu, 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah “kemerdekaan Indonesia“, yang selanjutnya mesti diisi dengan langkah-langkah pasti ke arah menghapus kejumudan dan menghilangkan kemelaratan rakyat Indonesia.

Ke arah ini para pemimpin bangsa dipanggil bersatu padu.!!!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s