Surat Kecil dari Pak Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad NatsirLangkah Pasti Menuju RSI Ibnu Sina
Menghadapi Gerakan Baptis di Bukittinggi

Surat Kecil dari
BAPAK DR. MOHAMAD NATSIR

Oleh : Buya H.Mas’oed Abidin

Dalam suatu percakapan antara H.M.S. Datuk Tan Kabasaran dengan Bapak DR. Mohamad Natsir di tengah perjalanan ke daerah Tanjung Raya (Maninjau), beliau mengatakan bahwa kalau begini caranya ulama-ulama Sumatera Barat menentang kegiatan misi Baptis ini, satu waktu nanti umat banyak ini akan berhadapan dengan Engku-engku para ulama. Karena umat melihat dan merasakan bahwa Baptis itu melakukan perbuatan baik, mereka menolong orang yang sakit.
Untuk ini ulama-ulama dan pemuka-pemuka masyarakat Sumatera Barat perlu membuktikan pula usaha dakwah biliasanil-hal seperti rumah sakit itu.

Sesampai di Sungai Batang, sedang istirahat di rumah Wali Nagari Sungai Batang, Ismail (dikenal dengan panggilan Uo Maca), maka engku Datuk Tan Kabasaran memohon supaya Bapak DR. Mohamad Natsir berkenan menuliskan apa yang Beliau katakan itu.
Untuk nantinya bisa disampaikan pula kepada para ulama, pemimpin umat yang patut-patut.

Segera Beliau suruh HMS Tuanku Kabasaran meminjam mesin tulis Pak Wali Nagari. Dan meminta pula selembar kertas.
Beliau imlakkan (diktekan) sepucuk Surat Pendek yang di- alamatkan kepada pemuka-pemuka masyarakat di Sumatera Barat.

Surat ini kelak yang mendorong para ulama, pemuka masyarakat untuk mengambil sikap dan arah yang tepat dalam menghadapi misi Baptis ini.

Surat itu selengkapnya sebagai berikut;

BUKITTINGGI, 2 JULI 1968

Kepada :
Jth. Engku2 Alim-ulama dan
Pemuka2 masyarakat Islam
Di Sumatera Barat.

Assalamu’alaikum w.w.

Dengan hormat,

Menurut hemat saya, bahwa usaha menghadapi tantangan yang sudah semakin berat terhadap ‘aqidah Ummat Islam, terutama di Sumatera Barat ini, tidak mencukupi lagi kalau hanya dilakukan dengan cara-cara sebagai selama ini.

Kalau cara gerak itu tidak segera kita robah dengan membuat amal-amal yang nyata, seperti mendirikan sebuah rumah sakit Islam didaerah ini, dan yang semacam itu, maka suatu kali ummat ini akan menghadap kepada kita sendiri.

Baiklah pemikiran kearah usaha ini engku-engku mulai, insya’Allah pekerjaan itu nanti kita hadapi bersama-sama.

Mudah-mudahan Allah S.W.T akan membukakan jalan untuk kita. Amin.

W a s s a l a m,

Dto,

( M. Natsir)

LEMBAGA KESEHATAN DAKWAH

Surat kecil yang diberikan Bapak DR. Mohamad Natsir di sampaikan oleh HMS Dt Tan Kabasaran kepada Buya Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, untuk dipikirkan bagaimana realisasinya.

Bapak DR. Mohamad Natsir sendiri di Jakarta selalu menghidup kokohkan kesepahaman diantara masyarakat Minang dalam menerima gagasan untuk melanjutkan cita-cita agar dapat diwujudkan segera sebuah Rumah Sakit Islam di Bukittinggi Sumatera Barat.

Di antara pesan Bapak DR. Mohamad Natsir kepada Buya Datuk ditulis sebagai berikut;

“Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga.
Proyek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama.
Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.
Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana.
Saya ingin sekali mendengar pertmbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was……….” .

Di samping maksudnya untuk mengantisipasi gerakan missionaris Baptis yang sudah merambah Ranah Minang, juga dalam membuktikan bahwa masyarakat kita mampu berbuat.

Dengan amal nyata ini, masyarakat Minang mampu membuktikan diri bukanlah rumpun suku yang banyak ota.
Seperti banyak dituduhkan orang selama ini.
Melalui ini terangkat harga diri Ranah Minang.

Selanjutnya Buchari Tamam menuliskan;
“Bapak (maksudnya Bapak DR. Mohamad Natsir,pen.) garuk-garuk kepala membaca penjelasan dan agak cemas akan akibatnya. Di Jakarta benar-benar soal ini diurus dengan serius, sampai kepada sikap yang konkrit yaitu untuk mendirikan Rumah Sakit Islam itu sehingga telah dapat diraih tenaga-tenaga sebagai yang telah dilaporkan selama ini.”

Dalam berita yang dikirim Bapak Buchari Tamam kepada Panitia Pengambil Inisiatif Badan Pembangun Rumah Sakit Islam Sumatera Barat Bukittinggi d/a Saudara M. Said Tuanku Suleman Di Bukitinggi , terungkap bahwa di Jakarta cita-cita pembangunan Rumah Sakit Islam ini disambut antusias.

“Masalah pembangunan rumah sakit Islam di Bukittinggi sebagai yang jadi cita-cita disini sungguh-sungguh mendapat perhatian masyarakat Minang di Jakarta. Pak Natsir dalam hal ini menumpahkan perhatian dan kegiatan yang sungguh-sungguh.
Beliau telah menghubungi Menteri Agama yang kemudian disusul lagi oleh Pangdak Pak Adam.
Keterangan beliau-beliau itu sama betul.
Dan bagi Menteri Agama masalah ini disambutnya dengan serius sekali pula. Kabarnya beliau telah menghubungi Hankam.

Selanjutnya dalam surat itu juga dituliskan antara lain;
“Kemudian garaplah usaha kearah terwujudnya Rumah Sakit Islam dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini saya sempat bicarakan juga dengan saudara Dr.Sabaruddin Abbas di Airport Tabing yang telah menyediakan diri untuk itu. Hubungilah dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dengan Walikota Bukittinggi.

Sebentar ini akan menulis surat ini, Yayasan Kesejahteraan barusan mengadakan rapat masalah Rumah Sakit Bukittinggi itu menjadi acara yang serius sekali. Ada beberapa putusan, baik sekali untuk mendorong saudara-saudara”.

Sepeninggal Bapak DR. Mohamad Natsir kembali ke Jakarta, dalam suatu pertemuan terbatas di atas Surau Inyik Jambek.
Dibentuk suatu badan yang diberi nama “Lembaga Kesehatan Dakwah“. Tujuannya untuk mewujudkan usaha kesehatan dalam rangka Dakwah Islamiyah di Sumatera Barat ini.Lembaga Kesehatan Dakwah dibentuk dengan pengurus terdiri dari :
Ketua : Buya H.M.D.Dt. Palimo Kayo.
Wkl. Ketua : Buya H. Anwar.
Sekretaris : M.S. Tk. Sulaiman.
Anggota :
M. Bakri Dt. Rajo Sampono
Baharuddin Kari Basa
Hasan Basri Sulthany
Naimah Jambek
H. Syarifah

Beberapa kali badan ini mengadakan rapat-rapat di Surau Inyik Jambek dan di rumah Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, membicarakan bagaimana meng-usahakan berdirinya satu Rumah Sakit Islam di daerah ini. Berkenan dengan telah lahirnya badan ini,

Bapak Buchari Tamam menuliskan suratnya antara lain ;
Jadi dengan sendirinya, pekerjaan ini haruslah dihadapi sungguh-sungguh di Bukitinggi.
Tentulah dalam pekerjaan panitia atau badan yang permanen untuk ini apa sebagai perwakilan Yarsi dan lain-lain – saudara-saudara akan mendudukkan teman-teman kita yang betul-betul dapat bertekun untuk ini dengan minat dan bakatnya yang betul menjurus kearah masalah kesehatan,
Sebagaimana pengolahan terhadap soal-soal politik diurus pula oleh teman-teman seperti diatas sebagai dilaksanakan oleh saudara H. Anwar sekarang, dalam mengolah perkembangan politik.
Mudah-mudahan panitia sementara Lembaga Kesehatan Da’wah pimpinan H. Anwar yang telah sampai beritanya kepada kami dapat mewujudkan formasi sebagai diatas yang menjadi harapan teman-teman dan pemimpin-pemimpin yang meminati soal ini di Jakarta.
Seimbang hendaknya pengolahan antara masalah politik dengan masalah sosial ini, yang masing-masing tentu tergenggam ditangan yang terpisah pula.

Dalam beberapa kali rapat itu, hanya satu yang dapat diputuskan bahwa

“Perlu dibangun sebuah Rumah Sakit Islam dalam rangka Dakwah Islamiyah”.
Di Jakarta memang sudah berdiri Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Jakarta dibawah pimpinan Dr.Ali Akbar, Dr.Ahmad Kusnadi, dan lain-lain.

Setelah melakukan pembicaraan-pembicaraan, dirasakan sekali perlunya ada tenaga Ahli yang akan menggarap secara Tehnis, apalagi untuk ber-konsultasi dengan Pemerintah Daerah dan badan-badan lain.

Akhirnya Lembaga Kesehatan Dakwah menulis surat kepada Bapak DR. Mohamad Natsir, meminta supaya dikirim seorang tenaga ahli untuk menggarap usaha besar ini. Untuk memudahkan jaringan yang sudah ada, Bapak DR. Mohamad Natsir dari awalnya mengikutkan pihak Yarsi Djakarta dalam memberikan sumbang pikiran.

Hal ini terbaca dalam surat Bapak Buchari Tamam, antara lain;
“17 Juli 1968, di Jakarta Bapak DR. Mohamad Natsir dan kawan-kawan telah menemui Dr. Ali Akbar dan teman-temannya dari Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi).
Mereka semua sudah menyatakan kesediaan-nya untuk membantu usaha kita ini dengan sungguh-sungguh.
Dengan kapal Batanghari besok (19 Juli 1968) akan keberangkat Sumatera Barat Bapak Eziddin SH. sebagai utusan dari Jakarta, untuk menemui saudara saudara dalam rangka Rumah Sakit ini.
Pengurus Yarsi tidak keberatan kalau nama Yarsi dipakai disini sebagai mendirikan perwakilan atau cabang di Bukittinggi. Pendeknya saudara-saudara usahakanlah sungguh-sungguh segala sesuatu yang dibuat disini, untuk antara pemancing perhatian dari perantauan. Kirimilah kami selalu perkembangan hal ini walaupun kecil,untuk bahan penggarapan kami di Jakarta.”
Demikian surat Bapak Buchari Tamam

Segera pula Bapak DR. Mohamad Natsir mengirim Bapak Ezzeddin SH. ke Padang, dengan tugas-tugas menyambung tangan Lembaga Kesehatan Dakwah, membangun Rumah Sakit Islam di Sumatera Barat.

Sesampainya Bapak Ezzeddin, SH. di Sumatera Barat dari Jakarta, setelah berkonsultasi dengan Lembaga Kesehatan Dakwah di Bukittinggi, maka usaha ini sepenuhnya kepada Bapak Ezzeddin, SH.

Bapak Buchari Tamam, selaku sekretaris Dewan Dakwah menuliskan surat kepada Bapak Ezzeddin SH selaku Panitia Persiapan Lembaga Kesehatan Dakwah Sumatera Barat.

Surat tersebut, berisikan beberapa informasi dan tindakan yang perlu disegerakan dalam mewujudkan Rumah Sakit Islam Sumatera Barat ini,antara lain ;
Malam tanggal 1 Agustus 1968 bertempat di rumah Pak Natsir telah berlangsung satu pertemuan untuk membicarakan sekitar kemungkinan pem-bangunan Rumah Sakit Islam di Bukittinggi.
Tampaknya hadir antara lain dalam rapat tersebut Dr. Halim, Dr. Asri Rasad, Dr. Hasnil, Dr. Jurnalis Uddin, Komodor Drs. Muhamad Kamal Apotik Guntur, Adnus Apotik Pancoran, Juniar Zainal Zein Apotik Santa, Dr. Rasidin, SM Sjaaf, Dra. Kartini, Rustam Gani, SH dan lain-lain. Rapat dipimpin langsung oleh Pak Imam (Bapak DR.Mohamad Natsir,pen.) sendiri. Dari kalangan pemuka Kurai hadir engku Datuk Asjrul Sjamsuddin.
Sesudah melakukan pembicaraan dan penilaian terhadap perkembangan di Bukittinggi, maka kesimpula-nya setuju semua anggota rapat untuk ikut mengolah kemungkinan berdirinya sebuah Rumah Sakit Islam di Bukittinggi.
Bahkan Dr. Rasidin mengusulkan supaya yang dibuat di Bukittinggi itu Rumah Sakit Islam Pusat. Dengan arti harus ada sambungannya untuk men-capai radius yang lebih jauh. Dengan menyarankan rumah sakit pusat ini mempunyai klinomobil yang dapat melakukan operasi keluar kota Bukittinggi sehingga dapat mencapai jarak yang lebih jauh. Untuk ini maka dibentuklah dua panitia kecil masing-masing:
1. Panitia teknis yang akan memikirkan dan merumuskan daftar usaha sampai kepada teknik pelaksanaannya yang terdiri dari saudara Dr. Hasnil, Dr. Asri Rasad dan Dr. Jurnalis Uddin.
Panitia ini mengadakan sidangnya pada tanggal 14 Agustus 1968.
2. Panitia dana yaitu yang akan memikirkan bagaimana dapat mengumpulkan bantuan berupa uang dan alat-alat, obat serta yang lain-lain, yang terdiri dari saudara Drs. Komodor M. Kamal, Adnus dan Juniar Z. Zen. Panitia kecil ini berapat tanggal 21 Agustus 1968.
Kedua panitia ini dibawah pimpinan Pak Imam (Bapak DR. Mohamad Natsir) langsung.
Bapak Prof. DR. Bahder Djohan yang dalam rapat tersebut tidak bisa hadir karena kesehatan, menyampaikan bahwa, dia tahu benar rencana Pak Dr. Mohamad Djamil, almarhum, memang dijuruskan kesini dulunya, kepada suatu rumah sakit yang lengkap dan modern. Mungkin – kata beliau – Sitawar Sidingin itu telah berisi pula dengan instrumen yang lengkap. Karenanya beliau menyarankan bagaimana kalau Sitawar Sidingin ini diambil over dan dilanjutkan pelaksanaan cita-citanya. Kalau perlu dengan peng-gantian harga – katanya.
Mengenai ini, maka teman-teman meminta kiranya Kanda Ratnasari akan dapat melakukan penjelajahan lebih dahulu dengan mengirim kabar bagaimana hasilnya.”
Dengan keinginan dan pengertian yang sama antara Bapak Ezzeddin, SH dan pimpinan BKPUI, maka cita-cita bersama mendirikan Rumah Sakit Islam ini menjadi cita-cita bersama dan diusahakan bersama.
Dengan pedoman itu, Beliau rintis usaha ini di Padang, pertama sekali berunding dengan Badan Kontak Perjuangan Umat Islam (BKPUI) Sumatera Barat.
BKPUI, adalah suatu badan independen yang lahir sebagai tuntutan zaman menyambut orde baru.Suatu himpunan dari segenap organisasi Islam yang anti komunis di Sumatera Barat. Badan yang memiliki keinginan besar membangun Ranah Minang. Memiliki visi yang sama mengangkat harga diri Sumatera Barat dan diketuai oleh Bapak Kolonel Haji Hasnawi Karim. Kemudian, dalam perjalanan sejarah daerah Sumatera Barat,
Bapak Haji Hasnawi Karim memegang banyak jabatan, selain dari Rektor IAIN Imam Bonjol, juga sebagai Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sumatera Barat, dan salah seorang pendiri Yayasan Rumah Sakit Islam Sumatera Barat.
Dorongan semangat selalu menyertai para pengambil inisiatif di Sumatera Barat, baik datangnya dari perantauan, dan dari Bapak DR. Mohamad Natsir
“Tentang usaha kami di Jakarta untuk menyantuni persiapan rumah sakit Islam di Bukittinggi sudah ditulis oleh Sdr. Buchari, 3 hari yang lalu dikirimkan dengan kapal terbang, tentang hasil usaha kami itu, Isya Allah dalam waktu yang singkat kami akan kabarkan lagi. Sekianlah. Wassalam, Moh. Natsir ”
.

Dari keterpaduan ini lalu diadakan kontak dengan Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat, melalui Bapak Gubernur Sumatera Barat Prof. Harun Zain bersama Muspida dan Panglima Kodam III/17 Agustus, Pangdak Kolonel Polisi Adam Syamsul Bahri dan juga dengan Jawatan Kesehatan atau IKES TK-I Propinsi Sumatera Barat, yang waktu itu di-pimpin oleh Bapak DR. Basyaruddin.

Selain para pejabat itu, maka peran para pengusaha daerah Sumatera Barat, para dermawan dan seluruh lapisan masyarakat dari segenap penjuru Ranah Minang ikut mendukung cita-cita ini.

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif, di bawah judul “Besar Karena Amal”, oleh H. Mas’oed Abidin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s