Berpirau di tengah Badai, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

BERPIRAU DI TENGAH BADAI
DALAM PELAYARAN YANG PANJANG,
ADA KALANYA, NAHKODA HARUS BERPIRAU

Bapak Mohamad Natsir mengibaratkan perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik sebagai sebuah pelayaran melintasi samudra.

Sudah tentu pelayaran ini tidak mudah.
Dalam keadaan demikian peranan pemimpin yang di-ibaratkannya dengan seorang nakoda tidak mungkin ditawar-tawar lagi.

Namun seorang nakoda hanya akan berhasil bila terjalin kerjasama yang erat dengan para awak kapal, sang rakyat.

Bapirau, suatu kearifan membawa umat yang tengah menghadapi tiupan angin dan tekanan.
Terutama di saat baru terlepas dari cengkeraman badai.
Kearifan bapirau ini perlu dipunyai ketika umat sedang berada di tengah intimidasi Islamofobia.

Dalam bapirau, nakhoda, pemimpin pelayaran, tidak boleh meninggalkan kemudi.
Nakhoda harus mampu menyelamatkan bahtera didalam pelayaran.

I. Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus.

II. Waktu berpirau, perahu dikemudikan sedemikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat di bagian depan, tapi menyerong.

III. Adapun haluan pelayaran tetap ke arah tujuan yang telah ditentukan, tidak bergeser.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang sedang berpirau :

1. Angin dan gulungan ombak tidak disongsong tepat terpampan. Akan tetapi arah perahu sekali-kali tidak boleh demikian rupa sehingga mudah terbelok melintang sejajar dengan gulungan ombak.

Satu kali letak perahu begitu, dia akan terbalik digulung gelombang.
Kalau ada satu ketika gelombang terlampau besar, arus terlampau deras, angin badai berputar-putar, lebih baik sauh dibongkar, layar diturunkan, berhenti di tempat sebentar, menunggu badai reda.
Tidak ada badai yang tak pernah reda.

Lebih banyaklah sementara itu taqqarub kepada Ilahi Rabbi, kepada Khaliq yang menjadikan segala sesuatu, yang termasuk angin dan arus itu.
Bagi seorang Muslim ikhtiar dan doa memang selalu sejalan berjalin, tidak boleh dipisahkan.
Ini lebih baik daripada melepaskan kendali dari tangan, membiarkan perahu terombang ambing, menurutkan kemana angin dan arus menderas.

2. Kemudi tidak boleh lepas dari tangan.
Mata juru mudi dan nakoda tidak boleh lepas dari mengawasi pedoman untuk menentukan arah, mengawasi kemana-kemana jurusan angin dan arus, mengawasi bintang yang jauh di langit, untuk menentukan tempat agar jangan keliru memegang kemudi.
Disangka awak masih berpirau, kiranya haluan terlongsong berkisar, sulit pula membetulkannya kembali.

Awak perahu tidak boleh berhenti mendayung.
Berhenti mendayung, sauh tidak dipasang, berarti hanyut.
Sebab angin dan arus tidak menimbulkan suasana lesu.

Suasana masa bodoh, atau panik, akan sukar membangkitkan semangat mereka mendayung kembali.

Mereka harus selalu asyik dan diasyikkan.
Jika dayung besar, sesuatu waktu dirasakan terlampau berat, tukar dengan dayung yang lebih ringan yang sesuai dengan tenaga mereka waktu itu.
Namun berdayung, terus berdayung.

Agar jiwa mereka tetap besar, harapan mereka tidak patah. Hati mereka harus terus dirawat.

Seorang nakoda, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa berlayar sendiri. Kekuatannya terletak pada tenaga anak perahu.

Di waktu badai, tidak bolehlah dia mendandani dirinya sendiri.
Bila perlu dia juga harus bersedia dan bisa menjadi juru bantu, turut mendayung, menimba air, memanjat tiang memasang layar.

Nakoda tidak boleh terlepas dari mata anak perahu.
Mereka ini tidak boleh mendapat atau mendapat kesan, bahwa tempat kemudi kosong, tidak ada yang menunggui. Ini bisa menimbulkan putus harapan dan suasana panik.

Dalam keadaan seperti itu mudah sekali anak perahu yang sedang kehausan lantaran tidak sabar atau lantaran kejahilan mengorek dinding perahu supaya lekas-lekas mendapat air.

Padahal airnya air bergaram, tidak dapat diminum melepaskan haus; sedangkan perahu bisa tenggelam lantaran berlobang dan membawa tenggelam semua penghuni perahu bersama-sama; bukan karena arus dan badai, tetapi karena nakoda yang lalai.

3. Tenaga berpirau yang pokok ialah tenaga dayung.

Nakhoda yang mahir, di samping itu dapat mempergunakan angin yang datang menyerang dari samping, penambah tenaga dayung.

Kemahirannya terletak dalam memasang layar, dalam menentukan, mana layar yang harus dipasang mana yang harus diturunkan; kemana kemudi harus ditekankan, agar tenaga angin seperti itu dapat diambil manfaatnya, dengan tidak dikuatirkan akan membelokkan arah.

4. Berlayar bukan asal sekedar berlayar.
Harus tentu-tentu tempat yang dituju.
Harus tentu sifat muatan yang dibawa.
Adapun bendera dan panji-panji, besar pula manfaatnya sebagai lambang dari tujuan yang hendak dicapai dan dari isi muatannya dibawa.
Tak layak lagi bahwa simbolik mengandung kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam pada itu, kadang-kadang di musim darurat, mengibarkan bendera lambang itu menimbulkan kesulitan.
Dalam keadaan yang semacam itu ijtihad Nakodalah yang menentukan, di suatu keadaan, manfaat dan mudharatnya mengibarkan lambang di tiang tinggi itu.

Yang perlu dijaga ialah :
a) Jangan lakukan “tasyabbuh”.
Tasyabbuh yang barangkali tadinya dimaksudkan untuk menyamar, akan tetapi kesudahannya membingungkan anak perahu sendiri, dan menghancurkan kepribadian mereka.

b) Jangan ada “talbisul haq bil bathil”, mencampur-adukkan muatan yang baik dengan yang buruk, nanti seluruh muatan jadi rusak.

c) Anak perahu dan para penumpang semuanya harus dilatih.
Nakhoda pun tetap melatih diri, sehingga mereka bisa bergerak ibarat ikan berenang di laut, terus menerus dikelilingi air asin, tetapi dagingnya tetap tawar dan segar.

5. Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk mencapai sesuatu tujuan yang bernilai tinggi.
Tidak ada pelayaran tanpa resiko.
Soalnya bukanlah ada resiko.
Soalnya ialah mengambil resiko yang dapat dipertanggung-jawabkan, setelah dibandingkan dengan tenaga yang ada, dan dengan nilai yang hendak dicapai.
Bagaimana orang bermain di pantai kalau tidak ikut kepercikan air.

Nakhoda selalu perlu ber-ijtihad, perlu mempergunakan daya ciptanya teman seperahu, untuk menghadapi keadaan sekelilingnya sewaktu-waktu.

Nakhoda harus menyadari harinya tidak berhenti.
Harinya terus menuju ke “laruik sanjo” (larut senja).

Di samping itu, siapa yang tadinya “Rijalul ghad” (pemuda kemarin) sedang berkembang menjadi “rijalul yaum” (pemimpin hari ini).

Hutang nakhoda ialah membimbing mereka itu, melapangkan jalan bagi mereka, melatih mereka sanggup bertanggung jawab dan pengalaman pahit.

6. Beberapa rangkuman ayat dan hadist, semoga dapat menjadi pegangan, dalam meneruskan “pelayaran” dan “berpirau” bila dipahamkan dan diambilkan api yang terkandung di dalamnya.

Dengan ini sebagai landasan berpikir, silahkan ;
Jangan gugup,

Bismillah :
Layarkanlah terus perahu ini.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.

Begitu pula semestinya, halnya para Da’i, mereka tidak boleh meninggalkan umat yang sedang dibinanya.

Kehadiran Dewan Da’wah diharapkan umat jadi wadah tempat penampung dan penyalur aspirasi umat.
Terutama di kalangan keluarga besar Bulan Bintang.

Dewan Da’wah dianggap sebagai motor penggerak dakwah dalam menghidupkan Dakwah Islamiyah secara nyata.
Apalagi, sesudah melewati masa cukup panjang menghadapi segala gerakan sistematis dari kalangan tidak menyenangi dakwah Islam, yang mematikan ruh dakwah itu.

Dalam rentang waktu satu dasawarsa (1957-1967), gerak dan jiwa Dakwah Islamiyah telah sengaja dimatikan.
Setidaknya dipersempit jalannya.

Kehadiran Dewan Da’wah ditunggu pembuka jalan agar dakwah bergairah kembali. Walaupun lembaga dakwah ini hanya berbentuk sebuah Yayasan dan nyatanya bukan pula suatu organisasi politik.

Di tengah perkembangan politik bangsa yang masih jauh dari keterbukaan dan transparansi, keberadaan Dewan Da’wah disambut umat dengan gembira.

Ada keyakinan berdasarkan amatan realita objektif.
Umat mengerti tengah berlangsung satu perkembangan politik baru.
Berubah dan reformasi.
Dewan Da’wah diharap berperan antisipasi.
Inilah harapan umat.

Persoalan menyangkut problematika kehidupan sosial politik yang tampil pesat berkembang dalam gelombang pergumulan pemikiran ghazwul fikry, memerlukan jawaban segera.
Saat itu peran Dewan Da’wah amat diperlukan. 

Perkembangan politik setahun sesudah peristiwa 30 September 1965, melahirkan pengharaman seluruh aktifitas Komunis di Indonesia, berlanjut dengan pembubaran PKI di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut produk hukum sesuai ketetapan MPRS ini, melahirkan maraknya kegiatan dakwah Islam sebagai satu konsekwensi logis semata.

Ramainya tabligh-tabligh di masjid-masjid di seluruh tanah air menjadi fenomena awal kebangkitan dakwah Islamiyah ketika itu.

Gejala ini sebenarnya akibat pengekangan terhadap Dakwah Islamiyah selama bertahun-tahun di masa Orde Lama yang sulit, di mana banyak putra terbaik bangsa yang telah menjadi korban dan sebahagian besar pemimpin umat terpaksa mesti berada di dalam bilik-bilik tahanan politik.
Karena dianggap berlawanan arah dengan penguasa yang memerintah masa itu.

Ketika pemerintahan baru tampil yang diawali dengan kejatuhan Bung Karno, maka satu demi satu pemimpin umat mulai menghirup udara bebas.

Umat mulai mengamati dengan terang bahwa sedang berlaku satu kekuasaan baru secara pelan.

Kekuasaan yang tumbuh dari teriakan demonstrasi kesatuan-kesatuan aksi, KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), KAMSI (Kesatuan Aksi Muslimat Seluruh Indonesia) dan lain-lain, dengan dukungan ABRI dalam satu ikatan idea anti komunis dan Tritura (Tri = tiga Tuntutan Rakyat).

Serta merta Umat Islam kembali menjadi kekuatan pelopor.
Umat Islam kembali tampil di garis depan.

Umat Islam kembali berperan menjadi penggerak secara aktif membawa bangsa ke arah perubahan.
Orde Baru tampil dengan beban harapan-harapan.
Satu pemerintahan yang diharapkan jauh berbeda dari penguasa sebelumnya.

Walau ternyata kemudian harapan-harapan itu masih jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Perkembangan politik cepat berubah.
Perlu telaah dan kajian.
Umat mengharap sungguh memperoleh penafsiran secara benar dan jernih.

Penafsir akan memberi arah dan garis perjuangan umat Islam masa itu secara lurus, sangat diharapkan datang dari pemimpin yang telah teruji kecakapan dan kejujurannya.
Mohamad Natsir adalah satu sosok yang diterima umat sebagai “khadimul ummah”.

Dalam menjelaskan langkah dakwah yang ditempuh, Mohamad Natsir sering berucap: “Dahulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui dakwah.

Adalah sebuah keniscayaan sejarah bahwa para pemimpin umat yang terkenal teguh istiqamah, dalam idiil dan moril-spirituil, yang sertamerta perilakunya dibuktikan dengan kesetiaan mengawal umat dalam kiprah dan kejujuran politik yang teruji pula, maka dengan sendirinya umat akan mengikuti ajakannya.

Sebagai figur peribadi dengan watak pemimpin yang dipercaya, dan terpuji inilah, Mohamad Natsir diberi beban mengawal Dewan Da’wah sejak mulai langkah pertamanya.

Kondisi dan situasi sulit ini, sulit pula menyangkal, bila umat beranggapan, Dewan Da’wah adalah pelanjut partai politik Islam.

Umat langsung melihat dan merasakan sendiri kehadiran pimpinan Mohamad Natsir di dalam Dewan Da’wah, seketika itu sebagai pelanjut harakah politik Islam yang sudah dirintis sejak lama oleh para pemimpin umat ini.

Kenyataan pula para pemimpin umat itu, di masa lalu, sebelum masa rejim orde lama, memang pemimpin partai politik Islam.
Tegasnya para pemimpin Masyumi.

Masa kini, pemimpin umat itu memimpin Dewan Da’wah.
Tentu, tidak salah bila Dewan Da’wah oleh umat disamakan dengan Masyumi, pelanjut keluarga besar Bulan Bintang.

Formalnya, umat muslimin Indonesia secara historis memang pendukung dan pencinta etika politik yang telah dilakukan oleh para pemimpin Masyumi sejak dulu, dengan mengedepankan prinsip musyawarah, rasa kebangsaan, ikatan tali persatuan dan anti penindasan.

Etika politik yang berkesinambungan diwarisi sejak Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), Jong Islamiten Bond, Majlis Islam Tinggi, Syarikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Perti dan Nahdliyyin.
Semangat dan etika politik pemimpin Masyumi semasa itu, dipandang sebagai mewakili semangat keluarga besar partai berlambang Bulan Bintang itu.

Dalam sejarah perpolitikan nasional di arena berdemokrasi secara egaliter, program perjuangan keluarga besar Bulan Bintang dalam kapasitas intelektual para pemimpinnya telah teruji.
Para pemimpin teras Masyumi masa lalu itu, dikenal sebagai ulama intelektual.

Secara politik, umat muslimin di Indonesia memang masih mewarisi semangat pemimpin Masyumi masa lampau itu.
Dalam perkembangan perpolitikan partai-partai politik Islam hari ini, kurang tampak mewarisi aspek-aspek sosial, budaya dan pendidikan politik masyarakat yang diwariskan oleh pemimpin politik masa lalu, yang mempunyai sikap kenegarawanan dengan ketegaran teruji dibalut integritas pribadi terpuji.

Para pemimpin senior umat seperti Mohamad Natsir, Mohammad Roem, H. Zainal Abidin Ahmad, Prawoto Mangkusasmito, HAMKA, Syafruddin Prawiranegara, KH Abdul Ghafar Ismail, KH Isa Ansyari, dan KH Fakih Usman dikenal ulama intelektual yang disegani dalam lingkup nasional dan internasional.

Di level regional, di Jawa Timur ada tokoh-tokoh seperti H. Soleh Umar Bayasut, KH Turchan Badrie dan jauh sebelumnya tampil KH. Hasyim Asy’ary.
Di Jambi dikenal MO. Bafadhol.
Di Sumatera barat dikenal pula Buya A.R. Soetan Mansoer, HMD Datuk Palimo Kayo.
Di Riau dikenal H. Bakri Sulaiman, H. Zaini Kunin, Soeman Hs.
Di Sumatera Utara, ada Bahrum Djamil SH dan kawan-kawan.

Di seluruh Nusantara, bertaburan pemimpin pejuang umat Islam tersebut.
Mereka kebanyakannya adalah para ulama yang cukup disegani.
Dan pada saat keluar dari genggaman orde lama, mereka berkiprah di bidang dakwah.

Kapasitas semacam itu, kurang dimiliki oleh jajaran ormas atau partai politik Islam di Indonesia di era reformasi 1999, di tingkat pusat maupun di daerah.
Seakan umat muslimin Indonesia hanya mewarisi sisa-sisa simpati politik yang pernah muncul di kalangan partai Masyumi, keluarga besar Bulan Bintang.

Memprihatinkan sekali ketika ada keinginan mewarisi kelompok besar yang dibuat oleh para intelektual Masyumi, tetapi mulai terjauh dari lingkaran partai-partai umat Islam Indonesia.
Hal itu terjadi karena keterpasungan demokrasi masa lalu yang terpimpin dan monoloyalitas. 

Diterimanya pemimpin Dewan Da’wah menjadi ikutan oleh banyak umat, adalah satu keniscayaan sejarah.
Jika Dewan Da’wah selalu pula dicurigai oleh kalangan yang phobi terhadap Islam, adalah suatu keniscayaan yang logis pula.

Ungkapan Dr. Tarmizi Taher mantan Menteri Agama R.I. Kabinet Pembangunan VI menyebutkan,
Natsir telah mencoba melakukan pendekatan politik untuk memperjuangkan Islam atau memajukan umat dan bangsa.
Sejak bermulanya pemerintahan Orde Baru, Natsir dengan secara sadar melakukan pendekatan lain yang kita sebut sebagai “pendekatan kultural”.
Di sini yang menjadi titik tekan perhatian dan kegiatan beliau adalah dakwah dan pendidikan
” .

Gagasan dan gerak Dewan Da’wah oleh Tarmizi Taher disebutkan, “Dewan Da’wah merupakan salah satu organisasi perintis yang mengkader dan mengirim para da’i sampai ke tempat-tempat terpencil sekalipun, di berbagai pelosok Nusantara untuk memperkuat aqidah dan ibadah umat muslimin” .

Memang gagasan musyawarah 26 Pebruari 1967, sejak awal bertitik tolak dari pemikiran penguatan dakwah.
Pemikiran para ulama dan zu’ama menyimpulkan ;

Pertama, kegiatan dakwah adalah kontinyu.
Sejak masuknya Islam ke Indonesia, sampai waktu ini, dakwah adalah kegiatan sambung bersambung, dari generasi ke generasi.
Baik secara individual maupun organisasi, baik formal maupun non-formal.

Kedua, sesuai perkembangan zaman.
Maka teknik dan materi dakwah senantiasa perlu ditingkatkan.
Dari segi sarana, maupun mutunya.
Kalau dari segi sarana dan teknik, dakwah sangat erat hubungannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.
Materi dakwah bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah mesti selalu dijaga dan dipakai menjadi pedoman dan petunjuk agar tetap berlaku sepanjang zaman.

Pemahaman mendalam dan lebih meluas sangatlah diperlukan sebagai bekal da’i. Sehingga dakwah dapat secara efektif memangil setiap insan segala lapisan dan lapangan.

Dakwah Islam adalah perombakan total.
Mengubah sikap mental umat manusia dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat.

Sebenarnya sasaran dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini.

Dakwah tidak akan pernah berhenti.
Dakwah Islam tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap umat Muslim, dimana pun mereka berada.

Para pendiri Dewan Da’wah dan para tokoh-tokoh politisi Islam yang istiqamah, dengan sadar telah memilih organisasi Dewan Da’wah berbentuk yayasan dan tidak perlu ada kartu anggota, serta secara tegas pula menyatakan dasarnya adalah taqwa dan keredhaan Allah.

Tujuan gerakan ini untuk menggiatkan dan meningkatkan mutu Dakwah Islamiyah di Indonesia.

Dalam melakukan kegiatannya, Dewan Da’wah selalu menempatkan diri sebagai pelanjut dan penerus kegiatan kegiatan dakwah sebe¬lumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW, memanggil umat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatul hasanah berkewajiban menerjemahkan setiap geraknya dengan menampilkan kegiatan nyata.

Semua kegiatan dakwah yang digulir, terlebih dahulu harus dirancang sesuai dengan problematika kehidupan, yang erat terkait dengan keperluan umat, baik penanganan dalam waktu pendek, untuk keperluan cepat dan mendesak.

Gerakan dakwah di daerah terisolir serta pembinaan para muallaf dan muhtadin, baru mulai dengan gerakan dakwah tabligh yang ditunjang penyediaan bahan dakwah dan tenaga mubalig.

Penerbitan media dakwah diikuti pengiriman tenaga da’i terampil sampai ke pelosok pedalaman sulit dan rawan, menjadi program pokok.

Mencontoh Rasulullah SAW mengirim Shahabat Mu’az bin Jabal ke Yaman, diterjemahkan Dewan Da’wah dengan mengirim para du’aat sebagai tenaga trainers ke daerah sulit.

Melayani informasi dakwah di daerah dan menghadapi upaya tanshiriyah dan gerakan salibiyah, peran da’i sangat penting.

Tidak hanya sekedar mengirim tenaga dai, tapi perlu sekali mempersiapkan kelengkapan dakwah berupa perangkat dakwah dan peralatan dakwah.
Perangkat dakwah, di antaranya du’aat, nizham, jamaah, yang tersusun secara terpadu, ijtima’iyah.

Peralatan dakwah dalam operasional memerlukan ;
a) pedoman manhaj, program mabda’, peta dakwah,

b) alat-alat dakwah di lapangan, seperti alat transportasi yang perlu disiapkan sedari awal dan pemeliharaannya,

c) pertimbangan situasi, waktu, dan medan dakwah, dimana dakwah itu akan dijalankan.

Sangatlah berbahaya bila perangkat dan perlatan dakwah dilalaikan.
Sasaran dakwah menjadi sulit untuk dicapai.
Kelangsungan gerak dakwah akan mengalami kendala fatal dan berbahaya, bila tidak ditopang oleh peralatan dan perangkat dakwah tersebut.

Akibatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk hilangnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia.

DAURAH PARA DU’AT DI DAERAH SIBERUT SELATAN MENTAWAI

Prinsip dakwah jelas, dakwah melanjutkan Risalah.
Prinsip ini melahirkan sikap konsisten menghadapi pihak yang membantah, maupun yang merasa tidak senang, bahkan menolak kehadiran Dewan Da’wah.

Setiap penggerak dakwah harus senantiasa berupaya menghadapi semua cabaran yang tampil, dengan dalil dan kaifiyah yang lebih baik, diiringi dengan bukti amal nyata.

Konsistensi memperkokoh keberadaan dakwah di tengah pergulatan politik di era sulit.

Akhirnya dakwah akan hadir sebagai suatu badan dakwah yang tidak mudah disusupi.

Dewan Da’wah berkembang menjadi lembaga dakwah yang memiliki keteguhan-keteguhan dalam prinsip amar makruf, social support dan nahi munkar, social control.
Dua peran kembar ini dilaksanakan tidak terpisah.
Terutama ketika umat dihadapkan dengan gerakan pemurtadan oleh pihak zending-zending di daerah terpencil, daerah transmigrasi maupun daerah terisolir, maka umat diajak menghadapinya dengan sangat arif. Keteguhan hati dan kokoh iman membimbing kepada prinsip dakwah yang tegas.

Perpaduan sikap-sikap lembut dalam berkaifiyat serta prinsip tegas dalam juang keyakinan, telah menjadikan Dewan Da’wah dijadikan rujukan perjuangan umat.

Bertalian dengan hal-hal yang prinsipil, umat selalu menempatkan Dewan Da’wah sebagai lembaga untuk umat menempatkan pilihan.

Sikap dan pandangan Mohamad Natsir sangat jelas, menyebut program dakwah dari Dewan Da’wah sederhana dan padat artinya, “risalah mengawali dan dakwah melanjutkan” .

Realisasi peran ini selalu dijalankan sejak empat dasawarsa berlalu.

Demikian pesan-pesan DR. Mohamad Natsir, agar tidak cemas menghadapi arus yang terjadi.

Copyrigt tulisan ini bagian dari Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir

2 pemikiran pada “Berpirau di tengah Badai, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s