Hidupkan Dakwah Bangun Negeri Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Gagasan Menghidupkan
KIPRAH DAKWAH

“PEMIMPIN PULANG” …..,

14 JUNI 1968, udara pagi yang cerah di Lapangan Udara Tabing Padang, pintu gerbang ranah Minang, kembali hidup. Setelah hampir satu dasawarsa berada dalam cengkeraman “Orde Lama” merasa terbebas dari rasa tertekan dan hilangnya harga diri.

Hari itu, baru 2 tahun setelah “Orde Baru” di-canangkan dibawah kepemimpinan Soeharto, setelah lahir TRITURA, massa rakyat sangat mendambakan suasana baru. Masyarakat mulai bernafas baru, terbebas dari segala macam tekanan yang selama ini terasa berat menghimpit. Terutama dirasa berada dibawah sistem komunis PKI.

Sekarang, ditahun 1968 masyarakat ter-panggil kembali untuk membangun kampung halaman.

Jam menunjukkan jarum waktu 08.15 WIB pagi itu, disaat pesawat Electra GIA mencecah landasan dengan mulus.

Membawa di dalamnya Bapak DR. Mohamad Natsir dan Umi Nahar, yang berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Gubernur Sumbar Prof. Harun Zain dan Walikota Padang Kolonel Maritim Akhirul Yahya.

Pemimpin Pulang, Bapak DR. Mohamad Natsir melangkah dengan kepada tegak.

Dengan kecerahan menatap kedepan.
Menyiratkan optimisme yang tinggi.
Tumbuhkan pembangunan masyarakat Sumatera Barat di Ranah Minang.
Inilah tugas berat kedepan.

Beliau pulang, diundang melanjutkan perjuangan.
Dalam rangka merangsang semangat umat yang tadinya telah hampir padam untuk bersama membangun kampung halaman.

Bapak Gubernur Harun Zain, menyebut dengan kata kunci yang pas “mengangkat harga diri” masyarakat Minang.

Program ini, bukan program dadakan.
Sebagai-mana lazimnya mengambil hati orang pusat.
Sama sekali tidak.

Bahkan semua pihak sangat menyadari, bahwa tidak akan ada satupun rencana pembangnunan bisa jalan, manakala masyarakat diam apatis.

Beliau disambut dengan panggilan “orang tua kita”.
Hampir seluruh daerah Tingkat II dalam daerah Sumatera Barat sempat didatangi Bapak DR. Mohamad Natsir.

Dalam setiap pembicaraan dengan umat, tujuannya hanya satu.
Mendorong umat memulai kembali membangun negeri yang bermuara dari lubuk hati. 

TASYAKUR NIKMAT

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat.
Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini.

Apalagi, bila kita mengingat kembali betapa besar-nya kesulitan yang harus kita lalui.
Disertai pula dengan banyaknya intimidasi dan tekanan-tekanan yang pernah dirasakan.

Di samping besarnya kecurigaan yang sudah ditimpakan kepada umat Islam, di daerah ini.
Terutama di dalam mengangkat amal-amal khirat untuk umat ini.

Maka peristiwa pagi itu, tidak dapat tidak merupakan lembaran baru dari umat di ranah ini.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu.
“Jika kamu mensyukuri maka AKU akan menam-bahnya untuk kamu. Dan, jika kamu menolak, maka sesungguhnya azab KU sangat pedih”.

Kalau hari itu, di kala kedatangan Bapak DR. Mohamad Natsir pulang ke Padang, suasana kita tengah memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan.

Senyatanya hakekat dari amal usahanya sudah lebih tua dari usianya sendiri.

Idea atau pemikiran pengembangan amal umat itu, sudah mulai digulirkan sejak berapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin umat di Padang Sidempuan.

Dalam pertemuan sekembali dari suasana sulit, dan bahkan selalu diawasi gerak langkah, para pemimpin umat telah menggariskan langkah-langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat.

Ranah Bundo, atau ranah Minang, diakui secara nyata, baru saja keluar dari situasi per-golakan daerah.
Orang, masih takut-takut.

Pergolakan, memang membekaskan luka-luka yang terkoyak oleh perang saudara. Semasa rezim Soekarno, luka itu sangat dalam dirasa selang 2½ tahun lamanya. Banyak luka yang harus ditambal.
Banyak sakit yang harus diobati.
Banyak pula keruntuhan yang harus dibangun.

Menghidupkan kembali api “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang telah mulai digerogoti dari banyak penjuru.
Langkah-langkah yang digariskan itu, tersimpul erat kepada bagaimana menghadapi:

• penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

• perumahan rakyat yang hangus terbakar

• sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

• luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

• kehancuran pendidikan agama.

Jauh sebelum pemimpin pulang, bulan Nopember 1961, telah berlangsung satu pertemuan di Medan.
Pertemuan itu, dipelopori oleh Bapak DR. Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor.

Dari pertemuan itu lahir satu pandangan yang sama.
Bahwa, upaya untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu harus dengan menggerakkan anak kemenakan putera Minang dan daerah, yang banyak jumlahnya dan bertebaran diperantauan.

Sebagai wadahnya diambillah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan.

Kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat.
Sejak awal berdirinya diketuai oleh Mr. Ezziddin.

Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba, sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat, membangun negeri.

Keluarga Qurba, adalah keluarga dekat, yang selalu merasa keterdekatan hati dengan keluarga di kampung halaman. Sungguhpun setiap saat hidup dan peng-hidupan mereka banyak dihabiskan dirantau.

Merantau, bagi keluarga Qurba, sama sekali bukan melarikan diri. Tidak pula menyingkir karena dendam atau benci. Merantau, hanyalah semata pengamalan dari kaedah pepatah di Ranah Bundo “Karatau madang dihulu, babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu, (disaat) dirumah (kampung halaman) paguno balun”.

Walaupun segala akibat harus dilalui, tekad hanya satu. Berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada. Sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada tiap-tiap waktu itu.

Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan dari para perantauan di Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, akhirnya terwujudkan juga cita-cita.
Seberat-berat apapun beban dipundak, niscaya akan dirasakan ringan, selama dipakaikan kaedah “berat sepikul ringan sejinjing”.

Langkah pertama, kaum ibu yang sejak lama ter-gabung dalam amal Muslimat Keluarga Besar Bulan Bintang, diantaranya digerakkan oleh Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim, telah berhasil menghimpunkan bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang.

Mawaddah fil qurba, dijadikan semacam jembatan serasa sepenanggungan, sebagai inti dari mengamalkan adat nan basandi syarak, syarak basandi Kitabullah juga.
Bingkisan yang sudah dikumpul langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan di-beberapa tempat terserak yang dapat dicapai di Sumatera Barat. T
erjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak DR. Mohamad Natsir.

Dengan pedoman yang digariskan secara rinci oleh Bapak DR. Mohamad Natsir untuk maksud mengumpulkan kerikil-kerikil ter-pelanting akibat pergolakan.

Maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan kearah mencari lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut.
Tentu, disesuaikan menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing juga.

Umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan.
Secara psikologis, umat masih diliputi oleh rasa takut.
Alasan yang sering terdenga tampil adalah demi menjaga keamanan diri yang bersangkutan. Akibatnya banyak amalan yang tak berani muncul.

Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil.
Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan yang “memberi”.

Dalam kaedah “singkek uleh mauleh kurang tukuak manukuak”.

Didorong rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman, yang baru keluar dari kancah pergolakkan, maka putera yang benar cinta kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan membangun kembali kampung negerinya itu.

Usaha kearah itu dengan menumbuhkan perhatian menggerakkan perantau perantau.

Guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat.
Kerja yang tidak kecil artinya, adalah menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan.

Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu, yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Bapak DR. Mohamad Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pan-dangan hidup ajaran tauhid (Tauhidic Weltans-chaung).

Melanjutkan usaha ini Bapak DR. Mohamad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk.
Hal tersebut telah digoreskan Beliau, lama sekali.
Walau di saat diri Beliau tengah berada dalam karantina politik dari rezim “orde lama”.

Garisan yang sebenarnya merupakan pandangan bersama para pemimpin-pemimpin umat yang lainnya juga.

Sebenarnya, dalam setiap menentukan sikap para pemimpin umat itu, tidak pernah meninggalkan prinsip musyawarah. Begitu selalu dilakukan dengan Bapak Syafruddin Prawiranegara, Bapak Burhanuddin Harahap, Buya Duski Samad, dan lain-lainnya.

Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak DR. Mohamad Natsir disambut baik.
Tidak hanya para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah di-lakukan.
Tetapi juga oleh para pemikir, pengetua kampung halaman.

Sehingga dengan nyata melahirkan pusat pemikir dan penggerak kampung halaman dari rantau. Yang setiap masa bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, baik secara partial maupun global. Tumbuhlah semacam center of exelence untuk Ranah Minang.

Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”.
Memulai program sederhana melalui keterampilan tangan (handy-craft), perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan.
Ditumbuhkan melalui beberapa program latihan dan pengenalan. Idea ini mulai dilaksanakan tahun 1962.

Awal tahun 1963, selesai masa pelajaran, beberapa tenaga terlatih pulang ke kampung masing-masing. Mereka pulang, dengan dibekali amanat.
Supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat, hendaklah membekali diri dan untuk meningkatkan mutu masyarakat.

Di kala itu Bapak DR. Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid.

Lazimnya, pertemuan dikalangan keluarga seperti itu, telah membuahkan ke-sepakatan dari hati ke hati untuk kemudian dipindahkan ketangan.
Berbentuk amal nyata.
Beberapa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat, yakni sutera alam dan tikar mendong harus dikembangkan di Sumatera Barat, melalui kursus-kursus dan latihan-latihan.

Pertama kalinya dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

Dari sini, kelak tumbuh ber-kecambah membentuk Badan Penyantun terutama bagi menyambut lahirnya dan menjadi penggerak untuk per-cepatan pembangunan serta perwujudan idea Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, YARSI Sumatera Barat.

Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI dimasa lalu, tetap merayap dari sudut ke sudut hati umat.

Perasaan dan pengalaman itu melecut semua untuk membentuk masa depan yang lebih aman dan tenteram.
Walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya. Sehingga sukar.
Malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

Akan tetapi, gerakkan tangan, Allah akan turunkan rezeki.

Semboyan amalan kita ialah :
• Yang m u d a h sudah dikerjakan orang
• Yang s u k a r kita kerjakan sekarang
• Yang tak mungkin kita kerjakan besok
• Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

“Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat” !

Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak DR. Mohamad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.

Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria.

Akan tetapi, kalangan perempuan merasakan pula pentingnya dipelajari dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.
Hubungan kerjasama sesama keluarga mesti ditingkatkan.

Pemeliharaan hubungan melalui beragam usaha seperti yang telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu, sejak November 1963, dengan memperkenalkan cara pembibit-an dan penanaman Tanaman Holtikultura, telah membawa perubahan baru bagi kehidupan pertanian di desa.

Termasuk juga pembekalan dengan pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang.
Demikian pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor.

Bagi kalangan “bundo kanduang” kaum ibu didesa-desa yang selalu bergeluit dengan pertanian dan pengolahan alam, maka, pengetahuan sederhana yang disebutkan itu sangat penting dikembangkan.

Tentunya, melalui latihan-latihan praktis.

Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak DR. Mohamad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta.

Disemai tanamkan pula dilingkungan keluarga.

Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar, akan memberikan hasil yang baik dan bermanfaat.

Apalagi bila disimak pesan yang menyertai di secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963.
Pesan itu tertuilis, “sesudah dipotong makin bercabang”.
Suatu kata bersayap, berisikan ajakan yang selalu dirasa nikmat oleh setiap keluarga yang menerima.
Sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu.

Salah seorang dari keluarga besar, bernama Buya Haji Bakri Suleman dari keluarga bangsawan Rokan Kabupaten Kampar di Pekanbaru mengungkapkan pesan pemimpin ini dengan pengertian “kuunuu ..bayaaman..”,

Semboyan amal ini merupakan buhul makin erat, setiap saat menjadi pendorong untuk mengangkat amal-amall nyata betapapun beratnya.

Kelak dikemudian hari, Buya Haji Bakri Suleman, bersama dengan teman-teman beliau, seperti Haji Zaini Kunin, Haji Rawi Kunin, Soeman Hs, Ibu Hajjah Syamsidar Yahya, Syamsidar Djoefri, Tengku Djalil, Ibu Hajjah Khadijah Ali, Haji Moeslim Roesli, Dr, Haji Rasanuddin, Moeslim Kawi, dan banyak lagi lainnya.

Dengan mengamalkan falsafah “sesudah dipotong makin berkecambah”, maka tenaga-tenaga tersebut itu, kemudian hari dapat menelorkan amal khairat yang nyata di Pekanbaru dan daerah Riau.

Di antara amal itu adalah, Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau yang melahirkan Universitas Islam Riau (UIR).
Memelopori mandirikan masjid-masjid, membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan di Propinsi Riau.

Para pemimpin umat yang melanjutkan cita-cita Bapak DR. Mohamad Natsir ini sangat banyak bertebaran, di mana-mana.

Di Propinsi Riau umpamanya perhatian tertuju kepada keadaan suku terasing, seperti Suku Sakai dan Suku Laut yang terdapat dipropinsi tersebut.

Di Sumatera Barat perhatian sama darahkan ke Kepulauan Mentawai.
Begitu pula, ikut aktif dalam mendirikan Rumah Sakit Islam IBNU SINA Yarsi Riau, setelah berdiri di Sumatera Barat Yayasan Rumah Sakit Islam yang melahirkan Rumah Sakit Islam IBNU SINA di Bukittinggi.
Semuanya, berupa amal-amal khairat yang nyata dan telah dinikmati oleh umat keberadaannya.

Pada pertengahan tahun 1968, selama hampir satu bulan Bapak DR. Mohamad Natsir selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berkeliling di Sumatera Barat (15 Juni – 15 Juli 1968).

Beliau berkeliling mendatangi jama’ah hampir pada setiap daerah tingkat II.
Sejak dari Pesisir Selatan hingga Pasaman, mulai dari Padang hingga Talawi dan Sijunjung.

Menghidupkan kembali jiwa yang telah diam hampir mati dan mata yang kuyu tanpa harapan.

Melalui taushiah yang amat berharga, secara berangsur tetapi pasti, harapan umat kembali menggeliat hidup menyambut himbauan “pemimpin pulang”.

Bapak DR. Mohamad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, adalah bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”.

Beliau termasuk pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, disamping telah lama terpilih sebagaii Wakil Presiden Muktamar Alam Islami.
Beliau juga adalah bekas Ketua Umum Partai Masyumi yang telah dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960.

Lepas dari segala atribut yang melekat pada diri Bapak DR. Mohamad Natsir itu, beliau diranah Minang ini adalah ninik mamak, yang bergelar sako Datuk Sinaro Panjang, dari Maninjau.

Walaupun beliau dilahirkan ke bumi di dusun kecil Jembatan Berukir Batu Begirik Alahan Panjang Desa Tigo Sepakat Lembah Gumanti di Kabupaten Solok.

Dalam setiap pertemuan, baik di tanah lapang ataupun di ruang-ruang sekolah dan masjid-masjid yang Beliau datangi, selalu berpesan supaya setiap pribadi pemimpin selalu memiliki sikap teguh (istiqamah) dalam pendirian.

Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya.
Mesti kembali lagi berjuang menghidupkan jiwa umat.
Agar jiwa umat selalu terjaga ruhnya tetap hidup. Bapak DR. Mohamad Natsir, telah pula mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis, tentang kriteria pemimpin yang pulang itu.

“Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan.
Dia pulang dengan kepala tegak,
membawa hasil perjuangan.”

Maka dia harus bersyukur kepada Allah,
dengan selalu berupaya tudak pernah berhenti menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya.

Dia, sebagai pemimpin tidak boleh berhenti.

Ada pula, pemimpin yang senyatanya,

“Dia pulang dengan kepala tegak,
tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran),
atau lebih dari itu,
riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan
bagi para Mujahidin seterusnya”.

Seorang pemimpin penjuang, semestinya memiliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya.

Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.

Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin harus menyerahkan jasadnya.
Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya.

Dalam konsep pembinaan umat yang selalu diketengahkan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir adalah, untuk membina umat mesti awalnya di-dahului oleh keinginan dan kemampuan pemimpin untuk membina sikap diri pribadinya.
Karena, pemimpin akan tampil sebagai panutan dari masyarakat yang akan dipimpinnya. Walau kenyataannya pemimpin tersebut harus berkorban demi umat yang dipimpinnya.
Karena itu, ada pemimpin,

“Dia pulang.
Tapi yang pulang hanya namanya.
Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad.

Sebenarnya, di samping namanya,
juga turut pulang ruh-nya yang hidup
dan meng-hidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim,
serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”.

Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah.
Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, ber-lindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.

Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati.

Pemimpin sedemikian, kata Bapak DR. Mohamad Natsir, serupa dengan;

”Dia pulang dengan tangan ke atas,
kepalanya terkulai,
hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul.
Yang pulang itu jasadnya,
yang satu kali juga akan hancur.

Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang.
Entah pabila umat itu akan bangkit kembali,
mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti.
Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”

Namun, ada juga pemimpin pejuang
yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya.
Mereka adalah para nakhoda pembawa bahtera.
“Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.
Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah.
Ia belum pulang.”

Berpirau artinya maju.
Maju menyongsong angin dan arus.
Waktu berpirau, perahu dikemudikan sedemikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak me-mukul tepat depan.
Tetapi menyerong.
Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan.
Tidak berkisar.

Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya.
Walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang..

Pesan ini disampaikan beliau sudah lama sekali.
Tetapi selalu, dan selalu terasa baru.
Diketengahkan dalam satu ungkapan indah, pada ketika yang panjang di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid 1381.

Tepatnya, setahun setelah Masyumi membubarkan diri.
Demikianlah suatu sunnatullah.
Bahwa di pundak pejuang ada beban yang mesti dipikul dan untuk selalu di ingat oleh pemimpin pejuang.

Ranah Minang di kala itu sedang diuji coba oleh misi baptis melalui pendirian Rumah Sakit Baptis di Bukittinggi dengan iming-iming membantu kesehatan penduduk yang lemah.

Dukungan beberapa oknum pihak penguasa diantaranya kalangan tentara telah memberi angin seakan program Baptis itu tidak mungkin dihalangi.

Alasannya, menurut mereka yang mendukung, sangat sederhana, karena pihak Baptis berusaha dalam “menyiapkan sarana pokok yang memang di-butuhkan masyarakat yang tengah sakit badan maupun perasaan”.

Ninik mamak alim ulama sudah bicara.
Namun gaungnya ibarat sipongang dalam ngarai.
Seakan tak ada yang mau menyahuti.

Kata tak berjawab, dan gayung tak pernah disambut.
Artinya, dianggap sebagai angin lalu.

Tidak hanya di Bukittinggi.
Bahkan gerakan Kristenisasi “Salibiyah” terasa juga di daerah-daerah pinggiran seperti Pasaman Barat (Kinali).
Daerah yang sejak tahun 1950 telah diberikan hak ulayatnya oleh ninik mamak Pasaman kepada Pemerintah Daerah Sumatera Tengah, menjadi tempat bermukimnya para transmigrasi.

Ibarat pepatah yang menyebut dalam kata bersayap menumpang riak dengan gelombang di tengah alunan pesatnya pembangunan dan pengembangan daerah-daerah, secepat itu pula gerakan kristenisasi menyertai. Na’udzubillah.

Kondisi ini terasakan pahit oleh masyarakat yang merasa dirinya kalah.
Dan selalulah terlihat sikap putus asa berpangku tangan dengan mengambil posisi lebih baik mengalah.

Bila ini diteruskan bisa-bisa terjadi jalan di alih orang lalu atau tepian dialih orang yang pergi mandi.
Bahayanya, masyarakat jadi dongkol dan ber-pangku tangan.
Suatu pengalaman pahit, tetapi sangat berharga didalam mengembalikan sikap arif dan penuh kehati-hatian.

Karena itu khusus untuk daerah Sumatera Barat kehadiran Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di sambut sebagai suatu wadah tempat umat menggantungkan harapan.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia diharapkan sebagai badan “yang akan mampu menjawab tantangan”, karena dianggap sangat istiqamah sebagai kekuatan anti Komunis di Indonesia.

Keberadaanya diterima oleh kalangan tua dan muda.
Suatu kekuatan baru dalam memelihara kerukunan umat dan kejayaan agama.

Hanya sebahagian kalangan non Islam yang amat meragukan keberadaan Dewan Dakwah.
Mereka cemas seakan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan menggerakkan kembali pergolakan di daerah.
Mencungkil kembali luka lama yang mulai bertaut.

Namun Bapak DR. Mohamad Natsir menasehatkan gubahlah dunia dengan amalmu dan hidupkan dakwah bangun negeri

Jadi, programnya jelas,
“menghidupkan dakwah membangun negeri”.



CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir, dalam Dakwah Komprehensif, bagian “Hidupkan Dakwah Bangun Negeri” oleh H.Mas’oed Abidin

2 pemikiran pada “Hidupkan Dakwah Bangun Negeri Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s