Membentuk Opsir Lapangan, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

MEMBENTUK OPSIR LAPANGAN

Tuntutan zaman terus bergulir.
Perubahan zaman dengan segala akibatnya terhadap kehidupan umat adalah satu bagian dari “Sunnatullah” yang mesti disikapi dengan gerakan dakwah terus menerus.

Guna menggerakkan dakwah itu diperlukan teoritikus yang tajam dan effektif.
Selain itu, yang paling diperlukan benar dalam pembinaan umat adalah “opsir lapangan”, yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah tengah umat.

Tenaga ilmuan atau sarjana berpengalaman diperlukan pula.
Namun, yang paling dihajatkan bukan semata mata sarjana melek buku tetapi buta masyarakat. Kemahiran membaca “kitab masyarakat” tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata.

Hal itu, perlu diintrodusir ke tengah masyarakat.

Guna bisa berperan dalam menggiring dan mengawal umat, dengan ikut aktif bersama-sama masyarakat, dalam menghadapi setiap persoalan.

Selalu mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat di berbagai bidang garapan dan gerakan.

Melalui introdusir itu, akan dapat merasakan denyut jantung umat.
Lambat laun, tentu akan berurat pada hati umat.
”Makin pagi makin baik….”, kata Pak Natsir.

Di tengah masyarakat yang hidup akan dapat berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara berangsur angsur.

Pak Natsir Khadimul Ummah

Melalui proses itu, berlangsung pula satu estafetta secara alamiah.
Antara pemimpin yang akan pergi dan yang akan menyambung.
Dalam suatu proses patah tumbuh hilang berganti. Kesudahannya, yang dapat mencetuskan api tentulah batu api juga.

Inilah kewajiban yang terpikul di pundak setiap kepala keluarga, yang disebut pemimpin.

Justru di saat serba sulit itulah umat menghajatkan para pemimpin mereka, sehinga umat dapat tetap merasakan bahwa pemimpin mereka berada di tengah tengah mereka.
Di dalam keadaan suka maupun dalam duka.
Arti yang lebih mendalam, adalah tetap bersama sama menghadapi persoalan.

Kunci keberhasilan pemimpin adalah, tetap berjalan di jalan Allah, serta berkemampuan melakukan identifikasi permasalahan umat.
Kadar seorang pemimpin selalu teguh dan setia, dalam tujuan pembinaan jamaah.

Da’i adalah pemimpin di tengah kelompok jamaah.
Da’i harus berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
Siap menerima dan bahkan melakukan perubahan-perubahan ke arah bertindak yang benar.

Segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.
Tentulah da’i sebagai pemimpin di tengah jamaahnya tidak boleh hidup dalam kekosongan.
Da’i akan menjadi sumber manfaat bagi umat binaan.
Syarat utama menjadi muslim adalah bermanfaat terhadap orang lain.

Di antara bimbingan Rasulullah SAW mengingatkan, artinya, “seluruh makhluk adalah keluarga Allah, yang disayang olehNya yang bermanfaat untuk sesamanya”.(Sahih Muslim).

Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik.

Pembinaan unsur manusia dibentuk dengan kasih sayang.

“Yang tidak menyayangi manusia tidak akan disayangi oleh Allah.”

Di dalam pesan Rasul SAW lainnya dari riwayat Abdullah bin Amru
“Orang yang penyantun akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang (Allah SWT). Sayangilah penduduk penghuni bumi, supaya penghuni langit menyayangi kamu sekalian”.

Membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan dan dinamikanya.
Seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seibang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya.
Seimbang antara ikhtiar dan do’a.

Perlu adanya sebuah kesadaran, bahwa peranan generasi mendatang harus disiapkan pada dasar kesepahaman memelihara harkat (destiny) sendiri.

Kemudian dengan itu kita menanamkan kebebasan terarah, yang bertentu-tuju, untuk menumbuh-kembangkan tanggung-jawab bersama.

Melalui upaya tersebut akan dapatlah diraih peningkatan daya-kreatif-arif kita yang bakal menghasilkan hal-hal yang produktif, dan pada gilirannya akan membuahkan beragam hasil usaha yang dinikmati bersama.

Memang wajar saja apabila ada kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kini kurang menyadari tempat berpijak, bahkan mulai melecehkan budaya sendiri.

Meskipun sebenarnya adalah suatu keniscayaan belaka pada kawasan yang sedang berkembang, seringkali tampil kepentingan individu yang lebih mengedepan daripada aktivitas bersama (kolektifitas).

Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap yang harmonis dengan menghindari adanya tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat.

Maka, pemberdayaan lembaga kemasyarakatan yang ada, seperti lembaga adat, agama, perguruan tinggi, dalam mencapai wujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil dan tepat pada tempatnya.

Di sini peran da’i sebagai opsir lapangan dakwah.

Ketersambungan pendapat ilmuwan dan pengamat melalui dialog, serta penekanan amanah pemegang-pemegang kendali ekonomi masyarakat sangat penting.

Harapan seluruh masyarakat mewujudkan masa depan, mestinya menyatu di dalam gerakan dan kenyataan.

Apabila dikaitkan dengan potensi Indonesia yang besar, maka peran umat Islam sangat besar.

Adalah pekerjaan dakwah yang berat dan mendesak pula untuk dapat menggalang semua kekuatan didalam tubuh umat Islam untuk menjadi potensi nyata yang maksimal guna meniti suatu pengembangan pembangunan nasional, regional dan global.

Karena itu, mesti ada upaya pendidikan yang harus dikerjakan segera.
Antara lain,

1. Meluruskan beberapa salah paham terhadap tarikh Islam, untuk menjawab serangan kaum orientalis, dengan studi kasus Turki Ustmani,

2. Meluruskan pengantar sejarah Islam di Indonesia :
• Terjadinya pengikisan sejarah Islam di Indonesia
• Terjadinya tuduhan terhadap ummat Islam sebagai penghalang kemajuan dan modernisasi.
• Ada upaya melupakan peran perjuangan ummat Islam dalam mengusir penjajah.
• Pembinaan masyarakat oleh ulama dan du’at.
• Tasamuh tokoh Islam yang disalahgunakan pihak lain

3. Meluruskan masalah salah paham terhadap sejarah Islam di Indonesia.

4. Analisis perspektif kebangkitan dunia Islam.

Pemeranan kiat mengajak secara aktif oleh da’i adalah kerja para pelopor pergerakan (mujahid atau leader) sebagai upaya dakwah akan menopang pertahanan diri umat.

Kuatnya pertahanan diri akan memelihara apa yang sudah dimiliki dan akan membuat peluang (akses) ke arah apa yang tadinya belum kita miliki.

Akhlaq mulia senantiasa akan mendorong tumbuhnya pro-aktif-kreatif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.

Akhlak karimah yang sebenarnya mencakup hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah). Kemudian diikat kuat hubungan sesama manusia yang baik (ihsanisasi). Rasulullah SAW menyebutkan,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، اَلْمُوَطِؤُوْنَ أَكْنَافًا، اَلَّذِيْنَ يَأَلْفُوْنَ و يُؤْلَفُوْنَ (رواه الطبراني و أبو نعيم)
“Iman orang-orang Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya (HR.Thabrani).

Terpelihara hubungan sesama manusia dengan lingkungannya (mu’amalah ma’an-naas) akan menciptakan kehidupan bermoral.

Makin mulia akhlak yang dimiliki, semakin lapang dan sejahtera hidup di bumi. Keutamaan risalah dakwah Islamiah menerapkan kenyamanan hidup.

Mustahil belaka adanya, bahwa kenyamanan akan dapat dicipta tanpa adanya akhlak mulia dari anggota masyarakatnya.
Umat wajib menjaga terjamin lingkungan hidup bersama.
Ini peran du’at dengan dakwahnya.

Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia” inilah jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah di bidang apapun.

” bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah — Artinya, bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah. –. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri –maknanya, Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab yang menjadikan mereka mundur, yaitu sikap mental dan akhlaq yang telah rusak, atau karena telah lemah aqidah tauhidnya –. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Golongan, bukan tujuan.
Kelompok hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan.

Maka tugas kita adalah menebarkan kasih sayang, yang tampak dalam pelaksanaan amar makruf (sosial support) dan nahi munkar (sosial kontrol). Kepentingan kelompok harus tunduk kepada kemaslahatan umat.

Menjaga kemashlahatan umat berarti bertindak dengan sikap hati-hati.
Hidup penuh kasih sayang akan meningkat ke taraf lebih tinggi dengan mempererat kepedulian sesama.
Maknanya membangun hidup bermasyarakat yang saling menyayangi,

مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ، لاَ يَرْحَمُهُ اللهُ. (متفق عليه)
” yang tidak bisa menyayangi sesama manusia tidak akan disayangi oleh Allah. (Muttafaqun- ‘alaih).

Percaya diri akan lenyap tatkala manusia lupa kepada Tuhannya.
Membelakangi ajaran agama berakibat terbukanya pintu kemaksiyatan.

Membentengi umat dengan mengamalkan intisari ajaran tauhid.
Artinya, berupaya sekuat tenaga agar menjadi umat yang penyayang sesama umat.

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِي السَّماَءِ. (رواه أبو داود)
“Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu. (HR.Abu Daud).

Da’i sebagai kader perjuangan di tengah umat binaan tidak boleh mengurung diri.
Mengisolasi diri akan terjauh dari sikap objektif.
Akibatnya akan menjadikan diri seorang yang lebih mementingkan golongan.

Mementingkan kelompok semata akan sama dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah. Masyarakat lingkungan adalah media satu-satunya tempat beroperasi para da’i di lapangan dakwah sepanjang hidup.

Perlulah diingat, bahwa “yang banyak diperhatikan umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”.
Konsekwensinya setiap kader pemimpin umat harus siap menerima segala cobaan dari Allah.

Da’i harus punya kesadaran iman yang kokoh terhadap kekuasaan Allah, dan keyakinan kepada alam gaib akhirat tempat kembali seluruh kehidupan.

Kepercayaan kepada Allah secara benar akan menyelamatkan dari kesia-siaan berpikir terhadap sesuatu yang di luar wilayah kemampuan rasio.

Rujukan keyakinan itu sesuai dengan bimbingan Al Quran dan Al-Hadist.

Alam semesta yang memiliki dimensi ruang, waktu, volume adalah milik Allah.
Kesemestaan alam berguna untuk sebesar manfaat bagi manusia.

Da’i harus memiliki ilmu pengetahuan yang memadai.
Tidak menjadikan diri tertutup, pasif atau mengisolasi diri.
Da’i, mestinya selalu aktif.

Pengetahuan penting menunjang gerak dakwah dan harakah Islamiah secara global.
Pergantian abad ini menuntut kesigapan bertindak.
Agar tidak ketinggalan kereta.

Bila kita amati, daerah-daerah di sekeliling, atau tetangga, telah berbenah diri dengan berbagai upaya dan kegiatan menyambut alaf baru itu.
Karena, umat Muslim ada di mana-mana.

Pengetahuan dan kearifan akan mendorong melakukan amar makruf.
Social support untuk menegakkan kebenaran.
Seiring dengan itu ada komitmen tegas terhadap nahi munkar.
Social control menghadapi kemungkaran.

Setiap da’i tahu bahwa seluruh dunia adalah tempat berkarya dan beramal.
Artinya, seluruh punggung bumi adalah tempat bersujud dan mengabdi serta tempat yang bersih (suci).
Kebersihan pada semua aspek, terutama tata pergaulan hidup manusia mesti dijaga dengan amal khairat.

Sebagai kader dakwah dan pemimpin umat, seorang da’i mestilah mempersiapkan diri dengan pengetahuan yang akan menambah bekal kesadaran lokal, dengan mengenal;

(a) keadaan masyarakat binaan,
(b) aspek geografi, demografi masyarakat binaan,
(c) sejarah, latar belakang masyarakat,
(d) kondisi sosial, ekonomi umat yang didakwahi,
(e) budaya, adat-istiadat dari masyarakat di mana da’i bertugas.

Secara alamiah, setiap tanah ditumbuhi tanaman khas.
Pengetahuan lokal berguna memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan.

Adanya bekal pengetahuan-pengetahuan tersebut, akan mampu membuat analisis.
Kemudian, menyajikan alternatif-alternatif.

Teori-teori yang khayali adalah angan-angan semata.
Masyarakat memerlukan kenyataan yang menyentuh kehidupan secara langsung.
Tujuan akhir menghapuskan ketidak-seimbangan melalui pendidikan dengan prinsip-prinsip Islami. Bagi lingkungan masyarakat Islam umumnya, boleh saja disajikan berbagai hidangan.
Syarat hukumnya, semuanya mesti halal.
Di sini terlihat keseriusan dakwah pelayanan umat.

Da’i adalah pemimpin di tengah kaumnya.
Maknanya, pemimpin bangsa (kaum) adalah pelayan mereka.
Seorang da’i mesti menempatkan diri dengan orientasi pengabdian yang luhur.
Sebisanya, sanggup menawarkan alternatif keumatan, dalam menjawab masalah umat di kelilingnya.

Sebagai pemimpin yang membina masyarakat dengan penuh perhatian dan keikhlasan, keberadaannya ditengah umat menjadi perhatian.
Selanjutanya akan mendapatkan dukungan masyarakat kelilingnya.

Tindakan awal yang akan menopang keberhasilan dakwah para da’i secara individu adalah dengan menguasai kondisi umat dan kejadian sekitar.

Para da’i perlu mendapatkan supply informasi secara lokal dan nasional.
Informasi sangat berguna menggerakkan umat untuk mampu berpartisipasi pada setiap perubahan.

Para du’at perlu pula aktif dalam setiap pertemuan-pertemuan yang bertujuan menopang keberhasilan dakwah dan memelihara kesinambungan halaqah pendidikan dan harakah gerakan uswah pencontohan.

Akhlak karimah, menopang keberhasilan da’i dalam setiap dakwah praktis.
Tugas da’i sangat tersangkut pada kehidupan dan keseharian umat. Seperti masalah kelahiran, perkawinan, sakit dan kematian.

Maka pendukung tugas dakwah mestilah paham benar tentang tantangan di medan dakwah itu sangat banyak.
Namun harus ada pula kesadaran bahwa uluran tangan yang didapat hanya sedikit.

Pemahaman sedemikian ini akan mampu mengatasi situasi dengan bermodalkan kesadaran.
Manfaatkan jalinan hubungan yang sudah lama terbina.
Suatu gerakan dakwah akan menjadi lemah bila tidak mampu berfungsi seperti sarang lebah atau kerajaan semut penuh vitalitas, enerjik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya.

Seorang da’i dituntut memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep dengan alokasi sumber dana yang terbatas.

Perencanaan kerja dakwah mesti secara komprehensif.
Dengan gerakan nyata, akan mendorong terbentuknya center of excelences di pusat-pusat kegiatan dakwah, seperti surau ataupun masjid dan madrasah.

Pada ujungnya, tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif.
Jika da’i banyak berkiprah dengan ikhlas dan profesional, tentu akan lebih banyak umat Islam yang dipimpin.

Umat perlu digerakkan untuk rajin membaca.
Bila umat Islam banyak membaca, maka umat Islam akan memimpin dunia.
Akhirnya, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.”

Jujur dan Objektif sangatlah perlu.
Para da’i yang memiliki sikap jujur dan objektif dalam berdakwah akan berkemampuan besar sanggup memimpin umat.
Maka da’i yang ikhlas, pastilah akan rela menerima kritik konstruktif dari umat binaan.

Menanamkan kepercayaan diri dan mendorong untuk melakukan identifikasi kekurangan.
Kerelaan sesungguhnya latihan internal membentuk kejujuran.

Tidak jujur kepada diri, tentulah tidak dapat melatih diri kepada yang benar.
Mampu melihat tambah kurang, terbuka untuk kompensasi dan kompetisi.

Enggan melakukan identifikasi kelemahan-kelemahan, umumnya timbul karena hilangnya komitmen mendasar.

Maka da’i yang adalah bagian dari gerakan dakwah dan produk dari dakwah itu, mesti siap melakukan identifikasi diri.

Da’i sebagai produk dakwah harus sedia menghadapi aksi reaksi dalam nuansa konfrontatif, maupun reformatif.
Termasuk dalam bidang budaya, politik, sosial ekonomi.

Mengantisipasi keterbelakangan yang dihadapi umat hanya mungkin berhasil melalui konsep fikrah dan aktifitas terencana, didukung oleh kemampuan analisis.
Dalam pengalaman dakwah, kemajuan selalu dihalangi oleh kelemahan yang tidak disadari.

Keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.
Berbuat dengan keyakinan bahwa sukses hanya dari Allah, akan melahirkan sikap tetap berusaha di jalan Allah.

Akhirnya, rela mengakui kesalahan.
Bersedia memperbaiki kekeliruan.
Kekuatan karena bergantung kepada cita-cita ideologi dengan bimbingan wahyu, tidak sama dengan superioritas yang diciptakan oleh kesombongan.

Rusaknya da’i dalam berdakwah banyak disebabkan karena melaksanakan pesan sponsor, di luar ketentuan wahyu Allah.
Perjuangan menghadapi kemunduran dakwah selalu dibarengi oleh kelemahan klasik, yakni kurangnya dana dan tenaga serta hilangnya kebebasan gerak. Koreksi perlu diadakan.
Lakukan kaji ulang.
Budayakan konsultasi dan musyawarah untuk setiap masalah umat yang dihadapi.

Partisipasi aktif dalam mengambil keputusan, menjadi pendorong kepada hidupnya jamaah. Dengan sendirinya, akan terpelihara semangat tim atau nidzam.
Terbukti, bahwa kerjasama lebih baik dari sendiri.

Kenyataan dalam perjalanan dakwah adalah, sesuatu kebenaran yang tidak terorganisir, berpeluang besar untuk dikalahkan yang bathil, tetapi teratur.
Peringatan ini mengandung makna dalam.
Pemain terbaik yang kehilangan semangat tim yang kompak dan utuh, seringkali dikalahkan oleh pemain-pemain kurang bermutu tetapi mempunyai ruh dan semangat tim yang teratur.
Libatkan seluruh potensi umat.

Peranan perempuan, anak-anak dan juga kalangan dhu’afak, sangat mendukung gagasan dan gerak dakwah.

Seringkali kekuatan terkumpul pada kalangan lemah.
Melibatkan dhu’afak pada program pembinaan dan dalam gerakan dakwah, seharusnya dijadikan prioritas.

Perang tidak dapat dimenangkan bila lebih dari 50 % kekuatan tidak diikutsertakan.

Hindari tumbuhnya kepemimpinan otoriter agar ruh umat tidak mati.
Masyarakat yang mati jiwa, sulit diajak kerjasama.
Semangat kebersamaan di kalangan umat akan mati, bila jiwa musyawarah hilang.
Usaha bertolong-tolongan sebagai bentuk partisipasi dalam diri umat menjadi punah.
Sangat berbahaya memperbiar umat mati dalam genggaman pemimpin.
Tugas pemimpin menghidupkan umat.

Umat yang berada di tangan pemimpin otoriter, yang telah meninggalkan prinsip musyawarah, sama memberikan mayat ketangan orang yang memandikan.
Umat diobok dan diacak sesuai keinginannya.

Hidupkan lembaga dakwah menjadi institusi penting dalam masyarakat.
Sehingga dakwah tersusun rapi pada struktur dan berfungsi menurut semestinya.
Fungsi yang bergantung kepada orang seorang akan menghilangkan kestabilan.
Akibatnya kurang perencanaan dan padam inisiatif.

Gerakan dakwah menjadi kewajiban.
Tujuan utama menghidupkan ketahanan umat secara nasional dan regional dengan mempertemukan pemikiran dan informasi.

Rakit konsultasi dan formulasi strategi dan koordinasi.
Ini tugas utama setiap da’i dalam menapak perubahan cepat dan drastis.
Tugas dakwah termasuk membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis dan darurat.

Dakwah adalah suatu pekerjaan rutin.
Kesalahan dalam membuat rencana, berakibat tujuan dakwah menjadi kabur.
Salah menempatkan sumber daya yang ada akan berakibat kesalahan prioritas.
Perencanaan matang menjadikan gerakan dakwah berangkat dari hal yang logis.
Hasilnya, dakwah diterima oleh semua pihak.

Dakwah bukan kerja part-time, sambilan dan sukarela bagi yang giat dan aktif saja.
Tetapi harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis di tengah masyarakat.
Dakwah mesti ditunjang oleh sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan sebagai satu social action.

Maka sangat diperlukan generalitas murni dan meyakinkan secara rasionil tentang keindahan Islam.
Memahami fenomena besar lagi menarik dalam perkembangan globalisasi, sebenarnya membuka peluang luas bagi perkembangan Islam.

Mayoritas ilmuan pemimpin dunia secara universal mulai membaca tanda-tanda zaman.
Maka, gerakan dakwah harus siap menanam kembali per-adaban Islam menjadi satu alternative yang tidak tertolakkan untuk mewujudkan keselamatan di dunia. 

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dari buku Dakwah Komprehensif oleh H. Mas’oed Abidin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s