Menuju Umat Teladan, Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir, Dakwah Komprehensif

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir
Dakwah Komprehensif oleh Buya H. Mas’oed Abidin

MENUJU UMAT TELADAN

Dewan Da’wah tidak hanya membangun hal-hal yang kongkrit. Dewan Da’wah juga menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Da’wah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti rumah sakit, pesantren, kebun-kebun percontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, kampus pendidikan, penerbitan, dan lain-lain.

Semuanya itu mempunyai jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan.

Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Da’wah, walau lembaga seperti Islamic Center, Rumah sakit Islam, dan lain sebagainya itu, adalah lembaga-lembaga yang dibangun oleh Dewan Da’wah juga. Karena itu, kerja sama mesti diwujudkan.

Bila keadaan itu sudah ada, maka kegiatan dakwah akan lebih menguntungkan, dan tentu saja, akan memberi buah yang cukup berarti bagi kaderisasi, dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah, bahwa usaha dakwah itu, untuk mewujudkan kekeluargaan dakwah, dengan mengikat amal-amal nyata yang telah sama-sama kita bangun.

Apa yang telah kita kerjakan, bisa berkembang dengan sebaik-baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Da’wah, yang berupa umat tauladan di Indonesia di masa datang.

Modal utama melaksanakan kewajiban membawa umat ke jalan yang “diredhai Allah”, hanyalah dengan kesadaran mendalam akan Rahmat Allah. Rahmat Allah yang tersebar berbentuk kehidupan, baik perorangan, umat, maupun kehidupan sosial dan politik dalam bernegara.

Menjaga Rahmat Allah di bumi tanah air Indonesia, dengan mendasarkan pada kesadaran para pendidik dan pendiri negara –khususnya Republik Indonesia–, sehingga dicantumkan dalam mukaddimah UUD 1945. Karena, Kemerdekaan Republik Indonesia yang direbut dengan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit, adalah “atas berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Rahmat Allah. Inilah sesungguhnya modal besar itu.

Modal yang oleh pemimpin umat senantiasa dijadikan panduan untuk ditingkatkan “pemahaman” serta “pelaksanaannya” di dalam menggerakkan berbagai potensi yang ada. Semuanya terkait ke dalam gerakan dakwah, berupa “syukur ni’mat” jua adanya. Walaupun untuk itu, resikonya adalah pergantian suka dan duka.

Pada tahun 1966 Pak Natsir, Pak Prawoto Mangkusasmito, Pak Syafruddin Prawiranegara, Pak Burhanuddin Harahap dan kawan-kawan (umumnya para pemimpin partai politik Masyumi dan pemimpin-pemimpin anti komunis lainnya), yang ditahan di zaman Orde Lama — Soekarno –, keluar dari tahanan “wisma keagungan”.

Beliau-beliau menghirup udara baru dalam barunya suasana Orde Baru setelah mahasiswa, para pemuda, para pelajar, pencinta demokrasi yang anti komunis terjun ke jalan-jalan menumbangkan Orde Lama.

Pak Natsir tidak pernah mengenal putus asa dalam me-laksanakan program. Pak Natsir tak pernah memulainya dengan berpikir tentang dana. Dia memulainya dengan membuat rencana. Memulai dulu, dari yang kecil-kecil. Kalau sudah dimulai, nanti akan bertemu dengan berbagai masalah ditengah jalan.

Pak Yunan Nasution dalam mengetengahkan kesan pergerakan dakwah ketika Tasyakur 80 tahun Mohamad Natsir (17 Juli 1988) menyoroti peran Pak Natsir sebagai seorang Mujahid dakwah, Pejuang dakwah.

Mujahid dakwah, yang tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa berada di tengah umat dakwah yang dibinanya.
Mujahid yang senantiasa melihat dan menjiwai peran serta urgensi dakwah, sebagai pelanjut Risalah Rasulullah.

Maka, mau tidak mau, yang dianggap sebagai pemimpin atau mujahid tersebut, senantiasa mencarikan jalan. Menunjuki dan mengajak umat, supaya selalu berada pada garis mengujudkan potensi riel dari nikmat Allah yang telah dianugerahkan dalam mencapai satu hasil kepentingan umat yang diredhai Allah.

Berkenaan dengan gerak langkahnya, Dewan Da’wah selalu mengetengahkan nuansa sejuk dan cerah, sebagai jawaban nyata, berbakti ke tengah umat — khususnya umat Islam di Indonesia –.

Walau dalam kondisi sulit sekalipun, yang namanya pemimpin umat, tidaklah akan pernah lari dari tanggung jawab atau harapan umat yang dibinanya. Umat mengharapkan pemimpin, yang selalu berada di tengah umat yang dipimpinnya. Pemimpin itu tidak sibuk untuk merawat dan membenahi diri semata dengan lupa merawat dan membina umat. Inilah karakter pemimpin sejati.

Pak Yunan Nasution (Allahuyarhamu), menukilkan antara lain: “Sesudah mengalami perjuangan suka dan duka, dimana dukanya lebih banyak dari sukanya, dan tatkala tertutup kesempatan untuk berbakti kepada rakyat melalui perjuangan politik, karena partai yang dipimpin oleh Pak Natsir, Masyumi, dibubarkan oleh Rezim Orde Lama, maka pada tahun 1967, bersama-sama sahabat-sahabatnya yang secita-cita dan seorientasi.

Natsir mendirikan satu wadah berbentuk Yayasan, yang bernama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), dimana beliau sendiri dipilih menjadi Ketua Umumnya sampai sekarang.
Pak Natsir dengan DDII-nya , berusaha meniupkan angin segar dalam bidang Dakwah Islamiyah, yang sebelum itu lebih dikenal dengan sebutan tabligh.

Asumsi orang banyak masih beranggapan bahwa yang dinamakan tabligh atau dakwah menurut istilah yang masih berkembang pada waktu itu, hanyalah “berputar-putar” membicarakan dua soal, yaitu soal “sorga”, dengan daya-tarik bidadari dan bidadaranya, dan soal “neraka”, yang membuat badan hancur luluh jika banyak berbuat dosa dan kejahatan.

Padahal ajakan Dakwah Islamiyah itu pada pokoknya mencakup hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan manusia (hablum minan-nas), soal-soal kemasyarakatan (society), kebersamaan, kenegaraan dan sebagainya.

Dewan Da’wah di bawah pimpinan Pak Natsir berusaha mengembangkan visi pembaharuan tersebut, dengan membentuk perwakilan-perwakilan Dewan Da’wah di wilayah-wilayah propinsi di Indonesia.

Visi pembaharuan yang dikembangkan Natsir, bukanlah hal yang baru.
Karena itu, apa yang dilakukan oleh Dewan Da’wah, juga bukan hal-hal yang baru dalam pemahaman Islam.

Dewan Da’wah bukanlah gerakan Islam baru, yang sama sekali tidak singgung menyinggung dengan dakwah Risalah Rasulullah. Jadi Dewan Da’wah melakukan gerakan baharu untuk Dakwah Islam di Indonesia. Bukan pembaharuan Islam.
Karena itu, secara bertegas-tegas Natsir memformulasikan dalam satu ungkapan jelas “Risalah merintis, Dakwah melanjutkan”.

DAKWAH MEMBENTENGI UMAT

Mengokohkan ibadah umat melalui pembangunan sarana-sarana ibadah, menjadi satu pekerjaan yang tidak bisa diabaikan.

Maka tidaklah mengherankan kalau penanganan proyek-proyek fisik berbentuk sarana ibadah ini atas inisiatif Bapak DR. Mohamad Natsir merupakan kerja yang tidak boleh disambilkan.

Daerah Jawa Barat, memang sejak dulu menjadi tempat berkembangnya perguruan tinggi negeri, maupun swasta. Pembangunan Masjid Kampus untuk tujuan mengokohkan aqidah dan pemeliharaan ibadah para mahasiswa Muslim, amatlah penting.

Pembangunan Masjid Kampus ini terlaksana karena adanya kerja sama antara Badan-badan Dakwah di luar, maupun di dalam negeri sebagai perwujudan nyata dari usaha dakwah berdasarkan redha Allah. Begitu juga pembangunan gedung Islamic Centre yang dimaksudkan sebagai wahana pembinaan dan pengkaderan generasi intelektual Muslim, karena adanya keharusan umat dakwah untuk melihat sejarah yang telah berjalan, amat berguna untuk meniti masa depan.

Hari-hari yang dilalui sekarang, punya kaitan erat dengan hari kemarin, dan berbekas di hari esok. Karena itu, kewajiban yang dibebankan Risalah untuk juga melihat ke masa lalu, dalam menapak masa depan. Sementara kita tidak boleh memicingkan mata dari situasi keliling.

Menurut DR. Mohamad Natsir, Islam bukan semata-mata religi, yaitu agama dalam pengertian rohaniyah saja. Islam mengatur hubungan antara manusia dan Allah, dan antara sesama manusia. Islam merupakan pedoman dan falsafah hidup yang tidak mengenal pemisahan agama dan politik.

Visi Pak Natsir ini, oleh Deliar Noer ditulis sebagai “paham Natsir” yang selalu konsisten, hingga ke dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, senantiasa dikembangkannya.

Menurut Natsir, “menegakkan Islam tidak dapat dengan membiarkan pembinaan masyarakat dan bernegara dengan cara faham lain. Oleh sebab itu, dalam masa revolusi, umat Islam di Indonesia bukan saja dijiwai oleh aspirasi nasional melainkan juga aspirasi Islam.

Pandangan Natsir ini bisa disimak dengan jelas dalam tulisan beliau “Islam sebagai Ideologie”.
Islam sebagai Risalah yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam, telah memberikan pedoman untuk menyelenggarakan pemerintahan agar negara kuat dan masyarakatnya sejahtera. Namun, Mohamad Natsir menolak sistem kependetaan, sebagaimana pernah diterapkan pada negara-negara Eropa di abad pertengahan (di zamannya Montesque).

Pandangan Natsir dalam “Sumbangan Islam Bagi Perkembangan Dunia” disebutkan bahwa : Orang Islam tidak memerlukan kependetaan … Dalam Islam ada ahli-ahli agama yang disebut ulama. Mereka itu adalah guru dari pelbagai cabang ilmu agama … fukaha dan guru-guru hukum Islam … Tetapi mereka bukanlah pendeta …. Mereka tidak lebih hanyalah Imam, pemimpin shalat … Imam itu hanya suatu jabatan berdasar keperluan-keperluan praktis untuk penyelenggaraan shalat, tidak suatu jabatan resmi.

Mohamad Natsir lebih lanjut mengatakan bahwa dalam Islam juga tidak ada “gereja dalam arti satu badan yang bekerja sama tetapi berdiri sendiri dan terpisah dari negara”.

Beliau tekankan, bahwa baik kehidupan pribadi maupun hubungan seseorang dalam masyarakat dan negara, dalam Islam, tidak dapat di lepaskan dari keislamannya. Gereja pada umumnya mendasarkan gerakan ajarannya kepada sektarianisme, bertolak dari paham sekte.

Sungguh bertolak belakang dari keberadaan Dewan Da’wah yang tidak tumbuh dari sekte. Dan juga tidak bergerak untuk kepentingan satu kelompok (sekte) semata.

Objektivitasnya mengarah untuk seluruh Umat Islam dimanapun mereka berada — di dalam dan di luar negeri –, dan subjektivitasnya digerakkan oleh pemimpin-pemimpin yang memiliki rasa tanggung jawab bahwa, ”setiap kamu haruslah menjadi umat pendakwah kepada Islam, menurut kadar kemampuan dan pada posisi masing-masing.”.

Hubungan antara pemimpin yang mencintai dengan umat yang dicintai, senantiasa tidak pernah putus, dan tidak bisa dihalangi, walaupun oleh jarak yang jauh, ataupun waktu yang panjang dan tebalnya dinding penjara. Bukti semacam ini bertebaran di sepanjang jalan-jalan berliku, yang bernama jalan perjuangan.

Hubungan batin masih tetap terpelihara, yang oleh ahlulbithanah disebut sebagai “mawaddah fil qurba”.

Hubungan batin itu, makin kokoh terikat, timbal balik dikarenakan “ukhuwwah Islamiyah” jua adanya. Umat yang terbentuk oleh perjalanan sejarah yang panjang ini, bersatu dalam pertautan hati dengan hati.

Persatuan hati dengan hati tidak bisa di beli dengan pertukaran materi.
Sungguhpun se-isi bumi ditumpah-tumpah dalam upaya mempertemukan hati dengan hati, niscaya usaha itu akan sia-sia belaka. Inilah segi lain dari sisi Rahmat Allah.

Karena, semata-mata Rahmat Allah itulah hati-hati itu bisa berbekas melahirkan gerak nyata, seperti merajut sehelai benang menjadi kain sutera, atau menganyam mendong menjadi tikar.

Demikianlah yang telah terjadi semenjak tahun 1960, di kala gerak dakwah mulai dikebiri, dengan menyuntikkan serum NASAKOM (Nasionalis, Agamis dan Komunis), ke dalam pembuluh darah umat secara paksa di bawah resep Demokrasi Terpimpin.

Di dalam badan umat dan tubuh bangsa terjadi perlawanan. Diantaranya masih ada yang sanggup bertahan, karena tersisanya anti-toxin di dalam urat nadi umat. Anti toxin itu adalah keyakinan hidup berwawasan Iman dan Islam, cintakan persatuan dan anti komunisme.

Di antaranya, memang ada yang menghadapinya dengan pengendapan secara pasif, berbentuk ‘uzlah sambil menunggu masa berubah, karena diyakini bahwa perubahan itu pasti datang. Hanya menunggu waktu dan ketika.
Kedua-duanya, sebenarnya menguatkan diri umat. Tumbuhnya disiplin dari dalam.
Tidak hanya sekedar tumbuh paksa dari luar, seperti disiplin itik pulang petang, berbaris patuh teratur di bawah komando sebilang ranting.

Sesungguhnya, kondisi umat dengan kepatuhan seperti itu, kualitasnya hanya terikat dalam disiplin seujung bilah (ranting).

Bukan umat begitu yang diharapkan tumbuh. Dalam situasi sulit sedemikian dirasakan sungguh perlunya ada pemimpin khadimul ummah.

Sungguhpun kepemimpinan itu barangkali hanya sebentuk informal leader, namun memiliki inisiatif yang dalam sebagai effective leader. Pemimpin istiqamah.

Sekurang-kurangnya mereka menjadi tempat tumpuan bila diperlukan apalagi dalam saat kebingungan melihat perkembangan keadaan; sekurang-kurangnya sebagai tempat melepas perasaan yang sesak tertekan, dan kalau bisa tempat meminta nasehat dan saran.

Tugas itu, di tahun 1960 terpikul ke pundak Pak Prawoto Mangkusasmito dan Mohammad Roem. Namun tidak lama, karena di tahun 1962 (Januari), beliau-beliaupun ditahan lama, karena di tahun harapan itu berpindah kepada Faqih Usman, sampai pemimpin-pemimpin lain bebas seluruhnya di tahun 1967.

Patah tumbuh hilang berganti.
Yang tidak berganti adalah, bahwa kita tetap memilih untuk melaksanakan tugas sebagai seorang warga negara yang sadar dengan hak dan kewajibannya, tetapi dalam bidang lain. Keputusan kita adalah, kita tidak akan pasif. Kita tetap memilih aktif di bidang yang kita anggap tepat, yaitu dalam bidang dakwah.

Bidang dakwah itu tidak dapat dipisahkan dari masalah-masalah kemasyarakatan, baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas. 

(Tulisan ini bagian dari Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir, dalam Dakwah Komprehensif oleh Buya H. Mas’oed Abidin, belum diterbitkan), copy

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s