Kembali ke Surau, Membina Umat

KEMBALI KE SURAU MEMBINA UMAT

Oleh H Mas’oed Abidin

Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari.

Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim).

Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يِحْذَرُوْنَ.
Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship).
Sanggup menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)
Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Musajik tampek ba ibadah,
tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja Alquran 30 juz,
tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya, Masjid dan Surau menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum

Surau dan Balerong (=balai ruang yang tidak memiliki kamar, sama halnya dengan surau dan masjid), di dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”, adalah sarana penting.

Kedua lembaga ini –-balai adat dan surau-– keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.

Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagaruyuang pusek Tanah Data,
Tigo luhak rang mangatokan.
Adat jo syarak jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban.

Alam Minangkabau belum lengkap kalau tidak mempunyai Masjid (musajik) atau surau tempat beribadah.

Identitas surau sesuai personifikasi pemimpinnya.
Surau adalah pusat pembinaan umat, untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas).
Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan lazim syarak nan kawi (qawiy = kuat).

يأيُّها الناسُ إنا خلقنَاكم مِن ذكرٍ و أنثَى و جَعلْناكمْ شُعوبًا و قَبَائِلَ لِتَعارَفوا إنَّ أكْرمَكمْ عندَ اللهِ أتقَاكم إن الله عليْم خبيرٌ
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …. (QS.49, al Hujurat : 13)

Apabila sarana-sarana ini berperan sempurna, masyarakat kelilingnya hidup dengan akhlak terpuji. Perangai mulia berakhlakul-karimah. “Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

IHWAL SURAU
Surau amat sesuai menjadi pusat pembinaan umat.

Surau adalah satu anak tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang teguh melaksanakan prinsip musyawarah (demokrasi).
Surau adalah pondasi dasar dan utama dalam menerapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan, bundo kanduang dan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari.
Konsepnya tumbuh dari akar nagari sendiri.

Masyarakat Minangkabau yang beradat-beragama selalu ingat kepada hidup sebelum mati dan hidup sesudah mati.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أَمْرِاللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَالٍ.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.Ar-Ra’du : 11)

Peran dakwah di Ranah Minangkabau sekarang ini adalah menyadarkan umat dalam membentuk diri mereka sendiri.

Kenyataan sosial terhadap anak nagari diawali dengan mengakui keberadaan puncak-puncak kebudayaan mereka, dan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Seruan atau ajakan kepada Islam yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu.
Islam adalah agama Risalah, dan penyiarannya dilanjutkan oleh dakwah.

Di Ranah Minangkabau tempat nya adalah surau atau masjid.
Keberhasilan suatu upaya dakwah (gerak dakwah) memerlukan pengorganisasian (nidzam).

Perangkat organisasi surau, selain orang-orang, adalah juga peralatan dakwah dan penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta dakwah.

Bimbingan syarak mengatakan al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam. Artinya, tanpa mengindahkan pengaturan (organisasi) selalu akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir.

Pekerjaan mengajak manusia akan berhasil dengan ilmu, hikmah, akhlak dan menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus. Maka, da’iya (Imam khatib di Nagari) adalah pewaris tugas Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W.

وما أرْسَلْنَاك إلاَّ كافةً للناس بشيرًا و نذيرًا ولَكنَّ أكْثرَ النَّاسِ لا يعْلَموْن
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’, 34 : 28).

Menghidupkan surau (masjid) dalam masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan di tengah anak nagari yang akan mendukung percepatan pembangunan nagari itu.

Koordinasi akan mempertajam faktor pendukungnya.

يأيُّها النبيُّ إنا أرْسلْناكَ شاهدًا و مُبشّرًا و نذيْرًا. و داعيًا إلى اللهِ بإذْنِهِ و سرَاجًا منيْرًا. و بَشِّرِ الْمُؤمنِيْنَ بأنَّ لَهمْ مِن اللهِ فضْلاً كبيرًا
Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-47).

Kaedah syarak akan mendorong keberhasilan dakwah menghidupkan adagium adat basandi syarak syara; basandi Kitabullah.

Aktualisasi Kitabullah (nilai-nilai Alqurani) hanya dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang terus menerus terkait dengan seluruh segi kehidupan anak nagari, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (dakwah), merapatkan potensi barisan (shaff) mengerjakan amal-amal Islami secara jamaah.

ولا يصدُّنَّك عنْ آياتِ اللهِ بعدَ إذْ أُنْزِلتْ إليْكَ وادْعُ إلى ربِّكَ ولا تكوْننَّ من المُشرِكيْنَ. ولا تدْعُ مع اللهِ إلها آخرَ لا إله إلاَّ هو كُلُّ شيءٍ هالكٌ إلاَّ وجهَهُ له الحُكْمُ و إليهِ تُرجَعُون.
Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS.Al Qashash, 28 : 87)

Tugas ini menjadi tugas para Rasul. Umat sekarang menjadi penerus dakwah sepanjang masa.

Terlaksananya tugas-tugas dakwah dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab harapan masyarakat dunia.

Maka perlu setiap Da’iya – Imam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagari-nagari — meneladani pribadi Muhammad SAW

لَقَدْ كانَ لكُمْ فِي رَسُوْل اللهِ أُسْوةٌ حسنةٌ لِمنْ كان يَرْجوا اللهَ و اليومَ الآخرَ وذكرَ الله كثِيْرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab, 33 : 21)

Contoh di dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti dan isi Agama Islam (tauhid). قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ “Katakanlah bahwa berimanlah kepada Allah dan istiqamah, tetap pendirian.
و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلْقٍ حَسَنٍ “ Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji)”.

Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan.

إلَهِي أنْتَ مَقْصُودِي ورِضَاكَ مَطْلُوبِ
Tuhanku, Engkau semata tujuan hidupku. Dan keredhaan-Mu semata pula yang aku tuntut.

Kita mestinya bertindak atas dasar syarak ini.
Mencari redha Allah, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang.

Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif abad sekarang. Mengembangkan surau berorientasi kepada mutu.
Sehingga pembinaan surau berkembang menjadi center of exellence, yang menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif.

Terintegrasinya pengetahuan agama, budi akhlaq dan keterampilan (memasak, menjahit, mengaji, bersilat) yang mendorong anak surau sanggup hidup mandiri.

Peran surau menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas setiap insan anak nagari yang telah terikat dalam “umat dakwah” menurut Kitabullah – yakni nilai-nilai Alqurani di bawah konsep mencari ridha Allah.

ولتَكُن مِّنْكم أمةٌ يدْعوْنَ إلى الخيْرِ و يأْمروْنَ بِالمعْرُوفِ و ينهوْن عنِ المنْكر و أولئِك همُ المفْلحُون.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imran, 3 : 104 )

Peningkatan kualitas pembinaan umat melalui surau dapat dicapai. Organisasi suaru lebih menjadi viable –dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat-– menurut permintaan zaman, dan durable –-yakni dapat tahan lama-– seiring perubahan dan tantangan zaman. Peran serta masyarakat adalah menerapkan manajemen mengelola surau lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi.

Kitabullah mendeskripsikan agama Islam adalah sempurna, utuh dan di ridhai. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara lebih efisien.

Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah wajib mengemban missi mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran secara hakiki di dalam “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah)”.

MENINGKATKAN MUTU ANAK NAGARI

Meningkatkan Mutu SDM anak nagari melalui kerja keras.
Menguatkan potensi yang sudah ada melalui program unggulan, kaderisasi. Menumbuhkan SDM nagari yang sehat dengan gizi cukup.
Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan). Peningkatan peran serta masyarakat mengelola surau.

Sistim terpadu menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim di Ranah Minangkabau.

Ajaran syarak Islam mampu memberikan jalan keluar (solu¬si) terhadap problematika sosial umat manusia.

Keyakinan kepada agama Islam (di dalam syarak disebut aqidah Islamiyah) menjadi landasan berpijak.

Motivasi untuk berbuat dan berharap pada setiap yang mempercayainya. Keyakinan tauhid itu terhunjam dan berurat berakar di dalam hati manusia. Dengannya mampu menangkap tanda tanda zaman, perubahan sosial, politik, ekonomi dan perkisaran masa di sekitarnya.

Mampu membaca zeitgeist tanda tanda zaman karena beriman kepada Allah.
Perbedaan pemikiran dikuatkan dzikrullah dengan pemikiran bertumpu paham kebendaan, seperti positivisme dzikrullah dan apatisme thagut (syaithaniyah).

Apatisme dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah selemah lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi hanya dapat dihilangkan dengan,
• mengerjakan sesuatu yang dapat dikerjakan,
artinya berbuat sesuai kemampuan,
• jangan membiarkan diri terkurung kepada pemikiran
yang tidak mungkin dikerjakan,
• memulai dengan apa yang ada,
karena dengan yang ada itu sudah dapat memulai sesuatu,
• jangan berpangku tangan dengan menghitung orang yang lalu lalang,
dan membiarkan diri ketinggalan.

Konsep ini adalah amanat syarak (Islam) dalam menghadapi perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Betapa kecil pun perubahan tidak boleh dinanti tanpa kesiapan. Namun, selalu memanfaatkan hubungan diri (kemampuan anak nagari) dengan kehidupan dunia luar di sekitarnya.

Sikap hidup menjemput bola adalah sikap hidup sesuai ajaran Islam. Bergerak, berusaha, proaktif dan inovatif adalah cara-cara paling tepat mengantisipasi selemah lemah iman. Kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang dikembangkan syarak (agama Islam) melalui tiga cara hidup, yakni,
• bantu dirimu sendiri (self help),
• bantu orang lain (self less help), dan
• saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Konsep hidup ini mengajarkan seseorang untuk tidak mesti selalu tergantung kepada orang lain.

Ketergantungan menempatkan orang terbawa kemana mana.
Menjadi tak berdaya di tangan yang menjadi tempat bergantung. Mengokohkan perpegangan agama dan pemahaman syarak menjadi kerja paling utama.

و مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
Barangsiapa yang Allah SWT kehendaki akan kebaikan, maka Allah SWT akan menakdirkannya tahu akan urusan agamanya. (HR.Muttafaq ‘Alaih dari hadist Mu’awiyah).

Dengan demikian, anak nagari menjadi sehat rohani.
Terjaga dengan norma-norma adat.
Sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

Menggali potensi SDA di nagari diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku.
Memperkuat ketahanan ekonomi rakyat.
Membangun kesejahteraan dimulai dari pembinaan unsur manusianya, dari self help (menolong diri sendiri) kepada mutual help.

Ihsan berbuat baik dan ta’awun tolong menolong sesuai dengan anjuran Islam. Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses mempertinggi mutu yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak dicapai.

Zakat sebagai sarana pembersih harta dan upaya memperkuat paradigma umat

Di samping itu, zakat dapat dijadikan penopang ekonomi anak nagari melalui pelatihan bagaimana memanfaatkan dan mengelola zakat secara benar. Tidak semata konsumsi sesaat. Zakat dijadikan modal usaha dari kalangan dhu’afak di dalam negeri.

Pesan Rasulullah SAW, memang mengajarkan penyesuaian untuk mencapai kehidupan dunia yang sejahtera, tanpa melupakan kehidupan akhirat tempat manusia akan kembali.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)
Kamu lebih memahami dengan urusan-urusan dunia kamu. (HR.Muslim)

Di Minangkabau teradisi masyarakat selalu seiring sejalankan dengan perlakuan ibadah.
Sebenarnya, acara tersebut dapat bernilai positif. Terutama apabila tidak di campur aduk dengan perbuatan yang terlarang oleh ajaran Islam.

Pembauran di Minangkabau dimulai dengan menjalin keharmonisan hubungan antar keluarga di nagari, dengan saling peduli, akan memberi sumbangan besar mempererat silaturrahmi.

Ikatan persaudaraan adalah modal besar dalam membangun nagari.
Buhul ikatan itu berawal dari kuatnya hubungan bermasyarakat.
Darinya lahir tanggung jawab bersama didasari kebersihan hati dan wajah berseri.

Di tengah perubahan zaman, nilai luhur yang di kandung telah mulai terjadi pencampur bauran antara hak dan bathil di mana-mana.
Antara suruh dan tegah jadi kabur.
Ibadah dan maksiat campur baur.
Sangat mencemaskan.

Keadaan mencemaskan ini mulai terjadi di nagai-nagari di Ranah Bundo.
Abih gali dek galitik.
Yang tadinya pantang larangan, kini jadi biasa.
Malahan menjadi kesukaan.

Orang banyak menyebut sakali aie gadang sakali tapian barubah. Artinya sekali air besar, tepian lama dihanyutkannya.
Tampaknya, budaya kita sedang mengalami penetrasi budaya orang lain. Acara balimau itupun menjauh pula dari nilai adat dan syarak.

Hura-hura dan huru-huru mulai mucul di mana-mana karena lemahnya panggilan peran surau.
Nilai harkat diri sangat tipis.
Larangan adat dan agama mulai dilanggar.
Aturan beradat tidak tampak.
Kerusakan datang mengancam.
Nilai budaya Minang mulai tergugat.
Mulailah terasa hilangnya norma-norma yang baik.

Ranah Minang, seakan tidak lagi hidup dalam keindahan kultur budaya. Masyarakat mulai larut dalam hubungan tak berbudaya.

Syarak sebenarnya telah mengingatkan agar perbuatan meniru hal yang tidak baik itu dijauhi.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua,

لاَ تَكُوْنُوْا إمَّعَةً يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنُوْا أَحْسَنْتُ، و إنْ أسَاءُوا أسأْتُ، لَكِنْ وَطِّنُوا أنْفُسَكُمْ إنْ أحْسَنَ النَّاسُ أنْ تُحْسِنُوا، و إن أسَاءُوا أَلاَّ تَظْلِمُوا. (رواه الترمذي)
Janganlah kalian menjadi seperti bunglon yang berkata, aku bersama orang-orang, jika mereka baik, maka akupun baik pula. Dan jika mereka buruk akhlaknya, maka akhlakku pun buruk pula. Akan tetapi tanamkanlah sikap pada diri kalian; jika mereka baik, hendaklah kalian selalu baik; dan jika mereka buruk akhlaknya, maka janganlah kalian ikut berbuat berbuat dzalim (artinya ikut pula berbuat buruk).

Maka, perlu upaya keras semua pihak mencegah generasi kedepan terperangkap perbuatan maksiyat.

Di antara yang dapat dikerjakan oleh anak nagari adalah membersihkan halaman rumah, masjid dan surau, serta membuat sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan anak nagari. Keteraturan adalah satu nikmat dari Ramadhan yang dinantikan tiap tahun.

Orang Minangkabau di Sumatera Barat yang menanggalkan budayanya, akan mewarisi generasi rapuh.
Jiwanya akan mati.
Akibatnya, kehidupan tidak lagi beralas adat yang tak lekang karena panas tak lapuk karena hujan.

Bila kondisi itu tidak di awasi, rela ataupun tidak, jalan di alih urang lalu, tepian di aliah urang mandi akan menjadi kenyataan. Minangkabau akhirnya tersisa dalam nostalgia.

Hidup kedepan akan dikuasai oleh yang teguh pada puncak budayaannya. Tak mudah di sangkal bahwa puncak kebudayaan adalah warna kehidupan kaum (bangsa).

Nilai budaya dalam tatanan kehidupan aktif merupakan aset bernilai tinggi untuk di persandingkan pada era kesejagatan (globalisasi).

Satu generasi bangsa akan hilang, karena lemahnya nilai-nilai budaya.
Selain itu, akan membuka peluang untuk dijajah oleh budaya lain yang lebih kuat. Mau tidak mau, generasi yang lemah budaya nyaris diperebutkan orang lain. Untuk kemudian dikuasai dan dihalau kian kemari di dalam persaingan bebas yang keras.

Generasi lemah iman dan lemah tamaddun akan tergilas habis. Dalam alam global yang kejam ini, generasi yang lemah akan ditelan oleh yang kuat.

Kemampuan memelihara nilai-nilai budaya bangsa perlu diperkuatkan.
Bimbingan syarak, sesuai sabda Rasulullah SAW menuntunkan prilaku indah sebagai berikut;

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، وَطَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، فَنَظِّفُوْا أَفْنِيِتَكُمْ وَلاَ تَتَشَبَّهُوا بِاليَهُوْدِ (رواه الترمذ)
Artinya, “ Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai yang keindahan, baik dan menyukai kebaikan, bersih serta menyukai kebersihan. Oleh karena itu, bersihkanlah halaman rumah kalian dan jangan kalian menyerupai yahudi.” (HR. Tirmidzi).

Wassalamu’alaiku Warahmatullahi Wa Barakatuh,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s