Gali dari Ajaran Islam, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Gali Dari Ajaran Islam

TAUSIAH DR Mohamad Natsir yang sangat kuat relevansinya dengan keadaan Indonesia saat ini adalah yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia.

Pak Natsir dengan tegas menyatakan bahwa pembangunan itu harus dengan menggali ajaran Islam.
Namun dalam tausiahnya sosok keminangkabauan Pak Natsir muncul dalam warna yang cukup pekat.
Hal itu tentu saja tidak mengherankan, karena budaya masyarakat Minangkabau memang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam.

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju, demikian disampaikan Pak Natsir. Antara lain:

1. Keseimbangan
Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ;
a) “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

b) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”. (Hadist).

2. Self help
Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”, dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain :
c) “Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi ke hutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”. (Hadist).
d) Diperingatkan bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah , bahwa “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (keingkaran)” (Hadist).

3. Tawakkal
Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa;
f) Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak. (Khalif Umar bin Khattab).

g) “Bertawakkallah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. (Atsar dari Shahabat).
Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang.
Tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.

4. Kekayaan Alam
h) Diarahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.
Diarahkan pandangan dan penelitian kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna, menghasilkan buah bermacam rasa.
” Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (QS.14, Ibrahim : 32).

Kepada alam hewan dan ternak serba guna dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.
“Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu, padanya ada bulu (kulit) yang menghangatkan, dan berbagai-bagai manfa’at, dan sebagiannya kamu makan” (QS.16, An Nahl : 5).

Kepada perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.
“Dan Dia telah menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu dimudahkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang memahaminya.
Dan Dia menundukkan pula apa-apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mau mengambil pelajaran” (QS.16, An Nahl : 12-13).

Kepada lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah).

Demikian itu, tiada lain supaya manusia pandai bersyukur.
“Ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ” (QS.14, Ibrahim : 7).

Kepada bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.

5. Time – Space – Consciousness

i) “Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingannya waktu, yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.

j) “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.
” dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba’ : 10-11).

k) “Dibandingkan kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah ini”, dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit” .
Karena kalau dihitung segala ni’mat Allah, tak akan mampu manusia menghitungnya.
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat m,enentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

Dan Dialah Allah yang telah menjadikan bumi mudah untuk kamu gunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepadaNyalah tempat kamu kembali.
“Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

6. Jangan Boros
l) “Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan”.
“Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS..7, Al A’raf : 31)

Kalau disimpulkan, alam di tengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan oleh manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada Ilahi. Manusia pun harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Semua ini adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.

Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, tak dapat tidak merupakan sumber dorongan bagi kegiatan penganutnya, juga di bidang ekonomi, yang bertujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).

“Hasil yang nyata” dari dorongan-dorongan tersebut tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa penganutnya itu sendiri, kepada tingkat kecerdasan yang mereka capai dan kepada keadaan umum di mana mereka berada.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:

1). Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh
Ka karang rancam ma-aruih
Ka pantai ombak mamacah
Jiko mangauik kameh-kameh
Jiko mencancang, putuih – putuih
Lah salasai mangko-nyo sudah

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Bila mengerjakan sesuatu tidak menyisakan kelalaian ataupun keengganan. Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak akan berakhir sebelum benar-benar sudah.

2). Mempedulikan tata cara atau prosedur:Senteng ba-bilai,

Singkek ba-uleh
Ba-tuka ba-anjak
Barubah ba-sapo

Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito,

Adat hiduik tolong manolong,
Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang,
Karajo baiak ba-imbau-an,
Karajo buruak bahambau-an,

Panggiriak pisau si rauik,
Patunggkek batang lintabung,
Salodang ambiak ka nyiru.
Setitiak jadikan lauik,
Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diharungi. Seiring bidal dengan pantun;

Biduak dikayuah manantang ombak,
Laia di kambang manantang angin,
Nangkodoh ingek kamudi,
Padoman nan usah dilupokan.

Pawang biduak nan rang Tiku,
Pandai mandayuang manalungkuik,
Basilang kayu dalam tungku,
Disinan api mangko hiduik.

Perubahan cepat yang sedang terjadi dapat saja membawa akibat kepada perilaku masyarakat, praktek pemerintahan, serta perkembangan norma dan adat istiadat bila tidak diarifi dengan mendahulukan kebersamaan.

Musyawarah adalah inti ajaran Islam.
Jangan umat dibiarkan hidup dengan meninggalkan prinsip musyawarah.
Hal tersebut akan sama dengan menyerahkan mayat ke tangan orang yang memandikannya. Hidupkan lembaga dakwah sebagai institusi penting dalam masyarakat dengan mengutamakan sikap arif, bijak dan hati-hati.

Sikap hati-hati sangat dituntut dipunyai oleh setiap Muslim.
Sesuai dengan ajaran syarak atau agama Islam yang hanif.
Kehati-hatian dalam bertindak yang didahului kejernihan berfikir, adalah pintu awal meraih keberhasilan dalam segala hal.

Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tanggo.

Pemahaman adat bersendi syarak dan syari’at yang bersendi kepada Kitabullah mesti ditanamkan, agar tidak menjadi sasaran empuk konspirasi dan perebutan kepentingan internasional.

Umat Islam mesti hidup dengan kecerdasan (rasyid) yang berpegang kuat kepada ajaran Alquran dan sunnah Rasul Allah.

Sadarilah bahwa Allah telah menghiasi hati setiap muslim dengan iman, menanamkan kebencian kepada kufur, dosa dan maksiyat.

Maka, umat yang besar jumlahnya di negeri ini akan menjadi lebih kuat, dengan kecerdasan dan iman yang kokoh dalam ukuran keutamaan dan nikmat anugerah Allah.

Handak kayo badikik-dikik,
Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji,
Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari,
Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.

Moralitas hidup berbangsa akan tampak dalam cinta persaudaraan dan kuat persatuannya.

Dek sakato mangkonyo ado,
Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh,
Dek padi mangkonyo manjadi.

Artinya, ada sikap jiwa atau karakter umat yang mesti dibangun.
Pedoman menempuh kehidupan dikiatkan dengan arif bertindak dan memilih.

Hendak kaya, badikit-dikit (hemat)
Hendak tuah, bertabur urai (penyantun)
Hendak mulia, tepati janji (amanah)
Hendak lurus, rentangkan tali (mematuhi peraturan)
Hendak beroleh, kuatlah mancari (etos kerja yang tinggi)
Hendak nama, tinggalkan jasa (berbudi daya)
Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)
Karena sekata, makanya ada (rukun dan partisipatif)
Karena sekutu makanya maju (memelihara mitra usaha)
Karena emas semua kemas (perencanaan masa depan)
Karena padi makanya manjadi (pelihara sumber ekonomi)

Bumi Allah terbentang luas.
Sangat diperlukan sikap bersungguh-sungguh untuk sanggup mengolah alam dengan kerajinan dan kepintaran.
Tidak mengherankan, bila tantangan berat di manapun akan mampu diatasi.
Tidak memilih pekerjaan, karena motivasi hidup tinggi, karena mencari redha Allah. ]

Dasar utamanya setiap usaha mencari rezeki adalah halal menurut ketentuan syara’.
Dengan cara itu, penghasilan akan meningkat.
Kesejahteraan akan terbuka luas.
Peluang usaha dan mobilitas horizontal akan terjaga dengan kebersamaan.

Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak
Nan bancah jadikan sawah,

Nan munggu pandan pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak.

Artinya, pemanfaatan alam (lahan) yang sangat terbatas di ranah ini, akan menjadi lebih terasa bermanfaat apabila mampu di tata dengan baik serta menempatkan sesuatu menurut keadaan dan musim, diseiringkan dengan tidak merusak alam lingkungan akan mendatangkan hasil yang lebih baik untuk kemakmuran dalam negeri.

Alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang di nan rumik.

Latiak-latiak tabang ka Pinang
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo.

3). Berorientasi kepada kemakmuran

Rumah gadang gajah maharam,
Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja,
Sabuah si bayau-bayau,
Panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau Lauik,
Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan.

Manjilih di tapi aie,
Mardeso di paruik kanyang.

4). Bersikap hati-hati dan penuh perhitungan:

Ingek sabalun kanai,
Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai
Agak-agak nan ka-tingga.

Teranglah sudah, bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui di sini satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha pembangunan itu.

Intinya:

Lah masak padi ‘rang Singkarak,
masaknyo batangkai-tangkai,
satangkai jarang nan mudo,
Kabek sabalik buhus sontak,
Jaranglah urang nan ma-ungkai,
Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.
Melupakan atau mengabaikan ini, mungkin lantaran menganggapnya sebagai barang kuno yang harus dimasukkan ke dalam museum saja, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian.
Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Membangun kesejahteraan dengan bertitik-tolak pada pembinaan unsur manusianya, sehingga menjadi homo ekonomikus, dapat dimulai setiap waktu.
Tidak perlu menunggu sampai datangnya kredit luar negeri, atau kapital asing yang akan mendirikan pabrik-pabrik modern di negeri kita lebih dulu.
Tidak, sebab:
Dia dimulai dengan apa yang ada.
Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.

Ibarat orang mengaji dia memulai dari alif.
Sesudah itu baa, kemudian taa, dan seterusnya.

Selangkah demi selangkah – step by step – thabaqan ‘an thabaq.
Masalah perilaku umat mesti dibimbing oleh ajaran (syari’at) agama yang haq.
Sesuai dengan syarak mengata, maka adat atau perilaku memakaikan.

Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syarak kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi.

Artinya, apabila adat dan syarak tersusun dengan baik, maka masyarakat akan tenteram (bumi senang, padi menjadi). Kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi aman dan damai serta perekonomian masyarakat akan berkembang.

Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo luhak rang mangatokan.
Adat jo syarak jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban.

Maka membangun umat harus dimulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia. Kepada kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam dirinya masing-masing, yakni :
observasinya yang bisa dipertajam
daya pikirnya yang bisa ditingkatkan
daya geraknya yang bisa didinamiskan,
daya ciptanya yang bisa diperhalus,
daya kemauannya yang bisa dibangkitkan.

Dia mulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan-kepercayaan kepada diri sendiri.

Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help – kata orang sekarang – sesuai dengan peringatan Ilahi.
“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….”

Cukupkan dari yang ada .
Telapak tangan.

Di sini kita melihat peranan hakiki dari sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani.

“Jangan berhenti tangan mendayung,
nanti arus membawa hanyut” …..

Begitu bunyi suara hati para mujahid dakwah.

Itu pula yang ada di belakang hasil lahiriyah yang dipamerkan dalam setiap amalan sesorang itu.
Mereka masih mengaji alif-baa-taa.
Kemauan mereka akan melanjutkan kaji khatam.
Memang pada permulaan, terasa lambat kaji (pelajaran,ed.) beralih, dari reka ke reka berangsur-angsur.

Di satu saat kaji self help (menolong diri sendiri) beralih kepada kaji mutual help, tolong-menolong.
Bantu-membantu, dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun kata ahli agama. Sesuai dengan anjuran Ilahi :
” dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS.5, Al Maidah : 2).

Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan.

Dari taraf ini berangsur-angsur kepada take-off kata orang sekarang.
Dimana ibarat mesin sudah hidup, baling-baling sudah berputar pesawatnya mulai bergerak, meluncur di atas landasan, naik berangsur-angsur semakin lama semakin tinggi.

Kalau sudah demikian maka akan sampailah ke taraf ketiga, yaitu taraf yang biasa kita namakan selfless help yaitu dimana kita sudah dapat memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan apa-apa.

Itulah taraf ihsan yang hendak kita capai.
Sesuai dengan maqam yang tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup duniawi ini oleh seorang Muslim dan masyarakat Muslimah.

Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi;
“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

Satu kemajuan Insya Allah akan terwujud dengan semboyan:
“Mulai dengan melatih diri sendiri, mulai dengan alat yang ada, mencukupkan dengan apa yang ada. Yang ada itu adalah cukup untuk memulai”.

Kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau infaq fii sabilillah dari rezeki yang telah diberikan kepada kita, tanpa mengharapkan balasan jasa.
“Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

Itu tujuan yang hendak kita capai.
Begitu khittah yang hendak kita tempuh.
Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil.
Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah”.
Dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya.

DR Mohamad Natsir memperingatkan pula tentang kekuatan moral yang dimiliki:
” Saudara telah menanamkan nawaitu dalam diri Saudara masing-masing.
Untuk membina umat dalam masyarakat desa yang sudah Saudara-Saudara ketahui pula kekuatannya. Baik kekuatan, ataupun kelemahan di dalamnya.
Saudarapun telah bersama-sama dengan mereka mengalami suka dan duka, manis dan pahitnya.”

Begitu Pak Natsir mengingatkan di daerah yang dikunjungi beliau selaku ninik mamak masyarakat Sumatera Barat.

Pernah di tahun 1946, setahun sesudah proklamasi, rombongan kami (Pak Natsir, ed.), disambut di Bukittinggi dengan pantun :

“Mandaki ka gunung Marapi,
Manurun ka Tabek Patah,
Nampak nan dari Koto Tuo,
Lah barapo kali musim baganti,
Lah urang awak bana nan mamarintah,
Nasib kami baitu juo”.

Maka jawablah pantun itu dengan “amal”.
Dengan Syi’ir posisi kucuran keringat dan perasan otak.
Kalau kadang-kadang hendak berpantun juga, melepaskan lelah, jawabkan saja,

Ba-ririk bendi di Indarung
Mandaki taruih ke Tinjau Lauik
Jan baranti tangan mandayuang,
Nanti aruih mambao hanyuik”.

Bismillah …..

Kembangkan layar bahtera kecil saudara-saudara menuju pulau harapan.
Kami do’akan bersama-sama ;

Tukang nan tidak mambuang kayu,
Nan bungkuak kasingka bajak,
Nan luruih katangkai sapu,
Satangkok kapapan tuai,
Nan ketek pa pasak suntiang

Anak urang Padang Mangateh,
Nak lalu ka Payokumbuah,
Namun nan singgah iko ka ateh,
Bijo barandang nan ka tumbuah.

Mamutiah cando riak danau,
Tampak nan dari muko-muko,
Batahun-tahun dalam lunau,
Namun nan intan bakilek juo.

Bekerjalah ….. ,
Bismillah …… –

“ Dan kalau engkau coba menghitung jumlah nikmat Allah,
niscaya engkau tidak mampu menjumlahkannya …. “

CR. Bagian dari Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif oleh H.Mas’oed Abidin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s