Peran Generasi Muda Minangkabau


PERANAN GENERASI MUDA MINANGKABAU
Dalam Menghadapi Tantangan Zaman

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. وأزكى صلوات الله وتسليماته على سيدنا وإمامنا، وأسوتنا وحبيبنا محمد صلى الله عليه وسلم واله ورضي الله عن أصحابه، ومن سار على ربهم إلى يوم الدين. أما بعد ،،،،،
Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.
Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW. Kepada beliau telah diberikan wahyu, yang mengajar berbagai program ilmu, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam aspek-aspek tertentu mengenai Islam dan kehidupan

MUKADDIMAH
Pemuda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa,
mempunyai tugas dan memikul amanah besar menjadi pelopor perubahan (agent of changes), dengan bekal keyakinan iman kepada Allah,
maka semestinya tumbuh menjadi kekuatan salam membangun dirinya dan nagari.

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan (kuatkan) mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi)

Pemuda dan pemudi Minangkabau wajib memiliki kejernihan akal budi dalam menghadapi tantangan kontemporer.
Mesti berbekal jati diri sesuai fitrah menurut bimbingan Allah.

Tantangan kontemporer yang tengah dihadapi memang berat.
Di antaranya penetrasi budaya dan sekularisme, yang mulai menjajah mentalitas manusia di abad ini.

Di samping itu, sudah banyak pula yang terbuai, dengan meniru gaya hidup global (the globalization life style)
Nyatanya gaya hidup demikian, sudah mulai didominasi sikap pergaulan bebas, kecanduan madat dan miras, serta budaya lucah (sensate culture)
Kehidupan banyak mengejar kenikmatan sejenak, dengan hanya memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, dirasa, disentuh, yang sensual sifatnya, erotik, seronok, hedonis atau ganas
Pendek kata, mengutamakan kesenangan badani (jasmani) belaka.

GAYA HIDUP GLOBALISASI

Tantangan besar itu, mulai merayap menggarayangi sisi sisi kebudayaan bangsa secara meluas, dengan memanfaatkan pintu media informasi

Penggerayangan budaya ini terus berlanjut, ketika benteng diri mulai lemah. Di saat pengagungan materi (materialistik) secara berlebihan mulai terjadi, dan perilaku yang menjauhi supremasi agama mulai pula menjadi kebiasaan.

Mau tidak mau, kehidupan manusia sedemikian itu, akan tumbuh berkembang menjadi kehidupan yang hanya memuja kenikmatan badani (hedonistik)
Ketika itu terjadilah penyimpangan perilaku menjauh dari budaya luhur.
Serta merta muncul pula di sampingnya perilaku Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.

Dunia pendidikan digoncang pula oleh fenomena vandalistik, seperti tawuran pelajar.
Generasi muda yang lupa kepada pembentengan jati diri mereka, akan terbawa arus ke kebiasaan a-susila, dan maraknya pornografis dan pornoaksi.

Lebih jauh, terjadi penyimpangan kepada lebih meminati kehidupan non-science.
Asyik mencari kekuatan gaib, rajin belajar sihir, menguasai kekuatan jin, bertapa ketempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik, dan kegiatan irrasionil lainnya.

Kalangan generasi muda, bahkan yang tua-tua, mulai dibalut sensate-culture.
Pola kehidupan hedonistic, premanisme dengan gaya hidup konsumeristis mulai dimintai.

Kemunafikan makin meraja lela, dengan sikap rakus, boros, modis yang bebas sex, ittiba’ syahawat (menurutkan hobi dan syahawat) serta sikap individualistik.

Semuanya terjadi dan akan selalu terjadi, manakala generasi mulai melepaskan diri dari kawalan agama dan adat luhur.

Ketika itu, tampillah gaya permissiveness dengan mengedepankan budaya nan lamak di salero (sensete culture).
Orientasi terfokus kepada hiburan.
Akibatnya grand norms dan grand ideas di tengah masyarakat mulai lepas kendali.

Pengawalan syarak dan adat mulai tercerabut dari nilai normative yang luhur.
Seni budaya mulai bergeser kearah sensual, erotik, horor, ganas.
Akibatnya, kehidupan esok tak terpikirkan lagi.

MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER
Orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya.
Seorang anak Minangkabau, di manapun berada tidak akan senang di sebut tidak beragama.

Seorang ilmuan dari generasi Minangkabau, betapapun tinggi ilmunya dan bergaya modern sekalipun, pasti tidak menerima jika dikatakan dia tidak beradat.

Sebab, orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, di samakan kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti, di sebutkan indak tahu di nan ampek.

Adat Minangkabau sangat dinamis
Pertanda jati dirinya tampak pada raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika). Dan filosofi Alam takambang jadikan guru.

Makin kokoh keyakinan kepada agama yang benar, yakni Islam yang al-haq dari Rabb, akan makin kuat jati diri seseorang di dalam menghadapi tantangan kontemporer dan perubahan tata pergaualan dunia itu.

Generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mengajarkan kemestian bersikap istiqamah (konsistensi).

Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.

Para generasi muda Minangkabau yang terdidik (el-fataa) dan beragama Islam, wajib mengukuhkan ukhuwah dan semangat persaudaraan (ruh al ukhuwwah) yang terjalin baik.

Kekuatan persaudaraan itu, akan menjadi senjata ampuh melawan tantangan kontemporer.

Persaudaraan tidak dapat di raih dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Tamak dan loba akan mempertajam permusuhan antara dhu’afak dengan kalangan berpunya. Lambat laun akan lahir sikap neo-feodalisme yang kapitalistik. Ini sangat berbahaya.

Sikap bakhil atau sampilik kariang akan meruntuhkan perasaan persaudaraan dan perpaduan.

Karena itu, setiap generasi muda Minangkabau yang Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya dengan menciptakan sumber rezekinya menjadi kekuatan yang dapat melahirkan kedamaian di tengah pergaulan dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ
Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan.

Jika perilaku generasi Minangkabau, sudah terbawa arus meninggalkan sikap kebersamaan, dan telah berganti dengan perilaku yang lebih mengedepankan perebutan prestise, materialistis dan individualistik, sehingga kepentingan bersama masyarakat terabaikan, maka tentulah bencana akan datang tindih bertindih. Utamanya bencana sosial dan rusaknya tata nilai.

Ketika itu terjadi, bukan kemustahilan apabila idealisme kebudayaan Minangkabau akan menjadi sasaran cercaan.
Malah akan terjadi, upaya kebersamaan (kolektifiteit) menjadi kurang dibanding prestasi individual.

Akan tersalah di masa itu, berlakunya ungkapan jalan di alieh dek urang lalu, dan sukatan alah dipancuang dek urang panggaleh, sudah menjadi kenyataan. Adat Minangkabau yang memiliki ciri pertanda jati diri dengan sebutan Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah (ABS-SBK) mulai tidak tampak lagi.

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala orang Minangkabau memahami dan mengamalkan fatwa adatnya.
“Kayu pulai di Koto alam, batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”.

Artinya, secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip jikalau patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis) mengikuti perputaran masa yang tidak mengenal kosong, dan setiap kekosongan akan selalu terisi, dengan dinamika akal dan kekuatan ilmu (raso jo pareso) dengan sendi keyakinan maka yang hilang akan berganti.

Di sini kita menemui kearifan menangkap perubahan yang terjadi, “sakali aie gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa” lebih komprehensif bahwa perubahan tidak mengganti sifat adat, sungguhpun penampilannya di alam nyata mengikut zaman dan waktu, “kalau di balun sabalun kuku, kalau dikambang saleba alam, walau sagadang biji labu, bumi jo langit ado di dalam”.

Keistimewaan adat ada pada falsafah adat mencakup isi yang luas, ibarat biji (tampang) manakala ditanam, dipelihara, tumbuh dengan baik, semua bagiannya (urat, batang, kulit, ranting, dahan, pucuk, yang melahirkan pula tampang-2 baru sesuai dengan buahnya) menjadi satu kesatuan besar dan berguna apabila terletak pada tempat dan waktu yang tepat.

Perputaran harmonis dalam “patah tumbuh hilang berganti”, menjadi sempurna dalam “adat di pakai baru, kain dipakai usang”.

Maknanya adat yang tidak sejalan, akan tetap ditantang untuk menyesuaikan dengan adat yang ada.

Adat adalah aturan satu suku bangsa, menjadi pagar keluhuran tata nilai yang dipusakai, tanggungjawab kuat untuk diri dan masyarakat kini dalam mengawal generasi yang akan datang.

MEMBINA PERIBADI BERADAT DENGAN NILAI KEMINANGKABAUAN

Telah sejak lama menjadi pekerjaan utama anak nagari, dan menjadi cerminan dari tatanan masyarakat kuat (mandiri) berakhlaq dan paham syarak.

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek,
Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.

Membina masyarakat memahamkan adat, berarti menjangkau pikiran dan rasa yang dipunyai setiap diri
Kemudian membimbingnya dengan agama yang mengisikan kedalam jiwanya keyakinan yang sahih (Islam).
Maka agama dan adat menanamkan rasa malu (haya’), raso dan pareso, yakin kepada hari akhirat, mengenal hidup akan mati, memancangkan benteng aqidah tauhid, menjadi gerakan mencerdaskan umat, sesuai pantun adat di Minangkabau,

“Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago,
Indak nan indah pado budi, indak nan indah pado baso”,

“Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri,
ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan di haragoi”,


“Dulang ameh baok ba –laia, batang bodi baok pananti,
utang ameh buliah di baie, utang budi di baok mati”,

“Pucuak pauh sadang tajelo, panjuluak bungo galundi,
Nak jauah silang sangketo, Pahaluih baso jo basi”,

“Anjalai tumbuah di munggu, sugi-sugi di rumpun padi,
nak pandai rajin baguru, nak tinggi naiakkan budi”.

Alangkah indahnya satu masyarakat yang memiliki adat yang kokoh dan agama (syarak) yang kuat, yang tidak bertentangan satu dan lainnya, malahan yang satu bersendikan yang lainnya, dimana hidup mengamalkan “kokgadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik baimbauan, tibo di kaba buruak ba hambauan”.

Alangkah indahnya masyarakat yang hidup dalam rahmat kekeluargaan kekerabatan dengan benteng aqidah yang kuat, berusaha baik di dunia fana dan membawa amal shaleh kealam baqa.

Labuah nan pasa terbentang panjang, tepian tempat mandi terberai (terserak dan terdapat) di mana-mana, gelanggang untuk yang muda-muda serta tempat sang juara (yang mempunyai keahlian, prestasi) dapat mengadu ketangkasan secara sportif berdasarkan adat main “kalah menang” (rules of game).

Masyarakatnya hidup aman dan makmur, dengan anugerah alam dan minat seni yang indah.

“Rumah gadang basandi batu, atok ijuak dindiang ba ukie, cando bintangnyobakilatan, tunggak gaharu lantai candano, taralinyo gadiang balariak, bubungan burak katabang, paran gambaran ula ngiang, bagaluik rupo ukie Cino, batatah dengan aie ameh, salo manyalo aie perak, tuturan kuro bajuntai, anjuang batingkek ba alun-alun, paranginan puti di sinan.
Lumbuang baririk di halaman, rangkiang tujuah sa jaja, sabuah si Bayau-bayau, panenggang anak dagang lalu, sabuah si Tinjau Lauik, panengggang anak korong kampuang, birawari lumbuang nan banyak, makanan anak kamanakan”.

Artinya, ada perpaduan ilmu rancang, seni ukir, budaya, material, mutu, keyakinan agama yang menjadi dasar rancang bangun berkualitas punya dasar social, cita-cita keperibadian, masyarakat dan idea ekonomi yang tidak mementingkan nafsi-nafsi, tapi memperhatikan pula ibnusabil (musafir, anak dagang lalu) dan anak kemenakan di korong kampung.

“Nan elok di pakai, nan buruak di buang, usang-usang di pabaharui, lapuak-lapuak di kajangi”, maknanya sangat selektif dan moderat.

Kitabullah yakni Alquran “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur)” dengan aqidah tauhid.

Di dalam masyarakat Minangkabau hidup menjadi beradab (madani) dengan spirit kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), sesuai pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito”, diperkuat dengan keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”.

Generasi Minangkabau wajib menjaga sikap suka bermusyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo” dalam menerjemahkan iman kepada Allah SWT dan menjadi pengikat spirit sunnatullah dalam setiap gerak.

Dalam Fatwa adat di sebut tanggung jawab masyarakat adat menjaga ketaatan hukum dan memelihara keteraturan sebagai ciri utama masyarakat bersyukur, yang berbuat menurut aturan dan undang-undang.

“Nan babarih babalabeh, nan ba-ukua nan ba jangko, Mamahek manuju barih, Tantang bana lubang katabuak. Manabang manuju pangka, Malantiang manuju tangkai, Tantang bana buah ka rareh. Kok manggayuang iyo bana putuih, Kok ma-umban iyo bana rareh.”

Artinya, setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan dan tidak boleh ada bengkalai.
Ada aturan sesuai garis sunnatullah, agar terlaksana dengan baik.

Dengan mendalami ilmu, lahirlah rasa khasyyah (takut) dan takwa kepada Allah dengan melahirkan watak menjauhi rasa takabbur, kufur dan bangga diri dengan merendahkan orang lain.

Seorang Muslim merasakan nilai-nilai aqidah dan penghayatan didalam kehidupan menjadi satu yang wajib. Al-Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah, seperti sabda Nabi SAW:

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا
.
Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.

Generasi Minangkabau selalu memakai mahabbah (kasih sayang) sesama dalam interaksinya, sesuai sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما, ومن احب عبدا لا يحبه الا الله, ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار.

Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam neraka.

Generasi Minangkabau yang beradat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah berpandangan luas dan menghormati hak-hak asasi manusia secara integratik dan umatik sifatnya, yakni bermanfaat untuk semua, terbuka transparan, namun teguh, bertanggung jawab, dan kesatria.

“Kok di pakok urang banda sawah, Di aliehnyo lantak pasupadanan,
Busuangkan dado padek-padek, Paliekkan buyuang laki-laki,
Jan takuik tanah tasirah, Aso hilang duo tabilang,
Sabalun aja bapantang mati, Namun di dalam kabanaran,Bago di pancuang lihie putuih, Satapak jan namuah suruik.”

Kekuatan taqarrub ila Allah, atau selalu dekat dengan Allah inilah kekuatan mujahid di jalan Allah. Kekuatan ini mesti dipunyai oleh generasi muda Islam.
Inilah buah dari tauhid uluhiyah.

Allah SWT telah menyediakan alam sebagai sumber daya (material resources) bagi manusia yang hidup di alam (bumi) ini.
Alam memang tidak menyiapkan segalanya serba jadi (ready to used).
Alam perlu diolah oleh tangan manusia, sehingga dapat mendatangkan nilai lebih dan nilai guna yang optimal bagi manusia. Untuk itu, manusia memerlukan alat dan ilmu.
Supaya kita dapat serta merta merealisasikan hikmatnya.

Di dalam Islam, setiap insan didorong agar memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan memadai. “Siapa yang menginginkan dunia dia peroleh dengan ilmu, sesiapa yang inginkan (kebahagiaan) akhirat juga dengan ilmu, bahkan yang menginginkan keduanya, juga hanya dengan ilmu”.

Menuntut ilmu adalah kewajiban asasi setiap Muslim, karena pengetahuan manusia sedikit sekali.

يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَ مَا أُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً.
dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh . Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS.17, al Isra’ : 85).

Kesediaan membuat sesuatu yang lebih baik untuk masa datang secara madiyah (material) maupun ruhaniyah (spiritual) diringi dengan keteguhan pendirian menjauhi segala bentuk kemungkaran dan berharap supaya dihindarkan dari azab neraka, akan berperan membentuk kehidupan berakhlak karimah, dengan mengutamakan kesopanan pergaulan dan memakaikan rasa malu.

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek.

Apabila malu sudah hilang, tidak ada lagi yang mengikat seseorang untuk berbuat seenak hatinya.

Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.

HILANG DAYA SAING

Surau adalah pusat pembinaan kecerdasan anak nagari perlu dipelihara.
Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan budi akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur.

Generasi Islam di Minangkabau yang ingin bersanding di tengah perubahan wajib peka, mempunyai sense of belonging terhadap harakah Islamiya di nagari-nagari.

Penguatan masyarakat mandiri yang madani di Ranah Bundo dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh dilalaikan.

Alangkah indahnya masyarakat adat, jika padi manjadi, jaguang maupiah, menara masjid menjulang keangkasa, “musajik tampek ba ibadah, tampek ba lapa ba makna, tampek baraja Alquran 30 juz, tampek mangaji salah jo batal”, balai permusyawaratan terpancang kokoh di bumi, (balairung atau balai adat) tempat musyawarat dan menetapkan hukum dan aturan “balairuang tampek manghukum, ba aie janiah ba sayak landai, aie janieh ikannyo jinak, hukum adil katonyo bana, dandam agieh kasumaik putuih, hukum jatuah sangketo sudah”, jenjang musyawarat terpelihara dengan baik.

Ketepatan bertindak adalah warisan masyarakat berbudaya, maju, mengutamakan ilmu pengetahuan, dan toleran dalam pergaulan.

“Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

Kitabullah yang menjadi landasan dari syarak mangato adat memakai, menjelaskan tentang penghormatan terhadap perbedaan itu,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Apabila generasi Minangkabau membiarkan dirinya terlena dengan apa yang dibuat orang lain, dan lupa membenah diri dan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan di jadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

“Pariangan manjadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila kedua sarana menuntut ilmu dan musyawarah (perlambang surau dan balairung) masih berperan sempurna, maka di kelilingnya tampil kehidupan masyarakat yang berakhlaq perangai terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) itu.

“Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

Kekuatan tamaddun dan tadhamun (budaya) dari syarak (Islam) menjadi rujukan pemikiran, pola tindakan masyarakat berbudaya yang terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh).
Kesabaran (teguh sikap jiwa) yang konsisten, keikhlasan (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat) kepada kekuasaan Allah, akan menjadi ciri utama (sibghah, identitas) dari generasi Minangkabau di mana juga mereka berada.
Iman dan takwa sangat diperlukan setiap masa, dalam menata sisi-sisi kehidupan kini dan masa depan.

Suatu individu atau kelompok masyarakat yang kehilangan pegangan hidup (aqidah dan adat), walau secara lahiriyah kaya materi namun miskin mental spiritual, akan terperosok kedalam tingkah laku yang menghancurkan nilai fithrah itu.

PERAN GENERASI MUDA MINANGKABAU

Generasi Minangkabau masa depan, wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi Minangkabau memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur .

Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan payung wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah.
Dengan demikian rahmat dan barakah dapat diraih.
Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis muda Islam di nagari-nagari akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak menyatakan visi dan misi di dalam menegakkan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau.

Generasi Minangkabau sewajarnya menjadi generasi dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

“Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,
Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo basi.

Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi,
Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”

Generasi Minangkabau di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur para leluhur (cultural base).
Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base).
Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi Minangkabau,

“Basilek di ujuang muluik,
Malangkah di pangka karih,
Bamain di ujuang padang.
Tahan di keih kato putuih,
Tahu di kilek dengan bayang,
Tahu di gelek kato habih.
Tahu di rantiang kamalantiang,
Tahu di dahan nan ka mahimpok.”

Artinya, mendidik dan melatih kader pimpinan.
Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan.

Para pejuang muda generasi Minangkabau, di mana juga berada wajib bercita-cita menjaga persatuan dengan iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi.

Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik.

Mengamalkan budaya amal jama’i yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

Zaman menjadi lone ranger dan alam one man show sewajarnya sudah berakhir.
Pendekatan haraki (social movement) menangani isu perubahan global, sakali aie gadang, sakali tapian barubah, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepimpinan bukan ghanimah mengaut keuntungan diri sendiri.

Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab di dalam adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah adalah,

“Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,
Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo.
Tadorong mahelo, talompek manyentak,
Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana.
Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.

Sesungguhnya adalah satu gerakan masyarakat bersama atau harakah Islamiyah mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syarak (Islam).

Kreativitas dan inovatif sebagaimana dimaklumi bersama, berkait rapat dengan berbagai bidang dakwah.
Antaranya pengurusan sumber manusia, komunikasi, percetakan elektronik, e-book, e-newspaper, video conferencing, virtual school, universiti maya dan sebagainya.

Para ilmuan muda Minangkabau, cendikiawan atau suluah bendang di nagari perlu meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami.
Teguh ubudiyyah dan zikrullah.
Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing.
Memelihara kesinambungan proses mengajar dan belajar di tengah anak nagari.

Generasi muda Minangkabau yang terdidik dengan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, harus mampu menilai teknologi maklumat, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda Minangkabau masa kini mesti memiliki ilmu dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang jelas.

Dalam kata adat disebutkan,

“Iman nan tak buliah ratak,
kamudi nan tak buliah patah,
padoman indak buliah tagelek,
haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi Minangkabau masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view).
Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi Minangkabau selalu awas dan berhati-hati,

“Bakato sapatah dipikiri,
Bajalan salangkah maliek suruik,
Muluik tadorong ameh timbangannyo,
Kaki tataruang inai padahannya,
Urang pandorong gadang kanai,
Urang pandareh ilang aka.”

MEMAHAMI SYARAK MANGATO ADAT MEMAKAI

Masyarakat adat bersendikan Kitabullah, memahami bahwa kaedah adat dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran syariat.

Tauhid mendorong manusia memaksimalkan seluruh daya pikir, daya cipta, daya upaya, menjadi modal dasar untuk menata kehidupan dengan mendorong karya amal manusia lahir bathin.

Motivasi berawal dari paradigma tauhid yang benar.
Menempatkan tauhid sebagai landasan berpikir, beramal, bertindak, dalam seluruh aspek kehidupan, politik, ekonomi, sosial budaya, akan menjalin hubungan vertikal yang langgeng antara makhluk dengan Khalik, tampak pada perilaku ikhlas, tawadhuk, tawakkal mencari redha Allah.

Hasil utama dari syarak mangato adat memakai adalah wujudnya “rahmatan lil-‘alamin”, yakni tatanan kebahagian dan rahmat untuk seluruh alam ini.

Pemahaman syarak menekankan kepada kehidupan yang dinamis, mempunyai martabat (izzah diri), bekerja sepenuh hati, menggerakkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai. Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

Tugas generasi muda Minangkabau adalah menggali potensi diri untuk kelak disumbangkan bagi kemashlahatan orang banya, dan ketika kembali ke nagari.
Dimulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia. Kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauan dibangkitkan.

Upaya ini akan berhasil dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing, untuk membina umat dalam masyarakat di nagari harus diketahui pula kekuatan-kekuatan.

“Latiak-latiak tabang ka Pinang,
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo”.

Perbuatan ‘aku isme” atau “ananiyah” akan menyuburkan tafarruq dan tanazu’, maka perlu diajarkan cara-cara pembinaan hidup bermasyarakat itu.

Maka generasi Minangkabau harus bangkit dengan menampilkan pertanda jati diri yang jelas, dima bumi dipijakl di sanan adaik bapakai.
Insyaallah.

Sabda Nabi Muhammad SAW,
“Tidak masuk sorga hingga kamu beriman. Dan tidak beriman kalian, sehingga saling menyayangi.
Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, apabila kamu kerjakan akan terjalin kasih sayang sesama kamu .. ??? Tebarkan salam di antara kalian.

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

Satu pemikiran pada “Peran Generasi Muda Minangkabau

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s