Pembinaan Agama di Nagari Nagari di Minangkabau, Syarak Managato Adat Mamakai

Nagari

PROBLEMATIKA PEMBINAAN AGAMA DI NAGARI-NAGARI DI MINANGKABAU DEWASA INI

Oleh H. Mas’oed Abidin

Secara umum perkembangan masyarakat nagari di abad ini mengalami pergeseran pula, “masyarakat di datangi dakwah dan tidak lagi mendatangi dakwah.”.

Pada beberapa daerah tampak dengan kurangnya minat orang tua menyerahkan anak-anaknya ke Pendidikan-pendidikan Islam (Surau, majelis ta’lim, TPA, MDA, bahkan pengajian-pengajian Al-Qur’an).

Kebiasaan meminum minuman keras (Miras) di kalangan muda/remaja, berkembangnya pergaulan bebas (di luar batas-batas adat dan agama) mulai tumbuh merajalela.

Peranan ulama Minangkabau sejak dulu adalah membawa umat, melalui informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik,

Kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas, dengan iman dan hikmah.

Ber-‘ilmu dan matang dengan visi dan misi.
Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional.

Research-oriented dengan berteraskan iman dan bertelekankan tongkat ilmu pengetahuan.

Peran dan perjuangan para ulama dalam membina nagari hari ini seringkali tidak terikuti oleh pembinaan yang intensif, disebabkan :

a. Kurangnya tenaga da’i, tuangku, ulama yang berpengalaman, berkurangnya jumlah mereka di daerah-daerah (karena perpindahan ke kota dan kurangnya minat menjadi da’i .

b. Terabaikannya kesejahteraan da’i secara materil yang tidak seimbang dengan tuntutan yang diharapkan oleh masyarakat dari seorang da’i .

c. Jauhnya daerah-daerah yang harus didatangi oleh juru dakwah sementara tidak tersedianya alat transportasi.

d. Sering ditemui transport umum sewaktu-waktu ke daerah-daerah binaan dakwah jarang pula tersedia.

e. Umumnya juru dakwah bukanlah pegawai negeri yang memiliki penghasilan bulanan yang tetap, akan tetapi senantiasa dituntut oleh tugasnya untuk selalu berada di tengah umat yang dibinanya.

Mengembalikan Minangkabau ke akarnya ya’ni Islam tidak boleh dibiar terlalai. Karena akibatnya akan terlahir bencana.

Acap kali kita diabaikan oleh dorongan hendak menghidupkan toleransi padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula.

Amatlah penting untuk mempersiapkan generasi umat yang mempunyai bekalan mengenali keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,, sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi, tamadun, budaya,dan adat-istiadat berbudi bahasa yang baik.

MENINGKATKAN KINERJA DA’I

Dalam upaya meningkatkan kinerja da’i harus berinteraksi dengan lingkungan secara aktif dalam melakukan perubahan.

Selalu memelihara tindakan yang benar. Setiap tindakan akan disaksikann oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman (QS.53:39-41).

Tidak boleh hidup dalam kekosongan (kevakuman).
Menjadi sumber manfaat bagi umat binaan.

Syarat utama menjadi muslim yang baik adalah bermanfaat terhadap orang lain. Perlu diingat, bahwa “yang paling banyak diperhatikan oleh umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”.

Golongan bukanlah tujuan.
Kelompok yang ada hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan.

Kepentingan kelompok harus tunduk kepada (kemashalahatan) umat.

Da’i tidak boleh mengurung diri, akibatnya akan menjauhkan dari objektifitas, dan selalu menjadikan seseorang akan lebih mementingkan golongan (kelompok).

Mementingkan kelompok semata akan sama halnya dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah.

Masyarakat lingkungan adalah media
Satu-satunya lapangan tempat beroperasinya para da’i adalah lingkungan, dan tempat berdakwah sepanjang hidup adalah umat.

Konsekwensinya harus siap menerima segala cobaan dan godaan dari Allah (QS.12,Yusuf:109).

Da’i seharusnya memiliki tingkat kesadaran tentang Alam ghaib, sesuai rukun Iman, akan menyelamatkan manusia dari ke sia-siaan berpikir terhadap sesuatu yang di luar wilayah kemampuan rasio.

Rujukannya adalah Al Quran dan Hadist.

Alam semesta, memiliki dimensi ruang, waktu, volume, sebagai milik Allah.
Alam semesta dapat digunakan bagi sebesar manfaat untuk manusia.

Konsekwensinya, da’i harus memiliki ilmu pengetahuan.
Da’i tidak boleh menjadikan dirinya tertutup, bahkan mesti selalu aktif. (QS.31- Luqman:20).

Pengetahuan Internasional, penting untuk menunjang gerak dakwah.
Harakah Islamiah adalah suatu yang global.
Umat Muslim ada di mana-mana.

Pengetahuan ini mendorong kepada amar makruf (social support) dengan menegakkan kebenaran.
Juga komitment yang tegas terhadap nahi munkar (social control) dengan melawan setiap kemungkaran.

Setiap da’i semestinya mengetahui bahwa seluruh dunia adalah tempat berkarya dan beramal.

Kesadaran lokal, minimal pengetahuan tentang

(a) keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,
(b) sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi,
(c) budaya, adat-istiadat, setiap tanah ditumbuhi tanaman khas.

Pengetahuan lokal ini berguna untuk memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan, membuat analisis, menyediakan alternatif-alternatif.

Teori yang khayal hanyalah angan-angan.

Masyarakat memerlukan kenyataan-kenyataan yang menyentuh kehidupan pribadi maupun kelompok secara langsung.

Tujuan akhir menghapuskan ketidak seimbangan serius, melalui pendidikan dan prinsip-prinsip Islami.

Bagi lingkup masyarakat Islam boleh saja disajikan berbagai hidangan tetapi semuanya mesti halal.

Da’i adalah pemimpin di tengah kaumnya.

Maka tidak dapat tidak, seorang da’i mesti menempatkan diri di tengah masyarakatnya.
Seorang da’i mesti memiliki orientasi pengabdian yang luhur.
Seorang da’i sanggup menawarkan alternatif dalam persoalan keumatan.
Seorang da’i akan menjawab masaalah umat, pemecahan permasalahan umat.
Seorang da’i akan berperan sebagai seorang pemimpin dalam membina masyarakat dengan penuh perhatian dan keikhlasan.
Keberadaan seorang da’i di tengah umat binaan menjadi perhatian dan lanjutannya mendapatkan dukungan masyarakat di kelilingnya.

Tindakan awal yang menopang keberhasilan dakwah para da’i.

Secara individu berusaha mendapatkan pengetahuan minimal tentang kejadian sekitar, karenanya perlu mendapatkan supply informasi yang memadai.

Secara Lokal, selalu berpartisipasi pada setiap pertemuan dan memelihara kesinambungan halaqah dan usrah.
Peningkatan akhlak karimah dalam setiap pelaksanaan dakwah praktis yang menyangkut keseharian umat seperti kelahiran, perkawinan, dikala sakit dan kematian).

Perlu ada pemahaman mendalam tentang tantangan dimedan dakwah yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit.

Mengatasi situasi ini hanya dengan modal kesadaran dengan memanfaatkan jalinan hubungan yang sudah terbina lama.

Suatu gerakan dakwah akan lemah jika tidak mampu berfungsi seperti sarang lebah atau kerajaan semut dengan penuh vitalitas, energik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya.

Secara Nasional, perlu ditanamkan komitment fungsional mutu tinggi, memperkuat komitmen konsultasi mengarah penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif adanya center of excelence.

Jika da’i jumlahnya banyak, maka akan lebih banyak umat Islam yang dipimpin.

Bila umat Islam banyak membaca, maka umat Islam akan memimpin dunia (QS,96-al ‘Alaq:1-5).

Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat akan berkesempatan banyak mengatur masyarakat.

Para da’i perlu memiliki sikap jujur dan objektifitas mengambil pelajaran berguna.
Mampu melihat diri dari dalam, kritik konstruktif, identifikasi kekurangan.
Tidak jujur kepada diri tidak akan dapat melatih diri kepada yang benar.

Mampu melihat tambah kurang, kompensasi dan ekualitas, identifikasi kelemahan.
Perlu diingat bahwa kelemahan timbul karena hilangnya komitmen mendasar.

Da’i adalah bagian dari gerakan dakwah, juga adalah produk dari dakwah itu pula.
Mampu menghadapi aksi reaksi, di lingkungan politik bernuansa konfrontatif dan reformatif, dari segi budaya dan sosial ekonomi.

Mampu mengantisipasi keterbelakangan dengan konsep fikrah, aktifitas dan tindakan terencana dengan kemampuan analisis.

Dalam pengalaman dakwah untuk merebut kemajuan selalu terhalangi oleh kelemahan yang dimiliki, dan apa yang disebut keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.

Berbuat lebih baik, artinya para da’i mesti meyakini bahwa sukses hanya dari Allah,

Konsekwensinya, tetap berusaha di jalan Allah.
Mau mengakui kesalahan, dan bersedia memperbaiki kekeliruan.

Suprioritas tergantung kepada wahyu dan nawaitu ideologi, bukan kepada superioritas manusianya.

Dari pengalaman dakwah, rusaknya da’i dalam dakwahnya karena keharusan melaksanakan pesan sponsor di luar ketentuan wahyu agama.

Perjuangan berhadapan dengan kemunduran dakwah ini, selalu ada dalam bentuk kelemahan klasik, kekurangan dana, kurang tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak.

Maka koreksian segera dilakukan melalui kaji ulang oleh pemeranan Bakor Dakwah, saling berkonsultasi, musyawarah, partisipasi aktif mengambil dan melaksanakan keputusan- keputusan.

Di samping itu, menghidupkan jamaah dan memelihara semangat tim nidzam berkelompok.

Karena kerjasama lebih baik dari sendiri (individu).

Kenyataannya, pemain terbaik tanpa semangat tim yang utuh selalu akan dikalahkan oleh pemain yang kurang bermutu tetapi memiliki semangat tim yang teratur.

Pemeranan perempuan, anak-anak dan kalangan dhu’afak sangat perlu pula diperhatikan.

Perang tidak akan dapat di menangkan manakala lebih dari 5o % kekuatan tidak di ikut sertakan.

Menghindari kepemimpinan otoriter berarti menjaga jiwa umat agar tidak mati.
Masyarakat yang mati jiwanya tidak ingin berpartisipasi dan akan kehilangan semangat kolektifitas.

Merupakan bahaya dalam pembinaan masyarakat adalah membiarkan umat mati di tangan pemimpin.

Tugas pemimpin menghidupkan umatnya.

Umat yang berada ditangan pemimpin otoriter akan sama halnya dengan mayat di tangan orang yang memandikannya.

Hidupkan lembaga dakwah, dan fungsikan institusi masyarakat.

Fungsi yang selamanya tergantung kepada orang seorang akan berakibat hilangnya kestabilan.

Kurangnya perencanaan akan menghapus semangat kelompok dan padamnya inisiatif.

Tujuan institusi adalah menghidupkan dakwah, melaksanakan geraknya, bukan sekedar mengumpulkan materi dan dana.

Hidupkan ketahanan nasional dan regional melalui pelaksanaan kewajiban kewajiban.

Melaksanakan kewajiban sepenuhnya akan jalan dengan sosialisasi pertemuan pemikiran-pemikiran, informasi dan konsultasi, formulasi strategi dan koordinasi.

Pada era globalisasi memasuki millenium ketiga selalu mengarah kepada perubahan amat cepat dan drastis, dimana setiap hari dunia dirasakan semakin mengecil.

Membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis, sehingga pekerjaan rutin menjadi darurat.
Akhirnya tujuan menjadi kabur.

Salah menempatkan sumber daya yang ada baik SDM, SDA, SDU, mengakibatkan timbulnya kesalahan prioritas.

Dengan perencanaan matang gerakan dakwah akan berangkat dari hal yang logis (ma’qul, rasionil), dan sasarannya akan dapat diterima oleh semua pihak.

Dakwah bukan kerja part-time, sambilan dan sukarela bagi yang giat dan aktif saja.
Dakwah harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis di tengah masyarakat.

Dakwah harus juga menjadi beban para sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan suatu social action yang terpadu.

Untuk ini diperlukan generalitas murni dengan meyakinkan secara rasionil terhadap keindahan Islam.

Memahami fenomena besar dan menarik dari perkembangan globalisasi yang membuka peluang bagi perkembangan Islam.

Mayoritas ilmuan dan pemimpin dunia secara universal mulai membaca tanda-tanda zaman menerima kembali peradaban Islam sebagai alternatif untuk meujudkan keselamatan dunia.

Dalam gerakan dakwah global, tujuan akan dicapai adalah Islamisasi masyarakat Islam.

Secara lebih umum, tujuan dakwah Islam adalah membangun, berkorban, mendidik, mengabdi, membimbing kepada yang lebih baik.

Tugas yang tak boleh diabaikan dalam mencapai tujuan itu adalah merobah imej dari konfrontatif kepada kooperatif.

Akhirnya dapat dimengerti bahwa kebajikan hanya ada pada hubungan yang terang, transparan, sederhana dan tidak saling curiga.

Masyarakat akan pecah dan rugi hanya karena hidup saling mencurigai.
Gila kekuasaan akan berakibat berebut kekuasaan dan ujungnya masyarakat jadi terkotak-kotak.

Nawaitu bekerja bukan untuk mencari sukses, harus diubah dengan wujud amal yang bermutu di tengah percaturan kesejagatan (globalisasi).

Sebab semakin kecil kesalahan semakin besar keberhasilan menyampaikan risalah dakwah.

Maka tidak dapat ditolak keharusan menggunakan semua adab-adab Islam (al Quran) dalam menghadapi semua persoalan hidup manusia akan menjamin sukses dalam segala hal.

KHULASAH

Memerankan kembali organisasi informal, refungsionisasi peran alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari” yang andal sebagai alat perjuangan.

Pemeranan ini dapat dilakukan dengan sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi di nagari pada pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non-formal secara jelas.

Dalam gerak “membangun nagari” maka setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat umat untuk membentuk jamaah (masyarakat) yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif.

Nagari semestinya berperan pula menjadi media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui efektifitas media pendidikan dalam pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa, serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.

Di nagari mestilah dilahirkan media pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu, ekonomi, sosial, budaya, dan politik dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Terakhir tentulah merupakan keharusan untuk dikembangkan dakwah yang sejuk, dakwah Rasulullah SAW dengan bil ihsan.

a. Prinsipnya jelas, tidak campur aduk (laa talbisul haq bil bathil).

b. Integrated , menyatu antara pemahaman dunia untuk akhirat, keduanya tidak boleh dipisah-pisah.

c. Belajar kepada sejarah, dan amatlah perlunya gerak dakwah yang terjalin dengan net work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam), untuk penyadaran kembali (re-awakening) generasi Islam tentang peran Islam membentuk tatanan dunia yang baik..

Insya Allah.

Spiritnya adalah;

1. Kebersamaan.
sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi.

2. Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”. Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.

3. Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”.

4. Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak.

5. Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

6. Kecintaan kenagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah .

7. Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.

Begitulah semestinya peranan alim ulama dan lembaga-lembaga dakwah di nagari-nagari yang ditata secara rapi dalam menapak alaf baru.

Insya Allah. ***

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s