Kenapa Pasaman…???, Pesan Dakwah Mohamad Natsir

 

Kenapa Pasaman ???

MENOMPANG RIAK DENGAN GELOMBANG

Gerakan Misionaris Membonceng di Kinali,

Pasaman Barat, ibarat Duri dalam Daging.

Oleh : H Mas’oed Abidin

 

Semenjak tahun 1953 Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Tengah telah mengatur penempatan para transmigrasi dari luar Sumatera, yang umumnya dari Pulau Jawa dan Suriname, untuk ditempatkan didaerah Kecamatan Pasaman dalam lingkungan Kabupaten Pasaman.

Penempatan mereka diatas tanah-tanah ulayat penduduk Kecamatan Pasaman, berdasarkan penyerahan hak tanah oleh Ninik Mamak dalam negeri yang bersangkutan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman, dengan persyaratan-persyaratan yang tertentu (tertulis), diantaranya dicantumkan :

1.      Penyerahan tanah diperuntukkan sebagai penampungan bagi warga negara Indonesia, yang berasal dari daerah lain (transmigrasi).

2.                  Bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu tunduk kepada ketentuan adat-istiadat yang berlaku ditempat mereka ditempatkan, dengan  pengertian bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu dianggap sebagai kemenakan (dalam hubungan hukum adat yang berlaku, yang tentu saja adat Minangkabau yang beragama Islam).

Diatas dasar perpegangan ini, maka Ninik Mamak dalam Negeri-negeri di Kecamatan Pasaman telah menyerahkan tanah ulayat mereka kepada Pemerintah Daerah, sebagai berikut :

            Sejak tahun 1953 tercatat penyerahan tanah ulayat masyarakat, antara lain pada bulan Mei 1953 sebagian Ulayat TONGAR AIR GADANG, Ulayat KAPAR (PD. LAWAS), dan tanggal 9 Mei 1953 Ulayat KOTO BARU (MAHAKARYA). Tahun 1961 – 26 September 1961 dari Ulayat KINALI BUNUT Alamanda, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1964 – 25 April 1964, sebagian Ulayat KINALI LEPAU TEMPURUNG, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1965, AIR RUNDING, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Tahun 1957, KOTA RAJA, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Terdahulu dari ini, yaitu di tahun 1953 telah terjadi pula penyerahan tanah DESA BARU sebagai daerah kolonisasi (transmigrasi) dalam kenegarian BATAHAN Kecamatan Sungai Beremaas.

 

Pada semua surat-surat penyerahan tanah-tanah tersebut disebutkan antara lain :

            A.Untuk transmigrasi

            B.Pendatang-pendatang (transmigrasi) tersebut menjadi kemenakan (dalam hubungan adat-istiadat), dengan menuruti adat-istiadat setempat (yang tentu saja beradat Minangkabau yang bersendi syara’ – agama ISLAM).

 

MASUKNYA TRANSMIGRASI KE PASAMAN

Periode tahun 1953 – 1956

            Berdasarkan penyerahan tanah dari Pucuk Adat beserta Ninik Mamak dalam Kenegarian Kapar dan Lubuk Koto Baru Kecamatan Pasaman dan Kenegarian Lingkung Aur (Mei 1953), maka mulailah berdatangan para transmigrasi, yang terdiri dari :

Padang Lawas/Kapar …………. dari Jawa

Koto Baru/Mahakarya ……….. dari Jawa

Tongar/Air Gadang ………….. dari Suriname

 

Dalam surat penyerahan tanah kepada Pemerintah Daerah Pasaman yang diterimakan oleh Ketua Dewan Pemerintahan Daerah Kab. Pasaman (SJAHBUDDIN LATIF DT. SIBUNGSU) tercantum persyaratan antara lain ….”Orang-orang yang didatangkan itu untuk masuk lingkungan adat-istiadat dan Pemerintahan Kenegarian dimana mereka berdiam, (Kapar atau Lingkung Aur), sehingga berat  sepikul ringan sejinjing dengan rakyat asli Kenegarian yang bersangkutan” [1]……….

Pada umumnya semua pendatang transmigrasi itu semuanya mengakui beragama Islam, sehingga pada waktu itu didatangkan guru-guru agama Islam mereka mengikuti dengan baik.

Pada masa ini hubungan antara orang-orang transmigrasi dengan penduduk asli dapat diper lihatkan dalam bentuk hubungan yang baik, dan kejadian itu berlangsung sampai akhir tahun 1956.

Periode tahun 1957 – 1960

            Para transmigran yang pada mulanya mengaku beragam Islam itu, pada permulaan tahun 1957 ini ternyata didalamnya terdapat orang-orang Kristen yang menyelundup, seperti ditemui :

Padang Lawas/Kapar           =

Koto Baru/Mahakarya          = 26 Kepala Keluarga

Tongar/Air Gadang  = 22 Kepala Keluarga

 

Pada tahun 1957 keluarga transmigrasi yang beragama Kristen sudah mulai melihatkan aktifitas     dengan meminta kepada kepala Kantor Transmigrasi Seksi Kapar di Koto Baru untuk dapat mendirikan rumah ibadah umat Katholik didaerah tersebut. Pada tanggal 14 Nopember 1957 dengan surat edaran No. Bb./55/10 meminta kepada Kepala Negari Kapar dan Ninik Mamak Kapar untuk memberikan keizinan.

Pada tanggal 30 Nopember 1957, Kepala Negari Kapar (Dulah) bersama dengan Pucuk Adat (Daulat Yang Dipertuan) dan Ninik Mamak (Dt. Gampo Alam) yang dikuatkan oleh Alim Ulama (Buya Tuanku Sasak) serta Cerdik Pandai, mengirimkan pernyataan kepada Kepala Kantor Transmigrasi Seksi Kapar, bahwa “permintaan umatr Katholik tersebut didalam lingkungan ulayat (tanah adat) Koto Baru dan Kapar tidak diizinkan (tidak dibolehkan)”.

Diantara alasan-alasan yang dikemukakan :

“a. Agama Katholik adalah tidak sesuai dengan Agama  Islam, yang telah kami pakai dana amalkan.

1. Selanjutnya  jikalau saudara-saudara dari warga transmigrasi didatangkan ke-ulayat tanah (adat) Koto Baru/Kapar Kecamatan Pasaman umumnya terlebih dahulu kami mengadakan rapat dengan  Bapak Bupati Syahbuddin Latif Dt. Sibungsu beserta DPD Kab. Pasaman Abd. Munir Dt. Bandaro Bara, Haji Latif, Rusli, Wedana A.I. Dt. Bandaro Panjang dan Camat Dt. Jalelo, dihadapan Ninik Mamak Koto Baru/Kapar  Air Gadang dan Buya Tuanku Sasak cucu kemenakan kami  Ninik Mamak dalam Kecamatan Pasaman. Umumnya dengan kata lain, akan tunduk dibawah adat dan agama, yang telah kami pakai dari nenek moyang kami.

2.   Diwaktu peresmian (penyerahan) saudara-saudara warga transmigrasi sudah ada Bapak Gubernur Ruslan Mulyoharjo telaha memberi nasehat kepada seluruh warga transmigrasi, supaya mereka menyesuaikan dengan masyarakat disini. Pepatahnya “dimana tanah diinjak disitulah langit dijunjung”, adat diisi lembago dituang, arti  kata mereka disini menurut adat dan agama yang telah ada.

3.   Dengan perjanjian inilah baru kami terima saudara-saudara itu, menjadi cucu anak kemenakan kami dan duduk didalam ulayat adat kami.

4.   Andai kata kalau tidak sesuaidengan perjanjian itu istimewa akan mendirikan, agama selain agama Islam tidak diizinkan, mungkin  mendatangkan kejadian yan tidak diingini, apalagi ia untuk mendirikan satu rumah teruntuk kepada rumah Katholik (buat beribadah umatr Katholik).

 

            5. Kami segala pemangku adat, alim-ulama, cerdik-pandai tetap kami tidak setuju, apalagi negeri kami ini dusun, bukanlah kota, kalau dikota kami tidak berkeberatan sedangkan masyarakat Transmigrasi sudah menurut adat, dan berkorong berkampung ………….”.[2]

Pernyataan masyarakat dan Pemangku Adat beserta Pemerintahan Negeri Koto Baru yang tegas dan keras ini, menyebabkan usaha Kristen tersebut tidak memperlihatkan gerak yang aktif sampai dengan tahun 1960.

 

Periode Tahun 1961 – 1962

    Pada tanggal 26 September 1961, Kerapatan Adat Negari Kinali, yang ditanda tangani oleh 27 orang Ninik Mamak dan 3 orang Alim Ulama serta 3 orang Cerdik-pandai yang mewakili 100 orang anggota kerapatan, atas nama seluruh penduduk Kinali, mempermaklumkan rencana Pemerintah mengenai penempatan orang Transmigrasi dalam daerah Kinali, dan menyerahkan sebidang tanah untuk penampungan itu kepada Pemerintah Negara Republik Indonesia tanpa ganti rugi, dengan batas-batas :

….”1. dari muara Batang Pianagar ke Pangkalan Bunut

     2. dari Pangkalan Bunut sampai kemuara Sungai Balai

     3. dari Muara Sungai Balai sampai ke tanda Batu (sepanjang 1 Km),

     4. dari tanda batu sampai kekampung Barau,

     5. dari kampung Barau ke kampung Teleng,

     6. dari Basung Teleng, sampai ke muara Batang Tingkok

     7. dari muara Batang Tingkok ke muara Batang Timah,

     8. dari muara Batang Timah kanan hilir Batang Masang sampai ke Aur Bungo Pasang,

     9. dari Aur Bungo Pasang ke Muaro Batang Bunut,

     10. dari Muaro Batang Bunut ke Muaro Batang Pianagar” ….[3]

 

Penyerahan tanah tersebut dikuatkan dengan syarat, bahwa, “orang-orang transmigrasi itu adalah sama-sama warga negara yang pada azasnya mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan penduduk asli negeri Kinali ter hadap Pemerintah dan ada-istiadat setempat”[4].

 

Sehubungan dengan penyerahan tanah ini, maka Gubernur Kepala Daerah Prop. Sumatera Barat (Kaharoeddin Dt. Rangkayo Basa) mengeluarkan surat pernyataan tgl. 30 September 1961 No. 62-Trm-GSB-1961 untuk menjamin penyelenggaraan transmigrasi sebaik-baiknya dalam daerah Sumatera Barat, dan dalam keputusan angka 4 menyatakan:

…..”4. Orang-orang bekas transmigrasi diwajibkan men taati segala peraturan umum dan daerah serta adat-istiadat setempat”.[5]

 

Pada tahun 1962, kedaerah Lepau Tempurung/Kinali didatangkan transmigrasi (warga transmigrasi) yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang kesemuanya menyatakan beragama Islam, yang dapat diterima sesuai dengan adat-istiadat penduduk setempat.

 

 

KEDATANGAN MISSI ASING

MENOPANG GERAKAN SALIBIYAH

 

Periode tahun 1963 – 1966

Rupanya sudah diatur dari tempat asal warga transmigrasi, bahwa untuk Sumatera Barat, pertama-tama harus menyatakan beragama Islam walaupun sebenarnya didalam rombongan transmigrasi itu ter dapat pula orang-orang yang beragama Katholik sebagai selundupan.

            Pada tahun 1963, mulai berkunjung kedaerah transmigrasi Pastor dari Padang, dengan maksud meninjau dan melihat keadaan perkembangan orang-orang transmigran di TONGAR dan KOTO BARU (Mahakarya).

Kunjungan itu pada mulanya tidak menjadikan kecurigaan dan perhatian yang serius dari masyarakt setempat, sehingga kedatangan-kedatangan Pastor dari Padang (Keuskupan Padang) berlanjut setiap tahun sampai tahun 1966, dengan mendatangi rumah-rumah keluarga-keluarga yang beragama Katholik yang tersembunyi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PASAMAN (1953 – 1974)

Selama 21 tahun sebagai daerah TRANSMIGRASI

dan sasaran operasi SALIBIYAH,

ibarat duri dalam daging

 

U M U M

Kabupaten Pasaman di tahun 1974 adalah Kabupaten yang terletak berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli/Sumatera Timur (ujung Utara dari Sumatera Barat).

Luasnya : 764.000 H.A, Penduduk : 285.000 Jiwa, terdiri dari    : 8 Kecamatan (termasuk Perwakilan Camat di Panti), dengan jumlah Nagari : 51 buah .Penduduk dari Kabupaten Pasaman ini terdiri dari : a. Asli Minang : 77 % = 220.000 Jiwa, b. Tapanuli  : 25 % =  45.000 Jiwa, c. Jawa : 8 % =  20.000 Jiwa.[6]

Agama,

(a).Asli Minang, 100 % beragam Islam,

(b).berasal dari Tapanuli, pada mulanya datang dengan pengakuan beragama Islam, terakhir di Panti ditemui banyak yang beragama Kristen/Katholik/HKBP, dan,

(c).Asal Jawa, pada mulanya datang dalam rombong an transmigrasi terdaftar beragama Islam, akan tetapi ke nyataannya di Koto Baru dan Kinali terdapat pula penganut Katholik sebagai pendatang-pendatang yang diselundupkan dalam rombongan transmigrasi dan merupakan basis bagi Kristenisasi di Pasaman.

 

Mata Pencaharian Tani dan dagang sebagai mata pencaharian sambilan dan Sedikit sekali buruh.

KEHIDUPAN KE-AGAMAAN

Kehidupan ke-agamaan Penduduk Kabupaten Pasaman, dapat dikategorikan:

A.  I S L A M

     Pada umumnya penduduk asli beragama ISLAM

 

B.   KRISTEN

PANTI RAO

1.      H.K.B.P (HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN) di Panti, sebanyak 200 orang

2.      Katholik di Panti Rao, berjumlah 60 orang

3.      Advent/Pantekosta di Panti/Rao, sebanyak 25 orang

4.      Bethel Indonesia

 

KECAMATAN PASAMAN

Katholik [7]

1.    Mahakarya Koto Baru, 90 Kepala Keluarga

2.    Sumber Agung /Kinali , 15 kepala Keluarga

3.    Alamanda/Bunut Kinali, 17 kepala keluarga

 

Protestan

1.    Kinali,  terdapat 3 Kepala Keluarga

2.    Tongar, sebanyak 7 Kepala Keluarga

            Padahal sebelumnya di daerah Pasaman ini seluruh penduduknya beragama Islam.

GEREJA

1.    Kampung II Mahakarya Koto Baru,

·      Gereja Katholik KELUARGA KUDUS

2.    Alamanda/Bunut Kinali,

·      Gereja Katholik

3.    Sumber Agung/Kinali,

·      Gereja Protestan/Pantekosta [8]

 

1.    Panti :

·      Gereja H.K.B.P. Panti

·      Gereja Katholik Panti

·      Gereja Advent/ Pantekosta dan Bethel Indonesia

 

RUMAH-RUMAH GURU INJIL

Kinali dan Koto Baru sebanyak 9 buah. [9] 

USAHA MISSIONARIS SALIBIYAH

A. Mendirikan Sekolah-Sekolah Dasar (S.D) dibawah pengawasan YAYASAN PRAYOGA PADANG dan proyek Keuskupan Padang/Pastoran Katholik Pasaman :

1.    Kampung I Mahakarya,Koto Baru, 1 buah = 350 murid [10] 

2.    Sumber Agung Kinali,  1 buah = 150 murid. [11]          

3.    Alamanda ,  1 buah = 140 murid. [12] 

4.    Pujorahayu ,  1 buah = 110 murid

5.    O p h i r,  1 buah = 100 murid. [13]

6.    P a n t i ,  1 buah = 190 murid.[14] 

7.    Panti H.K.B.P, 1 buah =   90 murid [15] 

 

Balai PENGOBATAN

1.    Koto Baru (Maha Karya).[16]

2.    Lain-lain tempat dengan cara kunjungan ke-rumah-rumah

3.    Panti (dalam perencanaan oleh Katholik.

 

MENDIRIKAN S.M.P

1. Koto Baru/Mahakarya

2. Panti.

 

PENDUDUK ASAL PENGANUT AGAMA

1.    Protestan (H.K.B.P)

·      di Panti, pendatang dari Tapanuli

2.    Katholik

·      di Panti, pendatang dari ………. Tapanuli

·      di Koto Baru dan Kinali, transmigrasi Jawa/Suriname

3.    Protestan (G.P.I.B)

·      di Kinali, Pendatang  dari Tapanuli

 

PASTOR DAN PENDETA

1. Koto Baru dan Kinali (PASTORAN KATHOLIK PASAMAN) berpusat di Mahakarya/Koto Baru Simpang III Kecamatan Pasaman.

a. Pastor Corvini Filiberto – berdiam disini selama 10 tahun asal Italia, Kepala Pastoran Katholik Pasaman.

b. Pastor ZANANI, datang ke Pasaman tahun 1972, merangkap sebagai “dokter” pada Balai Pengobatan Keluarga Kudus Simpang III Koto Baru (ITALIA)

c. Pastor Monaci Ottorino , mewakili Pastor Corvini Filiberto, penghubung tetap dengan Uskup Bergamin S.X., asal ITALIA, dan bertugas mengkoordinir sekolah-sekolah Katholik di Pasaman antara lain S.D. Setia Budi (Ophir), S.D. Keluarga Kudus (Koto Baru/Mahakarya) dan S.D. Teresia (Panti).

 

2.    Katholik di Panti, selalu didatangi dan diawasi oleh Keuskupan Padang.

 

3. Bethel Indonesia dan Pantekosta Panti, Pendeta di kun-jungi dari Brastagi (Tapanuli Utara).

 

4. Protestan (H.K.B.P) di Panti, Pendetanya dari Tapanuli (Padang Sidempuan/Pematang Siantar).

 

KRONOLOGIS

GERAKAN SALIBIYAH PASAMAN

PANTI

1. Sebelum tahun 1950

Antara Panti dan Rao, sepanjang 20 Km dan Lebar 5 Km kiri kanan jalan raya Medan – Bukittinggi, ditahun-tahun sebelum 1950 adalah merupakan daerah hutan belukar besar. Pada beberapa tempat, disela-sela oleh dusun-dusun/kampung-kampung kecil dan  ditempati penduduk asli Minangkabau dengan adat istiadat Minang dan agama Islam.

2. Tahun 1952

Pada tahun ini mulai berdatangan penduduk asal Sipirok Tapanuli Selatan, dengan maksud mengolah tanah-tanah menjadi persawahan perladangan.

Dengan pengakuan tali hubungan adat yang berlaku, yakni “hubungan mamak dan kemenakan” sesuai dengan adat yang berlaku dan agama yang dianut (Islam), pendatang-pendatang mendapatkan tanah-tanah yang mereka butuhkan dengan surat menyurat secara baik.

3. Tahun 1953.

Oleh Ninik Mamak (Basa 15) diserahkan tanah ulayat seluas 20×5 Km kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman, untuk kemudian dengan diatur oleh Pemerintah Daerah Kab. Pasaman sebagai tempat penampungan pemindahan penduduk dari daerah-daerah lain diluar Kab. Pasaman dengan surat-surat yang lengkap. Salah satu persyaratannya ialah mereka yang datang itu langsung menjadi “kemenakan” dari Ninik Mamak Panti dan mengikuti adat-istiadat setempat.

Dengan demikian berbondong-bondonglah datang ke Panti penduduk asal Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara, adakalanya kedatangan mereka diluar pengaturan pemerintah daerah, sehingga pada tahun 1956 sudah menjadi ramai dan hutan-hutan sudah dibuka jadi perkampungan dan persawahan.

4. Tahun 1957

Tanggal 1 Februari 1957, Kanun Simatupang (salah seorang pendatang dari Tapanuli tahun 1957) yang bertempat tinggal waktu itu dinegari Suka Damai Kecamatan Rao, telah menyerahkan sebidang tanah perumahan kepada Gerson Simatupang yang waktu itu bertempat tingal dinegeri Cengkeh Panti. Dalam penyerahan itu ditekankan sekali bahwa tanah itu tidak buat per-gerejaan.

Pada bulan Agustus 1957 itu terbetiklah berita diiringi dengan kegiatan penganut-penganut Kristen yang berdatangan dari Tapanuli untuk mendirikan gereja di Panti. Maka tanggal 5 Agustus 1957 itu 29 orang Ninik Mamak mewakili seluruh rakyat sekitar Panti mengirim pernyataan keberatan dengan berdirinya gereja dinegeri Panti, kepada Bupati KDH Kab. Pasaman. Dalam surat pernyataan itu diingatkan kembali peristiwa yang terjadi tahun 1956, yakni keluarnya seluruh rakyat Rao mapat Tunggul menuju  Panti sebagai protes keras dari berdirinya gereja tersebut, dan supaya kejadian ini tidak berulang kembali.

Pada tanggal yang sama (5-8-1957), pernyataan Ninik Mamak Panti itu dikuatkan oleh Ninik Mamak dan Anggota DPRN Panti yang ditanda tangani oleh 19 orang Ninik Mamak dan Anggota DPRN yang ditunjukkan kepada Kepala kantor Urusan Agama Kab. Pasaman di Lubuk Sikaping dengan suratnya No. 001/1957 tgl. 5-8-1957 yang berisi keberatan berdirinya gereja dalam tanah ulayat Panti.

Namun walaupun demikian, Gerson Simatupang yang pada bulan Februari 1957 telah menerima tanah dari Kanun Simatupang dengan persyaratan tidak untuk pendirian gereja, sebenarnya sejak semula telah berniat bahwa diatas tanah itu nantinya akan dibangun secara berangsur-angsur gereja HKBP untuk Panti. Dan niatan/rencananya ini terbukti, dengan peristiwa-peristiwa yang mengiring kegiatannya dan kawan-kawannya yang beragama Kristen yang telah menyelusup ke Panti.

Pada tanggal 17 Agustus 1957 telah datang ke Panti  pimpinan Gereja Protestan terdiri dari 1.E. Manalu dari Kantor Urusan Agama (Bhg. Kristen/Protestan) sum. Tengah di Bukittinggi, dan 2. Dominos A. Ritonga (Kepala Gereja HKBP Wilayah Tapanuli Selatan) dan 3. Wilmar Pohan Situa (Imam Gereja di Padang Sidempuan), dalam pengurusan berdirinya Gereja di Panti. Rencana sesungguhnya ialah untuk memulai upacara sembahyang di Gereja Panti pada hari Ahad tanggal 18 Agustus 1957, yang menyebabkan timbulnya kemarahan penduduk Panti, dan akhirnya pada tanggal 19-8-1957 rombongan tersebut berangkat meninggalkan Panti menuju Padang Sidempuan mengingat faktor-faktor keamanan.

Pada tanggal 24 Agustus 1957, Gerson Simatupang, B. Hutapea, T. Hutabarat dan M. Pasaribu atas nama seluruh warga Panti yang beragama Nasrani dan adalah Panitia Pembangunan Berdirinya H.K.B.P. Panti Rao telaah mengirim surat permohonan kepada Bupati/Kepala Pemerintahan Kab. Pasaman di Lubuk Sikaping, yang isinya meminta izin mendirikan Gereja H.K.B.P. di Panti.

Peristiwa diatas menyebabkan kemarahan masyarakat dan Ninik Mamak Panti, yang menilai sebagai suatu pelanggaran dari perjanjian pertama bahwa tanah-tanah yang diolah di Panti tidak dibenarkan untuk mendirikan bangunan-bangunan Kristen apalagi Gereja.

Pada tanggal 8 September 1957 Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai dan Pemuda-pemuda dan Sukadamai mengadakan rapat bersama dan memberikan keputusan bahwa orang-orang yang mungkir janji dari perjanjian pertaama sewaktu mula datang kedaerah Panti, harus meninggalkan kampung Panti dalam tempat satu minggu; dan putusan Ninik Mamak ini dikuatkan oleh Wali Negari Panti (Dt. Bagindo Sati) dan juga ditanda tangani oleh orang-orang yang telah melanggar janji tersebut (Jabalingga dkk).

Lebih tegas lagi, pada tanggal 16 Oktober 1957 Bupati KDH Kab. Pasaman (Bupati Marah Amir) mengeluarkan surat No. 6448.b/VIII/3 sebagai balasan dari permohonan Panitia Pembangunan Gereja HKBP Panti yang berisi “Tanah tempat mendirikan Gereja itu masih dibebani dengan hak-hak tanah yang tunduk kepada Hukum Adat (persoonlijke-rechten), dalam hal mana kerapatan adat Negari Panti pada tgl. 11-9-1957 telah memberikan pernyataan dengan putusan, bahwa mereka sangat keberatan serta tidak mengizinkan mendirikan Gereja di Panti;” sebagai pertimbangan-pertimbangan lain”, untuk menjaga keamanan”, bersama ini kami sampaikan kepada saudara, bahwa smentara waktu ini kami sampaikan kepada saudara, bahwa sementara waktu kami tidak dapat mengabulkan permohonan saudara itu untuk mendirikan Gereja di Panti“.

Selanjutnya bertubi-tubi pembelaan yang datang dari Pendeta-pendeta HKBP dari Sipirok (Tapanuli Selatan) dan dari Padang, tetapi Pemerintah tetap berpendirian pada melarang untuk/demi keamanan pada umumnya.     

5. Tahun 1962

Pada tanggal 28 Agustus 1962, Bupati KDH Kab. Pasaman (Djohan Rivai) memanggil Catur Tunggal Kab. Pasaman, Kepala-kepala Kantor dalam Lingkungan Dep. Agama di Kab. Pasaman, Anggota-anggota DPRD-GR Kab. Pasaman dan Tokoh-tokoh Partai Politik dalam Daerah Tk. II Pasaman, untuk membicarakan “permohonan umatr Katholik untuk mendirikan gereja didaerah Kab. Pasaman”.

Rapat yang diadakan di Kantor Kogem Lubuk Sikaping itu, menyimpulkan pendapat-pendapat beberapa putusan, antara lain :

a. Bahwa perjanjian-perjanjian dengan Transmigrasi dahulu hanya yang beragama Islam;

b. Untuk mencapai keamanan, sementara pendirian gereja dll sebagainya ditangguhkan.

Sebagai realisasi dari keputusan rapat tersebut, maka pada tangal 8 September 1962 Kepala Kantor Urusan Agama Daerah Tk. II Pasaman (Baharoeddin Saleh) mengirimkan surat kepada Catur Tunggal Kab. Pasaman, yang berisi menguatkan putusan tgl. 28-8-62 bahwa “belum dapat menyetujui permohonan umatr Katholik hendak mendirikan Gereja dan lain-lain sebagainya didaerah Kabupaten Pasaman ini ….”.

Pendapat inipun disampaikan pula kepada kepala kantor Urusan Agama Daerah Tingkat I Sumbar di Padang (No.47/R/A.I/1-62 tgl.10-9-1962), dan sebagai bahan pertimbangan diingatkan kembali peristiwa terganggunya keamanan di Panti yang pernah terjadi tahun 1956 dan 1957.

Maka pada tgl. 1 Oktober 1962, dengan surat No. 289/R/R.I/1/62,  kepala Kantor Urusan Agama Daerah Tingkat I Sumbar di Padang (d.t.o, H. DJAMALOEDDIN), memberikan penggarisan sbb :

….” Maka dari itu demi untuk menjaga persatuan Nasional dan keamanan serta ketertiban umum dan tidak mengurangi perhormatan kepada Dasar Negara Pancasila dan kebebasan beragama, maka kami berpendapat seperti berikut :

a. Kami dapat menyetujui putusan rapat Pasaman tgl. 28-8-1962

b. Akan mendatangkan kerugian besar bagi kaum beragama dan bagi daerah itu sendiri kalau Gereja didirikan dalam daerah itu ….”.

Walaupun demikian, pembelaan dari pihak Gereja H.K.B.P dan protes dari penduduk setempat, dan kadang-kadang memanas sampai terjadi perkelahian-perkelahian dan terpaksa dihadapi oleh aparat-aparat pemerintah dan alat-alat negara.

Pada tahun 1962 ini, jumlah jemaat H.K.B.P. nyata sekali bertambahnya yang berdatangan dari Tapanuli, sebagai daerah yang berbatasan dengan Panti, diantaranya gerakan mereka ditopang oleh alat-alat negara yang beragama Kristen/H.K.B.P. Sehingga tanpa mengindahkan larangan-larangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pasaman (baik Bupati, Camat maupun Wali negari Setempat) dan dengan kekerasan berdiri jugalah akhirnya Gereja H.K.B.P di Kampung Cengkeh Panti yang sudah menjadi persoalan sejak tahun 1956.

Pendirian Gereja H.K.B.P. di Panti ini, diatas tanah yang berasal dari milik AHAD Glr. TENGAH JALO (tinggal di Kampung Sungai Jantan Panti) yang dijualnya kepada KANUN SIMATUPANG (asal Tapanuli, tinggal di Kampung Air Tabit Panti) berupa sebidang kebun kulit manis seluas 41 M5, dengan surat jual beli tanggal 24 Desember 1953, tanah mana yang terletak di hilir pasar Panti yang juga dikenal Kampung Cengkeh Panti. Kemudian pada tanggal 1 Februari 1957 menyerahkan tanah tersebut kepada Gerson Simatupang sebagai tanah untuk perumahan dan tidak boleh untuk tempat gereja, akan tetapi pada tanggal 28 Agustus 1957 Gerson Simatupang cs (yang nyatanya adalah missi kristen dari HKBP) mengajukan permohonan kepada Bupati KDH Kab. Pasaman untuk mendirikan diatas tanah tersebut sebuah Gereja, yang ditentang oleh seluruh masyarakat dan pemerintah daerah, namun sampai sekarang (1974) tetap berdiri.

Sejak tahun 1952 disaat datangnya penduduk Tapanuli (Sipirok) ke daerah Panti, yang pada mulanya hanya yang beragama Islam saja, tanpa disadari oleh penduduk setempat pihak-pihak kristn berusaha mengirimkan orang-orangnya ke Panti, dengan berbagai cara dan  tekanan, hingga sekarang dirasakan keretakan hubungan antara pendusuk asli yang umumnya beragama Islam dengan  penduduk pendatang (Tapanuli) yang jumlah suda menjapai 70 % dari seluruh penduduk Panti. Sungguhpun diantara pendatang-pendatang itu banyak juga yang beragama Islam dengan memegang teguh perjanjian dengan Ninik mamak Panti (1953) , namun kerukunan sedarah dan sedaerah adalah merupakan peluang yang baik dan menjadi landasan yang kuat bagi berkembangnya Kristen/H.K.B,P di panti khususnya.

6. Tahun 1973

Tahun ini berdiri suatu kampung ditepi Sungai Sampur Panti, dengan nama KAMPUNG MASEHI. Diatas tanah yang diserahkan oleh Ninik Mamak; Panti dahulunya kepada keluarga pendatang dari Tapanuli juga yang pada mulanya seluruhnya beragama Islam. Namun kemudian diketahui (1973) bahwa diantara penduduk itu terdapat 50 buah rumah jemaah kristen dan merekalah yang memberi nama kampung tersebut Kampng Masehi.

Pada tahun 1973 ini mereka mengajukan pula permohonan kepada Pemerintah Daerah Kab. Pasaman untuk mendirikan gereja di Kampung Masehi (Gereja HKBP ke II). Seperti juga pada masa-masa yang telah berlalu Pemerintah daerah Kab. Pasaman tidak pernah memberikan keizinan disebabkan adanya protes dari segenap lapisan masyarakat dan penduduk (khususnya Panti), serta tidak memenuhi segala syarat-syarat diantaranya pembangunan gerja didaerah ini akan berakibat terhadap terganggunya keamanan dan kerukunan sesama penduduk yang telah terjalin selama ini.

Walaupun demikian, tanpa keizinan dari pemerintah daerah ini, namun pihak-pihak kristen (HKBP) tidak ambil peduli dan  tetap bertindak mendirikan gerejanya. Kondisi ini selamanya akan merupakan duri dalam daging bagi masyarakat di Pasaman.

MASUKNYA KATHOLIK KE PANTI

Di samping jemaat Protestan/H.K.B.P (Huria Kristen Batak Protestan), terdapat pula beberapa diantaranya jemaat Gereja Katholik dibawah asuhan/pengawasan Keuskupan Padang, hal ini terbukti setelah berulang kali Pastor-pastor Katholik dari Keuskupan Padan secara teratur mengunjungi Jemaat Katholik di Panti.

Tahun 1970

Pada tanggal 10 Mei 1970, M.NICOLAS SINAGA (Katekis Katholik Panti) bertempat tinggal di Banjar II Kamp. Cengkeh Panti, mengajukan permohonan kepada Bupati/KDH Kab. Pasaman untuk mendirikan Gereja Katholik di Panti, yang menurut alasannya bahwa umatr Katholik di Panti sudah beranggotakan 14 buah Rumah Tangga, dan atas anjuran Uskup Padang supaya ditempat itu didirikan Gereja Katholik.

Gereja Katholik itu akan dibangun diatas tanah seluas 20 x 30 M dengan besar bangunan 6 x 12 M5 terletak di Kampung Cengkeh Panti, yang berasal dari tanah yang dikuasai oleh JANANGGAR HARAHAP yang bertempat tinggal di Kampung Cengkeh Panti, dan telah diserahkan hak penguasaannya kepada M. NICOLAS SINAGA pada tanggal 16 Januari 1970.

Pendirian Gereja ini tidak dibenarkan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pasaman, tetapi nyatanya Gereja itu berdiri juga.  Sejak bulan Januari 1968, M. NICOLAS SINAGA telah pernah mengajukan permohonan yang sama kepada Camat Perwakilan Panti, yang pada waktu tidak dapat diladeni oleh Camat berhubung karena penduduk Panti tidak dapat menerima. Pada tanggal 28 Februari  1968 Perwakilan Dep. Agama Prop. Sumatera Barat (Bahagian Katholik) menguatkan disamping Gereja juga akan dibangun Poliklinik, Sekolah dan Tempat Peribadatan Katholik, dimana surat tersebut ditanda tanggal M.B. Simanjuntak (Perwk. Dep. Agama Prop. Sumbar).

            Persoalan ini bertahun-tahun kemudian ber-kembang terus menjadi “kasus Pasaman” yang sampai sekarang terlah berlalu tiga dasawarsa masih belum terselesaikan.

            Sejak tahun 1967, jauh sebelum riak gerakan salibiyah di Pasaman ini makin keras menghempas kehidupan kertukunan ditengah kehidupan umat Islam (khususnya di Minangkabau, dengan filosofi adat basandi syara’, dan syara’ basandi kitabullah.

Maka Dewan Dakwah meminta prakarsa dari Menteri Agama Republik Indonesia supaya sama-sama menjaga keutuhan masyarakat yang di ancam oleh kerasnya gerakan salibiyah ini.

            Akhirnya, atas prakarsa Menteri Agama R.I, diadakan musyawarah antara pemuka agama di Jakarta. Pada pokoknya diusahakan supaya terpelihara kerukunan antar umat beragama. 

Semua pemuka Islam yang hadir dalam musyawarah, 30 November 1967 di Jakarta itu, menyetujui saran pemerintah.

Sedang pemuka‑pemuka agama Kristen, baik yang Katholik maupun yang Protestan, menolak saran pemerintah itu. Dengan demikian, musyawarah gagal mencapai maksudnya.[17]

            Barulah pada tahun 1969, pemerintah merasa perlu secara lebih bersungguh‑sungguh mengatur lalu lintas pergaulan antar umat beragama dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 01/MDN/MAG/1969 tentang pelaksanaan tugas aparatur pemerintah dalam menjamin ketertiban dan kelanca­ran‑kelancaran pelaksanaan pengembangan dan ibadat agama oleh pemeluk‑ pemeluknya. Pada tahun 1978 disusul dengan Surat Keputusan Men­teri Agama No. 70/1978 tentang pedoman penyiaran agama, Surat Keputusan Menteri Agama No. 77/1978 tentang bantuan luar negeri kepada lembaga keagamaan di Indonesia.

Pasaman hari ini, diakhir tahun 1999, dalam menapak kemillenium ketiga, berkembang menjadi zamrud hijau ditengah Sumatera Barat. Berpuluh ribu hektar lahan, yang tadinya kosong dan rimba belanatara, telah dibuka menjadi perkebunan sawit.

Masyarakat pendatang  dari luar yang tidak bisa dikontrol lagi. Baik yang bertalian dengan adat, keyakinan agama maupun moral kehidupan mereka. Gereja mulai tumbuh, penaka jamur dimusim hujan. Pendatang hidup sebagai buruh, pekerja dan penanam modal.

Dakwah menghadapi kenyataan ini, pasti akan timbul problematika dakwah baru, yang sangat global.             Akankah, berhenti tangan mendayung ???.

 

 

 

Prioritas Dakwah Masa Datang

 H

 

ampir empat dasawarsa, dakwah mengalami masa-masa sulit mengembangkan aktifitasnya. Hambatan dan tekanan politik yang didominasi Islamo-phobis dan kalangan non Islam sangat meng-habiskan energi.

Kegiatan pemurtadan serta gelombang salibiyah mulai melanda berbagai daerah dengan makin deras. Infiltrasi budaya westernisasi ikut

pula me-ramaikan pasar merebut pengaruh, dan dirasa sangat membahayakan kehidupan umat Islam secara keseluruhan.

Kesemuanya, telah menjadi issu central yang memfokuskan kegiatan Dewan Da’wah. Terutama sejak awal berdirinya Dewan Da’wah, masalah kristenisasi sangat mengedepan.

Metoda yang sitemik amat diperlukan untuk menyadarkan umat akan bahaya kristenisasi. Gerakan salibiyah dapat mengancam aqidah dan kelanggengan kehidupan umat di Indonesia masa datang.

Penggalangan kekuatan dan persaudaraan Islam, didalam dan di luar negeri perlu pula mendapat perhatian yang intensif. Masalah ukhuwah tidak dapat diabaikan dalam geran dakwah.

Di saat cuaca sudah mulai berubah, peluang memang sudah semakin terbuka. Namun, sekejappun umat tidak boleh dibiar terlena dan lengah terhadap pihak yang tidak senang terhadap dakwah Islam. Mereka, tidak akan pernah berhenti untuk berupaya menyudutkan Islam dalam setiap propagandanya.

 

 

Fokus kegiatan Dewan Da’wah mengahadapi pergantian abad ini menjadi bertambah berat dengan bobot yang semakin besar.

Meningkatkan kualitas umat diberbagai bidang kehidupan agar mampu bersaing dan tampil dalam persaingan global, bukanlah merupakan kerja ringan dan sambil lalu. Mesti masuk dalam program terpadu, tanpa meninggalkan beban dakwah yang selama ini telah dipikul dan terarah kepada memikirkan umat dan para dhu’afak di daerah terpencil. Fokus dakwah mesti pula diarahkan kepada berbagai kalangan umat serta para intelektual yang akan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dan kemajuan umat.

Kelompok intelektual dan aghniyak ini menduduki posisi kunci dalam kekuasaan, ekonomi maupun politik. Kontak langsung melalui lobby-lobby dengan metoda tepat, akan sangat berperan membantu membentuk  umat berkualitas.

Mempererat hubungan persaudaraan dalam ta’awun dan tadhamun al Islamy menjadi sumber kekuatan dalam menggalang kerjasama di berbagai bidang kehidupan.

Ikatan-ikatan melalui program dakwah dengan lembaga Islam di dalam maupun di luar negeri, menjadi titik fokus yang tidak boleh diabaikan pula.

Meningkatkan kualitas ilmiah dan wawasan ke-Islaman, diantara para du’at amat berguna untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Mempersiapkan dan memperbanyak kader dari generasi penerus yang berkualitas menjadi warisan tugas dakwah.

Meningkatkan kerjasama dan konsolidasi dengan memper-kuat fungsi dan peran organisasi menjadi tuntutan yang tidak boleh terabaikan. Aktifitas nyata berawal dari gagasan dan warisan pemimpin umat berasas taqwa mewujudkan masyarakat yang diredhai Allah, dalam Kiprah Dakwah Komprehensif Menapak Alaf Baru. v


[1]dokumen tgl. 9 Mei 1953.

[2](kutipan dokumen Pemda Pasaman tgl. 30-11-1957).

[3](Kutipan dokumen kerapatan Adat  Negari Kinali No. 01/KANK/1961 tgl. 26 September 1961, di atas meterai Rp. 3,- 1953).

[4] Ibid.

[5](kutipan dokumen pernyataan Gubernur KDH Prop. Sumbar tgl. 30 Sept. 1961 No. 62/Trm/GSB/1961 dari salinan M.J. Jang Dipertuan).

[6] Tahun 1974 itu, penduduk transmigrasi Asal Jawa tersebut tersebar di Kecamatan  Pasaman – Kinali.

[7]Menurut catatan/Laporan Wali Negari Kotobaru Kecamatan Pasaman, Agustus 1973, jumlah penganut agama Katholik di daerah ini terdiri dari (1). Mahakarya ………… 342 orang, (2). Pujorahayu ………..    17 orang, (3). Ophir …………….       38 orang, (4).Jambak ……………      16 orang

[8] Padang tanggal 12-2-1974 jemaah Gereja Protestan Indonesia Bahagian Barat (G.P.I.B) telah mendirikan sebuah Gereja ukuran 5 x 9 Meter2  dengan nama GEREJA CINTA KASIH DALAM TUHAN.

[9] di Koto Baru ini terdapat pula Dewan Komisi Gereja Katholik Kab. Pasaman/Gereja Keluarga Kudus Pasaman dan di tempat ini pula Pastoran Katholik Pasaman dibawah pimpinnan Pastor Corvini Filiberto.

[10] Menurut laporan SDKK jumlah murid-murid SD ini bulan Januari 1974 sebanyak 55 murid dengan 17 orang Guru dibawah pimpinan Herman Sugiyono C.

[11] SD keluarga Kudus Sumber Agung, dibawah pengawasan Pastor Monaci Ottorino.

[12] Di desa Alamanda pada objek Transmigrasi Kinali Kabupaten Pasaman sejak tanggal 13 Mei 1965 s/d 11 April 1972 (selama 7 tahun) telah berdiri filial S.D. Kinali ( yang pada mulanya berstatus S.D. Katholik Bunut/Alamanda) dibawah pimpinan Slamet Haryadi, dengan  jumlah Klas I s/d Kelas IV  dan jumlah murid 140 orang.

Pada tanggal 11 April 1972 sekolah tersebut diresmikan menjadi S.D. Induk Negeri Alamanda dengan Keputusan Gubernur KDH Sumbar c/q tgl. 22 Maret  1972, dengan guru-guru sbb : 1. Sabiruddin (gol II/b) selaku Kepala Sekolah, 2. Slamet Haryadi (gol I/d), 3. Ismanto (gol. I/d), 4. Sutrisno (gol. I/d), 5. Sujatni (gol. I/d) dan Sumadi (ex SPG) sebagai tenaga sukarela). Peresmian sekolah ini dilakukan oleh pemegang Pim. Kabin P.D.P.L.B. Wilayah Kecamatan Pasaman.

[13] Di Ophir oleh Yayasan Prayoga Padang telah didirikan S.D Katholik pada tanggal 3-2-70 dengan nama S.D Sugio Pranoto, dan pada tanggal 27-9-71 diganti nama dengan S.D SETIA BUDI

Yayasan Prayoga, adalah suatu Yayasan yang langsung berada dibawah pengawasan Uskup Mgr. Raimondo Bergamin s.x.

[14] Di Panti, juga oleh Yayasan Prayoga Padang mulai tahun ajaran 1973, dengan pemberitahuan Pengurus Yayasan Prayoga Padang tgl. 21 Maret1973 No. 08/Pem/31/’73 yang ditanda tangani oleh A. Margono S.H. (Sekretaris Yayasan Prayoga Padang).

[15]Atas desakan Ninik Mamak dan Pemuka Masyarakat Panti, akhirnya sekolah tersebut ditutup.

[16] Balai Pengobatan ini diadakan di Pastoran Gereja Katholik Keluarga Kudus Simpang III Koto Baru Kecamatan Pasaman dibawah pimpinan Pastor (sekaligus merangkap dokter) ZANANI.

[17](Dr.Anwar Haryono SH, “Indonesia Kita, Pemikiran Berwawasan Iman-Islam”, Cetakan Pertama, Jakarta Rabi’ul Akhir 1416 H/Agustus 1995, Hal 198 ‑ 199).

 

 

 

 

 

 

 

 

Berencanalah dengan baik dalam menghadapi gerakan Salibiyah, Pesan Dakwah Mohamad Natsir

 

Berencanalah dengan baik

dalam berhadapan dengan

gerakan Salibiyah terencana

 

Oleh H Mas’oed Abidin

Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar, kata Mohamad Natsir, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya  untuk memikirkannya lebih mendalam. Apalagi untuk membicarakannya dengan teman-teman kita secara bertenang-tenang. Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab  bakorong-ketek“.[1]

1. Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.

2. Pihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi biaya pembangunan tidak ada.

3. Akibatnya, pihak masyarakat merasa tidak puas karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.

4. Di Bukittinggi ada agen dari missi asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saya.

 

Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristenisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materi dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka di tengah-tengah ummat Islam. Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti di tengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat” itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daya upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5. Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukakan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama?  Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken

Di pulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum!- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu. Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

 

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katolik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan, mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.

Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.

6. Kalau mereka berpikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat mengadu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :

·         Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan.

·         Pihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.

·         Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang modern, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

 

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7. Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu.

Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya.

Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minangkabau secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya !

Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.    Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?

Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:

a) rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,b) soal asrama untuk tentara,

 

 

b) soal kekurangan rumah sakit yang bermutu lebih baik, ialah dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam.

Atau setidaknya-tidaknya peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.

  Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya. Tapi apabila yang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali manfaatnya.

Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjukkan jalan alternatif yang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missi-missi asing itu :

“Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita coba-coba sama-sama pikirkan.

Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir.

 

 

 

Dan bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern. Dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dsb.

Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal. Yakni asrama yang mencukupi syarat (kalaupun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh  Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut. Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat dikumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.

Kata dari orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.

Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih flexible.  Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama. Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

 

 

 

Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana.

  Saya ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was.

Wassalam, Mohamad Natsir. G

 


 


Catatan

[1]   Surat Bapak DR. Mohamad Natsir yang ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo dan Buya Fachruddin HS. Datuk Majo Indo, bertarikh Djakarta, 20 Juli 1968, adalah merupakan pengamatan Pak Natsir serta pengalaman-pengalaman berdasarkan data-data tentang Gerakan Salibiyah yang sangat terencana.

 

 

 

Narkoba, Sindikat Konspirasi Internasional

Narkoba

Dalam Konspirasi Internasional

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

Pendahuluan

          Dalam laporan data Kasus Narkoba 1999 dalam wilayah POLDA Sumbar, diberi tahukan bahwa 8 daerah Resort Kepolisian telah dapat ditangkap banyak pelaku pengedar Narkoba (Ganja, Shabu-Shabu dan ectacy), dan pelakunya terdiri dari berbagai kalangan Swasta, Penganggur, Mahasiswa, Pelajar SMU, pedagang, PNS, tani, sopir). Dalam laporan itu, yang tidak ada datanya hanya Res. Pasaman.[1]

          Penyalah gunaan Narkoba dan Miras akan dapat mengalami berbagai bahaya terhadap diri pemakainya antara lain;

  • merubah kepribadian korban pemakai secara drastik manjadi penantang, pemarah dan melawan apa saja,
  • masa bodoh terhadap dirinya (dalam berpakaian, tempat tidur), semangat belajar menurun, bisa berkembang menjadi seperti orang gila,
  • tidak ragu melakukan kejahatan sexual terhadap siapa saja,
  • hilangnya pandangan terhadap norma-norma yang berlaku (adat, agama, hukum), bahkan bisa menjadi pribadi penyiksa,
  • menjadi putus asa, pemalas, tidak punya harapan masa depan..

 

Disamping bisa membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, seperti mengambil milik orang (mencuri), berbuat mesum, mengganggu ketertiban umum, tidak pernah menyesal berbuat kesalahan.

Kondisi ini membahayakan bangsa dan negara, menggganggu ketertiban umum, dan mengancam ketahanan nasional.

Akibat lebih jauh adalah rusaknya generasi pewaris bangsa, hilangnya patriotisme, musnahnya rasa cinta berbangsa, dan menjadi ancaman stabilitas keamanan kawasan.

Karena itu perlu diperangi secara terpadu, seluruh lapisan masyarakat, petugas kemananan, kalangan pendidikan, sekolah dan kampus, alim ulama, ninik mamak, pendeknya seluruh elemen masyarakat.

1.    Memusnahkan, memutus jaringan pengedarannya, penegakan hukum yang tegas.

2.    Memberikan penyuluhan masyarakat, melakukan pencegahan, pembinaan keluarga, remaja dan lingkungan,

Upaya ini dapat dilakukan berbentuk kegiatan edukasi, dengan menghilangkan factor penyebabnya dalam suatu kerangka upaya pre-emtif.

Preventif, melalui pengawasan ketat terhadap jalur dan oknum pengedar nya, sehingga police hazard (potensi kejahatan) tidak berkembang menjadi ancaman factual.

Represif dengan penindakan dan penegakan hukum secara tegas, sebenarnya dasar penindakannya sudah diatur oleh UU No.22 tahun 1997, UU.No.5 tahun 1997 yang dikenakan terhadap pemakai, pengedar, pembuat, pemasok, pemilik, penyimpan, pembawa untuk tujuan penyalah gunaan Narkoba dengan memutus jalur pengedaran, membongkar sindikasinya, mengungkap secara radikal terbuka latar belakang jaringannya. Upaya ini, hanya akan berhasil bila aparat kepolisian dan keamanan bertindak konsekwen.

Beban masyarakat dan negara, bila tidak teratasi, terpaksa melakukan rehabilitasi, overhead cost-nya lebih tinggi dan tidak terbayangkan. Hancurnya satu generasi, dan punahnya satu bangsa. Inilah yang sangat ditakutkan oleh dunia, termasuk Amerika Serikat.

 

Perspektif Agama 

Agama Islam menempatkan NARKOBA dan MIRAS sebagai barang haram, menurut dalil Al Qurani.

a.           Khamar, segala minuman (ic. Makanan) yang memabukkan, dan judi. Disebutkan dalam QS.2: 219 “ Pada keduanya itu terdapat dosa besar, dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi “dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.

b.           Khamar, judi (al-maysir), berkurban untuk berhala (al-anshab) dan mengadu nasib dengan anak panah (al-azlam), adalah keji (rijsun) dari amalan syaithan. Jauhilah agar menang. (QS.5, al-Maidah:90).

c.            Permusuhan dan kebencian (kekacauan) ditengah kehidupan masyarakat ditimbulkan lantaran minuman khamar dan judi. Inilah kerja syaitan. Berakibat kepada lalai mengingat Allah dan meninggalkan shalat. Karena itu berhentilah. (QS.5:91).

d.           Hadist diriwayatkan Tirmidzi dari Shahabat Anas RA, bahwa “Rasul SAW melaknat sepuluh orang disebabkan khamar (la’ana Rasulullah SAW fil-khamr ‘asyaratan):

  • Orang yang memerasnya (pembuatnya, ‘aa-shirahaa),
  • yang menyuruh memeras (produsen, mu’tashirahaa),
  • peminumnya (konsumen, syaa-ribahaa),
  • pembawanya (distributor, haa-milahaa),
  • yang minta diantarinya (pemesan, al-mahmulata ilaihi),
  • yang menuangkannya (pelayan, saa-qiyahaa),
  • penjualnya (retailer, baa-I’a-haa),
  • pemakan hasil penjualannya (aa-kila tsamanihaa),
  • pembelinya (al-musytariya lahaa),
  • yang minta dibelikannya (al-musytaraa-ta-lahu).

Hadist ini terdapat didalam Jami’ Tirmizi.[2]

 

Pandangan Adat di Ranah Minang

Dalam kata-kata adat di Ranah Minang, ada delapan perbuatan terkutuk, yang sangat dibenci, dan bila ada pelakunya dikucilkan, digantung tinggi, dibuang jauh dan kebawah tak berurat keatas tak berpucuk dan ditengah digiriak kumbang. Satu kalimat sumpah sangat ditakuti setiap anggota masyarakat beradat.

Yaitu, tuak, arak, sabuang, judi, rampok, rampeh, candu dan madat.

 

Konspirasi internasional.

Asas agama sering dijadikan salah satu ujud sasaran tembak dalam pertentangan di antara pemegang kekuasaan dunia. Percaturan politik sejagat sering mengarah kepada persekongkolan kekuatan anti agama. Persekongkolan kekuatan ini bergulir menjadi konspirasi internasional.

Kebenaran wahyu Allah dapat disimak sangat jelas dalam percaturan perebutan umat diantara Salibiyah (Christ society) dan Yahudiyah (Lobi Zionis Internasional). Dua kelompok ini tidak pernah berdiam diri mempengaruhi paham dan pikiran manusia, sampai semua orang bisa mengikuti ajaran (millah) nya.

Sasaran utama lebih di arahkan kepada kelompok Muslim sejagat. Terutama ditujukan untuk melumpuhkan kekuatan Islam secara sistematik. Terlihat kepada berkembangnya citra (imej) bahwa paham-ajaran Islam adalah musuh bagi kehidupan manusia.

Tatanan dunia akan makmur bila mengikut sertakan lobi-lobi Yahudi, merupakan salah satu bukti dari hasil upaya gerakan Salibiy Yahudi ini. Penerapannya bias berbingkai ethnic cleansing.

Tuduhan-tuduhan teroris selalu ditujukan kepada gerakan dakwah Islam. Pemberian gelaran fundamentalis, radikalisme, keterbelakangan, tidak sesuai dengan kemajuan zaman, sasaran akhirnya adalah kalangan generasi muda umat Islam. Kesudahannya dunia remaja umumnya menjadi enggan menerima ajaran Islam dalam  kehidupan kesehariannya.

Konsepsi Islam dilihat mereka hanya sebatas ritual dan seremonial.

Konsepsi ajaran Islam dianggap tidak cocok untuk menata kehidupan sosial ekonomi dan politik. bangsa-bangsa.

Hubungan manusia secara internasional dinilai tidak pantas di kover oleh ajaran agama Islam.

Penyebaran pemahaman picik tentang ajaran bahwa agama hanya bisa di terapkan untuk kehidupan akhirat. Agama tidak pantas untuk menjawab tantangan dan tatanan masa kini.

Sekalian merupakan gejala lain dari kehidupan sekuler materialisma. Begitulah suatu tadzkirah (warning dan peringatan) wahyu, bila mampu dipahami secara jelas tertera dalam Al Quran (lihat QS. Al-Baqarah 120).

 

Diniyah atau laa diniyah.

Pertentangan pemahaman dalam menerapkan ajaran Islam bermuara kepada memecah umat manusia (firaq) yang pada mulanya telah di ikat oleh kewajiban kerja sama (ta’awun) menjadi dua pihak (diniyah dan laa diniyah).

Satu sama lain, atau kedua-duanya seakan harus berhadapan dalam satu satuan perang yang dipertentangkan secara bengis dan ganas. Dipenuhi oleh kecurigaan dan intimidasi. Akhirnya memungkiri segala keuatamaan budi manusia.

Bertalian dengan agama lain, semestinya pula umat Islam berpedoman kepada (QS.al-Baqarah 256). Bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Iman diperoleh sebagai rahmat dan karunia Ilahi bukan melalui pemaksaan Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman kepada adanya permusuhan antara golongan dalam masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah. 

 

Hak asasi manusia.

Hak asasi akan selalu terpelihara dan terjamin, selagi kemerdekaan bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri.

Hak asasi manusia secara pribadi tetap akan terlindungi bila setiap orang memandang dengan sadar bahwa setiap orang memiliki hak untuk tidak berbuat sesuka hati.

Bila sesorang dalam mempertahankan hak asasinya mulai bertindak dengan tidak mengindahkan hak-hak orang lain disampingnya, maka pada saat yang sama semua hak asasi itu tidak terlindungi lagi.

Kewajiban asasi untuk tidak melanggar kehormatan orang lain akan memberikan penghormatan kepada kemerdekaan orang lain, senyatanya adalah bingkai dari hak asasi manusia yang sebenarnya.

 

Kesimpulan

          (1). Hanya satu kesimpulan; NARKOBA dan MIRAS, dalam pandangan dan ajaran agama Islam, adalah haram secara syar’i. Sangat membahayakan. Berdosa besar. Walau manfaatnya ada, tetapi mudharatnya lebih besar.

Perlu di berantas dengan berbagai cara. Secara adat dibenci. Ditinjau dari segi keamanan dan stabilitas, sangat berbahaya.

Menurut UU No.22/1997 pasal 78 ayat 1, ancaman pidana sepuluh tahun atau denda 500 juta rupiah.

UU. No.5/1997 pasal 59 ayat 1, pengguna, memproduksi, pengimpor,  penyimpan, pembawa, bisa diancam pidana 15 tahun dan denda 750 juta rupiah. Pasal 59 ayat 2, bila terorganisir diancam pidana 20 tahun atau denda 750 juta rupiah, Dan pasal 59 ayat 3 bila korporasi, jaringan sindikasi, diancam pidananya tambah lagi dengan denda 5 milyar rupiah.

Sudah cukup berat bukan ???

Pertanyaannya, kenapa belum dilaksanakan ???

 

(2). Terlalu sulitnya memberantas peredaran Narkoba ini, menimbulkkan dugaan kuat adanya jaringan luas secara internasional. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa para Mafia Yahudi Internasional bermain padanya. Sebagaima diyakini bahwa gerakan Kristenisasi Internasional itu tidak semata batasnya isu agama tetapi lebih banyak kepada konspirasi politik, ekonomi, dan penguasaan suatu wilayah negara asing dengan kekuatan apa saja. 

 

 

 


[1] Ceramah Kapolda Sumbar tentang Penyalah Gunaan Narkotika serta upaya penanggulangan-nya, Padang 26 Oktober 1999, Diskusi Interaktif di Pangeran Beach Hotel, penyelenggara HMI Cabang Padang.

[2] Prof.AbdulHamid Siddiqui, Selection From Hadith, Islamic Book Publishers, Safaat Kuwait, Cetakan ke-II, 1983. Bab-XIX, tentang Halal dan Haram.

Menghadapi Penyakit Masyarakat

Memerangi Penyakit Masyarakat

(PEKAT)

 

Oleh H. Mas’oed Abidin

 

Balimau  Mulai  Tercemari

Balimau di beberapa nagari menjadi acara khusus.

Setiap menyambut bulan suci Ramadhan suasana dikampung, dusun dan nagari di Minangkabau sering di-laksanakan acara balimau. Bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, Ramadhan adalah bulan sangat dinanti dan dirindui kehadirannya. Masyarakat biasa menyambut dengan acara khas balimau tersebut yang hampir sudah menjadi teradatkan.

Pada masa dahulu acara balimau berisi nilai pergaulan masyarakat dan merupakan gambaran tatanilai didalam rangkaian adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Eratnya kaitan ibadah agama sesuai perintah Sunnah dan garisan wahyu Allah sudah melekat lama didalam tata pergaulan masyarakat ranah Minangkabau, contohnya acara balimau. Walaupun tidak ada nash pendukung yang dapat jadi rujukan menentukan keterkaitannya dengan ibadah wajib atau sunat menyambut Ramadhan, tetapi acara balimau telah diterima dan terjadi disetiap datang bulan Ramadhan. Kebanyakan masyarakat melaksanakannya  sebagai suatu kegiatan yang berkaitan erat dengan ibadah Ramadhan (shaum).

Keadaan ini bisa bernilai positif apabila tidak dicampur dengan perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.

Pada masa dulu acara balimau diwarnai dengan kebiasaan  “jelang menjelang” antara anak menantu kepada ayah bunda, mertua dan sesama karib kerabat. Suasana ini dirasakan sangat indah dalam menjalin keharmonisan hubungan antar keluarga dinagari dan telah memberikan sumbangan besar dalam mempererat tali silaturrahmi sesama keluarga dekat maupun jauh.

Hubungan persaudaraan adalah modal besar bagi pembangunan nagari yang berawal dari kuatnya ikatan bermasyarakat. Yang jauh pulang menjelang dan yang dekat datang bertandang. Sedikit banyak buah tangan dibawa sebagai tanda datangnya hari baik bulan baik. Semua orang menjadi gembira. Hati semakin bersih dan wajah pun makin berseri-seri. Insya Allah malam harinya masjid, surau dan langgar penuh oleh semua lapisan keluarga menunaikan ibadah shalat tarawih, tadarus Alquran dan sebagainya.

Keteraturan tatanan bermasyarakat menandai pelaksanaan setiap ibadah Ramadhan, dalam  melaksanakan shalat tarawih dimasjid dan surau, didapat adab saling menghormati sangat kentara. Orang tua-tua usia dan memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih menempati shaf depan kemudian di susul oleh anak-anak dengan tertib di belakang dalam sebuah ikatan keteraturan terpelihara turun temurun, sesuai bimbingan Rasulullah SAW,

Artinya, ”hendaknya orang-orang yang dewasa dan mengerti dari kalian yang dibelakangku (menjadi makmum shalat berjamaah), kemudian orang-orang yang setelah mereka –kalimat ini diucapkan sampai tiga kali–, dan jangan kalian membuat kegaduhan seperti di pasar-pasar”.[1]

Yang berumur tua di hormati, yang kecil disayangi, sesuai ajaran sunnah Rasulullah yang menyebutkan,

Artinya, “bukan termasuk dari umatku, orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui kemampuan orang-orang kami yang alim[2].

Keteraturan ini akan menambah rasa nikmat yang dibawa Ramadhan setiap tahun, karena itu kehadiran bulan Ramadhan selalu menjadi idaman dan penantian. Ditengah perubahan masa dan peredaran zaman, nilai-nilai luhur yang dikandung oleh acara itu mulai bergeser bahkan bertukar bentuk menjadi kegembiraan wisata belaka.

Gambaran hidup bermasyarakat seperti diharapkan itu sepertinya sudah mulai jarang ditemui. Malah sering bersua adalah kecendrungan membaurkan antara yang hak dan bathil, antara suruhan dan tegah, antara ibadah dan makshiyat. Kebiasaan tersebut sangat mencemaskan. Acara balimau, tidak lagi menggambarkan persaudaraan dan ukhuwah. Kebersihan dan keikhlasan mulai dibumbui oleh hura-hura dan foya-foya. Perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya terasa deras menerpa. Corak warna penyambutan untuk bulan ibadah yang sakral dan ritual mulai hilang sirna. Seakan Minangkabau tidak hidup didalam keindahan kultur budaya mereka dan mulai larut dalam kebudayaan yang tak berbudaya.

 

Akhlak  Mulai  Dirusak

Peran dakwah Risalah adalah membentuk tata-masyarakat kesatuan dengan mengedepankan prinsip persaudaraan dan menolak perpecahan dengan berusaha selalu menjauhi hasut-fitnah dan memelihara sikap toleran dengan saling menghargai dalam sikap ta’awun.[3] Kerasulan Muhammad SAW membawa misi penting memperbaiki tata laku perangai dan moral manusia dengan mengedepankan akhlak mulia.[4]

Akhlak karimah atau budi mulia yang sesungguhnya mencakup hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah) diikuti dengan tatanan dan sikap kepribadian manusia yang baik (ihsanisasi).

Rasulullah SAW menyebutkan,

Artinya, “Iman orang-orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya” (HR.Thabrani).[5]

Nyatanya dengan terpelihara hubungan makhluk sesama manusia dengan lingkungannya (mu’amalah ma’an-naas), akan dirasakan nilai hidup manusia bermoral. Makin mulia akhlak yang dimiliki akan semakin selesa hidup dibumi turun temurun dan akan terjalin pula hubungan baik selamanya.

Keutamaan risalah dakwah Muhammad SAW adalah menerapkan dakwah untuk terpeliharanya kenyamanan hidup bermasyarakat dan terjaganya lingkungan hidup bersama. Kebodohan akan menguasai hidup manusia ketika mulai dijangkiti virus jahiliyah dalam bentuk hapusnya batas halal dan haram, bercampur aduk perangai kotor dengan yang bersih, akan berakibat rusak hubungan silaturrahim dan perlakuan aniaya (anarkis) bertetangga. Dibidang keyakinan berkembang penyembahan kepada benda (materialistic) sehingga yang kuat akan menelan yang lemah.

Penyakit masyarakat dengan kebiasaan dan kesukaan meminum minuman yang memabukkan (miras) diiringi kegemaran melakukan perjudian dan perzinaan, berakibat hilangnya ketenteraman hidup bermasyarakat.

Apabila tidak ada upaya untuk melawan dan memeranginya, maka kehidupan manusia akan menjadi berantakan. Nabi Muhammad SAW menyebutkan dalam sabda beliau,

Artinya, “Tidak ada satu kaum yang melakukan berbagai kemaksiatan sedang ditengah mereka ada orang yang mampu untuk mencegah mereka –yakni pemerintah bersama petugas-petugas keamanan dan pemuka masyarakat yang memiliki kekuatan untuk itu–, namun ia tidak melakukannya, melainkan Allah akan menimpakan azab siksaan kepada mereka secara merata atau menyeluruh”.(HR.Ash-habus Sunan).[6]

Belakangan ini di acara balimau anak manusia mulai melakukan perbuatan aneh dan merusak terhadap diri sendiri dan bahkan mencemari tempat dijadikan acara balimau itu. Dan ditempat-tempat balimau mulai berlaku pergaulan bebas antara muda mudi yang sama sekali tidak dibenarkan oleh adat maupun agama. Akibatnya adalah hak-hak dan citra perempuan tidak lagi dihormati. 

Kebesaran dan kesucian dalam acara balimau mulai tercemar oleh perilaku bodoh dan tercela. Sebagai contoh, adalah dicarinya  lubuk, teluk, sungai, pantai, ngarai,  bukit, lembah, semak belukar sebagai tempat  acara balimau dimaksud. Jalan-jalan raya padat oleh kendaraan yang dipacu secara tak beraturan. Kecelakaan akibat tabrakan kenderaan bermotor sulit dihindari. Akibatnya adalah bencana dan maut.

Acara balimau tidak lagi indah tapi suram.

Suasana sedemikian itu yang sering kita temui pada beberapa tahun belakangan ini. Suatu keadaan yang jauh panggang dari api.

 

Jangan  Mengundang  Bencana

Musibah, dalam pandangan agama adalah sesuatu padanan dari nikmat. Nikmat dan musibah dua hal yang silih berganti dalam hidup. Di dalam musibah terkandung makna yang dalam. Memberi ingat kembali kepada manusia, bahwa dirinya selalu berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa.

Konsep hidup ini adalah inti dari ajaran tauhid. Musibah, boleh saja tidak bernilai azab akan tetapi adakalanya hanya sebatas ujian belaka.

Di balik ujian, tersedia sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Firman Allah menyebutkan,

Artinya, mungkin saja, yang engkau benci itu di baliknya ada sesuatu yang paling engkau senangi. Dan mungkin pula di sebalik yang engkau senangi itu ada pula yang sangat engkau benci. Dan Allah semata yang Maha Tahu, sementara engkau sendiri tidak berpengetahuan mengenai rahasia di balik semua peristiwa.[7].

Pada hakekatnya, musibah cobaan mendatangi kehidupan seorang atau kelompok masyarakat, karena kelalaian sendiri. Musibah didatangkan oleh Allah berisi hikmah mengajak seseorang untuk melakukan koreksian (introspeksi). Bila pada masa sebelum datangnya musibah banyak kelalaian, maka cobaan harus bisa  membangkit kesadaran dan menumbuhkan sikap kesungguhan untuk memperbaiki situasi itu kearah yang lebih baik. Apabila pada masa sebelum musibah datang yang dibuat hanya kebaikan, maka dibalik musibah tersimpan hikmah asasi bahwa wajib meningkatkan kebaikan lebih sempurna. Dengan demikian, maka setiap musibah dan ujian kepada manusia melahirkan sikap kehati-hatian dengan dorongan untuk selalu meningkatkan taraf kedudukannya ketingkat yang lebih tinggi.

Cobaan tidak seharusnya menjadikan manusia berputus asa. Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan lenyap dikala manusia melupakan Tuhannya, serta membelakang terhadap ajaran agamanya. Satu‑satunya benteng menghadapi setiap musibah hanyalah sabar sebagai intisari dari ajaran tauhid. Sabar adalah kekayaan jiwa yang sangat besar nilainya. Tegar dan tabah diringi ikhtiar dan do’a kepada Allah, disinilah sumber kekuatan.

Rasulullah SAW menyebutkan,

Artinya, “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa” (HR.Muttafaq ‘alaihi).[8] Segera kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran‑ajaran Nya, dan menjauhi setiap larangan‑Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya. Setiap musibah bila mampu dijalani dengan benar dan sabar akan mencerdaskan seorang didalam mengambil iktibar yang mendalam. Segala bentuk cobaan dari Allah SWT sebenarnya menyerukan kepada  manusia agar segera kembali kepada Allah. Artinya, ber‑istighfar memohon ampun atas segala kesalahan, baik yang di ketahui ataupun yang tidak. Kembali beribadah. Menghidupkan fikiran dan menggerakkan tenaga. Mencari perbuatan yang di redhai oleh Allah. Supaya Allah senantiasa meredhai usaha‑usaha kita. Firman Allah menegaskan,

Artinya, “Tidak boleh berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH. Karena, yang berputus asa terhadap rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir[9].

 

Memerangi Virus Jahiliyah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan tuntunan didalam Alquranul Karim,

Artinya, “Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah‑buahan. Gembirakanlah orang‑orang yang sabar, yaitu orang‑orang yang bila ditimpa malapetaka, musibah, diucapkannya “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Merekalah orang‑orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang‑orang yang mendapat petunjuk.[10]

Allah SWT menetapkan dikehidupan manusia selalu ada musibah disamping nikmat. Sunnatullah menetapkan pasti pergantian siang malam, adanya rugi disamping laba, sakit dan senang, dan hidup dan mati. Sunnatullah ini akan dilalui secara bergantian. Rasulullah SAW selalu mengingatkan manusia supaya menjaga kesehatan sebelum sakit datang, dan supaya senantiasa berhati‑hati sewaktu kaya karena miskin bisa mendera, supaya berhati‑hati dikala  hidup sebelum mati datang menjelang, dan berhati‑hati sewaktu muda sebelum tua datang  menghadang. Bimbingan Agama Islam pada hakekatnya, menanamkan satu sikap hidup yang positif. Yaitu “kehati‑hatian”. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya dunia itu lezat dan menggiurkan. Dan sesungguhnya Allah SWT menjadikan kalian sebagai khalifah diatas bumi. Kemudian DIA melihat bagaimana kalian bekerja. Oleh karena itu, takutlah kalian pada dunia, dan berhati-hatilah kalian dalam menjaga hak-hak kaum perempuan”.[11] Hidup didunia ini memerlukan sangat sikap teguh dan berpantang menyerah. Maka kepada setiap insan Muslim di ajarkan untuk selalu hidup dalam sikap optimistis yang tinggi. Inilah ajaran agama yang haq.

 

Kekuatan Tauhid

Salah satu pembersih diri dari bahaya virus jahiliyah adalah memakaikan dalam kehidupan sehari-hari paradigma tauhid dengan memelihara ibadah yang baik ditengah keluarga. Menerapkan ajaran agama Islam yang benar, serta akhlak karimah dan berbudi yang mulia, akan menjamin kehidupan manusia berkeselamatan dan berkebahagian disepanjang masa. Tugas dakwah adalah mengingatkan umat agar selalu memelihara kebersihan dan kesucian diri dan masyarakatnya. Firman Allah menerangkan bahwa,

Artinya, “Allah menyukai orang-orang yang bertaubat (kembali) dan orang yang membersihkan diri[12].

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid yang mengabdi kepada Allah dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[13] Manusia pengabdi  atau ‘abid  tumbuh dengan akidah Islamiyah yang kokoh. Akidah Islamiyah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam. Akidah menjadi titik dasar paling awal membentuk seorang menjadi muslim dengan keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing oleh kebimbangan.

Seorang Muslim yang memiliki akidah tauhid mempunyai watak patuh dengan ketaatan dalam membuktikan penyerahan total kepada Allah. Rasulullah SAW  bersabda,

Artinya,  “Iman ialah pernyataan atau ikrar dengan lisan, keyakinan didalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Dan Iman itu dapat bertambah, dan dapat berkurang”.(HR. Ibnu Mardawaih).[14]  

Akidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal hanya kepunyaan Allah secara absolut. Akidah membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tenteram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[15]

            Manusia yang berjiwa bersih dengan nafsul-muthmainnah akan selalu memenuhi janji kepada Allah Yang Maha Menjadikan. Dan tidak akan pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.

Selalu berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kezaliman supaya tidak terbawa hanyaut menjadi syirik.[16]

            Konsistensi ke-istiqamah-an tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan, membentuk manusia ‘abid dengan kepatuhan dan ketaatan total kepada Allah SWT dengan mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[17]  Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki akidah imaniyah secara benar. Hakikinya tanpa akidah tidak ada artinya seorang muslim. Akidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya dan wujudNya.

Melalui paradigma tauhid mudah memposisikan ibadah dengan spirit penghambaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan kekinian (duniawi) dan kehidupan ukhrawi. Melaksanakan ibadah tidak semata didalam pengertian sempit sebatas ibadah salat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi akidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah walau mesti meninggalkan kesenangan selera nafsu sejenak yang permisif sifatnya.

Penegakan konsistensi atas suruhan dan larangan terujud dengan sikap ketaatan penuh disiplin diri, istiqamah karena dorongan mencari redha Allah. Umat yang mempunyai sifat istiqamah itu ada pada setiap masa, dan menjadi ukuran terhadap kualitas umat itu. Rasulullah SAW bersabda,

Artinya, “Sekelompok umatku akan terus menjalankan perintah Allah, dengan teguh istiqamah, mereka tidak akan memperdulikan orang yang memusuhi dan berlawanan dengan mereka, hingga datang perkara Allah, sampai kiamat datang menjelang atau maut datang menjemput, dan mereka membuktikan bahwa diri mereka menang atas manusia lainnya, karena istiqamahnya dan konsistennya”(HR. asy-Syaikhan).[18]

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid. Tawakkal dan ikhtiar menjadi sesuatu yang selalu jalan seiring.

Bertawakkal dan berikhtiar dalam hidup makhluk selalu berjalin-berkulindan dalam mekanisme terpadu berada pada kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Aktualisasi paradigma tauhid Laa ilaah illa Allah menempatkan manusia secara hakikat menjadi pejuang pelaksana dan penggerak gagasan kehidupan yang tidak pernah berjalan sendiri, kecuali dengan bimbingan Allah ‘Azza Wa Jalla.

Maka keyakinan tauhid menanamkan kesadaran diri dan pemahaman manusia amat mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia. Keyakinan tauhid yang kokoh ini akan mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup.

Maka dapatlah dipastikan bahwa hilangnya akidah tauhid akan melahirkan fatalistis, menyerah kalah  kepada nasib tanpa berbuat atau bersikap apatis dan pesimistis tatkala berhadapan dengan kekuatan musuh di luar diri.

Keyakinan tauhid hakikinya berkekuatan besar berupa energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif. Maka bulan Ramadhan sungguh bulan latihan untuk menanamkan tauhid dalam diri manusia muslim dengan kokoh melalui ibadah shaum atau puasa, yang pada dasarnya adalah latihan kesabaran.

Karena itu, haruslah dijaga sungguh-sungguh agar Ramadhan jangan menjadi tempat masih bebas berbuat maksiat judi, meminum miras, zina, kehidupan malam yang penuh dengan kemaksiatan dan pengedaran Narkoba.

Penyalahgunaan Narkoba dan meminum Miras mengundang bahaya terhadap diri pemakainya, merubah kepribadian pemakai secara drastic menjadi penantang, pemarah, melawan, masa bodoh, semangat menurun, dapat menjadi gila, tidak ragu-ragu melakukan kejahatan sexual, hilang norma adat, agama, hukum.

Pemadat dan pencandu Narkoba akan berkembang menjadi pribadi penyiksa yang putus asa, pemalas, tidak punya harapan masa depan. Sungguh mengerikan. Merusak sendi kehidupan masyarakat. Suka mengambil milik orang, mencuri, berbuat mesum, mengganggu ketertiban umum, tidak pernah menyesal berbuat kesalahan.

Kondisi ini membahayakan bangsa dan negara. Menggganggu ketertiban umum. Mengancam ketahanan nasional. Lebih jauh, rusaknya generasi pewaris bangsa, dan hilangnya semangat patriotisme. Musnahnya rasa cinta berbangsa akan menjadi ancaman terhadap stabilitas keamanan daerah dan kawasan nasional.

Bangsa yang besar ini akan lebih mudah dikuasai oleh bangsa asing karena kehabisan generasi muda yang peduli dengan bangsanya. Disebabkan generasi muda harapan bangsa telah bertukar menjadi the loses generation dengan banyaknya generasi muda bangsa mengakhiri hidup masa muda dengan membunuh diri menjadi pecandu Narkoba.

Sejak limabelas abad yang silam, Nabi Muhammad SAW telah menasehatkan agar setiap manusia selalu hati-hati memanfaatkan anugerah Allah, sesuai sabda beliau, Artinya, “Manfaatkan dengan baik, awaslah dengan lima macam kesempatan sebelum datang lima yang lain, masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehat sebelum datang masamu sakit, saat kaya sebelum datang masa miskin, waktu lapang sebelum datang waktu sempit, dan hidupmu sebelum datang mati”(HR.Hakim).[19]

Oleh karena itu, setiap komponen masyarakat termasuk Pemerintah Daerah memikul beban bersama memelihara dan menjaga agar masyarakat dan daerah kita Sumatera Barat tetap menjadi “negeri beradat, dengan adatnya bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah” semestinya memiliki keteguhan hati dan kesepakatan yang kuat dalam memerangi segala bentuk kemungkaran diantaranya memusnahkan seluruh jaringan pengedaran Narkoba ini.

Allah SWT memerintahkan untuk mencegah perilaku keji dan tercela, fahsya’ dan anarkis.

Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk menghindar dari kemungkaran dan perbuatan terlarang serta aniaya dan  anarkis itu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada manusia agar meninggalkan yang haram, diantaranya araktuak[20], sabuangjudi[21], siabaka[22], samunsakai[23], rampokrampeh[24], candumadat[25], narkoba dan kelakuan yang melampaui batas atau bagh-yan, agar manusia selamat. Semua peringatan Allah ini harus selalu di ingat oleh manusia.[26]

 

Bertindak Adil

Adil pakaian setiap pemimpin. Adil, adalah ciri taqwa. Konsep ini bukan semata teologis, melainkan sangat humanis universal. Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin pemegang tampuk kekuasaan yang melalaikan kepentingan rakyatnya adalah pemimpin yang sangat dicela. Rasulullah SAW memperingatkan,

Artinya,“tidak seorangpun yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian dia mengelak dari memperhatikan kepentingan rakyatnya dikala dianya berkuasa hingga mati, kecuali Allah mengharamkan baginya sorga[27]

Dalam hadist lainnya, Rasulullah SAW berkata;

Artinya, “Allah telah mewahyukan kepadaku agar kamu semua tawadhu’ (merendah diri tidak sombong atau congkak besar kepala). Tidak perlu seorang berlaku kejam dan sombong kepada yang lainnya”, (HR.Abu Daud).

Dengan sikap tawadhu’  terlihat adilnya seorang pemimpin.

Konsekwensinya adalah, “siapapun (pemimpin) yang di serahi tanggung jawab mengatur kepentingan orang banyak (rakyat), kemudian dia bersembunyi (mengelak) dari memperjuangkan kepentingan mereka (orang banyak) itu, niscaya Allah akan menolak kepentingan dan keperluannya pada hari kiamat”.[28] 

Sahabat ‘Aidz bin Amru ketika menemui Sahabat Ubaidillah bin Ziyad mengingatkan pesan Rasulullah SAW, yang berisi “sejahat-jahat pemerintah yaitu yang kejam”. Karena itu, wahai anakku Ubaidillah, janganlah engkau tergolong kepada mereka.[29] 

Sungguh celakalah para pemimpin yang melupakan dan menganggap enteng aspirasi rakyat banyak. Maka, untuk terhindar dari kecelakaan dimaksud, wajiblah selalu diingat firman Allah,

Artinya adalah, “Berlaku adillah, karena Allah kasih terhadap orang-orang yang adil[30].

Adil, tidak boleh hanya semata ucapan.

Adil, adalah suatu perbuatan, yang di dambakan setiap orang. Menjadi kewajiban pribadi menegakkan dan mempertahankannya.

Agama mengajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungan jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Agama Islam menegaskan bahwa, seorang penguasa adalah pemimpin dari rakyatnya.

Seorang suami menjadi pemimpin atas istri, keluarga dan rumah tangganya. Seorang pekerja (khadam) adalah pemimpin atas harta yang di amanahkan oleh majikannya.

Konsekwensi pemimpin memikul tanggung jawab berlaku adil dan amanah dalam menjaga rakyat yang di pimpinnya, dan setiap pemimpin akan ditanya pertanggungan jawab atas kepemimpinannya.[31]

Pemimpin yang adil, semestinyalah bersikap merendah, tawadhu’ kepada rakyat yang dipimpin.[32]  Maknanya adalah, kepentingan atau aspirasi rakyat wajib diprioritaskan demi kemashlahatan rakyat banyak. Pemimpin dalam pandangan agama Islam tidak untuk kepentingan kelompok tetapi  demi kemashlahatan orang banyak.

Konsep kepemimpinan dalam agama Islam adalah menjadi amanah Allah dan pemerintahan adalah amanah rakyat belaka. Keduanya mesti dipegang dan dipelihara sebagai amanah setiap waktu. Kepemimpinan adalah amanat Allah SWT yang wajib ditunaikan sebagai ibadah ditengah kehidupan masyarakat dalam hubungan hablum min an-naas.

 

Perjalanan  Hidup

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

Artinya; “Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al-Ankabut, ayat 69.).

Kebenaran ini, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imajinasi yakni daya cipta, tentu akan dapat mempergunakannya. Kepandaian betapapun sangat sederhananya, dalam proses mempertinggi kesejahteraan hidup tidak boleh  dilupakan. Daerah kita terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Maka latar belakang  usaha yang wajib dikerjakan adalah merombak tradisi dengan membuka pikiran masyarakat dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, melalui amaliyah yang sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan  pribadi mereka sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang. Dalam rangka yang agak luas dinamakan “satu aspek dari Social Reform”, memang begitulah hakekat berusaha di urat masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Melihat kondisi pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini,  maka umat Islam wajib berperan aktif kedepan dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan. Melaksanakan secara murni konsep agama  untuk melakukan perubahan, agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni Kitabullah dan Sunnah dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam, bahkan untuk penduduk bumi. Sangat mungkin suatu ketika akhirnya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi kekuatan Barat, dan konsekwensinya wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai pihak asing. 

Suatu ketika Rasulullah SAW memperingatkan[33],

Artinya, “hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian dari seluruh penjuru seperti orang sedang kelaparan memperebutkan makanan …” Seketika itu para sahabat bertanya, apakah keadaan umat Islam sudah berjumlah sedikit ?.

Rasulullah menjawab,

Artinya, “Bahkan kalian disaat itu berjumlah banyak, tapi kalian seperti buih di atas air, dan Allah SWT mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, sementara Allah  meletakkan kelemahan dalam hati kalian”.

Kelemahan macam apa kiranya yang akan diletakkan kedalam dada umat Islam itu ? Rasulullah SAW menjawab pendek, “hubbud-dun-ya wa kara-hiyatul-mauti” artinya “Cinta dunia dan takut mati.”[34]

Maka kembali kepada watak Islam  tidak dapat ditawar-tawar apabila kehidupan manusia ingin diperbaiki supaya tidak lahir generasi buih itu.

Tuntutannya agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata, dan tatanan bermasyarakat dibangun diatas landasan persatuan[35], dan tumbuh dibawah naungan ukhuwah[36].

Masyarakat mesti didorong hidup dalam ta’awunitas, yaitu kerjasama dalam al-birri, format kebaikan dan ketakwaan[37].

Hubungan bermasyarakat mesti didasarkan atas ikatan mahabbah dan cinta kasih sesuai sabda Rasul:

Artinya “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri.”[38] Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah.[39]

Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah[40], karena rahasia keberhasilan terpenting “tidak terburu-buru” bertindak dan selalu didorong oleh husnu-dzan dan sangka baik sesama umat diikat oleh tawakkal kepada Allah. Dan dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Adil dan aspiratif untuk kemashlahatan umat banyak yang dilakukan secara transparan.

Menanamkan kekuatan hati dan dhamir rakyat dengan memupuk kecintaan tulus sesama lebih utama dari pembentukan kekuatan fisik umat. Titik lemah umat karena hilangnya akhlak Islami. Lemah bekal agama dilapis umat bawah dan tipisnya pemahaman Islam ditingkat elite mempengaruhi dinamika hidup berbangsa. Paham ‘Ashabiyah yang terlampau kedaerahan dapat menghilangkan arti maknawi dari ukhuwah. Persatuan lahiriyah tidak mampu menumbuhkan kebahagiaan mahabbah atau cinta sesama apabila tidak dilandasi keyakinan agama yang kuat.

Jika landasan agama ini mulai goyah, maka dari sini dapat diyakini mula sumber kehancuran. Kemiskinan masyarakat akar rumput mesti menjadi perhatian utama untuk menghilangkannya secara sungguh-sungguh dengan waktu yang tidak terlalu lama.

Rasulullah SAW menyebutkan,

Artinya, “barangsiapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari kesulitan dihari kiamat, maka hendaknya dia mau meringankan beban orang yang susah”[41].

Karena itu pembinaan dhu’afak harus didukung cita-cita menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan berdasarkan :

(a). hidup dan memberi hidup secara ta’awun dan bukan falsafah berebut hidup;

(b). menanamkan tanggung jawab anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin secara timbal balik, takaful dan tadhamun,        

(c). mengajarkan   keragaman dan ketertiban bersumber kepada disiplin jiwa dari dalam,

(d). menumbuhkan ukhuwah ikhlas bersendikan Iman dan Taqwa ,

(e). mengajarkan hidup berkeseimbangan, tawazun antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, ketajaman akal, ketinggian akhlak, amal ibadah, ikhtiar dan do’a.

            Ini wijhah dan shibgah yang hendak dipancangkan, tentulah tidak seorangpun yang berpikiran sehat dinegeri ini keberatan terhadap penjelmaan masyarakat dalam satu susunan hidup berjama’ah diredhai Allah  dan dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ basandi Kitabullah. Mulailah merintiskan dengan cara dan alat sederhana dan api cita-cita yang berkobar dalam dada. Ini nawaitu mesti tertanam dari semula. Jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah ditengah jalan.

Maka penyambutan Ramadhan yang benar harus dengan kesiapan yang penuh kesadaran dari dalam diri umat untuk selalu memelihara kebersihan dan keikhlasan yang berbekas pada ketundukan dan kepatuhan. Karena itu, apapun bentuk dan perayaan yang dilaksanakan dalam menyambut dan membesarkan Ramadhan  semestinya harus membuahkan iman, sabar, syukur, bertaqwa dan berhati-hati, senantiasa rajin disertai tawakkal dalam berusaha. ***


CATATAN AKHIR

[1]  Dalam sebuah hadist dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA, Rasululah SAW bersabda “li-yaliniy minkum ulul-arhami wan-nuhaa, tsummal-ladzina yalu-nahum –tsalatsa marratin–, wa  iyya-kum waha-isyaa-ti-aswaqi”, (HR. Muslim dalam ash-Shalat (122,423)”.

[2]  Dalam sebuah hadist dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah SAW bersabda, “laisa min umati man lam yajilla kabirana, wa yarham shaghirana, wa ya’rif li’alimina”, (HR.Ahmad, dengan sanad baik, sebagaimana disebutkan oleh al Munzhiri dalam al Munthaqa (1322) dan Haitsami (8/78)

[3]  Ta’awun artinya kerjasama, lihat selengkapnya makna firman Allah didalam QS.49,al-Hujurat : 6-13.

[4]  Innama bu’its-tu li utammi makarimul akhlak = aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (al Hadist)

[5]  “Akmalul mukminina imanan ahsanuhum khuluqan, al muwath-thiuuna aknafan, alladzina yaklafuna wa yuklafuna”. HR. Thabrani ini ditemui dalam  al Ausath dan Abu Nu’aim dari Ibnu Sa’ad yang dihasankan oleh Albani dalam Shahih al Jami’ ash-Shaghir.

[6]  Ali Abdul Halim Mahmud, Prof.DR., mengutip hadist tersebut didalam  Fiqhud Da’wah al-Fardiyah, hal.76, sebagai berikut ; “Maa  min qaumin ‘amiluu bil-ma’ashiy, wa fii-him man yaqdiru an yankira ‘alaihim fa lam yaf’al, illa yuu-syiku an yu’amma-humullahubi ‘adzabin  min ‘indihi”, (HR Ass-habus Sunan), Penerbit Darul Wafa, al Manshurah, Mesir Cet.I, 1412 H-1992 M.

[7]   QS.2, Al-Baqarah : 216.

[8]  Muttafaq ‘alihi (sepakat perawi hadist) dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah, lihat Lu’Lu’ wal-Marjan (1334-1335), Nabi SAW bersabda, “laisal-ghinaa ‘an katsratil-‘aradhi, innamal-ghina ghinan-nafsi”.

[9]  QS.12, Yusuf:87.

[10]  QS.2,Al‑Baqarah,ayat 155‑157.

[11]  “In-nad-dun-ya hulwatun khadhiratun, wa inna Allaha Ta’ala mustakh-lifukum fiha, fayan-dzuru kaifa ta’maluna, fat-taqud-dun-ya, wat-taqun-nisa-a” (HR. Imam Muslim, dalam kitab ar-Riqaq dari Abu Sa’id al Khudri (2742).

[12]   QS.2, Al-Baqarah :222.

[13]   Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[14]  Hadis sebagaimana diriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu bahwa Rasulullah SAW bersabda, “al Imanu iqrarun bil-lisani wa ‘aqdun bil-qulubi, wa ‘amalun bil-jawarihi wal arkani, wa huwa yazidu wa yanqushu”. Lihat Ali Abdul Halim Mahmud, Prof.DR., dalam Fiqhud Da’wah al Fardiyah, Mesir 1992, hal.91.

[15]  Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[16]  Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[17]  Lihat QS.14:24-25.

[18]  “La Tazalu tha-ifatun min ummati qa-imatan bi-amril-llahi, laa yadhurru-hum man khadza-lahum wa la man kha-lafa-hum, hatta ya’tiya amrul-llahi, wa hum dzahiruuna ‘alan-nasi”.(HR.Imam Bukhari dan Imam Muslim,dalam Shahih Jami’ Shaghir, 7290).

[19]  “Ightanim khamsan qabla khamsin, syababaka qabla haramaka, wa shihhatika qabla saqamika, wa ghinaka qabla faqrika, wa faraghaka qabla syughlika, wa hayataka qabla mautika”, (HR.Hakim, yang ditashhihkannya menurut syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim, disepakati oleh Mundziri dalam al-Muntaqa (2089) dan Dzahabi (4/306).

[20]  Arak tuak = minuman keras dan memabukkan.

[21]  Sabuang judi = perjudian dan bertaruh nasib melalui mengadu ayam jago bertarung

[22]  Siabaka = melakukan pembakaran, perampokan dan tindakan anarkis, hanya karena sakit hati.

[23]  Samunsakai = menyamun, merampok, mengganggu keamanan lalu lintas, dan merusak lintas batas.

[24]  Rampokrampeh = mengambil hak orang lain dengan paksa, sesuai istilah harta orang harta kita, tidak ada lagi penghormatan kepada hukum. 

[25]  Candumadat = candu dan madat yang dapat disamakan dengan narkoba dan ganja serta zat aditif lainnya yang sangat berbahaya.

[26]  Lihat QS. An Nahl, ayat 90.

[27]  HR. Muttafaqun ‘alaihi dari Abi Ya’la (Ma’qil) bin Yasar RA.

[28]  HR.Abu Daud, Tirmidzi dari perkataan Abu Maryan al ‘Azdy kepada Mu’awiyah.

[29]  HR.Bukhari Muslim, dalam Riyadhus Shalihin.

[30]  QS.Al-Hujurat ,9.

[31]  Hadist di riwayatkan Al-Bukhari dari ‘Abdullah ibn ‘Umar RA.

[32]  HR.Bukhari, dalam Riyadhus-Shalihin, Imam Nawawy.

[33]yu-syaku an-tatada-’a  ‘alaikumul-umamu min kulli ufuqin, kama tatada-‘al-akala-tu ilaa-qash-’atiha”, Jawab Nabi SAW, ”bal antum yauma-idzin kastirun, wa lakin-nakum ghutsa-un kaghutsa-is-saili, wa layan-zi’an-nal-llahu min shuduri ‘aduwwi-kumul-mahabata minkum, wal-yaq-dzi-fan-na fii qulubi-kumul-wahna”,

[34]  Hadist ini oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari Sahabat Tsauban RA., lihat Shahih Jami’ ash-Shaghir wa Ziadatuhu, (8183). Rasul;ullah SAW bersabda,

[35]  Lihat QS.al-Mukminun:52

[36]  Lihat QS.al-Hujurat:10

[37]  Lihat QS. Al Maidah : 2.

[38]  “laa yukminu aha-du-kum hatta yuhib-ba li-akhihi maa yuhibbu li-nafsihi”, HR. Muttafaqun ‘alaihi dari Anas, lihat al-Lu’Lu’ wal-Marjan (28)

[39]  Lihat QS. Asy-Sura : 38.

[40]  Lihat QS. Ali Imran : 103-104.

[41]  “man sarrahu an yunaj-jiya-hul-llahu min kurabi yaumil-qiyamati fal-yunaffis ‘an mu’sirin”, HR.Imam Muslim, didalam Mukhtasar Muslim, 964.

 

 

 

 

 

 

 

Menghidupkan Ruhul Madaniah

Menghidupkan Ruhul  Madaniyah

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

            Salah sekali kalau kita berpendapat, bahwa agama Islam hanya sebatas ritual dalam batas hari-hari tertentu saja atau bulan-bulan tertentu pula, seperti hanya dibulan Ramadhan. Salah juga menilai bahwa beragama hanya terbatasi pada ruang-ruang  suatu bangunan semata, seperti masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata. Diluar ruang lingkup itu agama tidak kena mengena (relevan) dengan gerak kehidupan riil. Selepas batas-batasan itu semua tidak ada kaitan sama sekali dengan agama. Begitu pandangan orang-orang Islam sekuler yang beraliran materialis-rasionis yang seringkali takut mengikut sertakan agama dalam arena kehidupannya.

 

            Lebih sempurna penjelasan Al Quran dalam menyatakan peran agama dengan multifungsi “li-tukhrijan-naasa minadz-dzulumaati ilan-nuuri”, yakni untuk mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur), (Al’Quran).

 

            Bila ada dalam kenyataannya terlihat masih banyak orang-orang Islam yang membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan, inilah suatu bukti nyata bahwa yang teramalkan belumlah inti dari ajaran sebenarnya.

 

            Besar sekali kemungkinan yang terambil adalah  kulit luar dari ajaran ritual ceremonial, artinya belum menyangkut kaedah isi dari nilai-nilai dasar (basic of value) Dinul Islam.

 

            Suatu kecemasan besar kalangan intelektual Muslim dikala kita bertarung dalam kenyataan hubungan di tengah perkembangan dunia global pada abad keduapuluh satu mendatang.

 

            Masyarakat yang berperangai senang menerima dan suka menampung  apa yang diberikan atau menagih apa yang tidak diberikan orang lain, pada ujungnya akan menjadikan bangsa bertungkus lumus dan terjerumus kepada rela menggadai bahkan menjual diri yang akhirnya terjadilah pelecehan nilai-nilai bangsa sendiri.

 

            Disinilah tersimpan satu rahasia besar yang dikandung oleh ajaran agama dalam ungkapan Umar bin Khattab RA, bahwa ; “Harrik yadaka unzil ‘alaika ar-rizqa” artinya adalah “gerakkan tanganmu, Allah akan menurunkan untukmu rezeki”.

            Dengan nilai mulia ini akan terlahir suatu masyarakat  yang proaktif dalam menghadapi setiap keadaan dan melihatnya sebagai suatu realitas yang menghajatkan adanya usaha bagi perbaikan dan peningkatan mutu masyarakat itu.

            Di masa hadapan itu senyatanya yang akan  banyak berperan adalah masyarakat berbasiskan ilmu pengetahuan (knowledge base society), berbasiskan budaya (culture base sociaty) dan berbasiskan agama (religious base society).

           

            Disinilah barangkali peran terbesar menanti para intelektual untuk ikut aktif dalam menata ulang masyarakat dengan nilai-nilai kehidupan berketuhanan dan bertamaddun itu. Masyarakat yang dituju adalah masyarakat madaniyah (maju, beradab).

 

            Bermacam rahmat akan dijelang, tatkala hati redha atas setiap ketentuan Allah, “man lam yardhaa bi qadhaa-I, wa lam yashbir ‘ala balaa-I, fal yathlub rabban siwaa-i” artinya “bagi yang tak redha dengan ketentuan-KU, tak shabar dengan cobaan-cobaanKU, silahkan cari saja Tuhan yang lainnya dari AKU”, dan mustahillah mencari tuhan yang lain dari Allah, kecuali bertuhan kepada selain Allah.

 

Na’udzu billah min dzalika.


Memulai dengan Ibadah

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

            Mengabdi kepada Allah merupakan nilai ruhiyah, dan tanpa nilai-nilai itu kehidupan fisik duniawi yang nyata ini terasa hambar dan kosong.

 

            Ramadhan dalam Islam adalah rakitan ibadah, yang dirangkaikan dengan suatu suruhan “la’allakum tasykurun’, supaya kita yang merayakannya mampu memperlihatkan  bukti kesyukuran secara mendalam atas nikmat-nikmat Allah yang telah kita terima.

 

            Sebenar nikmat besar itu sesungguhnya adalah kesempatan mempersembahkan anugerah kehidupan sebagai makhluk Allah sesuai dengan eksistensi kita dijadikan. “Wa maa khalaqtul jimma wal insa illa li-ya’buduuni”, artinya “tidak dijadikan makhluk jinn dan manusia, hanya semata untuk mengabdi kepada Allah “(QS. Adz-dzariyat, ayat 56).

 

            Suatu kaedah yang sering dilupakan masa sekarang adalah “man ‘arafa nafsahu fagad ‘arafa rabbahu”, artinya siapa yang ingat dirinya akan mengenal tuhannya. Secara maknawi berisikan pemahaman yang mendalam, bahwa “yang melupakan tuhannya jua yang selalu berpeluang lupa kepada diri sendiri”.

 

            Allah telah mengingatkan kita semua agar tidak terjatuh kepada kehidupan masyarakat tak tahu diri sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya ; “laa takuunuu kal-ladziina nasullaha, fa ansaahum anfusahum”, artinya “janganlah kamu menjadi kelompok yang melupakan Allah, karena akibatnya adalah Allah akan menjadikan kamu lupa terhadap dirimu sendiri’. Lupa diri berujung kepada lupa daratan, kesudahannya akan tersesat dalam pelayaran hidup ini.

 

            Manusia yang tak tahu diri, seringkali terjerembab kepada sikap sombong, takabur, angkuh yang berujung dengan kufur nikmat dan dampaknya adalah melecehkan ketentuan-ketentuan hukum Allah, akhirnya bersikap perangai tidak perduli dengan alam lingkungan, bahkan sering melupakan tata hubungan bermasyarkat yang tampak pada hilangnya rasa toleransi (ukhuwwah) sesama. Pada gilirannya akan tumbuh perangai permisif yakni mengerjakan sesuatu seenak hati, akhirnya berkecenderungan tanpa pengindahan norma-norma yang berlaku.

 

            Gejala ini yang sering tampil dipermukaan dalam kehidupan masyarakat hari ini, terutama menjangkiti kaula muda yang telah terperangkap dalam kehidupan tak menentu atau “X-Generation” yakni suatu generasi yang tercabut dari akar budaya (tamaddun) tempat mereka ditumbuhkan. Kondisi inilah yang sangat ditakuti menjangkiti generasi Asia masa datang.

 

            Beberapa penyakit masyarakat sesudahnya bisa berkembang dengan pesat, seperti ritual sinkeritis, agama ceremonial, hilang pegangan hidup, cepat stress, bersikap pesimis, budaya lepak yang pada dasarnya banyak disebabkan oleh kehidupan yang disungkup paham-paham materalisme, individualisme, liberalisme atau kebebasan yang salah pasang, dan westernisasi  yang bukan padanannya untuk negeri timur yang berbudaya.

 

            Sebenarnya yang kita perlukan adalah modermisasi yang terarah sesuai dengan budaya bangsa, tidaklah semata kemajuan fisik dengan menggadaikan nilai-nilai moral atau harga diri bangsa yang pada awalnya mempunyai semangat patriotisme.

 


Tunaikan Kewajiban

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

            Peringatan agama dalam Al Quran sudah teramat hati-hati menyuruh kita membina suatu kehidupan masa depan (wal tandzur nafsun maa gaddamat liqhadin) dengan senantiasa berpegang teguh dengan taqwa kepada Allah.

 

            Antara ruh dan jasad ada padanan setara dan hubungan yang tak terpisah. “Yas aluunaka ‘anir-ruuhi, gulir-ruuhu amri rabbi, wa utitum minal ‘ilmi illa qalilan” artinya, bertanya mereka (manusia) kepada engkau (Muhammad) tentang ruh, itu adalah urusan Tuhanmu, ilmu kamu tentang itu sedikit  sekali “(Qs. Israk).

 

            Sering orang hanya mengenal hidup jasmaniyah, yang untuk itu semua sarana dan waktu ada  telah dipergunakan untuk memenuhi semua kebutuhan fisiknya, namun seringkali kurang mengindahkan kebutuhan ruhiyahnya ini, sehing berakibat fatal dalam bentuk hilangnya keseimbangan ditengah perjalanan hidupnya.

 

            Inilah rahasia besar di dalam bimbingan Agama Islam, bergembira secara wajar dengan ukuran mengabdi kepada Allah.

 

            Banyak nikmat akan diterima tatkala seseorang senang mendo’akan orang lain dengan kalimat penuh arti “tagabbal Allahu minna wa minkum, taqabbal Yaa Karim”  yang berarti “diterima hendaknya oleh Allah semua amalan anda dan amalan kita, terimalah wahai Allah Yang Maha Mulia”.

 

            Hubungan baik  hanya mungkin dibina kalau manusia hidup dalam rasa setara “duduk sama rendah, tegak sama tinggi”, dan salah satu ukurannya adalah masing-masing melaksanakan tugas menurut kewajiban yang terpikul dipundak masing-masingnya.

 

            Setiap orang semestinya akan menerima hak sesuai dengan kewajiban yang dilaksanakan. Disini letak ukuran kadar martabat kemanusiaan itu. Tidaklah bermartabat orang-orang yang menuntut haknya tanpa melaksanakan apa-apa kewajiban yang menjadi bebannya. Juga tidak ada martabat bagi orang yang menunaikan kewajibannya tanpa ada hak apapun.

 

            Pendekatan Agama Islam adalah tunaikan kewajiban supaya setiap yang berhak bisa memperoleh haknya dengan sempurna.

            Untuk semua ini diperlukan adanya satu aturan yang terang (dalam agama dikenal dengan syari’at), perlu pula ada buhul prinsip yang jelas (dalam Islam disebut aqidah). Kedua-duanya berpotensi  besar mengikat masyarakat dalam satu tatanan yang rukun, damai, aman dan sejahtera.

            Tatanan itu akan senantiasa terpelihara rapi manakala tetap dipeliharanya hubungan-hubungan yang ikhlas (yang dikenal dengan kata silaturrahmi).

 

            Rugi orang-orang yang tidak berkenan menjalin dan memperkokoh hubungan keakraban sebangsa dan setanah air, hanya karena mempertahankan nafsu yang “pantang kerendahan, pantang kelongkahan”. Sikap ini tidak pantas di punyai oleh orang-orang yang yang akan berperan sebagai manager dalam kehidupannya.

 

            Rasulullah SAW memperingatkan. “tidak seorangpun yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian dia mengelak dari memperhatikan kepentingan rakyatnya dikala dianya berkuasa (hingga mati), kecuali Allah mengharamkan baginya syorga” (HR. Muttafaqun ‘alaihi dari Abi Ya’la (Ma’gil) bin Yasar RA).

 

            Sungguh celakalah para pemimpin yang melupakan dan menganggap enteng aspirasi rakyat banyak. Agar tidak mendapatkan kecelakaan, maka ingatlah selalu firman Allah  Berlaku adillah, karena Allah kasih terhadap orang-orang yang adil (QS. Al-Hujurat, 9).

 


Silaturrahmi

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

            Suatu perpegangan ajaran agama menyebutkan “sesiapa yang inginkan rezekinya bertambah, panjang usianya, senang kehidupannya, berpeluang mendapatkan syorga tempat tinggalnya, serta ingin membuktikan keimanannya adalah menghubungkan silaturrahim”. Ajaran Islam seperti ini terungkap dalam banyak hadist-hadist Rasulullah SAW.

 

            Silaturrahmi adalah suatu kiat untuk sukses, suatu kiat dalam makna relation-shipness. Bisa mencakup hubungan ekonomi, managemen dan bussiness, bahkan dapat menyentuh kehidupan politik modern.

 

            Silaturrahmi dengan memelihara selalu hubungan serasi adalah dasar dari keberhasilan. Hubungan serasi yang bersih, jujur, terang, setara dan penuh kasih sayang telah terbukti menjadi idaman dan dambaan kehidupan manusia sepanjang sejarah manusia itu. Eksploitasi manusia atas manusia selalu tidak disenangi dimanapun. Selalu dikecam dan ditentang.

 

            Berlipat-lipat keuntungan bagi seseorang yang dalam hidupnya senantiasa tersedia bilik kemaafan, dan merasa sedih bila disampingnya ada orang-orang yang di melaratkan oleh keadaan dan kekurangan. Untuk itu dia senantiasa berusaha mengatasinya dengan suatu hubungan baik. Insya Allah, dia akan terhindar dari penyakit depressi ataupun stress berat.

 

            Dalam rangka itulah kita bertemu hari ini, menghidupkan kembali silaturrahmi diantara kita, sesama karyawan, sesama tenaga pengajar, sesama kita dalam martabat yang sama-sama bermartabat kemanusiaan.

 

            Ada kewajiban kita bersama untuk saling memaafkan, disampingnya ada hak setiap kita meminta untuk dimaafkan. Ada kewajiban kita untuk saling asih-asuh-asah, supaya masing-masing kita menerimakan hak yang dijanjikan Allah Subhanahu Wa Ta’Ala berupa “hayatan thaiyyibah” atau hidup yang thayyibah, bersih dan tertib.

 

            Suatu pahala menanti kita, tatkala ada kesediaan pertama memaafkan orang lain, pahala juga menanti kita tatkala  mau menerima kemaafan bagi orang lain.

 

            Hina sekali kiranya orang yang menghindar dari proses pemeliharaan hubungan kekerabatan berbangsa dalam rumpun satu negara berdaulat.

 

            Kehinaan ditimpakan terhadap orang yang tidak mau mengutamakan kepentingan orang banyak. Kehinaan akan menyertai orang yang tidak siap dalam menjalin hubungan senasib sepenanggungan dalam rangkaian tali silaturrahmi sebangsa setanah air.

 

            Konsekwensinya adalah, “siapapun (pemimpin) yang diserahi tanggung jawab mengatur kepentingan orang banyak (rakyat), kemudian dia bersembunyi (mengelak) dari memperjuangkan kepentingan mereka (orang banyak) itu, niscaya Allah akan menolak kepentingan dan kebutuhannya pada hari kiamat’, (HR. Abu Daud, Tirmidzi dari perkataan Abu Maryan al ‘Azdy kepadamu Mu’awiyah).

 

Inilah makna silaturrahmi secara hakiki


Besarkan Allah

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

            Dalam hubungannya dengan setiap upacara yang berisikan kegembiraan, atau pada setiap peristiwa kesedihan (kematian), dan juga untuk menetapkan beberapa pilihan (itikharah), maka Islam senantiasa menyambut dengan ibadah (shalat) kepada Allah Yang Maha Menjadikan.

 

            Mengagungkan Allah Yang Maha Besar, adalah salah satu ciri dari Muslim yang mengakui besarnya nikmat Allah yang telah dianugerahkan untuk kita semua. Mengagungkan asma Allah dengan serta merta akan menumbuhkan sikap tawadhu’ yang merupakan sikap hormat dan tahu diri dihadapkan  Allah  Yang Maha Kuasa.

 

            Inilah hakekat mendasar dari  suasana sendu senantiasa mengiringi alunan dzikir dalam membesarkan dan memuji asma Allah, dengan takbir, tahlil dan tahmid. Kalimat takbir Allahu Akbar, adalah syiar kaum Muslim sepanjang masa, yang dengan kalimat itu shalat di mulai, azan di kumandangkan,  iqamat diawali, bahkan sembelihan hewan qurban dilaksanakan, dan dengan kalimat itu pula kita memasuki  Idul-Fithri setiap tahun.

 

            Belum sempurna, bila kegembiraan rasa syukur ini tidak diiringi dengan peduli kepada orang sekeliling, terutama kepada yang belum bernasib baik (fuqarak wal masakin).

 

            Pembuktiannya adalah dengan mengeluarkan zakat meringankan beban derita kaum tak berpunya sesuai bimbingan Rasulullah SAW ;. Inilah salah satu bimbingan Islam di maksudkan sebagai pengikat tali rasa (mawaddah fil-qurba) yang pada masa sekarang terlihat mulai tidak dihiraukan orang terlebih dalam kehidupan masyarakat maju di Barat.

 

            Kiat ini sangat dianjurkan dengan terlebih dahulu mengutamakan perhatian kepada karib kerabat yang terdekat (al aqrab fal aqrab) dan bila dikaji secara lebih makro adalah kepentingan nasional lebih diutamakan dari kepentingan-kepentingan lainnya, suatu sikap yang mendasari kepedulian dalam berbangsa atau bernegara.

 

            Hubbul wathan minal iman atau mencintai negeri atau negara adalah bagian dari iman. Nilai ini senyatanya yang memacu kerelaan berkorban di masa lalu, baik dalam merebut kemerdekaan Republika Indonesia maupun dalam mempertahankan karakter bangsa bertuhan dalam orde pembangunan.

 

            Yang di tumbuhkan dengan kiat ibadah ini adalah mendalamnya rasa peduli kepada orang lain, serta sikap rela memberi sebagai suatu perangai (moralitas) terpuji.

 

            Masyarakat berkualits digambarkan dalam satu semboyan “tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah” sesuai hadist Rasulullah SWA. Mewujudkan masyarakat bertangan di atas senyatanya tidaklah mudah. Usaha demikian adalah suatu pekerjaan berat lagi besar, karena terlebih dahulu harus ditumbuhkan keberpunyaan pada mereka.

 

            Berpunya dalam arti seluasnya adalah punya harta, punya keinginan, punya kerelaan, punya sikap untuk memberi itu. Memberi adalah suatu izzah (kemuliaan) yang dimiliki oleh aqhniya’ atau orang (bangsa) yang kaya.

 

            Penanaman ruhul-infaq dalam ajaran Islam senyata adalah melahirkan masyarakat berkualitas tanpa effek negatif dengan menengadahkan tangan meminta-minta kiri dan kanan.

 

            Maknanya adalah terbentuknya masyarakat mandiri (self-hellp), kemudian berkembang menjadi mutual-help dan lebih utama lagi bersikap selfless-help. 

 

 

 

 

 

Bahay Kehidupan Konsumeristis

Kehidupan konsumerisme.

Oleh: H.Mas’oed Abidin

 

Berbelanja tanpa takaran selalu memancing keluarga, terutama masyarakat lapis bawah yang adalah grass root dan menjadi akar serabut masyarakat  kepada pemborosan yang pada gilirannya terlihat pada terikat kepada hutang (kredit lunak berbunga besar), rusak kerukunan bermasyarakat, hilangnya ketenteraman, timbulnya penipuan, pemalsuan, perampokan, pembunuhan, dan, berbagai tindakan kriminal. pemurtadan aqidah, karena yang kuat akan selalu memakan yang lemah, pada akhirnya patriotisme berbangsa dan bernegara mulai terasa hilang. Agama Islam menyebutkan bahwa “kekafiran itu seringkali datang karena kefakiran”.

Krisis yang menjangkiti masyarakat desa, tersebab mulai menjauhnya umat dari bimbingan agama, melemahnya tabligh, pengajian, majlis ta’lim, dan mulai lengangnya masjid dan langgar, orang tua enggan memasukkan anak-anaknya kesekolah-sekolah agama.

Proyek modernisasi barat   Akibat dari runtuhnya kekuasaan gereja, terutama di belahan dunia barat, telah menggeser pandangan masyarakat yang semula akrab dengan  perpegangan agama menjadi condong kearah pengkejaran kepada memenuhi keperluan-keperluan lahiriah dengan mengabaikan kebutuhan rohaniah melalui tindakan-tindakan pengabaian prinsip-prinsip moral yang lazim berlaku, dan acapkali berakhir dengan lenyapnya kebahagiaan atau lumpuhnya pertumbuhan jiwa manusia.

Keperluan manusia kepada Tuhan menyebabkan mereka mencari-cari Tuhan kemana saja, padahal “Hingga batas manapun pemikiran tidak adanya Tuhan tidak dapat diterima” (Lihat Richard Swanburn, Oxford ,Wujud Allah, 1979).

Bila umat Islam terbias oleh pandangan proyek modernisasi barat dengan meninggalkan pemahaman ajaran Islam yang selama ini dianut, maka ungkapan bahwa “Islam telah meninggalkan dunia Islam, karena walaupun ditemui banyak umat Islam, tetapi hanya sedikit di dapati pengamal agama (syari’at) Islam“, mungkin akan menjadi kenyataan.

Kecaman terhadap Islam tidak dapat dipisahkan dari pemikiran Barat dan permusuhan yang lama terhadap Islam dengan menyia-nyiakan dan masa bodoh terhadap peradaban manusia yang telah dilahirkan oleh Islam.

Sungguhpun telah terpampang bukti jelas di bidang kedokteran terkenal Ibnu Sina (Avisienna), Ar-Razi (Razes),dan Ibn Nafis. Di bidang filsafat Ibnu Rusyd (Averroes). Di bidang apoteker dikenal pula Ibnu Baitar dan Abu Dawud. Di bidang teknik, Nabag ibnu Farnas dan astronomi Al Bairuni.

Namun dalam arus westernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan selalu dianggap dominasi negeri Barat. Yang lebih parah adalah penerapan double standard dua ukuran dengan pengaruh besar pada  media massa yang selalu menyuarakan bahwa kekerasan, fundamentalis, teroris dan tuduhan-tuduhan brutal lainnya dialamatkan kepada Islam. Permusuhan atheisme – rasialisme dalam menganalisa tindakan umat Islam tidak semata bermuatan politik tetapi lebih banyak karena agama Islam itu dinilai sebagai ajaran yang buruk.

Gerak dakwah Islam di zaman modern membuktikan perkembangan umat Islam yang pesat. Menurut statistika Barat, tahun 1991, jumlah umat Islam didunia mencapai 990.547.000 jiwa. Berapa tahun lagi diperkirakan melebihi 1,5 milyar, karena pertumbuhan penduduk dunia dan penyebaran dakwah, serta kejenuhan dunia barat terhadap paham yang dianut selama ini, Perkembangan Islam cukup pesat. Umat Islam Spanyol (1994) membangun kembali Universitas Islam Internasional “Averroes”. Di Cordove, kembali terdengar suara adzan, setelah lebih 500 tahun  terusir dari Andalusia.

Perkiraan Barat tetap dalam anggitan bahwa Islam adalah musuh utama. Karena itu, pertentangan kedepan tidak hanya terbatas antara Kristen (saliby) atau Yahudi (zionis), tetapi antara minoritas berakidah tauhid yang mengamalkan ajaran agama dipertentangkan dengan mayoritas yang tidak beriman kepada agama Allah.  Persepsi Barat selalu menganggap bahwa Islam adalah agama peperangan, keras, extrim, fundamentalis, teroris, dan penuh keterbelakangan.      

Sebenarnya peradaban manusia mengakui bahwa agama Islam sangat concern terhadap keadilan dan menentang setiap pertentang-an rasialisme. Keadilan adalah pilar langit dan bumi, menjamin dan memelihara harkat kemanusiaan (Lihat QS.an-Nahl:90, al-An’am:152, ath-Thalaq: 2, al-Hujurat: 9, an-Nisa’:58, al-Maidah:8).***

 

 

Kembali Ke Surau Membina Umat

KEMBALI KE SURAU MEMBINA UMAT

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari. Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim). Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يِحْذَرُوْنَ.

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sanggup  menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)

Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Alam Minangkabau belum lengkap kalau tidak mempunyai Masjid (musajik) atau surau tempat beribadah. Identitas surau  sesuai  personifikasi pemimpinnya.

Surau adalah pusat pembinaan umat. Menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas). Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah). Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum[1] dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”.

يأيُّها الناسُ إنا خلقنَاكم مِن ذكرٍ و أنثَى و جَعلْناكمْ شُعوبًا و قَبَائِلَ لِتَعارَفوا إنَّ أكْرمَكمْ عندَ اللهِ أتقَاكم إن الله عليْم خبيرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …. (QS.49, al Hujurat : 13)

Apabila sarana-sarana ini berperan sempurna, masyarakat kelilingnya hidup dengan akhlak terpuji. Perangai mulia berakhlakul-karimah. “Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

 


[1]  Oleh H.Idrus Hakimy Dt. Rajo Pengulu dalam Rangkaian Mustika Adat basandi syarak di Minangkabau, menyebutkan kedua lembaga – balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam” (Dt.Rajo Pengulu, 1994 : 62).